[FF/S/2/PG-15] The Art Of murder

Title: The Art Of Murder

Author: Sannia Kim

Main Casts:

♥ Inspektur Kim Jaejoong

♥  Letnan Park Yoochun

♥  Letnan Kim Junsu

♥  Letnan Song Seunghee

Supported Casts:

♥  Shim Hegi

♥  Lee Yoorim

♥ Jung Yunho

♥ Kang Seunghyuk

Length: 2/7

Rating: PG-15

Genre: Mystery, Action, Romance

A.N: pemilihan judul terinspirasi dari salah satu nama game favoritku, tapi ceritanya berbeda total,

ff ini pernah dishare di grup Cassiopeia Royal dengan berbagai perubahan

“Yah, kau ini melamun saja.” Junsu menepuk bahu Yoochun saat sahabatnya itu kedapatan melamun. Sontak Yoochun tersadar dari lamunannya dan menatap Junsu sebal.

“Sudahlah Junsu-ah, biarkan saja. Paling-paling dia sedang memikirkan Yoorim.” Kata Seunghee ringan sambil meneguk tehnya. Yoochun ganti menatap Seunghee sebal.

“Yah, memang siapa gadis yang bernama Lee Yoorim itu? Kalian mengenalnya?” tanya Junsu penasaran.

“Ne. Dia dulu adik kelas kami waktu SMA, dua angkatan di bawah kami. Junsu-ah, tahu tidak, dia itu mantan kekasihnya Yoochun.”

“Yah, mantan kekasihmu ternyata banyak juga. Eu kyang kyang~” junsu tertawa ringan sambil menepuk-nepuk bahu Yoochun.

“Ehm, mantan kekasih Yoochun memang banyak, tapi kupikir Yoorim ini berbeda. Kau tahu, dia itu kekasih pertama Yoochun. Sepertinya cinta pertamanya.” Seunghee semakin gencar menggoda Yoochun. Junsu tertawa makin keras mendengar ucapan Seunghee.

“Yah, kalian ini. Berhentilah menggodaku. Lebih baik kita bicarakan masalah pekerjaan.” Kata Yoochun sebal. Junsu dan Seunghee tertawa makin keras.

“Baik. Baik. Sekarang kita bicarakan masalah pekerjaan.” Seunghee menghentikan tawanya dan membetulkan letak kacamatanya.

“Jadi, saat ini ada tiga orang yang dicurigai sebagai pelaku. Jung Yunho, Lee Yoorim, dan Kang Seunghyuk. Fakta ini didasarkan pada pernyataan Shim Hegi bahwa dia melihat pistol di dekat mayat Shim Changmin, tapi kemudian pistol itu menghilang setelah dia berteriak dan ketiga orang yang dicurigai sebagai korban mendatangi TKP. Dari pernyataan itu bisa disimpulkan bahwa salah satu dari ketiga orang itu adalah pelakunya. Pelaku melakukan kesalahan fatal dengan meninggalkan bukti kuat di TKP, jadi dia berpura-pura kaget dan mendatangi TKP begitu mendengar teriakan Nona Shim untuk mengambil barang bukti.” Seunghee menyelesaikan kata-katanya dan melemparkan pandangan pada sahabat-sahabatnya.

“Tepat sekali. Saat ini ada tiga orang yang dicurigai sebagai pelaku. Tapi sebenarnya bisa dipersempit menjadi dua orang, jika alibi Tuan Kang terbukti.” Junsu melempar pandangannya pada Yoochun.

“Baiklah, sesuai perintah Inspektur Kim sebaiknya kita selidiki ketiga orang itu. Apa aktivitas sehari-harinya, apa ada sesuatu yang dia sembunyikan, dan kira-kira motif apa yang mungkin melatar belakangi mereka membunuh korban. Khusus untuk Tuan Kang, jika alibinya terbukti, tidak perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut.” Yoochun menyelesaikan kata-katanya.

“Baiklah, sekarang kita bagi tugas. Aku yang akan menyelidiki Lee Yoorim.” Timpal Junsu cepat. Yoochun menatap Junsu kaget.

“Tentu saja akulah yang sebaiknya menyelidiki Nona Lee. Kalian berdua mengenalnya. Ini menyangkut profesionalitas.” Junsu meneguk tehnya.

“Geurae. Jadi kau yang akan menyelidiki Yoorim. Dan aku yang akan Tuan Jung.” Seunghee menatap Yoochun meminta persetujuannya.

“Andwae. Orang itu mengerikan. Lebih baik aku saja yang menyelidikinya.” Yoochun menggelengkan kepalanya.

“Yah, kalian jangan meremehkanku karena aku ini perempuan.  Aku pun bisa menghadapinya.” Seunghee protes.

“Siapa juga yang meremehkanmu, nona manis. Kau kan masih harus membuat laporan penyelidikan ini, jadi lebih baik kau yang menyelidiki Tuan Kang saja. Eottoke?”

“Arasseo.” Akhirnya Seunghee menyerah juga.

*****************

Siang mulai menepi, memberikan jalan pada senja yang mulai menapakkan kakinya di mata langit. Tanah pemakaman itu sepi. Hanya riak angin yang berderap-derap, menggesek lembut pada ranggasan dedaunan.

~Junsu POV~

“Annyeong Hyunhee-Jagi. Bagaimana kabarmu? Tak terasa sudah dua tahun kau meninggalkanku. Ini kubawakan bunga lili putih kesukaanmu, semoga kau tersenyum indah di surga sana. Jagi, kau tahu, aku sangat merindukanmu. Jeongmal bogoshipoyo. Tiap pagi saat aku bangun, aku selalu berharap kepergianmu hanya mimpi buruk saja. Dan begitu aku membuka ponselku, akan ada pesan darimu. Lalu aku akan meneleponmu untuk mengucapkan selamat pagi. Ah, rasanya hal-hal seperti itu telah sangat lama berlalu.” Kurasakan aliran hangat di pipiku. Ah, selalu seperti ini kalau aku mengunjunginya. Bukan mengunjungi dalam arti sebenarnya. Karena yang akan kutemui setiap aku mengunjunginya hanya nisan bertuliskan nama Shin Hyunhee, gadis yang telah memenuhi seluruh ruang di hatiku. Gadis yang begitu bersemangat menjalani hari-harinya, meski dia tahu kematiannya sudah ditentukan, meski dia menanggung penderitaan yang sangat berat, peradangan pada selaput otaknya telah merenggut masa depan dan mimpi indah gadis yang sangat kucintai itu.

~flasback~

“oppa, apa kau mencintaiku?” aku menatap wajah pucat gadis yang sangat kucintai itu heran. Tidak biasanya dia menanyakan pertannyaan seperti ini.

“Apa masih perlu kau menanyakannya, jagi?”

“Tapi aku ingin mendengarnya oppa. Barangkali untuk terakhir kalinya.” Dia mengatakan hal itu sambil tersenyum samar.

“Andwae, jagi. Kau tidak boleh mengatakan hal-hal seperti itu. Kau akan terus hidup, meraih semua impianmu, dan akan terus berada di sisiku.”

“Oppa, apa kau tidak lelah terus berada di sisiku seperti ini? Aku tidak bisa memberikan apapun untukmu, dan selalu menyusahkanmu. Sudah tiga tahun sejak penyakit ini menggerogotiku, pasti kau jenuh kan, oppa? Kalau oppa mau pergi meninggalkanku, aku rela.” Hyunhee tersenyum begitu lembut, terlihat sangat cantik, meski wajahnya sangat pucat. Kuelus puncak kepalanya dengan lembut.

“Jagi, kenapa kau mengatakan hal-hal seperti itu? Terkadang memang lelah rasanya,tapi aku akan terus ada di sisimu, sampai kapanpun, meski mungkin sampai aku tua nanti, aku tidak akan meninggalkanmu, bahkan mungkin akhirnya kau yang akan lelah denganku, kau yang akan jenuh melihatku tiap harinya.”

“Aniyo oppa, aku tidak akan lelah denganmu, aku tidak akan pernah jenuh melihatmu. Bagiku kau adalah segalanya.” Hyunhee sedikit terisak, air matanya mengalir perlahan membasahi pipinya. Kuusap air matanya dengan lembut.

“Karena itu jangan pernah menyuruhku meninggalkanmu. Saranghaeyo, Shin Hyunhee.” Kukecup dahinya perlahan, dan mendekapnya erat.

“Gomapta, oppa, gomapta…” Hyunhee terisak di dalam dekapanku.

~End of flashback~

~End of POV~

Di makam itu, sosok Hyunhee telah damai dalam pelukan Tuhan-nya. Hyunhee terbaring ringkih untuk selama-lamanya. Ada kerinduan yang dalam terhadap Hyunhee, sosok gadis ringkih yang selalu tersenyum, selalu berusaha kuat di depan orang-orang yang dikasihinya, meski derita tak pernah lelah menyapanya.

Junsu berdoa. Junsu menahan tangis. Junsu menenggelamkan seluruh kerinduannya.

“Jagiya, kau benar. Memang itu terakhir kalinya aku mengatakan aku mencintaimu. Esoknya kau telah pergi, dengan membawa separuh jiwaku bersamamu, membawa seluruh mimpi dan kenangan yang telah kurajut bersamamu. Rasanya kau pergi dengan meninggalkan lubang yang sangat besar dan dalam di hatiku. Belum ada seorangpun yang bisa menutup lubang ini. Hanya kau yang bisa, jagiya. Hanya kau. Karena kaulah satu-satunya wanita yang kucintai…….” Junsu mencium batu nisan Hyunhee dengan lembut. Dingin, sama seperti saat Junsu mencium dahinya sesaat sebelum Hyunhee dimakamkan.

“Jagiya, jeongmal bogoshipoyo……. Aku pergi dulu, tapi aku pasti kembali, aku janji.”  Desisnya pada angin, berharap angin akan membawa seluruh kata rindunya pada gadis yang sangat dicintainya itu.

Junsu memakai kacamata hitamnya dan berjalan keluar pemakaman. Tapi baru beberapa saat berjalan, samar-samar dia mendengar isak tangis seorang wanita. Junsu mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sumber tangisan itu. Tak lama matanya menangkap sosok seorang gadis yang tengah menangis di depan sebuah makam. Rasanya dia mengenal gadis itu. Perlahan Junsu mendekati gadis itu.

“Nona Shim?” serunya perlahan saat dia mengenali sosok gadis itu.

******************

“Kamsahamnida, Letnan Kim.” Hegi meneguk sedikit kopinya. Memang Junsu mengajaknya ke kafe saat melihatnya menangis tadi.

“Sudahlah, tidak usah terlalu formal. Lagipula aku sedang tidak bertugas. Panggil saja aku Junsu. Eottoke, Hegi-ssi?” tanya Junsu sambil tersenyum manis. Entah kenapa jantung Hegi berdegup sangat kencang saat melihat senyum Junsu.

“Ne, Junsu-ssi.” Angguk Hegi perlahan.

“Aku ikut berdukacita atas meninggalnya kakakmu.” Kata Junsu lirih. Hegi hanya menganggguk saja.

“Pasti sangat berat ditinggalkan orang yang kita sayangi.” Sambung Junsu.

“Geurae. Aku sangat menyayangi kakakku. Setelah appa dan eomma kami meninggal setahun yang lalu, hanya dia keluarga terdekat yang aku punya. Changmin oppa bekerja sangat keras untuk membiayai hidup kami berdua dan kuliahku. Entah apa yang harus kulakukan sekarang.”

“Apa kau tidak mempunyai keluarga lain?”

“Aku masih memiliki halmoni di Chungnam. Sebaiknya aku tinggal dengannya saja.”

“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?”

“Entahlah, mungkin aku akan berhenti saja, dan membantu halmoniku di desa.”

“Andwaeyo. Sayang kalau kuliahmu berhenti begitu saja.”

“Tapi mau bagaimana lagi.” Desah Hegi putus asa. Junsu mengerutkan keningnya, tampak sedang berpikir.

“Ehm, aku punya penawaran untukmu. Mungkin kelihatannya kau akan menolaknya. Mmmm…begini, sejak appaku meninggal, eommaku jadi sendirian di rumah. Itu karena hyungku tinggal di Cina bersama istri dan anaknya, dan aku lebih suka tinggal di apartmentku karena lebih dekat ke kantor. Kalau kau mau, kau bisa tinggal di rumahku untuk menemani eommaku. Kau kuliah di jurusan fashion design,kan? Nah, kebetulan eommaku memiliki butik di dekat rumah kami. Kurasa kau bisa bekerja part time di sana. Eottoke?”

“Jinja?” Hegi tampak terkejut mendengar kata-kata Junsu.

“Ne. Tapi semua terserah padamu.” Jawab Junsu mantap.

“Ehm…..entahlah, aku tidak tahu harus menjawab apa. Semua terlalu mendadak.”

“Ara, kau tidak usah menjawab sekarang. Pikirkan lagi saja. Kalau kau setuju, hubungi aku. Ini nomor telepon apartmentku.” Junsu menberikan kartu namanya.

“Ne, gomapsimidah Junsu-ssi.” Kata Hegi sambil menerima kartu nama Junsu. Junsu hanya tersenyum mendengarnya.

“Ah ya, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentu. Memang kau mau bertanya apa?”

“Bagaimana hubungan Tuan Kang, Nona Lee, dan Tuan Jung dengan kakakmu?”

“Yah, jadi sekarang waktunya interogasi, Letnan Kim?” Hegi tesenyum, manis sekali.. entah kenapa Junsu jadi sangat menyukai senyum Hegi.

“Eu kyang~ Eu kyang~, aku hanya ingin tahu saja,nona Shim.”

“Ehm, Daesung oppa cukup dekat dengan oppa. Terkadang mereka minum soju bersama. Pada dasarnya Daesung oppa memang ramah orangnya.*iya dong, pacar siapa dulu. :p* kalau Yoorim onnie tidak terlalu dekat dengan oppa, tapi dia sangat dekat denganku. Kebetulan dia dulu sunbaeku di universitas. Sedang Yunho, kami tidak terlalu dekat dengannya. Dia memang sangat tertutup orangnya.”

“Apa di antara mereka tidak ada yang punya masalah dengan kakakmu?”

“Aniyo, hubungan kami semua baik. Junsu-ssi, apa polisi mencurigai pelakunya ada dia antara mereka bertiga?”

“Aniyo. Hanya saja kita harus memikirkan segala kemungkinan, kan?” Junsu tersenyum manis sekali lagi, membuat jantung Hegi berdebar lebih kencang.

*******************

~Few Days Later~

“Aku sudah mendatangi apotek milik Tuan Kang. Menurut asistennya, dia tidak meninggalkan laboratorium sama sekali pada hari itu. Jadi bisa disimpulkan kalau Tuan Kang tidak bersalah. Bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian?” seunghee melempar pandangannya pada dua sahabatnya.

“Aku juga tidak menemukan adanya hal yang aneh pada Nona Lee. Jam kerjanya di Seoul FM antara jam 16.00 sampai 20.00. jam 15.00 dia meninggalkan apartmentnya, sedangkan siangnya dia tidak keluar sama sekali. Kadang-kadang dia ke supermarket untuk berbelanja.”

“Begitupun Tuan Jung. Bahkan menurutku hidupnya terlalu teratur. Pagi berangkat ke kantor, siangnya dia pulang, kemudian sore dia fitnes. Tapi aku menemukan ada yang aneh dari dirinya. Sepertinya dia tidak punya teman satupun. Selalu sendirian. Selama menyelidikinya aku tidak pernah melihatnya menemui temannya atau mengobrol dengan siapapun.”

“Wajar saja kan, lihat saja sifatnya waktu didinterogasi.” Junsu menimpali.

“Hmm..jadi tidak ada yang aneh pada Nona Lee dan Tuan Jung. “ seunghee mengerutkan keningnya.

“Bagaimana kalau kita selidiki kira-kira motif apa yang mungkin melatarbelakangi jika di antara mereka memang ada pelakunya, atau hubungan mereka dengan Tuan Shim.” Kata Yoochun.

“Kalau hubungan mereka dengan Tuan Shim, baik-baik saja. Tidak ada konflik sama sekali. Meski Tuan Jung tidak terlalu dekat dengan Tuan dan Nona Shim.” Junsu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di bibir, tanda dia sedang berpikir keras.

“Darimana kau tahu?” tanya Seunghee.

“Tentu saja dari Hegi.” Jawb Junsu ringan.

“Mwo? Kau menemuinya?Yah, Seunghee-ah, Jangan-jangan uri Junsu sudah jatuh hati pada gadis itu.” Yoochun tersenyum menggoda Junsu, sementara Seunghee hanya tersenyum saja.

“Aniyo…..tentu saja tidak. Kami bertemu di pemakaman, dia sedang mengunjungi makam kakaknya saat itu, jadi sekalian saja aku ajak dia ke kafe.” Wajah Junsu merona merah.

“Hahahaha.. Kalau begitu kenapa wajahmu merah begitu?” Yoochun tertawa keras.

“Junsu-ah, memang mau apa kau ke pemakaman?” tanya Seunghee penasaran.

“Ah, eh, itu, anu.. Aku… Aku… Aku mengunjungi makam nenekku.” Junsu menjawab pertanyaan Seunghee dengan gugup. Memang dia tidak memberitahukan masalah Hyunhee kepada siapapun, kecuali keluarganya dan keluarga Hyunhee tentunya.

“Ah, arasseo.”

*******************

Yoorim berjalan pelan menyusuri trotoar. Dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam 21.00. yoorim menghela napas, lelah rasanya menjalani aktivitasnya akhir-akhir ini.  Begitu banyak masalah sejak terbunuhnya Changmin. Dengan malas Yoorim berhenti di halte bus dan kemudian berdiri menunggu bus. Saat sedang melamun, Yoorim dikejutkan oleh bunyi klakson mobil. Segera saja Yoorim menoleh ke sumber suara, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Porsche Turbo 911 hitam berhenti di depannya. Yoorim makin terkejut saat jendela mobil diturunkan dan dengan jelas dia melihat siapa yang mengendarai mobil itu.

“Yoochun oppa…” desisnya perlahan.

“Yoorim-ah, menunggu bus? Naiklah, biar aku yang mengantarmu.” Yoochun tersenyum dari belakang kemudinya.

“Sirheo.. Tidak usah, oppa. Aku pulang naik bus saja.” Yoorim mulai gugup.

“Ani, ani. Mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri malam-malam begini? Kkaja, masuk saja.” Akhirnya Yoorim menyerah juga. Dia naik ke mobil Yoochun dan duduk di jok sebelah Yoochun. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Sebenarnya banyak yang ingin dibicarakan, tapi sulit sekali mengatakannya.

“Bagaimana kabarmu sekarang? Kudengar kau jadi penyiar radio.” Yoochun akhirnya memecahkan keheningan di antara mereka.

“Geurae.” Kemudian mereka terdiam lagi.

“Yoorim-ah, aku mau minta maaf. Chongsuhamnidah. Jeongmal.”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya. Aku benar-benar minta maaf, mungkin saat kita putus dulu kata-kataku sangat kasar. Aku..aku..aku tidak bermaksud begitu.”

“Aniyo, oppa. Aku tidak merasa kau terlalu kasar. Wajar saja kan kau berkata begitu.”

“Hmmm..kupikir kau marah padaku, karena sejak kejadian itu kau tidak pernah menghubungiku sama sekali.”

“Ah, oppa. Andai kau tahu, tidak mudah bagiku untuk melepaskanmu. Tidak mudah bagiku untuk bersikap normal padamu. Tidak mudah bagiku untuk melupakanmu.  Bahkan hingga sekarang, rasa ini masih ada untukmu.” Ingin rasanya Yoorim mengatakan hal itu, tapi yang keluar dari mulutnya berbeda.

“Ah itu, aku takut oppa marah padaku. Karenanya aku tidak berani menghubungimu.” Kata Yoorim lirih.

“Hahaha, begitu ya. Jadi sekarang kita baikan?” tanya Yoochun tersenyum lebar.

“Ne,oppa.”

“Nah, kita sudah sampai. Lain kali, kalau kau pulang terlalu malam hubungi saja aku. Aku yang akan mengantarmu pulang. Arasseo?”

“Ne, oppa. Arasseo. Gomapsimidah telah mengantarku pulang.” Yoorim turun dari mobil Yoochun dan berjalan menuju apartmentnya.

************************

~A Week Later~

Seunghee menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dilihatnya jam di meja dekat tempat tidurnya. Sudah tengah malam rupanya. Hari ini dia sangat lelah. Pekerjaan menumpuk begitu banyak, dan Inspektur Kim memaksanya untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu malam ini juga. Dan beginilah hasilnya. Pulang tengah malam. Seunghee bangkit dari tempat tidurnya dan memutuskan mandi dulu sebelum tidur. Tapi baru saja dia berjalan menuju kamar mandinya, ponselnya berdering, menandakan panggilan masuk. Dengan malas Seunghee meraih ponselnya. Keningnya sedikit berkerut saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

“Inspektur Kim? Mau apa dia meneleponku malam-malam begini?”

“Yoboseyo.”

“Letnan Song, saya sudah ada di depan rumah anda sekarang. Segera keluar dan ikut saya.” Inspektur Kim langsung menutup teleponnya.

Seunghee berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke balkon, diintipnya sedikit. Benar saja, Range Rover milik Inspektur tampan itu telah ada di depan rumahnya.

“Aish, dia mau apa sih malam-malam begini?” rutuk Seunghee kesal.

======= TBC ======

 

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^


About Sannia Kim

Kim Sunggyu official secret crush :D

Posted on 25 Desember 2010, in AUTHOR, KATEGORI, Sannia Kim, Shinki Fanfiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. Masih misteri…
    jadi menerka2 nii kira2 tersangka pembunuhannya siapa😀
    ^^

  2. Wah.. makin kompleks.. masih misteri..
    lanjutkan lagi author..

  3. kyanya yoochun bkal blikan sma yoorim nih,kekeke

    changmin oppa kasian dpet adegan mati … T.T
    ska bget sma ketawa nya xiah, eu kyang kyang .. XDD

  4. Seunghee mau di ajak kencan yahhh ma Inspektur KIM ???? #plakkk
    . malang nian nasib Junsu oppa T_T untung ada Hegi kekekekeke
    .
    ayo lah chingu, jgn lama” ng’post part3-nya ^_^

  5. Keren ..
    Eu kyang kyang~
    *ktwa breng junsu oppa*

    yah , changmin oppa jdi korban ..
    Sedih ..
    Kaya.a junsu suka sama hegi ..
    Ditunggu ya next part.a ..!! ^^
    gomawo ..

    .shiminnirin.

  6. Bagus critanya🙂 Tapi kasian changmin yang jadi korban.
    Pnasaran ama lanjutannya coz Blom bsa nebak siapa pelakunya. Author..kpn neh dilanjutin lagi? ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: