[FF/S/1/PG-15] The Art of Murder

Title: The Art Of Murder

Author: Sannia Kim

Main Casts:

♥ Inspektur Kim Jaejoong

♥  Letnan Park Yoochun

♥  Letnan Kim Junsu

♥  Letnan Song Seunghee

Supported Casts:

♥  Shim Hegi

♥  Lee Yoorim

♥ Jung Yunho

♥ Kang Seunghyuk

Length: 1/7

Rating: PG-15

Genre: Mystery, Action, Romance

A.N: pemilihan judul terinspirasi dari salah satu nama game favoritku, tapi ceritanya berbeda total,

ff ini pernah dishare di grup Cassiopeia Royal dengan berbagai perubahan

 

art-of-murder-by-sannia-kim

Hening menyelimuti ruangan berukuran 8×8 meter itu. Di salah satu sudut ruangan itu terlihat seorang wanita cantik berambut sebahu sedang terpekur serius menatap layar komputernya. Sesekali dia membetulkan letak kacamatanya.

“Yah, serius sekali kau.” Seorang pria tinggi menepuk bahu perempuan itu. Sontak wanita itu menghentikan pekerjaannya dan menatap pria itu dengan sebal.

“Detektif Park, anda tahu kan, saat ini saya sedang bekerja. Jadi tolong jangan ganggu saya.”

“Yah, Letnan Song, kau terlihat semakin cantik saja kalau sedang marah begitu.” Pria itu malah semakin gencar menggodanya.

“Detektif Park, saya..” kata-kata wanita itu terhenti saat interphonenya berdering. Dengan segera dia menjawab panggilan lewat interphonenya.

“Letnan Song, segera ke ruangan saya. Serahkan laporan kasus kemarin.” Terdengar suara seorang pria di seberang sana.

“Baik, Inspektur Kim. “

“Ah, dan satu lagi. Saat ini jam kerja. Jadi sebaiknya anda dan detektif Park tidak mengobrol.”

“Ne, Inspektur.”

Sambungan interphone ditutup. Letnan Song mendengus perlahan dan segera menyiapkan laporannya. Sementara pria yang dipanggil Detektif Park itu tersenyum geli sambil memegang perutnya.

“Yah, Yoochun-ah. Gara-gara kau aku jadi dimarahi kan.” Letnan Song berkata sambil mendengus pada sahabat kecilnya itu.

“Haha. Jadi sekarang kau sudah jadi Seunghee sahabat kecilku, bukannya Letnan Song lagi.” Yoochun tertawa makin keras.

“Dasar kau ini. Sebaiknya kembalilah ke ruanganmu, atau kau akan dimarahi olehnya.” Seunghee beranjak dari kursinya dan menuju ruangan yang persis di depan ruangannya.

“Ara, Ara. Semoga sukses dengannya Seunghee-ah.”  Terdengar langkah kaki Yoochun meninggalkan ruangan Seunghee.

~Seunghee POV~

Here I am. Namaku Song Seunghee. Seorang letnan di kepolisian Seoul. Appaku sendiri yang menjadi kepala kepolisiannya. Meski begitu beliau tetap tidak membedakanku dengan polisi lainnya. Bahkan beliau menempatkanku di bawah pimpinan Inspektur Kim Jaejoong, inspektur termuda sekaligus yang paling tegas. Dia sangat perfeksionis, tidak pernah membiarkan kesalahan sedikitpun. Rasanya aku hampir mati karena sifatnya yang satu itu. Meskipun usianya tidak terpaut jauh denganku-dia itu teman SMA Seunghyun-oppa, kakakku-, tapi lagaknya sudah seperti inspektur senior di sini. Aku jadi pusing dibuatnya. Tiap pekerjaan harus rapi, teliti, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Padahal dulu kurasa dia orang yang baik. Dia itu sahabat Seunghyun oppa, jadi sering sekali ke rumahku. Meski aku tidak pernah berbicara dengannya, tapi dia sangat sopan. Tidak kusangka dia punya sifat monster di dalam dirinya.

Rasanya hampir tidak tahan aku di sini, kalau tidak ada Park Yoochun, sahabatku sejak kecil. Orangnya cuek, ceria, dan terlebih lagi, yang membuatku puas, dia sering berani menentang Inspektur Kim. Sifatnya yang bebas dan sulit diatur itu sering membuat Inspektur Kim naik darah. Tapi karena itu jugalah aku jadi sering dimarahi olehnya. Sepertinya dia sangat tidak menyukai Yoochun, karena tiap kali aku menghabiskan waktuku bersama Yoochun, ada-ada saja alasannya untuk meninggalkan aktifitasku.  Bagiku, dibalik wajah tampannya dan penampilannya yang rapi, dia itu seperti monster yang siap menerkamku dan Yoochun kapanpun.

Kuketuk pintu ruangannya perlahan. Dan tak lama terdengar gumamannya, yang menandakan aku boleh masuk. Kubuka pintu ruangannya, dan aku masuk ke dalam ruangan Inspektur Kim.

“Inspektur Kim, ini laporan yang anda minta.” Aku menaruh laporan itu di meja kerjanya. Dia mengambil laporanku dan mulai membacanya. Jujur saja, wajahnya itu memang tampan luar biasa. Bibirnya tipis, hidungnya mancung dan kulitnya putih bersih. Lalu matanya. Matanya sangat tajam. Kalau tidak tahu kelakuan monsternya, dijamin para wanita tidak akan tahan ditatapnya lebih dari satu menit.

“Lumayan.” Dia menyerahkan laporan itu padaku tanpa ekspresi apapun. Tapi aku cukup senang. Kata Appaku, kata lumayan dari inspektur yang satu ini artinya bagus.Tiba-tiba terdengar suara interphone berbunyi. Inspektur Kim segera mengangkatnya.

“Baik.” Inspektur Kim menutup interphonenya dan memandangku.

“Letnan Song, terjadi pembunuhan di Apartment 305 hari ini. Segera ke lokasi kejadian, dan jangan lupa hubungi detektif Park. Dia yang bertanggung jawab untuk kasus ini.”

“Siap, Inspektur.”

**********

“Korban bernama Shim Changmin, 25 tahun. Diperkirakan waktu kematian pukul 13.00, dengan kondisi tertembak. Yang menemukan mayat pertama kali adalah Shim Hegi, adik korban.” Kemudian Letnan Kim Junsu melaporkan kondisi mayat pada Inspektur Kim.

“Baiklah, Junsu-ah, bawa aku menemui para saksi.” Terdengar suara Yoochun memotong Letnan Kim yang sedang melaporkan kondisi mayat. Inspektur Kim menatapnya dengan tatapan tidak suka. Junsu menatap Inspektur Kim, meminta persetujuan. Inspektur Kim mengangguk samar padanya.

“Letnan Kim, bawa detektif Park menemui para saksi. Saya akan ikut mengawasinya. Letnan Song, awasi pemeriksaan di TKP”

“Siap, Inspektur. Mari, detektif Park, Inspektur Kim.” Junsu melangkah diikuti oleh Yoochun dan Inspektur Kim. Aku mendesah. Sepertinya Yoochun dan Inspektur Kim tidak seharusnya dibiarkan bersama seperti ini.

~End of POV~

~Yoochun Pov~

Kuikuti Junsu menuju sebuah apartment. Diam-diam kulirik inspektur Kim yang berjalan di sebelahku. Raut wajahnya menampakkan ketidak senangan. Aku tertawa puas dalam hati. Hah, rasakan itu, inspektur menyebalkan. Selama ini aku, Junsu, dan Seunghee dibuat pusing olehnya. Kali ini biar aku yang membuatnya pusing.

“Silahkan masuk Inspektur. Saya akan memanggil para saksi satu persatu.” Inspektur Kim memasuki ruangan yang telah dikosongkan. Aku mengikutinya dan duduk di sebelahnya.

Tak lama kemudian masuk seorang gadis muda, kira-kira 20 tahun, ke dalam ruangan. Tidak terlalu tinggi, bertubuh mungil, dan jujur saja sangat imut. Kelihatannya dia sangat shock dengan kejadian ini. Dia terus saja menangis dan menutup wajahnya, sementara Junsu susah payah membujuknya untuk mau diinterogasi. Akhirnya gadis itu mau duduk di depan kami, meski tangisnya belum saja reda dan dia masih terus menutup wajahnya. Inspektur Kim memulai interogasinya.

“Shim Hegi, 22 tahun, mahasiswi di Eunil University. Adik korban, sekaligus orang yang pertama kali menemukan mayat korban. Bisa anda…”

“Tolong berhentilah memanggil kakakku dengan sebutan korban, dan berhentilah mengotopsinya, merusak jenazahnya. Dia sudah cukup menderita meninggal dalam keadaan seperti itu, tolong biarkan dia tenang.. aku..aku…” Hegi mendadak histeris dan menangis makin keras. Kulirik Inspektur Kim. Sial, ekspresi datar dan coolnya itu tidak rusak juga.

“Nona Shim, saya mohon tenanglah…”

“Bagaimana aku bisa tenang. Kau bisa mengatakan hal itu karena dia itu bukan siapa-siapamu.” Hegi memotong ucapan Inspektur Kim. Kulirik lagi inspektur menyebalkan itu. Sial, dia masih saja cool, padahal biasanya dia paling tidak suka kalau ada yang memotong ucapannya.

“Nona Shim, tolong tenang. Anda pasti ingin menemukan siapa yang telah membunuh Tuan Shim bukan? Karena itu, semua pemeriksaan ini sangat diperlukan untuk menemukan pelakunya. Lagipula, kami semua memperkirakan akan adanya korban berikutnya. Anda tentu tidak ingin bukan ada korban yang jatuh lagi. Jadi, tolong ikuti semua prosedur ini dengan tenang, nona.” Terdengar suara lembut Junsu, sementara dia mengusap lembut kepala Hegi. Ommo, aku bahkan tidak tahu kalau dia bisa selembut ini.Hegi tampak sedikit lebih tenang setelah Junsu mengatakan hal itu. Isak tangisnya berhenti.

“Chongsuhamnidah Letnan Kim, Inspektur Kim. Saya akan menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin.” Katanya dengan suara yang sedikit serak. Inspektur Kim hanya mengangguk samar.

“Shim Hegi, 21 tahun, mahasiswi di Eunil University. Adik dari Shim Changmin, sekaligus orang yang pertama kali menemukan mayatnya. Bisa anda ceritakan kronologi saat anda menemukan kakak anda?” mwo? Tidak biasanya inspektur yang satu ini mau merubah apa yang sudah diucapkannya. Hegi tersenyum tipis mendengan Inspektur Kim tidak memanggil kakaknya dengan sebutan ‘korban’ lagi.

“Saat itu saya baru saja pulang kuliah. pintu tidak terkunci, jadi saya langsung masuk. Saya sangat kaget saat melihat oppa yang tidak sadarkan diri dan mengeluarkan darah banyak sekali dari dadanya. Karena panik, tanpa pikir panjang saya segera berteriak. Kemudian semua penghuni apartment di lantai ini datang kemari. Tapi saat diperiksa oppa sudah…” Hegi tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. Dia terisak pelan. Junsu segera mengusap kepalanya perlahan, mencoba menguatkan Hegi. Hahahaha, sepertinya Junsu sangat tertarik pada gadis kecil yang satu ini.

“Baiklah, bagaimana kondisi ruangan saat anda menemukan Tuan Shim?” inspektur Kim melanjutkan interogasinya seolah-olah dia tidak melihat apapun.

“Kondisinya sangat rapi, seperti saat saya pergi tadi pagi.” Inspektur Kim mengerutkan keningnya. Aku mengerti keheranannya, aku pun merasakan ada kejanggalan di sini. Kejahatan ini terlalu rapi dan bersih. Apa ini kasus bunuh diri? Tapi, seharusnya pistol yang dia gunakan untuk membunuh ada di sekitar TKP. Sementara dari pemeriksaan Junsu tadi, tidak ada senjata apapun di TKP. Inspektur Kim melemparkan pandangan padaku, dan dia mengangguk pelan, mengerti maksudku.

“Ehm, Nona Shim, tolong ingat baik-baik. Benarkah anda tidak menemukan sesuatu yang aneh di ruangan tempat Tuan Shim ditemukan?” aku mengambil alih tugas inspektur Kim. Gadis itu terdiam sejenak. Dia mengerutkan keningnya, tampaknya sedang mengingat-ingat sesuatu.

“Ah, Ne. Aku menemukan ada sesuatu yang aneh. Tapi aku juga tidak terlalu yakin.” Gumam gadis itu pelan.

“Aku…sebelum berteriak, sempat melihat sebuah pistol di dekat jenazah kakakku.” Aku dan Inspektur Kim terkesiap mendengar ucapan gadis itu. Kami berpandangan, dan tanpa dikomando kami melemparkan pandangan pada Junsu. Junsu sendiri tampak sedang berpikir keras. Diketuk-ketukkan jari telunjuknya di bibir tipisnya.

“Tapi aku tidak menemukan apapun di sana. .” gumamnya lirih, tapi cukup bisa didengar semua yang ada di ruangan ini.

“Itu dia yang aneh. aku yakin sekali melihat pistol di sana. Tapi saat semua orang sudah datang dan kami sepakat memanggil polisi, pistol itu sudah tidak ada lagi.” Hegi segera menyahut. Aku, Inspektur Kim, dan Junsu saling melempar pandangan. Kami tersenyum bersamaan, memahami jalan pikiran masing-masing.

“Baiklah, Nona Shim. Pertanyaan terakhir. Siapa saja yang datang ke tempat ditemukannya jenazah kakak anda setelah anda berteriak?” inspektur Kim segera menguasai dirinya, dan melanjutkan interogasi.

“Semuanya penghuni yang tinggal di lantai ini.  Yunho, Seunghyuk oppa, dan Yoorim onnie.” Jantungku hampir berhenti rasanya mendengar nama terakhir yang disebutkan Hegi. Yoorim. Yoorim. Yoorim. Nama itu seketika bergema di kepalaku. Membuatku teringat masa SMAku.

~Flashback~

“Oppa, aku mau kita putus.”  Mwo? Aku menatap gadis di depanku dengan heran. Kenapa dia tiba-tiba minta putus?

“Yoorim-ah, are you kidding me?”

“Sirheo. Aku serius oppa.”

“Waegure? Kenapa tiba-tiba kau minta putus begini?” aku menatapnya tidak percaya.

“Aku….aku…oppa, kau menyukai Seunghee onnie kan?” mwo? Ada apa lagi ini?

“Tentu saja. Dia itu kan sahabatku sejak kecil, mana mungkin aku tidak menyukainya.”

“Aniyo, bukan suka yang seperti itu. Tapi..” sejenak dia terdiam, tampak ragu melanjutkan kata-katanya. Tapi dia tidak perlu melanjutkan kata-katanya. Aku sudah paham apa yang dia maksud.

“Arasseo. Kau cemburu padanya kan? Kau ingin mengatakan kau terganggu dengan kedekatan kami?” aku menatapnya tajam.

“Aku,,aku…” dia menundukkan wajahnya, berusaha menghindari tatapanku.

“Arasseo. Aku sangat mengerti maksudmu, tanpa kau jelaskan. Tapi aku tidak akan pernah bisa memilih kalau aku diharuskan memilih antara kau atau Seunghee. Kalau kau memang terganggu dengan persahabatan kami, memang lebih baik kita putus. Aku dan dia sudah bersahabat sejak kita belum saling mengenal.”

“Arasseo,oppa. Karena itu aku minta putus.”

“Baik, kita putus. Hanya saja satu hal yang ingin aku tegaskan padamu, aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya mengenggapnya sahabatku, tidak lebih.”

~End of Flashback~

“Kamsahamnida, nona Shim. Letnan Kim, antar nona Shim ke tempat saksi lain dan panggil Letnan Song kemari.” Suara Inspektur Kim membuyarkan lamunanku. Tak lama kemudian Seunghee masuk ke dalam ruang interogasi bersama dengan Junsu.

“Letnan Song, bagaimana pemeriksaan di TKP? Apakah anda menemukan sebuah pistol?” inspektur Kim segera memastikan hal itu pada Seunghee.

“Tidak, inspektur. Tidak ada barang bukti sedikitpun di TKP. Kejahatan ini terlalu bersih.”

“Letnan Kim,apakah ketiga nama yang disebutkan nona Hegi tadi saksi dari kasus ini?” inspektur Kim mengalihkan pandangannya pada Junsu.

“Ne, Inspektur.”

“Baiklah, kita lanjutkan interogasi. Silahkan panggil saksi berikutnya, Letnan Kim. Dan Letnan Song, ikut interogasi ini.”

“Siap, inspektur.”

Tak lama kemudian muncul lah saksi kedua. Seorang pria tinggi dan tegap. Kulitnya kecoklatan. Wajahnya hampir tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sorot matanya dingin dan tajam. Hmm, lumayan juga. Sekilas kulirik Inspektur Kim. Wajahnya hampir sama seperti saksi yang satu ini, tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Jung Yunho, 26 tahun, seorang akuntan di Bank of Seoul.” Pria bernama Yunho itu hanya mengangguk samar, sambil tetap menatap tajam pada Inspektur Kim. Inspektur Kim pun tidak kalah tajam menatap Yunho.

“Apa yang anda lakukan pada pukul 12 sampai 13?”

“Tidur.”

“Hmm, apa anda tinggal sendiri di apartment anda?”

“Ne.”

“Kalau begitu tidak ada yang bisa membuktikan kalau anda tidur saat terjadi pembunuhan?”

“Jadi anda berpikir kalau saya yang membunuh Changmin?” Yunho berkata datar tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Inspektur Kim. Hebat juga dia, bisa melawan tatapan tajam Inspektur Kim.

“Tidak. Hanya saja, alibi anda kurang kuat. Baiklah, selanjutnya mungkin akan ada pemeriksaan lebih lanjut pada para saksi. Untuk saat ini, cukup. Kamsahamnida.” Kata Inspektur Kim datar, dan mengalihkan pandangannya pada Junsu. Junsu mengangguk pelan, dan segera mengantar Yunho keluar dari ruangan sekaligus memanggil saksi ketiga. Aku melirik Seunghee, dan dia hanya mengangkat bahunya. Huh, situasi yang cukup menegangkan tadi. Aku tidak heran kalau mereka akhirnya bertengkar.

Kemudian datanglah saksi ketiga dan Junsu yang memasuki ruangan. Seorang pria, tidak terlalu tinggi. Berbeda dengan saksi kedua tadi, wajahnya sangat ranah. Apa mungkin ini karena matanya yang sangat sipit?

“Kang Seunghyuk, 24 tahun, seorang apoteker.” Pria yang bernama Seunghyuk itu hanya mengangguk saja.

“Apa yang anda lakukan pada pukul 12 sampai 13?”

“Saya di apotek sejak pagi, dan baru pulang sekitar pukul 12.30. saat sedang berjalan di lorong, tiba-tiba saya mendengar jeritan Hegi. Karena kaget, saya pun segera ke apartment Hegi.”

“Hmm, jadi anda di apotek sejak pagi. Apa ada orang yang bersama anda di apotek?”

“Tentu. Park Jaeyong, asisten saya bahkan bersama saya terus di laboratorium. Selain Jaeyong juga ada Han Eunsang dan Kim Haqye, yang menjaga apotek saya.”

“Baik, alibi anda cukup kuat. Kamsahamnida.” Seunghyuk mengangguk sambil tersenyum dan pergi dengan diantar oleh Junsu. Berarti tinggal saksi terakhir. Kalau Yunho dan Seunghyuk sudah diperiksa, berarti Yoorimlah saksi keempat kasus ini. Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Apa benar dia Yoorim yang itu?

Terdengar pintu berderit. Saksi keempat pun masuk ke dalam ruangan. seketika jantungku serasa berhenti, saat melihat seorang wanita manis berambut sepunggung memasuki ruangan. benar, dia Yoorim yang itu.

“Lee Yoorim?”  susah payah kugerakkan lidahku yang kelu. Yoorim pun tampaknya sama terkejutnya denganku. Dia menatapku tak percaya.

“Yoochun oppa.” Bisiknya lirih, kemudian dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Annyeong, Yoorim-ah.” Kata Seunghee saat tatapan mereka bertemu. Yoorim hanya tersenyum pada Seunghee.

“Lee Yoorim, 22 tahun, seorang penyiar di Seoul FM.” Yoorim hanya mengangguk sambil menunduk. Mwo? Jadi sekarang dia jadi penyiar radio?

“Apa yang anda lakukan pada pukul 12 sampai 13?”

“Ehm…saya sedang tidak ada jadwal siaran, jadi sejak pagi saya di rumah. Saya sedang bersih-bersih rumah saat mendengar teriakan Hegi.”

“Anda tinggal sendirian?” yoorim mengangguk pelan.

“Hmm, baiklah, cukup untuk hari ini. Tapi mungkin besok kami akan menghubungi anda lagi jika memerlukan keterangan. Kamsahamnida.” Yoorim mengangguk pelan, dan kemudian dia tampak terburu-buru meninggalkan ruangan.

 

===========T.B.C========

Copyright 2010 SSSFI Publishing

“Dilarang keras mengutip,menjiplak, memfotokopi sebagian atau seluruh FanFiction ini tanpa mendapat izin tertulis dari author”

 

About Sannia Kim

Kim Sunggyu official secret crush :D

Posted on 11 Desember 2010, in Sannia Kim, Shinki Fanfiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Kayaknya aku dah pernah baca di notesmu deh san, hihihi, tapi alurnya lupa2 ingat /gubrakkk dan kayaknya belum sampe ending bacanya, hehehehe, bagus deh.. Suka bgtt genre action u.u bikin deg2gan sih … Ayo cepet dilanjut XDD Penasaran siapa yang bunuh mantan suami saya *??*

    • emang ‘pernah’ ada di noteku sus, kekekeke
      tapi yang ini banyak yg diedit -,-a
      udah lebih bersih, kekekekeke
      iyo,iyo, minggu depan klo ga ada acara aku post lanjutannya, kekekeke
      lha? ternyata changmin mantanmu (?)

  2. Penasaran sama yang bunuh changmin..
    Kawai admin
    semangat!! Lanjutkan!

  3. Karakter jaejoong gag sama kaya’ aslinya yang… ???
    Keren thor, jangan lama2 kelanjutannya, bisa bengkek punggungku nanti, ^^v

  4. waow, pistolnya ngilang cepet bgt, jgn2 diambil hantu tuh! *dicemplungin ke got ama author
    lanjut!

  5. wah wah …
    saya baca ulang lg xDD
    teruskan hobimu (lbh tepatnya bakat) ya san😀

  6. keren admin ^^d
    FF genre action, drama, tapi ada detective nya juga. saya suka.. ^^

    di bagian interogasi, kok rasanya cepet banget gitu ambil kesimpulan, trus langsung menyudahi interogasi. rasanya kurang nendang bacanya.. ^^”

    dibagian ….“Aku…sebelum berteriak, sempat melihat sebuah pistol di dekat jenazah kakakku.”…
    ini rasanya janggal. kalau dipikir, jika kita tiba-tiba melihat korban pembunuhan, tentu kita langsung panik, pandangan kita terfokus pada korban tersebut, lalu refleks berteriak. mana mungkin saksi apalagi wanita bisa melihat detil saat tiba2 melihat korban pembunuhan yang berada di depannya.

    maaf, komentar saya kebanyakan. *bow*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: