[FF/1S]Please Forgive Me Because I Don’t Know How To Loving You

Title: Please Forgive Me, Because I Don’t Know How to Loving You

Chapter: 1/1

Length:  3211 words

Genre: Romance

Rating: PG-15/Straight

Author: Sannia Kim

Casts:

<3  Lee Jinki

❤ Song Seunghee

And other support casts ^^

Jinki melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia mendengus kesal dan kemudian memacu sepeda motornya untuk melaju lebih kencang. Harapannya hanya satu. Semoga gadis yang saat ini sedang menunggunya tidak marah.

Jinki menghentikan motornya di sebuah taman, dan kemudian bergegas turun dan membuka helmnya. Kembali dia melirik jam tangannya dan menghela napas panjang. Kemudian dihampirinya gadis manis berambut sebahu yang tengah duduk di bangku taman.

“Jagi~” panggilnya perlahan, yang membuat gadis itu menoleh padanya.

“Oppa, akhirnya kau datang juga.” Katanya datar. Jinki menghembuskan napas panjang, ternyata gadis itu memang marah.

“Seunghee-ah, jagi, maafkan oppa ya. Aku harus mengerjakan tugasku tadi.” Jinki duudk di sebelah Seunghee dan mencoba membujuknya.

“3 jam,oppa. Aku menunggumu selama 3 jam. Kenapa oppa tidak meneleponku dan membatalkan janji kita saja?”

“Ara, ara, aku tahu aku salah. Aku lupa kalau hari ini kita ada janji. Aku benar-benar lupa. Chongsuhamnidah, jagi. Jeongmal.” Seunghee langsung berdiri dan menatap Jinki dengan tatapan marah.

“Oppa, kau lupa hari ini kita ada janji? Kau juga lupa ini hari apa?” suara Seunghee bergetar menahan amarahnya.

“Wae? Seunghee, Jagi, cintaku, aku benar-benar minta maaf. Tapi kau bisa mengerti kesibukanku kan? Tugas kuliahku menumpuk, aku harus menyelesaikannya hari ini juga. Aku benar-benar lupa.”

“Oppa…kau..kau..kau jahat.” Desis Seunghee perlahan, dia segera berlari meninggalkan Jinki yang hanya bisa diam terpaku.

~Jinki POV~

Ah, selalu begini akhirnya. Tiap bertemu kami selalu bertengkar, padahal kami jarang bertemu. Seunghee sibuk dengan kuliahnya, begitu pun denganku. Meski kami satu kampus dan satu angkatan, kami berbeda jurusan. Seunghee mengambil kuliah di jurusan informatika, sedangkan aku arsitektur. Sehari-hari kami sibuk dengan urusan kuliah kami, sehingga sangat jarang bertemu. Tapi tiap bertemu selalu begini akhirnya. Bertengkar, bertengkar, dan bertengkar.

Padahal kami sudah lama menjalin hubungan, sudah lima tahun..hey, tunggu, ini tanggal berapa? Aigoo, ini kan tanggal 25 Agustus. Pantas saja Seunghee sangat marah. Aish, pabbo-ah, kenapa aku bisa lupa? Ah, lebih baik kukejar saja dia, dan minta maaf padanya. Semoga belum terlambat.

Aku segera beranjak dari bangku taman yang kududuki, dan berlari mengejar Seunghee yang saat ini akan menyeberang jalan. Tapi, tunggu, kulihat sebuah BMW meluncur cepat menuju badan Seunghee. Kupercepat lariku, berharap masih sempat menyelamatkannya. Tapi sudah terlambat. BMW itu meluncur mulus menabrak tubuh seunghee. Seketika tubuh seunghee terpental.

“Seunghee!!!!!!!!!” teriakku putus asa.

**********************************

Kuusap kasar air mata yang mengalir pelan di pipiku. Song Seunghee, gadis yang sangat kucintai, pergi untuk selama-lamanya. Menyisakan luka yang begitu dalam dan perih di dalam tubuhku. Dia memang telah pergi. Benar-benar pergi untuk selamanya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat dia dimakamkan. Kuambil kotak yang tergeletak di mejaku. Kotak ini, kotak yang waktu itu dipegang Seunghee. Terlihat bekas darah Seunghee di permukaannya. Hingga detik terakhir hidupnya pun Seunghee memegang erat kotak itu. Kubuka tutupnya. Tampak sebuah mp3 player di dalamnya. Dan juga sebuah surat. Kuambil surat itu.

Jinki Oppa, Happy 5th anniversary^^

Meski kita jarang bertemu, tapi aku akan tetap mencintai oppa.

Tetap semangat ya, oppa. Semoga tahun depan kita bisa merayakan hari jadi kita yg ke 6^^

With Love,

Song Seunghee

p.s: jagalah kesehatanmu, oppa. Jangan telat makan, dan tidur yang teratur. Love you always J

Tubuhku bergetar, dadaku terasa sesak, tangisku tak bisa kutahan. Aku sangat mencintainya. Aku mencintainya lebih dari apapun di dunia ini, Tuhan, aku rela menggantikan dia pergi, asal kami bisa bersama lagi, meski hanya sebentar. Aku mau menebus semua waktu yang telah kusia-siakan. Tuhan, aku sangat mencintainya. Seungheeku, chongsuhamnidah, jeongmal chongsuhamnidah.

**************************************

Aku mengerjapkan mataku perlahan. Ah, rupanya aku tertidur di mejaku semalam. Sekarang sudah pagi. Kukerjapkan mataku sekali lagi, tapi..hei, kemana kado dari Seunghee? Kenapa mejaku jadi penuh dengan kertas begini. Aku mulai bangun dan mencari kado itu. Tapi aku tidak bisa menemukannya meski kamarku sudah kuacak-acak. Tiba-tiba ponselku berdering, tanda pesan masuk. Kuraih ponselku dengan gusar.

From: Kibum

Bro, bagaimana bagianmu? Sudah beres kan? Jangan lupa ke rumahku. Kita selesaikan bersama, ok? Aku tunggu kau di rumahku.

Aku seperti mengalami de ja vu. Rasanya kemarin key mengirim pesan ini. Dan juga, tugas kami kan sudah kami kumpulkan. Tiba-tiba mataku terbelalak menatap layar ponselku. Tanggal di ponselku. 25 Agustus. Mwo? Benarkah ini tanggal 25 Agustus? Kalau begitu…kalau begitu…Seunghee..Seunghee.. Segera kutekan nomor yang sudah sangat kuhapal. Jantungku berdetak keras menanti seseorang mengangkat teleponku.

“Yoboseyo.” Terdengar suara yang sudah sangat kukenal mengangkat teleponku. Badanku seketika menggigil hebat. Benarkah ini? Benarkah aku kembali ke masa lalu? Benarkah Tuhan memberiku kesempatan kedua?

“Jinki oppa.” Suara itu kembali memanggil namaku. Ah, suaranya terdengar sangat merdu di telingaku.

“Seunghee?” ragu-ragu kusebutkan nama itu.

“Ne oppa, waegure?” oh Tuhan, benar. Itu suaranya. Dia..dia…dia….

“Aniyo. Aku hanya rindu padamu. Jeongmal bogoshipoyo.” Terdengar tawanya berderai-derai. Ah, aku sangat merindukan tawanya itu..

“Nado, oppa. Jangan lupa janji kita ya.”

“Pasti. Tidak akan ada yang menghalangi kencan kita kali ini.” Terdengar dia tertawa lagi. Oh Tuhan, biarkan aku mendengar suara tawanya hingga sepuluh tahun lagi, tidak, 20 tahun, ani, ani, aku ingin mendengarnya sampai aku tua nanti, sampai kami memiliki cucu. Aish, kenapa pikiranku jadi aneh begini sih.

“Ya sudah oppa, sampai bertemu nanti ya.” Seunghee menutup pembicaraan kami.

“Ah, Seunghee-ah, chakaman.”

“Wae oppa?”

“Nae Seunghee, neomu saranghae.” Bisikku perlahan. Seketika hening menyergap kami berdua. Dia pasti heran, ini bukan aku yang biasanya. Yah, kalau mau jujur aku memang bukan tipe laki-laki yang romantis.

“Ah, oppa, kau aneh sekali hari ini. Nado saranghae oppa.” Pembicaraan kami pun terhenti. Seungheeku, cintaku, maafkan aku yang selama ini tidak bisa mencintaimu dengan baik. Maafkan aku yang selalu menyia-nyiakan waktu kita. Tapi aku berjanji, aku janji tidak akan melakukannya lagi.

**********************************

Kuhentikan motorku di taman tempat kami berjanji untuk saling bertemu. Aku menghela napas panjang saat menatap jalan di depan taman. Di jalan itu, nanti, Seunghee akan…. ah, buru-buru kutepiskan pikiran buruk itu. Kulirik jam tanganku, masih 3 jam sebelum kejadian itu akan terjadi. 3 jam terakhirku bersama Seunghee. Kuhampiri Seunghee yang tengah menungguku.

“Jagi, sudah lama menunggu?” seketika dia menoleh ke arahku, wajahnya terlihat sangat cerah. Ah, betapa cantiknya dia hari ini.

“Ah, oppa, akhirnya datang juga.” Katanya sambil tersenyum.

“Kkaja.” Kataku sambil menarik tangannya lembut.

“Oppa, kita mau ke mana?” tanyanya heran.

“Ikutlah, dan kau akan tahu.”

****************************************

Aku menghentikan motorku di sebuah kaki gunung. Di sana ada sebuah padang rumput yang indah. Dan kalau sedang musim panas begini, padang rumput itu penuh dengan bunga matahari. Di tempat ini, 5 tahun lalu, saat kami masih sama-sama murid kelas 1 SMA, aku menyatakan perasaanku pada Seunghee.

~flashback~

“Jinki-ah, kenapa kita kemari? Tidak biasanya kau mengajakku pergi jauh seperti ini.” Seunghee menatapku heran.

“Sudahlah, ada yang mau aku tunjukkan padamu. Kkaja.” Aku menggandeng tangannya dengan lembut ke padang rumput itu. Aish, hatiku kenapa jadi tidak karuan begini sih? Akhirnya kami sampai di padang rumput, yang saat itu penuh dengan bunga matahari.

“Ommo, jinki-ah, ini..indah sekali.” Desisnya perlahan. Aku tersenyum mendengarnya. Yah, tempat ini memang sangat indah. Dan aku sangat ingin menunjukkannya pada gadis manis yang telah merebut hatiku ini. Sejenak kami terdiam. Seunghee sibuk mengagumi padang rumput ini, sedangkan aku tengah bingung bagaimana memulai pembicaraanku dengannya tentang perasaanku. Jantungku seperti ingin melompat keluar saja rasanya.

“Seunghee-ah, kau suka?” terbata-bata aku mencoba memulai pembicaraan dengannya. Aigoo, kenapa lidahku susah sekali kugerakkan?

“Ne, aku sangat suka. Indah sekali.” Jawabnya riang.

“Aku tahu kau pasti akan sangat menyukainya. Karena itu aku mengajakmu kemari.” Seunghee hanya mengangguk mendengar kata-kataku. Kami kembali terdiam. Aduh, bagaimana ini? Aku seperti kehilangan kata-kataku. Otakku kosong. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aish, kenapa aku jadi bodoh mendadak begini sih?

“Jinki-ah, kenapa kau diam saja? Tidak seperti kau yang biasanya.” Suara Seunghee segera membuyarkan lamunanku. Kalau sudah begini tidak ada jalan lain. Aku harus nekat mengatakannya.

“Ah, itu, aku…aku….aku hanya mengagumi keindahan bunga-bunga ini saja.”

“Ah, arasseo.”

“Ehm….Seunghee-ah, menurutku kau itu mirip sekali dengan bunga matahari.” Susah payah kugerakkan lidahku yang kelu. Pabbo-ah, kenapa jadi melenceng begini pembicaraannya?

“Jinja? Memang bagian mana yang mirip?” tanyanya dengan mata berbinar. Jantungku seakan mau meledak melihat wajahnya.

“Ehm, itu, senyummu cerah, seperti bunga matahari. Keceriaanmu, tawamu, dan candaanmu, entah kenapa mirip sekali menurutku.” Setelah selesai mengatakan kata-kata itu aku tertunduk malu. Wajahku terasa panas sekali. Jantungku juga berdebar keras sekali. Aish, kalau sekeras ini debarannya aku takut Seunghee bisa mendengarnya.

“Jinki-ah, kau tahu apa arti bunga matahari?” mwo? Kenapa dia malah mengalihkan pembicaraan? Aku memberanikan diri menatapnya yang sedang menerawang jauh menatap bunga-bunga matahari yang bergoyang ditiup angin.

“Artinya, aku selalu memperhatikanmu.” Katanya sambil menoleh ke arahku dan tersenyum dengan sangat manis. Jantungku serasa mau berhenti menatap wajahnya yang seperti itu.

“Ne, seperti aku yang selalu memperhatikanmu.” Mwo? Suara siapa itu? Apa itu suaraku? Aish, kenapa sekarang lidahku tiba-tiba bisa bergerak dengan sendirinya.

“Tentu. Kita ini kan teman.” Sahutnya riang.

“Aniyo. Bukan sebagai teman. Tapi sebagai seorang laki-laki.” Aku menghela napas sejenak, berusaha mengumpulkan keberanianku.

“Song Seunghee, aku selalu memperhatikanmu. Dan aku sangat menikmati saat-saat aku memperhatikanmu. Itu karena aku…aku…aku…aku menyukaimu… aku sangat menyukaimu. Aku suka sekali melihatmu yang begitu ceria, aku suka semua tentangmu. Dan yang paling kusuka adalah senyummu. Aku sangat suka melihatmu tersenyum. Seperti bunga matahari yang tersenyum ceria menyambut musim panas. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini.” Aku menunduk, menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian lagi untuk mengucapkan satu kata terakhir yang sangat penting.

“Saranghaeyo.” Mwo? Apa aku tidak salah dengar. Aku memang mengucapkan kata-kata itu. Tapi sepertinya ada orang lain yang mengucapkannya bersamaan denganku. Apa itu Seunghee? Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya yang sedang tersenyum. Ah, jadi dia yang mengucapkannya bersamaan denganku? Jadi dia juga….

~end of flashback~

“Oppa, jadi kita ke sini?” Seunghee turun dari motorku dan berlari ke tepi padang bunga itu. Aku tersenyum dan mengikutinya.

“Ne, kau masih ingat tempat ini?”

“Tentu. Sudah lama sekali ya kita tidak ke sini. Tidak banyak yang berubah.” Matanya memandang padang bunga itu, sementara bibirnya melengkung indah, membentuk senyum lebar di wajahnya. Aku semakin merasa bersalah. Sudah 5 tahun kami tidak kemari. Padahal ini seharusnya menjadi tempat yang sering kami kunjungi.

“Oppa, kkaja.” Aku tersentak saat tangan Seunghee menggandeng tanganku dan menarikku lembut mengikuti langkahnya.

“Eh, kita mau apa?” tanyaku heran.

“Mwo? Tentu saja ke tengah padang bunga itu. Memang kita ke sini mau apa?” dia berhenti dan menatapku heran.

“Ah, tentu. Kkaja.” Kutarik tangannya dengan lembut mengikuti langkahku. Kami berjalan bergandengan menuju tengah padang bunga. Kugenggam erat tangannya yang jauh lebih kecil dibanding dengan tanganku. Jantungku rasanya mau melompat keluar saat kupererat genggaman tanganku.

“Oppa, berhenti dulu. Tetap berdiri di situ ya.” Seunghee tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berjalan mundur. Aku hanya menatapnya heran. Apa ya yang mau dia lakukan? Setelah berjalan mundur beberapa langkah, dan kemudian menatapku lekat, bibirnya kembali melengkungkan senyuman yang indah. Tangannya merogoh saku mantelnya dan mengambil ponselnya. Pahamlah aku, dia mau mengambil fotoku.

“Oppa, tersenyumlah.” Katanya kemudian. Aku mencoba tersenyum.

“Yah, oppa, jangan begitu. Senyummu kaku sekali.” Katanya sambil menggembungkan pipinya. Ah, kelihatan lucu sekali. Aku jadi tertawa melihatnya. Saat melihatku yang tertawa, Seunghee langsung mengarahkan kameranya dan memotretku.

“Nah, begini baru bagus. Kau kelihatan tampan.” Katanya riang. Aku tersenyum dan menghampirinya, kemudian segera kuambil ponselnya yang sedang digenggamnya.

“Yah oppa, mau apa? Jangan dihapus fotonya.” Katanya setengah merajuk.

“Siapa yang mau menghapus fotonya?” kataku sambil tersenyum kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke arah kami berdua.

“Ayo, kita foto berdua.” Kataku singkat.

“Mwo? Apa oppa serius?” tanyanya heran.

“Tentu saja. Kkaja.” Kemudian kami berfoto berdua beberapa kali.

“Oppa, lihat, hasilnya bagus-bagus.” Katanya riang sambil melihat hasil foto kami. Aku menatapnya sambil tersenyum. Semoga foto ini akan menjadi kenangan indah bagi kami berdua, jika salah satu dari kami pergi nanti.

“Yah, oppa, apa kau salah makan?” suara Seunghee segera menyadarkanku dari lamunan.

“Ani, kenapa menurutmu begitu?” tanyaku heran.

“Kau aneh sekali hari ini. Pertama saat kau menelepon pagi tadi, kau mengucapkan kata-kata aneh yang tidak biasanya kau ucapkan. Kemudian tiba-tiba mau foto berdua, padahal sebelumnya tidak pernah mau*ini pengalaman pribadi. Suami saya tidak pernah mau foto berdua. T.T*. lalu sekarang melihatku sambil tersenyum-senyum begitu.”

“Apa kau tidak suka?”

“Ani…tentu saja aku suka. Hanya saja…aku heran, dan..kaget.”

“Nae Seunghee, cintaku, begini, aku benar-benar minta maaf untuk semuanya. Aku selalu mengabaikanmu, tidak romantis, dan juga selalu mengecewakanmu. Aku..aku tidak bermaksud begitu. Aku sangat mencintaimu, itu tidak usah kau tanyakan lagi. Hanya saja aku…aku…aku tidak pernah bisa mencintaimu dengan benar. Aku..tidak bisa menunjukkan rasa cintaku padamu.” Terbata kukeluarkan kata-kata yang mengganjal di pikiranku selama seharian ini.

“Aniyo, oppa. Kau bukannya tidak bisa mencintaiku dengan benar. Tapi lebih tepatnya tidak tahu bagaimana cara untuk mencintai.tapi itu juga tidak masalah bagiku. Karena aku juga mencintai Lee Jinki yang seperti itu. Yang paling penting oppa mencintaiku. Itu saja yang kuminta.” Katanya lembut sambil tersenyum. Segera kurengkuh dirinya, kudekap dengan erat, seolah takut dia tiba-tiba menghilang dalam pelukanku.

“Gomapsimidah. Jeongmal.” Bisikku pelan. Dia hanya tertawa kecil mendengar ucapanku.

“Ah, ya. Aku hampir lupa.” Kataku sambil meregangkan pelukanku.

“Lupa apa oppa?” tanyanya heran. Aku tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kantong dalam mantelku. Sebuah kotak yang telah terbungkus rapi dengan kertas kado.

“Happy 5th anniversary.” Kataku sambil tersenyum. Seunghee tersenyum dan mengambil kotak itu dari tanganku. Dibukanya kotak itu. Isinya sebuah kalung perak dengan bandul huruf “S” *itu maksudnya sanni..kekekeke :P*.

“Oppa, ini cantik sekali.” Desisinya gembira. Aku meraih tangannya dan mengambil kalung itu dari genggamannya. Kemudian kupakaikan di lehernya.

“Gomapta oppa.” Katanya sambil tersenyum manis. Tapi sesaat kemudian senyumnya hilang.

“Oppa, aku melupakan sesuatu. Aku sudah membelikan hadiah untukmu. Tapi sepertinya tertinggal di bangku taman tempat kita bertemu. Opa, ayo kita kembali ke taman itu sebelum kadonya hilang.” Katanya sambil menarik tanganku. Aku melirik jam tanganku. Setengah jam lagi saat Seunghee akan…. Aigoo, perjalanan dari sini ke tempat itu kira-kira setengah jam. Tidak, aku tidak akan membiarkan Seunghee kembali ke taman itu dan kemudian……..

“Andwae. Seunghee, jangan kembali ke taman itu, ok? Dengar, tidak masalah kalau kado itu hilang. Yang penting jangan kembali ke sana.” Kataku dengan suara yang bergetar.

“Sirheo, aku akan kembali ke sana, dengan atau tanpa oppa.” Katanya tegas.

“Ara, ara, aku akan mengantarmu.” Kataku pasrah. Tuhan, tidak bisakah takdir kau ubah?

*******************************

“oppa, berhenti di sini saja. Biar aku menyeberang sebentar untuk mengambil kado itu.” Katanya sambil menepuk bahuku.

“Sirheo, aku akan ikut ke taman.”

“Oppa, sudahlah. Berhenti saja di sini. Aku tidak akan lama.” Katanya keras kepala. Kalau sudah begini mau tidak mau aku menghentikan motorku. Seunghee segera turun dari motorku.

“Aku tidak akan lama oppa.” Teriaknya sambil berlari menyeberang tanpa sempat kucegah. Tapi kemudian, sebuah BMW meluncur deras ke arahnya. Hei, itu kan mobil yang kemrin menabraknya. Tanpa pikir panjang aku berlari ke tengah jalan dan segera mendorongnya. Seunghee jatuh tersungkur di tepi jalan karena doronganku. Kutatap mobil yang meluncur deras ke arahku. Tuhan, ini janjiku. Aku akan menggantikannya. Terima kasih karena Engkau telah mengembalikan satu hariku bersamanya.

“Jinki oppa..” teriak Seunghee sambil berurai air mata.

“SONG SEUNGHEE, NEOMU SARANGHAE!!!!!!!” teriakku keras saat mobil itu semakin dekat denganku.

Nae Seunghee, please forgive me, because I don’t know how to loving you…….

*********************************

~One Year Later~

“Jinki oppa.” Teriak Seunghee keras. Teriakannya membangunkan Seunghyun, kakak laki-lakinya yang tidur di sofa.

“Seunghee-ah, waeyo?” tanya Seunghyun khawatir.

“Oppa…Jinki oppa…Jinki oppa..” kata Seunghee di tengah nafasnya yang tersengal-sengal.

“Kau bermimpi lagi ya? Tenanglah, meski Jinki sudah tidak ada dia akan selalu di hatimu.” Kata Seunghyun mendekap adiknya, berusaha menenangkannya. Sudah setahun begini. Tiap malam Seunghee bermimpi buruk. Bermimpi tentang kekasihnya yang telah tiada….yang menggantikan dirinya…. Seunghyun menghela napas panjang. Adiknya sudah setahun selalu begini. Terbangun tengah malam, meneriakkan nama Jinki…dan hal itu baru diketahuinya 8 bulan belakangan. Yah, sudah 8 bulan dia menjaga Seunghee di rumah sakit. Kanker otak stadium 4 yang baru diketahui 8 bukan belakangan ini membuat adiknya harus selalu tinggal di rumah sakit. Dan selama 8 bulan inilah dia menjaga adiknya di rumah sakit tiap malam. Karena Seunghyun tahu, adiknya sangat rapuh setelah kepergian Jinki. Ah, andai Jinki masih ada……

“Oppa, aku sudah tidak apa-apa. Tidurlah lagi.” Kata-kata Seunghee menyadarkan Seunghyun dari lamunannya.

“Ah, ya. Tidurlah lagi.” Seunghyun mengecup dahi adiknya sekilas, dan kemudian kembali merebahkan diri di sofa.

~Seunghee POV~

Ah, Jinki oppa…aku kembali bermimpi tentangmu. Tentang hari di mana kau pergi. Sungguh oppa, aku bahkan tidak percaya hingga detik ini bahwa kau telah pergi. Aku..aku…aku sangat merindukanmu oppa. Sangat sangat merindukanmu. Kutatap kalung perak yang melingkar di leherku. Melayangkan kenanganku pada sosok hangat yang selalu tersenyum ramah itu.

Andai kau bisa melihatku oppa…aku sudah bukan Seunghee yang dulu lagi…. kini aku telah menjelma menjadi sosok rapuh yang tak akan kau kenali lagi. Aku sudah bukan bunga mataharimu lagi. Aku kini hanya gadis rapuh yang selalu menangis merindukanmu…

oppa….kau telah mengambil seluruh cahayaku pergi bersamamu. Kau telah membawa seluruh sumber kehidupanku. Kini aku hanya kegelapan. Kegelapan abadi. Tak pernah mengharap cahaya lain selain kau. Aku kini kegelapan yang tak hidup. Aku menjalani hari-hariku ditemani sunyi dan kegelapan. Tak kubiarkan seorang mengusik kesunyian dan kegelapan ini. Karena sunyi dan gelap ini milik kita berdua…hanya ada kita berdua di dalamnya…benar kan oppa?

Kuambil ponsel milikku. Wallpapernya masih sama seperti setahun yang lalu.. foto kita berdua di padang bunga itu oppa. Kuelus pelan layar ponselku. Tiba-tiba mataku terpaku menatap tanggal di ponsel itu. Oppa, sudah tanggal 25 Agustus lagi.. Ini hari jadi kita yang ke enam kan?

“Happy 6th aniversary, Jinki oppa…” bisikku lemah.

Tiba-tiba kepalaku berdenging. Aku pusing luar biasa. Kupegang erat kepalaku. sakitnya luar biasa. Tak tertahankan lagi. Aku terisak pelan menahan rasa sakit yang tak terperi ini. Oppa…aku tak kuat lagi…. aku tak kuat lagi menahan rasa sakit ini…….

Pandanganku mulai kabur, mungkin karena air mataku. Samar-samar kudengar teriakan Seunghyun oppa memanggil namaku. Lalu..gelap yang kurasakan.

Aku mengerjapkan mataku perlahan. Tampak langit biru di atas kepalaku, dan wangi bunga matahari menggelitik hidungku. Apa aku berada di… ya, aku berada di padang bunga itu…

Tapi kemudian rasa sakit yang tak terperi kembali menyerangku, melumpuhkan tiap saraf di otakku. Pandanganku mengabur, dan kemudian padang bunga itu tergantikan oleh pemandangan yang biasa kulihat selama 8 bulan ini. Bangsal di rumah sakit yang menjadi tempat tinggalku selama 8 bulan ini. Kulihat dokter dan beberapa perawat melakukan sesuatu. Seperti..ada yang menghentak-hentak di dadaku, memaksa jantungku berdenyut lemah. Kulihat Seunghyun oppa menatapku dengan khawatir. Air mata berurai di pipinya. Ah, lagi-lagi aku membuatnya sedih…

Kemudian pemandangan di rumah sakit itu berganti cepat dengan padang bunga. Kembali lagi menjadi pemandangan di rumah sakit. Begitu seterusnya. Makin lama makin cepat. Seakan isi kepalaku mau keluar karena ditarik ke sana sini. Sakitnya luar biasa, tak tertahankan lagi. Tuhan….aku sudah tidak kuat.. tolong hentikan penderitaan ini….

***************************************

Kukerjapkan mataku perlahan, tapi kemudian cahaya matahari membuatku memejamkan mataku lagi. Harum bunga matahari menguar, menggelitiki hidungku. Perlahan kubuka mataku lagi dan mencoba untuk duduk. Seketika kusadari, di sampingku duduk seseorang. Orang yang sangat kurindukan. Yang selalu hadir di mimpiku. Yang begitu ingin kutemui. Dan orang yang sangat sangat kucintai.

“Jinki oppa…” bisikku setengah tercekat.

“Nae Seunghee, happy 6th anniversary.” Katanya sambil tersenyum.

Kemudian kami menyatu. Jiwa kami, cinta kami, rasa rindu tak terperi, rasa sakit dan perih menjadi satu di dunia kami. Di dunia yang ada hanya ada kami berdua, cinta kami, dan jiwa kami.

**************************************

If I have to live my life without you near me

The day would all be empty

The night would seems so long

With you I see forever, so clearly

I might have been in love before

But I never felt this strong

**********************************

Nothing’s gonna change my love for you

You ought to know by know how much I love you

**********************************

Please forgive me, because I don’t know how to loving you……..

===========E.N.D========

Copyright 2010 SSSFI Publishing

“Dilarang keras mengutip,menjiplak, memfotokopi sebagian atau seluruh FanFiction ini tanpa mendapat izin tertulis dari author”

About Sannia Kim

Kim Sunggyu official secret crush :D

Posted on 13 November 2010, in Sannia Kim, SHINee Fanfiction and tagged , . Bookmark the permalink. 21 Komentar.

  1. Panjang banget dibuka dri hape, kekekeke
    bagus san, u ini mang jagonya bikin Sad Romance XDDD
    hmmm, poor Jinki, semoga, amalmu diterima di sisi-Nya #ditendang keluar angkasa

  2. Hua. .
    Endingnya sad tapi happy (?)
    like this. .

  3. Mati deh. Huhuhuhuu.. *nangis mojok*
    Tp sebenernya jinki ga mati. Nih lg ada di rumah tetangga kok, lg ngurusin ayam orang kayaknya *gubrak*
    Hahahaayyy…
    Good job sanni. Sad romance mu slalu membuatku sesak nih😄

  4. huhuhuhu…
    sedih banget!!!

    air mataku bercucuran nih!!!!

  5. keopTa ….
    semoga Bahagia di Surga (?) Jinki …

    Saeng-il CukkaHae ^^

  6. wahh,, ampir nangis bacanya..
    like this!! :’)

  7. Raisa Widiastari

    Aku nangis thor padahal lagi pelajaran b. Indonesia wkwkwk

    10 thumbs!

  8. Hello,, hello aq reader baru.. ini ff pertama yang aq baca disini… baru suka ff sih *salah sendiri*

    wah,,, bersatu di alam sana,, punya kenangan manis lagi sebelum ditinggal.. menyedihkan..

    nice ff…

    buat author,, salam kenal..🙂

  9. aq reader baru salam kenal^^

    sedih ffnya…
    hampir nangis aku bacanya…
    author daebak lah…

  10. waaahhh…
    Kreeen bgt..
    Jdi yg wktu ith ketabrak c jinki??
    Huhuhu..
    Daebak chingu…

  11. Yah sad ending mati dua duanya padahal aku kira happy ending😦

  12. Ff’a bkn mrnding..
    Jinki rela akhri hdp’a dmi seunghee..
    Hiks…hiks…
    Aq bnr” trsnth ma crta’a..

    Good job,, author.!

  13. Hiks.. It meninggal semua ?
    Huhu sad ending *ngelap ingus

  14. Feelnya dpt bgt bagian jinki di tinggal mati seunghee berasa bgt waktu aku di tinggal mati cowokku 7th lalu hiks hiks
    What a great story…

  15. Michelle SonelfSuju

    Mianhae , aku readers baru . Dan baru ke blog ini.
    Sumpah , aku baca ff ini, aku mau nangis , tp ditahan krna bacax di samping adik ku , wkwkwkwk.
    * gengsian #
    semangat thor !! (y)😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: