[FF/S/3/PG-17] “We Got Baby”

Title : We Got Baby

Author : Mithaa Charinyoung a.k.a Min Soo Jin @ S3FFI

Length : Series

Genre : Romance

Rating : PG-17

Main Cast : Lee Jin Ki (Onew-SHINee) , Min Soo Jin (YOU-readers)

Supported Cast : Other SHINee member, Park Seong Rin, Jung Yu Ri and other ^^

 

========================================

 

 


Aku masih tidak habis pikir dengan kedatangan Jin Ki yang terlalu mendadak. Banyak pertanyaan yang kembali menghinggapi kepalaku saat ini. Pertama, dari mana ia tahu aku ada disini? Dari Seong Rin kah? Lalu apa ia sudah tahu kalau aku sedang hamil? Kalau ia tahu kenapa ia tidak menyadarinya sejak ia datang tadi? Perutku memang sudah membuncit, tapi tidak begitu terlihat karena hoodie yang sedang kukenakan. Lalu tujuan ia kesini untuk apa? Apa Seong Rin yang menyuruhnya?

“Melamun, honey?”

Aku tersentak. Aku yang sedang menuangkan jus jeruk ke sebuah gelas tiba-tiba tumpah dan sedikit menodai pakaianku.

“Aiss…”, rutukku. Aku meletakkan jus itu sembarangan dan segera membersihkan pakaianku.

“Hahaha.. Makanya jangan melamun sayang”, sahutnya dan kemudian ia sudah ada di depanku dengan beberapa helai tissue yang entah darimana didapatkannya. Ia membersihkan noda jus yang masih melekat di bajuku.

“Aku bisa sendiri”, aku merebut tissue itu dari tangannya dan mulai membersihkannya sendiri. Dan kemudian aku merasa sesuatu yang aneh. Jin Ki masih berdiri diam di tempatnya dengan jarak yang yaa, cukup dekat bahkan sangat dekat denganku. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Aku melihat wajahnya yang menampakkan ekspresi tanda tanya besar.

“Ada apa?”

“Kau.. Kau.. Kenapa perutmu?”

GOSH! Kau bodoh Min Soo Jin. Seharusnya tadi kau tidak memperbolehkannya membersihkan noda itu. Ya, noda jus itu berada tepat di bagian perutku. Pasti ia merasa sesuatu yang aneh. Perutku membuncit.

“Kau gemukan, pipimu chubby, perutmu buncit. Apa kau.. Apa yang Seong Rin ingin beritahu padaku itu..adalah bahwa kau sedang..”

“Hamil? Ya. Dia sedang hamil. Dan anak itu adalah anakmu, Tuan Lee”, tiba-tiba suara Seong Rin yang entah sejak kapan berdiri di dekat dapur menjawab pertanyaan Jin Ki.

“Inilah yang ingin kutunjukkan padamu Jin Ki. Istrimu itu sedang hamil. Kuharap kau merawatnya”, lanjut Seong Rin lagi.

Aku memberikan satu tatapan -mati kau- pada wanita itu sejak kapan wanita itu ada di sini. Jin Ki menghela nafas panjang dan menatapku secara intens.

“Apa itu benar?”, tanyanya dengan nada suara serendah mungkin. Ia kembali menatapku dalam.

“Ehmm. Iya. Err tidak. Maksudku……. Ya, itu benar”, jawabku tanpa melihatnya. Aku benar-benar stuck sekarang.

***

Suasana ruang tengah ini sunyi. Hanya terdengar suara dentingan jam dinding yang tergantung rapi di salah satu bagian dinding ruangan ini. 2 manusia, sepasang suami-istri tepatnya, saling berdiam diri dengan pikiran mereka masing-masing. Yaa, suami-istri itu adalah kami, aku dan Jin Ki. Aku sedang duduk di sofa seraya menikmati secangkir coklat panas. Sedangkan Jin Ki, ia berdiri dekat jendela dan menatap nanar pemandangan di luar sana. Pemilik rumah ini, Yu Ri, sedang keluar membeli entah apa itu dengan Seong Rin.

Aku menatap punggung Jin Ki yang membelakangiku. Aku menghela nafas panjang. Aku benar-benar tidak tahu harus apa sekarang.

“Kita suami-istri, kan?”, akhirnya kesunyian yang sejak setengah jam yang lalu tercipta di ruangan ini lenyap karena pertanyaannya. Ia masih menatap keluar dan belum membalikkan badannya.

“Jangan melontarkan pertanyaan bodoh lagi”, sahutku dan kembali meneguk coklat panasku. Ada apa lagi dengannya ==a

Ia akhirnya berbalik dan berjalan menghampiriku. Ia bahkan sudah mengambil posisi duduk di sebelahku. Aku sedikit menggeser posisiku agar tidak terlalu dekat dengannya.

“Apa?”, tanyaku padanya yang sejak tadi hanya menatapku secara intens.

“Kenapa tidak memberitahuku, huh?”

“Beritahu apa?”, tanyaku balik dengan ekspresi tanpa dosa.

“Aku suamimu, Soo Jin. Orang pertama yang harus tau mengenai kehamilan istrinya adalah suaminya sendiri, kan?”

“Err. Ehmm. Yeah”

“Dan apa alasanmu tidak memberitahuku?”

Aku menghela nafas cukup panjang kemudian menatapnya.

“Kau tahu, saat aku tahu aku hamil aku benar-benar bingung. Aku masih belum bisa menerima bahwa sebentar lagi aku melahirkan manusia di muka bumi ini, menjadi seorang ibu, dan ahh..ini terlalu sulit”

“Aku bahkan tidak ingat apa kita pernah melakukan itu atau tidak. Dan kenapa aku tiba-tiba hamil seperti ini”, aku menyandarkan tubuhku di sofa dan menatap lurus kedepan.

“Jadi itu alasan kau pernah menanyakanku bahkan memaksaku memberi tahu apa yang telah kita lakukan malam itu? Kau fikir aku benar-benar melakukannya?”, tanyanya datar.

“Tapi kau memang melakukannya kan?”, sahutku setengah berbisik. Aku menoleh kepadanya perlahan dan kulihat ia sedang tertawa kecil.

“YA! Tidak usah tertawa begitu”

“Aku hanya tidak menyangka kita benar-benar melakukannya”

“Cihh! Berhenti mengungkit hal itu bodoh!”

“Lalu…alasanmu tidak memberitahuku? Boleh kutahu?”

“Sudah kukatakan kalau aku belum siap menjadi seorang ibu”, sahutku tegas dan menatapnya.

“Dan jika kau belum siap menjadi seorang ibu, kau akan apakan anak itu? Bahkan calon ayahnya sendiri pun kau tidak beri tahu tentang ini”

“Aku…Aku.. Aku bisa menggugurkannya”

“WHAT? Don’t be crazy, Min Soo Jin”, ucapnya sedikit berteriak. Ia memperbaiki duduknya dan menatapku dalam.

“Demi apapun, anak itu harus lahir. Jangan berpikir untuk menggugurkannya”

“Jangan bodoh Lee Jin Ki. Aku tahu kau tidak menginginkan anak ini”, cibirku padanya. Ia mengerutkan alisnya dan menampakkan ekspresi bingung di hadapanku.

“Aku melihat talkshow itu. Talkshow dimana kau mengungkapkan bahwa kau tidak ingin memiliki anak. Aku bahkan mendengar dari beberapa kabar bahwa kau memang tidak begitu suka dengan anak-anak. Lalu bagaimana jika anak ini lahir, hah? Apa kau juga tidak suka?”

Jin Ki menghela nafas panjang setelah melihatku berbicara panjang lebar. Ia memejamkan matanya pelan dan mencoba bernafas senormal mungkin.

“Dengar Min Soo Jin. Aku adalah calon ayah dari janin yang ada di rahimmu. Itu fakta, dan tidak dipertanyakan lagi. Pernyataanku saat itu, aku minta maaf. Ya, aku memang tidak begitu suka dengan anak-anak. Tapi jika itu anak kandungku, tidak mungkin aku membencinya kan”, jelasnya seraya menatapku tulus.

“Aku tahu ini aneh, dan sepertinya terlalu cepat. Aku mencintaimu, Soo Jin. Dan anak itu, adalah bukti bahwa aku benar mencintaimu. Lahirkan anak itu, dan kita akan menjadi orangtuanya”, sahutnya dan kemudian mengecup keningku pelan.

***

Sejak kejadian kemarin, aku mulai menerima Jin Ki. Aku mencoba untuk tidak merasa risih lagi dengannya. Pernyataanya kemarin cukup membuatku yakin bahwa aku memang harus melahirkan anak ini.

Aku menggeliat pelan di atas tempat tidur dengan selimut yang masih membungkus tubuhku. Aku sudah bangun sejak tadi, namun masih ingin menikmati indahnya alam tempat tidur ini (?) Semalam Jin Ki menginap disini. Kami memang sekamar, tapi aku memintanya untuk tidur di sofa saja. Aku masih belum terbiasa tidur satu tempat tidur dengan orang lain. Kecuali saat itu, itu adalah kecelakaan -_-

“Morning, honey”, serunya di dekatku. Detik kemudian ia menyingkap selimutku dan sekarang hanya tinggal tubuhku yang berbalut piama.

“Aku masih ingin malas-malasan Jin Ki”, aku kembali menggeliat manja di tempat tidur.

“Bangunlah. Kita pulang hari ini”

“Mwo??”, aku memperbaiki posisiku menjadi duduk mendengar ucapannya.

“Kau punya suami nona. Tidak mungkin kau tinggal bersama temanmu. Kau harus tinggal bersama suamimu. Sudah sana mandi”, ia menarik selimut dan melipatnya.

Aku menyisir rambutku dengan jariku secara kasar. Aku merutuk tidak jelas hingga akhirnya Jin Ki kembali duduk tepat di hadapanku. Ia menatapku lama.

“Apa?”

“Morning kiss?”

“WHAT? NO WAY!”, aku mendorong tubuhnya yang semakin dekat denganku. Namun kekuatan yang kuhasilkan untuk mendorongnya ternyata tidak sebanding dengannya. Ia menahanku agar tidak beranjak dari posisiku dengan lengan kekarnya. Ia menatapku dengan ekspresi jahilnya.

“Kuperingatkan kau Lee Jin Ki untuk…”,

“Untuk apa, sayang?”, Jin Ki semakin mendekatkan dirinya padaku. Jarak wajah kami bahkan tinggal sejengkal. Aku memejamkan mataku menghindari tatapannya yang mengganas (?)

“Sarapan sudah si…. Ups, sepertinya aku mengganggu guys”, suara Yu Ri kemudian membahana di kamarku. Aku membuka mataku dan segera mendorong Jin Ki kasar. Ia hanya tertawa kecil.

“Ehhmm.. Ahh tidak. Aku.. Kami tidak melakukan seperti yang kau pikir. Kami hanya..”, aku mencoba menjelaskan pada Yu Ri, walaupun dengan terbata-bata.

“Oh ayolah Soo Jin, jangan gugup seperti itu. Morning kiss adalah kegiatan wajib bagi suami istri.”, ia menyeringai kecil.

“Hey, kau… Maksudmu apa..”

“Gomawo Yu Ri-ssi. Kami akan keluar sebentar lagi setelah melakukan..yah kau tahu”, Jin Ki berdiri membelakangiku untuk berbicara dengan Yu Ri. Yu Ri tertawa mendengar pernyataan Jin Ki.

“Aiss.. Lakukan apa maksudmu, hah?”, seruku pada Jin Ki saat Yu Ri sudah meninggalkan kami berdua. Ia berbalik menghadapku dan menatapku jahil. Ia kembali menyeringai kecil dan mendekatkan dirinya padaku.

“Hentikan, Lee Jin Ki!”, aku mendorong tubuhnya pelan dan segera melengos keluar kamar. Hanya karena sebuah ‘morning kiss’ aku bahkan uring-uringan seperti ini ==a

***

“Bagaimana tidurmu?”, tanya Yu Ri saat aku sudah berada di meja makan mengambil 1 roti bakar yang baru saja dibuatnya.

“As usual. Nothing special”

“Nothing special? Hey kau sekamar dengan suamimu. Masa iya tidak spesial”, ia menatapku selidik.

“Aku tidur di tempat tidur dan dia di sofa. Jangan selalu berpikiran macam-macam”, aku kembali memasukkan potongan roti bakar di mulutku.

“Lalu kapan kalian pulang?”, tanyanya. Aku menghentikan makanku dan menatapnya.

“Kata Jin Ki hari ini”, jawabku sekenanya.

“Wah bagus kalau begitu”

“Kau mengusirku, hah?”

“Jangan bodoh, Soo Jin. Kau punya suami. Sampai kapan kau mau tinggal dengan orang lain, hah”, ujarnya. Aku mendecakkan lidah sedikit sebal.

“Morning~”, Jin Ki tiba-tiba sudah berada di sampingku, mengambil sepotong roti bakar dan langsung melahapnya.

“Pagi Jin Ki-ssi. Kau sepertinya ceria sekali”

“Tentu saja. Hari ini kan kami akan serumah lagi. Ya kan, istriku”, Jin Ki menoleh padaku dengan tatapan devilnya. Aku hanya menghela nafas panjang

“Oo’ow. Sepertinya aku mengganggu lagi”, Yu Ri terkikik pelan dan segera meninggalkan kami. Haisssss..

***

Akhirnya kami tiba di apartment kami. Sudah seminggu lebih aku meninggalkan apartment ini dan kurasa tidak ada yang berubah. Apartment ini sangat bersih. Entah Jin Ki yang rajin membersihkannya atau cleaning service yang melakukannya.

“Welcome back, honey”, serunya saat aku baru mengganti alas kakiku dengan sandal rumah. Ia merentangkan tangannya dan tersenyum memamerkan giginya yang rapi.

“Jangan berlebihan”, aku berjalan melewatinya dan melengos menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamarnya. Aku membuka pintu kamarku dan menemukan kamarku yang sama bersihnya dengan dengan ruang-ruang lain di apartment ini. Apa benar ia yang melakukan semua ini?

Aku menoleh ke belakang dan mendapatinya sedang tersenyum.

“Aku membersihkan kamarmu selama kau tidak ada. Karena aku yakin, kamar ini pasti akan dihuni lagi oleh pemilik aslinya, olehmu”

“K..kau.. Memangnya kau sempat membersihkan semua ini?”

“Emm. Ya. Begitulah. Aku berusaha menyempatkan diri”, ia tersenyum tulus. Aku menghela nafas mendengar pernyataannya. Aku menatapnya kembali, berniat untuk berterima kasih, namun akhirnya kuurungkan niatku dan berjalan menyimpan semua barang-barangku dari rumah Yu Ri. Aku membuka koperku, mengambil 1 pasang pakaian dan hendak berganti. Aku membalikkan badan dan melihat Jin Ki yang masih berdiri disana menatapku.

“Dan sampai kapan kau berdiri disitu, Mr. Lee?”, tanyaku sinis.

“Sampai kau selesai berganti, istriku”, sahutnya dengan seringai nakalnya.

“Ya! Awas kau. Keluar sana”, aku berjalan menghampirinya dan mendorongnya keluar kamar. Aku bersyukur ia tidak meronta ataupun melakukan hal-hal aneh lainnya.

***

Aku sedang meletakkan beberapa pakaianku ke dalam lemari ketika mendengar suara yang cukup gaduh diluar. Aku menajamkan pendengaranku. Aku bisa mendengar suara laki-laki lain selain Jin Ki diluar kamarku. Aku meletakkan pakaianku sembarang dan segera berjalan meninggalkan kamar untuk mengecek keadaan di luar.

Cklek!

Aku membuka pintu kamarku dan mendapati 4 orang pria ditambah Jin Ki sedang berdiri dan mengobrol ringan namun sedikit gaduh di ruang tengah. Pria pertama, berdiri di samping Jin Ki, pria dengan wajah ‘cantik’ yang nyaris mirip barbie *dikutuk taemints*. Pria kedua, pria yang paling pendek di antara mereka, berotot dan sedikit tirus. Pria ketiga, pria yang memiliki postur tubuh nyaris sempurna dan bermata besar. Pria terakhir, pria dengan gaya pakaian paling stylish dengan model rambut yang cukup unik. Mereka membalikkan badan dan menatapku dari atas sampai bawah. Aku menatap mereka bergantian, hingga tatapanku sampai pada Jin Ki. Ia tersenyum dan aku hanya memberi satu tatapan berarti -who.are.they-

Aku mencoba menyunggingkan sebuah senyum kepada mereka, ya meski itu sedikit terpaksa karena aku belum tahu siapa 4 orang yang berdiri di hadapanku saat ini.

“Ehm guys, kurasa kalian harus memperkenalkan diri kalian. Ia tidak tahu siapa kalian”, suara Jin Ki akhirnya memecah keheningan yang timbul tiba-tiba di ruangan ini sejak kehadiranku.

Aku mengangguk menyetujui perkataan Jin Ki. Aku melangkahkan kakiku kecil dan mendekati mereka.

Mereka yang awalnya masih melamun dengan kehadiranku akhirnya sadar. Mereka merapikan pakaian sebentar dan berbaris rapi.

“Annyeonghaseyo kudaneun SHINee imnida”, seru mereka bersamaan dengan senyum lebar mereka masing-masing. Mereka bahkan mengepalkan tangan dan mengangkatnya bersamaan.

“Annyeonghaseyo, choneun Leader Onew imnida”, sapa Jin Ki. Cih buat apa ia memperkenalkan diri lagi padaku.

“Annyeonghaseyo SHINee magnae Tae Min imnida”, seru pria yang kujuluki barbie tadi.

“Annyeonghaseyo SHINee bling bling Jong Hyun imnida”, seru pria yang paling pendek diantara mereka *dipatahin blingers*

“Annyeonghaseyo SHINee bulgot kariseuma Min Ho imnida”, pria bermata besar mulai memperkenalkan diri.

“Annyeonghaseyo SHINee manneungyelswi Key imnida”, pria paling stylish mengakhiri acara perkenalan mereka. Great! Mereka pikir ini acara talkshow? Sampai memperkenalkan diri dengan cara seperti itu hanya padaku?

Aku diam sepersekian detik masih mencoba menghafal mereka satu persatu. Aku memang terlalu bodoh. Bahkan SHINee, boyband terkenal di Asia yang berdiri di hadapanku aku masih belum bisa mengenalnya. Kecuali Jin Ki tentu saja.

“Soo Jin-ah, kau baik-baik saja?”, tanya Jin Ki membuyarlan lamunanku. Aku menghela nafas kecil dan tersenyum pada mereka.

“Annyeonghaseyo, Min Soo Jin imnida”, aku membungkuk hormat pada mereka.

“Kau benar istri Jin Ki hyung?”, tanya Key, member paling stylish. Aku mengangguk pelan.

“Aigoo istrimu cantik hyung”, seru Tae Min yang menghampiriku dan menatapku dari atas sampai bawah. Aku membungkuk hormat pada Tae Min, member magnae di SHINee. SHINee yang lain, termasuk Jin Ki mulai menghampiriku.

“Astaga, kau benar-benar hamil, Soo Jin-ssi?”, tanya Jong Hyun yang sejak tadi memperhatikan perutku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan tersenyum masam.

“Ehhmm.. Ne, begitulah”

“Oh my darling (?), kau ternyata seorang lelaki hyung?”, ujar Key. Aku terkekeh pelan menanggapi ucapan Key. Ia melirik ke arah Jin Ki yang saat ini sedang melotot ke arahnya.

“Ya! Kau pikir aku apa, hah”, ia menjitak pelan kepala si member ‘kunci’ itu.

“Kami pikir kau hanya naksir dengan ayam hyung”, celetuk Tae Min lagi. Dan akhirnya kepalanya bernasib sama dengan Key, sebuah jitakan mendarat mulus di kepalanya. Ia sedikit meringis manja mengelus kepalanya.

“Sudah berapa bulan kehamilanmu, noona?”, tiba-tiba aku sedikit terlonjak dengan sebuah suara yang sangat dekat di telingaku, suara Min Ho. Ia menatapku lembut.

“Emm.. Sudah 5 bulan Min Ho-ssi”

“Aha! Soo Jin-ah sepertinya anak-anak ini haus. Bisa kau buatkan minum untuk mereka, honey?”, ujar Jin Ki padaku. Ia tiba-tiba merangkul Min Ho dan mengajak SHINee yang lain untuk duduk di depan TV. Kenapa lagi orang itu.

“Kami tidak haus kok”, sahut Jong Hyun yang masih terpaku di tempatnya dan disetujui oleh Tae Min. Key hanya diam menanggapi tingkah laku mereka.

“Sudahlah jangan bohong. Honey, tolong yah”, Jin Ki berbalik padaku seraya mengedipkan sebelah matanya.

“Astaga ia bahkan panggil ‘Honey’ kepada istrinya”, celetuk Key ketika berjalan mengikuti Jin Ki.

“Itu harus, Key. Dan untuk kau Min Ho, jangan tebar pesona di depan istriku. Aku tau istriku juga pasti akan terbuai dengan pesonamu”, bisik Jin Ki pada Min Ho yang masih dalam rangkulannya sedangkan SHINee yang lain sudah duduk di sofa. Meski berbisik tapi aku masih bisa mendengarnya. Ckck..

“Mwo? Maksudmu hyung?”, tanya Min Ho.

“Sudahlah pikir saja sendiri”

***

Few days later…

Entah sudah ke berapa kali aku menghela nafas panjang, menatap kosong ke arah langit-langit kamar sembari berbaring santai di tempat tidur kamar yang cukup luas ini. Ahh ini bukan kamarku, melainkan kamar tamu di rumah Seong Rin. Semalam aku menginap disini. Aku merasa seperti orang idiot di apartmentku sendirian selama 3 hari belakangan ini. Jin Ki sedang keluar kota menyelesaikan beberapa jadwalnya, dan akhirnya aku ditinggalkan seenaknya. Ia bahkan tidak menghubungiku selama kepergiannya. YA! Apa yang kau pikirkan Soo Jin? Kau merindukannya? Aisss.. Tidak bisa kupungkiri jika aku memang merindukannya. Hah..

Ddrrrttt.. Ddrrrttt..

Ponselku bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Apa dari Jin Ki?

From : Chicken

How’s life, baby?

Aigoo.. Maaf tidak menghubungimu belakangan ini. Handphoneku selalu tertinggal di hotel >,<

Bagaimana anak kita? Katakan padanya bahwa ayahnya merindukannya ^^

Aku akan pulang minggu depan. Jaga kesehatanmu.

Saranghae..

***

Kutatap diriku untuk terakhir kalinya di cermin sambil tersenyum puas dengan hasil dandanan ku yang sangat sederhana. Aku hendak keluar berjalan-jalan sebentar sekedar untuk melepas penat.

Sebuah pesan singkat yang dikirimkan Jin Ki tadi masih terbayang di kepalaku. Kutatap layar ponselku yang menunjukkan isi pesannya sekali lagi seraya tersenyum.

“Appamu merindukanmu, sayang”, kuelus perutku lembut.

Aku kembali menatap layar ponselku dan mengetikkan sebuah pesan balasan untuknya.

To : Chicken

Aku baik-baik saja. Jaga kesehatanmu juga.

Ah dan satu lagi, ia juga merindukanmu.

Kukirim pesan balasan itu dan segera menutup flip handphoneku. Ketika hampur sampau di ambang pintu kamar, handphoneku kembali bergetar. Apa balasan dari Jin Ki? Secepat itukah? O.o

From : Chicken

Kuharap ibunya juga merindukanku ^^
TO BE CONTINUED….

Posted on 3 Maret 2011, in Mithaa Charinyoung, SHINee Fanfiction. Bookmark the permalink. 29 Komentar.

  1. so sweet.. udah lama bgt nih aq tunggu kelanjutan FF ini.. Part 4 jgn lama-lama..

  2. akhir’a d’post juga . .
    makin seru aja . .
    oh y un part selanjut’a jangan lama2😀

  3. aku ngak tahan kalo onew udah manggil pake ‘istriku’ ‘honey’ , ah rasa y mau meledak, pengen d panggil jg ma onew. . .

    Lanjut jgn lama2 chingu, udah ngak sabar. . .

  4. Key, lidahmu setajam melet, eh salah, silet ^^

    So sweet ya jinki *soojin: ngiri tuh dia*

  5. aaa…. akhirnya dilanjutin juga,, setelah(?) nanya di twitter gimana kabar nih ff..

    brb baca dulu …

  6. kyaaaaaaaa…………. !! unni penasaran … lanjutannya cepet ya .???>>???

  7. akhirnya…part 4 nya jgn lama2 thor..

  8. huwee2, jinki aigo so sweet abis.hehe

  9. Akhrnya part 3’nya
    d publish jg. .hahaXD. .
    Asli dah
    co cwitt bgt😄
    lanjuTkan . , !!
    *pk gaya pak sby/plaKkXD*

  10. kyaaa , akhir.a publish jga ..
    jinkii romantiss bgett ..
    soo jin kya.a udh mulai cinta nii ma jinkii .

    huuaaa gg sbar nuggu part 4
    daebak !!
    hwaiting thor

  11. ditunggu next partnya ya….hehehe

  12. Akhirnya…
    setelah menunggu lama.
    Keren…
    So sweet banget sih si onew
    Next part jangan lama lama yaaa

  13. Ahaha jinki so sweet. .
    Key apadeh,haha kocak,
    soo jin norak amat shinee aja gatau
    *plak!Ditimpuk soojin
    next part ditunggu. .

  14. Annyeong.. New reader niy..
    Nice ff thor..
    Lanjoottt

  15. aha..so sweeeet..
    cihu..hhaa.. ahh si ayam onew ternyata bisa juga..hihih

  16. chingu daebak. . .
    Onew oppa so sweet.
    Jgn lma2 lnjdtn’y thor. Ntr krng seru klam2n.he.e#plak.k.k

  17. ahaaa~~~ di post jg akhirnya…
    so sweet deh,, q mw juga dong sms mu jinki.. /plaaak
    mantap..mantap.. lanjutkan thor,, ^^
    jangan terlaluuu lama ya part selanjutnyaa..

  18. owww romantis, tapi sedikit iri pengen pnya suami kya onew. Part 4 dong jangan lama lama ya

  19. wkwkw
    d tullis.a kok chicken ~
    yeobo donk

  20. cihuy…jadi mesra nih…haha

  21. Readr aneh y aku in..hahaha bc ff kok mundur tp gpp ff in bguz n mdah dicerna jd g bingung

  22. kyaa !
    ending partny sukses bkin aku senyum2 sndiri

  23. Si Jinki cute ya~
    Lanjutt deh~😀

  24. missnandaa 최민호

    Jinkippa, aq cemburu loh (?) *apa ini*
    knp km begitu romantis sih, aaaahhhh😄

  25. aigooo..
    jin ki oppa romantis bgt,,,,
    mw donk….!

  26. sms nya cute banget, mau dong di kirimin pesan gitu dari Onew -__- *ngarep mode : on

  27. part yg ini agag pendek yaaahh??
    aahh suka yg bagian shineedeul ngenalin diri.a, seruuuuuu !!

  28. Huwaaa, makin seru aja >< ~~~
    Nexxxxttt!

  1. Ping-balik: [FF/S/5/PG-17] We Got Baby (last chapter) « SHINee Super Shinki FF Indo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: