FF/S/1/Get Her/Twoshoot^^

Get Her~~

Cast :

Lee Hana

Choi Minho

Kim kibum

PROLOG~~

Warna pink yang begitu dominan di sekitar kamar Key membuat mata Hana membulat dan tak bisa berkedip. Dia seakan tak percaya dengan tirai pink, seprai pink, poster spongebob, dan beberapa boneka tokoh kartun itu tersusun rapi di sebuah meja kecil.

Semua yang dilihat Hana, dideteksi oleh otaknya sebagai hal yang PALING MUSTAHIL. Seingat gadis itu, Key adalah orang yang terkenal kasar, ketus, dan tak peduli dengan nasib orang lain. Semua alasan itu membuat Hana yakin kalau penglihatannya mungkin salah. Tak mungkin kan seorang Key ternyata penyuka pink ? Itu tak mungkin kan ? Tak mungkin kan ?

“Hana-yaa~! Jika sudah selesai mencari bukumu, cepat turun kemari yaa~”, teriak oemma Key dari luar kamar.

Hana mengerjap-ngerjap dan kembali mengingat tujuannya semula ke kamar Key. Dengan segera dia mencari buku catatannya yang pernah dipinjam Key.  Ternyata buku miliknya itu ada di meja belajar Key.

Sejenak Hana terdiam membeku di tempatnya. Sebenarnya tangan Hana sudah terulur ke depan untuk meraih buku itu, tapi mendadak berhenti. Matanya yang sedikit kecoklatan itu menatap lekat sebuah kamera paranoid tua di tepi meja Key. Tanpa sadar, tiba-tiba tangan mungil halus itu teralih maju ke kamera.

Senyum tipis menghiasi wajah Hana, saat kamera itu sudah ada di tangannya. Sesuatu seperti sebuah rencana sedang berkelana di otaknya. Sebuah rencana yang licik yang bisa mengubah hidupnya dan hidup Key.

“Skak mat !”, gumam Hana senang pada kamera itu.

************************************************************************************

#SHINEE GIRL-Play~~

Hari ini matahari cukup cerah setelah sekian lama hanya terus turun hujan. Semua murid yang tengah menikmati waktu istirahat mereka, kebanyakan memilih makan di taman, atau di kantin terbuka di tepi kompleks sekolah.

Tapi tidak semua murid berada di luar sekarang. Hana, seorang siswi kelas 2 SMA, sedang menikmati buku karangan ‘Stephanie Meyer’ miliknya di kelas sendirian. Gadis itu terlihat sangat menikmati setiap deraian kata sang penulis itu. Sehingga saat seseorang masuk ke kelasnya, dia tak tahu apa-apa.

Yang dia tahu hanyalah kalau telinganya mendengar suara pintu yang seperti sengaja ditepuk keras. Setelah itu, dia hanya tahu kalau langkah derap kaki yang sengaja dihentak-hentakkan penuh marah ke lantai. Langkah kaki itu jelas sekali menyadarkannya bahwa seseorang yang melangkah ke arahnya itu sedang diliputi kemarahan besar.

Tapi Hana tak peduli dan tetap melanjutkan membacanya. Dia bahkan tak mau mengangkat wajahnya dari novel, hanya untuk sekedar melihat siapa orang itu. Dia malas melihatnya, karena Hana tahu benar siapa pemilik derap langkah kaki yang sekarang mendekatinya. Dan dia juga tahu dengan pasti, penyebab mengapa laki-laki itu marah padanya.

“Apa maksudmu, hah ?”, geram Key penuh kesal tapi dengan suara yang ditahan-tahannya agar tak terdengar bervolume besar.

“Apa maksudku ?”, tanya Hana balik dengan santai. Hana terlihat tidak peduli, bahkan dia tak mau melepaskan pandangannya dari bukunya.

Key kesal dan memukul meja Hana dengan keras. Dia sangat marah melihat sikap acuh tak acuh Hana. “Jangan pura-pura tak tahu !!”

“Tapi aku memang tak tahu apa maksud dari pertanyaanmu”, jawab Hana sambil mengangkat bahu tak peduli.

Key semakin kesal, dan akhirnya menarik novel milik Hana sampai lepas dari tangannya. “YAA!”, kesal Hana.

Senyum sinis khas Key mengembang. Pertanda otaknya sedang merencanakan sesuatu. Setelah itu, kakinya terlangkah maju mendekat ke tepi kelas. Tangan kanannya yang memegang novel sekarang terulur ke luar jendela. “Kao mau mengakuinya atau buku kesayanganmu ini akan hilang ditelan api”

Hana hanya memandang Key tak peduli.

“Aku tak main-main”, ancam Key. “Di bawah sana Mr.Kim sedang membakar sampah. Kao mau novel ini jadi lahapan api ?”

Hana melipat tangannya di dada, berusaha memperlihatkan bahwa ancaman Key tak jadi masalah baginya, “Silahkan saja~~”

Key tersenyum lagi, tapi kali ini lebih sinis dan sedikit nakal, “Benar tak apa-apa ?”

Hati Hana berdesir. Sebenarnya dia takut kehilangan novel pemberian Minho, tapi dia tak mau kalah dari Key. “Aku bisa beli lain besok”, katanya yang terdengar meyakinkan

Senyum Key semakin terlihat sinis, “Aku yakin Minho pasti akan kecewa padamu~”

Saat telunjuk Key mulai dengan cepat lepas dari pegangannya di novel Hana, jantung gadis itu berdegup keras. Hatinya kembali berdesir keras, dia benar-benar tak mau mengecewakan Minho.

Sementara Key, dengan senangnya tertawa nyaring, “Ucapkan selamat tinggal~~!”..sekarang giliran jari tengah Key yang lepas.

“Hana..”, saat Key mulai menghitung, Hana sudah berlari ke arah Key dan mencoba merebut bukunya. Tapi Key bergerak cepat. Saat tangan Hana menggantung ke udara mencoba merebutnya, tangan kiri Key dengan cepat menepis tangan mungil itu.

Hana berdecak kesal, sementara Key kembali tertawa nyaring sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Sekarang kao mengakuinya ?”

“Huh ! Arraso”, jawab Hana dengan tatapan tajam. Tangannya dengan cepat meraih novelnya dari Key. “Ne..aku yang menempelkan foto kamarmu itu di mading”

Hana pikir Key akan marah, tapi laki-laki itu malah tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke depan Hana.

Sekarang jarak mereka sangat dekat, bahkan Hana harus menahan nafasnya karena nafas Key yang terhembus tepat ke wajahnya.

“Kao pikir akan bisa memutuskan hubungan ikatan kita hanya dengan perbuatanmu itu ?”, tanya Key sambil memiringkan wajahnya.

Hana memundurkan langkahnya ke belakang, berusaha tak sedekat mungkin dari Key. “Sekarang kao tahu kan siapa yang meletakkan foto itu ?”, tanya Hana dengan nada sedikit tinggi. Mata kecoklatannya itu berputar-putar menyapu wajah Key, mencoba mencari amarah di wajah laki-laki itu. “Apa kao tak marah ? Kao tak ingin memutuskan hubungan kita ?”, tanya Hana yang kali ini dengan lebih hati-hati.

Key menegakkan kembali tubuhnya, lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana dengan helaian nafas panjang. “Sudah kuduga pasti karena itu”. Kening Hana berkerut, tanda dia akan segera mengeluarkan pertanyaan atas gumaman pelan Key, tapi Key dengan cepat menyela. “Untuk apa aku marah ? Tak ada yang percaya dengan fotomu”

“Kenapa tidak marah ? Seharusnya kao marah kan aku membongkar rahasiamu ke semua orang ?”, tanya Hana bertubi-tubi dengan heran. Padahal dia sudah mendambakan kebebasan yang akan diraihnya saat Key mencampakkannya. Tapi mengapa Key tak marah ? Gadis itu heran setengah mati.

Key terlihat tak peduli, “Untuk apa marah pada tunanganku sendiri ?”

‘GLEK!’. Nafas Gadis itu tiba-tiba tercekat. Setiap kali key mengucapkan kata ‘tunanganku’, selalu saja berhasil membuat nafas gadis itu tercekat. Pertunangan baginya adalah sebuah kenyataan pahit yang harus ditelannya bulat-bulat. Kata itu..entah kenapa selalu saja menjadi semacam gema di otaknya. Semacam peringatan.

Hana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan gema di kepalanya. Lalu dengan nafas masih sedikit tercekat, dia bertanya, “lalu..”, Hana berusaha mengontrol suaranya yang terdengar seperti orang yang sesak nafas, “pink adalah warna yang kao benci kan ?”

“Kapan aku bilang aku membenci warna itu ?”

“Kao tak suka aku memakai baju warna pink !”, tukas Hana cepat.

“Itu karna—“, Key menghentikan kalimatnya. Dia tak ingin Hana tahu alasannya secepat ini. Belum saatnya Hana tahu semuanya.

“Karena apa ?!”, tanya Hana tak sabar.

Key berdecak kesal, “Yang pastinya aku tidak membenci warna itu !”, jawab Key sambil berlalu pergi meninggalkan Hana. Dia tak ingin mendengar gadis itu bertanya lagi. Semakin dia berada di sana dekat dengan Hana, dia yakin gadis itu pasti akan semakin banyak melontarkan pertanyaan untuknya.

Sementara Hana, segera tersenyum senang. Otaknya menyimpulkan sesuatu atas sikap Key. Dia berteriak pada Key, “Gojitmal ! Kao suka warna itu kan ? Kao hanya tak ingin ada yang tahu soal itu kan ?”. Key berhenti dan berbalik dan memandang gadis berbando biru itu dengan pandangan tak mengerti. “Aku benar kan key ?.. Kao tak mau mengakui itu karena takut orang-orang akan mengubah pandangannya terhadapmu kan ? Key yang keras kepala, ternyata lemb—“

“Aku memang suka”, potong Key dengan santai. “Dan itu bukan rahasia..”, ujarnya lagi lalu kembali berjalan ke arah keluar kelas.

“Selalu saja tak mau mengakui”, gumam Hana pelan. Dia kesal pada sikap Key. Entah kenapa, setiap kali Hana berulah padanya, laki-laki itu tetap tak mau memutuskan hubungan mereka. Hana jadi bingung. Padahal pertunangan itu terjadi karena paksaan orang tua mereka. Mereka tak pernah saling suka. Tapi kenapa Key selalu mempertahankannya padahal Hana sudah sering berulah padanya ? Kenapa ? Dan untuk apa ?

Di muka pintu, tiba-tiba Key berbalik lagi. “Sekali lagi kutegaskan padamu ! Aku tak akan pernah melepaskan ikatan takdir kita. Tak peduli apa pun yang kao lakukan..aku tak akan pernah merubah keputusanku !”

__________________________________________________________________________________

Suara dentang jam membuat Hana menjatuhkan kepalanya ke meja. Jam 8 malam ! Itu berarti sudah sekitar 20 menit yang lalu, Hana berusaha menyelesaikan tugas esai bahasanya. Biasanya ini akan sangat mudah untuk dikerjakan, tapi karena ucapan Key tadi siang, gadis manis itu jadi tak bisa berkosentrasi.

Kepalanya penuh dengan kata-kata terakhir Key untuknya..

‘Tak peduli apa pun yang kao lakukan..aku tak akan pernah merubah keputusanku !’

Hana menggeleng-geleng cepat menghilangkan semua kalimat Key dikepalanya. Dalam hati, gadis itu mengutuk semua gema yang selalu muncul dikepalanya sebagai peringatan. Entah mengapa setiap ucapan Key selalu seperti gema yang menghantuinya. Dan dia teramat kesal karena itu.

“Hana ?”, suara ibu Hana terdengar dari muka pintu.

Hana hanya diam dan menutup matanya, mendengarkan derap langkah kaki ibunya yang semakin mendekat.

“Minho ada diluar..”, bisik ibunya di telinga setelah berhasil berada di dekatnya.

Mendengar nama sahabatnya itu, Hana terlonjak senang dan menatap ibunya dengan mata berbinar-binar, “Minho ?”, tanyanya girang. Tapi kemudian alisnya terangkat, mengingat Minho yang sudah jarang ke rumahnya, “Mengapa dia kemari ?”

“Ibu tak tahu”, jawab ibunya singkat sambil mengangkat bahu. “Cepat keluar dan temui dia, arraso ?”, perintah sang ibu lalu berjalan keluar.

Hana segera bergegas memakai cardigan cokelatnya. Dia baru saja hendak keluar kamar, saat tiba-tiba dering sms hp nya berbunyi. Gadis itu menoleh sekilas ke hpnya yang diletakkan di meja belajarnya, lalu mengabaikannya. Bagi Hana, bertemu Minho adalah prioritas utamanya, jadi dia berniat akan membaca sms itu setelah bertemu Minho.

Hana melompat-lompat riang menuruni tangga, mencoleki appanya yang khusyuk menonton berita di televisi, dan akhirnya berlari kecil keluar rumahnya, tepatnya keluar pagar rumahnya.

Di depan sana, langkah gadis itu tiba-tiba berhenti. Degup jantungnya mendadak berubah cepat. Sosok laki-laki yang sedang duduk bersahaja di atas motor sport hitamnya itu selalu berhasil membuat jantungnya berdetak di atas normal. Apalagi senyum laki-laki itu masih seperti dulu. Senyum hangat yang hanya milik Hana~~

Gadis itu melangkah mendekat dengan pelan. Seolah-olah tak ingin cepat-cepat melepaskan pemandangan indah itu dari memori ingatannya. “Minhoo..”, panggil Hana pelan dan terlalu pelan. Hana bahkan tak sadar sudah mengucapkan nama laki-laki itu karena terlalu terpesona.

Senyum Minho masih mengembang saat gadis itu berhasil mendekat ke arahnya. Seolah-olah juga, tak ingin melepaskan kebahagiaannya dengan terlalu cepat karena melihat wajah Hana lagi. Rasanya sudah lama sekali Minho tak melihat gadis itu lagi, setelah sekian lama. “Apa kabarmu ?”, tanyanya.

“Baik. Kao ?”

“Baik juga”, jawab Minho lalu melihat jam tangannya. “Ini masih belum jam tidur malam. Mau jalan-jalan denganku ke taman ?”

Hana tertegun beberapa saat mendengar ajakan Minho. Taman ? Rasanya sudah lama sekali Minho tak mengajak gadis itu ke sana. “Mm..boleh”, jawabnya dengan anggukan.

“Kkaja~~”

Hana dan Minho menapaki jalan setapak kecil menuju taman. Udara terasa lebih dingin padahal saat ini masih musim panas. Hana menghembuskan nafasnya sambil menarik erat cardigan cokelatnya.

Sesuatu sedang menggerogoti pikirannya, seperti sebuah pertanyaan. Tapi Hana masih ragu-ragu menanyakan itu pada Minho.

“Bagaimana ?”, tanya Minho tiba-tiba yang membuat Hana tersentak dari lamunannya.

“Heh ? Bagaimana apa nya ?”, tanya Hana tak mengerti.

Minho tak berani menatap mata gadis itu, dia mengalihakan pandangannya ke bawah sambil memasukkan kedua telapak tangannya yang dingin ke saku celana. Helaian nafas mengawali kalimatnya, “Hubunganmu dengan Key…”

Hana sedikit terkejut dengan pertanyaan Minho. Ternyata Minho masih saja salah paham soal hubungannya dengan Key. Maksud Hana adalah, bukan berarti dia tak punya hubungan apa pun dengan Key. Hana amat teramat sadar kalau Key dan dia sudah bertunangan. Tapi Minho dan teman-temannya tak pernah tahu soal ini.

Mereka hanya tahu kalau Hana berpacaran dengan Key. Dan itu pun sama sekali tidak benar ! Hana dan Key tak pernah berpacaran. Membayangkan saja, gadis itu tak pernah ! Yang selalu dibayangkannya itu adalah berpacaran dengan CHOI MINHO. Hana sangat menyukai laki-laki itu. Tapi dia selalu tak punya waktu untuk menyatakannya.

Hana menghembuskan nafasnya ke udara, “Kami hanya teman, kao sudah dengar itu beberapa kali kan ?”

Minho tersenyum tipis memandangi jalan yang di bawah sepatunya, lalu menatap ke depan lagi. Pikirannya agak kacau sekarang. Hatinya sedang berkecamuk antara harus percaya pada Hana atau pada kenyataan yang ada. “Geuraeyo ?”, akhirnya hanya itu yang bisa diucapkan laki-laki itu.

Hana menghentikan langkahnya dengan sengaja, dan menatap wajah Minho. Menatap setiap inci wajahnya dengan cermat, berusaha mencari-cari kepercayaan Minho yang dulu sering ada untuknya. “Kao tak percaya padaku ?”

Minho yang ikut menghentikan langkahnya, sekarang juga ikut menatap wajah Hana. Tapi berbeda dengan Hana, Minho sedang mencari-cari apakah Hana berbohong padanya. Lama Minho menatap gadis itu, akhirnya dia menyerah, karena tak menemukan apa-apa. Minho menghela nafasnya pasrah, “Mungkin kao benar-benar tak bohong”

Hana tersenyum riang mendengar pernyataan Minho barusan. Lalu ikut berjalan riang di sebelah Minho lagi. Hati gadis itu sekarang sedang meluap-luap gembira karena akhirnya Minho tak salah paham lagi. Tapi tiba-tiba, Hana ingat pertanyaan yang tadi sempat tertunda karena Minho mengajaknya bicara tentang Key. Pertanyaan yang sempat menggerogoti pikirannya tadi.

Dengan ragu, gadis itu bertanya, “Bagaimana keadaan gadis Iran yang kao temui waktu itu ?”

Minho mengerutkan keningnya tak mengerti, “Wanita Iran ?”

Hana kesal, karena mengira Minho sengaja berpura-pura tak tahu, “Wanita yang katanya pacarmu di Iran itu. Bagaimana keadaannya ?”

Alis Minho terangkat sebelah. Dia heran mengapa Hana menyebut-nyebut soal pacar di kalimatnya. Minho tak punya siapa pun di Iran, kecuali ayahnya yang seorang pelatih sepak bola Iran. Dan benar Minho ke sana, tapi bukan untuk menemui seorang wanita, tapi untuk mengantar kakaknya yang akan tinggal di Iran. Minho bingung kenapa tiba-tiba ada gosip seperti ini tentangnya. “Siapa yang memberitahumu ?”

“Jadi benarkan ?”, tanya Hana dengan nada putus asa

“Itu tidak benar !”

“Apanya yang tidak benar ?!!”, ucap gadis itu dengan nada lebih tinggi. “Kao bilang pada Key agar aku tidak menemuimu hari itu, kan ? Kao juga menyuruh Key untuk jangan memberitahuku kalau kao ke Iran, kan ?”, tanya Hana bertubi-tubi. “Bahkan tidak bilang kalau kao sudah punya pacar”, bahu gadis itu melorot turun seirama dengan nada suaranya. Kemudian dia menunduk sambil bergumam pelan, “Memangnya kao anggap aku apa ?”

Hati Minho terluka ketika memperhatikan gadis yang dicintainya sejak dulu itu, menunduk sedih. Minho merasa bersalah karena memang telah menyuruh Key untuk tidak memberitahu Hana soal kepergiannya. Dia takut Hana akan menangis untuknya. Tapi dia tak pernah bilang kalau dia ke Iran untuk menemui pacarnya.

Minho juga sedih karena ternyata Hana lebih percaya dengan semua ucapan Key. Dia jadi heran, sejak kapan gadis itu memberi kepercayaan yang selalu untuknya itu, jadi ke Key ?

Tak mau terlalu ambil pusing soal itu, Minho menghela nafasnya. Lalu tangannya yang kokoh dan besar itu menyentuh ujung kepala Hana, “Hanaa…” Lalu sekali dengan gerakan lembut, Minho membuat kepala Hana terangkat untuk menatapnya, “Mianhee. Mianhee karena membuatmu cemas. Mianhee karena tak memberitahumu soal kepergianku. Tapi jujur, aku ke sana bukan untuk menemui seorang wanita yang katamu adalah pacarku”

Bola mata cokelat Hana berputar-putar menatap mata Minho, “Benarkah ?”. Minho mengangguk sambil tersenyum. Meski sedikit lega, tapi Hana masih belum puas, “Jadi untuk apa kao ke sana kalau bukan untuk itu ?”

“Aku mengantar kakak laki-lakiku yang akan tinggal di sana”

“Benarkah ? Bukan untuk wanita ?”, tanya Hana untuk memastikan lagi.

Minho tertawa karena menangkap nada manja dalam suara gadis itu, “Kenapa kao curiga begitu ? Apa kita sedang pacaran ?”

‘PETS!’ Seketika saja, muka Hana memerah. Gadis itu baru sadar kalau adegan romantis seperti tadi seharusnya terjadi di antara sepasang kekasih, bukan sepasang sahabat seperti dia dan Minho.

Minho makin tertawa geli melihat perubahan warna rona wajah gadisnya. Lalu berhenti karena mendadak hatinya berdesir. Dia merasa kalau harus memberitahu perasaannya pada Hana. Toh dia sudah dengar dari Hana sendiri, kalau dia tak punya hubungan apa-apa dengan Key, kan ?

Minho tersenyum, mencondongkan tubuhnya ke Hana, dan secara perlahan-lahan menurunkannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Hana. “Atau kao mau kita pacaran saja ?”

Karena suara Minho yang pelan dan terdengar sedikit menggelitik telinga, gadis itu mengedik menjauh. “Kk-kao bercanda, kan ?”, tanyanya gugup.

Alis Minho terangkat lagi dengan heran, “Memangnya aku terlihat seperti sedang bercanda ?”

‘DEG!’ Hana kembali mendapati jantungnya kembali melompat-lompat liar. Minho sedang memintanya menjadi pacar. Dia harus jawab apa ? Hana bingung. Disatu sisi, dia senang Minho akan menjadi miliknya. Disisi lain, Hana tak ingin mengkhianati orang tuanya, bahkan menyakiti perasaan Key. Dia tak suka jika dialah yang harus memutuskan hubungannya dengan Key. Hana lebih suka Key yang melakukannya.

“LEE HANAAA !!!!”, sebuah teriakan keras milik Key menggentar keras ke udara. Membuat Hana dan Minho tersentak dan segera membenarkan posisi berdiri mereka.

Key yang sedang berada di seberang jalan sana, sedang bersandar pada badan mobil putih klasiknya dengan senyum sinis menghias wajahnya. Bahasa tubuh lelaki itu santai, tapi wajahnya jelas-jelas sinis. Sebenarnya Key sudah memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu dari tadi.

Dari sejak Hana merajuk soal wanita iran. Key sengaja memilih diam dan memperhatikan mereka. Laki-laki itu mengira hubungan Hana dan Minho akan berakhir sampai di situ. Tapi ternyata tidak ! Hubungan mereka malah kelihatan tambah dekat.

Key tetap diam dengan mata disipit-sipitkan, berharap Hana takut dan segera menjauh dari sisi Minho. Tapi kenyataannya gadis itu tetap diam ditempatnya dengan muka tanpa dosa. Karena tak tahan lagi dengan sikap Hana, Key segera berjalan cepat menyebrangi jalan menuju jalan setapak diqamana Hana dan Minho berada.

Dengan kasar, Key berhasil menarik lengan Hana dan membuatnya sekarang berbalik dan berada di sebelahnya.

“Yaa !”, marah Hana.

Key mengabaikan Hana dan malah menatap tajam Minho. “Apa yang kukatakan terakhir kali padamu Minho ?”, geram Key

Minho berdecak sinis sambil memalingkan wajahnya sebentar, lalu kembali menatap Key. “Kao berbohong apa pada Hana ?”

Key tahu maksud dari pertanyaan Minho, tapi dia pura-pura tak mendengarnya. “Kubilang jangan dekat Hana lagi kan ?”, tanya Key mencoba mengalihkan pembicaraan.

Berhasil ! Minho teralihkan, “Kao tak punya hubungan apa-apa dengannya”, tukas Minho cepat.

“Cih ! Jadi kao tak percaya ya ?”, kesal Key. Senyum sinis Key melebar lagi, menandakan otak liciknya sedang bekerja, “Atau kao mau bukti ?”

Hana khawatir kalau kedua namja itu akan berkelahi, jadi dia segera menengahi mereka. “Key..kumohon jangan lakukan apa pun pada Minho”

Key menoleh kecewa ke Hana. Keningnya berkerut keras, karena tunangannya itu sedang memintanya untuk tidak melukai Minho. Kenapa Hana tak mencemaskan keadaan Key ? Kenapa Hana juga tak meminta Minho untuk tidak melukainya ? Apa kalau Key terluka, itu tak akan menjadi masalah baginya ?

Sementara Minho yang mendengar pertanyaan Key, merasa tertantang. Dia ingin tahu apa yang ingin key buktikan kepadanya. “Buktikan sajaa..”

Key mengalihkan pandangannya ke Minho dengan garang. Lalu dengan cepat menoleh ke Hana lagi. Tangan Key yang sedari tadi mengenggam telapak tangan Hana, semakin erat. Key menatap lurus mata bulat kecokelatan yang sedang berputar-putar bingung menatapnya.

‘Mianhee Hana’, batin Key. Sejurus kemudian, Key sudah berhasil mencium bibir Hana.

Mata Hana segera membulat. Dia terkejut dan mulai memberontak-berontak marah, berusaha melepaskan diri dari Key. Tapi Key pintar ! Sebelum mencium Hana tadi, tangan kirinya yang bebas tadi memegang dagu Hana kuat. Akhirnya Hana hanya pasrah dan membiarkan lelaki itu menciumnya.

Minho yang melihat adegan itu, hanya bisa melotot tak percaya. Ciuman yang sudah dari dulu diimpikannya dari Hana, kini sudah direbut Key. Hati laki-laki itu penuh penyesalan karena sudah mengijinkan Key membuktikan. Awalnya Minho kira Key akan melakukan hal konyol untuk membuktikan, tapi ternyata dugaannya salah. Minho tak sekali pun menyangka akan begini jadinya.

Setelah beberapa menit, Key melepaskan ciumannya. Meski sekarang degup jantungnya berdebar keras, lelaki itu tetap menoleh ke Minho. Dia tersenyum sinis, “sudah puas ?”

Minho tak bisa menjawab apa pun karena terlalu terluka.

Key tersenyum menang dan dengan segera menarik Hana menuju mobilnya. “Kao akan benar-benar menyesal hari ini, Lee Hana~~!!”

TBC~~~~~~~~~~~

*************************************************************************************

Annyong ~~

Maaf ng-post nya kbnyakan^^

Tapi akunya jarang ol sih ..jadi mohon dimakumi aja yaa

GOMAWOO ~~~

©2011 S3FFIndo


©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About Flowbloom

Hi, I'm a girl from Aceh. I started to like writing since I was in junior high school and began writing a blog well when I was senior high school. I like to hear a few songs. sometimes I'll write some lyrics here or I'd rather discuss it. I hope you like it and have no regrets for having a comfortable time while visiting my blog.

Posted on 18 Januari 2011, in AUTHOR, KATEGORI, SHINee Fanfiction, Shinki Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. ha~
    kasian kiat minho😥
    jadi penasaran ntar si hana ama siapa??

  2. key suka beneran ya sama hana??
    udah hana sama key aja, si hana jg punya rasa tuh sma key..
    minho cri yg lain aja..😀

  3. Minho Oppa..
    Uda sini sama aku aja..😀

  4. aku udah komen di blog mia tp mau komen lgy ahh XDD *marukk kekeke~
    ngeramein blog s3fi :3
    O.Omooo Keyy~ *ga jelaz :p
    ajari aku kissu2 :* =,=’ehh salah,, mksdnya nulis yg ada adegan kissu2nya :3
    susah2 gimanaaaaaa gtu>,<

  5. Kpn lanjutan.A q pnsrn nh..

  6. Suka….suka….

    Nomu choahae….

  7. Kren bgt key jd mkn cnta deh haha

  8. yah..penasaran lanjutnya_ kenpa key kok ga minho aja kkk~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: