[FF/1S/S/PG-15] My Sleeping Prince

Title: My Sleeping Prince

Chapter: 1/1

Length:  3256 words

Genre: Romance

Rating: PG-15/Straight

Author: Sannia Kim

Casts:

<3  Kim Jonghyun

❤ Lee Sora

❤ Song Seunghee

And other supported casts^^

 

My Sleeping Prince by Sannia Kim

My Sleeping Prince by Sannia Kim

 

Aku mendesah menatap buku sketsa di depanku. Masih bersih dan tidak ada sedikitpun coretan. Aku kehilangan inspirasi. Apalagi ya yang harus kugambar? Aku melamun menatap ke luar jendela kelasku, mencoba mencari inspirasi. Bel pulang sudah lama berbunyi, sehingga sekolah kelihatan sunyi. Saat itu kulihat dua orang siswa berjalan berdampingan, berbincang-bincang. Laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bertubuh tinggi, sekitar 174 cm. Wajahnya tampan luar biasa. Rambut hitam tebalnya tampak sedikit acak-acakan, matanya yang kelabu berbinar jenaka, dan tampak senyum lebar tersungging di bibirnya yang merah. Namanya Kim Jonghyun. Dia kapten tim basket di SMAku. Orangnya ramah, ceria, dan tentu hal yang paling menonjol dari dirinya ,selain wajahnya yang tampan, adalah permainan basketnya. Hanya saja kudengar sementara ini dia tidak bisa bermain karena cedera. Tentu segala kelebihan yang ada di dirinya membuatnya memiliki banyak sekali penggemar. Aku berani bertaruh, setengah siswi sekolah ini pasti menyukainya. Termasuk aku. Jujur, aku sangat mengaguminya. Namun perasaan ini hanya aku yang mengetahuinya. Aku bukan tipe orang yang berteriak-teriak histeris di pinggir lapangan tiap kali dia berlatih atau bertanding. Aku lebih suka memendam perasaanku dalam, tanpa ada seorang pun yang tahu.

Namun meski memiliki banyak penggemar, tak ada seorangpun yang berani mengharap lebih jauh. Itu semua karena gadis yang sedang berjalan di sebelahnya. Tidak tinggi memang, mungkin tingginya hanya sekitar 155 cm saja. Tapi semua orang pasti setuju kalau paras gadis itu sangat cantik. Rambut hitamnya yang lurus sebahu tampak serasi dengan wajahnya yang manis. Terlebih lesung pipit yang selalu tampak saat gadis itu tersenyum atau tertawa, menambah nilai tambah pada wajahnya. Namanya Song Seunghee. Siswa terbaik di angkatan kami. Sejak kelas satu hingga kelas dua ini predikat nilai terbaik selalu digenggamnya. Dan bukan hanya itu, permainan biolanya benar-benar mengagumkan. Terlebih lagi dia berasal dari keluarga kaya. Lengkaplah sudah. Dan dua manusia luar biasa itu menjalin kisah di antara mereka. Pasangan yang sempurna. Jonghyun dan Seunghee. Apalagi kudengar mereka telah saling mengenal sejak kecil dan kedua orang tua mereka pun bersahabat baik. Siapa lagi yang berani mengusik mereka?

Aku mendesah. Jika dibandingkan dengan Seunghee, tentunya aku bukan apa-apa. Kuakui wajahku biasa-biasa saja. Mataku sipit-seperti kebanyakan orang korea-, rambutku yang sedikit ikal kubiarkan panjang, aku sedikit lebih tinggi dibanding teman-temanku pada umumnya. 168 cm. tapi selebihnya tidak ada hal yang istimewa dariku. Dari segi prestasi pun aku biasa-biasa saja. Meski nilaiku di atas rata-rata, tapi aku yakin nilaiku belum ada apa-apanya dibanding nilai Seunghee. Selain itu aku pun tidak pandai bermain alat musik. Mungkin satu-satunya hal yang bisa aku banggakan hanyalah kemampuan menggambarku.

Ah, kenapa aku jadi tidak bersyukur begini sih? Aku yakin tiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Dan inilah kelebihanku. Aku harusnya bersyukur masih bisa melukis tiap hari dan mewujudkan impianku menjadi pelukis suatu hari nanti. Ya, karena melukis adalah hidupku.

 

*************

 

Aku berjalan menuju sebuah ruangan kecil di dekat halaman belakang sekolah. Ruang itu dulunya tempat untuk menyimpan alat-alat olahraga. Tapi karena gedung olahraga yang baru memiliki ruang penyimpanan yang lebih luas, ruangan itu dibiarkan kosong. Aku memohon kepada Appaku yang juga kepala sekolah di sekolahku untuk mengijinkanku memakai ruangan itu sebagai studio kecilku. Setelah membujuk appa ku berkali-kali, barulah dia mengijinkanku menggunakan ruangan itu dengan syarat hanya kupakai sepulang sekolah. Dan resmilah aku menempati ruang itu dua bulan lalu. Kecil memang, tapi cukup nyaman karena aku menaruh sebuah sofa panjang di sana.

Aku membuka ruangan yang tidak terkunci itu. Aku benar-benar lelah hari ini. Ingin rasanya beristirahat sejenak di sofa. Tanpa pikir panjang aku duduk di atas sofa itu. Aku merasa ada yang aneh dengan sofa itu.

“Kyaaa!!!!!!” sontak aku menjerit karena ternyata ada seorang laki-laki yang tidur di sofa itu, dan yang kududuki tadi adalah kakinya.

“Waeyo? Kenapa berteriak-teriak seperti itu?” laki-laki itu terbangun dari tidurnya. Dia mengucek-ucek matanya sambil menguap lebar.

Aku terkejut menatap laki-laki itu. Dia…dia..dia Kim Jonghyun. Mau apa dia di tempat ini?

“Mau..mau apa kau di tempat ini?” tanyaku terbata-bata. Aku benar-benar gugup sekarang. Mungkin jika ada cermin aku bisa melihat wajahku memerah.

Dia mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat dan memandang berkeliling ke ruangan kecil itu. Tak lama matanya berbinar jenaka dan senyumnya terkembang.

“Tempat ini milikmu?”

Aku hanya bisa mengangguk canggung menjawab pertanyaannya.

“Wah, enaknya punya tempat pribadi seperti ini di sekolah. Aku juga mau.”

Aku hanya diam mendengar ucapannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba dia menatap ke arahku.

“Ah, kau marah ya gara-gara aku sembarangan tidur di sini. Mianhae, aku tadi mengantuk sekali. Saat aku melewati tempat ini aku melihat dari jendela di sini ada sofa. Karena terlalu mengantuk tanpa pikir panjang aku  tidur di sini.” Katanya sambil nyengir.

“Ani..ani..aku tidak marah.” Kataku cepat.

“Jadi aku boleh tetap di sini?” tanyanya lagi. Senyum jenakanya terkembang. Dia terlihat begitu tampan. Aduh, jangan tatap aku dengan pandangan begitu.

“Terserah kau saja.” Kataku berusaha tetap dingin. Aku berjalan menuju kanvasku yang terletak di dekat jendela. Aku duduk menghadap kanvasku dan mulai melanjutkan lukisanku yang baru setengah jadi.

“Kau suka melukis ya?” tiba-tiba terdengar suara Jonghyun tepat di belakangku. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat, darahku seakan mengalir dari bawah ke atas.

Aku hanya mengangguk kecil, kemudian berpura-pura sibuk dengan lukisanku.

“Wah, jadi ini studiomu ya. Tapi darimana kau bisa mendapatkan ruang pribadi di sekolah?”

“Ano..appaku kepala sekolah.” Suaraku pasti terdengar sangat aneh sekarang.

“Wah…jadi Mr.Lee itu appamu ya.” Kemudian mengalirlah celotehan-celotehan tentang appaku dari mulutnya. Ternyata dia itu cerewet sekali.

“Omong-omong kita belum berkenalan kan? Kim Jonghyun imnida. Kelas 2-1.” Tiba-tiba dia sudah berdiri di sampingku dan mengulurkan tangannya.

Tidak usah kau sebutkan namamu pun aku sudah tahu. Aku tahu semua tentangmu. Tapi kusambut juga uluran tangannya.

“Lee Sora imnida. Kelas 2-2.”

 

*************

 

~The Next Day~

Aku membuka pintu ruang kecil itu dengan sedikit berdebar, mengharap jika aku membuka pintu ini, aku akan mendapati wajah Jonghyun di dalam. Namun yang kudapati hanya ruangan yang kosong. Aku menghela napas. Aku berharap terlalu tinggi. Tidak mungkin dia kembali ke ruangan ini. Kemarin hanya kebetulan. Aku bergegas menuju ke depan kanvas dan mulai melanjutkan lukisanku.

“Annyeong, Sora-ssi. Aku datang lagi..” tiba-tiba terdengar suara yang sangat kukenal. Aku segera menengok ke arah pintu. Benar saja, Jonghyun sudah berdiri di sana, membawa setumpuk komik, dengan senyumnya yang khas dan matanya yang selalu berbinar jenaka.

“Boleh kan aku numpang di sini lagi?”

“Ne. tentu masuk saja.” Jawabku buru-buru.

“Mana mungkin aku melarangmu.” Sambungku dalam hati.

Jonghyun berjalan santai ke sofa. Dia segera mengambil posisi tidur dan mengambil salah satu komik yang dibawanya kemudian membacanya. Aku hanya menatapnya geli. Dia benar-benar ceria dan seenaknya sendiri. Tapi itu malah membuatku semakin menyukainya.

“Ada apa, Sora-ssi?” tanyanya sambil melepas pandangannya dari komik yang dibacanya dan menatapku heran. Dia menyadari tatapanku rupanya.

“Aniyo..” kataku terbata-bata, menundukkan wajahku yang mulai memerah.

“Jeongmal mianhae, mungkin untuk hari-hari ke depan aku akan merepotkanmu. Aku bingung sekali apa yang harus kulakukan. Aku bermain basket dan kakiku cedera kemarin, jadi aku tidak bisa bermain untuk sementara waktu. Aku di sini hanya sampai jam 6 saja, jadi kau tenanglah.” Katanya sambil nyengir lebar.

“Ne. Gwenchana.”

“Untuk selamanya pun aku tidak apa.” Sambungku dalam hati.

Dia tersenyum lebar mendengar jawabanku dan kembali melanjutkan bacaannya. Aku pun mengalihkan perhatian pada lukisanku. Berjam-jam kemudian kami larut dengan apa yang kami lakukan. tidak ada sepatah katapun yang kami ucapkan.

“Ah, selesai juga.” Gumamku saat menatap lukisanku yang sudah jadi. Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah jam 5 rupanya. Aku menengok ke arah Jonghyun. Dia sudah tertidur rupanya. Komiknya dia letakkan di dada bidangnya.

Perlahan aku mendekati sofa dan berjongkok di sampingnya, mengamati wajah Jonghyun yang tengah tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat innocent dan..tampan tentunya. Dia seperti pangeran dari impian terindahku, pangeran tidurku..

Kuambil buku sketsaku dan mulai kugambar wajahnya. Aku sangat suka melakukan ini. Melakukan dua hal yang sangat kusukai. Menggambar sekaligus mengamati wajahnya. Tak lama kemudian aku sudah hanyut dalam kegiatanku. Jonghyun tertidur sangat pulas sehingga tidak menyadari apa yang kulakukan. Bahkan hingga sketsa wajahnya selesai, dia belum juga terbangun.

 

*************

 

~A Month Later~

Aku mengamati gambar-gambar yang ada di buku sketsaku. Semuanya gambar wajah Jonghyun yang sedang tertidur. Tak terasa sudah sebulan kebersamaan kami. Tiap hari dia datang, terkadang membawa komik, terkadang juga mengajakku ngobrol dan bertanya ini itu. Aku benar-benar menikmati kebersamaan itu. Aku tersenyum teringat salah satu percakapanku dengannya.

 

Flashback mode: on

 

“Jadi cita-citamu menjadi pelukis ya?” tanyanya.

“Ne. kelak aku ingin memiliki galeri sendiri yang memajang karya-karyaku.” Jawabku mantap.

“Haha. Bagus sekali. Jangan lupakan aku ya kalau sudah berhasil nanti.’ Jawabnya dengan senyum khasnya. Aku hanya mengangguk saja.

“Dulu sekali aku ingin jadi pemadam kebakaran. Tapi sepertinya itu pekerjaan yang tidak keren ya sekarang.” Lanjutnya sambil tertawa.

“Sekarang ingin jadi apa?”

“Pembeli lukisanmu.” Jawabnya singkat, kemudian terdengarlah tawanya berderai.

 

Flashback mode: off

 

Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Perlahan kuelus gambarnya. Dia sangat tampan. Selalu tampan, meski saat sedang tidur. Aku pernah dengar katanya wajah asli seseorang terlihat saat dia sedang tidur. Jadi wajah asli Jonghyun memang wajah tampan luar biasa yang selalu ceria dan tampak jenaka itu. Aku mendekap buku sketsaku erat. Dadaku bergemuruh membayangkan aku bisa mendekap Jonghyun seperti aku mendekap buku sketsaku. Aku tahu pasti, aku sudah benar-benar jatuh cinta dibuatnya.

Aku mencintainya. Aku yakin itu. Aku suka saat menatap senyum jenakanya, senyum yang membuatku termangu. Aku suka menatap wajahnya yang tertidur. Wajah yang selalu membuatku terpana kapanpun aku menatapnya. Aku suka mendengar indah suaranya menyebut namaku. Suara yang selalu membuat darahku berdesir. Aku mencintainya. Dan kudekap buku sketsaku semakin erat.

 

*************

 

Sore yang sama seperti sore-sore yang lalu. Jonghyun terlelap setelah bosan membaca komiknya, dan aku kembali menggambar sketsa dirinya, seperti hari-hari yang lalu. Tiba-tiba kulihat matanya membuka perlahan. Aku segera menutup buku sketsaku, berharap dia tidak menyadari sedang kulukis.

“Ah, nyenyak sekali tidurku.” Dia menggeliat dan mengacak-acak rambutnya. Aku masih duduk di sebelah sofanya sambil memeluk buku sktesaku erat, jantungku masih berdebar tidak karuan.

“Yah, waeyo Sora-ah? Kau kelihatan aneh sekali.” Tanyanya heran.

”Uhm..ano..aku..aku kaget…aku tadi mau membangunkanmu, tapi tiba-tiba kau bangun..“ susah payah aku merangkai kata-kataku.

”Oh iya, jam berapa ya ini?“ dia tampak panik dan menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

”Aish, sudah jam segini. Seunghee pasti sudah menungguku.“ gumamnya panik dan dengan cepat dia bangkit kemudian berlari ke luar ruangan. Aku terkesiap mendengar kata-katanya tadi. Seunghee?

“Sora-ah, jalga.“ Terdengar suara Jonghyun di pintu. Kemudian dia berlari lagi. Aku bisa mendengar langkah kakinya yang cepat bergema di lorong sekolah. Aku menggigit bibir bawahku. Seunghee?

Aku bangkit dan menatap jendela yang menghadap langsung ke halaman. Di sana tampak Jonghyun berlari ke arah Seunghee yang sedang menunggunya. Seunghee membawa tas biolanya.

Ah, tentu saja setiap hari kan Seunghee berlatih di ruang musik sampai jam 6. aku sering bertemu dengannya saat pulang. Dan Jonghyun, dia menunggu di sini sampai jam 6 karena akan pulang bersama Seunghee, bukan karena ingin menemuiku atau semacamnya. Mataku basah. Tanpa bisa kutahan air mata ini keluar dengan sendirinya.

Aku mendekap buku sketsaku semakin erat. Perih. Hanya itu yang kurasakan kini. Pabbo-ah. Harusnya aku tahu sejak awal tidak mungkin Jonghyun menyukaiku. Tidak mungkin aku bisa bersamanya. Seharusnya rasa ini kubuang jauh-jauh sebelum terlanjur terlalu dalam. Kini aku terlanjur mencintainya, dan telah kuberikan seluruh jiwaku. Aku ingin merengkuhnya, aku ingin menggapainya, aku begitu ingin memilikinya. Namun apa daya, aku terjebak dalam lingkaran tak berujung ini. Aku terpaku di tempatku berdiri, menatapnya dengan wanita lain. Aku tak bisa turun melupakannya, pun tak bisa naik menggapainya.

Aku ingin terlepas dari lingkaran ini. Ingin rasanya beranjak dari tempatku kini. Meski aku harus kembali ke titik awal, meski aku harus kembali ke bawah, ke saat di mana rasa ini belum tumbuh. Tapi apa daya, aku tak sanggup. aku tak sanggup mengingkari kenyataan bahwa aku begitu mencintainya.

 

*************

 

~The Next Day~

“Sora-ah, I’m comiiinggg…” teriakan ceria yang khas terdengar di depan pintu. Aku menggigit bibir bawahku. Aku harus bagaimana?

Aku tidak membalikkan badan sedikitpun. Pandanganku terpaku pada kanvas kosong di depanku. Aish, aku tahu aku pasti akan menangis kalau aku melihatnya.

”Ah, mianhae. Kau pasti sedang mencari inspirasi kan? Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu.“ Terdengar suara Jonghyun. Aku tahu saat ini pasti dia sudah duduk di sofa dan mulai membaca komik.

Selama beberapa saat hanya terdengar suara kertas yang dibalik Jonghyun. Sementara aku sendiri hanya memandang kosong ke arah kanvas.

”Yah, rupanya kau selalu menggambarku ya saat aku tertidur?“ terdengar suara Jonghyun memecah keheningan di antara kami. Aku terkesiap mendengar kata-katanya. Aku bangkit dan berbalik dengan cepat. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat apa yang dipegang Jonghyun. Itu buku sketsaku. Dan Jonghyun sedang menatap halaman yang berisi gambarnya. Tidak, tentu saja itu gambarnya, karena semua halaman di buku sketsaku hanya berisi gambarnya.

”Jonghyun-ah, itu…“ lidahku kelu, tak bisa berkata-kata. Wajahku terasa begitu panas.

”Yah, jangan-jangan kau suka padaku ya?“ Jonghyun berpaling dari buku sketsaku dan menatapku sambil tersenyum jenaka.

Pabbo-ah, apa dia tidak tahu betapa sakitnya aku saat dia mengatakan hal itu dengan mudahnya? Apa dia tidak tahu dari tadi aku mati-matian menahan tangisku? Apa dia tidak tahu bahwa perasaanku padaku tidak seringan saat dia mengatakannya? Perasaan ini begitu berat membebaniku dan sangat menyiksaku.

”Ne, aku menyukaimu…“ aku bahkan tidak mempercayai pendengaranku!! Aku bisa mengucapkannya, meski suaraku bergetar menahan tangis. Aku menatap Jonghyun yang terperangah menatapku.

”Mungkin kau menganggapku bodoh. Aku tahu aku tidak pantas untukmu. Aku tahu kau sudah memiliki Seunghee, yang jauh lebih pantas untukmu. Aku tahu itu, aku tahu. Karena itu aku mohon jangan pernah datang lagi. Aku sudah cukup tersiksa dengan semua ini.“ Tangisku pecah dan dengan cepat aku menyambar tasku kemudian berlari meninggalkan ruangan itu sambil menangis.

”Sora-ah.“ Terdengar Jonghyun berteriak memanggilku. Tapi tak kupedulikan. Aku terus saja berlari dengan air mata yang mengalir semakin deras. Tiba-tiba aku menabrak seorang siswi yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Kami berdua pun terjatuh bersamaan.

”Aduh!!“ terdengar erangan kesakitan dari siswi itu saat kami berdua jatuh. Aku pun merasakan lututku begitu perih, dan aku tahu pasti ada darah yang menetes. Tapi suaraku seakan hilang, bahkan hanya untuk sekedar mengerang kesakitan. Yang ada hanya isak tangis yang semakin keras. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.

”Ommo, choungsuhamnida. Aku…aku…aku tidak sengaja tadi. Kau terluka?“ terdengar suara lembut siswi yang aku tabrak tadi. Tampaknya dia mengkhawatirkanku. Ommo, kenapa dia begitu baik? Aku pikir tadi aku akan mendengar caci maki darinya. Aku mengusap air mataku dan menatap siswi itu. Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat siswi itu. Dia..dia..dia Seunghee. Wajahnya tampak mengkhawatirkanku. Aku melihat tas biolanya tergeletak di sampingnya.

”Gwenchanayo? Mianhae, aku tidak hati-hati tadi saat berjalan.“ Melihat wajah cantiknya yang terlihat sangat mengkhawatirkanku, aku menangis lagi.

”Aduh, pasti sakit sekali ya. Mianhae,Mianhae.“ Katanya panik saat aku menangis lagi. Aku menggeleng perlahan. Bukan,bukan, bukan dia yang salah. Akulah yang salah karena berlari tadi.

”Ayo, kita ke UKS.“ Tangannya terulur mencoba membantuku berdiri. Aku mengusap air mataku dan meraih tangannya. Kemudian dia menuntunku menuju ruang UKS.

 

*************

 

~Di Ruang UKS~

Seunghee dengan lembut mengobati lukaku. Aku menggigit bibirku. Rasanya perih sekali.

”Nah, sudah selesai.“ Katanya sambil berdiri dan tersenyum padaku.

”Jeongmal Mianhae, tadi aku tidak sengaja menabrakmu.“ Katanya lagi. Aku menggeleng perlahan.

”Aniyo. Harusnya akulah yang minta maaf. Aku yang menabrakmu tadi. Mianhaeyo.“ Seunghee tersenyum mendengar ucapanku.

”Ah, kau Lee Sora kan? Aku Song Seunghee.“ Dia mengulurkan tangannya. Aku menerima jabat tangannya.

”Dari mana kau tahu namaku?“ tanyaku heran. Biar bagaimanapun aku kan bukan termasuk siswa yang populer.

”Jonghyun cukup sering bercerita denganmu.“

“Ah, aku sudah terlambat. Aku harus pergi. Jalga,Sora-ssi. Senang berkenalan denganmu.“ Katanya saat menatap jam dinding. Dia mengambil tas biolanya dan pergi meninggalkan ruang UKS.

Aku menggigit bibir bawahku. Seunghee benar-benar sangat baik. Andai dia tahu aku mencintai laki-laki yang dicintainya, bagaimana ya reaksinya? Pasti dia akan memakiku dan memandang sinis padaku. Air mataku kembali meluncur turun. Aku ini benar-benar jahat. Seunghee begitu baik padaku. Aku tahu dia benar-benar tulus, dari sorot matanya. Padahal dia tahu pacarnya bersama perempuan lain selama berjam-jam dalam satu ruangan setiap hari, tapi dia masih begitu baik. Dia tidak berpikiran buruk tentangku. Sementara aku malah menikmati kebersamaan itu setiap hari dan yang lebih buruk, aku mencintai pacarnya. Padahal aku tahu aku bukanlah apa-apa dibanding Seunghee. Dadaku kembali terasa sesak. Aku mulai menangis lagi.

”Sora-ah.“ Terdengar suara yang sangat kukenal memanggil namaku. Aku mendongak dan menatap Jonghyun yang sedang berjalan menghampiriku. Dia membawa buku sketsaku.

”Aku mau mengembalikan ini.“ Katanya lirih. Aku meraih buku sketsaku dari tangannya dan mendekapnya erat. Jonghyun menyeret sebuah kursi dan duduk di depanku.

”Sora-ah, Jeongmal mianhae. Aku tidak tahu kalau kau…“ dia tidak melanjutkan ucapannya dan menunduk memandang lantai.

”Aniyo. Aku yang salah. Aku tahu aku tidak boleh menganggapmu lebih dari teman. Kau sudah memiliki Seunghee. Tidak seharusnya aku ada di antara kalian. Dia mencintaimu, dan kau juga mencintainya. Tolong, biarkan aku pergi dari hadapan kalian..“ kataku setengah terisak.

”Kau benar. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Sejak TK hingga SMA kami selalu bersama, bagai tak terpisahkan. Bagiku dia adalah segalanya.“ Jonghyun berkata dengan lesu. Aku menggigit bibirku semakin keras. Hatiku sakit rasanya mendengar dia mengucapkan kata-kata itu.

”Tapi kau salah. Baginya aku hanya sahabatnya saja. Tidak lebih.“ Katanya dengan suara yang bergetar. Aku terkesiap mendengar kata-katanya. Aku menatapnya tidak percaya. Jonghyun yang menyadari kalau aku tidak percaya dengannya tersenyum pahit.

”Kasihan sekali ya aku ini. Aku tiap hari bersamanya. Selama bertahun-tahun tak terpisahkan. Dia begitu dekat denganku, tapi cintanya bukan untukku. Dia malah mencintai laki-laki lain yang jaraknya begitu jauh darinya.“

”Laki-laki lain?“ desisku tidak percaya.

“Ne. namanya Lee Jinki. Dia kakak kelas kami saat SMP, sejak SMA sekolah di Kanada, dan kini kuliah juga di sana. Mereka pacaran sejak kami di kelas 2. jadi, sudah 4 tahun mereka pacaran. Bahkan tahun depan mereka akan bertunangan. Dan anehnya selama 4 tahun mereka pacaran, 3 tahun di antaranya mereka berhubungan jarak jauh” Katanya setengah menggerutu.

”Tapi..seisi sekolah ini tahu kalau kalian pacaran.“ Aku masih tidak percaya mendengar ceritanya.

“Ah itu, yah, kau tahu kan kalau aku ini punya bayak fans. Aku malas mengurusi mereka. Kalau mereka tahu sebenarnya aku tidak punya pacar, pasti mereka akan selalu menggangguku. Karena itu aku meminta Seunghee untuk pura-pura jadi pacarku. Dan itu terbukti cukup membuatku aman. Lagipula Seunghee dan Jinki hyung tidak keberatan. Mungkin Jinki hyung yakin sekali kalau Seunghee sangat mencintainya. Dan itu memang terbukti. Padahal awalnya aku berharap kalau Seunghee akan jatuh cinta padaku saat pura-pura jadi pacarku. Tapi nyatanya sudah 2 tahun tapi perasaannya padaku tidak berubah sedikitpun.” Katanya mengakhiri ceritanya sambil tersenyum jenaka. Aku hanya bisa terdiam. Entah apa yang harus kukatakan.

”Jadi begitu. Rasanya menyenangkan sekaligus menyedihkan. Di satu sisi aku senang karena aku bisa selalu dekat dengan orang yang kusukai. Tapi di sisi lain aku juga sedih, karena perasaannya padaku tak kunjung berubah padaku. Tapi semuanya menjadi begitu berbeda saat aku bertemu denganmu, Sora-ah. Aku suka dengan sifatmu yang polos itu. Aku selalu menantikan saat-saat aku menunggu Seunghee pulang latihan bersamamu. Aku menikmati kebersamaan kita. Entah sejak kapan, tapi perasaanku pada Seunghee berubah perlahan-lahan. Kini aku hanya menganggapnya sahabat, seperti dia menganggapku sahabatnya. Dan aku yakin, orang yang kucintai adalah kau. Lee Sora, Saranghaeyo.“ Dia mengucapkan kata-kata terakhirnya sambil tersenyum lembut, bukan tersenyum jenaka seperti biasanya. Aku hanya bisa menatapnya tak percaya. Aku mulai merasa wajahku panas. Pasti sekarang wajahku sudah sangat merah.

”Aku senang sekali waktu mengetahui kau menggambarku. Tapi aku benar-benar tidak memperhitungkan kalau kau juga mengira aku ada hubungan khusus dengan Seunghee. Mianhae, aku sudah membuatmu tersiksa dengan perasaanmu.“ Aku menunduk malu, menyembunyikan wajahku yang memerah.

”Ne, gwenchanayo.“ Kataku perlahan

.

”Jadi, kau masih mau pergi dariku?“ tany

anya lagi. Aku hanya menggeleng lemah. Dia tertawa dan merengkuhku ke dalam pelukannya. Darahku seketika berdesir, dan jantungku serasa mau lepas.

”Saranghae, Sora-ah.“ Bisiknya perlahan.

”Nado saranghae.“ Jawabku perlahan.

Aku tersenyum bahagia dalam pelukannya. Dialah Jonghyunku. Dialah pangeranku. Pangeran tidur dari mimpi terindahku, yang menjemputku dengan kuda putih

nya.

 

===========E.N.D========

Copyright 2010 SSSFI Publishing

“Dilarang keras mengutip,menjiplak, memfotokopi sebagian atau seluruh FanFiction ini tanpa mendapat izin tertulis dari author”

 

 

About Sannia Kim

Kim Sunggyu official secret crush :D

Posted on 14 November 2010, in Sannia Kim, SHINee Fanfiction and tagged . Bookmark the permalink. 26 Komentar.

  1. Kya . . Kya a a . . . San, keren, ! Hua a a . . . Romantisnye. . . Kekeke,,
    kukira pacar nya Seunghee itu Key, ternyata Onew XDD Klo gini kan, Key masih tetap milikku seutuhnya, egegegegege,
    oyah, mule sekarang dst, qu ngoment ffmu diblog ya? Ama dinotesmu, hehehe, kLo di group, udah rame sih, hahahahayy

  2. Hahahaa wktu itu si sanni masih naksir onew. Skrg dia udah jg lockets, jd onew menjadi milikku. Hahahahaaa.. *plak plak plak😄
    San, cast yg sebenerx bkn jjong kan? Micky ya kalo ga salah *hehe buka rahasia*
    keren lah pokokeee.. jd pengen pinter gambar juga. Trus gambar ayam buat onew deh (?)

    • ga juga, kan aku ngeditnya baru kemarin pas mau dipost, XP
      tapi lagi pengen aja jadi pacarnya onew😉
      kekeke, masih inget tah ya kamu, ini kan ff jaman baheula xD
      ahahaha, onew seneng tuh pasti digambarin ayam XP

  3. Pnya Sania onnie? Slam kenal on..
    Asri a.k.a Orin imnida.. ^o^
    FF’a keren! Romantis!! Bgus! Coba da qu ama key dstu, pasti tmbh bgus. *ditndang ke pluto*
    Btw, tragis bner nsib’a jjong dstu. Oppa, kalau qu yg kau cintai, jinki qu tnggal dh. Haha.. *diplototin Donghae ama Key*

    PS: Piccu’a lucu!😄

    • ne, salam kenal juga yak😉
      kekekeke, makasih, key masih aman di sebelah onnie *ganyambung*
      ahahahaha, saya sih milih jinki dibanding jjong xD

      kekekeke, iya, onnie juga suka piku itu😉

  4. Inget dong san. Aku suka ff ini. Yoochun kan ya castnya kalo ga salah. Biasmu juga kan. Eheheheee..

    Setujuhh ama assri, piku naa lucu lucu lucuuuuuuu😄

  5. huaaaaaa ngebayangin jadi soraaaa !! enak bgt !!

    sumpah ff nya bagus feel nya dapet ^-^

  6. FF yang bgs thor!
    Ska bc FF yang seperti ini..
    heheeh ^^

  7. kereeeenn..!! kirain bakal sad ending lho! E..trnyata Jjong nya juga suka ^^ waahh.. mau juga dong klo punya ruangan pribadi di kampus..jadi pengen.. hehe

  8. Raisa Widiastari

    *selama baca gue selalu mengucapkan: gue itu sora, gue itu sora* *plak*

    yaampuuuun! Aku pengen banget jadi soraaaa!!! Sumpah apapun yang berhubungan dengan Dino-ku, aku akan menyukainya *plak* keren kok! Tapi cintanya Jjong complicated bgt ya! Untung ada (aku) sora!

    10 THUMBS!

  9. enak banget jadi sora… pengen,, pengen,, pengen /plak *abaikan

    udah berduaan mulu, bisa liat wajah’na Jjong lagi tidur,, akhirnya jadian juga,,

  10. Baca dulu ah…

  11. Kasian si jijong cintanya g trbalas… Untung ada sora.. Nice fic author….

  12. wewww kreen thor…

  13. anneyong aq yuni .aka. kwonlovers reader baru dsni^_^

    daebak,,,,,ceritanya romantis abis,ringan dan mengalir sesuai jalan cerita
    untung jjong suka juga ma sora jadi happy ending deh🙂

  14. Jjong kasihan sekali nasibmu nak. Tapi nggak apa, happy ending kan akhirnya. good story author. keep writing !!😀 -hallo saya reader baru, salam kenal :)-

  15. kreeeeennnnn…
    Huaaaahhhh…
    Q ska bgt…
    Daebak chingu…

  16. Itu so sweet sampe di bikin banyak sketsa gitu

  17. Yunjaechunjunmin

    So sweet~~

    aq mw jd sora.
    Xixixi
    biar bsa dkt” ma jonghyun..
    Aq mw.!!!

    Aq tggu next ff..

  18. nice ff…………….
    ^_^

  19. Daebak banget iniii bacanya sambil mesem2 sendiri xD

  20. aishhhh ngiri sekali sama sora

  21. wah…
    Daebak..

    D tmbah aku bacax pke dnger lagu gidarida yg di cover ma taeyeon

    Pkokx daebak deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: