[FF SUJU CONTEST/2S/2-END] Who will be the next target?

Tittle : Who will be the next target?

Author : Anggita Kyuhyunie

Rating : PG 17

Genre : Angst

Part : 2/2

Air Time : Wednesday, 6.30 p.m

Location : South Korea

Main Cast :

Han Chae Rin

Cho KyuHyun

===============================

Intensitas kedatangan KyuHyun semakin lama semakin sering. Ia selalu mengantar-jemputku dan mengajakku makan tanpa lepas mengawasiku. Aku mengerti, ia tampak sangat mengkhawatirkanku. Tapi, aku justru sangat mengkhawatirkan keadaannya. Semakin ia dekat denganku, semakin besar keinginanku untuk membunuhnya. Aroma tubuhnya benar-benar membuatku tergiur. Postur tubuhnya kini telah ideal. Dulu KyuHyun tidak seperti ini. Ia kurus, tanpa otot. Huh~ benar-benar payah. Aku terus mengatakan padanya bahwa ia tidak pantas disebut sebagai seorang pria. Dan akhirnya, selama empat bulan terakhir ia rajin datang ke Gym. Alhasil, seperti sekaranglah KyuHyun. Dadanya sedikit bidang dengan otot tangan yang terbentuk indah di tubuhnya. Melihatnya adalah suatu godaan besar bagiku. Bahkan saat sedang berdua bersamanya, aku tak pernah mendengarkan omongan-omongannya. Aku hanya memperhatikan dia. Memperhatikan segala gerak gerik pria itu sambil memikirkan bagaimana cara memahat makhluk indah di hadapanku itu menjadi sebuah karya seni yang jauh lebih indah dari sebelumnya dan bagaimana caranya membunuh ia tanpa merusak keindahannya walau hanya seujung rambutpun. Tidak. KyuHyun terlalu cerdas untuk ku kelabui. Bahkan aku merasa, ia mencium keterlibatanku dalam kasus hilangnya So Kyo dan juga meninggalnya JongHun, yang tak lain keduanya adalah orang tua angkatku. Tenang, aku punya alibi. Aku punya sejuta alasan untuk melindungi diriku. Orang itu tak akan tau yang sebenarnya terjadi .

Sejak keikut-sertaanku dalam mengidentifikasi para korban, hubunganku dan YoungHee semakin meregang. Aku tak mengerti apa yang terjadi, namun aku mencurigai suatu hal. Ia tampak takut jika berdekatan denganku, seolah ada sesuatu yang akan terbongkar. Mungkinkah? Entah mengapa, kupikir YoungHee terlalu bodoh untuk melakukan hal sulit yang membutuhkan ketelitian dan kejelian mata sang pembunuh. Atau, mungkinkah ia pun memakai topeng yang sama denganku? Tidak. Kupikir tidak. Aku mungkin sombong. Tapi untuk membunuh, lalu menggunakan topeng lain, pasti orang tersebut memiliki masa lalu yang kelam atau‘sakit’. Tapi aku tak melihat itu semua pada YoungHee. Ia sama seperti gadis biasa yang bodoh. Tetapi mungkin saja. Aku harus segera mencari tau. Bahkan kecurigaanku pada YoungHee jauh lebih besar dari pada kecurigaanku pada KyuHyun. KyuHyun? Kenapa KyuHyun? Tentu saja karena ia adalah calon dokter yang sangat jenius. Ia mampu mengingat beratus-ratus sel, cairan, atau apapun yang berbau-bau biologi. Tapi untuk apa? Kulit? Apa makna kulit bagi dirinya? Untuk apa ia membunuhi gadis-gadis dan mengambil kulitnya? Lalu mau disimpan dimana kulit-kulit itu jika memang benar KyuHyun-lah pelaku pembunuhan berantai itu? Aku sudah berpuluh-puluh kali berkunjung ke rumah KyuHyun. Aku tak pernah melewatkan setiap sudut ruangan. Dan tak ada barang-barang yang serupa dengan kulit manusia. Sekalipun sudah di olah pun, tetap saja aku akan dapat mengenalinya. Sedangkan YoungHee, aku tak pernah berkunjung ke rumahnya. Dia dan MinJi memang selalu menempel padaku, tapi kami tak pernah bermain ke rumah satu dengan yang lain. Semakin mencurigakan. Semakin menarik. Aku belum pernah menemukan hal semenarik ini selama 22 tahun hidupku. Ini adalah sebuah tantangan bagiku. Baru pertama kali, ada suatu kasus yang menarik perhatianku dan seolah mengurungku di dalamnya, namun aku tak merasa terkekang. Kasus ini. kasus yang tak pernah di temui di Seoul, namun kutemukan di Busan.

=================

Kecurigaanku pada YoungHee semakin besar. Terlebih lagi saat suatu pagi, ia mengajakku jalan-jalan di pantai untuk sekedar mencari angin. Untuk apa? Sungguh aneh. Dia pikir aku mungkin adalah gadis baik-baik yang polos dan bodoh. Aku tau semua rencananya. Membunuhku agar bisa mendapatkan Cho KyuHyun. Wah! Sepertinya aku sudah membocorkan dugaanku. Memang selama ini aku sudah mendapat bukti-bukti yang cukup jelas akan keterlibatannya dalam pembunuhan yang terjadi pada MinJi. Kala itu, orang-orang rumah MinJi mengatakan bahwa sebelum hilangnya jejak MinJi, ia keluar sejenak dengan YoungHee. Kemana? Ke pantai. Aku menemukan bubuk atau benda kecil seperti debu berkilau yang berwarna kemerahan di dekat lokasi kejadian. Bubuk itu merupakan glitter yang ada pada tas pinggang YoungHee yang berwarna keputihan. Sayangnya YoungHee tak pernah memakai tas itu lagi semenjak sebelum di temukannya mayat MinJi yang sudah membusuk. Kenapa? Dugaanku, mungkin saja karena tas berwarna putih itu sudah terkena cipratan darah dan ia harus menguburnya untuk menghilangkan bau amis. Gerak-gerik YoungHee yang mencurigakan pun terlihat sangat jelas. Tampaknya ia tak bisa menutup-nutupi perbuatannya. Ia selalu menghindar. Ia tak memiliki topeng untuk menutupi perbuatannya .

Kembali pada pertemuanku dengan YoungHee di pantai, lebih tepatnya di pinggir-pinggir karang yang terletak sangat jauh dari keramaian. YoungHee mengajakku bercerita panjang lebar, yang sebenarnya aku tidak tau apa yang diceritakannya. Aku pun berusaha mengorek semua informasi yang aku inginkan. Sebenarnya, tujuan utamaku bukanlah untuk mendapatkan sang pelaku, tapi untuk mengetahui bagaimana ia melancarkan aksi jeniusnya itu. Semakin aku mengorek semua informasi dari gadis bodoh ini, semakin ia menunjukkan maksudnya. Bahkan ia mengatakan bahwa ia sangat membenci MinJi dan bahagia dengan kejadian yang menimpa MinJi. Aku menghentikan jalanku dan YoungHee pun ikut berhenti. Aku tersenyum tipis padanya dan mulai membongkar seluruh aksi pembunuhan yang dilakukannya. Berikut menjelaskan alasan, waktu, tempat, dan cara membunuhnya.Roman wajah YoungHee yang awalnya tanpa ekspresi berubah menjadi pucat pasi, seolah aku telah menelanjangi tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Ia menatapku dengan tatapan penuh kebencian dan kedengkian. Ia tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas-nya dan langsung menikamku ………….YoungHee langsung jatuh ke bebatuan hitam di pinggir laut ini. Ia tersungkur sambil memegangi perutnya yang terluka akibat tusukan cutter milikku. Ya, aku tak sebodoh dan selambat yang ia kira. Sebelum ia menikamku menggunakan pisau yang telah ia siapkan sebelumnya, aku terlebih dulu melukai sisi kiri perutnya. Ia masih merintih. Pisau tajam yang di pegangnya terjatuh tepat berada di bawahku. Aku mengambilnya. Aku berterima kasih padanya karena telah menajamkan mata pisau ini. Inilah saatnya. Melakukan uji coba menguliti manusia. YoungHee yang masih hidup terbaring di atas bebatuan, melihat ke arahku. Ia melihatku dengan tatapan penuh kengerian. Terlebih saat aku mulai menjongkokkan tubuhku dan menyayat kulit wajahnya. Ia merintih. Ingin berteriak, namun tak sanggup untuk berteriak. Ingin memohon, namun tau bahwa permohonannya tak akan pernah ku kabulkan. Berkali-kali ia ucapkan kata-kata yang menyuruhku untuk membunuhnya terlebih dahulu sebelum mengullitinya. Tapi apa asiknya jika menguliti orang yang sudah mati? Haha.. sama saja dengan menguliti bangkai ternak yang baru saja di bunuh dan harus dikuliti untuk mendapatkan dagingnya. Aku ingin mendengarkan rintihan pilunya. Rintihan penuh kesakitan yang membuatku semakin puas. Perlahan kurobek kulit wajahnya. Mencoba agar tidak mengenai bagian hypodermisnya.Aku ingin sempurna. Sempurna tanpa darah..YoungHee terus merintih kesakitan. Rintihannya membuat kepalanya penuh dengan gerakan-gerakan. Aku pun beralih pada tangan kecilnya. Setidaknya, ini akan menjadi lebih mudah karena tangan memiliki lapisan kulit lebih tebal daripada wajah. Tapi gadis bodoh ini terus saja bergerak. Gerakan-gerakannya yang mengganggu membuatku terpaksa harus membunuhnya. Dengan menikamkan pisau yang ku pegang pada lehernya. Seolah membagi dua antara kepala dan tubuh. YoungHee mati dan kini aku bisa belajar menguliti. Perlahan demi perlahan. Penuh dengan kehati-hatian….CROOT..!!Tangannya mengeluarkan darah segar. Yaaah~ aku gagal. Pisau ini terlalu kasar dan besar untuk tidak melukai bagian hypodermisnya. Namun aku terus mencoba. Menguliti seluruh bagian tubuhnya sampai tak memiliki kulit sedikitpun. Tapi pada akhirnya, aku tetap melukai hypodermisnya pada beberapa bagian. Tubuhnya tidak mulus terkuliti. Walaupun aku sudah memakan waktu lebih dari 7 jam untuk mengulitinya, tetap saja aku tidak bisa melakukannya dengan sempurna. Pembunuh itu benar-benar hebat .

Kulihat tubuh YoungHee yang kini terlihat seperti bongkahan daging besar yang siap untuk di makan. Aku pergi meninggalkan mayatnya menuju ke sebuah toko yang jauh dari tempat ku membunuhnya. Dalam rangka apa? Membeli beberapa plastik dan juga sebuah tas jinjing yang besar. Aku pun kembali dan masih melihat jasadnya. Tentu saja. Tempat ini jauh dari pemukiman dan kecil kemungkinan orang akan kemari karena di tempat ini ombaknya sangat tinggi. Aku menyayat daging-daging pada tubuh YoungHee. Tangan, paha, dada, kaki, dan bagian-bagian yang menurutku tidak terlalu keras. Kepala, tulang, dan isi perutnya ku buang ke laut. Lumayan, dengan begini, aku bisa memberi makan hewan-hewan laut yang kelaparan. Daging-daging segar itu kuikat dalam kantung plastik dan kumasukkan dalam tas jinjing .

Malam ini KyuHyun akan datang berkunjung untuk makan malam. Aku sudah menyiapkan beberapa makanan enak. Makanan-makanan Italy yang kubuat sendiri. Steak, lasagna, foie gras dan makanan-makanan lain yang menggunakan bahan dasar berupa daging. Harum masakanku tidak ada bedanya dengan harum masakan di hotel berbintang lima di Italy. KyuHyun pun datang dan menyantap makanan. Pujian-pujian terus ia lontarkan pada masakanku. Memang, makanan-makanan ini terasa begitu enak. Walau dagingnya sedikit keras, namun gurih dan menggoda. Jauh lebih lembut dari daging kambing, jauh lebih enak dari daging sapi, jauh lebih gurih dari daging babi. Ya, ini daging manusia. Daging YoungHee yang ku ambil dari mayat YoungHee yang kubunuh siang tadi.Tampaknya KyuHyun tak menyadarinya. Ia makan dengan lahapnya tanpa bertanya daging apa itu. Bahkan ia meminta untuk tambah makanan berkali-kali, tentu saja karena makanan Italy itu porsinya sangat sedikit dan tidak mengenyangkan baginya. Aku hanya makan sedikit bagian. Senyuman terlukis di wajahku saat melihatnya makan makanan yang kubuat dengan susah payah. Bukan karena aku senang dia memakannya. Tapi karena aku membayangkan, bagaimana rasa daging pria yang ada di hadapanku ini. Walaupun tubuhnya kurus, namun ia lumayan berotot. Aku biasa melihat tubuhnya tanpa sehelai benangpun dan memang terlihat cukup berotot. Pasti enak. Pasti jauh lebih enak di bandingkan dengan daging YoungHee yang ku tau persis bahwa ia tak pernah berolahraga. Daging KyuHyun pasti lebih enak, lebih menyehatkan, dan lebih menggiurkan. Aku sudah tidak sabar ingin membunuh pria di hadapanku. Pria ini benar-benar memiliki aura yang sangat menggoda bagiku .

=================

Setelah menghilangnya YoungHee, sudah tidak terdengar kabar pembunuhan berantai yang pelakunya mengambil kulit si korban. Akupun mengatakan bahwa YoungHee lah yang telah membunuh MinJi. Semua sudah terbongkar. Busan sudah mulai tenang dan masyarakatpun merasa aman. Mereka merasa tak ada ancaman lagi. Tapi aku tidak yakin. Setitik kekecewaan muncul di benakku. Ternyata aku tidak di khawatirkan. Apa mereka tidak menyadari semua perbuatanku? Sudahlah. Ini artinya aku harus kembali hidup bagai parasit. Kuliah sebagai mahasiswi kedokteran di salah satu universitas swasta di Busan. Tanpa teman. Yang ada hanyalah KyuHyun yang dianggap sebagai kekasihku. Menjijikkan. Tapi hanya dialah tamengku yang tersisa. Tanpa pria itu, mungkin aku akan segera di curigai. Meskipun aku di sekolahkan di jurusan kedokteran, tak sekalipun aku menginginkan pekerjaan sebagai dokter. Aku sekolah hanya untuk menambah semua pengetahuanku tentang manusia. Yah, aku tau akan kugunakan sebagai apa pengetahuanku itu. Untuk membunuh? Tentu saja. Aku sangat menyukainya. Aku sangat menikmatinya. Apalagi, aku masih belum bisa menemukan bagaimana cara membunuh KyuHyun dan menjadikannya karya seni yang paling indah .

Berbicara tentang KyuHyun, aku merasakan bahwa ia semakin menyadari semua permainanku. Suatu malam, setelah kami bercumbu, aku pernah mendapatinya tengah menelusuri setiap bagian rumahku. Mungkin ia mengira bahwa aku sudah tidur. Dia tampak sedang mencari sesuatu. Mencuri? Kupikir tidak. Aku tidak pernah merasa kehilangan satu pun barang-barang yang ada di rumahku. Dan kejadian itu tidak hanya sekali. Sudah tiga kali aku melihatnya tampak seperti mencari sesuatu. Jika ia memang ingin mencuri, bukankah dengan mudahnya ia dapat mengambil kotak perhiasan yang kusimpan di meja samping tempat tidur? Tak mungkin ia tidak menyadari adanya kotak perhiasan itu. Ia dapat dengan mudahnya mengambil kotak itu karena aku selalu menaruhnya di tempat yang sama walaupun kami tengah bercinta di tempat tidur yang letaknya bersebelahan dengan meja itu. Jadi bukan hal yang mungkin jika ia ingin mencuri. Ia tampak sedang mencari sebuah pertanda. Pertanda apa? Apa ia mulai menyadari bahwa akulah yang membunuh kedua orang tuaku dengan tanganku sendiri? Tampaknya begitu. Ah~ laki-laki ini ternyata memang pintar. Ia sudah tau terlalu banyak tentangku. Apakah sudah saatnya aku membongkar semuanya? Perbuatanku, dan juga … perbuatannya??

=================

Seperti malam-malam sebelumnya, KyuHyun kembali membongkar rumahku. Kini ia menjelajahi ruang tidur mendiang orang tua angkatku yang berada di lantai dua. Aku hanya berdiri di pintu kamar dengan berbalutkan kain tidur melihat KyuHyun yang masih tampak mencari sesuatu. Ia tampak belum menyadari kehadiranku karena ia masih memunggungiku. Aku hanya memperhatikannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, hingga akhirnya ia menyadari kehadiranku dan langsung berdiri, lalu tersenyum padaku. Senyuman seperti biasa yang ia berikan padaku. Senyuman penuh kepalsuan. Akupun membalas senyumannya. Senyuman yang biasa pula ku berikan padanya. Senyuman-senyuman palsu. KyuHyun tampak menyadari bahwa aku membawa sebilah pisau yang tajam pada tangan kananku. Tak kusangka, ia pun sudah membawanya. Tak hanya pisau biasa yang ia bawa, namun juga sebuah pisau operasi yang biasa ia gunakan untuk membedah .

KyuHyun? Membawa semua itu? Hmm.. aku tidak heran. Aku sudah menyadarinya sejak lama. Bahkan aku sudah menyadari bahwa akulah mangsanya yang selanjutnya. Ya, pelaku pembunuhan berantai itu bukanlah YoungHee. Memang benar apa yang kukatakan dahulu bahwa YoungHee lah yang membunuh MinJi. Tapi itu semata-mata hanya karena kecemburuan pada temannya. Bukan YoungHee yang membunuh gadis-gadis lainnya. Bahkan akupun tau, bukan YoungHee yang menguliti tubuh MinJi. KyuHyun lah yang melakukannya. Dari awal, dari di temukannya mayat MinJi yang tanpa kulit. YoungHee memang terlihat pucat pasi, namun wajahnya lebih menunjukkan sebuah kengerian yang amat sangat. Tentu saja karena ia hanya menikam perut MinJi, namun beberapa hari kemudian mayat MinJi di temukan tanpa kulit. YoungHee selalu berkata padaku bahwa ia takut kalau suatu waktu ia pun akan di jadikan seperti itu. Kenapa? Karena kemungkinan besar pelaku yang menguliti tubuh MinJi mengetahui bahwa YoungHee lah yang membunuh MinJi. Itu berarti nyawa YoungHee pun dalam bahaya. Tapi sayangnya, dari semua korban yang ada, sang pelaku hanya mengincar gadis-gadis yang memiliki kulit putih bersih yang halus dan YoungHee tidak memilikinya. Tapi, YoungHee terlalu bodoh untuk menyadari hal itu. Begitu pula dengan alat yang digunakan. Hal yang mustahil jika YoungHee yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Terutama saat ia mencoba untuk membunuhku di tepi pantai itu. YoungHee hanya bersenjatakan sebilah pisau biasa. Pisau itu tidak mungkin bisa menguliti manusia dengan sempurna tanpa darah seperti korban-korban itu. Hanya pisau bedah seorang ahli bedah lah yang bisa melakukan hal itu. Ahli bedah yang berasal dari kedokteran. Ahli bedah yang jenius. Dan yang paling memungkinkan untuk semua itu adalah… Cho KyuHyun .

Aku mengungkapkan semua hal yang kuketahui itu pada KyuHyun. Ia tersenyum tipis sambil menepukkan tangannya.”Good ! BRAVO ~ !!” katanya. Aku membalasnya dengan senyuman. Kali ini senyuman sungguhan yang tidak tertutupi kepalsuan semata. KyuHyun mendekatiku dan aku membiarkannya. Aku ingin mengetahui apa yang ia lakukan sebelum membunuh para korbannya. Ia membelai lembut wajahku dan terus memuji keindahan kulitku yang putih pucat. Warna kulit yang jarang dimiliki oleh orang-orang Korea yang kebanyakan memiliki kulit berwarna kuning atau kulit putih merona. Kyuhyun mencium lembut bibirku, kemudian tangan kirinya terus-terusan membelai pipi dan pinngiran bibirku .Aku mengangkat tangan kiriku di depan wajahnya. Ku sayat kulit pergelangan tanganku. Tampak raut wajah kecewa dan marah pada wajah KyuHyun saat tanganku mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang di sebut dengan darah. Ia menatap mataku dengan tatapan marah. Aku dapat merasakan hembusan hangat nafas yang keluar dari hidungnya. Ia menikam bahu kiriku dengan pisau lalu menarik keluar pisau itu. Aku sedikit meringis dan kemudian menendang tubuhnya sampai menjauh dariku. KyuHyun tampak marah besar. Aku mengerti. Ia ingin kulitku yang dikuliti dengan sempurna, tanpa mengeluarkan sepercik darahpun. Aku mencari posisi yang memungkinkanku untuk memenangkan ini semua. KyuHyun kembali mendekatiku penuh dengan amarah. Sial, aku terpojok. Aku sudah berada di beranda kamar mendiang kedua orang tua angkatku. Hanya ada dua pilihan. Mati dengan menjatuhkan diri kebawah atau mati di tangan pria yang ada di hadapanku. Tidak. Aku tak memilih keduanya. Aku mau.. membunuh Cho KyuHyun .

KyuHyun mendekat ke arahku dan mengayunkan tangannya untuk menikamku sekali lagi. Tidak bisa. Aku menghindar. Aku tersenyum tipis padanya. Kenapa? Karena kini dialah yang terpojok. Aku tidak bisa mendekatinya. Mendekatinya berarti mati. Aku mengambil nafas panjang lalu menghelanya sambil melemparkan sebilah pisau yang ku pegang padanya. JLEB! Kena! KyuHyun mengerang. Pisau itu mengenai ulu hatinya. Tapi tidak dalam dan bisa saja dengan cepat ia melepaskannya. Aku langsung mengangkat kakiku dan menendang pisau itu untuk lebih masuk .BRUK! Sanggahan kayu di beranda mulai tak mampu menopang tenaga-tenaga yang kukerahkan. KyuHyun sempat melukai kaki kananku saat aku menendangnya. Tapi jika aku tidak melakukannya sekali lagi, ia tak akan mati. Akhirnya aku menendangnya dan ia pun terjatuh ke halaman bawah. Aku langsung terduduk melihat luka besar yang menganga di kakiku. Aku dapat melihat daging-dagingku yang berwarna merah karena sudah di baluri oleh darah. Tapi rasa sakit di kakiku tertutup oleh kesenanganku akan melihat darah. Aku mencoba untuk berdiri dan melihat ke halaman rumahku tempat KyuHyun terjatuh. Ia masih merintih. Ia masih hidup??! Aku menguatkan kakiku untuk ke bawah menemuinya. Ia merintih, tapi ia tampak setengah sadar. Aku mencabut pisau yang tadi kutancapkan. Kini aku akan menusuk bagian jantungnya. Tapi tidak, kasihan dia. Lebih baik perutnya saja. Aku menekan pisau itu sekuat tenaga, sampai KyuHyun mulai berhenti merintih.

“Kau memang jenius, tapi aku jauh lebih jenius dari pada kau~”Hahaha, Cho KyuHyun yang malang, saranghaeyo ..

…Itulah pertemuan terakhirku dengan pria bernama Cho KyuHyun itu. Sebenarnya, aku merasakan kekecewaan yang amat sangat. Kenapa? Karena aku belum mengetahui apa motifnya –baik alasan ia membunuh dan mengambil kulit para gadis ataupun untuk apa ia membongkar rumahku-, bagaimana ia bisa melakukan pembunuhan-pembunuhan yang sempurna itu. Tapi ada satu kekecewaan yang amat sangat, melebihi kekecewaanku karena tidak bisa belajar darinya. Impianku. Impianku untuk membunuhnya dengan indah. Impianku untuk membunuhnya dengan cara yang lebih berseni. Aku merasa kecewa pada diriku sendiri karena aku justru merusaknya. Caraku membunuhnya tak lebih dari cara orang membunuh pada film-film laga yang memuakkan. Yaaah~ mungkin memang harus begitu. Perasaan kecewa ini membuatku tidak ingin berhenti dari kehidupanku yang kelam ini. Aku belum puas. Belum puas sampai aku membuat sebuah karya seni. Ditambah dengan peninggalan orang tua angkatku yang semakin menipis.Sebulan kemudian, aku meninggalkan Busan dan menuju Mokpo. Mencari inang-inang baru untuk ku jadikan mangsa selanjutnya. Melakukan sandiwara seperti biasanya. Kehidupan seperti parasit yang akan meninggalkan inangnya ketika sudah tidak mendapatkan nutrisi-nutrisi yang menguntungkan .And now, who will be the next target?

===============E.N.D=============

Posted on 7 November 2010, in Super Fanfiction and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. .__. keren banget,
    speechless sumpah .__.

  2. gila ni ff. . .bkn deg2an. .keringet dingin. . .
    Salut d buat authorny bs buat ff kyk gini. . .bikin penasaran abis, critany jg mendetail. . .psycho bngt d pokokny. . .
    4 thumbs for the author. . .

  3. Gila . ,
    gmn bisa kalimat2 sadis itu bsa d susun sdemikian apik.na jd ff yg ngeri . Hehe . ,

    neomu nappeun saramdeul . ,
    tp kug ga ada prckapan.na ea ?

    Ga nyangka kyu bsa ky gtu . Awal.na Q pkir kyu xg bkal ngembali’in idup si cew nama.na cpha td , Q lupa . Pkok.na kyu yg buat cew itu jd bnr . Mghlangkan smua kbencian d hti cew itu .
    Trnyt salah . Hehe

    daebak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: