FF/S/2/Get Her/Two shoot^^-END-

 

Judul : Get Her

Penulis : Mia Mentari

Genre : Roman

Rating : G — Cocok untuk seluruh umur

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Minho menghempaskan tubuhnya ke kasur. Rasa lelah menyerang tubuhnya seakan dia baru saja mengangkat beban berat di tubuhnya tadi.

Sambil menerawang langit-langit kamarnya, sebelah tangan laki-laki itu terangkat, berusaha memijat-mijat pelipisnya yang sakit. Semua bayangan kejadian tadi mulai berputar-putar pelan di otaknya. Ada rasa sakit dan bingung yang menyerangnya saat bayangan itu diputar ulang.

Minho ingat Hana bilang padanya, kalau hubungannya dengan Key tak ada apa-apa. Tapi mengapa tadi…? Minho tak sanggup memikirkannya. Kepalanya terlalu pusing untuk bermain tebak-tebakkan.

Dia hanya bisa berharap kalau hubungan Hana dan Key benar-benar tak ada apa-apa, dia mungkin hanya berimajinasi yang aneh-aneh tadi. Mungkin saja tadi Key bukan mencium Hana. Yaa..mungkin dia salah lihat tadi. Semoga saja..

Tapi kemudian dia tak yakin dengan tebakannya. Keningnya makin berkerut, “Atau besok aku tanya Hana lagi soal itu ? Atau kutanya Key saja ?”

-in Key’s car-

Hana melipat tangannya di dada sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Dia kesal sekali dengan perlakuan Key tadi. Key menciumnya ? Ia hanya mengeleng-geleng tak percaya, lalu kembali dilanda rasa kesal. Apalagi di depan Minho. Apa yang akan dipikirkan Minho tentangnya nanti ? Hana tak tahan lagi untuk menoleh ke Key yang sedang mengemudi.

Hana membayangkan jika saja matanya dilengkapi dengan laser seperti superhero-superhero yang pernah dilihatnya di film. Dia yakin pasti, dia bisa melelehkan Key dengan sekali tatapannya.

Tapi orang yang ditatapnya itu, sedang menerawang jauh. Keningnya berkerut serius seperti sedang memikirkan sesuatu. Hana sedikit terkejut melihat raut wajah Key. Merasa tidak enak, gadis itu akhirnya berdeham, “Yaa ! Kao tak ingin mengatakan sesuatu kepadaku ?”

Key tetap diam saja. Hana jadi bingung dan tak tahu berbuat apa. Gadis itu kembali mencermati wajah Key, berharap menemukan apa yang sedang dipikirkan Key. Tapi lama gadis itu pandangi, Hana tak melihat apa-apa. Matanya malah terfokus pada bibir Key.

Hana mengeleng-geleng kuat saat tiba-tiba jantungnya berubah aneh. Degup jantungnya berirama cepat dalam sensasi yang menyenangkan. Gadis itu memegangi dadanya sambil menggeleng-geleng kuat lagi. Dia tak mungkin jatuh cinta. Ia yakin detak jantungnya berubah aneh hanya karena gugup.

“Kao.. Kenapa tak membalas smsku ?”, tanya Key tiba-tiba dengan pandangan masih lurus ke depan.

Hana tersentak kaget. Dia malu sendiri, karena takut pikirannya tadi bisa ketahuan pada Key. Dengan malu, gadis itu menggaruk-garuk pipinya. “Iii..itu..”

“Minho kan ?”

“Heh ?”, Hana kaget.

“Sudah lah..”, Key menghela nafasnya sambil melonggarkan sweaternya yang terasa ketat sekali di bagian lehernya. Dia merasa sedikit agak sesak. “Sms itu juga tak terlalu penting”

Hana memiringkan kepalanya tak mengerti tapi kemudian memandang kembali ke jalan. Kepalanya berputar-putar, menebak isi sms Key untuknya.

Tak berapa lama kemudian, mobil putih klasik Key menepi. Hana tersadar dari lamunannya, lalu memutar kepalanya sana sini, tak percaya dia sekarang ada di mana. Di tatapnya Key yang sedang membuka seatbeltnya dengan pandangan tak mengerti, “Kita ke restoran ?”

Key mengangguk, “Ne”, jawabnya ringan. Key sudah membuka pintunya untuk keluar, tapi menoleh lagi ke Hana, “Turun atau kao kuhukum !”

Hana menatap tajam Key, “Aku tak punya waktu menemanimu makan malam, tuan muda Key~~”, katanya sengaja dengan menyebutkan kata ‘tuan muda Key’ dengan nada merendahkan. “Aku punya tugas esay yang saangat panjang dan harus dikumpul—“

“Jadi kao mau dihukum ?”, potong Key.

Hana mengerutu pelan sambil membuka seatbeltnya, “Arra ! Arra !”, lalu mulai turun keluar mobil. “Kenapa aku selalu diperlakukan sebagai anak kecil olehnya ?”, gumamnya kesal. Hana selalu dihukum oleh Key disaat sedang salah begini. Katanya karena Hana adalah tunangannya. Jadi dia berhak menghukum Hana sesuka hatinya.

Hana berjalan pelan dibelakang Key. Sengaja. Dia sedang kesal pada Key.

Tapi tiba-tiba Key berhenti dan membuat Hana tersentak kaget. Saat Hana membuka mulut untuk menyuarakan protesnya, tangan Key malah terulur ke arahnya, “Tunanganku mana boleh berjalan dibelakang”

Nafas gadis itu lagi-lagi tercekat. Kenapa setiap kali Key mengucapkan kata itu dia jadi kaku dan sesak begini ?

Hana mengerjap-ngerjap, berusaha mengendalikan tubuhnya yang tiba-tiba terasa kaku. “Aku bukan tunanganmu…”, katanya pelan dan hampir tak terdengar di akhir kata.

“Seberapa banyak kao bilang itu padaku, kao tetap milikku”, kata Key lalu dengan kasar menarik tangannya.

Lagi-lagi Hana merasakan nafasnya tercekat. Bukan hanya itu, Hana juga merasa kalau jantungnya mulai melompat liar. Padahal Key tak menyebut kata ‘tunangan’ padanya, tapi ‘milikku’. Hana mulai merasa dirinya aneh dan harus ke dokter. Dia mungkin punya penyakit sesak yang berlebihan hingga menyerang jantung. Yaa..semoga saja. Tapi apa ada.. “..penyakit sesak yang bisa menyerang jantung juga ?”, gumamnya.

“Apa ?”

Hana tersentak pelan. Karena takut apa yang sedang dipikirkannya ketahuan Key, Hana menggeleng cepat, “Anni~~ aku tak bilang apa-apa”

Mereka sekarang sudah berada di meja yang dekat jendela besar. Key menarik kursi untuk Hana dengan kening berkerut, “Tapi kudengar kao tadi bilang soal penyakit sesak dan jantung. Kao bilang kao juga harus ke dokter. Memangnya kao sakit apa ?”

Hana tersentak lagi. Bagaimana bisa Key tahu kalau dia memikirkan itu tadi ? Apa Hana tadi tak sengaja mengatakan isi pikirannya ?

Karena malu, dengan cepat, gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya, “Aaa~~tak mungkin ! Mungkin kao salah dengar. Mana mungkin kan aku mengatakan hal bodoh seperti itu, hahaha”, bohong Hana lalu duduk di kursi yang Key tarik untuknya.

Key tampak berpikir, “Mungkin kao benar..”, kata Key lalu mulai duduk di kursinya yang berhadapan dengan Hana. Setelah duduk, kepala Key mulai berputar-putar sana sini.

“Kao cari siapa ?”, tanya Hana.

Key berhenti menoleh sana sini, lalu menoleh ke Hana. “Pelayan..”

“Anda pesan apa ?”, tanya seorang pelayan tiba-tiba yang muncul dari arah belakang Key.

Hana tersenyum kecil memandang Key, lalu menatap pelayan itu, “Aku terserah tuan ini saja..”

Alis Key terangkat, “Siapa bilang kita akan pesan makanan ?”, gurau Key. Melihat Hana yang hampir bangkit dari kursinya, Key cepat-cepat meralat, “Aku hanya bercanda”, ucap Key pada Hana. “Kami pesan seperti biasa”, kata Key pada pelayan itu.

Setelah pelayan itu pergi, Hana mencondongkan tubuhnya di atas meja, lalu berbisik ke Key, “Hei..kao yang traktir aku kan ? Aku tak bawa uangku..”

Key ikut mencondongkan tubuhnya juga, “Hei..kenapa kao masih ada disini ? Bukannya tadi kao sudah mau pulang ?”

“Arraso ! Aku pulang saja”, kata Hana sambil bangkit dari kursinya.

“Yaa !”, Hana merasa tangannya ditahan Key, “Temani aku makan baru pulang !”

Hana tersenyum menang lalu mulai duduk lagi di kursinya. Setelah duduk, gadis itu mulai menarik nafasnya, “Jadii…untuk apa kemari ?”

“Makan kan ?”, jawab Key ketus. Dia masih kesal karena Hana hampir pulang tadi.

Hana mengangguk-angguk mengerti sambil mencibir. Laki-laki yang paling banyak dicintai yeoja di sekolahnya itu ternyata bisa merajuk juga.

“Tadi kao bicara apa dengan Minho ?”, tanya Key, masih dengan nada ketus

“Hah ? Mm..hanya soal wanita Iran itu”, tiba-tiba Hana ingat sesuatu, “Hei ! Kao bohong padaku soal wanita Iran itu kan ?”

Alis Key terangkat, “Bohong ?”

“Kao bohong padaku ! Kao bilang kemarin Minho pergi untuk menemui pacarnya”

Key mengangkat bahunya, “Memang begitu kenyataannya, kan ?”

“Tidak ! Itu salah !”, tukas Hana cepat. “Minho kesana untuk mengantar kakak laki-lakinya yang akan pindah kesana, bukan untuk menemui pacarnya yang kao bilang wanita Iran itu !”, ulang Hana pada perkataan Minho tadi.

Key menatap tak percaya gadis di depannya. Dia tak menyangka kalau Hana akan semarah ini. Lalu karena masih dilanda kesal, Key mendengus sambil memalingkan wajahnya ke jendela besar di sebelah mereka. “Kalau iya aku bohong, kao mau lakukan apa padaku ?”

Hana kaget dengan perubahan nada suara Key. Lebih berat dan dingin. Itu artinya laki-laki itu sedang marah. Bahu Hana melorot dan pandangan matanya mulai tertuju ke bawah, memandangi ujung cardigan cokelatnya. “Aku… akan marah ?”, katanya yang terdengar lebih seperti bertanya pada diri sendiri.

Key menoleh cepat ke Hana, “Marah ?”

Hana mengigit bibir bawahnya. Dia sendiri bingung harus lakukan apa. Apa harus marah atau biasa saja pada Key. Dia tak mengerti soal perasaannya sekarang.

Untunglah disaat canggung seperti itu, pelayan datang mengantarkan makanan mereka. Tapi setelah itu, mereka kembali dilanda kecanggungan.

“Ayo makan..”, ajak Key tiba-tiba

Hana mengangguk lalu mulai menyentuh sendoknya. Gadis itu hampir saja menyuapkan supnya saat tiba-tiba dia merasa tak tahan lagi untuk bertanya. “Kenapa kao bohong ?”

Key mengangkat kepalanya dari sup, laki-laki itu menatap lurus mata Hana yang berputar-putar menatapnya, “Apa aku perlu alasan ?”

Kali ini Hana lega, karena nada dingin Key mulai hilang. Walau masih terdengar berat dan terkesan serius, tapi setidaknya membuat Hana tak tertekan lagi. Hana mengangguk, “Mm.. Kao perlu alasan agar hubunganmu dengan Minho tak berubah jadi buruk”

Lagi-lagi Hana menyebutkan nama Minho ! Key bisa gila karena cemburu. Kepala laki-laki itu menggeleng pelan, menyingkirkan niat buruknya pada Minho. Lalu menatap Hana lagi, kali ini dengan pandangan memelas, “Bisakah kita tak membicarakannya ? Kao tadi bertanya tentang aku kan ?”

Hana tak mengerti alasan Key tak mau membicarakan Minho, tapi dia mengangguk saja.

Key menghela nafasnya lega, “Baiklah kalau kao mengerti. Akan kuceritakan alasannya, tapi kita harus makan dulu”. Key menambahkan lagi, “Nanti di taman hiburan”

*************************************************************************************

-@taman hiburan-

“Kao yakin ingin naik ini ?”, tanya Hana tak yakin. Alis gadis itu saling menaut, menandakan kalau dia sedang tak yakin. Dia yakin dan tak kan mungkin salah, kalau ibunya pernah bilang kalau Key phobia ketinggian. Tapi kenapa— ?

“Kao tak suka kalau kita naik wahana kincir angin ini ?”, tanya Key

Hana menoleh cepat, ekspresinya melongo, “Mwo ? Aku bukan tak suka, tapi aku—“, Hana menutup mulutnya. Sebenarnya dia ingin bilang ‘tapi aku juga phobia ketinggian’, tapi tak jadi karena takut Key akan mengejeknya ‘anak kecil’.

“Tapi aku apa ?”, tanya Key sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hana.

Hana menahan nafasnya. Dia bisa mencium aroma nafas Key. Dan itu akan berakibat buruk jika dia tak menahan nafasnya. Tubuhnya bisa saja bertindak gila dengan mengecup bibir merah di depannya. Masih dengan menahan nafas, Hana mencoba menjawab, “Aku.. aku ingin naik roller coaster !” Lalu Hana menyesal mengatakan itu, naik roller coaster sama saja bisa membunuhnya

Alis Key terangkat, dia tampak berpikir, lalu menjawab, “Kenapa roller coaster ? Kao mau nanti kita pulang dalam keadaan mabuk ?”, tanya Key. “Kalau aku lebih suka naik ini”, katanya sambil membetulkan lagi posisi berdirinya dan menatap wahana kincir angin di depannya

“Tapi aku tak suka naik ini..”, rengek Hana.

Key kembali menatap Hana tajam, “Jadi kao mau aku pulang dalam keadaan pusing dan mabuk ? Bagaimana nanti kalau aku membawa mobil dalam keadaan mabuk ? Bagaimana nanti kalau kita kecelakaan ? Bagaimana nanti—“

“Arra ! Arra !”, sahut Hana kesal. “Kita naik itu ! Kao senang ?”

Key tersenyum. Dia senang sekali bisa membuat tunangannya kesal.

*************************************************************************************

Hana dan Key sudah berada dalam kincir angin. Mereka sekarang tinggal menunggu wahana itu berputar.

Dalam suasana hening itu, Hana diam-diam menoleh ke Key yang sedang menatap ke luar jendela di sebelahnya. Beberapa kali Hana membuka mulutnya, tapi dengan cepat menutupnya kembali.

Hana sebenarnya ingin bilang dia tak suka naik ini. Hana ingin bilang dia phobia ketinggian.

Setelah memantapkan hatinya, dia mulai berbicara pada Key, “Key..aku—“

‘TAG!’, wahana itu berjalan. Hana terlambat untuk mengatakannya.

Hana menggigit bibirnya, menahan rasa takut. Mata gadis itu terpejam, sama sekali tak ingin melihat pemandangan di depannya. Rasanya sangat menakutkan melihat dirinya berada di ketinggian.

“Kao kenapa ? Takut ?”, Hana mendengar Key sedang bertanya padanya.

Hana hanya bisa mengangguk dalam keadaan terpejam, “Mm. Aku phobia ketinggian”

“Apa ?”, tanya Key tak percaya. Lalu Hana mendengar laki-laki itu berdecak kesal, “Kenapa tak bilang dari tadi ?”

“Aku sudah bilang tadi”, bela Hana. “Ini semua karena kao yang tak mau naik roller coaster”

Untuk sesaat Hana tak mendengar apa-apa, tapi Hana bisa membayangkan kalau Key sedang menatapnya kesal. “Tapi naik roller coaster sama saja kan ? Sama-sama tinggi”

Hana menggigit bibirnya, bingung tak tahu jawab apa. Akhirnya dia hanya menunduk dengan mata masih terpejam.

“Ya sudah ! Kao bisa pinjam bahuku, kalau kau takut”

Alis Hana terangkat, “Bahu ?”

Key diam lagi. Lalu tiba-tiba Hana merasa pundaknya sedikit berat. “Kalau begitu biar aku yang pinjam bahumu”

Karena terkesiap, Hana membuka matanya dan menoleh ke Key. Ternyata kepala Key menyandar di bahunya. “K-kenapa ?”, gumamnya gugup

“Bukannya dengan begini rasa takutmu jadi berkurang ?”

Hana diam dan memikirkan perkataan Key. Hana memang merasa sedikit tenang sekarang. Dia bahkan berani membuka matanya. Kenapa bisa begini ?

“Aku juga phobia ketinggian”, kata Key sambil memperbaiki posisi kepalanya yang nyaman. “Tapi berada di dekatmu, ketakutanku hilang begitu saja”

Jantung Hana kembali berdetak cepat. Bukan hanya jantungnya saja yang berdetak aneh, tapi darahnya juga aneh. Rasanya hangat… hingga menjalar ke pipinya. Kenapa bisa begini ?

“Kao pasti bertanya kenapa bisa begini, kan ?”, tanya Key yang membuat Hana terkesiap lagi.

Key tertawa kecil, “Kenapa kao mudah sekali terkejut ?”. Lalu dia melanjutkan lagi, “Semua bisa terjadi kalau kao punya hati, kao tahu ?”

Key menghela nafasnya, “Sebenarnya bukan di saat seperti ini saja aku merasa begitu. Tapi setiap saat… Saat aku berada di dekatmu.  Kao tahu ? Aku mulai jatuh cinta padamu saat ibuku pertama kali mengenalkanmu padaku sebagai tunanganku. Lalu semakin mencintaimu saat sadar kalau jantungku selalu berdetak cepat saat kao ada di dekatku. Dan aku bisa jadi sangat konyol saat kao ada di dekat orang lain”, jelas Key

“Itulah alasan mengapa aku tega berbohong. Dan alasan mengapa aku benci kao memakai baju pink. Aku tak suka kao memakai baju yang Minho hadiahkan untukmu”, kata Key lagi.

Hana merasakan sekujur tubuhnya panas dingin sekarang. Semua perasaan yang timbul memang menyenangkan untuknya, tapi kepalanya jelas-jelas bingung. Dia mencintai Minho. Tapi disisi lain, kenapa hatinya juga berdebar keras untuk Key ? Kenapa debarannya sama keras seperti debarannya untuk Minho ?

“Kao tak perlu menjawab apa pun..”, kata Key yang mengkagetkan Hana lagi. “Malam ini aku tak ingin mendengar apa pun. Aku hanya ingin bisa terus seperti ini. Aku ingin terus bisa merasakan debaran jantung ini saat bersamamu..”

*************************************************************************************

-next day-

Udara yang mendingin menandakan musim panas yang mulai menghilang dan berganti musim gugur. Hana menghela nafasnya sementara tangan kanannya sibuk membetulkan syal putih yang melingkar di lehernya. Langkah gadis itu terasa berat, tapi dia memaksakan tubuhnya untuk berjalan menuju café tempatnya dengan Minho sering bertemu.

Pagi ini, gadis itu sengaja bolos dari sekolahnya saat Minho menelponnya. Katanya ingin bertemu Hana sebelum pergi ke Iran lagi. Hana mengiyakan, karena merasa juga harus membicarakan sesuatu dengan Minho.

Langkah gadis itu terhenti ketika matanya yang cokelat jernihnya menangkap bayangan tubuh jangkung itu dari jendela kaca besar café. Nafasnya terhenti sesaat ketika melihat Minho yang mengaduk-ngaduk kopinya sambil melirik jam tangannya. Rasa-rasanya sulit bertemu saat ini.

Hana menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan dan memantapkan hatinya. “Aku pasti bisa !”, gumam gadis itu.

Kaki Hana mulai melangkah masuk ke café dan dengan segera menghampiri meja bertaplak merah di sudut café.

“Hana..”

Senyum hangat itu. Kenapa sekarang tak terasa hangat lagi ?

“Mianhee..”, ucap Hana sambil melepas syalnya dan menyampirkannya di kursi. “Sudah lama ?”

Minho menggeleng lalu tersenyum penuh arti lagi ke Hana, “Duduklah.. Kao pasti lelah, kan ?”

Hana tersenyum tipis, lalu duduk di hadapan Minho.

Minho tak bisa melepaskan senyumnya saat melihat gadis cantik di depannya. Kedua siku laki-laki itu bertumpu pada meja, lalu jemari kedua tangannya saling mengait sehingga membuat jembatan untuk dagunya bertumpu. Sambil terus tersenyum, Minho mengomentari penampilan Hana, “Kao terlihat lebih cantik dengan syal putih. Sekarang kao benar-benar berdandan di depan pacarmu yang baru ini ?”

Ya tuhan..apa yang harus kulakukan ? Minho mengira aku menerimanya menjadi pacarku…

“Minho…aku—“

“Apa aku harus memanggilmu jagii sekarang ?”, potong Minho cepat.

Apa aku terlalu jahat ? Haruskah aku memberitahu yang sebenarnya ke Minho ?

“Minho..dengarkan aku du—“

“Kao mau kupanggilkan pelayan, jagiii ?”

“MINHO !!”, panggil Hana setengah berteriak. Kesabaran gadis itu hilang, dia ingin marah. Tapi setelah melihat raut sedih Minho, Hana mengurungkan niatnya. Hana menunduk sambil menghela nafasnya, “Mianhee..”

“Gwenchana”, jawab Minho lirih. Lelaki itu juga ikut menunduk, sementara keningnya berkerut. Dia sedang frustasi. “Aku sudah tahu semuanya. Kao tak perlu minta maaf”

Hana terkesiap pelan, lalu mengangkat kepalanya cepat, “Kao tahu semuanya ?”, tanya Hana hati-hati. Minho mengangguk. Seolah kurang yakin, Hana bertanya lagi, “Semuanya ?.. Tentang aku… dan Key ?”

Minho mengangguk lagi, “Semuanya. Tentang kao dan Key”, ulang Minho. Lalu mengangkat kepalanya, “Tentang pertunanganmu dan soal Key mendapatkanmu”

Untuk sesaat, Hana tertegun menatap raut wajah sedih Minho. Tatapan rendah dan murung itu menusuk hatinya. Bagian hatinya sedikit runtuh. Dia tak tega melihatnya. Hana menundukkan wajahnya. “Mianhee”, ujar gadis itu lirih.

Minho tersenyum lalu mengulurkan lengannya yang panjang hingga menyentuh puncak kepala Hana. “Kenapa kao hobi sekali meminta maaf ?”, tanyanya dengan nada gurau. “Aku tak apa-apa. Kao tak perlu minta maaf”

“Mianhee”, ujar Hana lagi.

Minho terkekeh pelan, “Kao bilang itu lagi..” Lalu menghela nafasnya, “Mungkin karena itulah aku dan Key menyukaimu”

Hana merasakan panas di matanya. “Mianhee”

Tangan panjang itu berhenti mengelus kepala Hana. Secara perlahan-lahan, Minho menarik tangannya kembali. Kepalanya mendongak, menerawang langit-langit. Entah kenapa rasanya sedikit sesak melihat Hana seperti itu. “Kenapa selalu ‘mianhee’ ?”, tanya Minho sambil menerawang. “Kenapa bukan ‘saranghaeyo’ ?”

“Mianhee”, ucap Hana kini dengan sedikit terisak.

Minho tertawa muram, “Kao mengucapkan itu lagi..”, katanya. “Haruskah aku melepas gadis yang selama ini menjadi oksigen di hidupku ?”

Bahu Hana terguncang-guncang perih. Gadis itu mengigit bibirnya, menahan suara tangisnya. Tapi saat mengucapkan kata ‘mianhee’ lagi, suara paraunya tak bisa tertahan lagi.

“Sudah cukup..”, kata Minho lembut. “Tak usah menangis lagi. Kao sudah mengucapkan kata itu padaku tujuh kali padaku hari ini” Minho bangkit dari kursinya dan berjalan pelan ke arah pintu. Tapi saat melewati Hana, lelaku itu berhenti dan menyentuh puncak kepala Hana pelan, “Aku sudah menitipkan kao pada Key. Kalau dia membuatmu menangis seperti ini, telepon aku..”

Setelah berkata seperti itu, Minho segera berjalan keluar dari café. Tangannya yang memegang pegangan pintu sesaat terhenti. Helaian nafas muncul saat dia berharap Hana akan mengejarnya. Tapi ternyata Hana tak melakukan itu. Minho tak tahan untuk menoleh ke gadis itu sebentar

Minho melihat pundak gadis itu yang semakin naik turun dengan cepat. Hatinya seakan perih dan berniat untuk menghampirinya dan memeluk Hana. Tapi tak jadi, saat seseorang menepuk pundaknya pelan. Minho pun menoleh untuk melihat orang yang menepuk pundaknya.

“Serahkan padaku”, kata Key dengan mantap.

Minho mengangguk dengan helaian nafas lalu memberi jalan untuk Key masuk. Minho masih berdiri di tempatnya melihat Key berlari menghampiri Hana, memeluk gadis oksigennya, melihat Key menenangkan gadis itu dengan kecupan di kening.

Sebelah tangan lelaki itu terangkat ke dada kirinya. Jantungnya hampir tak berdetak. Rasanya menyakitkan melihat gadis oksigennya diambil. Tapi dia memaksakan jantungnya berdetak. Dia menggeleng pelan sambil bergumam, “Aku harus rela !”

Setelah itu Minho mulai melangkah keluar café. Langkahnya yang berat mendadak terasa ringan perlahan-lahan. Yang awalnya laki-laki itu melangkah pelan, mendadak berubah menjadi cepat. Aneh.. Tapi dia merasa jantungnya bisa berdetak bebas lagi. Minho baru akan naik ke motornya saat tiba-tiba suara lembut bening menyapanya ramah, “Minho-ssi ? Apa itu benar kao ? Aku Park Haneul ! Gadis Iran yang ditunjuk ayah anda untuk mengantar anda pulang”

-THE END-

************************************************************************************

EPILOG~~

Mobil putih klasik itu berdecit pelan dan menepi di depan rumah Hana. Minho mengangkat kepalanya dari hadapan jalan. Senyum laki-laki itu mengembang melihat Hana keluar dari mobil Key.

Kakinya tanpa sadar setengah berlari dari sandaran tembok, menyebrangi jalan, dan berjalan pelan menghampiri Hana yang berdiri menyampinginya. Tapi dengan segera langkahnya terhenti saat mendengar Hana mengatakan sesuatu.

“Apa boleh aku mencintai tunanganku sendiri ?”, tanya Hana pada Key.

Minho menahan nafasnya. Dia mungkin salah dengar. Kakinya terangkat satu lagi untuk mendekat, dia ingin mendengar lebih jelas. Tapi terhenti lagi saat Key menjawab pertanyaan Hana, “Apa ada larangan untuk mencintai tunangan yang merupakan laki-laki takdirmu ?”

Kali ini Minho tak mungkin salah dengar. Minho diam untuk mendengarkan degup jantungnya. Tak terdengar sama sekali. Dia merasa sesak.

Minho menyentuh dadanya dan mulai memukul pelan dadanya. Memaksakannya untuk berdetak. Tapi pemandangan gadis dan laki-laki yang saling menatap penuh cinta di hadapannya itu, semakin membuatnya sesak. Apa ini ?

“Jeongmal ? Apa aku benar-benar boleh—“

Kalimat Hana terpotong karena Key yang memeluknya erat. “Kao tak perlu ijinku untuk mencintaiku. Selamanya kao milikku. Kaolah takdirku. Tidakkah kao tahu kalau Tuhan sudah merencanakan pertunangan ini menjadi takdir kita ?”

Indera perasa Minho mulai tak bekerja sekarang. Minho tak merasa apa-apa lagi saat angin dingin menerpanya. Dia hanya merasa dingin di hatinya. Yaa..hatinya membeku dan indera perasanya mati. Gadis oksigennya… apa benar-benar akan hilang ?

Minho terus terpaku di tempatnya sampai kedua sejoli di depannya itu melepas pelukan mereka. Minho baru mulai bergerak saat Hana tersenyum ke Key, lalu mulai berlari masuk ke rumahnya.

Hati lelaki itu kosong sekarang. Tanpa sadar, Minho berjalan pelan ke arah Key yang masih tersenyum menatap rumah Hana. Langkah laki-laki sudah seperti zombie.

“Minho ?”, tanya Key kaget saat menyadari seseorang melangkah mendekatinya. Rasa bersalah langsung menyerangnya saat melihat ekspresi menyedihkan Minho, “Mianhee”

Minho tak mendengar permintaan maaf Key karena terlalu kacau dengan pikirannya. “Tunangan ?”, tanya Minho datar.

Key menatap lebar teman sekolahnya, “Darimana kao tahu ?”

“Jangan tanya itu !”, desis Minho. “Kao..” Minho menelan air liurnya yang tertahan untuk mengucapkan..”Kao tunangan dengan Hana ?”

Alis Key terangkat mendengar nada aneh di dalam pertanyaan Minho. “Iya benar. Lalu kenapa ?”

“Tak apa-apa”, jawab Minho pasrah sambil mengangkat bahunya. “Kalian saling mencintai ?”

Key mengangguk, “Mm. Kao tak perlu cemas. Aku bisa menjaganya”

“Tak perlu cemas. Tak perlu cemas”, ulang Minho lalu mulai berbalik dan berjalan menuju arah motornya terparkir. Tapi berhenti saat Key memanggilnya. Meski tak berbalik menghadap Key, Minho bertanya, “Apa ?”

“Aku tak main-main saat bilang kao tak perlu cemas. Aku bisa menjaga Hana karena aku benar-benar mencintainya. Maaf kalau selama ini aku sudah jahat padamu. Tapi takdir adalah takdir. Aku tak bisa menyerahkan Hana. Aku mohon kao mengerti”

Minho mengangguk, meski sebenarnya sulit. “Aku mengerti. Takdir adalah takdir. Aku mungkin memang bukan takdir Hana. Besok aku akan segera berangkat ke Iran. Aku akan menyerahkan sepenuhnya Hana kepadamu. Aku tak akan mengganggunya lagi. Karena tak ada ruang untukku. Kao sudah mendapatkan hatinyaa..”

*****************************************************************************

Makasi buat yang uda penasaran, whahaha XDD~~

Begini lah ending nya, yg ingin protes ayo silahkan protesss

*****************************************************************************

©2011 S3FFIndo


©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About Flowbloom

Hi, I'm a girl from Aceh. I started to like writing since I was in junior high school and began writing a blog well when I was senior high school. I like to hear a few songs. sometimes I'll write some lyrics here or I'd rather discuss it. I hope you like it and have no regrets for having a comfortable time while visiting my blog.

Posted on 24 Januari 2011, in AUTHOR, Mia Mentari, Shinki Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. Kya~~~
    ahahaha mia >< suka deh huhue. entah knapa jantg sya jga jedag jedug gto lol

  2. Hwaaaaaaaaaa!!!!
    minho…sedih, sedih..

    Seruu FF’a…lanjut yg lain ya author..hoho😀

  3. Minho oppa jgn sdih..
    sini..sini.. aq pluk..
    *digorokflamers..😀

  4. Ahahah ~ ada namaku ~!! key xDD

  5. Daebak FF! Aku suka Karakter key, meskipun dia kayak ‘Raja Kurang perhatian’, tapi Lucuuu!
    Kalo boleh request, aku pengen sequel hubungan Hana&Key sebelum nikah. Pengeeennn bgt!! >.<

  6. kkya…,,minho oppa..relakan aja si hana,,,,nih masih ada aku koq,,,hehe*di-tendang-flames
    i love this ff…!!!!!

  7. so sweet banget!
    seriuss…

    suka ama karakter Key disini..
    Berkesan bgt sbg tunangan yg baik xD

    Nice ff author!

  8. Huaaa, keren. Ini mah ga ada yg perlu diperotes >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: