[FF/S/1/PG-17] We Got Baby

Title : We Got Baby

Author : Mithaa Charinyoung a.k.a Min Soo Jin @ S3FFI

Main Cast :

Lee Jin Ki (Onew) SHINee , Min Soo Jin (YOU-readers)

Support Cast :

Other SHINee member, Park Seong Rin (Assri  sweety XD), Jung Yu Ri (fictional), Lee Dong Hae, and other ^^

Length : Series

Genre : Romance

Rating : STRAIGHT/ PG-17


Sebuah ruangan serba putih, dengan aroma obat-obatan yg sedikit menyengat dan membuatku mual luar biasa. Dan aku sekarang berada di ruangan ini, salah satu ruangan di Rumah Sakit Internasional Seoul tepatnya di ruang praktek salah satu dokter.

Aku menunduk seraya meremas tanganku. Sedikit gugup dengan hasil pemeriksaan dokter nanti.

“Maaf membuatmu lama menunggu, nona”,

suara sang dokter membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat kepalaku menatap dokter itu harap-harap cemas. Kumohon jangan sampai ia mengatakan hal itu.

“Selamat nona, anda positif”

Glek! Itulah kalimat yang sangat aku hindari. Tapi justru itulah yang keluar dari mulut sang dokter.

Aku terdiam kaku, masih menatap sang dokter. Ia menyodorkan sebuah amplop, yang berisi hasil pemeriksaanku. Aku berusaha untuk mencerna perkataannya. Kumohon ia hanya bercanda. Namun seberapa kali pun kudesak, semua pemeriksaan itu yang membuktikan bahwa memang perkataannya benar. GOD! Are you kidding me?

***

Ini mimpi. Ya, ini pasti mimpi. Ini mimpi buruk. Bangunlah Min Soojin. Bagaimana bisa kau bertahan dengan mimpi buruk ini, hah?

Aku memukul wajahku dengan telapak tanganku sendiri. Shit! Sakit. Jadi ini bukan mimpi? ARRGGHHHHHHH….

Aku mengambil ponsel dari tas ku dan menekan nomor yang sudah sangat kuhapal.

“Yeoboseyo”, sahut suara di ujung sana.

“Seongrin-ah. Aku kerumahmu sekarang yah. Tunggu aku”

“Ah ya baiklah. Tapi aku belum..”

tiitt tiittt..

Aku segera memutuskan sambungan. Jika kuladeni, maka pulsaku akan habis hanya untuk mendengar celotehannya.

***

Aku menatap kedua anak Seong Rin yang sedang bermain. Yoo Jin, putra pertamanya sedang berusaha menyusun puzzle, sedangkan Hye Won berusaha menyelesaikan rubik. Aku hanya tersenyum menatap kelakuan mereka.

“Tumben kau kemari”, seru Seong Rin yang tiba-tiba sudah ada di sampingku dan meletakkan 2 gelas jus jeruk di meja di hadapan kami.

“Seong Rin-ah”, panggilku tanpa menatapnya. Aku sibuk melihat kelakuan anaknya.

“Apa tidak sulit mengurus 2 orang anak”

“MWO?”, aku menoleh padanya dan melihat ekspresi bingung yang terpampang jelas di wajah imutnya.

“Apa kau tidak lelah?”

“Emm, memang cukup merepotkan sih. Tapi dengan kehadiran mereka, hidupku juga semakin lengkap. Apalagi Dong Hae adalah suami yang baik dan selalu memperhatikanku”, terangnya.

“Tunggu! Ada apa kau bertanya begini?”, tanyanya selidik.

“Anni. Hanya ingin tahu”

“Soo Jin-ah, kau ha..hamil?”, tanyanya setengah berbisik. Aku menatapnya ragu-ragu. Haruskah kukatakan yang sebenarnya pada Seong Rin? Dan akhirnya aku mengangguk pelan.

“WAHAHAHAHAAAAA. AKHIRNYAAAAA”

“YYA! Tidak lucu Park Seong Rin”

“Memang tidak lucu. Tapi itu kabar bahagia. Aduh aku senang sekali Soo Jin-ah”

“Aku bahkan menganggap ini mimpi buruk”

***

Aku, Min Soo Jin, seorang gadis berusia 20 tahun, mahasiswa salah satu universitas jurusan desain. Awalnya hidupku biasa-biasa saja. Menjalani hidup layaknya remaja normal, kuliah, kerja tugas, jalan-jalan, bersenang-senang dan lain-lain. Namun semua akhirnya menjadi sebuah mimpi buruk. Orang tuaku tiba-tiba menjodohkanku dengan anak sahabatnya, yang kutau adalah seorang anggota boyband. Damn! Artis? Oh aku akan menjadi manusia terkutuk yang menikahi seorang artis. Apa jadinya kalau fansnya di seluruh dunia tahu? Bisa-bisa sisa hidupku hanya akan dihantui dengan kelakuan mereka -_-

Namun seluruh keluarga besarku dan keluarga calon suamiku berusaha untuk meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Mereka yang akan menanggungnya. Bagaimana bisa aku begitu percaya dengan mereka. Cih!

Dan kami pun menikah. Acara resepsi pernikahan kami diadakan sesedehana mungkin. Hanya ada keluarga serta kerabat dari kedua belah pihak. Pers pun tidak diundang. Bukannya kami menyembunyikan pernikahan ini, tapi kami hanya tidak ingin terlalu di ekspose.

Orang tua Jin Ki menyewakan apartement yang menurutku sangat mewah untuk kami berdua. Apartment kami bahkan satu gedung dengan apartment SHINee, sehingga Jin Ki tidak perlu bolak-balik apartment kami dengan apartment SHINee.

Meski tinggal dalam 1 atap, tapi kami tidak tidur dalam 1 kamar. Aku yang memintanya. Aku masih 20 tahun, dan aku belum siap untuk sekamar dengan orang yang bahkan belum kukenal dengan baik. Jin Ki bahkan jarang tidur di apartment kami. Dengan kesibukannya, ia jadi lebih sering di apartment SHINee dibanding apartment kami. Jadi kesimpulannya, kami belum pernah sama sekali ‘bersentuhan’. Jangankan ‘bersentuhan’, bertemu saja kami jarang. Dan, aku…hamil? Ya, aku sedang mengandung, dan aku yakin ini adalah benih Jin Ki. Aku berani bersumpah aku tidak pernah melakukan hubungan ‘seks’ dengan pria lain.

Ah yaa, aku hampir lupa. Aku pernah sekamar dengan pria ‘tahu’ itu. Tapi aku yakin aku tidak melakukannya. Oh God, apa yang terjadi denganku?

***

FLASHBACK

“Bagaimana rasanya menikahi seorang artis?”, tanya Seong Rin, sahabatku. Kami sedang menikmati beberapa cemilan serta beberapa botol soju yang dibawa olehnya. Aku memintanya mengunjungiku.

“Well, entahlah. Aku tidak tahu”

“Kenapa tidak tahu?”

“Suamimu juga seorang artis, Park Seong Rin. Kau pasti tahu rasanya”, aku kembali meneguk botol sojuku. Aku hampir mabuk sekarang.

“Itu beda. Aku menikah dengan Dong Hae karena kami memang saling mencintai. Sedangkan kalian? Saling kenal saja tidak kan?”

“Heemmm”

“Hey Soo Jin-ah, sepertinya kau sudah mabuk”

“Hhhh.. Apa sih mau orang tuaku itu. Kenapa mereka menjodohkanku dengan artis? Aku lebih senang kalau menikah dengan orang biasa saja”

“Kau mabuk, Min Soo Jin”, kudengar suara Seong Rin samar-samar. Dan detik berikutnya, aku sudah tidak merasakan apa-apa. Aku tertidur.

***

“Hooaaammphhh”, aku menggeliat di tempat tidurku. Aku melihat keadaanku yang hanya berbalut pakaian dalam. Ah, pasti Seong Rin yang menggantinya, semalam aku pasti mabuk berat. Aku merubah posisiku menjadi duduk dan menoleh ke samping kiriku. Sebuah gundukan yang sangat besar terbentuk di tempat tidurku dan hanya ditutupi oleh selimut. Apa ini hanya bantal?

Aku menarik selimut itu. Aku bersumpah, semoga aku salah liat.

“KYAAAAAAHHHHHHHH”, teriakku sekeras-kerasnya dan menarik selimut untuk menutupi badanku.

Gundukan itu, yang sebenarnya adalah Lee Jin Ki, suamiku segera bangun dan menatapku.

“Berisik, tau!”

“A.. A.. Apa yang kau laku..lakukan disini?”, tanyaku masih shock. Sedangkan ia hanya tenang-tenang saja mengucek-ngucek matanya. Ia bahkan sedang bertelanjang dada sekarang.

“Harusnya aku yang bertanya itu. Ini kamarku, dan kenapa kau bisa tidur disitu?”, tanyanya dengan raut wajah yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia shock.

“Ini kamarmu?”

Ia memutar bola matanya dan beranjak dari tempat tidur meninggalkanku sendirian.

“Apa yang telah terjadi??”, tanyaku pada diriku sendiri. Aku masih membungkus tubuhku dengan selimut. Aku mengingat-ingat semua rentetan kejadian semalam.

Well, aku sedang berdua di ruang tengah bersama Seong Rin. Tidak lama kemudian, aku ambruk, sepertinya aku mabuk. Dan selanjutnya…. Ahhh, aku benar-benar tidak ingat. Ada apa ini? Kenapa aku malah terdampar di tempat tidur Jin Ki.

“Kau takut aku telah melakukan sesuatu padamu?”, suara Jin Ki mengagetkanku. Ia sudah kembali dan hanya mengenakan celana jeans panjang dan tanpa atasan. Kenapa orang ini sering sekali bertelanjang dada, hah?

“Heh apa yang sebenarnya terjadi”

“Menurutmu?”

“A.. A.. Aku tidak ingat”

Ia berjalan menghampiriku dan duduk di pinggiran tempat tidur.

“Kumohon katakan yang sebenarnya”, pintaku dengan nada memelas.

Ia menatapku sejenak seraya menyeringai kecil. Ia mengambil jam tangan yang ada di buffet samping tempat tidur.

“Semalam aku mabuk berat. Aku hanya berjalan menuju kamarku dan segera tertidur”, sahutnya seraya memakai jam tangannya.

“And what happen next, aku sungguh tidak tahu, nona”, ia menatapku dan menyeringai sinis.

“Tapi.. Tapi kau tidak.. Ehmm.. Me.. Melakukan itu kan?”, tanyaku dengan nada suara serendah mungkin.

Ia berjalan menuju lemarinya, mengambil sebuah kaos dan mengenakannya.

“Sudah kubilang aku tidak tahu. Tapi, yahh.. it can be”

“YYA! Lee Jin Ki, kau…”

“Kita suami-istri Min Soo Jin. Kalau aku melakukan itu, itu sah-sah saja kan?”, ia menatapku tajam dan menyunggingkan sebuah senyum nakal.

“MWOOO????”

Ia menghampiriku dan menatapku sekilas. Sedetik kemudian, ia mengecup pelan keningku.

“Aku pergi dulu, istriku”

***

Bagus! Sekarang hanya untuk mandi saja aku tidak bisa konsentrasi. Foam pencuci muka bahkan kupakai sebagai pasta gigi. Arrrgghhh. Shit!

Demi Tuhan, aku ingin merebus, mencincang, memblender, menumbuk laki-laki itu. Lee Jin Ki, yang notabene adalah suamiku. Ia berhasil membuatku uring-uringan tidak jelas seperti sekarang. Apa yang telah dilakukannya semalam? Benarkah ia sama sekali tidak menyentuhku? Hhhh.. Kurasa tidak. Semalam ia juga mabuk kan? Pasti ia hanya tertidur pulas.

Aku mencoba menelepon Seong Rin untuk meminta keterangannya.

“Yeoboseyo. Ada apa Soo Jin-ah?”

“Ehm, Seong Rin-ah. Aku ingin tahu apa yang terjadi semalam”

“Semalam? Ahh ya. Kau mabuk, dear. Setelah minum 2 botol soju, kau tiba-tiba ambruk. Hahahaa.. Kau tidak kuat minum rupanya”, terangnya sambil tertawa.

“Setelah itu?”

“Hemm.. Setelah itu, aku menggotongmu menuju kamar. Aku mengganti pakaianmu dengan pakaian dalam. Kemudian, aku..”

“Apa kau membawaku ke kamarku?”, potongku.

“Aku tidak begitu yakin itu kamar siapa”

DANG! Berarti benar Seong Rin yang membawaku ke kamar Jin Ki.

“Kau tidak bertemu Jin Ki?”, tanyaku lagi.

“Anni. Setelah mengganti pakaianmu, aku langsung pulang dan tidak bertemu siapa-siapa”

“Seong Rin-ah, apa dengan melakukan hubungan seks sekali, wanita bisa hamil?”, tanyaku terbata-bata.

“Ehm molla. Tapi itu sih bisa saja”

“Mwo???”

“Ada apa?”, tanyanya dengan nada sedikit tinggi.

“Gwenchana. Ah ya Seong Rin aku masih ingin bertanya”

“Tanya apa?”

“Kalau pria dalam keadaan mabuk, apa ia bisa melakukan itu? Maksudku.. Yah, kau tahu, -seks?”, tanyaku berhati-hati.

“Ehm, ya bisa saja. Bahkan mereka semakin bernafsu kalau dalam keadaan mabuk”

Shit! Aku benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.

“Hey, sebenarnya ada apa? Jin Ki semalam pulang yah?”

“Ahh anni. Baiklah. Sudah dulu yah. Bye”

LEE JIN KI, apa yang sebenarnya telah terjadi? -____-

END OF FLASHBACK

***

Aku berkutat dengan semua tugas-tugas kuliahku yang semakin menumpuk. Meski sekarang statusku adalah istri seseorang, namun aku juga tetap harus menyelesaikan pendidikanku.

Kutatap sesekali surat hasil pemeriksaanku kemarin. Ya, hasil pemeriksaan bahwa aku memang positif hamil. Arrgghhhhh.. Ini mimpi yang terlalu buruk.

“Hey, bukannya aku tidak menginginkanmu. Tapi bisakah kau datang di saat aku sudah siap saja, hah?”, kataku seraya menatap perutku yang sekarang telah dihinggapi oleh janin manusia.

“Apa yang harus kulakukan padamu? Aku benar-benar belum mau menjadi ibu”, aku menunduk mengelus perutku. Hhhhh…

Tiba-tiba pintu utama terbuka, seseorang telah masuk.

“Hey, aku pulang”, sahut sebuah suara, suara Jin Ki.

Aku cepat-cepat mengambil surat hasil pemeriksaanku, menyembunyikannya, dan kembali berkutat pada tugasku.

“Sedang apa?”, tanyanya.

“Apa kau tidak lihat, aku sedang mengerjakan tugasku”, jawabku sedikit sinis tanpa menatapnya. Aku mendengar langkah kakinya yang mendekat. Sepertinya ia menghampiriku.

“Kau tidak menyambut suamimu?”, tiba-tiba ia sudah duduk di sampingku.

“Memang aku harus melakukan apa?”

“Hemm, setidaknya memelukku? Atau bisa dengan menciumku?”

Plakkk..

“Jangan harap, Lee Jin Ki”, aku mendaratkan sebuah penggaris 30 cm tepat di kepalanya. Ia meringis kesakitan dan mengelus kepalanya.

“Heh, aku ingin tanya 1 hal”, aku berbalik menghadapnya.

“Apa?”

“Apa kau benar-benar tidak melakukan apa-apa malam itu?”

Ia berhenti mengelus kepalanya dan menatapku bingung.

“Maksudku, kau tidak melakukan..yah kau tahu, hubungan suami istri?”, ucapku setengah bebisik.

Ia tertawa, bahkan tertawa sekeras-kerasnya.

“YYA! Aku tidak menyuruhmu tertawa, bodoh”

“Harus kukatakan berapa kali, hah? Aku benar-benar tidak ingat. Aku mabuk, dan hanya menikmati tidurku”

Aku menghela nafas panjang. Apa ia benar-benar tidak melakukannya.

“Memang kenapa kalau aku benar-benar melakukannya?”, tanyanya seraya menyeringai padaku.

“Mwo?”

“Aku memang tidak ingat, tapi kurasa..aku seperti melakukan.. Hemm. Yah..”

“Melakukan apa?”, tanyaku cemas. Ia semakin mendekat hingga wajahnya hanya beberapa centi dari wajahku.

“Touch you~”

“Aa.. Apa? Ka kauu..”, belum sempat aku mengambil tindakan ia sudah berjalan meninggalkanku.

“Anyway”, ia kembali berbalik, “Nice body, honey~”

“LEE JIN KIIIIIIIIIII”

***

Gah! Sudah berapa gelas air mineral yang kuhabiskan sekarang, namun otakku belum juga bisa berpikir dengan jernih. Tidur pun aku tidak bisa. Aku yakin sekarang dibawah mataku terbentuk lingkaran hitam. Tapi aku tidak peduli. Masa bodoh!

Aku masih tidak habis pikir dengan pernyataan Jin Ki kemarin. Jadi benar ia melakukannya? Hahh.. Apa semua lelaki seperti itu? Meski aku istrinya, tapi aku belum siap. Aku bahkan tidak pernah berpikiran untuk melakukan hubungan suami-istri dengannya.

“Begadang semalaman, honey?”, sahutnya yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Berhenti memanggilku seperti itu”

“Waeyo? Aku suamimu”, ia duduk dihadapanku, di meja makan, dan menatapku secara intens.

“-_-”

Aku meninggalkannya sendirian dan menuju dapur menyiapkan sarapan.

***

“Sudah beritahu Jin Ki?”, tanya Seong Rin saat aku mengunjungi kafenya.

“Belum, dan tidak akan pernah”

“Mwo??”

“Paling-paling jika aku memberitahunya, ia hanya menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku”

“Ia artis, kan? Dan sekarang ia berada di masa puncaknya. Tidak mungkin jika ia harus diberitakan telah memiliki seorang bayi. Hohh. That was silly”, lanjutku dan menyeruput kopi yang ia sediakan.

“Lalu apa tindakanmu selanjutnya?”

“Entah. Mungkin aku akan benar-benar menggugurkannya”, jawabku sekenanya.

“KALAU KAU SAMPAI MEMBUNUH JANIN ITU, AKU AKAN MEMBERI TAHU SEMUA INI PADA JIN KI, BAHKAN PADA KELUARGAMU. KAU TIDAK..mmm..mmm..”

“Hey, calm down”, aku membekap mulut Seong Rin dengan telapak tanganku. Ia berusaha membukanya dan akhirnya berhasil.

“Tidak usah berteriak seperti itu”, ucapku menenangkannya.

“Semua karena kau. Awas saja kalau kau berani membunuhnya, kau akan..”

“Iya.. Iya aku tahu. Aku tidak akan membunuhnya”

“Bagus!”

“Setidaknya bukan sekarang”, bisikku.

***

Kehamilanku akhirnya memasuki usia 3 bulan, dan aku masih berhasil menyembunyikannya dari Jin Ki. Perutku kini sudah terlihat sedikit buncit sehingga aku terpaksa mengenakan pakaian yang longgar belakangan ini.

Akhir-akhir ini Jin Ki lebih sering menghabiskan waktunya di apartment kami dibandingkan apartment SHINee. Pertemuan kami pun lebih intensif dibandingkan sebelumnya, meskipun hanya diisi dengan perbincangan biasa.

Aku mengupas mangga yang kubeli dari supermarket kemarin. Ya, aku ngidam. Dan jujur ini cukup menyiksaku T,T

“Kau makan mangga?”, tanya Jin Ki yang baru saja pulang dari kegiatannya yang entah itu apa. Aku hanya menatapnya sekilas dan melanjutkan aktivitas mengupas manggaku.

“Tidak biasanya”, tuturnya dan duduk di hadapanku.

“Bukan urusanmu”, ujarku cuek. Tiba-tiba ia mendekatkan tangannya ke pipiku dan mencubit pipiku pelan. Kenapa orang ini?

“Hey…”

“Kau gemukan, Soo Jin”, ia menatapku tajam.

“Me.. Memangnya kenapa? Apa salah kalau aku gemukan?”

Ia kembali menatapku bingung dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Heh Lee Jin Ki, emm..kau..kau tidak pernah berpikir untuk bercerai dariku?”, sahutku serius. Aku menghentikan aktivitas mengupas manggaku dan menatapnya dalam.

“Mwo? Maksudmu?”

“Hey jangan bodoh. Kau artis. Usiamu juga masih muda. Pernikahan kita hanya rahasia. Namun tidak menutup kemungkinan kan kalau pernikahan ini benar-benar terkuak”

“Lalu?”

“Apa kau tidak malu kalau fans-fansmu sampai tahu kalau kau sudah menikah, hah?”

“Emm.. Tidak!”

“Apa?? Jangan gila Lee Jin Ki”

Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku. Ia berdiri di belakang kursiku dan mendekatkan kepalanya denganku.

“Sayangnya, aku mulai mencintai istriku”

Glekk! Apa-apaan ini. Aku diam sepersekian detik dan CUP! Ia mengecup lembut pipiku

======= TBC =======

A. N.

Saengil chukkahae Uri chicken freak dubu-tofu sangtae leader ONEW my hubby *apa dehhh*

Selamat ulang tahun suamiku ^^

FF ini emang dibuat khusus buat ngerayain ultah Onew. Hahhaha. Awalnya mau dibikinin oneshot, tapi males (???)

Maap yee kalo ada yang ga suka. Maklumlah, yang bikin juga orang gila kok. Wahahahahaa…

Komennya ditungguuuuuu..

Love you all, LoReSSSFics ^^

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

Posted on 14 Desember 2010, in Mithaa Charinyoung, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 54 Komentar.

  1. waahhh… seru seru seru..

    lanjut…

  2. Alurnya simple,,, suka,,😀

  3. Keren bangeeeet ><
    DAEBAKKK!!
    Daku lanjut baca ya eonn~~

  4. Hoahhh daebak daebak !! Onew ku (?) Keren, and flirting. Kekekek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: