[FF SUJU CONTEST/2S/1] Who will be the next target?

Tittle : Who will be the next target?

Author : Anggita Kyuhyunie

Rating : PG 17+

Genre : Angst

Air Time : Tuesday, 11.00 a.m

Part : 1/2

Location : South Korea

Cast :|Han Chae Rin [Author] || Cho KyuHyun |

Author’s Note :

• It’s not completely made by me

• Don’t be Silent Reader !

• CoPas? I’ll kill you ! >,<

• Please, leave your worth comments

HAPPY READING !😄

===============================

Han Chae Rin. Nama yang melekat pada diriku sejak aku dilahirkan ke dunia yang memuakkan ini. Aku hanyalah seorang anak biasa. Tapi, aku dibesarkan di keluarga yang telah memupukkan rasa benci di dadaku. Aku layaknya sebuah boneka. Boneka yang dapat dimainkan kapanpun di saat aku dibutuhkan. Boneka yang dapat di gerakkan sesuka hati. Boneka yang dapat di buang kapanpun. Hanya saja, ada satu hal yang dimiliki olehku namun tak di miliki oleh sebuah boneka. Aku hidup. Aku bernafas, aku memiliki hati, perasaan, dan pikiran. Tapi sayangnya mereka tak menyadari hal itu. Yang ada di benak mereka hanyalah uang dan uang. Rawat dan besarkan aku, sehingga suatu saat aku akan merasa memiliki suatu hutang padanya dan harus membayar hutang-hutang itu berlipat-lipat ganda. Huh… jangan harap. Kebencianku sudah semakin memuncak. Bahkan aku sudah mampu untuk menganggap mereka tak lebih dari makhluk yang lebih rendah dari cacing berlendir di kotoran babi sehingga dapat dengan mudahnya aku menginjak dan menghabisi nyawa mereka .

Aku hidup bagai parasit. Saat menemukan inang yang menggiurkan, saat itulah aku mulai menyedot semua nutrisi di dalamnya. Dengan bermodalkan beberapa topeng tak terlihat. Hanya dengan senyuman-senyuman kosong penuh dengan dusta. Kata-kata indah dan memuji penuh dengan bualan. Aku dapat bertahan hidup di lingkungan masyarakat. Aku mengenal banyak orang. Mereka masuk ke dalam perangkapku. Bagi mereka, aku adalah temannya. Tanpa mereka sadari, mereka tak lebih dari segelintir mangsa ku .

Harapan dan cita-cita. Saat aku kecil, saat aku masih bisa tersenyum lepas, tentu saja aku memiliki itu semua. Cita-cita, cita-cita menjadi seorang astronot, seorang dokter, seorang pelukis, seorang penulis, seorang duta besar, dan pekerjaan lainnya. Tapi, itu dulu. Apa cita-citaku dan harapanku sekarang? Melenyapkan orang-orang yang telah menyumbang kebencian dan kedengkian di hatiku. Melenyapkan dengan membuat setumpuk penderitaan pada mereka terlebih dahulu .

Cinta dan kasih sayang? Aku tak mengenal dua kata yang membuatku ingin memuntahkan sarapanku ini. Aku bahkan tak tahu apa bentuknya, rupanya, dan rasanya. Semua itu memuakkan. Bahkan saat perutku kosong pun, jika aku mendengar hal itu, mungkin aku akan memuntahkan cairan-cairan kental putih yang mungkin merupakan enzim dalam lambungku ataupun darah segar dari tenggorokan keringku yang memaksa untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku .

Teman. Temanku hanyalah sebuah benda mengagumkan yang tersimpan di bawah kasurku. Benda berkilau yang dapat menghancurkan benda-benda di sekelilingnya. Benda berkilau yang akan membuatmu terluka jika kau menyentuh bagian ‘sensitif’ nya. Sebuah pemotong tajam yang selalu menemani hari-hariku. Teman sejatiku. Teman yang dapat meredakan emosiku. Hanya kepadanya lah aku dapat tersenyum dengan caraku .

=================

Tiga hari lalu rumahku yang terletak di tengah kota Seoul yang padat dengan pemukiman terbakar dan menyebabkan kedua orang tuaku dan adik laki-lakiku tewas terkunci di dalamnya. Ya, tentu saja itu bukan merupakan suatu kecelakaan. Tidak bagiku, tapi aku berhasil mengelabui penduduk sekitar ataupun polisi. Mereka bodoh. Mereka hanyalah sekumpulan orang bodoh yang hanya memasrahkan dirinya pada Tuhan. Haha.. Tuhan tak akan membantu jika tak ada tindakan. Semua sudah ku rencanakan dengan sempurna. Merusakkan pembuka pintu kamar adikku dan orang tuaku, tepat saat pemadaman bergilir. Aku pun menyalakan lilin meskipun kami memiliki petromax, dan dengan sengaja menjatuhkan lilin itu sehingga membakar lemari kamarku. Seolah-olah itu adalah sebuah kecelakaan. Dan.. WUUSH! Tiupan angin yang kencang membuat api semakin berkobar dan merebak kemana-mana. Aku berteriak, berlari keluar dan meninggalkan orang-orang terkutuk itu di dalamnya. Hanya dengan berkata bahwa aku tertidur di malam hari dan kantuk menyebabkanku lupa akan lilin yang aku tarug di atas lemari, mereka percaya. Sekumpulan orang-orang bodoh itu percaya. Bahkan mereka mengasihaniku. Mereka bodoh. Untuk kesekian kalinya aku tak dapat berhenti mengatakan bahwa mereka orang-orang bodoh .

Kematian orang-orang yang menyebut dirinya sebagai keluarga ku telah melepaskan sebagian bebanku, tapi ada satu hal yang mengganjal. Dimana aku akan hidup selanjutnya? Aku memang ingin bebas, tapi aku butuh inang-inang baru yang menyokong kehidupanku selanjutnya. Aku tak ingin bekerja. Aku tak ingin susah. Aku menyukai kehidupan parasit ini. Tak akan kukotori hidupku yang masih panjang ini dengan pekerjaan-pekerjaan yang mengurungku. Kuputuskan untuk merantau, dan inilah tempatku sekarang, Busan. Sepasang suami istri mengangkatku menjadi anak mereka setelah mereka tau orang tuaku sudah meninggal. Pasangan bodoh itu adalah sahabat lama dari orang yang mengaku dirinya adalah ibuku. Sang suami merupakan imigran dari Taipe yang menempuh perjalanan jauh ke Korea hanya untuk mendapat pekerjaan di Busan. Di kota inilah ia bertemu dengan wanita Korea dan menikah. Inangku adalah Choi JongHun dan Shin So Kyo. Setidaknya, mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan orang tua ku sebelumnya. Yah, mungkin karena mereka merasa tidak enak untuk menyuruhku dan memberiku pekerjaan. Mereka benar-benar inang yang cocok denganku. Mereka tak memiliki anak dan kaya. Mereka bersikap baik –setidaknya sejauh ini mereka memberikan apapun yang kuinginkan.

Di kota ini pulalah aku mendapatkan mangsa-mangsa baru. Mereka bernama MinJi dan YoungHee. Aku tidak ingat siapa nama keluarga mereka, dan aku tak mau mengingatnya. Aku tak peduli. Mereka hanyalah anak-anak bodoh yang tertawa hanya karena sebuah acara TV yang hanya bisa menghina orang lain dan menangis hanya karena sebuah film yang penuh dengan adegan-adegan cium sana dan sini lalu orang yang dikisahkan merupakan pasangan dari tokoh utama meninggal. Sh*t !! Aku tak tahan, tapi aku harus tahan. Mereka adalah tamengku. Setidaknya untuk menutupi makhluk jahat yang bersemayam dalam tubuhku .

=================

Aku di kuliahkan di sebuah universitas swasta di kota ini. Jurusan kedokteran. Yaa~ kedua orang tua angkatku yang tidak memiliki anak itu merelakan apapun untuk membiayaiku di jurusan itu. Kupikir kedokteran memang bidangku. Semua menakjubkan. Terutama dalam hal bedah membedah. Darah, daging, organ-organ tubuh yang dapat kulihat dengan jelas membuatku puas. Tak jarang aku meminta JongHun untuk memberikanku cadaver hanya untuk ku bedah. Keahlianku dalam hal bedah membuatku menjadi anak yang jenius dalam bidang itu. Tak hanya di kalangan mahasiswa, aku dikenal oleh dokter-dokter yang bekerja pula sebagai dosen di universitas. Aku jenius, aku berbakat. Itu kata mereka .

Berbicara tentang JongHun, tak hanya cadaver yang ia berikan padaku. Semua yang kuinginkan ia berikan padaku. Barang-barang mewah, perhiasan, bahkan mobil sport yang sangat dia sukai pun ia berikan padaku. Tentu saja itu semua tidak gratis. JongHun yang berusia belum mencapai 40 tahun, tentu saja aku tidak tahu berapa umurnya dan aku memang tidak ingin tau. JongHun menganggapku lebih dari sekedar seorang anak angkat. Ia menganggapku sebagai gadis muda yang sangat menarik perhatiannya. Pada intinya, kami sering melakukan –hal itu-. Awalnya JongHun lah yang memulai. Beberapa bulan sejak aku menempati tempat tinggal orang tua angkatku ini, JongHun masuk ke dalam kamarku diam-diam saat So Kyo tidak ada. Saat itu ia berkata bahwa akan memberikan sebuah gelang dan kalung permata yang sangat indah dan mahal harganya padaku. Aku pun menyetujuinya. Lagi pula, aku tidak peduli dengan apa yang para wanita sebut dengan keperawanan. Aku tak tahu apa itu cinta. Jadi, walaupun JongHun melakukannya, aku tidak peduli. Semua ku terima selama aku mendapatkan balasan yang setimpal. Tak jarang aku hamil, tapi latar belakangku yang mengambil kedokteran mempermudahku untuk menggugurkannya. Aku tidak menginginkan seorang bayi, dan yang tidak kuinginkan akan ku lenyapkan .

Sang istri tidak sebodoh yang JongHun pikir. Aku merasa bahwa So Kyo sudah mencium bau-bau perselingkuhan JongHun dengan anak angkatnya sendiri, aku. Tapi aku tak pernah ambil pusing. Biarlah jika So Kyo menyelidiki semua itu dan bertengkar dengan suaminya. Aku tak peduli. Lagi pula, aku tak pernah membocorkannya. Untuk apa aku membocorkan semua itu!? Tak ada untungnya bagiku. Aku selalu berkelakuan normal saat sarapan bersama walaupun pada malam harinya aku dan JongHun melakukan hubungan intim. Aku tetap memanggil JongHun sebagai ayahku, dan memang ia adalah ayahku, lebih tepatnya ayah angkatku, dan tak lebih dari itu. Aku tidak peduli walaupun saat bertengkar, So Kyo sering menyebut namaku dalam pertengkaran mereka. Aku tidak peduli walaupun SoKyo sering memberikan sindiran-sindiran baik secara halus maupun kasar padaku. Yang kulakukan hanya tinggal memasang topeng ‘anak baik’ dan ‘anak polos’. Bagiku semua itu sudah cukup. Aku tidak peduli dengan pasangan bodoh itu .

Tampaknya pertengkaran antara kedua orang tua angkatku semakin sengit. Terutama saat So Kyo pulang lebih awal dari kantornya dan mendapati suaminya tidur di kamarku dengan tubuh tak berbalutkan sehelai benang pun dan hanya tertutupi oleh selimut putih. Saat itu, aku sudah berpakaian dan baru keluar dari kamar mandi yang memang ada di dalam kamarku. Sekejap saja tangan So Kyo menghantam pipi ku dan membuat kulit putih pucatku menjadi merona. Aku tak membalas dan hanya menatapnya dengan tatapan kosongku. So Kyo terus memaki-maki ku, mengatakan bahwa aku anak yang tidak tau diri dan sebagainya, sampai JongHun terbangunkan oleh kegaduhan itu dan terlonjak kaget ketika melihat istrinya berdiri di kamar yang sama dengannya dan melihat ia dalam kondisi seperti itu. Pertengkaran pun berlanjut. Mereka meninggalkan kamarku. Kini aku bisa tenang istirahat di kamarku dengan kesendirian. Aku bercermin di cermin besar di depan tempat tidurku. Aku melihat darah segar mengalir dari hidungku. Ku sapu darah itu dengan jari telunjuk kananku dan ku hisap manisnya darah itu. Aku memiliki ide. Sebuah ide cemerlang .

=================

Hubunganku dengan MinJi dan YoungHee pun semakin lama semakin membuatku muak. Mereka berdua mengaku bahwa mereka teman sejati, tetapi mereka saling menjelekkan satu sama lain di belakang. MinJi selalu mengeluh padaku akan sifat YoungHee yang egois, dan YoungHee pun mengeluh akan sifat MinJi yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain. Mereka sama saja. YoungHee yang berada dalam jurusan yang sama denganku lebih sering menempel padaku. Menjijikkan. Kelakuannya sungguh membuatku ingin muntah. Lebih membuatku merasa mual daripada ketika aku hamil anak JongHun untuk yang pertama kalinya. Gadis itu selalu saja mencari perhatian orang-orang sekitarnya. Terutama jika di sekitar kami ada Cho KyuHyun. Pria bertubuh tinggi dan sama-sama satu jurusan dengan kami itu adalah pria yang disukai oleh YoungHee. YoungHee selalu bersikap seperti gadis lemah namun lebih tegar dari siapapun. Sungguh memuakkan. Yaaa~ pria itu pula yang di sukai oleh MinJi. Bagaimana bisa? Tentu saja karena fisik KyuHyun yang nyaris sempurna, di tambah dengan kecerdasannya membuat pria itu dikenal. Tapi, ada satu hal yang tidak diketahui oleh kedua gadis bodoh itu, pria itu pernah mengatakan cinta padaku. Cinta!? Aku yang tak mengenal kata cinta langsung menolaknya mentah-mentah, tapi entah mengapa, pria itu begitu gigih mengejarku. Walau ia sudah sering di usir oleh JongHun yang cemburu berat melihatnya saat mencoba untuk ke rumahku dan menawarkan untuk berangkat kuliah bersama .

Semakin lama, sikap Cho KyuHyun yang seperti itu mulai terlihat di depan umum. Tentu saja gadis-gadis bodoh yang merekat erat padaku itupun mengetahui hal itu. Hmm, aku tahu apa yang akan mereka lakukan. Membicarakan kejelekanku di belakang. Aku tidak mau tahu dan aku tidak peduli. Selama mereka tidak mengganggu hidupku, aku tak akan mengganggu kehidupan mereka .

Berbicara tentang kehidupanku, aku mulai terusik dengan sikap So Kyo yang kini mulai mengekangku dan sering menyakitiku. Ia bahkan mungkin pernah ingin membunuhku. Membunuhku dengan cara menyekap wajahku dengan bantal saat aku tertidur. Haha… cara amatiran dan tidak berseni. Mungkin wanita ini harus kuberikan sebuah pelajaran tentang cara membunuh yang elegan dan berseni. Suatu siang, aku yang sedang tidak ada mata kuliah hanya tinggal di rumah bersama So Kyo, yang kini sudah tidak bekerja karena takut suaminya akan kurebut. Saat inilah ia mengambil kesempatan untuk memarahi ku, bahkan sampai mencoba untuk menyiramkan secangkir teh panas ke arah wajahku. Mungkin wajahku akan rusak jika tidak menghindar. Aku mendekati dirinya yang sedang berdiri penuh dengan tatapan amarah padaku. Aku hanya tersenyum tipis padanya. Sekejap saja tatapan penuh amarah itu hilang. Berganti dengan tatapan penuh ketakutan. Ya, aku telah membuka topengku dan mungkin ia sudah tahu dengan apa yang akan kuperbuat padanya. Dengan cepat aku mengambil garpu yang berada di meja dan mencolok mata kanannya dengan ujung garpu itu. Aku menancapkan garpu kecil itu lumayan dalam. Tidak, sangat dalam. Wanita berusia paruh baya itu meringis kesakitan. Darah mengalir dari matanya. Ia berjongkok dan terus meringis kesakitan, namun tak berani mencabut keluar garpu yang tertanam dalam matanya itu. Aku yang melihat ada sebuah teko teh di atas meja pun langsung menyiramkan cairan panas itu dari atas kepalannya. Rumah kami yang berada jauh dari pemukiman padat penduduk tidak menjadikan masalah bagiku walau ia berteriak sangat keras. Aku yang masih berdiri dapat melihat rambut-rambut hitamnya yang lurus dan panjang itu mulai rontok dan tergentikan oleh daging-daging segar berwarna putih kemerahan yang melepuh akibat teh panas yang kutuangkan. Yah, bagiku cukup sampai di sini. Aku berjongkok di depannya dan menekan garpu itu lebih dalam. Beberapa lama kemudian ia sudah tak bernyawa. Aku menduga, garpu itu sudah merobek bagian otaknya .

Melihat tubuhnya yang sudah terbaring kaku, aku berpikir bahwa aku bebas memperlakukannya sebagai cadaver. Kebetulan sekali, dua hari ke depan aku harus membawa organ hati. Kini aku tak perlu membelinya, aku mendapatkannya dari wanita ini. Ku sayat kulit perut berwarna kuning langsat dari wanita itu. Aku sudah berpengalaman sebelumnya, jadi aku tahu, dimana letak organ-organ yang berharga itu. Ku ambil sebuah organ paling besar yang ada pada manusia. Benda berwarna merah darah itu segera kumasukkan dalam toples yang berisi suatu cairan yang membuat organ itu masih tetap dalam kondisi bagus. Sisanya? Rumahku dekat dengan laut. Apa susahnya membiarkan So Kyo mengarungi lautan yang sangat di sukainya itu .

=================

JongHun sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan padaku. Ia menganggap So Kyo sedang mengasingkan diri dan menenangkan hatinya. Tanpa ia ketahui, So Kyo sekarang memang sudah tenang dan damai di lautan luas sana. Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh JongHun. Mungkin ia merasa bahwa tak ada yang bisa melarangnya lagi, sehingga ia berbuat sesuka hatinya padaku. Terserah. Aku sudah berprinsip bahwa akan bersedia melakukan apapun asal mendapatkan imbalan yang setimpal. Dan aku mendapatkannya. Aku meminta JongHun untuk memberikan surat kuasa atas rumah yang kami tempati, berikut memintanya membuat surat warisan yang akan melimpahkan seluruh hartanya padaku. Pria bodoh itu menyetujuinya, tanpa ia ketahui, surat warisan itu menandakan suatu hal. Semuanya akan segera menjadi milikku .

JongHun meninggal satu bulan kemudian setelah ia menandatangani surat kuasa. Kecelakaan. Yaa~ memang kubuat sewajar mungkin, walaupun sebenarnya aku ingin melakukan hal yang lebih. Tapi, jika ku lakukan itu, polisi akan curiga, ditambah lagi dengan So Kyo yang tak kunjung pulang. Lupakan masalah JongHun dan So Kyo. Tak hanya JongHun yang meninggal. MinJi meninggal dua bulan lalu. Berbeda dengan JongHun yang dianggap kecelakaan –walau sebenarnya pembunuhan- tapi mayat MinJi betul-betul terlihat bahwa ia telah dibunuh. Tubuhnya ditemukan di sebuah rumah kosong di pinggir pantai. Tubuhnya…. tanpa kulit. Gadis yang saat hidup tampak memiliki kulit putih bersih layaknya susu itu terlihat membusuk layaknya sapi yang baru saja dikuliti dan membusuk di penuhi oleh belatung kecil berlendir berwarna putih kekuningan yang mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Dan tidak hanya MinJi. Korban kedua adalah seorang pelayan di sebuah café. Sangat jelas terlihat bahwa ia dibunuh dalam waktu yang belum lama. Korban ketiga merupakan mahasiswi universitas tempat ku mendalami ilmu kedokteran. Hanya saja, gadis ini berada pada jurusan ilmu kimia dan sesuai dengan bidang yang ia geluti, ia di temukan di sebuah laboratorium tua yang dulu terbakar. Dua gadis telah dibunuh dan ditemukan dalam kondisi yang sama dengan MinJi dalam kurun waktu dua bulan. Ketiga gadis itu memang dikenal memiliki kulit yang putih bersih dan terawat. Tidak. Kali ini pelaku pembunuhannya bukanlah aku. Tapi, ini semua sangat menarik. Betul-betul menarik perhatianku dan membuatku penasaran. Penasaran akan cara membunuhnya, penasaran akan bagaimana ia menarik perhatian sang korban, penasaran akan bagaimana ia bisa mengelabui polisi dan masyarakat. Tentunya orang itu sangatlah jenius .

Aku mulai mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang sang pembunuh yang jenius itu. Aku mengidentifikasi seluruh jasad korban, berharap menemukan sebuah pertanda. Untungnya, tak ada yang mencurigaiku. YoungHee, KyuHyun, teman-teman, dosen, dan masyarakat sekitar menganggap bahwa perlakuanku ini semata-mata hanya untuk mencari tahu siapa dalang atas pembunuhan sahabatku. ‘Sahabat’ itulah kunci yang selama ini membantuku. Sejak awal orang-orang bodoh itu kudekati hanya untuk dijadikan sebuah tameng. Aku tidak peduli walau mereka mati sekalipun. Aku sama sekali tidak menganggap mereka bagian dari hidupku .

YoungHee selalu saja menangis setiap bertemu denganku. Yaaks! Menjijikkan. Baru menyadari suatu hal ketika hal itu sudah tidak ada. Bodoh sekali gadis ini. Tak hanya menangis, ia pun selalu mengatakan padaku bahwa ia merasa takut. Takut jika suatu saat pembunuh jenius itu akan membunuhnya dengan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya terhadap MinJi. Aku berpikir dalam hati, jika aku pembunuh itu, aku tak akan membunuh gadis bodoh ini. Ia tak memiliki kulit putih dan indah layaknya MinJi. Bahkan gadis ini pun tidak terlihat seperti seorang gadis. Rambut pendek dan tak pernah menggunakan pakaian perempuan. Mungkin yang akan membunuhnya bukanlah pembunuh jenius itu, melainkan aku. Lain YoungHee, lain pula dengan KyuHyun. Pria bertubuh jangkung itu tak pernah absen mengunjungi rumahku dalam beberapa hari sekali. Mmmh, tentu saja ia pun kugunakan sebagai tamengku. Orang akan merasa aneh jika aku tidak memiliki orang yang menjagaku. Kekasih? Mengenaskan. Tapi sebutan itulah yang kini melekat pada kami. Melihat pria itu membuatku merasakan suatu hal yang berbeda. Pria itu tidak tampak seperti pria biasanya. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Aura. Aura pria itu berbeda. Aura yang beda dari biasanya. Pria yang menarik. Bukan menarik untuk dicintai, tapi tentu saja menarik untuk dijelajahi. Bukan dijelajahi dengan maksud dicumbui, tapi untuk…. dibunuh .

Semakin berjalannya waktu, semakin banyak pula gadis-gadis yang ditemukan tewas dalam kondisi yang sama seperti MinJi. Satu? Dua? Tidak. Empat orang gadis telah terbunuh dalam kurun waktu 3 bulan. Hebatnya, sang pembunuh belum juga di temukan. Sungguh jenius. Dan sekarang, korban baru. Seorang pegawai di sebuah mini market. Bersih. Sungguh pembunuhan yang bersih. Kali ini, pada tubuh mayat tidak terdapat benturan benta tajam ataupun tumpul. Benar-benar pembunuhan bersih. Seolah pelaku hanya mengambil kulit sang korban dan meninggalkannya. Belum lagi, tak mengeluarkan darah. Benar-benar sempurna. Menguliti seseorang sampai bagian epidermis dan tidak sampai pada lapisan dermis atau lebih tepatnya, hypodermis, tempat pembuluh darah berada. Pasti lama baginya untuk menguliti seluruh tubuh wanita ini. Bahkan dokter jenius yang sudah melakukan operasi berkali-kali pun butuh waktu yang lama untuk mengulitinya. Jenius. Cerdas. Beribu-ribu pujian ku lontarkan untuk orang ini. Semakin lama aku mengidentifikasi, semakin orang itu menarik perhatianku. Semakin aku banyak belajar darinya. Bagiku orang ini bukanlah psikopat seperti apa yang tersebar di masyarakat. Melainkan seorang seniman jenius yang sangat berbakat…

====================T.B.C===================

Posted on 7 November 2010, in Super Fanfiction and tagged . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada [FF SUJU CONTEST/2S/1] Who will be the next target?.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: