[FF/1S/PG/ Tell Me “You Love Me”]

Title           : “Tell Me ‘You Love Me’!”

Author     : ArNy KIMTaemin

Cast            :~(SHINee) Kim Jonghyun ~(YOU) Kang ________ ~(SHINEE) Choi Minho

Rating       : PG-13 (maybe? Keke~)

Length     : oneshoot

Genre        : romance

Disclaimer     : Kim jonghyun and Choi Minho belong to SMentertaiment’s. And, Don’t plagiarism, this story is mine! And please dont be a silent readers.. ^^

A/N             :Hello~~~ all…. maaf, saya numpang post disini. ini FF pertama saya yang saya kirim ke Blog ini. sebelumnya saya juga udah pernah kirim ini ke blog ‘FFINDO’ makanya kalau ada readeryang baca FF ini dan ngerasa pernah ngebacanya.. itu berarti kalian pernah baca FF ini di FF INDO.. hehehe.. aku harap para reader suka dengan FF ini. yah walaupun tidak bagus, tapi kalau ada yang udah baca tolong kasih comentnya yah.. coment kalian sangat berarti bagi kelangsungan penulisanku.. kritik aja apa yang ingin kalian kritikkan .. karena itu kritik kalian memang saya inginkan… Ok, kalau gitu langsung ajae.. Happy Reading all!! ><

And 1 lagi.. disini aku buat tokoh ceweknya adalah Reader yang baca FF aku..

jadi kalau kalian suka atau mau, kalian bisa buat nama Korea atau nama apa aja, asalkan nama kalian di setiap kolom “_______”… okaaay?!~😄

@@@@


(Your’s  Pov)

“Hey…”

Dia menoleh.

“kamu mencintaiku tidak?”

keningnya berkerut. Namun kemudian dia berpaling menatap buku didepannya lagi.

Aku mendengus kesal. “baiklah.. Kalau begitu yang lebih mudah saja.. aku bertanya padamu, kau suka padaku atau tidak.”

dia menolehiku lagi dan aku menanti jawabannya dengan tidak sabar. ia tersenyum. kemudian menatap buku lagi didepan’a.

Keningku berkerut kasar. senyum? Ia tersenyum. Hanya tersenyum?? Hanya itu??!

Karena kesal, aku menarik buku dari tangan’a dan menutup’a dgn keras lalu kutaruh diatas meja, disamping kami. Sementara itu ia menampakkan keterkejutannya.

Aku mendesah. Kutatap dia didepan yang sedang menatapiku dengan satu alisnya terangkat.

“kenapa kamu terus-terusan seperti ini?..”

alisnya jatuh namun keningnya mulai mengerut.

“tidak usah pura-pura tidak tahu ataupuntidak mengerti seperti itu, Jonghyun..”

Jonghyun masih saja menatapku dengan keningnya yang berkerut.

aku mendesah pelan melihat ekspressi wajahnya itu. Meskipun aku sudah memarahinya tapi ia masih tak mengerti juga perasaan kesalku karena tingkahnya selama ini.

“lagi,… Kau lagi-lagi hanya terus menatapku Dengan kening berkerut seperti itu dan terkadang tersenyum.. Tanpa pernah kau menjawab pertanyaanku.. Atau sekedar mengatakan apa yang ingin kudengar darimu selama ini…”

Jonghyun memalingkan wajah dariku dan ia bangkit berdiri. Berjalan kearah dapur dari sofa dibalkon apartmentku yang kududuki sekarang.

KLEK!

Ia membuka lemari es dan mengeluarkan sebotol air mineral ukuran besar dari sana. kemudian dimasukkannya kedalam sebuah gelas kaca berukuran sedang hingga airnya memenuhi ruang gelas itu dan lalu diteguknya habis minuman itu. sementara aku hanya memandanginya dengan lemah dari kursi dudukku.

selalu saja seperti ini. Setiap kali aku bertanya padanya, apakah ia mencintaiku, ia selalu mengalihkan pembicaraan dan juga tidak menjawab. Atau seperti tadi, sesekali hanya tersenyum padaku sambil mengelus-elus lembut puncak kepalaku. memang seperti itu saja sudah cukup, setidaknya aku tahu bahwa Jonghyun tidak membenci kehadiranku dihidupnya ataupun ia menampakkan kesukaannya terhadapku. Tapi masa’ itu saja?

Ok, baiklah. mungkin aku serakah. Mengharapkan yang lebih dari apa yang aku terima saat ini.. seperti kelembutan’a menatapku, kebaikkannya padaku, dan kepeduliannya padaku,..

tapi tetap saja aku merasa tidak cukup.

Aku menginginkan yang lebih dari hanya sekedar berhubungan baik seperti itu.

Yah, setidaknya.. Ia mengatakan padaku bahwa ia mencintaiku.. Atau mungkin lebih dibawahnya lagi.. Menyukaiku.. Itu saja. Aku tidak ingin yang lain. Aku hanya ingin mendengar kalimat itu diucapkannya langsung padaku … Meskipun hanya sekali…. Sekali saja…

“Jonghyun..” panggilku tiba-tiba. Masih duduk sendiri disofa balkon sementara Jonghyun masih tetap berdiri di dapur, menaruh air mineral lagi kedalam gelasnya.

Jonghyun menaikkan dagunya. “ada apa?”

“apa kita ini pacaran?” Tanyaku.

Jonghyun yang baru sekali kembali meneguk minumannya mengerutkan kening. “kenapa kau tanyakan lagi? Lalu hubungan kita sekarang ini apa?”

“jawab saja pertanyaanku. menurutmu kita pacaran atau tidak?”

“iya. kita pacaran..”

aku tersenyum getir. “kalau memang kita ini pacaran, kau harus jawab pertanyaanku untuk terakhir kalinya..”

Tangan Jonghyun yg baru saja akan menuangkan segelas lagi airnya tertahan. Ia menatapku dengan satu alis terangkat. “pertanyaan terakhir?”

Aku mengangguk lemah. “kumohon.. Jawablah pertanyaanku ini…. Sekali saja…”

Jonghyun terdiam. kurasa ia menjadi bingung karena pertanyaanku.

“selama ini aku selalu bertanya hal ini padamu.. Jadi mungkin kau akan muak atau kesal jika kutanyai jal ini lagi.. Tapi,” kalimatku tertahan. tiba-tiba aku merasa pipiki basah. Kusentuh pipiku dan baru kusadari air mataku mulai bergulir turun dari sana.. entah sejak kapan..

“tapi apa?” tanya Jonghyun menatapku.

“tapi,.. setiap kali aku bertanya padamu tentang hal ini… Setiap kali itu pula Kau  tidak pernah menjawab.. Dan setiap kali itu juga pula, hatiku selalu kecewa.. Selalu terasa sakit… ” tanpa kusadari satu tanganku sudah memegangi dadaku. dan kepalaku tertunduk lemas.

“sakit.. Sekali… Sebab kupikir… Kau sama sekali tidak pernah mencintaiku ataupun sekedar hanya menyukaiku…. Apa kau sadar, bahwa dari saat pertama kali kita pacaran.. Kau sama sekali belum pernah menyatakan 2 hal itu padaku… “

Jonghyun tampak terkesiap.

“mungkin bagimu ini ‘tidak penting’.. Tapi…” kalimatku tertahan lagi karena tenggorokanku tercekat. sekuat tenaga aku berusaha mengeluarkan suaraku lagi, walau kali ini suara yang keluar lebih mirip suara bisikan.. Dan juga menjadi serak serta terputus-putus karena terucap disela-sela tangisku. kepalaku semakin tertunduk lemas.

“bagiku, ini sangat penting. Aku ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya.. Jadi jika kau tidak mencintai atau menyukaiku… Aku bisa pergi.. Menjauh dari kehidupanmu, Hyun-ah..”

Hening.. yang terdengar hanya suara angin yang lewat disekitar kami..

“jadi pertanyaanmu…” kalimat Jonghyun tertahan. Kurasa ia sudah mengetahui apa kalimat yang ingin kupertanyakan padanya..

“jadi…” aku semakin tertunduk lemas. Benar-benar lemas, seakan ingin jatuh ke bawah sofa.. Ingin pingsan.. Entah kenapa perasaanku semakin sakit..

“kumoon dengan sangat.. karena ini janji untuk yang terakhir kalinya kupertanyakan…. Sesudahnya terserahmu.. “

“jawablah dengan jujur… Apa kau mencintaiku?”

Akhirnya.. ungkapan kalimat itu keluar lagi dari mulutku… Meskipun aku yakin Jonghyun akan muak dengan itu.. Tapi ini harus kupertanyakan padanya agar semuanya menjadi jelas… Seperti yang kukatakan tadi…

Hening.. Tak ada jawaban sedikitpun keluar dari mulut Jonghyun. laki-laki berumur 20 tahun itu hanya menghela napasnya yang terdengar sangat berat.. Seakan punya beban yang begitu kuat..

aku masih menunggu jawaban Jonghyun.. kurasa sudah lebih dari 5 menit kami terus seperti ini.. Jonghyun tetap berdiri terdiam di Meja dapur.. dan aku duduk terdiam dengan kepala tertunduk lemas. tubuhku mulai lunglai.

“________”

Aku mengangkat wajah sedikit ketika namaku terdengar disebut. Jonghyun yang masih berdiri menghadapku menatapku sejenak. Pandangannya tak bisa kuartikan. tangannya terlipat. Ia terlihat sesekali mengetuk-ngetuk dagunya sendiri seakan berfikir keras.

Oucch,, apakah dia marah?

Apa dia marah karena dia muak dengan pertanyaanku yang baginya tidak penting tadi?

Ya tuhan.. kalau dia memang marah, itu berarti dia akan membenciku dan bukan tidak mungkin dia akan memutuskan hubungan yang sudah kami bina selama lebih dari 1 tahun ini.. Meskpin masih terlalu dini.. Tapi aku sudah sangat dapat menjadi kekasihnya selama ini.. Menjadi seseorang yang berarti.. Mungkin.. Baginya.

Dan aku mencintainya. Bahkan sekarang sudah sangat-sangat mencintainya..

Kalau ia memutuskan hubungan kami ini.. Maka.. Habislah sudah..

Tak ada lagi kebahagianku selama ini.. dan mungkinkah semuanya kandas sebentar lagi..???

“Ehem..” terdengar dehaman Jonghyun beberapa saat kemudian sehingga menyadarkanku dari lamunan.

“aku..” bibirnya mulai bergerak dan mengeluarkan suara.

Sementara itu, Jantungku berdebar-debar menunggu lanjutan kalimat yang akan diucapkannya yang kutebak itu adalah sebuah jawaban. Sangat mengharapkan jawaban. Apapun itu.. Walaupun pahit.. Aku akan menerimanya..

“katakanlah.. Sejujurnya..” kataku yang sebenarnya sudah tidak sabaran menunggu jawaban.

tak ada suara Jonghyun lagi? Keningku berkerut. Namun aku tidak mengangkat wajahku. Karena aku takut menatap wajah Jonghyun. cukup mendengar jawabannya saja. Tidak ingin melihat wajahnya, jika dia memang membenciku.. Karena pasti dia akan menatapku dengan tatapan kebencian darinya yang kuketahui itu sangat menyeramkan..

Tiba-tiba aku tersenyum. Aku baru teringat suatu kejadian. Dulu, Jonghyun pernah menatapku dengan kemarahannya..

**

BRRMMMM!

Sepeda motor yang kunaiki berhenti tepat didepan rumahku. aku turun dari jok sepeda motor yang kutumpangi.

‘Minho-ah… terima kasih ya atas tumpangan gratisnya… ” kataku dengan disertai tawa kecil dibelakangnya pada laki-laki yang masih duduk di sebuah motor besar yang ada dihadapanku sekarang.

Minho ikut tertawa kecil.

“sama-sama ________.. Tapi ada satu hal yang perlu kau ketahui…”

aku memiringkan kepalku sedikit. “apa itu?”

“siapa bilang tumpangan ini gratis?”

keningku mengerut. Menatap Minho dengan bingung.

“jadi maksudmu.. Aku harus membayar tumpanganku tadi?”

Minho mengangguk. Aku menggerutu..”yaah,, kau ini…” geramku. “kau tega sekali sih..”

Aku merogoh kantong bajuku dan tanpa kusadari Minho melihatiku dengan bingung. tapi kemudian aku menatapi Minho lagi dan tersenyum salah tingkah dengan menampakkan sederetan gigi putihku, “hehehe… Minho..”

“ya?” jawab Minho polos.

“uangku sudah habis.. “

Minho seakan menahan tawa. Tapi aku terus menyambung ucapanku.

“Bagaimana ini? Aku tidak bisa membayarmu.. Aduh.. Kenapa kau tidak bilang dari tadi saja sih disekolah, kalau kau akan meminta uang padaku jika aku menumpangi motormu.. Jadinya kan.. Lebih baik aku jalan kaki saja meskipun rumahku jauh.. Tidak seperti ini.. Bagaimana ini..” aku sudah seperti cacing kepanasan saja yang khawatir tidak jelas.

“ah, atau kalau tidak, kau tunggu disini biar kuambil dulu uangnya dikamarku..” kataku lagi dan hendak berbalik masuk kerumahku namun tangan Minho Menahan pergelangan tanganku.

Aku berbalik dan bingung melihat Minho yang tertawa kecil seolah menahan tawa dan lama-lama tawanya itu menjadi besar. Tertawa terbahak-bahak lebih tepatnya.

“kenapa kau  malah tertawa?” tanyaku.

Minho berusaha menatapku dengan mulutnya dibungkam tangannya sendiri. Ia seperti tertawa geli. Aku semakin bingung melihat tingkahnya itu.

“kau ini…” kata Minho menatapku geli.

“apa?”

“kau menganggap perkataanku tadi serius sekali, sih! Aku sampai geli melihat tingkahmu yang sudah seperti cacing kepanasan begitu..”

Aku ikut tertawa. Meskipun tidak tahu apa yang kutertawakan dan apa yang membuat Minho tertawa.

Minho menyentuh puncak kepalaku dan diacak acaknya. membuatku menjerit kesal. “Minho!”

“kau memang polos, ______… Hahaha, aku hanya bercanda. Tidak serius, kok! Mana mungkin aku meminta imbalan uang padamu karena telah mengantarmu pulang dengan motorku ini.. memang kau kira aku ojek apa? yee.. begini-begini wajahku ini bukan level wajahnya tukang ojek tau!”

“jadi level apa?”

“tukang sayur!” cerocos Minho. tawaku langsung meledak mendengar kalimatnya itua, dan sekarang aku mulai mengerti maksud dia.

“hahaha, begitu.. Kukira profesimu sudah berubah jadi tukang ojek..”

“ojek tampan..” sungutnya.

“iya..iya..” kataku lalu tertawa lagi. “baiklah! Kalau begitu aku masuk dulu yah! Ini sudah sore..” kataku kemudian saat pandanganku menangkap awan langit yang sudah menghitam.

Minho mengangguk menyetujui. akupun segera berbalik dan baru saja langkahku berjumlah 3 langkah berjalan kearah rumah, Minho memanggilku lagi membuat langkahku terhenti. Aku berbalik.

“ada apa, Minho?” tanyaku.

“kau melupakan sesuatu,”Katanya.

alisku terangkat satu dan kepalaku sedikit kumiringkan. “sesuatu?”

“ya..” angguk Minho. mataku memperhatikan tangan Minho yang menunjuk-nunjuk kepalanya. keningku berkerut.

“apanya?” tanyaku masih tak mengerti.

“Helmku..”

Aku meraba kepalaku dan tersentak kaget. Lalu aku tersenyum perlahan menahan malu, “ah, iya.. Aku lupa..” ujarku pura-pura polos (?)

Minho tertawa lagi sementara aku berusaha mengangkat Helm Minho yang entah kenapa terasa berat dikepalaku ini, dan.. ‘Terasa berat.. Berat?’.. Ah iya, Helm ini sangat berat..

“berat sekali.. Susah membukanya.. Minho, apa kau tidak ikhlas meminjamkan Helm ini untukku?” gerutu yang langsung membuat Minho tertawa cengingikan

“kau ini..” Minho menggeram menatapku. “sinilah.. Biar aku yang bukakan..” katanya menyuruhku datang mendekatinya dengan gerakan tangannya. Akupun melangkah mendekatinya. Dan Minho mulai membantu membukakan Helm yang masih terpasang dikepalaku.

“tumben Helm ini tidak patuh dengan majikannya..” Minhi menggerutu sedangkan aku hanya ber “ehmm..” menanyakan ketidak mengertianku.

“mungkin Helmku ini tidak ingin terlepas dari kepalamu, kali..” kata Minho lagi yang langsung mengaduh karena mendapat pukulan tangan dariku.

“kau sudah pulang, yah _________-ah !”

Spontan aku dan Minho melihat kesamping kami, keasal sumber suara, secara bersamaan.

“Jonghyun?” seruku kaget melihat seorang laki-laki yang baru membuka Helmnya dan turun dari sebuah motor besar berwarna merah. Setelah menaruh Helm itu disangkutan motor ia berjalan menghampiriku dan juga Minho yang masih terbengong ditempat kami.

Minho lalu terlihat berusaha menutupi kesalahan tingkahnya. “oh, kau Jonghyun ternyata.. Hai..” sapa Minho. Sementara itu aku tidak sengaja menangkap wajah Jonghyun yang melirik tidak suka kearahku dan Minho.

“hai juga..” sapa Jonghyun lagi akhirnya. Membuatku menghela napas lega. untung saja Jonghyun tidak marah padaku dan Minho. Yah, walaupun nada suaranya seakan terdengar tidak ramah begitu, tapi setidaknya ia menjawab sapaan Minho.

“Helmnya susah sekali ya?” tanyaku pada Minho. Minho membantu melepaskan ikatan Helm dikepalaku lagi, “tunggu sebentar..” katanya.

“EHEM!”

Sentak aku dan Minho sama-sama menoleh ke arah Jonghyun.

“kenapa itu?” tanya Jonghyun dengan tangannya menunjuk-nunjuk lehernya sendiri, seakan memberi isyarat pada kami berdua.

Minho melihat kearahku lagi dan sentak ia langsung melepaskan pegangannya pada Helmku membuatku tersentak juga.

“oh, maaf..” keningku berkerut mendengar Minho meminta maaf. Kenapa?

“aku hanya bermaksud membantunya melepaskan Helm ini..” kata Minho lagi serba salah pada Jonghyun. Aku semakin mengerutkan kening, bingung.

“________..”

Aku tersentak dan menoleh kearah Jonghyun. “ya?”

“maaf tadi aku telat menjemputmu karena suatau urusan ..”

Aku mengulas senyum simpul. “tidak apa-apa.. Aku mengerti belakangan hari ini kau sedang sibuk.. Karena itu aku pulang sendiri..” kataku.

Jonghyun mengangguk. “Tapi setelah urusan itu selesai aku kekelasmu lagi karena kupikir kau masih menunggu disana seperti biasanya.. tapi tak ada siapapun dikelasmu dan aku juga tidak menemukanmu diseluruh bagian kampus yang kucari.. “

“kau mencariku? Kenapa sampai repot begitu?”

Jonghyun mengangguk lagi. “Karena merasa khawatir makanya aku langsung kerumahmu.. dan menlihatmu, ternyata kau sudah pulang.. Dengan..”

Minho sepertinya merasa Jonghyun melirik dirinya dengan pandangan tidak suka. Tiba-tiba saja entah mengapa suasana menjadi kelam. kulihat tatapan Jonghyun yang sudah seperti banteng kepanasan dengan wajahnya berwarnah merah. ditambah lagi seakan muncul aura-aura hitam dari belakang Jonghyun. Aku memang bukan cenayang, tapi entah kenapa aku dapat merasakan aura buruk itu. Melihat suasana yang sudah menjadi tidak enak seperti ini, dengan cepat aku langsung membuka suara mencoba mengusir keheningan setelah sebelumnya aku berhasil mengeluarkan kepalaku dari kurungan Helm Minho. itupun setelah dengan susah payahnya aku mencopot talinya

“aah… Iya… Tadi kelasku memang pulang lebih cepat, karena itu tadi aku memutuskan untuk naik busway saja.. “

aku melihat Jonghyun melirik Minho, seakan bertanya, -lalu-kenapa-bisa-ada-dia-disini-??!-. Mengerti maksudnya buru-buru aku menyambung ucapanku lagi, “tiba-tiba ditengah jalan aku bertemu dengan Minho yang juga sedang dalam perjalanan pulang.. Karena rumahku kebetulan searah dengan jalur rumahnya jadi dia menawarkanku untuk menumpang dikeretanya.. Dan akhirnya ia mengantarkanku pulang sampai kerumah ini..” kataku tersenyum.

Jonghyun menatapku dengan pandangan seakan masih tidak puasnya.

“ah, ah.. Tadi.. Tadi, aku ada mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak aktif.. Kupikir habis baterai seperti biasanya.. Bukankah begitu?”

Jonghyun masih diam. aku salah tingkah, bingung dan mencoba memberi penjelasan lainnya agar Jonghyun dapat mengerti, sementara Minho hanya menggaruk-garuk kepalanya seperti merasa bersalah dan juga tidak enak.

“sekarang kau sudah menemukanku dirumahku kembali dan dalam keadaan selamat, kan! itu yang lebih penting, kan?”Kataku lagi cepat-cepat.

Jonghyun menatapku dan Minho bergantian lalu ia menatapiku lagi lama. tak lama kemudian ia mengangguk dan perlahan tersenyum padaku.

“Yah.. Memang itu yang lebih penting bagiku.. Asal kau pulang dengan selamat dan tidak kenapa-kenapa.. “

Aku berusaha ikut tersenyum juga. Aku melirik Minho lagi dan langsung memberikan Helmnya pada Minho.

“sudah terbuka juga.. Ini, Minho, Helm-mu.. Sekali lagi terima kasih, ya..”

Minho menerima Helm yang kusodorkan pada Minho dan ia mengangguk tersenyum.

saat aku hendak berplaing melihat Jonghyun, kakiku mundur selangkah karena kaget tiba-tiba Jonghyun sudah berada tepat diantara aku dan Minho. Ia melingkarkan tangan kirinya dileherku dan tersenyum tulus pada Minho.

“terima kasih yah, Minho, kau sudah mau mengantarkan pacarku yang pastinya sangat merepotkanmu ini..” katanya mengacak-acak rambutku membuatku menyerui namanya, “Jonghyun!”

Minho balas tersenyum. “sama-sama..” katanya. Tiba-tiba ia mengelus puncak kepalaku lembut. “pacarmu ini tidak merepotkanku sama sekali, kok.. justru aku senang dapat mengantarkannya pulang kerumahnya..”

Ya ampun! Matilah aku! Habislah aku! Pasti Jonghyun akan memarahiku habis-habisan nanti.. Kenapa? karena memang selalu begini.. Setiap kali ada teman laki-lakiku di kampus yang mengelus atau sekedar mengacak-acak rambutku sambil tertawa memujiku.. ia pasti selalu mengomeliku dan menyuruhku agar jangan mau berteman lagi dengan laki-laki itu jika dia masih terus asal saja berkelakuan tidak sopan padaku..

Tidak sopan? apa kaliah juga berfikir seperti ini? Entahlah. Dalam kamusku, sebenarnya hal ini tidak menjadi msalah karena teman laki-lakiku itu, kan, hanya mengelus yang berarti menampakkan kesayangannya padaku, bukan.. Itu kan artinya baik. Bukan menampakkan kebencina mereka padaku. Tapi, entahlah.. Sepertinya hal ini tidak berlaku dalam kamus Jonghyun. aku sendiri heran mengapa pemikirannya seperti itu..

Tapi,,…

Sebenarnya.. Dibalik itu semua, aku senang juga, sih.. Aku selalu tertawa dibelakang Jonghyun seusai tiap kali ia habis mengomeliku karena hal yang menurutnya tidak sopan itu. kenapa tidak? itu tandanya, dia cemburu padaku…

Aduh, apa yang kupikirkan sih? Kok aku jadi ngelantur gini? Oke, kita kembali ketopik permasalahan!

Aku hanya bisa tersenyum mendapatkan perlakuan barusan dari Minho. Walau sekarang yang kurasakan lingkaran dileherku semakin erat. Membuatku sedikit susah untuk bernafas.

“ah, iya, Jonghyun..” panggil Minho tiba-tiba. “geronde, kita sudah lama sekali yah tidak berjumpa..”

“ah, iya..” jawab Jonghyun dengan nada suara terpaksa.

Minho menyambung lagi,”mungkin karena kita beda jurusan kuliah, yah..?

Jonghyun mengangguk. “bagaimana kabarmu?”Tanyanya akhirnya.

“ah,” senyum mengembang dibibir Minho. “akhirnya kau yang bertanya duluan juga. Ckckck”

Jonghyun tersenyum kecil.

“aku baik.. Untunglah.. Kau sendiri?.. Sepertinya bertambah berotot yah?”

Jonghyun tersenyum melihat Minho yang memperhatikan dirinya.” ya, belakangan ini aaku memang lebih sering olahraga..”

“Ooohh,” Minho menggumam. Jonghyun tersenyum, dan aku? Aku masih berusaha melepaskan tangan Jonghyun dari leherku tapi tetap tidak bisa. Jadinya aku hanya memukul-mukul tangannya itu, berusaha menyuruhnya untuk melonggarkan sedikit lingkaran tangannya dileherku ini. Dan untungnya berhasil.. Ia melonggarkan tarikan tangannya yang melingkar dan malah melepaskan leherku dari tangannya yang kuat. Tapi belum lama aku mencoba mengatur pernapasanku, dia malah menepuk-nepuk bahu punggungku membuatku tersedak-sedak. Tapi sepertinya untuk yang satu ini, Jonghyun tidak mau menggubrisku, ia malah masih berbicara dengan Minho.

“ah, sudah sore..” kata Minho tiba-tiba ketika wajahnya menengadah melihat Langit yang awannya sudah menjadi hitam kelam..”

“sepertinya juga sudah mau turun hujan..” kata Minho lagi.

aku melihat Jonghyun mengangguk-angguk lalu menata Minho dihadapannya dengan tatapan, “-kalau-begitu-kenapa-kau-tidak-pulang-saja-?-?-?-!-”

Aku merinding sendiri melihat tatapan Jonghyun itu. Segera kupalingkan wajah ku kearah yang berlawanan dengan Jonghyun. Aku tidak ingoin melihat tatapannya itu lagi. Sangat mengerikaan…

“baiklah,_______-ah.. Kalau begitu aku pulang dulu..”

Aku mengangkat wajah akhirnya meskipun dengan susah payah. tapi untung yang kutatap Minho, bukan jonghyun.

“ah, apa kau tidak mau mampir dulu.. Ini sudah mau gerimis sepertinya..”

Aku membungkam mulutku sendiri. Aissh, kenapa aku berkata seperti itu??! Waduh, gawat! saat aku menawarkan tadi pada Minho, aku lupa bahwa Jonghyun ada disampingku.

Jonghyun menepuk punggung bahuku sekali lagi dan berkata sambil tersenyum dan menampakkan sederetan gigi putihnya,

“hahahahaha..” tawa Jonghyun yang entah mengapa bagiku rasanya terdengar seperti suara petir yang menyambar.

“________ benar.. Masuklah dulu.. Dan pacar merepotkanku ini akan membuatkanmu segelas teh hangat.. Lumayan, untuk menghangat badan..”

Omo!! Habislah aku dengan Jonghyun nanti!!

“ah, memang benar dingin-dingin begini, paling enak menghangatkan badan dengan meminum air teh panas..”

Aku terkesiap. Jangan-jangan Minho beneran mau menerima ajakanku dan juga..Jonghyun.. omo! Kalau memang iya, maka…

Aku melirik Jonghyun yang sudah mengulas Killer-smilenya pada Minho.. Membuatku aku yang melihatnya menelan ludahku sendiri.

“tapi, ini sudah sore. Tidak baik juga aku terlalu berlama-lama dirumah orang, lagipula aku juga harus buru-buru pulang kerumah.. jadi, maaf yah, _______-ah, Jonghyun-ah…” kata Minho.

Aku berusaha tersenyum. Dan Jonghyun, benar-benar ter-se-nyum!!

“begitu yah?? Sayang sekali yah.. Baiklah, kalau begitu lain kali saja.. ” kata Jonghyun sepertinya sangat puas. Aku mencibir Jonghyun.. cepat sekali suasana hatinya berubah..

Dasar Jonghyun! -_-“

“iya benar.. Lagipula kan kalau aku terus disini, _______,  Nanti bisa-bisa kau dimarahin oleh sii JjongProtektif ini lagi..”Kata Minho bercanda seraya menunjuk Jonghyun dengan dagunya, membuatku tak mampu menahan tawa dan Jonghyun cuma tersenyum kecut. sedetik kemudian ia sudah mendengus kesal lalu ikut tertawa pula, sekalipun tawa me-mak-sa!.

“baiklah..” Minho menggenakan Helmnya lagi dan menaiki jok sepeda motornya.dari balik kaca Helm ia berkata, “aku pulang dulu. Sampai jumpa..”

“ne! Sampai jumpa!” kataku membungkuk pada Minho dan tersenyum, “hati-hati yah..”

Minho mengangguk, menghidupkan sepeda motornya lalu setelah ia melambaikan tangannya padaku jugaJonghyun, segera dilesetkannya kendaraan yang selalu dipakainya untuk kekampus itu menuju keluar gerbang rumahku..

Saat Minho sudah tidak tampak lagi dan suara sepeda motornyapun sudah tidak terdengar lagi, aku menjauhkan tangan Jonghyun dari punggung bahuku dan langsung berjalan masuk kedalam rumah. Jonghyun mengikutiku dari belakang.

aku tertawa sendiri mengingat sikapnya tadi..

“sepertinya kau senang sekali diboncengi oleh seorang Choi Minho tadi, ya?!”

Langkahku terhenti. Aku melirik kebelakang dan tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Jonghyun yang kelihatan kesal bercampur marah. tak menjawab pertanyaannya, kembali Aku berbalik dan melanjutkan langkahku lagi.

beberapa detik kemudian, sambil berjalan aku berkata, “ehmm.. Tidak juga..”

Jonghyun menghentikan langkahnya. Menatapku dengan keningnya yang mengerut. “apa??” kagetnya. “maksudmu apa?”

“……………….” tak ada jawaban dariku. aku enggan menjawabnya karena sibuk dengan perasaanku sendiri yang sedang merasa senang lantaran Jonghyun sepertinya mencemburuiku yang pergi dengan Minho tadi.

“maksudmu apa, _______?? jadi kau senang diantar oleh Minho tadi?” nada suara Jonghyun terdengar lebih keras dan kesal.

aku sengaja menghentikan langkahku lagi dan tersenyum tanpa membalikkan badanku sehingga aku tak melihat Jonghyun yang tanpa kusadari sedang berjalan menghampiriku.

meski berhenti, aku maish belum mau menjawab pertanyaan Jonghyun juga. jadi, aku kembali berjalan kedepan.

“aku memang senang diantar oleh seorang Choi Minho tadi..” seruku sedikit kukeraskan nadanya bagar Jonghyun bisa mendengar ucapanku. “tapi itu karena aku dicemburui oleh seorang Kim Jonghyun!”

Langkah Jonghyun tercekat. ditatapnya aku dengan penuh kebingungan..

“lagipula meskipun aku menyukai diantar sampai kerumah oleh Minho, aku lebih suka-suka-suka lagi, jika diantar sampai kerumah oleh kau!!” seruku menambahkan.

hening. keningku berkerut. aku sama sekali tak mendengar suara Jonghyun sekarang. perasaanku mulai terasa tidak enak. apa laki-laki itu marah??

Aku hendak berbalik karena merasa penasaran, namun suatu tarikan dileherku membuatku terperanjat.

“JONGHYUN! SAKIT!” aku berusaha melepaskan tangan Jonghyun yang melingkar pada leherku tapi tenaga laki-laki itu untuk melingkari leherku lebih kuat. aku tak mampu melepaskannya dan hanya mampu meronta-ronta sambil terus menjerit kesal. “YA! JONGHYUN-AH!”

“Benar!”teriak Jonghyun tanpa memperdulikan kesakitan leherku karena tangannya.

“Seorang Kang ________ memang harus lebih senang jika diantar oleh seorang laki-laki tampan bernama KIM JONGHYUN! DAN HANYA DENGAN DIALAH PEREMPUAN BERNAMA KANG ________ ITU MENYERAHKAN SENYUMAN TERBAIK DAN TERMANISNYA!!” stambahnya dengan suara lantang namun terdengar riang di telingaku. Aku hanya bisa mencibirinya.

“KAU DENGAR ITU, KANG _______??!”

“YA! YA! AKU DENGAR!”

Jonghyun mengacak-acak rambutku, “Bagus!” katanya tersenyum puas, “kalau begitu ayo kita masuk!”

**

Aku tersadar dari lamunan dan menyadari pipiku sudah basah karena airmata. Benar-benar basah dari yang tadi. Aku menghapusnya dengan telapak tangan, namun air mata ini tak mau berhenti.

Benar-benar tak mau berhentikah??!

aku menhapus-hapus airmata itu lebih kasar lagi, karena aku tidak ingin Jonghyun menilai bahwa aku adalah wanita yang lemah. Samar-samar terdengar suara langkah kaki mendekatiku. Aku melirik sedikit kedepan, benar.. Jonghyun tengah berjalan kearahku..

Dengan cepat aku mengusap-usap permukaan wajahku lagi. aku tidak ingin Jonghyun melihatku yang terus menangis seperti ini.. Tidak.. Aku tidak mau.. Tidak ingin.. Aku tidak ingin merepotkannya hanya karena tangisku ini..

Repot. Yah, aku memang selalu saja merepotkannya dari dulu. bahkan hingga sekarang.. seperti katanya, aku ini adalah kekasihnya yang terepot yang pernah ada..

**

“pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus menemaniku pergi berbelanja hari ini! Oh, ayolah, Jonghyun.. Kau temani aku sehari ini saja! Kalau tidak,” aku masih saja terus merengek dan meminta Jonghyun untuk menemaiku jam 3 sore nanti pergi berbelanja di pusat kota Seoul.

“kalau tidak apa?” tanya Jonghyun yang baru keluar dari kamarnya. aku bangkit dari dudukku dan menatap Jonghyun yang mengambil sesuatu dari lemari dekat kamarnya.

“kalau tidak aku akan terus merengek disini memintamu untuk menemaniku pergi berbelanja! Aku akan terus merengek, menangis dan berteriak-teriak keras disini pun akan aku lakukan supaya kau mau menemaniku!!”

Jonghyun menatapku dengan satu alis terangkatnya. “kau serius?”

“tentu saja aku serius”

“itu gila.. tapi, baiklah kalau kau memang mau. Kau bisa melakukannya sekarang. Aku ingin lihat bagaimana caramu agar dapat melunakkan hatiku untuk akhirnya aku mau menemanimu..?”

mataku membulat, “apa?”

Jonghyun tersenyum senang. “kau bisa melakukannya sekarang,”

Aku mendengus kesal. lalu tanpa berfikir apapun lagi, segera aku melempar tasku keatas sofa dan duduk dengan kaki terjulur dilantai. Perlahan aku terisak, dan lama-kelamaan menangis sekeras-kerasnya hingga memenuhi setiap sudut apartment Jonghyun. sementara itu, Jonghyun hanya terperangah.

“kau benar-benar melakukannya, _______”

Aku menahan tangis menatap Jonghyun namun lalu kembali menangis lagi. Merengek-rengek dengan kaki yang kuhentak-hentakkan dilantai, mungkin posisiku ini sudah seperti seorang anak kecil yang merengek minta permen atau mainan pada ibunya.

“UWAAA~~~ UWA UWA UWA~~~IKS~~IKS~~”Suaraku tersedu-sedu, tapi yang kudengar hanya suara tawa menggelegar dari Jonghyun. Seakan menetralisir suara tangisku. Lebih tepatnya suara tawa dia dan suara tangisku berbanding 50:50.

Aku berhenti menangis. Kutatap Jonghyun yang terus tertawa terbahak-bahak dihadapanku.

“kau..” katanya menahan tawa sambil menunjuk diriku dengan telunjuk tangan kanannya. “kau itu… ada-ada saja.. Lucu sekali.. Benar-benar lucu, _______” tawa Jonghyun terpingkal-pingkal memegangi perutnya.

“JONGHYUN!” seruku kesal. Jonghyun tak menggubris. Ia masih saja tertawa.

“aku menangis kenapa kau malah tertawa, sih?!!!”

“hahahahahahahahaha, lucu.. Lucu sekali..”

aku memandang tidak percaya pada apa yg kulihat. Kuhela napas berat, dan tertunduk pasrah. perlahan airmata mulai mengalir dari pipiku. sekarang aku benar-benar menangis. Tenggorokanku pun mulai terasa sakit dan tercekat karena menangis.

“kenapa?” desihku pelan. Jonghyun tersentak dan terdiam, menatapku yang sudah tertunduk dengan wajah bergelinang air mata.

“kenapa? Apa kau tidak mau menemaniku pergi sekali saja? Sekaliii saja.. Aku hanya memintamu menemaniku hari ini saja.. Hari ini teman-temanku yang lainnya pergi berkencan bersama pacar mereka masing-masing.. Sehingga tidak ada yang bisa menemaniku..”

Jonghyun terdiam.

“tapi kenapa kaupun tidak mau menemaniku? Apa kau tidak suka pergi bersamaku? Atau jangan-jangan…” aku terisak. ” kau malu pergi denganku? Apa karena aku terlalu merepotkanmu??”

“aku hanya inging kau menemaniku walaupun kita tidak berkencan.. Seperti pasangan anak muda lainnya.. padahal hari ini hari Minggu.. Hanya hari ini kau mempunyai waktu sempat, kan..?”

Jonghyun terdiam menatapku dengan salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal karena kebingungan dan, mungkin, ia merasa bersalah, baru saja mengingat kesibukkannya selama ini sehingga tidak ada waktu bagi kami untuk sekedar pergi jalan sedikitpun, apalagi kencan..

“baiklah.. Baiklah.. Kita pergi..” kata Jonghyun akhirnya pasrah, mengangkat kedua tangannya keatas dan disabetnya jaket abu-abunya dalam lemari. Ia berjalan menghampiriku.

“sudah, jangan menangis lagi.. Aku selalu kerepotan jika kau menangis..” katanya sambil mengangkat wajahku dan menghapus airmataku perlahan. Sedangkan aku langsung mengembangkan seulas senyum padanya. Taktikku berhasil! Batinku.

“kau itu selalu saja merepotkanku..”kata Jonghyun lagi.

“masa’?” tanyaku.

“apa kau tahu, bahwa kau adalah kekasihku yang paling merepotkan dari semua wanita yang yang pernah menjadi kekasihku!” kata Jonghyun lagi, kali ini sambil membetulkan rambutku yang baru kusadari telah brantakan karena tertiup oleh angin yang masuk dari arah balkon apartment Jonghyun.

“oh ya? Memangnya berapa orang wanita yang pernah menjadi kekasihmu sebelum aku?”

“satu. Hanya kau,”

Aku tertawa mendengarnya. Sementara Jonghyun mengacak-acak rambutku.

“Jonghyun,..”

“hmm..”

“tapi bolehkah aku tanya suatu hal?”kataku menatap Jonghyun.

Jonghyun balas menatapku, “apa?”

“benarkah aku sangat merepotkanmu?”

“yah, benar..”

Aku menyemberutkan wajah.  Menggembungkan kedua pipiku dan mungkin karena gemas melihat tingkahku itu Jonghyun langsung menarik lembut hidungku. “jangan cemberut begitu, dong! Dengar, _______-ah… Kau memang merepotkanku.. Selalu saja membuatku repot karena sifat dan tingkahmu selama ini.. Sampai terkadang aku merasa kesal karenanya,”

Aku semakin cemberut. “benarkah kau kesal? Kalau begitu..” aku tertunduk lemas lagi dan memainkan jariku, “aku minta maaf karena kau selalu repot karenaku..”

“memang.. aku sangat kerepotan. Tapi..,” kalimat Jonghyun tertahan. Aku menantikan jawaban lagi dari bibir Jonghyun sampai beberapa detik lamanya, tiba-tiba, “aku senang, karena akulah orang yang selalu kau repotkan! ” bisiknya ditelingaku, aku terperanjat dan nafasku tertahan sejenak. Wajah Jonghyun sudah sangat dekat dengan wajahku. Bukan berfikir apa-apa, hanya saja, aku tidak mampu mengangkat wajahku untuk menatapnya. Mencium aroma wangi tubuhnya saja dan berada hanya beberapa cm darinya saja, sudah membuat jantungku berdebar kencang. Kurasa, aku tidak kuasa dengan semua ini..

“1 lagi, bahkan kalau bisa teruslah merengek seperti itu padaku jika meminta sesuatu yang kau inginkan.. jangan meminta pada lelaki lain.. Aku tidak suka itu.. Karena selagi aku bisa memberikan apa yang kau inginkan itu, aku pasti akan memberikannya padamu.. Jadi, repotkan lah aku terus.. Hanya aku.. aku rela asal yang kulakukan itu membahagiakanmu.. Arraeseo?”

Aku mengangguk perlahan, dan sekali lagi Jonghyun membelai rambutku. Lalu sesudahnya, hal terakhir yang sangat kuingat sebelum akhirnya kami keluar apartmen dan pergi menuju Pasar Seoul dengan mobil adalah, pelukan hangat tubuh Jonghyun yang menyelimuti tubuhku.

**

Suara langkah kaki didepanku semakin terdengar jelas. dan lama-kelamaan langkahnya semakin cepat dan dekat hingga saat ini langkah itu tepat berhenti terdengar didekatku. Dihadapanku tampak sepasang kaki panjang yang dibaluti celana jins panjang dan sepatu olahraga berwarna putih keabu-abuan.

Aku semakin merundukkan wajahku. Lantai bawah pandanganku sudah basah karena airmataku yang terus saja tumpah diatasnya.

“kau ini.. Selalu saja merepotkan..”sebuah suara yang sudah sangat kukenal terdengar ditelingaku. aku tidak menjawab apapun untuk meladeni perkataan dari suara itu, hanya memejamkan mataku erat.

Sudah dapat kuduga begini jadinya,.. Batinku dengan tangan kananku yang terangkat memegangi dada kiriku.

“kenapa kau selalu saja bertanya pertanyaan yang terus kau ulang itu, hah? Membuatku sungguh bosan mendengarnya..”

Mungkin memang benar, hubungan kami akan berakhir saat ini juga.. Sebentar lagi.. Aku semakin menutup mataku. dan sebenarnya juga ingin menutup telingaku, agaf aku tidak mendengar kalimat yang dilontarkan Jonghyun yang sudah kutebak akan membuat hatiku sakit dan teriris. Tapi, tidak bisa. tanganku sama sekali tak bergerak menutupi telingaku. Seakan ingin membiarkanku mendengar saja semua perkataan Jonghyun. karena tangan kananku memegang dada kiri, sedang tangan satunya lagi aku menggunakannya untuk menghapus air mata diwajahku.

“tidak.. Jangan..” gumamku tanpa sadar dengan suata terisak.

Ouch, siapapun,.. Tolonglah aku.. Bantulah aku untuk menutupi telingaku ini karena tanganku sendiri tidak mau kompromi dengan pikiran ini..

sementara itu, Jonghyun berjongkok. Menatapku dengan pandangan yang tidak kuketahui seperti apa.

“_______. Kau benar. Akupun capek kau tamyakan terus tentang hal ini.. Tapi, kau benar sekali. Aku memang haru menajwab pertanyaanmu tadi agar semuanya menjadi jelas..”

Aku menelan ludah.

” aku mencintaimu atau tidak? Itu pertanyaanmu, kan..”

“……”

perlahan terasa sebuah tangan menyentuh rambut sampingku yang kuurai panjang. lalu sentuhan tangan lain juga terasa kemudian diwajahku. Wajahku sepertinya diangkat oleh sipemilik tangan ini.

Hangat. Tangan ini begitu hangat menyentuh wajahku. dan sekarang, aku berfikir bahwa posisiku adalah sedang menengadah dan tepat berada dihadapan wajah dari si pemilik tangan ini, namun mataku terpejam. Aku sama sekali tidak melihat, apa lagi mau membukanya untuk saat ini. Kenapa? Bukankah sudah kujelaskan, bahwa jika aku berada sangat dekat dengan laki-laki dihadapanku sekarang ini, pastilah aku tidak akan kuat. Tidak akan tahan menahan debaran jantungku yang sekarang mulai terasa timbul.

rambutku masih saja disentuh. Dibelai dengan sangat lembut. Dan perlahan aku dapat merasakan harum tubuh laki-laki dihadapanku ini. suatu bisikan terdengar ditelinga kananku membuatku terpaku ditempat.

“aku tidak menyukaimu.. Dari dulu hingga sekarang.. Selama ini kau salah paham.. “

nafasku tertahan. Sedetik tadi jantungku terasa berhenti berdetak. Aku sulit bernafas.. Tapi kucoba untuk tetap memfokuskan pendengaranku lagi pada lanjutan kalimat barusan dari Jonghyun.

tanpa kulihat ternyata Jonghyun menyunggingkan seulas senyum. “tapi, aku sangat men-cin-tai-mu dari dulu dan sampai selamanya……!!” lanjutnya berbisik.

Aku terkesiap.

Apa aku tidak salah dengar?

Aku tidak sedang berhalusinasi, kan?

Jonghyun benar-benar……

sentak aku membuka mata dan wajah tampan Jonghyun yang tersenyum manis muncul pertama kali dalam pandanganku.

“a-apa aku tidak salah dengar?” kataku tersedu yang pada kenyataannya lebih mirip sepertu suara bisikan.

Jonghyun semakin menyunggingkan senyumannya. Itu senyuman termanis yang pernah ia berikan padaku.

“Jonghyun.. Bisa kah, kau mengulanginya sekali lagi? Sekali saja.. untuk meyakinkanku bahwa apa yang kudengar barusan bukan halusinansiku semata..” kataku meminta.

“Oucch,…… dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya untuk ketiga kali.. “perintah Jonghyun dan aku mengangguk.

Jonghyun menatapku lekat-lekat, lalu ia kembali berbisik ditelinga kananku, “Kang _______ ,……….. I LOVE YOU..”

aku membungkam mulutku sendiri dengan telapak tangan kanan. Menatap Jonghyun tidak percaya. 2 tetes airmata bergulir turun lagi dipipiku. Pipiku yang tadinya sudah tidak basah lagi karena usapan tangan Jonghyun yanh menghapusnya, menjadi basah kembali karena airmata. Dan kurasa kali ini, air mataku benar-benar tidak akan terbendung lagi.

‘Ternyata Aku tidak salah dengar!’ Batinku senang.

“gadis bodoh.. Kok, malah menangis lagi?” Jonghyun berusaha menghapuskan airmataku dengan punggung tangannya. dan aku tidak menolak.

“a.. ku.. Baha..gia… Sekali.. Sampai .. Tidak dapat… Menahan… Air mataku yang jatuh…” ucapku terbata-bata disela-sela isak tangis.

Jonghyun mengangkat daguku sedikit.

Sementara aku masih terisak-isak,

“a.. aku… Emmm,…. “

Jonghyun berhasil membuatku tercekat. Ia membuat ucapanku tertahan karena membungkam mulutku dengan sebuah ciuman darinya..

FIND

HWAAA~~ akhirnya selesei juga! capek ngetiknya…

nah, now, jika kalian sudah membacanya saya mohon comentar kalian yah…

please….. 1 koment juga gak papa..

karena jika FF yang ini bagus.. (ku ralat, setidaknya FF ini bisa diterima dan gak jelek-jelek amat, maka untuk kedepannya aku akan mecoba untuk mengepostkan FF ku yang lainnya..

terima kasih karena sudah mau baca… GOMAWOO~~~ ^____^

About Arliani_95 Suharli

i'm ordinary Girl~~ Im like Koreaaa and All about Korea~~~!! I'm ELF, VIP, Sone and Shawool!! in SuJu, I love Kibum, Yesung and Kyuhyun..... in SHINee, I love Keyyyy!!!! and Taeminnnnn!!!Second (?) Husband.. kkkekek, An the last in Sone, I veri love all member, specially Taeyeon, Yoona, Tiffany, and Sunny... :) :) :) In BIG BANG, GD Is My hehehehe... gomawoo..

Posted on 11 Februari 2011, in SHINee Fanfiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. Udah lama nulis yah? Kata2 mu bagus aku suka.
    So sweet bgt ini, xixixi. Keep writing ya dear x)

    • gmawo all yang udah mau nyempetin ngebaca ff ini.. jongmal2 gomawo… ^__^

    • areta : makasih udh baca…gak juga.. semenjak kelas 3 SMP (14 tahun) aku mulai nulis..
      skrg umurku 15 tahun.. udah lama yah?*mungkin..*
      benarkah so sweet? makasih… okey.. aku akan coba ngepost FF lain.

  2. bukan sifat jonghyun bngeto_O
    Bertolak belakang sekali,
    Tapii aku suka…

    Aku selalu memimpikan punya namja yg cuek,
    Tapii d balik it semua, dia mampu memberikanku kejutan yg tak terduga..

    Aku selalu suka ff cast a jonghyun,
    Karna aku merasa ff a selalu bagus.. Mgkin karna aku terlalu terobsesi pada a..

    • makasia udh baca..

      ne, sama.. aku juga suka banget sm tipe cowok kayak gitu..
      tp sayangnya aku belum dapat tipe cowok kyk gitu.. iksiksiks..😄

      sama jg.. aku jg suka bgt ama Jonghyun!
      habis suaranya keren sihh.. (??)

  3. Wah, chingu pasti udah lama nulis ya? Pantesan pembawaan ceritanya bagus.

    Post lg ya!

    • gak juga lah.. baru satu tahun coba untuk mulai nulis.. udh lama yah? iya mungkin.. kekekekek

      wah makasih pujiannya.
      okey! nanti aku akan cb untuk nngepost lagi..
      makasia udh baca..

  4. yee happy ending🙂 hahha
    ^^ sempet bingung pz awalnya ama sudut pandangnya🙂 tapi untung lgsg ngeh😀 hehhe
    ^^keep writing lahh~

    • makasia udh nyempetin baca…
      insyaallah aku akan tetap terus menulis, coz menulis adalah hidupku..(sok gombal nih)
      hehehe…

      ooh,, maaf lah kalau agak bingung yah..
      iya, pas buatnya lupa untuk naruh perbedaan antara flashback ama yang gak.. mau sunting lg kan sayang.
      skli lagi makasih udh baca~

  5. Kerenn .. Jjong .. Yaampun oppaku so sweet😀

  6. annyeonh! author ceritanya sukses membuat saya senyum” sendiri dan lebih keBLINGER lagi aduh jjong😄 degh”an ah hahahah😄

  7. keren keren keren akhirnya jjong bilang juga..
    Huft susah amat sih jjong bilang cinta..
    Syukur deh happy ending..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: