[FF/S/2] “I’m Your Genie; Tell Me your Wish”

Title : “I’m Your Genie; Tell Me your Wish”

Author : Mithaa Charinyoung @S3FFIndo

Genre : Romance

Rate : Straight/PG 13

Cast :

• Min Soo Jin (Davina) – belongs to me ^^

• Lee Jin Ki – belongs to SHINee

• Kim Ki Bum (Key) – belongs to SHINee

• Park Hyo Ri – belongs to my imagination

• Claudya – belongs to my imagination

———————————————————–

Jin Ki memarkir mobilnya di halaman sekolah. Seperti biasa, kedatangannya selalu saja menjadi pusat perhatian satu sekolah. Namun, ia tidak mempedulikannya. Ia hanya berjalan acuh tak acuh menuju kelasnya sambil sesekali menjawab salam dari teman-temannya yang didominasi oleh cewek-cewek. *Yiiihhhaaaaaaaaaa*

“Heiiii bro…. What’s up!”, sapa Key setelah Jin Ki masuk di kelasnya.

“Hei….”, balas Jin Ki memukul pelan bahu temannya itu.

“Kau kelihatan kurang bersemangat. Ada apa?”

“Anni. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kaget dengan kejadian aneh tadi malam di apartmentku”, jawab Jin Ki.

“Mwo? Kejadian aneh?”, tanya Key heran.

Belum sempat Jin Ki menjawab pertanyaan temannya itu, Jong Woon Songsaenim, guru matematika sekaligus wali kelas mereka masuk.

“Annyeong semuaaaaaa”, sapanya gembira. Kim Jong Woon termasuk guru yang paling baik di sekolah itu. Ia terkenal sangat ramah kepada semua orang.

“Annyeong songsaenim”, jawab seisi kelas.

“Hmmmmm… Sebelum kita mulai pelajaran, aku ingin menunjukkan sesuatu. Sebenarnya bukan sesuatu, tapi seseorang”, katanya penuh semangat. Semua siswa duduk dengan rapi di tempatnya, menyimak perkataan guru itu.

“Kita kedatangan satu murid baru. Dan kali ini, seorang wanita. Dan kalian tahu, wajahnya aduhaiiii bo’…”, sahutnya genit yang diiringi teriakan-teriakan oleh siswa cowok sedangkan siswa cewek hanya nyengir menanggapi kelakuan gurunya yang semakin lama semakin aneh itu.

“Ya sudah, aku panggil ya….. Min Soo Jin, silakan masuk”

Sreeetttt.. Terdengar suara pintu kelas di geser dan masuklah seorang wanita yang cantik jelita bak boneka masuk, membuat semua lelaki terpana, terpesona, terpesolek, dan ter-ter lainnya. *huahahahahahahaaa..*

“Annyeonghasseyo yeorobun. Naneun Min Soo Jin imnida. Mannaso bangapsumnida”, sapa Soo Jin ramah dan penuh semangat.

“Mwo? Dia? Aissshhh.. Sedang apa dia disini?”, bisik Jin Ki yang kaget dengan kehadiran Soo Jin di kelasnya.

“Kau kenal dengannya?”, tanya Key. Jin Ki hanya tersenyum getir menanggapi pertanyaan Key.

“Nahhh.. Nona manis, kau mau duduk dimana?”, tanya Jong Woon.

“Ummm.. Aku mau duduk disana”, Soo Jin menunjuk ke arah bangku yang berada di samping Jin Ki. Bangku itu memang kosong. Pemiliknya telah berpindah ke Negara lain. Sedangkan Key duduk tepat di depan Jin Ki.

Jin Ki membelalak mendengar jawaban Soo Jin. Ia kaget, dan belum sempat mengucapkan nada protes, Soo Jin sudah berada di sampingnya.

“Haiiii..”, sapa Soo Jin.

“Hai”, balas Jin Ki cuek.

Pelajaran pun dimulai.

***

“Hehhhhh…. Kenapa kau kesini?”, tanya Jin Ki saat pelajaran selesai. Saat pelajaran berlangsung, Jin Ki sengaja meminta Soo Jin untuk tinggal saat jam pulang.

“Memang kenapa? Tidak boleh?”, tanya Soo Jin balik.

“Bukannya tidak boleh. Tapi, kalau orang tahu tentang jati dirimu bagaimana?

“Tenang… Itu urusanku… Aku sengaja bersekolah di tempat ini, supaya aku lebih mudah membantumu. Aku kan aumoramu”, jawab Soo Jin manis.

“Hhhh.. Terserahlahhhh… Aku mau pulang”

“Heiii.. Tunggu aku. Aku ikut”

Mereka berdua menyusuri koridor sekolah yang ternyata belum sepi. Semua siswa, baik kelas 1, 2 maupun 3 masih terlihat berada di sekolah. Ketika hampir sampai di pintu gerbang, semua pandangan siswa pun tertuju pada Jin Ki dan Soo Jin.

“Wahhh.. Mereka serasi sekali.”, sahut salah satu siswa.

“Soo Jin cantik yaa.. Seperti boneka”, sahut siswa lainnya.

“Jin Ki-yahh.. Kenapa semuanya menatap kita?”, tanya Soo Jin saat jampir sampai di parkiran mobil Jin Ki.

“Itu karena kau siswa baru di sini. Mereka mungkin baru melihat siswa yang secantik boneka”,jawab Jin Ki tanpa menatap Soo Jin. Ia meletakkan tasnya ke dalam mobil dan kemudian masuk.

“Mwo? Cantik? Aku cantik? Hahahahahaaaa.. Akhirnya kau mengakuinya”, sahut Soo Jin seraya cekikikan mendengar pujian Jin Ki.

“Ayo cepat masuk. Aku mau pulang”, teriak Jin Ki dari dalam mobil. Soo Jin pun menuruti perintah Jin Ki.

“Kau sudah punya rencana untuk membantuku mendapatkan Hyo Ri?”, tanya Jin Ki dalam perjalanan.

“Emmm.. Entahlah… Aku hanya akan mendekatinya Hyo Ri dulu. Setelah itu, aku tanya apa kesukaannya. Untuk selanjutnya aku belum pikirkan itu”, jawab Soo Jin dengan wajah yang serius. Jin Ki hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Soo Jin.

Jin Ki memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan. Mereka berdua hendak makan siang bersama. Ketika sampai di dalam, mereka berdua memilih untuk duduk dekat jendela. Soo Jin yang memaksa Jin Ki, untuk melihat-lihat pemandangan katanya. 10 menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Tiba-tiba pandangan Jin Ki beralih pada seorang wanita yang berdiri di dekat kasir. Ia kelihatan kebingungan mencari kursi kosong. Kebetulan rumah makan itu sedang ramai.

“Hyo Ri”, bisik Jin Ki. Soo Jin yang mendengar Jin Ki segera berbalik dan mencari sosok yang ditatap Jin Ki.

“Park Hyo Ri”, Soo Jin memanggil Hyo Ri seraya melambaikan tangannya. Hyo Ri segera mencari sumber suara dan mendapati meja Soo Jin dan Jin Ki. Ia segera berjalan mendekati mereka berdua.

“Apa yang kau lakukan?”, bisik Jin Ki pada Soo Jin.

“Sudahlah… Ini bagian dari skenarioku. Kau ikuti saja”, jawab Soo Jin seraya tersenyum. Jin Ki hanya menghela nafas.

“Kau tidak kedapatan kursi ya?”, tanya Soo Jin ramah saat Hyo Ri mendekati meja mereka.

“Iya. Semua kursi sepertinya sudah penuh”

“Ya sudah, kau bergabung dengan kami saja. Kebetulan di sini masih ada kursi kosong. Kau duduk di situ saja”, kata Soo Jin dengan senyum supernya. Ia mempersilakan Hyo Ri duduk di samping Jin Ki. Jin Ki hanya tersenyum melihat Hyo Ri. Begitupun dengan Hyo Ri.

“Ahhh.. Mian. Aku belum memperkenalkan diriku. AKu Soo Jin, Min Soo Jin. AKu sekelas dengan Jin Ki. Kau Park Hyo Ri kan?”, tanya Soo Jin dengan ramah.

“Ne, sunbae. Aku Park Hyo Ri. Senang berkenalan denganmu sunbae”

“Tidak usah formal begitu. Panggil saja aku Soo Jin”, kata Soo Jin seraya menyeruput cappuccino pesanannya.

“Ne, Soo Jin. Oh iya, kalian teman lama ya? Sepertinya Kalian akrab”, Hyo Ri juga mulai menyantap sajian di depannya. Jin Ki hanya senyum-senyum menanggapi percakapan Hyo Ri. Ia terlalu canggung untuk bergabung.

“Ya begitulah. Aku dan Jin Ki sahabatan dari kita kecil. Jadi sekarang sudah seperti saudara, heheheheee…”, Soo Jin mencoba menyangkal.

Mereka bertiga pun larut dalam suasana, terutama Soo Jin dan Hyo Ri. Hanya dalam waktu singkat saja mereka sudah saling akrab satu sama lain. Jin Ki hanya kadang-kadang menimpali percakapan mereka.

***

“Hhhhhh… Akhirnya… Aku hampir mati tadi di sana saking groginya”, sahut Jin Ki setelah ia dan Soo Jin memasuki apartment Jin Ki.

“Ciiihhh… Jangan Lebayyy”, balas Soo Jin yang sedang duduk santai di sofa Jin Ki. *Huahahahahaiii… Kata “Lebay” juga eksis di Korea bo’*

“AKu tidak lebay Soo Jin-ahh. AKu benar-benar canggung tadi. Aku tidak tahu harus bicara apa”

“Hehhh.. Kalau dengan wanita lain kau tidak pernah canggung kan? Kau bahkan langsung to the point dengan mereka-mereka yang pernah kau kencani. kenapa dengan Hyo Ri kau canggung?”, tanya Soo Jin.

“Molla. Mungkin karena aku benar-benar terpesona dengannya….”, sahut Jin Ki seraya menerawang entah kemana, “Ehhh.. Dari mana kau tahu tentang semua itu?”, lanjutnya lagi. Kali ini mereka duduk bersampingan di sofa Jin Ki.

“Hehhh, sebelum aku jadi aumoramu, aku harus tahu dulu semua tentangmu. Jadi kalau nanti aku membantumu, setidaknya aku tahu banyak tentangmu”, jawabnya santai.

“Ohhh… Ngomong-ngomong dimana rumahmu?”

“Mwo? Rumahku? Kau tidak perlu tahu. Yang jelas aku tidak tinggal di sini. Bisa-bisa temanmu atau keluargamu mengira kalau aku ini cewek yang aneh-aneh.”, jelas Soo Jin.

“Ya sudah… AKu pulang dulu. Sampai ketemu besok”, Soo Jin seketika menghilang di depan Jin Ki. Jin Ki hanya tersontak kaget dengan kejadian tersebut.

***

“Kenapa kau tidak ajak Jin Ki?”, tanya Hyo Ri saat mereka tengah melahap makanan pesanan mereka. Soo Jin mengajak Hyo Ri ke kantin. Sejak mereka bertemu di restoran itu, mereka berdua menjadi lebih akrab

“Emmm.. Dia sibuk. Sepertinya dia sedang latihan basket di lapangan”, jawab Soo Jin. “Memang kenapa? Kau tidak suka kalau kau menemaniku makan?”, lanjutnya dangan nada yang agak marah.

“Anni.. Anni.. Bukan begitu. Maksudku, kalian kan sahabat. Jadi wajar kalau kalian bersama-sama”

“Hahahahaaa… Kau ini. Aku hanya bercanda. Tenang saja”, sahut Soo Jin.

“Umm, Hyo Ri-ahh.. Aku ingi bertanya. Bagaimana pendapatmu tentang Jin Ki?”, tanya Soo Jin kembali.

“Mwo? Jin Ki sunbae? Kenapa bertanya begitu?”

“Anni.. AKu hanya ingin tahu. Menurutmu dia bagaimana?”, tanya Soo Jin yang semakin penasaran.

“AKu… AKu tidak tahu… Aku tidak begitu dekat dengannya”, jawabnya polos.

“Menurutmu dia tampan?”

“Mwo? Ahhh… Yaaa,, lumayan. Dia sangat populer di sekolah ini”

“Kau suka padanya?”, tanya Soo Jin semakin mengenai masalah.

“Anni.. Anni.. Aku hanya mengatakan dia lumayan tampan. Aku belum sampai tahap itu kepadanya. Aku….”, jawab Hyo Ri terbata-bata.

“Heiii.. Heii.. Heii.. Kenapa kau jadi gugup begitu.. hahahaa.. Sudahlah… Lupakan saja. Aku hanya bercanda”, kata Soo Jin tertawa. Hyo Ri hanya tersenyum.

Mereka berbicara tentang banyak hal. Soo Jin menanyakan kesukaan Hyo Ri, dan begitupun sebaliknya. Mereka saling bertukar pengalaman satu sama lain. Meskipun Soo Jin sedikit menemui kesulitan untuk “mengarang”, berhubung ia sama sekali tidak memiliki pengalaman sebagai manusia, namun akhirnya ia berhasil juga menutupinya.

***

Jin Ki menatap arlojinya dan mencari-cari sosok wanita yang sedari tadi ditunggunya, Soo Jin. Ia memilih menunggu di dalam mobilnya sambil terus-menerus menggerutu.

“Dimana anak itu….”, sahutnya sedikit kesal. Tidak lama kemudian, sosok wanita yang ditunggunya pun muncul tepat di sampingnya.

“HUWAAAAAAAA…”, teriak Jin Ki saat melihat Soo Jin telah berada di sampingnya.

“Hei, tenanglah. Ini Aku..”, Soo Jin memukul bahu Jin Ki agar ia bisa diam.

“Bagaimana caramu bisa muncul seperti itu?”, tanya masih kaget.

“Jangan bilang kalau kau lupa bahwa aku adalah Jin. Aku dapat dengan mudah hilang dan muncul di manapun aku mau”, jawabnya seraya mengipas dirinya yang kepanasan, “Bumi benar-benar panas yaa….”, lanjutnya. Jin Ki menatap gadis itu tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang duduk di sampingnya benar-benar Jin.

“Tidak usah menatapku seperti itu”, sahut Soo Jin lagi dan kembali duduk santai di kursinya, “Aku dapat beberapa berita tentang hal-hal yang disukai dan tidak disukai oleh Hyo Ri”, lanjutnya santai.

“Mwo? Jinca? Huwaaaaaaaaaaaaaaaa…………. Kau hebat. Kalau begitu kita bicarakan dimana? Di restoran? Nanti aku yang bayarkan”, sahutnya tiba-tiba dengan girang.

“Hhhhhh.. Aku lelah. AKu mau pulang. Kita bicarakan di apartmentmu saja. Sudah cepat…!!!”, perintah Soo Jin

***

Soo Jin meneguk habis 2 gelas yang cukup besar yang berisi jus jeruk dengan cepat. Ia juga memakan beberapa cemilan yang disediakan Jin Ki dengan lahap. Ia duduk di dekat tempat tidur Jin Ki sambil mengikat rambutnya yang membuatnya sangat gerah.

“Heiii… Pelan-pelan saja. Kau ini, makanmu banyak juga”, tegur Jin Ki.

“Walaupun aku bukan manusia, tapi aku juga butuh makan bodoh”, balasnya seraya meminum jus jeruknya lagi.

“Ya sudah, terserahlah. Jadi, apa saja yang kau bicarakan dengan Hyo Ri tadi?”, tanya Jin Ki semangat.

Soo Jin pun menceritakan apa yang telah dia temukan dari diri Park Hyo Ri. Ia memberitahu Jin Ki tentang kesukaannya, serta kebenciannya terhadap sesuatu. Jin Ki manggut-manggut menanggapi pembicaraan Soo Jin.

“Bagaimana pendapatnya tentangku?”, tanya Jin Ki setelah Soo Jin selesai berbicara tentang Hyo Ri.

“Umm.. Katanya kau tampan”

“Itu saja?”

“Memang kau mau bagaimana? Dia bilang kau itu jelek, tidak tahu sopan santun, pemarah, dan nyebelin? Itu yang aku mau dengar darinya, tapi kenapa malah kata seperti tampan yang dia katakan”, jawab Soo Jin.

“Hehhh.. Itu semua menurutmu. Aku ini baik, tauuuu…”, balas Jin Ki agak cemberut *huwaaa…bayangin muka cute.a agi cemberut…ahhhiiiyyyy*

***

Sejak saat itu, Soo Jin menjadi lebih dekat dengan Jin Ki. Kemana-mana mereka selalu berdua. Mereka bahkan terlihat seperti sepasang kekasih. Jin Ki adalah cowok populer pujaan banyak wanita di sekolahnya, sedangkan Soo Jin siswa baru bak malaikat bertampang boneka yang menjelma menjadi manusia. Benar-benar “perfect couple”, julukan teman-temannya. Jin Ki tidak menghiraukan perkataan teman-temannya. Ia menganggap Soo Jin sebagai Jin yang bersedia membantunya disaat apapun, tidak lebih. Cintanya sepenuhnya untuk Hyo Ri. Ia merasakan perubahan pada dirinya sejak mencintai Hyo Ri. Ini juga karena Jin Cantiknya itu, Soo Jin.

Namun Soo Jin beda. Ia seperti merasakan sesuatu yang ia juga tidak tahu apa itu. Setiap berada di dekat Jin Ki, ia merasa gugup *Jin juga bisa gugup? hahahaa… aneh*. Ia bahkan merasa canggung untuk bertatapan dengan pria itu. Entahlah. Ia juga tidak tahu alasannya. Bahkan yang paling mengherankan, ia kadang merasa tidak rela untuk membantu Jin Ki mendapatkan Hyo Ri. Apa ia merasa cemburu pada Hyo Ri? Ia juga tidak tahu. Soo Jin hanya berusaha agar mereka berdua bisa menjadi sepasang kekasih dan akhirnya tugasnya selesai. Dan hal itu, akan terjadi tidak lama lagi. Jin Ki telah yakin akan menembak Hyo Ri dalam waktu dekat ini. Membuat hati Soo Jin sedikit perih.

***

“Soo Jin-ahh….”, teriak Jin Ki saat memasuki apartmentnya. Soo Jin yang sedang melamun tiba-tiba kaget denga teriakan Jin Ki.

“Tidak usah berteriak begitu. Whae?”, tanya Soo Jin.

“Hari ini, aku akan menyatakan cintaku pada Hyo Ri. Aku sudah mengundangnya makan malam di restoran, tapi katanya ia tidak mau dan memilih untuk makan di sini. Jadi, kau bantu aku memasak yahhhh… Aku juga sudah panggil Key, dia kan hebat dalam masak-memasak”, terang Jin Ki seraya senyam-senyum sendiri.

Soo Jin mengalihkan pandangannya dari Jin Ki. Ia terdiam beberapa saat. Entah mengapa, ia merasa sedikit sakit mendengar kabar yang sangat menggembirakan bagi Jin Ki itu.

“Hei… Kau mau membantuku kan?”, tanya Jin Ki membuyarkan lamunan Soo Jin.

“Ne”, jawabnya singkat

***

7.00 pm….

Soo Jin, Jin Ki dan Key akhirnya menyelesaikan masakan terkahir mereka dengan sempurna. Mereka benar-benar puas dengan hasil karya mereka bertiga, walaupun Jin Ki hanya membantu megambilkan bahan-bahan kue saja. Key pamit untuk pulang. Ada urusan lain katanya. Selain itu, ia juga tidak ingin mengganggu usaha Jin Ki untuk menembak Hyo Ri.

“Apa persiapanmu?”, tanya Soo Jin saat Key pamit untuk pulang.

“Aku akan mengajaknya makan malam dulu, ya..sambil sesekali bercengkerama dengannya. Kemudian…”

“Mwo? Bercengkerama? Bisa-bisa Hyo Ri mati mendengar lelucon tidak laku mu itu”, canda Soo Jin yang memotong pembicaraan Jin Ki.

“Heiii.. Enak saja. Pokoknya aku harus berusaha agar ia merasa nyambung denganku, berdasarkan informasi yang kau berikan”, Jin Ki menoleh pada Soo Jin dan mengedipkan sebelah matanya. Soo Jin mencibir melihat perbuatan Jin Ki. “Kemudian, aku akan memberinya sebuah cincin. Jika ia menerimaku, maka ia akan mengenakannya di tangan kanan, tapi jika tidak maka ia mengenakannya di tangan kiri”, jelas Jin Ki yang saat ini sedang memperbaiki rambutnya.

“Kalau ia membuang cincinnya, maka apa?”, tanya Soo Jin sambil cekikikan.

“Cincin itu kubelikan khusus untuknya. Tega sekali dia kalau ia ingin membuangnya”, jawab Jin Ki cemberut.

Tiba-tiba bel pintu apartment Jin Ki berbunyi.

“Itu pasti dia. Soo Jin, tolong buka pintunya”

“Pabo-ahh… Bisa-bisa Hyo Ri menolakmu abis-abisan karena tahu bahwa aku ada di apartmentmu. Dasar bodoh. Sudah sana, buka saja sendiri. Aku mau pulang”

“Hahahaha.. Iya, yah. Kau jangan pulang dulu. Kau harus liat penembakanku terhadap Hyo Ri. Kalau aku diterima, aku traktir dehhh”, goda Jin Ki.

“Iya.. Iya terserah. Buka sana pintunya. Aku harus bersembunyi”, perintah Soo Jin. Jin Ki pun pergi membuka pintunya. Soo Jin mengamati Jin Ki dari belakang. Sudah saatnya.

***

“Would you be mine?”, suara Jin Ki yang setengah berbisik ternyata mampu terdengar oleh Soo Jin. Soo Jin bersembunyi di dapur untuk melihat penembakan Jin Ki terhadap Hyo Ri. Sudah hampir setengah jam mereka bercengkerama dan akhirnya Jin Ki menyatakan perasaannya juga.

Soo Jin mengeluarkan sedikit kepalanya di balik tembok demi melihat reaksi Hyo Ri saat Jin Ki telah menembaknya. Hyo Ri masih diam. Jin Ki sedang menatapnya dan Hyo Ri sedang menunduk. Entah ia sedang memikirkan jawabannya atau apa. Soo Jin kembali memperbaiki posisi badannya. Ia tidak ingin melihat apa jawaban Hyo Ri. Ia hanya ingin mendengarnya. Entah mengapa ia merasa sakit dengan penembakan Jin Ki terhadap Hyo Ri.

Soo Jin menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian melirik mereka lagi dan sudah mendapati cincin yang telah dipersiapkan Jin Ki terlingkar manis di jemari Hyo Ri. Dan terlebih lagi, cincin itu terlingkar di jari kanan Hyo Ri, yang menandakan bahwa mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Mereka berpelukan mesra. Soo Jin tertunduk lemas. Sekarang ia sadar, bahwa ia telah jatuh cinta pada seorang manusia bernama Jin Ki. Namun, ia hanya Jin. Ia tidak bisa terus bersama manusia itu. Tugasnya selesai. Dan semuanya telah berakhir.

Soo Jin menangis tersedu-sedu. Ia masih tertunduk. Ia bahkan tidak sadar dengan kehadiran seseorang yang berada tepat di depannya.

Soo Jin mengangkat kepalanya. “Kakak”, sahutnya lirih.

“AKu tahu ini pasti akan terjadi.”, Claudya menarik adiknya ke dalam pelukannya. Soo Jin menangis sejadi-jadinya di pelukan kakaknya.

“Kenapa harus begini, Kak?”, tanyanya lagi.

Namun Claudya hanya diam. Ia mengelus kepala adiknya itu.

“Ayo… Tugasmu selesai. Dan kau sukses. Kita harus kembali lagi ke Freithenzerg”, Claudya melepas pelukannya dari adiknya. Ia membantu Soo Jin bangkit dari duduknya.

Soo Jin menoleh sebentar ke arah Jin Ki dan Hyo Ri. Mereka terlihat begitu bahagia. Soo Jin tersenyum simpul.

“Selamat tinggal, Jin Ki”, sahutnya dan segera menghilang dari ruangan itu.

============T.B.C=========

Copyright 2010 S3FFIndo Publishing

“Dilarang keras mengutip,menjiplak, memfotokopi sebagian atau seluruh FanFiction ini tanpa mendapat izin tertulis dari author”

Posted on 13 November 2010, in Mithaa Charinyoung, SHINee Fanfiction and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. demi apapun author bacana saya nangisss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: