[FF/1S] “Key Of Heart” {Love in Roma}

Tittle      : “Key of Heart”

Author  : Assri’Elf LuphFishy @ S3FFIndo

Editor     : Rhanthy Hapssary

Genre     : Romance

Rating    : PG-15,

Lenght   : Oneshoot

Setting  –> Roma, Italy.

CAST      :

– Choi Minho

– Choi Ji Yoon a.k.a Chacha

– Choi Siwon

– Shin Hyun Young a.k.a Ayuni

SUPPORTED CAST :

– Jang Geun Seok

– Park Jung Soo

……………………….

“Cinta dan semua kenangan kita akan terus terikat selama gembok ini tetap terkunci…”

……………………….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku Choi Ji Yoon, seorang wartawan dari salah satu majalah international ternama di Seoul. Sekarang ini aku sedang ditugaskan selama 2 minggu untuk meliput pesiapan pernikahan Shin Hyun Young dan Choi Siwon. Artis Korea yang terlibat cinta lokasi dalam drama yang mereka bintangi. Dan yang perlu kalian tau adalah… aku benci pada tempat dimana aku ditugaskan sekarang ini. Roma, Italy.

“Menurut informasi, pernikahan Shin Hyun Young akan digelar disini. Pasti megah sekali..” papar Leeteuk, patner kerjaku, tepat saat mobil kami berhenti.

Perlahan aku melangkah keluar dari mobil. Melepaskan kacamata hitamku, kemudian mendongak. Terhenyak, tertegun seketika saat menyadari dimana aku sekarang. Dadaku tiba-tiba terasa perih..

“Eumh, Ji Yoon, kau haus tidak? Aku akan membeli Gelato, kau mau juga??” Tanya Leeteuk. Aku hanya mengangguk pelan. Lidahku masih terlalu kelu untuk bersuara.

Aku termenung menatap bangunan berpilar megah dihadapanku saat ini. Gereja Basilica S. Pietro. Patung malaikat-malaikat kecil yang menyambut hangat diatas gerbang masuk. Undakan tangga dengan karpet emas tipis yang terlihat begitu anggun. Altar yang mewah dengan gaya khas Italy kuno..

Cantik. Begitu indah. Tapi sayangnya, kenanganku di dalam sana justru sangat pahit dan menyakitkan. Kuraih bandul kalung gembok perak kecil yang selalu kukenakan, menggenggamnya, kemudian tersenyum getir.. “Geun Seuk ahh, aku kembali lagi ke tempat ini..”

————————-

Dengan gaun putih panjang bermotif capung, rambut yang tergerai panjang, dan sebuket bunga mawar putih di tangan. Aku mulai menyusuri jalan beralaskan karpet merah yang dipenuhi taburan kelopak mawar. Appa mendampingiku memasuki ruangan utama gereja Basilica S. Pietro yang sudah berbalut nuasa serba putih dan elegan. Membuatku benar-benar gugup.

Dan di depan altar suci itu, aku melihat sosoknya. Ia tampak gagah dengan setelan tuxedo hitam yang kami pesan sebulan lalu. Namja itu tersenyum lembut, kemudian mengulurkan tanganmnya untuk menyambutku..

“Kuserahkan dia padamu Geun Seuk sshi.. Jaga Ji Yoon-ku baik-baik. Jangan pernah sakiti dia..” Appa kemudian menyerahkanku pada Geun Seuk. Kulihat wajah tua yang kusayangi itu nyaris menangis haru..

Tinggiku yang tak seberapa, membuatku harus sedikit mendongak menatap Geun Seuk. Wajahnya tampak pucat. Keringat dingin mengucur pelan dari dahinya.. “Jagiya, kau baik-baik saja??” lirihku..

Ia menggeleng, kemudian berbisik lirih padaku.. “Aku sedikit gugup Jagi… aku masih tidak percaya bahwa kita akan menjadi suami istri..” Aku hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya.

Tak lama, upacara pernikahan kami dimulai. GeunSeuk menggandengku berjalan beberapa langkah kedepan pendeta. Aku merasa genggaman tangannya benar-benar dingin. Membuat perasaanku jadi aneh dan sedikit takut..

“Jang GeunSeuk, di depan Altar Tuhan yang suci dengan saksi roh Johannes Paullus. Apa kau bersedia menerima Choi Ji Yoon sebagai istrimu?? Selalu mencintainya dalam keadaan senang mau pun susah?”

“Saya, Jang Geun Seuk… berse…”

Kalimat itu terhenti. Putus begitu saja. Dan saat itu juga aku merasakan tangan dingin yang menggandengku melonggar. Detik berikutnya, GeunSeuk sudah ambruk di depan altar. Ambruk sebelum ia sempat mengikrarkan janji sucinya untukku. Ambruk dan tidak akan bangun lagi untuk melanjutkan upacara pernikahan ini..

————————-

Gereja ini adalah saksi bisu kepedihanku. Kepedihan saat aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai di saat detik-detik hari bahagia kami. Yah, GeunSeuk sudah berada di Surga sekarang. Ia menderita Dytrufus, penyakit yang disebabkan oleh amoeba-amoeba yang menginfeksi ginjalnya. Dan ia tidak pernah memberitahuku tentang itu semua..

Aku benci Italy, terutama Roma, terutama gereja Basilica S. Pietro ini, terutama Fountain de Trevi, terutama jembatan Tiberina. Karena tempat-tempat itu membuatku sakit. Kenangan-kenangan indah kita ditempat-tempat itu membuatku semakin tidak rela akan kenyataan bahwa kau sudah pergi..

****

“Tolong, saya hanya butuh mewawancarai Noona Hyun Young sebentar…” pintaku penuh harap. Tapi wanita tua itu tetap saja mendorongku keluar dari butiknya..

“Maaf. Tapi Noona Hyun Hyoung tidak bisa diganggu. Dia sedang viting gaun pengantinnya..” tukasnya lagi dengan gaya seolah mengusirku..

Ya Tuhan!! Kenapa sih ibu-ibu tua ini pelit sekali?? Shin Hyun Young ada didalam, dan aku hanya ingin memewancarainya sebentar tentang konsep pesat pernikahannya nanti!!

“Apakah bibi tidak bisa memberi waktu pada saya barang 10 menit saja?? Bibi tidak berhak mengusir saya seenaknya seperti itu. Saya ini Pers yang butuh berita…”

“Kau benar-benar ingin meliput persiapan pernikahanku dengan Siwon ya??” seorang Yeoja cantik dengan wajah khas Asia, muncul dengan balutan gaun pengantin elegan..

Aku membungkuk, “Ahh.. Noona Hyun Young. Ne, saya dari majalah SEOUL..”

Dia benar-benar sangat cantik, lembut, feminim, murah senyum, dan ramah. Padahal dia seorang public figure, tapi tak terlihat raut kesombongan diwajahnya. Beruntung sekali Choi Siwon mendapatkannya..

Ia tersenyum, “Aku tidak keberatan kau wawancarai. Tapi benar-benar tidak bisa untuk hari ini. Mungkin minggu depan…” ujarnya, membuatku mendengus kecewa..

“Tapi kau bisa mewawancarai adik Siwon kalau kau mau. Kebetulan dia yang mengurus acara pernikahan nanti. Namanya Minho.” Ia tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas bertuliskan sebuah alamat padaku..

****

“Semoga sukses…” Leeteuk mengerlingkan matanya kearahku dari dalam mobil. Dan detik berikutnya, ia sudah melajukan mobil hitam itu lagi..

“Yaizhh.. benar-benar deh.. patner yang aneh..” desisku seraya berjalan memasuki gerbang white house klasik tak berpintu itu..

Bagaimana tidak? Aku kesini, mendatangi alamat yang kemarin sore Hyun Young onnie berikan untuk mewawancarai adik dari Choi Siwon. Dan Leeteuk, bukannya menemaniku masuk, dia malah pergi sendiri berkeliling Roma dengan egoisnya.

“Yeah!! 3 point!!” lengkingan itu menghentikan langkahku..

Aku memutar pandang kesekeliling. Dan mendapati seorang pria seusiaku yang sedang mendribble bola di lapangan basket mini. Perlahan, aku berjalan mendekat ke pinggir lapangan. Hanya butuh beberapa detik, dan pria itu berhasil membuatku tertegun melihatnya, yah.. walau hanya dari belakang…

Rambut basahnya yang mencipratkan sisa-sisa keringat ketika berlari dan melompat. Lekuk badannya yang sangat atlentis walau tidak terlalu tinggi. Lincah gerakannya saat melakukan pivot juga memainkan bola basket ditangannya. Dan lompatan memukaunya saat ia melakukan jumping shoot..

“GeunSeuk…” tanpa sadar, tiba-tiba aku menggumamkan namanya..

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tidak bisa menyangkal untuk apa yang kulihat sekarang. Aku serasa menemukan GeunSeuk dalam diri namja itu. Aura GeunSeuk ada padanya. Kelihaian permainan basket Geunseuk ada padanya. Dan bayangan GeunSeuk juga ada padanya..

“Kau mafia??” tiba-tiba pria basket tadi menengok ke arahku.

“aku??” kutunjuk wajahku sendiri, masih kaget.

“Ya!! Kau!! Gadis Asia berwajah bodoh yang sedang bengong dan terpukau melihat ketampananku!! Apa kau seorang mafia?? Sedang mengintaiku??”

“Tidak, aku wartawan…”

“Bagus, kalau begitu, tangkap ini!!” ia melemparkan bola basket tadi kearahku, dan aku dengan sigap menangkapnya. Aku bisa bermain basket, dulu GeunSeuk sering mengajariku..

Entah apa yang aku pikirkan, kuletakan kalung recorder, pena, dan notesku keatas meja kecil di pinggir lapangan. Mengikat rambutku kebelakang, kemudian mulai mendribble bola ketengah..

Semenit, 5 menit, 10 menit. Kami mulai sibuk bermain, dan aku menikmatinya. Lay up shoot, Overhead pass, pivot, Jumping shhot. Yah, basket. Olahraga yang tak pernah kumainkan lagi setelah kematian Geunseuk 2 tahun yang lalu…

“Akkhh… geunseuk…” aku segera melempar bola ditanganku keluar lapangan. Aku ingat janjiku. Aku hanya akan bermain basket dengan GeunSeuk. Tidak dengan namja lain. Siapa pun orangnya, bahkan walau aku merasakan aura GeunSeuk dalam dirinya..

“Oke!! Hentikan!! Aku disini untuk mewawancarai seseorang bernama Choi Minho. Bukan untuk menemanimu main basket!” tegasku..

“Choi Minho?? Itu aku. Tapi kau bisa memanggilku Minho kalau kau mau. Choi Minho..” Ia berjalan kearah meja kayu kecil di pinggir lapangan, mengambil sebotol air mineral, “Jadi kau mau mewawancaraiku?? Tentang?? penelitian tentang marmut busung lapar ke Afrika??”

Dahiku berkerut ilfeel, “heh?? Maaf, aku tidak berminat mengenai hal-hal seperti itu..”

“Lalu??”

Kuambil notes dan penaku, “Aku ingin menanyakan tentang konsep pesta pernikahan kakakmu dengan Noona Shin Hyun Young..”

“Owhh..” ia mengelap keringatnya dengan handuk kecil, lalu menatapku tajam, “kau mau membayarku berapa untuk setiap informasi yang ku berikan??”

“MWORA?? AKU HARUS MEMBAYAR??” pekikku. Tidak salah?? Ia kaya, punya rumah sebesar ini, tapi ternyata matrealistis?? Omona… benar-benar meruntuhkan pandanganku tentang Aura GeunSeuk didalam dirinya..

“Tidak ada yang gratis sekarang ini Noona..” dengan sangat percaya diri, ia menengadahkan tangannya

Kuambil dompetku dari saku celana, dan membuka isinya tepat di depan wajah namja itu. Hanya ada 1 euro dan 3 won disana..“puas??”

“Ternyata wartawan miskin..” ia mengatakannya dengan begitu santai. YAA!! Aku ingin sekali mencakar wajahmu yang menyebalkan itu!! “baiklah, kau bisa membayarnya dengan jasamu..” tambahnya..

“heh??”

“Temani aku seharian ini ke Via condotti…”

Aku bengong. Via condotti?? Pusat perbelanjaan pakaian paling mewah di Italy?? Salah satu pasar mode dan merk unggulan Eropa?? Pusat penjulan baju-baju dan aksesoris dengan harga super mahal itu??

****

“Yoon, PANGERANMU SUDAH DATANG MENJEMPUT!!” seru Leeteuk dari lantai bawah.

Aku mendesis kesal sambil menuruni tangga, “Pangeran?? Yang benar saja, dia itu penyihir jahat yang memperbudakku..”

Yah, choi Minho itu. Aku harus mau menemaninya jalan-jalan, baru setelah itu dia mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Dan yang paling menyebalkan adalah, 3 pertanyaan untuk 1 hari, sedangkan aku punya 15 pertanyaan yang harus ia jawab!! Gzz… jadi, aku harus menemaninya jalan-jalan selama 5 hari!! Apa ada yang lebih mengesalkan dari itu??

Kemarin lusa ia membawaku ke Via Condotti. Pusat perbelanjaan termewah di Italy. Namja itu benar-benar membuatku iri dan ngiler mengikuti sepanjang langkahnya. Yang benar saja?? Aku harus menemaninya masuk dari satu butik ke butik lain. Melihatnya berlanja berbagai macam kaos, sepatu dan jaket, sedang aku hanya bisa gigit jari karena tidak punya cukup uang untuk membeli apa pun!!

Lalu kemarin, ke Pagna. Dari sana, aku kira kami hanya akan makan ice cream sambil melihat Fontana della Barcaccia, kolam air mancur berbentuk Prahu yang dulu dipakai kaisar Roma. Tapi ternyata tidak, dia memaksa mendaki Spanish Steps. Kalian tau Spanish Steps?? Ini bukan gunung!! Ini adalah ratusan anak tangga yang harus kita daki untuk kemudian sampai di puncak Petrus.

Bisa kalian banyangkan betapa lelah dan pegalnya kakiku mendaki ratusan anak tangga terjal itu?? Dan yang lebih tragis lagi adalah, Minho jauh meninggalkanku dibelakangnya!! Benar-benar tidak punya perasaan!! Tapi apa yang kulihat setelah sampai di puncak membuatku terpesona sejenak. Aku mendapatkan pemandangan luas kota Roma termasuk melihat kubah Basilica Santo Petrus. Karena tidak ada orang yang ingin membangun gedung pencakar langit di Roma, jadi semua rumah akan terlihat indah seragam, termasuk warna catnya juga seragam, krem atau coklat tanah.

“Yoon, kau ingin tau satu hal??” tanya Leeteuk masih sambil menyuap serealnya. Aku hanya acuh sambil membenarkan dandananku di depan cermin. Syall kuning yang Minho belikan untukku di Via Conditti waktu itu. Haissh.. padahal aku tidak suka warna kuning, tapi kenapa aku memakainya??

“Choi Ji Yoon, rasanya punya kakak ipar artis ternama seperti Choi Siwon adalah hal yang mengasyikan..” cletuk pria bernama lengkap Park Jungsoo itu tiba-tiba..

Aku mendelik kesal, “APA MAKSUDMU HAH???” dan patner kerjaku itu hanya tertawa sambil membawa mangkuk serealnya ke dapur.

Untuk kesekian kalinya aku mendengus, bunyi klakson mobil dari arah luar seolah-olah memaksaku segera keluar. Kuraih gembok kecil yang kujadikan bandul kalungku selama 3 tahun ini. Gembok ini adalah benda yang mengunci hatiku. Dan selama gembok ini tidak terbuka, maka cintaku untuk namja selain GeunSeuk juga tidak akan pernah terbuka..

Sedikit cepat, aku membuka pintu dan wajah ketus Minho sudah menyambutku.. “Telingamu baru berfungsi detik ini ya? Apa kau tidak bisa dengar aku membunyikan klakson berkali-kali??”

****

Minho memarkir mobilnya di depan gerbang kompleks Capitolini. Aku tidak pernah masuk kedalam sini. Yang aku tau, didalam kompleks itu ada sebuah lapangan besar. Entah, mungkin lapangan sepak bola atau sejenisnya, dan mungkin itu tidak lebih menarik dari tempat-tempat lain di Roma.

“Ayo…” Minho mengulurkan tangannya kearahku. Membuatku terdiam sejenak, menatap tangan kokoh yang tampak hangat itu. Maksudnya? Ia ingin kami bergandengan?? Kenapa tidak jalan beriringan seperti kemarin-kemarin saja?

“Tanganku higienis, aku selalu pakai detol!!” cletuknya..

Aku mendongak, dahiku berkerut bingung, “Aku tidak tanya tentang itu…”

“Haisshh.. Kalau begitu jangan melihat tanganku seperti tadi!! Cepat ikut…” ia mendengus sebal, dan sedetik kemudian tangannya sudah menggenggam tanganku. Hangat…

Ia menggandengku menelusuri jalan setap kecil dari batu azurd. Aku sedikit canggung dengan sentuhan ini, tapi aku juga merasa sangat nyaman dengan lingkup jemarinya. Sebentar, aku menengok ke samping dan mencuri pandang kearahnya. Dan detik itu juga, darahku rasanya berdesir hangat…

Ya Tuhan!! Kenapa rasa ini bergejolak lagi? Kenapa rasa ini kembali hadir dalam hatiku?? Rasa yang sama seperti 3 tahun yang lalu. Rasa yang harusnya hanya kurasakan ketika aku bersama GeunSeuk. Rasa yang harusnya tidak boleh ada untuk namja lain…

“itu syall yang kubelikan ya?” Ia tiba-tiba menengok ke arahku, dan mata kami bertemu. Mata hitamnya yang teduh. Zzhhh.. Choi Ji Yoon, kendalikan perasaan anehmu ini!!

Aku mengangguk, “Waey? Tidak cocok ya? Jelek? Aneh? Baik, kulepas saja..”

“Jangan!!” Minho dengan cepat menahan tanganku, “Kau kelihatan manis dengan Syall itu…” lanjutnya sambil menyunggingkan sebuah senyum manis..

Aku benar-benar merasa… akhh!!! Tidak Choi Ji Yoon!! Kau tidak boleh mencintainya!! Kau harus menghilangkan rasa aneh ini jauh-jauh!! Kau hanya boleh menyimpan nama ‘GEUNSEUK’ dalam Memorymu!! Kau harus tetap menjaga cinta juga kenangan-kenangan tentang GeunSeuk dan menguncinya rapat-rapat dalam hatimu!!

Kulepaskan gandengan Minho padaku, kemudian mencoba mengalihkan pandangan ke arah…..

“Wooww… Ini lapangaan Piazza del Campidolgi???” aku nyaris memekik saat melihat pemandangan di depanku sekarang..

Aku salah. Sangat salah. Ini bukan lapangan sepak bola atau sejenisnya. Ini adalah lapangan berbentuk lingkar beralaskan marmer hitam, yang dikombinasi dengan garis kramik putih yang membentuk rasi bintang. Kemudian di tengahnya terdapat patung berkuda Raja Marcus Aurelius yang terlihat begitu gagah. Tapi ada hal lain yang membuatku lebih terpesona….

“Pigeons… White of Love…” gumam Minho..

Yah, Merpati putih. Ada ratusan bahkan ribuan Merpati putih di seluruh area lapangan ini. Merpati yang terbang rendah dengan eloknya. Merpati yang bertengger di patung Raja Marcus. Merpati yang berjalan kecil diatas marmer hitam Piazza del Campidolgi. Merpati yang sibuk memakan biji-biji kacang yang dilemparkan oleh para wisatawan..

“Terimakasih mengajakku kemari…” Aku tersenyum pada Minho, kemudian segera berlari ketengah. Merpati-merpati itu segera terbang mengepakan sayapnya begitu aku berlari kecil melewati jalanan mereka. Begitu indah… begitu elok…

Aku berjongkok, dan merengkung seekor merpati putih dengan mata yang begitu lentik dan lembut. Kuelus sayap putihnya perlahan, kemudian berbisik lirih pada merpati itu… “Tolong sampaikan salamku untuk GeunSeuk di Surga…”

Kubuka kedua telapak tanganku dan membiarkannya mulai terbang. Terbang bebas, lepas, mengepakan sayap-sayap halusnya dengan begitu ringan. Lalu menyatu dengan putih sang awan. Merpati, apa kau benar-benar bisa menyampaikannya pada cintaku itu??

Aku mengambil sebungkus jagung yang tergeletak tak jauh dari tempatku. Mengeluarkan beberapa biji ke telapak tanganku, dan membiarkan beberapa merpati datang untuk mengisi perut mereka. Geli sekali rasanya saat paruh-paruh kecil itu mematuk-matuk telapang tangaku…

“Kau tau kisah Merpati dan mawar putih??” Minho tiba-tiba sudah ikut berjongkok di sebelahku

Aku menengok, kemudian menggeleng.. “Hemh?? Apa itu??”

“Begini. Jadi, ada seekor merpati yang mencintai mawar putih. Tapi mawar putih itu sangat angkuh dan acuh. Walau begitu, merpati masih tetap berusaha menunjukan rasa cintanya…” Ia menarik nafas sejenak. Aku menatapnya fokus, rasanya aku tertarik dengan kisah ini..

“Sampai kemudian ia bertanya, ‘apa yang harus kulakukan agar kau percaya bahwa cintaku tulus padamu?’, lalu mawar menjawab… ‘jika kau bisa merubahku menjadi mawar merah, aku akan mempercayai cintamu..’ Lalu apa kau tau apa yang dilakukan merpati setelah itu??” tanyanya, aku menggeleng lagi. Memang apa yang bisa dilakukan merpati? Permintaan mawar putih itu konyol!

Minho merengkuh seekor merpati di dekatnya, kemudian membelainya, “Merpati memotong sayapnya saat ia terbang di atas mawar putih. Darahnya kemudian mengucur deras kebawah, dan dengan darah itu, ia berhasil membuat mawar putih berubah menjadi mawar merah. Itulah pengorbanan cinta yang indah dari seekor merpati..”

****

Susuri Via del Corso dan beloklah ke arah Fontana, air mancur terbesar di Roma dengan mithos terkenal dibalik keindahannya. Trevi Fountain. Air mancur megah dengan ornamen yang begitu indah. Air jernih yang mengalir seperti air terjun kecil buatan, membuatku ingin berlama-lama disini.

“Kenapa kau ingin kesini?” tanya Minho seraya menyodorkan segelas coklat panas kearahku.

“Entah, tiba-tiba aku ingin kesini saja. Aku senang menghabiskan sore di tempat ini. Bersantai sambil ditemani gemericik air dan dentingan koin-koin…” sahutku, menyeruput coklat panas itu perlahan.

Yah, memang aku yang memaksa pergi kesini. Entah, aku hanya ingin bernostalgia tentang kenangan-kenangan indahku dan GeunSeuk disini. Saat aku lepas dan terpisah darinya karena keadaan Trevi Fountain yang begitu ramai saat itu. Saat kami bersana-sama melemparkan koin sambil menungging ke belakang. Saat kami berteriak mengucapkan harapan kami begitu keras.

“AKU INGIN PERNIKAHAN KAKAKKU BERJALAN LANCAR, DAN AKU BISA SEGERA MENYUSULNYA!!” Minho menyerukan harapannya dengan begitu keras. Dan setik berikutnya, terdengar dentingan koin yang dilempar kearah kolam.. terdengar nyaring dan indah..

“Kau sedang mengucap harapan atau mengajak orang berkelahi?? Hahaha…” sindirku sambil terkikik kecil. Ia hanya ikut tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi bodoh..

“Kau sendiri, sudah datang kesini apa tidak mau melempar koin??” tanyanya.

Aku menggeleng…”Jika aku melempar koin, maka aku akan kembali lagi kesini. Dan aku tidak mau. Aku tidak mau menginjakan kaki di Roma lagi. Kuharap ini yang terakhir..”

“Hey, siapa yang tadi melempar koin dan mengucap harapan untuk kami??” terdengar suara seorang namja yang terdengar sangat familiar. Aku menengok…

Shin Hyun Young dan Choi Siwon. Pasangan artis Korea yang sebentar lagi akan mengikat hubungan mereka secara sakral. Tampak begitu romantis dengan warna baju abu-abu senada. Rangkulan mesra Siwon di pinggang Hyun Young, juga gelayut manja Hyun Hyoung di lengan Siwon. Mereka benar-benar sangat serasi. Pasangan yang sangat bahagia…

“Hyung, kan aku ini adik yang baik. Hahaha…” cletuk Minho.

“Hey, kau Choi Ji Yoon kan? Wartawan dari majalah Seoul itu?? Kau sudah dekat dengan minho rupanya? Wahh.. rasa-rasanya aku seperti mak comblang untuk kalian. Hahaha…” goda Hyun Young.

Tanpa sadar aku melirik kearah Minho, dan ternyata dia juga sedang melirik kearahku. Zzz… ini sudah keberapa kalinya mata kami saling bertemu. Dan sengatan listrik aneh itu kembali mengalir di seluruh tubuhku. Akhh.. Ji Yoon, kau tidak boleh seperti ini…

“Ani, kami hanya berteman..” elakku, “Hyun Young onnie, Siwon oppa, kalian sedang apa disini? Tidak sibuk mengurus acara pernikahan?” aku mengalihkan pembicaraan..

“Aku sedang ingin bermesraan dengan Hyun Young-ku sebelum kami menikah..” dengan sangat agresif, tiba-tiba Siwon oppa melumat bibir Hyun Young onnie di depan kami. Di depan Trevi Fountain. Di depan beberapa orang yang ada disekitar mereka. Oke, ini mungkin hal yang biasa di Negara barat..

“Kenapa melihat mereka terus?? Kau juga ingin??” tiba-tiba wajah Minho sudah ada didepan wajahku. Membuat jantungku berdetak 3 kali lebih kencang dari biasanya…

“Heh?? Tidak, aku ha…..” kalimatku terputus. Minho benar-benar melakukannya tanpa persetujuanku. Ia melumat bibirku dengan lembut. Hangat, basah, manis. Lidahnya mulai mendesak masuk. Menyelinap, menjelajah seluruh rongga mulutku. Begitu nikmat. Sama seperti bibir Geunseuk yang.. Akhh.. Geunseuk!!

‘PLAKKKkkk…’

Sebuah tamparan keras kudaratkan di pipinya. Ia benar-benar lancang!! Ia merebut bibirku yang sebelumnya hanya pernah dijamah Geunseuk!! Kurasakan mataku memanas. Air mataku mulai mengalir pelan tanpa bisa kucegah..

“AKU BUKAN GADIS ROMA YANG BISA KAU CIUM SEENAKNYA!! BISAKAH KAU LEBIH MENGHARGAIKU SEBAGAI SEORANG YEOJA DARI KOREA SELATAN YANG MENJAGA KESUCIANNYA??” bentakku, parau.

“Ada apa ini??” Siwon oppa dan Hyun Young onnie menghentikan keasyikan lidah panas mereka. Memandangku dan Minho dengan bingung..

“Maaf, Tapi aku mencintaimu…” ujar Minho tiba-tiba. Membuat lidahku kelu sesaat. Membuatku lumpuh sesaat. Membuat hatiku beku sesaat. Membuat darahku berhenti mengalir sesaat.

Aku tersenyum getir, “Cinta?? Bodoh… aku tidak akan pernah membalas cintamu..”

“Kau mencintaiku, aku bisa merasakannya..”

“Heh?? Jangan sok tau!! Aku sama sekali tidak mencintaimu!!” balasku, kali ini mulai terisak.

“KAU HANYA TIDAK MAU MENCINTAIKU!! KAU TERLALU MENGUNCI HATIMU RAPAT-RAPAT UNTUK GEUNSEUK YANG SEKARANG SUDAH TIDAK ADA DI DUNIA INI LAGI!! KAU EGOIS!! KAU HANYA MEMIKIRKAN CINTAMU PADA GEUNSEK TANPA MAU MEMBUKA HATI DAN MENGAKUI CINTAMU PADA PRIA LAIN!! KAU EGOIS!!” bentakan parau yang bercampur isak dari Minho itu membuatku terhenyak..

“Tunggu, kau kekasih Geunseuk??” Siwon oppa menunjuk kerahku. Aku semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang…

“Siapa kalian?? Kenapa kalian mengenal Geunseuk??” tudingku..

“Dia sepupuku…” jawaban Minho membuatku hanya bisa tertunduk lemah. Jadi Geuseuk dan Minho itu saudara? Dan apa aku mencintai keduanya?? Aku memang mulai merasakan cinta pada Minho, aku tidak bisa membohongi hatiku soal itu. Tapi bagaimana dengan Geunseuk??

‘Kau memikirkanku Yoon? Terimakasih.. Aku senang kau menjaga cinta dan kenangan kita, tapi itu bukan berarti kau harus menutup rapat hatimu untuk cinta yang lain kan? Aku tau kau mencintainya..’ Aku mendengar sebuah suara berbisik, Geunseuk, menguatkanku..

Masih dengan mata sembab, aku mendongak, dan Minho sudah ada didepanku.. “Apa yang harus kulakukan agar kau mau membuka hatimu untukmu??” tanyanya, ia menatapku penuh kesungguhan..

Kuraih bandul gembok perak di leherku.. “Jika kau bisa membuka gembok cinta ini, maka aku saat itu juga hatiku akan terbuka untukmu…”

Aku kemudian berbalik, berjalan pergi meninggalkan gemricik Trevi Fountain. Tapi baru beberapa langkah, aku menoleh lagi, “Kuncinya ada di dasar danau Tiberina…”

****

Menatap matahari senja sambil menyeruput secangkir teh panas di teras belakang. Yang terdengar hanyahembus angin musim gugur yang sebentar lagi lenyap tergantikan angin musim dingin. Begitu Kosong. Bisu. Diam. Bungkam. Sunyi. Pilu.

Aku tidak lagi menyentuh tape recorder, pena, kertas-kertas brits, atau kamera polaroidku. Aku tidak peduli lagi. Aku bahkan tak merasa kasian pada Leeteuk yang mengerjakan tugasku 2 hari ini. Aku masih terlalu egois dengan perasaanku sendiri. Apa aku akan terus menutup hatiku untuk Geunseuk? Atau aku memang harus membukanya untuk Geunseuk?

“Yoon, ada tamu untukmu…” Leeteuk melongokan kepalanya dari dalam pintu. Aku masih acuh.

“Ji Yoon, kau baik-baik saja? Maaf..” aku menoleh pelan saat mendengar suara itu. Hyun Young eonnie. Ia bersama Siwon oppa. Mereka berjalan mendekat dan duduk didepanku..

“Aku baik-baik saja eonnie…”

“Maaf. Andai saat itu aku meluangkan waktu untuk kau wawancarai. Andai aku tak membuatmu mengenal Minho. Andai aku dan Siwon tidak muncul di Trevi Fountain saat itu. Maaf…” Hyun Young onnie membenamkan wajahnya dengan kedua tangan. Sementara Siwon oppa mengelus lembut pundaknya yang naik turun karena terisak.

“Yoon, apa kau tidak bisa membuka hatimu untuk Minho? Geunseuk hanya masa lalu. Masa lalu yang indah, yang hanya perlu kau simpan dan kau kenang..” ujar Siwon oppa.

Kucoba mencerna setiap kata yang dilontarkannya. Batinku serasa ingin menjerit, entah kenapa. Dan aku hanya bisa menjawab… “aku tidak tau apa aku bisa melakukannya atau tidak..”

“Apa kau tau kalau sejak kemarin Minho tidak pulang kerumah?” suara Hyun Young onnie masih parau.

“Dia ada di Danau Tiberina..”

Pernyataan lirih dari Siwon oppa itu membuatku terhenyak kaget. Hatiku terasa miris. Dadaku seolah sesak selama beberapa saat. Aku ingin menyalahkan diriku atas semua ini!! Atas semua kata-kataku di Trevi Fountain saat itu!! Tapi kenapa dia mau mendengarkannya??

Ya Tuhan!! Apa namja itu begitu bodoh? Suhu di Roma saat ini sedang dingin, dan ia nekat pergi ke Danau Tiberina? Apa ia ingin menemukan kunci itu di dasar danau? Artinya ia harus menyelam kedalam dinginnya air Tiberina di suhu seperti ini untuk menemukan kunci itu?? MUSTAHIL!! Mustahil ia menemukannya!

“JI YOON!! CEPAT KESINI!!” Leeteuk, namja itu tiba-tiba kembali dan menarikku kedalam. Menuntunku duduk di depan televisi. Hyun Young eonnie dan Siwon oppa mengikutiku. Breaking News…

“Seorang pria yang diduga berasal dari Korea Selatan, ditemukan tewas tenggelam di Danau Tiberina sekitar satu jam yang lalu. Sampai saat ini polisi masih melakukan……………………………….”

Dan semua yang terdengar berikutnya hanyalah sebuah dengungan. Tanpa komando, air mataku sudah mengalir deras. Itu pasti bukan dia kan? Bukan kan? Pasti bukan! Itu pasti orang lain! Ada cukup banyak namja Korea yang menetap disini!

“Minho…” gumaman lirih Siwon oppa dibelakang, membuatku segera mengambil mantelku di atas sofa dan berlari keluar. Aku bergegas masuk kedalam mobil Leeteuk, memutar kunci, memutar setir dengan cepat, lalu menginjak gas dengan penuh emosi yang meluap. Melajukan Mobil dengan kecepatan tinggi.

Aku tidak peduli apa aku akan sampai di Tiberina dengan selamat atau tidak. Aku hanya ingin segera sampai disana dan melihat bahwa mayat itu bukan Minho. Yah, bukan Minho!! Itu bukan Minho!! Pasti bukan Minho!! Tuhan tidak akan sejahat itu hingga mengambil orang-orang yang aku cintai!!

****

Aku hanya bisa berlutut di pinggir danau Tiberina yang sudah dibatasi dengan garis kuning kepolisian. Terisak lemah dan ringkih. Menangisi kepergian seseorang yang kucintai, untuk yang kedua kalinya. Aku hanya seorang gadis bodoh yang tengah merutuk menyalahkan diri. Aku hanya gadis bodoh yang baru menyesal saat semua sudah terjadi.

“Menurut kartu identitas yang kami temukan di saku celana korban, namanya adalah Minho..”

Penuturan dari salah satu polisi beberapa saat yang lalu itu, masih terngiang jelas di telingaku. Bagaikan bisikan-bisikan mimpi buruk yang membuatku bergetar ketakutan. Bagaikan sebuah petir yang menyambar kedalam seluruh relungku. Begitu.. menyakitkan..

“Andai aku tidak menjadikan gembok ini sebagi alasan..” Kuraih gembok perak di leherku, menggenggamnya erat. Dan memory 3 tahun yang lalu itu kembali terputar jelas di dalam otakku..

————————-

“HAPPY VALENTINE!!”

Ia memekikkan kata itu lagi untuk yang kesekian kalinya. Hahaha… dasar lebay..

Kami ada di Danau Tiberina sekarang. Danau yang tidak bergitu terkenal di Roma. Tapi Danau ini cukup indah dan jernih untuk dikunjungi.

Aku dan GeunSeuk. Kami duduk di atas semacam kursi bambu panjang di pinggir danau ini. Tak lama, namja disebelahku ini tiba-tiba merogoh sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil. Kemudian menyodorkannya kearahku.. “Untukmu.. coba tebak, apa isinya?”

“coklat?” tebakku, ia menggeleng. “permen?” Geunseuk menggeleng lagi. “arloji?” masih saja menggeleng. “liontin?” lagi-lagi gelengan. “Akhh… BERLIAN???” aku terlalu berharap untuk itu. Hahaha..

Rasanya ia tau aku menyerah. Geunseuk kemudian mulai membuka kotak itu perlahan. Dan bisa kalian tebak apa isinya?? Sebuah gembok perak kecil dan kuncinya. Beberapa detik kemudian aku sadar, di gembok itu, ada ukiranku namaku dan nama Geunseuk..

Aku memperhatikan Geunseuk yang mengambil kunci dan memasukannya kemulut gembok. Memutarnya, dan membuat gembok itu benar-benar terkunci rapat. Ia menyodorkan gembok kecil itu padaku, “Kau pegang gemboknya, dan bawa kemana pun kau pergi!! Cinta dan semua kenangan kita akan terus terikat selama gembok ini tetap terkunci…”

Kugenggam erat gembok perak itu di tangan kananku. Yang bisa kulakukan sekarang hanya tersenyum haru. Aku sangat bahagia dengan apa yang Geunseuk lakukan sekarang. Ia sangat romantis hari ini…

Geunseuk tiba-tiba melemparkan kunci gembok itu ke danau, lalu tersenyum padaku…“Tidak ada yang bisa menemukan kunci itu. Artinya, tidak ada yang bisa memisahkan kita. Tidak ada lagi pria yang boleh masuk kedalam hatimu selain aku. Oke??”

————————-

“CHOI MINHO !! MINHO!! AKU MENCINTAIMU!! KAU DENGAR ITU?? AKU MENCINTAIMU DAN AKU SUDAH MEMBUKA HATIKU LEBAR-LEBAR UNTUKMU!!” teriakku kearah danau..

Kuseka air mataku sejenak, “TAPI KENAPA KAU MALAH PERGI LEBIH DULU? KENAPA KAU BEGITU BODOH DAN MENGORBANKANKAN NYAWAMU HANYA DEMI SEBUAH KUNCI?? KENAPA KAU MALAH MENINGGALKANKU SEPERTI GEUNSEUK?? KENAPA?? KENAPA??” aku semakin terisak sekarang. Tangisku sudah tumpah sejak tadi..

“Siapa yang meninggalkanmu seperti Geunseuk??”

Aku terkesikap saat mendengar suara itu. Suara yang dulu menunduhku mafia, aku menoleh kebelakang, dan… “Minho…”

“Apa? Kau pikir aku sudah mati??” ia mengangkat sebelah alisnya..

Dahiku berkerut bingung. Benar kah dia?? Aku melihat sosok Minho di depanku sekarang, dengan kaos biru polos, dan tubuh yang basah kuyup. “Lalu pria korea yang tewas tenggelam itu…”

“Namanya Lee Minho…” potongnya, ia berjalan mendekat kearahku. Digenggamnya kedua pundakku, kemudian sembarut senyum manis yang ramah itu terkembang… “Aku mencintaimu Choi Ji Yoon. Dan… bisa kau ulangi teriakanmu tadi??”

“Aku mencintaimu Choi Minho!!” aku segera menghambur memeluknya. Erat. Begitu erat. Entah kenapa, tubuhnya yang basah kuyup ini malah terasa sangat hangat bagiku. Dan sekarang, aku mulai terisak lagi didalam dekapannya..

“Jangan pernah sekali-kali menyelam dan mencari kunci itu. Aku tidak mau kehilanganmu jika kau benar-benar melakukannya, itu konyol…” isakku.

“Tapi aku sudah melakukan hal konyol itu….” Ia melepaskan pelukan kami.

“maksudmu??” aku mendongak, semakin bingung..

Minho tersenyum penuh arti. Ia tiba-tiba meraih gembok perak yang masih tergantung di leherku hingga saat ini. Kemudian.. ‘klekk…’

Terbuka. Gembok itu terbuka dengan sebuah kunci kecil yang ia pegang. Membuatku terbelalak kaget saat menyadari kunci itu adalah…, “Bagaimana kau bisa menemukannya? Ini mustah….”

“Sttt….” Minho meletakan telunjuknya di bibirku. Ia tersenyum lagi, “Tidak ada yang mustahil jika kau melakukannya atas dasar cinta..”

======================E.N.D======================

Copyright 2010 S3FFIndo Publishing

“Dilarang keras mengutip,menjiplak, memfotokopi sebagian atau seluruh FanFiction ini tanpa mendapat izin tertulis dari author”

About Mrs.Coffee

Cola. Coffee. Cola. Coffee. Cola. Coffee :9

Posted on 31 Oktober 2010, in Seongrin Park, SHINee Fanfiction, Super Fanfiction and tagged , . Bookmark the permalink. 28 Komentar.

  1. hahaha..bru skrg bca na mianhee.
    sbgai admin, akk bole cmmen uga kn ?

    nyahaha..geli wktu bca lee minho yg mati ! #plak!
    trus jang geun suk ? Ckck..yg maen artis na lumayan bnyk y !

  2. Huaa. .Bagus. .
    Sumpah aku kira minho beneran mati,hya seneng bisa baca disini,,

  3. Wahaha, dkirain beneran t minho tenggelam. Taunya si lee minho.

  4. kyaaaaaaaaaaaaaa…………. keren.. good job for author ……
    gilla sumpah!!! romantis bangetttt…………..

  5. aku dah pernah baca yang ini, hihihihi
    bagus, kekekeke^^
    ngakaknya waktu ternyata yg mati lee minho XP

  6. KyAaaaaaaa

    FF ny Kereennn
    bgt chingu😀

    Terus berkarya

  7. All… gomawo yang dah mau baca + coment..😄

  8. berderai lagi ni air mata!!!!!!

  9. jd minho dpetn kunci x gman?
    daebak, aq ska.

  10. udah nangis bombay (lebay) ehh akhirnya malah ngakak
    GOOD JOB ^^

  11. annyeong ^^ aku readers baru nih hehe
    keren ff nya. aku kira Minho beneran mati. gak taunya itu Minho yang lain :O

    • annyeong… ^^
      readers baru?? wahh selamat datang yah.. moga betah disini.. maksih udah baca yahh… oyah.. perkenalan dulu donk di sub page loresssfic.. heheheh, biar kita saling kenal okok???

  12. Saranghae 2SungMinhyuKey JaejiNichkhun Cheondung

    hiks hiks,, kaget baget pas minho diberitain meninggal .. udah mau nangis,, ehh ternyata lee minho yg meninggal .. ffnya keren bgt b (^_^) d

  13. Wuah,ceritax kereeeennn bgt >o<.. I LIKE It,, ..

  14. annyeong. . .
    Reader baru nih. . .
    Beneran deh. . Ffny bagus bnget.
    Sedih, lucu, manis bnget critany. .pokokny komplit deh,, kt jd bs membayangkn dg detail kota roma dan keadaan d sekitarny. .
    Rianti said, i like it. . . Hehehe

  15. so sweet,,>,<
    seandainya cewek ntu aku,,,,
    haha,,keren abiez dah!!!!!

  16. kenalkan,
    aku reader baru..namaku vietta..🙂

    huaaaaa..keren, ff a keren..
    hal yg mustahil tapi terjadi..
    aku jadi ingin punya gembok itu dan kunci a..pasti keren..

  17. baru baca ff.a..
    aq pikir minho.a beneran mati,,untung gak..
    penceritaan setting of place.a keren,,bikin jadi pengen ke roma juga,,dibelanjain di via condotti..kekekeke
    xp

  18. Raisa Widiastari

    Keren thor! Keren banget! Geli bgt yang pas si cewe treak2 ternyata yang meninggal namanya Lee Minho wk!

    5THUMBS!

  19. cast’na ga tanggung” ya…

    MINHO.. KM MAIN NYOSOR AJA!!

    aq kira choi minho yg tenggelam,, udah mikir jadi sad ending… eh tw”na…

    romantis bgt, sampai nyebur ke danau…

    Bagus FFnya,,, sangat…

  20. Wah , ketinggalan brapa bulan nich Q bca.na ?
    Sumpah keren bgt nich ff . ,

    oya , sdkt protes nich thor . ,
    knp minho d bilang ga trlalu tggi ? Pdhl minho tuh tggi bgt . Haha , but it’s ok .

    Mw jg dund d kisseu ama minho oppa . ,

    keren bgt kisah pgorbnan merpati buat mawar .

    Oya , td.na Q pkir oppaQ bkal mati . Eh trnyta yg mati malah oppaQ yg satu.na lgi . ,

    keren bgt dah nie . Coba ff nie d buat chapter gtu pasti lbh bgus dEch .

    Daebak thor ,

  21. astaga…..
    Kupikir minho bneran meninggal.
    Ckck..
    Daebak author..

  22. Untung aja minhonya ga mati takut sad ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: