[FF/S/2/PG-17] “We Got Baby”

Title : We Got Baby

Author : Mithaa Charinyoung a.k.a Min Soo Jin @ S3FFI

Length : Series

Genre : Romance

Rating : PG-17

Main Cast : Lee Jin Ki (Onew-SHINee) , Min Soo Jin (YOU-readers)

Supported Cast : Other SHINee member, Lee Dong Hae (disini masih belom maen sih XD), Jung Yu Ri (fictional), Park Seong Rin (My dongsaeng Sweety bala bala ^^)

Aku terbangun saat sinar matahari mulai masuk dan mengganggu mataku. Arghh. Aku hanya tidur beberapa jam tadi. Ini semua gara-gara Jin Ki. Karena pernyataan serta tindakannya kemarin aku jadi tidak bisa tidur. Cih! Great.

“Selamat pagi, Honey”, sapanya saat aku keluar dari kamarku. Ia sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Aku menatapnya sekilas dan berjalan menuju kamar mandi.

“Aku membuatkanmu sandwich. Kau sarapan yah”

Aku tetap tidak memedulikannya dan terus berjalan menuju kamar mandi. Hingga akhirnya sebuah lengan menghalangiku.

“Bisakah kau menyapa suamimu dulu?”

“Aku mau mandi”

“Mau kumandikan?”

“O.o”

“Kalau begitu, kau harus menyapaku dulu”

Aku menghela nafas panjang dan berbalik menghadapnya.

“Aku mau mandi, Lee Jin Ki. Berhentilah bersikap seperti ini padaku”

“Tidak sebelum kau menyapaku”

“Okay. Hai, Lee Jin Ki”, aku tersenyum garing menatapnya dan berjalan memasuki kamar mandi. Tiba-tiba tanganku kembali ditarik olehnya dan membuat badanku kembali menghadapnya.

“Hi, Honey”

“What?”, aku mengerutkan keningku dan menatapnya sinis.

“Say it!”

“Hi.. Hi.. Hon.. Honey”

***

Jin Ki gila! Ya, dia gila. Apa-apaan dia. Arghh. Karena semua kelakuan-kelakuan anehnya belakangan ini, aku jadi khawatir dengannya. Apa yang ia inginkan -_-

Aku memilih untuk menonton TV saat ini. Jin Ki sedang keluar mengikuti serangkai jadwalnya dengan SHINee. What? Aku bercerita tentang Jin Ki. Ohh lupakan pria aneh itu, Soo Jin.

Tanganku mulai lincah mencari acara-acara TV yang menarik. Dan akhirnya aku berhenti pada sebuah siaran langsung talkshow. Dan guest star di acara itu adalah… SHINee.

“Ahh sekarang aku akan bertanya tentang kehidupan masa depan bagaimana yang para member SHINee inginkan. Shawol, kalian harus menyimaknya baik-baik”, sahut host acara itu.

“Onew-ssi, tipe wanita bagaimana yang kau inginkan?”

“Emm, simple. Aku hanya ingin ia bisa memasakkan ayam untukku setiap hari”, ucap sang leader SHINee, yang tidak lain adalah suamiku.

“Lalu, kau ingin memiliki berapa anak?”

Glek! Aku terhenyak. Sepertinya jawaban dari pertanyaan ini akan membuatku sedikit shock. Entahlah.

“Hahahahaa.. Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki anak”

“Mengapa? Kau tidak suka anak-anak?”

“Anni. Aku hanya kadang tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi mereka”

“Jadi kau tidak ingin memiliki anak?”

“Entahlah. Sepertinya tidak. Hahahaaa”

Aku mematikan televisi. Aku termenung dengan jawaban Jin Ki, suamiku sendiri. Ia tidak ingin punya anak. Lalu bagaimana dengan janin di perutku ini? Apa ia juga tidak menginginkannya?

***

Setelah pernyataan Jin Ki kemarin di acara talk show itu aku jadi memikirkan nasibku dan janin yang sedang berada di rahimku. Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan semua masalah yang rumit ini. Ya ini mungkin berlebihan. Hanya karena pernyataan Jin Ki diacara talkshow itu, aku jadi uring-uringan tidak jelas seperti sekarang.

Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Aku memilih untuk menetap sementara di Busan, rumah sahabatku dan juga Seong Rin. Masalah janin ini, aku benar-benar tidak tahu harus apa.

“Kau yakin?”, tanya Seong Rin padaku setelah kuceritakan masalahku dan keputusanku untuk meninggalkan Jin Ki.

“Sangat!”, jawabku cuek.

“Setidaknya kau membiarkan Jin Ki untuk tahu semuanya dulu, Soo Jin”

“Memang apa untungnya? Dia tidak menginginkan anak, dan lagi aku bukan istri sah-nya. Maksudku, kami hanya dijodohkan”

“Ia mencintaimu, Soo Jin”, ucap Seong Rin lembut. Aku memang pernah menceritakan tentang pernyataan Jin Ki yang menyatakan bahwa ia mencintaiku.

“Bullshit”, sahutku enteng.

“Bagaimana jika Jin Ki mencarimu?”

“Tidak mungkin. Untuk apa dia mencariku. Justru dia akan leluasa kan jika aku tidak ada. Ia akan lebih fokus dengan karirnya”

“Soo Jin..”

“Aku sudah memikirkannya, Seong Rin. Aku akan bercerai dengannya”

***

Aku sudah sampai di Busan, rumah Shin Yu Ri, sahabatku. Ia tinggal sendirian. Saat aku menelponnya untuk menetap sementara di rumahnya, ia menerima dengan antusiasnya.

“Yu Ri-ah, kami sudah tiba”, teriak Seong Rin di depan pintu rumah Yu Ri. Seong Rin menemaniku, alasannya aku sedang hamil dan butuh seseorang untuk menemaniku selama perjalanan.

“OMO! Seong Rin-ah, Soo Jin-ah.. Ahhh bogoshippoyo”, Yu Ri mempersilakan kami masuk. Rumahnya memang tidak begitu besar, tapi kurasa aku bisa aman disini selama kehamilanku.

Kami bercerita banyak hingga lupa waktu. Saat ini matahari telah terbenam dan langit berubah menjadi gelap.

“Istirahatlah, Soo Jin. Biar aku dan Seong Rin yang menyiapkan makan malam”, ucap Yu Ri padaku. Aku mengangguk pelan dan menuju kamar yang telah dipersiapkan Yu Ri.

Kubuka tasku dan mengeluarkan beberapa benda di dalamnya. Aku mengambil ponselku dan menatapnya sekilas. Kurasa aku harus mengganti nomor ponselku sekarang, agar Jin Ki tidak bisa melacak keberadaanku. Ahh, peduli apa dia denganku. Apa ia akan mencariku? Aku bahkan tidak yakin kalau ia menyadari bahwa aku tidak ada di rumah.

Akhirnya kulepas kartu sim dari ponselku dan akan segera menggantinya besok.

***

Sudah 3 hari aku menetap disini, rumah Yu Ri. Dan kurasa aku lumayan betah tinggal disini. Seong Rin sudah kembali ke Seoul kemarin.

“Aku berangkat dulu, Soo Jin”, sahut Yu Ri yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia bekerja sebagai waitress di salah satu kafe yang cukup terkenal di Busan.

“Hey, bukankah hari ini kau harus periksakan kandunganmu?”

“Ahh ya, aku hampir lupa. Terima kasih telah mengingatkan Yu Ri-ah”

“Ne. Apa perlu kuantar?”

“Anni. Tidak usah. Aku akan pergi sendiri”

“Take care, Soo Jin. Aku tidak ingin mendapat omelan dari Seong Rin hanya karena kau mengalami hal-hal yang tidak baik selama disini”, serunya.

“Iya iya aku tahu nona”

***

Musim semi yang dingin membuatku harus mengenakan pakaian yang berlapis-lapis. Perjalanan dari rumah sakit ke rumah Yu Ri tidak begitu jauh, bahkan bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Sekarang aku sudah berada di taman rumah sakit, duduk di atas sebuah bangku dan menikmati angin musim semi sendirian. Sendirian? Ah tidak. Tentu saja aku bersama bayiku. Bayi yang sedang dalam rahimku ini. Bayiku dan Jin Ki.

Kata dokter, sejauh ini kandunganku baik-baik saja. Aku hanya perlu makan makanan bergizi, tidak banyak melakukan aktivitas yang melelahkan, dan sebagainya.

“Apa aku benar-benar harus membiarkanmu merasakan dunia?”, kalimat itu selalu menjadi pertanyaan terselubung buatku. Terkadang aku masih merasa bahwa aku bisa saja menggugurkan kandungan ini. Toh Jin Ki suamiku juga tidak menginginkannya. Apalah arti kehadiran buah hati jika ayahnya tidak menginginkannya? Apalagi keluargaku juga belum ada yang tahu. Jika aku menggugurkannya, tidak akan ada yang menyadarinya kan?

***

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah Yu Ri ketika melihat sebuah kertas kecil menempel di salah satu tiang listrik. Kertas itu tidak besar, hanya setengah dari kertas ukuran folio. Kertas itu berisi tentang pengumuman mengenai orang yang ahli melakukan….aborsi?

Aku berjalan menuju tempat yang ada di kertas kecil tadi. Aku tidak tahu apa yang sedang kupikirkan. Aku hanya berjalan cepat menuju tempat itu.

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?”, tanya seorang wanita dengan pakaian serba putih yang duduk di dekat pintu masuk.

“A.. Apa ini tempat untuk..melakukan..”

“Aborsi? Ya, nona. Apa anda pasien?”

Aku terdiam dan hanya menampakkan ekspresi bingung.

“Anda sendirian? Atau bersama suami?”, tanyanya lagi.

“Aku..Aku sendi..”

“Silakan isi formulir ini nona. Jika ada pertanyaan silakan panggil saya”, wanita itu menyodorkan kertas kepadaku dan mengantarku menuju sofa terdekat. Aku membaca formulir itu sekilas. Aku memang tidak salah. Ini adalah tempat melakukan aborsi. Tiba-tiba saja kepalaku sakit, dan aku merasa mual luar biasa. Aku memegang perutku yang juga mendadak sakit. Ohh God. Ada apa ini. Sakit itu kemudian semakin menjalar dan membuatku semakin tidak bisa menahannya. Detik selanjutnya aku ambruk dan semuanya menjadi gelap

***

Aku membuka mataku yang cukup berat dan merubah posisiku menjadi duduk

“Ouch!”, aku memegang kepalaku yang masih sedikit pusing.

“Ahh akhirnya kau sadar”, sahut Yu Ri yang baru saja memasuki kamar yang kutempati. Tunggu! Ini kan kamarku di rumah Yu Ri. Kenapa aku bisa langsung ada disini? Seingatku tadi aku berada..

“Kau pingsan, dear. Pihak klinik yang menemukan kau pingsan segera menghubungiku melalui ponselmu”, jelas Yu Ri yang langsung menjawab pertanyaanku.

“Ini bubur kubuatkan untukmu. Makanlah dulu”, ia mengambil mangkok berisi bubur yang dibawakannya tadi.

“Yu Ri-ahh. Aku..aku..”

“Simpan saja penjelasanmu itu, Soo Jin. Kau masih terlalu lemah. Makanlah dulu”, ia mulai menyuapiku

“Gomawo Yu Ri-ahh”

***

BRAAKKK

Tiba-tiba pintu kamar ku terbuka dan pelakunya adalah… Seong Rin?

“For the sake of God Min Soo Jin, what you have done, huh?”, teriak Seong Rin yang sudah ada di depan tempat tidurku sekarang. Ia meletakkan tangannya di pinggang dan ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang marah, dan tentu saja marah padaku.

“Calm down, Seong Rin”, Yu Ri meletakkan mangkok bubur yang baru saja kuhabiskan. Ia berbicara begitu pelan pada Seong Rin.

“Do you really wanna kill your baby?”

“Seong Rin-ahh aku.. Aku tidak bermaksud untuk..”

“Lalu tujuanmu ke klinik bullshit itu untuk apa? Kau mengantarkan bayimu ke seorang pembunuh, Soo Jin”

“Seong Rin aku minta maaf. Aku benar-benar tidak berfikir untuk membunuh bayi ini. Aku hanya..”

“Jangan minta maaf padaku”

Damn! Kali ini aku tidak bisa berkutik. Park Seong Rin, ia memang keras. Tapi kuakui ia benar-benar sangat peduli dengan orang lain, termasuk aku. Ia menyayangiku. Aku tahu itu.

Aku hanya bisa diam mendengar omelan Seong Rin. Aku salah. Dan aku memang pantas di ceramahi, ah lebih tepatnya di nasehati olehnya.

***

Matahari telah keluar dari singgasananya dan kembali memberikan kehangatannya. Awan pun sepertinya sedang bersahabat dengan matahari dan memberikan kesempatan baginya untuk tetap tersenyum pada bumi. Angin musim semi yang kadang bertiup terkadang mengurangi kehangatannya. Namun itu tidak mengurangi semangat setiap manusia untuk melakukan aktivitas.

Di sebuah ruangan yang berukuran tidak lebih dari 5 x 7 meter itu, duduk tiga orang wanita di sebuah sofa empuk. Mereka sedang menonton sebuah acara televisi. Orang itu adalah kami -aku, Yu Ri dan Seong Rin. Ruangan itu terasa hening. Hanya terdengar suara host dari acara yang sedang kami tonton.

Sebenarnya aku ingin membahas kejadian kemarin yang sempat membuatku uring-uringan. Tapi sepertinya itu tidak memungkinkan. Kedua sahabatku ini pun tidak ada yang mengungkitnya.

“Kau harus segera memberi tahu Jin Ki”, sahut Seong Rin tiba-tiba. Aku yang sedang menyeruput teh ku langsung tersedak bahkan mengeluarkan sebagian teh yang telah kuminum. Yu Ri yang duduk di sampingku hanya memukul punggungku pelan.

“Seong Rin benar, Soo Jin. Jin Ki harus tahu ini”, timpal Yu Ri. Bagus! Bahkan Yu Ri juga sudah mendukung Seong Rin.

“Aku..aku akan bercerai dengannya. Aku akan segera mengurus surat-suratnya secepatnya”, terangku sembari memperbaiki posisi dudukku.

“Berhenti memikirkan perceraianmu Min Soo Jin. Kau hamil. Kau tahu itu kan?”, ucap Seong Rin.

“Yeah aku tahu. Memangnya kenapa?”

“Perceraian tidak boleh dilakukan jika istri sedang mengandung”, jawab Yu Ri

Aku mendesah pelan dan menyandarkan badanku pada sofa. Yeah, aku baru ingat itu. Hanya ada 2 pilihan, aku melahirkan anak ini kemudian mengurus perceraianku. Atau aku menggugurkan kandungan ini agar perceraianku dapat dilaksanakan secepatnya. Tapi aku yakin pilihan kedua itu tidak akan kulakukan setelah apa yang kualami kemarin.

“Beritahu Jin Ki, Soo Jin. Dia suamimu. Suamimu yang sah”

“Jangan biarkan kau menghadapi semuanya sendirian”

“Tapi ia juga tidak pernah menghubungiku, kan? Ia tidak peduli padaku. Ia tidak mencariku”, celotehku.

“Sepertinya aku harus mengingatkanmu kalau kau sudah mengganti nomor ponselmu”, timpal Yu Ri.

Astaga! Aku memukul jidatku pelan. Aku lupa. Aku memang telah menggantinya. Bahkan belakangan ini ponselku kumatikan.

“Asal kau tahu Soo Jin, Jin Ki sudah menelponku berapa kali untuk menanyakan kabarmu. Bahkan Dong Hae juga menanyakanmu. Tapi semua kujawab dengan, ‘Ia baik-baik saja’. Dan kau tahu bagaimana reaksi Jin Ki? Ia tetap cemas. Wajahnya bahkan tidak begitu semangat belakangan ini karena memikirkanmu”, jelas Seong Rin panjang lebar.

“Ia merindukanmu Soo Jin. Tidak sadarkah kau itu?”

“Kau memang punya kami, tapi bagaimanapun kau membutuhkan sosok suamimu sendiri, Soo Jin”, sambung Yu Ri dengan lembut.

Aku menghela nafas panjang dan hanya menerawang menatap langit-langit rumah. Benarkah ia merindukanku? Sejak kapan ia mulai menyadari kehadiranku di hidupnya? Apa aku benar-benar harus menceritakan semuanya padanya?

“Berikan aku waktu”

***

Few days later…

Sejak hari itu, aku kembali memikirkan nasibku yang semakin rumit ini. Kehamilanku yang tiba-tiba, yang tidak diketahui oleh suami dan keluarga besarku. Apa yang harus kulakukan denganmu nak?

Suasana rumah Yu Ri pagi ini kembali sepi. Hanya ada aku dan tentu saja bayi di kandunganku yang menjadi penghuni makhluk hidup rumah ini. Seong Rin sudah kembali ke Seoul. Setiap hari ia menelponku hanya untuk mengecek keadaanku atau bahkan apa yang sedang kukerjakan. Kurasa perhatiannya berlebihan. Sedangkan Yu Ri sudah berangkat kerja sejam yang lalu.

Aku berjalan menuju dapur dan hendak menyiapkan semangkuk sereal. Aku sudah sarapan sebenarnya, tapi kurasa makhluk hidup dalam perutku ini masih ingin menerima makanan.

RING DING DONG ~

Tiba-tiba bel pintu rumah Yu Ri berbunyi *ape banget dah bunyi belnya*. Aku menghentikan aktivitasku dan berjalan menuju pintu.

“Ahh pasti Yu Ri. Lupa apa lagi dia sekarang, hah?”, keluhku. Hampir setiap hari, ia selalu saja melupakan barangnya ketika berangkat kerja. Dan ia akan rela pulang untuk mengambil barang itu.

“Lupa apa lagi kau, hah?”, tanyaku saat membuka pintu.

O’ow. Aku terbelalak melihat sosok di hadapanku. Aku terpaku sepersekian detik hingga akhirnya alam sadarku kembali bekerja.

“Ka..kaa..kauu”

“Aku tidak lupa apa-apa. Tapi sepertinya ada orang yang lupa untuk menghubungiku selama sepekan terakhir”, sahutnya datar namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia sedang marah. Ah lebih tepatnya, kecewa.

“Jadi kau ingin tetap membiarkanku disini?”

“Errr.. Yah. Em. Maksudku, silakan masuk”, aku membuka pintu lebih lebar dan mempersilakannya masuk.

“Jangan terlalu formal pada suamimu sendiri, Min Soo Jin”, ucap lelaki itu, Jin Ki-suamiku.

Aku hanya menatapnya sekilas kemudian menggaruk kepalaku tidak kentara.

“Dan kurasa kau berutang penjelasan padaku. Mengapa kau meninggalkanku tiba-tiba? Mengapa kau tidak mengangkat teleponku? Mengapa kau tidak pernah sekalipun menghubungiku? Dan mengapa mengapa lainnya”

Aku hanya menanggapi celotehannya dengan berdiri diam di tempatku sekarang. Kami masih berdiri di balik pintu.

“I miss you, Soo Jin. Don’t you feel the same?”, tanyanya dengan nada suara yang rendah. Ia menatapku dalam dan semakin berjalan mendekatiku. Dapat kutangkap sebuah ketulusan di matanya yang sipit itu. Benarkah ia merindukanku.

“Err.. Aku.. Aku.. Yyaahh..”, aku terlalu bingung untuk menjawab pertanyaannya. Dan tiba-tiba ia sudah menempelkan bibirnya di bibirku. Bibir kami bertautan. Awalnya aku menolak dengan perlakuannya yang tiba-tiba ini. Namun sedetik kemudian, aku malah menikmatinya.

Ia melepaskan ciumannya dan kembali menatapku. “Explain to me everything, honey. I’m your husband. Remember it!”

======= TBC ======

A. N.

Astagaaaaa… Ini apaan coba *dzikiran*

Ga tau deh makin ngawur saya ngetiknya. pasti pada bilang, ‘ihh ini kok ceritanya makin miring aja sih?’. maklum aja yah. author terlalu miring untuk dideskripsikan juga tuh (?)

buat MVP yang baca ini, jangan ngamuk sm saya yah. hahahahaaa…

silakan membayangkan Min Soo Jin itu adalah kalean *kaburrrrrr*

okelah sekian cuap-cuap ga penting dari saya.

inget yeeeeeee… Komen atuh. jangan mau jadi silent reader. bikin malu dunia kpopers tau (he???)

Love you all, LoReSSSFics ^^

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

Posted on 20 Desember 2010, in Mithaa Charinyoung, SHINee Fanfiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 55 Komentar.

  1. demi apa thor..aku suka bgt sm cerita.a
    aku suka suka suka
    brb next chap😀

  2. aih aih.. jinki liar…

  3. OMG..
    suka bgd nget nget..
    kangennn sama jin ki oppa..

  4. wahhh akhirnya jinki dateng juga,,
    heppi heppi

  5. Jinki dateng.. Pasti Seong Rin yang ngasitau.. Wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: