[FF/S/3-End] “I’m Your Genie; Tell Me your Wish”

Title   : “I’m Your Genie; Tell Me your Wish”

Author  : Mithaa Charinyoung @S3FFIndo

Genre   : Romance

Rate   : Straight/PG 13

Cast :

• Min Soo Jin (Davina) – belongs to me ^^

• Lee Jin Ki – belongs to SHINee

• Kim Ki Bum (Key) – belongs to SHINee

• Park Hyo Ri – belongs to my imagination

• Claudya – belongs to my imagination

“Soo Jin…. Soo Jin….”, teriak Jin Ki setelah ia mengantar Hyo Ri pulang. Jin Ki keliling apartmentnya namun tak kunjung menemukan Soo Jin. Ia kemudian berhenti di depan sebuah meja di dapur. Ada secarik kertas dengan tulisan di atasnya. Jin Ki mengambil kertas itu dan membacanya.

“Heiiii…

Chukkahae… Kau diterima kan…. Huwaaa… Akhirnya…. Usahaku tidak sia-sia…

Tugasku sudah selesai. Sebagai aumoramu, aku telah berhasil membantumu menggapai keinginanmu. Jadi, semuanya berakhir. Kau masih ingat dengan apa yang aku katakan saat kita pertama kali bertemu kan? Jika kau membutuhkanku, tapi tidak menginginkanku maka aku akan tinggal. Tapi jika kau menginginkanku, tapi sudah tidak membutuhkanku, maka aku pergi.

Selamat tinggal Jin Ki. Semoga kau bahagia selamanya dengan Hyo Ri

Aumoramu, Soo Jin-“

“Apa-apaan ini? Dia pergi begitu saja. Enak saja”, sahut Jin Ki yang masih menatap kertas itu.

“Heiiii.. Kau tidak boleh pergi begitu saja. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, mentraktirmu makan, dan masih banyak yang ingin aku lakukan. Aku masih butuh kau, Soo Jin”, lanjutnya lagi masih menatap kertas itu. Ia kemudian duduk lemas di meja makan. Berharap Soo Jin akan kembali menemuinya.

***

“Ahhhh.. Anakku Davina…..”, seru Ayah Davina *Soo Jin* saat ia telah memasuki kamar anaknya itu.

“Ayahh…”, Davina berlari dan segera memeluk Ayahnya.

“Bagaimana kabarmu, Nak?”, tanya Ayahnya.

“Baik, Ayah… Ayah… Aku rindu padamu…”, Davina mempererat pelukannya dengan manja. Ayahnya mengelus lembut rambut anaknya itu.

“Kau telah berhasil, Nak. Ayah bangga padamu”, sahut Ayahnya setelah mereka duduk di sebuah sofa di kamar Davina. Davina hanya tersenyum mendengar pujian Ayahnya. Ia tahu, bahwa tugasnya telah selesai dan bisa membanggakan Ayah dan kakaknya. Tapi, tetap saja ia merasa sesuatu mengganjal di hatinya.

***

6 month later~

“Oppa, bisa kita bicara?”, tanya Hyo Ri saat Jin Ki telah selesai latihan basket. Keadaan sekolah saat itu mulai sepi. Hanya ada anggota tim basket yang baru saja selesai latihan dan beberapa siswa yang masih berkeliaran.

Jin Ki menoleh dan tersenyum saat melihat Hyo Ri berdiri di sampingnya. Ia menyuruhnya duduk tepat di sebelahnya.

“Ada apa, chagiya?”, tanyanya ramah.

Hyo Ri menghela nafasnya kemudian duduk berhadapan dengan Jin Ki. Ia menatap Jin Ki. “Oppa, aku ingin kita putus”

Sontak Jin Ki kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia mengernyitkan keningnya seolah tidak percaya. “Aku salah apa?”, tanyanya yang masih bingung.

“Oppa, aku sayang padamu. Aku juga sebenarnya cinta padamu. Bahkan sebelum kau mengejar-ngejarku, aku sudah suka duluan padamu. Saat kau menyatakan perasaanmu, aku merasa senang. Sangat senang. Namun, kesenanganku sebulan yang lalu makin lama berubah menjadi sebuah rasa bersalah”, jelas Hyo Ri. Jin Ki masih menatap gadis itu dengan tatapan yang bingung.

“Kau mencintai Soo Jin kan?”, tanya Hyo Ri. Jin Ki membelalakkan matanya.

“Oppa, aku tahu itu. Soo Jin juga sangat mencintaimu. Saat ia berusaha untuk mengorek informasi tentangku untukmu, aku dapat membaca dengan jelas di matanya bahwa ia tidak rela melepasmu. Ia menyayangimu, Oppa. Begitupun denganmu”, lanjutnya.

“Hyo Ri-ahh.. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau bisa sampai berkata seperti itu. AKu mencintaimu, dari dulu hingga sekarang”

Hyo Ri menggelengkan kepalanya. “Tidak Oppa. Kau mencintainya. Sekarang kau kehilangannya kan? Kau sangat rindu padanya. Kau ingin bertemu lagi dengannya. Aku bisa melihat itu semua, Oppa. Akhir-akhir ini, kau lebih sering melamun. Kau memikirkannya kan?”

Jin Ki menunduk. ia kembali mencerna kata-kata Hyo Ri. Ia memejamkan matanya dan menghela nafasnya.

“Aku tahu ini keputusan yang berat, Oppa. Tapi aku tidak bisa menjalani hubungan ini kalau ada seseorang yang kusakiti. Orang sebaik Soo Jin tidak pantas untuk disakiti”, sahut Hyo Ri. “Aku tahu dia akan kembali untukmu. Percayalah.”, Jin Ki mengangkat wajahnya dan menatap Hyo Ri yang sedang tersenyum. Ia dapat melihat mata Hyo Ri yang sedikit basah karena air mata yang hendak keluar dari matanya.

“Terima kasih atas semua yang kau berikan Oppa. AKu menyayangimu. Walaupun kita bukan lagi sepasang kekasih, tapi kumohon agar kita tetap bisa berhubungan baik”, kata Hyo Ri seraya memegang tangan Jin Ki. “Aku permisi Oppa. Annyeong”, pamit Hyo Ri.

Jin Ki menatap punggung wanita Hyo Ri yang semakin menjauh. Ia bingung. Sangat bingung dengan apa yang dirasakannya sekarang.

***

Freithenzerg….

Davina menatap keluar jendela kamarnya. Ia duduk di depan sebuah meja seraya memain-mainkan beberapa pernak-pernik di situ.

Tok.. Tok.. Tok.. Pintunya terdengar diketok oleh seseorang.

“Masuklah”, jawabnya lesu. Pintu kamar Davina kemudian terdengar dibuka, dan masuklah seorang wanita dengan pakaiannya yang casual namun terlihat sangat anggun.

“Sedang apa kau, adikku?”, tanya Claudya yang langsung berdiri di samping adiknya itu sambil menatap keluar jendela kamar Davina.

“Entahlah”, jawabnya singkat.

“Setiap hari kau melakukan hal ini terus. Bisakah kau melupakannya? Kau harus ingat akan statusmu, sayang. Kau dengannya beda. Lagipula, ia tak akan pernah tau apa yang kau rasakan padanya”, kali ini Claudya mencoba menatap adiknya.

“Aku juga bingung kak. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku merindukannya. Apa yang harus aku lakukan kak?”, tanya Davina pilu. Matanya mulai memerah dan sedikit berair.

“Tenanglah, adikku. Akan ada jalan untukmu. Aku yakin itu”, Claudya memeluk adiknya dan membelainya lembut.

“Wahai anak-anakku…”, tiba-tiba Ayah mereka memasuki kamar Davina dengan senyumnya yang merekah.

“Ayah”, jawab Claudya dan Davina serentak. Mereka seketika memluk Ayah mereka. Walaupun mereka tinggal di istana yang sama, namun mereka sengat jarang bertemu. Hal tersebut dikarenakan kesibukan Ayahnya untuk mengurus banyak hal.

“Aku rindu pada kalian…. Heyyy…”, matanya tiba-tiba terhenti saat melihat Davina, “Ada apa denganmu, nakk? Apa yang membuat kau menangis?”, tanya Ayahnya lembut.

“Tidak ada apa-apa, Ayah. Mataku tadi hanya terasa sedikit perih”, Davina mencoba menyangkal.

“Ayah, bisa kita bicara?”, ujar Claudya yang tiba-tiba menyela. Ayahnya menatap Claudya dengan sedikit bingung, namun akhirnya ia menurut juga. Ia pamit pada Davina dan mengajak Claudya putri sulungnya itu untuk berbicara di tempat lain.

***

“Davina….”

Davina yang sedang bermain-main dengan Huki kesayangannya segera menoleh.

*A/N : Huki, semacam kucing jenis Anggora dengan 3 jenis warna, yang hanya terdapat di Freithenzerg. Ukurannya menyerupai Anjing*

“Pakailah pakaian terbaikmu. Akan ada upacara yang diadakan khusus untukmu”, sahut Claudya di ambang pintu, tidak jauh dari Davina berada.

“Upacara apa, kak?”

“Nanti juga kau akan tahu. Aku turun dulu. Aku tunggu kau di bawah. Ingat, jangan membuat masalah”, ucap Kakaknya dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Davina.

Davina berjalan pelan menuju ruang utama, tempat diadakannya upacara yang dimaksudkan kakaknya tadi. Ia membuka pintu dan disambut baik oleh dayang-dayang yang berdiri di situ. Davina masih bingung dengan upacara ini. Apa yang akan terjadi pada dirinya?

Davina duduk di sebuah kursi besar yang terletak di tengah-tengah ruangan. Ia memandang sekelilingnya. Ada banyak aumora-aumora lainnya yang sedang menatapnya. Matanya kemudian tertuju pada Claudya, kakaknya, yang sedang berjalan mendekatinya.

“Kalau mau berterima kasih padaku, nanti saja”, sahut Claudya tersenyum nakal.

“Bagaimana mau berterima kasih, sampai sekarang bahkan kau tidak memberi tahu apa yang akan terjadi padaku. Ini upacara apa kak?”, tanya Davina dengan ekspresi memelas.

Claudya tidak menjawab pertanyaan adiknya. ia hanya tersenyum lalu meninggalkan adiknya.

***

3 years later…

“Dokter, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda”, sahut seorang suster di pesawat telepon yang terdapat di atas meja.

“Bilang kalau aku sedang istirahat”

“Tapi dok, dia tidak mau. Dia tetap memaksa untuk… Heiiii…”, terdengar teriakan dari suster tadi.

“Maaf Dok, ia sudah masuk di ruangan anda. Saya tidak bisa mencegahnya”

“Ya sudah, terima kasih”, ia menekan satu tombol di pesawat telepon untuk memutuskan pembicaraan.

“Heeeiiiii Bro….”, sahut seorang pria yang masuk secara tiba-tiba.

“Heiii.. kau?”

“Kau lupa padaku?, tanya pria itu.

“Babo! Mana mungkin aku lupa pada manusia seperti kau, Kim Ki Bum”

“Memang aku manusia seperti apa, Lee Jin Ki?”, tanya pria yang namanya Kim Ki Bum itu. Kedunya kemudian saling berpelukan. Jin Ki mempersilakan Key untuk duduk.

“Bagaimana kabarmu?”, tanya Jin Ki mengawali pembicaraan.

“Seperti yang kau lihat saat ini”, Key memukul dadanya dengan ekspresi yang membuat Jin Ki tertawa.

“Dari mana kau tahu aku kerja disini?”, tanya Jin Ki.

“Dari Hyo Ri. Katanya Ibunya pernah dirawat disini, dan kau yang menanganinya. Aku bertemu dengannya kemarin sore di taman”. Jin Ki tersenyum simpul mendengar ucapan Key.

“Oiyaahh.. Bagaimana kabar Jin Cantikmu itu?”, tanya Key tiba-tiba, membuat Jin Ki segera menoleh. Sebelumnya, Jin Ki memang pernah bercerita tentang Soo Jin padanya. Tapi ia tidak menyangka bahwa Key masih mengingatnya.

“Kenapa bertanya itu?”

“Memang tidak boleh? Aku jadi ingat padanya. Kemarin aku ke butik “Gee”, menemani pacarku dan kulihat ada sebuah patung yang kurasa mirip dengannya”, jelas Key.

“Apa? Patung?”, Jin Ki bertanya tidak percaya. Key hanya mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Jin Ki.

Jin Ki mulai merencanakan untuk pergi ke butik itu besok.

***

Jin Ki berjalan lesuh menuju butik “Gee”. Karena sibuk, maka ia hanya bisa memanfaatkan waktu makan siangnya untuk keluar. Ia sangat berharap dapat melihat Soo Jin kembali, meskipun itu dalam bentuk patung. Setidaknya ia bisa mengucapkan kembali keinginannya di depan patungnya.

Jin Ki mengitari butik dengan masih berharap, namun tidak tampak bahwa di butik itu ada Soo Jin. Ia bahkan bertanya pada pemilik butik dan hasilnya tetap sama, Soo Jin tidak ada di tempat itu.

Apa Key mempermainkanku? Atau Soo Jin sudah menjadi Jin orang lain? Apa aku terlambat? Semua pertanyaan itu memenuhi pikiran Jin Ki sekarang.

***

Jin Ki menatap layar komputernya dengan lesu. Ia sengaja datang ke rumah sakit tempatnya bekerja lebih awal. Ia hanya malas berdiam diri di aprtmentnya. Sekarang masih pukul 7, jam prakteknya dibuka pukul 9. Ia masih punya waktu untuk bersantai-santai.

“Dokter Lee, ada seseorang yang ingin menemui Anda”, sebuah suara di pesawat telepon membuyarkan konsentrasi Jin Ki.

“Tapi waktu prkatekku kan masih 2 jam lagi. Bilang saja kalau aku belum datang”, jawab Jin Ki yang masih memainkan sebuah permainan di komputernya.

“Tapi dia memaksa Dokter. Katanya penting”

“Uggghhhh… Mengganggu saja. Ya sudah. Suruh dia masuk”, jawab Jin Ki sedikit ketus.

“Pasti si Key lagi. Harusnya anak itu menelpon dulu kalau mau menemuiku. Dasar menyebalkan”, batin Jin Ki. Ia segera mematikan komputernya dan mengambil 2 botol minuman serta beberapa snack untuk disajikan pada tamunya nanti, yang ditebaknya dalah Key. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka. Jin Ki masih sibuk mencari snack dan tidak mendengar kehadiran seseorang dibelakangnya.

“Dokter….”, sahut suara itu.

Jin Ki tersentak. Ia seperti mengenali suara itu, suara seorang wanita. Dan jelas bahwa dugaannya bahwa yang datang adalah Key salah. Ia menoleh dan kaget dengan apa yang dilihatnya sekarang.

“Dokter, aku sakit. Sepertinya aku harus diperiksa”, sahut wanita itu sedikit manja.

Jin Ki tersenyum lebar dan berjalan menuju meja kerjanya.

“Soo Jin-aaa”, sahut Jin Ki yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Apa kabar dokter Lee Jin Ki?”, tanya Soo Jin dengan senyum nakalnya. Ia berjalan menuju tempat Jin Ki berdiri dan duduk di meja kerjanya. Sekarang ia sudah berhadapan langsung dengan Jin Ki.

“Babo”, sahut Jin Ki kemudian.

“Mwo?”

“Kenapa kau meninggalkanku waktu itu, huh?”, tanya Jin Ki dengan agak kesal.

Soo Jin diam dan tersenyum. Ia kemudian merapikan jas putih yang dikenakan Jin Ki tanpa menatapnya. “Mianhae”, ucapnya.

“Do you still wanna be my genie?”, Jin Ki mencengkeram tangan Soo Jin yang sedang merapikan jasnya. Ia menatapnya lekat-lekat.

Soo Jin balas menatapnya kemudian mengangguk.

“Bolehkah aku meminta sesuatu?”, tanya Jin Ki. “Bisakah kau terus berada di sisiku? Saranghae Soo Jin-aa”

Soo Jin tersenyum mendengar pernyataan Jin Ki. Ia beranjak dari posisi duduknya dan kali ini ia berdiri tepat di depan Jin Ki.”But I’a not your genie anymore”, sahutnya kemudian.

Jin Ki menatapnya bingung. Apa maksudnya? Apa ini seperti pikirannya sebelumnya? Bahwa ia terlambat menemukan Soo Jin di butik itu dan ada seseorang yang mendahuluinya?

“Apa maksudmu?”

“Sekarang aku sudah berubah Jin Ki. Aku seorang manusia. Seorang wanita”

“Mwo?”, Jin Ki semakin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Soo Jin.

***

[Flashbach Mode : ON]

Davina duduk di sebuah kursi besar yang terletak di tengah-tengah ruangan. Ia memandang sekelilingnya. Ada banyak aumora-aumora lainnya yang sedang menatapnya. Matanya kemudian tertuju pada Claudya, kakaknya, yang sedang berjalan mendekatinya.

“Kalau mau berterima kasih padaku, nanti saja”, sahut Claudya tersenyum nakal.

“Bagaimana mau berterima kasih, sampai sekarang bahkan kau tidak memberi tahu apa yang akan terjadi padaku. Ini upacara apa kak?”, tanya Davina dengan ekspresi memelas.

Claudya tidak menjawab pertanyaan adiknya. ia hanya tersenyum lalu meninggalkan adiknya.

Seorang pria tampak memasuki ruangan diiringi dengan banyak dayang-dayangnya. Ia adalah ketua Dewan Aumora di Freithenzerg. Wajahnya tampak sudah sangat tua namun dapat tersirat dari wajahnya bahwa ia adalah seorang yang sangat tegas nan bijaksana. Di sampingnya juga tampak Ayah Davina.

Davina semakin bingung dengan keadaan ini. Ia tetap diam dan terus berusaha menebak.

“Saudari Davina… Atas perintah dari Ketua Dewan Aumora Freithenzerg, kau akan mengalami sebuah proses menjadi seorang manusia. Dalam proses ini kau akan melewati 4 tahap, yaitu…”, sahut seorang pria yang menajdi MC di acara tersebut *mang kawinan apaa…*

“APAAA… Aku jadi manusia?”, Davina beranjak dari posisi duduknya dan berteriak hingga satu aula utama menatapnya.

“Iya Nakk.. Ini adalah peristiwa yang ke-5 kalinya dalam sejarah dunia kita, Aumora akhirnya diangkat menjadi seorang manusia. Hal tersebut terjadi karena adanya ikatan antara Aumora dengan manusia yang menjadi tugasnya”, jelas Ketua Dewan dengan ramah.

“Tapi Tuan, aku sama sekali tidak punya ikatan dengan manusia manapun. Lagipula aku tahu proses ini akan sangat sulit, terutama bagi aku sebagai Aumora pemula”

“Jangan berbohong Nak. Aku tahu kau punya ikatan dengan manusia itu. Kau boleh saja meninggalkannya, tapi apa kau rela melihat manusia itu tersiksa karena kau tidak ada di sisinya?”

“Manusia itu?”, sahut Davina setengah berbisik.

“Ya, manusia yang menjadi tugas pertamamu. Lee Jin Ki. Kau mencintainya kan? Begitupun dengannya. AKu yakin ia juga mencintaimu”, tanya sang Ketua Dewan.

Davina terperanjat. Ia menatap wajah Ketua Dewan yang juga sedang menatap wajahnya.

“Tidak usah mengelak lagi, Nak. Dan lagi, proses ini tidaklah sulit jika kau memang mau melakukannya. Dan, aku yakin kau tak kan menyesal melakukannya”

Davina tersenyum kemudian mengangguk setuju pada Ketua Dewan. Sang pembawa acara pun melanjutkan kembali acara yang sempat dipotong oleh Davina. Namun Davina tidak benar-benar mendengar proses-proses yang harus ia lalui untuk menjadi seorang manusia. Ia merasa senang karena akan bertemu dengan Jin Ki lagi, tapi juga merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarganya. Ia lalu menoleh dan mendapati kakaknya yang sedang menatapnya seraya tersenyum.

[Flashback Mode : OFF]

***

“Aku masih tidak menyangka kau akan berubah menjadi seorang manusia”, ucap Jin Ki saat mereka sedang berjalan-jalan mencari tempat makan. Saat ini, Jin Ki sedang istirahat makan siang.

Soo Jin tersenyum simpul mendengar perkataan Jin Ki.

“Bagaimana caranya sampai kau menjadi manusia? Apa sakit?”, Jin Ki menoleh ke belakang untuk menatap Soo Jin namun ia malah menemukan Soo Jin berjalan masuk menuju sebuah butik. Jin Ki menyadari bahwa butik itu adalah tempat mereka pertama kali bertemu, butik “Gee”.

“Kau belum menajwab pertanyaanku Soo Jin”, kata Jin Ki saat mendapati Soo Jin yang sedang melihat-lihat beberapa model baju terbaru di butik itu.

“Kau tidak perlu tahu, Jin Ki”

Jin Ki lalu mengikuti Soo Jin melihat-lihat beberapa model baju. Dan ia mendapat sebuah baju dengan tulisan “Tell Me Your Wish”. “Sepertinya aku harus mengubah pertanyaanku”, sahutnya segera.

“Soo Jin segera berbalik dan menatap Jin Ki. Jin Ki berjalan ke arahnya dan mereka berdua sedang berdiri di depan sebuah patung yang mengenakan baju yang dilihat Jin Ki tadi.

“Tadi siang aku bertanya, apakah kau ingin menjadi Jin-ku”, sahut Jin Ki menatap SOo Jin lekat-lekat. “And now, would you be my girl?”

Soo Jin tersenyum. Jin Ki mengelus wajah Soo Jin lembut, lalu ia mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak 5 cm saja dari wajah Soo Jin. Soo Jin memejamkan matanya dan merasakan sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya. “Saranghae Soo Jin-aa”, ucap Jin Ki.

“Nado saranghae, Jin Ki-yah”, Soo Jin mengalungkan tangannya di leher Jin Ki dan memeluknya erat.

Geudayo nan nul saranghae eonjaena miduh

ggoomdo yuljungdo da joogo shipuh

nan geudae sowoneul ilyuhjoogoshipun

hengoone yeoshin

Sowoneul Malhaebwa…. (I’m Genie for you, boy)

Sowoenul Malhaebwa…..(I’m Genie for your wish)

Sowoneul Malhaebwa….(I’m Genie for your dream)

Naegaeman Malhaebwa….(I’m Genie for your world)

[translate]

That’s right, I Love you, I always believe in you

dreams and passions, I want to give them all to you

I’m a good luck goddess that wants

to make your wish come true

tell me your wish…. (I’m Genie for you, boy)

tell me your wish…. (I’m Genie for your wish)

tell me your wish…. (I’m Genie for your dream)

tell only me…. (I’m Genie for your world)

***

======================E.N.D======================

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

Posted on 13 November 2010, in Mithaa Charinyoung, SHINee Fanfiction and tagged . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. hahaha..
    aq suka ending y

  2. Mithaa Charinyoung

    Gomawoooooooo udah baca chingu n komen ^^ *bow

  3. ahahahaha, syukurlah si jinki sama soojin^^
    key sama aku yak? LOL

  4. keren! akhirnya soo jin sama jinki,
    soo jin beruntungnya dikau🙂

  5. mitha uniieee !! *triak pake toa :p

    unn, mian aku bru komen di part ini😄 kkekeke~

    ending.a bgus unn b^^d,
    two thumbs up lah

  6. authorrr..kenapa ga d panjangin sih???

    terllalu pendekkkkkkkk…uaaa keren bget deg2annya dpet bgettt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: