[FF/PG-15] The SORROW TWILIGHT Part 2

The SORROW TWILIGHTaretaannora.wordpress.com

AUTHOR : REANN

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : Part 2 [2104 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

========================================

Aku benci Nicole. Entah sejak kapan dan karena apa aku mulai membenci Nicole. Aku juga sudah tidak begitu ingat. Yang pasti rasa benci itu masih tertanam di hatiku. Sejenak aku memejamkan mataku. Mencoba mengingat alasan dari kebencian ini. Sepotong demi sepotong ulasan kejadian mulai mengambang di danau ingatanku. Aku tersenyum pahit.

“Karena itu ya?”

************************************************************************************

The SORROW TWILIGHT

PART 2

-Best Place-

Sepuluh tahun yang lalu, ketika kecelakaan itu terjadi. Aku dan Nicole masih begitu kecil. Kalau tidak salah, aku baru berumur lima atau enam tahun mungkin. Keluarga kami begitu bahagia. Appa kami adalah seorang pengusaha Amerika yang singgah ke Korea. Dan bertemu Umma yang asli orang Korea. Cinta mereka bersemu dan akhirnya menuju pelaminan.

Suatu hari, saat hujan turun dengan derasnya, aku memaksa Appa untuk mengantarkanku ke suatu tempat. Appa sudah berjanji seminggu sebelumnya untuk mengantarkanku ke tempat itu bersama Nicole. Tempat apa itu aku juga sudah agak lupa. Semacam taman hiburan mungkin. Umma menyarankan untuk pergi esok hari saja, supaya kami dapat pergi bersama. Karena pada hari itu Nicole tengah sakit. Namun aku terus memaksa.

Akhirnya Appa mengalah. Ia berencana pergi dua kali. Hari ini untuk mengantarku dan esok hari untuk mengantar Nicole. Umma Nampak tidak rela kami pergi meninggalkan Nicole sendirian, sehingga ia memutuskan untuk tinggal di rumah. Aku dan Appa pergi dengan mobil. Aku begitu bahagia. Sementara Appa Nampak gelisah memikirkan keadaan Nicole.

Mungkin karena kegelisahan itu pura, konsentrasi Appa buyar. Mobil kami menabrak pohon. Menimbulkan guncangan keras. Aku berteriak keras. Sesaat kulihat Appa, kepalanya tertelungkup di atas stir. Sesuatu yang berwarna merah pekat menetes deras dari kepalanya. Sesuatu yang juga Nampak menetes dari dahiku. Kepalaku terasa begitu sakit, seolah terbelah. Pandanganku mulai kabur. Tubuhku terasa lemas. Dan… semuanya gelap…

Kecelakaan itu membuat semuanya berubah. Appa pergi ke suatu tempat yang bernama Surga. Aku beruntung masih bisa hidup, namun ada gangguan di kepalaku. Efeknya cukup besar. Aku tidak mampu berpikir terlalu lama. Terkadang suka melamun sendiri. Muncul sisi lain dalam diriku. Bagai menyimpan monster dalam diri sendiri. Emosiku terkadang meluap – luap tanpa bisa ku kotrol. Tapi terkadang semua emosiku hilang dan aku jadi diam kaku. Aku tidak berani mengatakannya pada umma karena sesuatu juga berubah dalam diri Umma. Tatapannya padaku berubah. Apa umma membenciku karena kejadian itu? Karena aku memaksa Appa saat umma menolaknya.

Umma lebih memperhatikan Nicole. Aku hanya dianggap seolah pembanding saja. Bagai figuran dalam keluarga. Mungkin sejak saat itulah aku membenci Nicole. Karena umma begitu menghargainya sebagai karunia Tuhan. Karena ia jauh lebih baik dari aku. Karena ia terlalu cantik. Karena ia terlalu baik dan bahkan tidak membenciku setelah kecelakaan itu. Karena ia terlalu sempurna.

Sudah sekian lama waktu berjalan. Suah sekian lama aku membenci Nicole. Namun Nicole Nampak tidak begitu peduli dengan semua kebencianku.

“Kenapa kau tidak balas membenciku saja? Jika kau balas membenciku, akan jauh lebih mudah bagiku untuk membencimu pula.”

Tanpa kusadari tanganku mendadak mulai menggoreskan sepatah demi patah kata pada sehelai kertas kosong. Kertas yang pucat bersih itu kini mulai ternoda oleh tinta.

Kata demi kata terjalin menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat terjalin menjadi bait. Sebuah bait untuk melontarkan pikiran pada dunia yang acuh padaku. Sebuah bait sebagai tanda protes pada sang Ratu Adil.

Kutatap lagi kertas itu.

Kenapa aku menulis ini? Apa ada gunanya? Apa sehelai kertas ini bisa mengubah takdirku? Matahari sudah hampir tenggelam. Umma pasti akan memarahiku saat aku pulang nanti. Aku harus bergegas.

Aku segera bangkit berdiri dengan kertas itu tetap di genggamanku. Pikirku, nanti akan kubuang di jalan. Namun aku berubah pikiran. Aku membungkuk dan menyelipkan kertas itu di lubang kecil pada pohon tempat tadi aku bersandar. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku melakukan hal ini. Apa aku sudah gila? Hanya berharap seolah akan ada seorang malaikat yang datang membacanya. Lalu malaikat itu akan tersentuh dan membantu mengubah garis kehidupanku. Hhh… Sungguh hal kekanak – kanakan.

————————————————————————–

Aku bergegas melangkah keluar. Di tengah perjalananku menuju gerbang, kulihat masih banyak anak laki-laki bermain basket. Benar juga. Sebentar lagi akan ada kompetensi basket. Bahkan hingga senja seperti ini mereka masih berlatih. Mataku perlahan mulai menyapu cepat akan setiap sosok di lapangan basket. Beberapa anak perempuan menunggu dari kejauhan sambil sesekali berteriak memberi semangat. Kenapa mereka masih ada di tempat ini? Mereka tidak punya kepentingan apapun. Kenapa tidak pulang saja? Ah, iya! Pasti karena ‘dia’. Kudengar pria itu juga pemain basket. ‘Pria yang paling tampan’. Itu julukan yang diberikan oleh anak-anak padanya. Namun tidak pernah sekalipun aku peduli akan hal – hal semacam itu. Dan kalaupun aku peduli, akankah ada pengaruhnya bagiku?

***********************************************************************************

__Kibum POV__

“Latihan hari ini kita akhiri.” Ucap jinki pada anggota basket lainnya.

Aku langsung duduk di bangku dan meneguk air dari botol yang sudah kupersiapkan sebelumnya.

“Oppa! Kau hebat sekali hari ini!!” teriak Haejin dari kejauhan dengan wajah dibuat seimut mungkin.

Aku hanya tersenyum. Haejin langsung berteriak tidak karuan.

“Kau lihat itu? Oppa tersenyum padaku.” Ucap haejin pada gadis di sebelahnya dengan volume yang cukup keras. Bahkan aku pun masih bisa mendengar suaranya dari kejauhan.

“Hhh… Apa dia baru saja menelan pengeras suara?” keluhku sambil menutup botol minumku.

Jinki yang berada di sebelahku langsung menyenggol sikuku.

“Kau ini playboy ya? Bukankah kau sudah pacaran dengan Nicole? Kenapa masih melirik gadis lain?” tanya Jinki seraya mengambil handuk dan mengelap peluh di keningnya.

Aku menunjuk haejin yang masih berteriak tidak karuan.

“Maksudmu makhluk yang ada disana?” aku mengernyitkan dahiku.

Jinki menggangguk cepat seraya merebut botol minumku dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

“Dia bukan tipeku.” Ucapku sambil mengamati haejin.

“Tapi wajahnya lucu juga. Anak mana dia?” Jinki menjejalkan botoll minuman yang sudah kosong ke dalam tasku.

“Sepertinya anak kelas dua.” Tebakku.

Jinki menangguk-anggukan kepalanya.

“Gadis yang disana juga kelas dua kan?” tanya jinki seraya menunjuk kearah seorang gadis di sisi lain lapangan. Aku ikut menoleh kearah yang ditunjukan jinki. Gadis itu… sepertinya aku pernah menemuinya… Dia…?

Dahiku berkerut. Mencoba mengingat semua gadis yang pernah kutemui. Ah! Gadis yang menabrakku!

“Kenapa dia belum pulang? Apa yang ia lakukan disini?” gumamku lirih.

“Dia pasti menunggumu juga. Sama seperti gadis – gadis yang ada di sana.” Jinki menunjuk haejin dan grupnya.

“Tidak mungkin. Dia berbeda dengan mereka.” Bantahku seraya mengamati gadis yang masih diam tak bergerak di tempatnya itu.

Gadis itu mendadak sadar bahwa aku tengah memperhatikannya. Ia balik menatapku. Sejenak kami terdiam. Biarpun dari kejauhan, matanya masih terlihat indah. Dengan latar belakang mentari yang tenggelam, dia terlihat begitu cantik. Namun dengan cepat gadis itu seolah salah tingkah. Ia segera membungkuk dan pergi begitu saja bersamaan dengan terbenamnya mentari hari itu. Entah kenapa aku ingin menahannya. Ingin sedikit lebih lama menatap matanya yang indah itu.

“Ayo kita pulang!” ajak Jinki membuyarkan konsentrasiku akan gadis tadi.

“Eh? Oh, iya. Umm… maksudku, aku akan pulang sebentar lagi. Aku masih lelah. Aku ingin beristirahat sebentar lagi.” Jawabku gelagapan. Jinkii melihatku dengan tatapan bingung. Aku pasti terlihat sangat aneh.

“Baiklah. Aku akan pulang terlebih dahulu. Cepatlah pulang. Hari sudah gelap. Sebentar lagi gerbang utama akan ditutup.” Jinki menepuk bahuku.

Aku tersenyum. Jinki melangkah pergi meninggalkanku.

Kulihat sekeliling. Matahari sudah benar – benar tenggelam. Mendadak sekolah menjadi sepi. Anggota basket lainnya sudah pulang. Gadis – gadis cerewet tadi juga sudah tidak nampak. Aku memasukan handukku ke dalam tas dan bangkit berdiri. Aku segera melangkah ke gerbang depan, namun sayangnya telah dikunci.

“Haah!? Yang benar saja! Bukankah jinki baru saja lewat sini!?” keluhku seraya menendang pintu gerbang.

Aku melihat sekeliling. Benar – benar sudah sepi. Seharusnya aku menuruti ajakan jinki untuk segera pulang. Sekarang aku bisa apa?

Aku menarik napas panjang. Apa mungkin aku memanjat gerbang ini? Tidak. Gerbangnya terlalu tinggi. Apa aku harus menelpon seseorang? Tapi… siapa? Jinki? Ah, benar! Jinki! Dia pasti punya cara untuk membebaskanku dari tempat ini.

“Yobboseyo.” Jinki mengangkat panggilanku.

“Jinki-ah. Gerbang depan sudah ditutup. Aku harus pulang lewat mana?” tanyaku.

“Dasar! Sudah kuberitahu untuk cepat pulang.” Balas jinki.

“Aku langsung pulang setelah kau pulang, kok.” Aku mencoba membela diri.

“Saat aku pulang, itu juga sudah termasuk telat.”

“Sudahlah. Dingin sekali disini. Aku harus segera keluar dari tempat ini.” Potongku cepat.

“Coba kau gunakan jalur belakang.” Usul Jinki.

“Jalur belakang? Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Jalan terus ke belakang gedung, disana ada tanah kosong. Kau bisa keluar darisana.” Jelas jinki.

“Benarkah? Gomaewo.” Aku memutus panggilan telpon dan bergegas berlari ke belakang gedung.

***********************************************************************

Benar. Ada tanah kosong di belakang gedung. Di tanah kosong ini hanya ada sebuah pohon dan bangku di salah satu sisinya. Tidak ada gerbang dan sebagainya. Aku bisa keluar dari tempat ini. Syukurlah! Aku mempercepat langkahku. Namun mendadak kakiku menabrak pinggiran bangku kayu tersebut.

“Aaah!” pekikku seraya memegangi kakiku.

Sejenak aku terdiam menahan sakit. Lalu menatap bangku itu penuh dengan kebencian.

“Aiissh!! Benar – benar…” aku balas menendang bangku itu.

Jika ada orang lain pasti aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu. Sungguh menggelikan jika kim kibum balas menendang bangku yang notabene merupakan benda mati.

Mendadak mataku menangkap sesuatu berwarna putih yang menyembul dari celah pohon. Perlahan aku menariknya keluar. Kertas.

“Apa lagi ini?” tanyaku penasaran seraya membuka kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya.

Hatiku memekik…

Meminta pertanggungjawaban pada dunia,

akan tirani besi yang menyelubung nasibku…

Derita dan sengsara kini seolah napas bagi jiwaku…

Napas yang perlahan mulai membunuh nurani dan hati…

Haruskah aku menghentikan napas biar kosong saja tanpa rasa?

Atau kubiarkan napas itu sendiri yang membunuhku?

Aku melipat kertas itu lagi setelah membacanya. Aku menggembungkan pipiku, lalu menghembuskan udara yang ada di dalamnya.

“Kasihan sekali… Sepertinya dia amat menderita.” ucapku lirih.

Aku mengeluarkan sebuah buku dari tasku dan menyobek sehelai kertas. Lalu mengambil sebuah pulpen. Kutulis sesuatu di kertas itu dan menyelipkannya ke tempat di mana aku menemukan kertas pertama.

Sebuah senyum mengembang di bibirku.

“Semoga ia tidak sedih lagi.” harapku.

Lalu aku bergegas pulang meninggalkan tempat itu. Siapa yang menulisnya? Apa dia adalah seseorang yang kukenal? Apa masalah yang ia milikki? Apa tulisanku akan mengurangi kesedihannya? Atau… karena tulisanku terlalu buruk, ia justru malah akan makin sedih membacanya?

_Yeon-ah POV_

Aku melangkahkan kakiku lebar – lebar. Makin lama langkahku makin cepat. Sudah setengah berlari mungkin. Wajahku memerah. Napasku terburu.

Kenapa ia menatapku begitu? Apa di mukaku ada sesuatu? Aiissh… Pria itu… membuatku merasa tidak nyaman.

Wajah pria itu kembali muncul di benakku. Segera kugeleng-gelengkan kepalaku untuk menghilangkan sosok itu.

Siapa sih pria itu!? Baru pertama kali seorang pria menatapku seperti itu. Dan kenapa aku membungkuk padanya? Pasti terlihat bodoh sekali.

Mendadak secuplik adegan muncul dalam ingatanku. Langkahku terhenti seketika.

“Tidak…” ucapku lirih.

Pria itu adalah pria yang aku tabrak. Aigoo! Pasti dia marah padaku. Mungkin ia berniat memaksaku untuk minta maaf. Tapi… bukankah aku sudah minta maaf padanya? Atau belum? Aku lupa.

“Rrrrghh…” geramku seraya menghentak-hentakkan kaki.

“Ah, aku tidak peduli! Lupakan saja!” putusku seraya melanjutkan langkahku.

—————————————————————————–

Begitu aku sampai di rumah, Nicole segera berlari mendekatiku.

“Kenapa pulang terlambat?” tanya Nicole cemas.

Aku menatapnya lurus.

“Aku ada urusan.” Jawabku pendek.

“Urusan?”

“Iya.”

“Urusan apa?”

“Bukan urusanmu.”

“Yeon-ah…” , “Aku lelah.” Aku segera berlari menaiki tangga menuju kamarku.

“Park Yeon-ah, siapa yang mengajarimu untuk bertingkah tidak sopan macam itu?” tanya Umma tegas.

Aku menghentikan langkahku dan menarik napas panjang. Sepertinya debat antar Ibu dan anak akan segera dimulai. Aku membalikan arah tubuhku tanpa menuruni tangga.

“Yang jelas bukan umma.” Jawabku ketus.

“Setan apa yang merasukimu? Kau pulang malam. Bertingkah laku kasar. Benar – benar anak kurang ajar!”

“Ini baru jam 6.” Aku membela diri.

“Sekolah macam apa yang memulangkan muridnya pukul 6 sore, Park Yeon-ah!? Bahkan Nicole sudah pulang sejak jam empat. Kau pikir Ummamu ini bodoh ya!?”

Aku menatap Nicole.

“Tidak bisakah kau bersikap seperti Nicole? Biarpun kau tidak sebaik dia, paling tidak tirulah tingkah lakunya. Umma lelah melihatmu seperti ini.”

Aku tidak menjawab. Lagi – lagi Nicole. Selalu Nicole.

“Terkadang umma bertanya pada diri sendiri, benarkah park yeon-ah adalah anakku? Jika park yeon-ah adalah anakku, mengapa dia begitu berbeda? Kenapa dia begitu..?” , “Jadi aku bukan anak Umma?” potongku serak.

Air mata hampir menetes dari kedua mataku. Tapi aku harus menahannya. Harus. Aku tidak mau terlihat lemah.

Tidak ada yang bersuara. Suasana menegang.

“Oh! Umma, bukankah kau belum memasak makan malam? Ayo kita memasak. Aku sudah lapar.” Nicole mencoba mengalihkan topic pembicaraan dan mendorong tubuh umma menuju dapur. Dia memang selalu begitu. Setiap keadaan menegang, pasti dia akan mengganti topic pembicaraan. Kenapa ia melakukan hal itu? Untuk melindungiku?

Perlahan aku berbalik dan kembali menaiki tangga. Hatiku terasa begitu sakit setiap aku bertemu Umma. Baik tatapannya, perkataanya, tingkah lakunya, seolah ia tidak lagi menganggapku sebagai anak dan menyesali bahwa aku sebenarnya betul anaknya. Baginya hanya Nicole anaknya.

==============T.B.C===============

About kkangrii

| Moslem |

Posted on 22 Februari 2011, in Riyantika Sussi, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. lagi asik-asik baca eh tau-taunya bersambung,,,uh *ceritanya aku lagi kesal nih*

    ching,aku suka bnget sama ff yang ini,mohon segera di lanjutkan yah…🙂

  2. Thoorr #teriakpakekmix
    lanjutin ayoooooo. Ga pake lama yah ..
    Authornya kugantung nanti. ^^V

  3. Like this. btw yeon nya tega. yg salah kan bukan nicole.. :<

  4. knapa Ummanya Nicole pilih kasih ><
    pdhal Yeon-ah jua anaknya -,-"…
    .
    nah luh ntar KEY SSuka ma KK/ADnya ???
    LANJUT thor🙂
    pnasaran akut nih saya

  5. Lanjut donk…
    Penasaran nich…
    Hehehe
    good job author…

  6. penasaran ma lanjutanx….. terusin y author

  7. penasaran ma lanjutanx….. ditunggu lho lanjutanx author

  8. bagus.
    emaknya kenapa?

  9. Emaknya? Kenapa? Gag kenapa2 kok. Kekeke. Yeon-ah nya yang kenapa2, hehehe

  10. Emank ga enak slalu dbnding2in+dbeda2in……. sabar yeon ah……fighting!…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: