[FF/PG/S/1] Beach

Title : Beach

Author : Yayang

Cast ::

Shin Hyo Soo =>> Riani Ps

Lee Donghae Super Junior

Other cast…

Hyo Soo POV’s

*****************************************************

Aku sibuk dengan majalah-majalahku, membaca setiap halaman yang sudah berkali-kali aku baca. Bosan. Munkin kata itulah yang cocok untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. di luar sedang hujan, suara gemericik air hujan yang bersahabat. Aku terus saja membolak-balik setiap halaman dengan malas.

“Kemana dia, biasanya sudah menjemputku” gumamku pada diri sendiri sambil meniup poniku yang terurai ke depan. Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur empukku. Sejenak memejamkan mata.

Tek..Tek..Tek..

Sebuah suara mengganggu konsentrasiku, aku membuka mataku mencoba menajamkan pendengaranku untuk memastikan suara apa itu.

Tek..Tek..Tek..

Aku mendengarnya lagi. seketika senyumku mengembang, aku langsung bangun dari tempat tidurku. Bunyi itu, seperti bunyi ranting kayu yang mengenai kaca jendela kamarku. Aku mendekati jendela kamarku, membukanya dengan hati-hati. Sebuah kepala muncul dari bawah, aku terlonjak kaget ke belakang. Dia terkekeh pelan melihatku, sadar kalau dia sengaja,  aku memanyunkan bibirku sambil mendekatinya kembali.

“Oppa kau jahil sekali” kataku sambil tersenyum padanya.

“Mianhae telah mengagetkanmu, waktunya bermain-main. Kajja” ekspresinya yang polos sangat berbinar-binar. Aku selalu menyukai ekspresi itu.

“Camkan, aku harus mengambil sandalku dulu di belakang” jawabku.

“Ne, akan ku tunggu disini” dia mengerlingkan matanya padaku, sambil menopang dagunya dengan kedua matanya dengan bertumpu pada kayu yang membingkai jendelaku.

Aku buru-buru mengambil sandalku di halaman belakang rumah, setelah itu dengan setengah berlari aku buru-buru kembali ke kamarku dengan membawa sepasang sandal di tangan kiriku. Aku menutup pintu kamar sebelum aku berjalan mendekati jendela kamar, menghampirinya yang sedang menungguku. Dia kembali tersenyum padaku aku pun membalasnya. Dia memegangi sandalku sedangkan aku berusaha untuk memanjat ke jendela kamar. Dia membantuku meloncati jendela kamar, aku menepukkan kedua tanganku setelah berhasil mendarat dengan sempurna ke tanah.

“Pakai sandalmu” katanya sambil berjongkok memakaikan sandal ke kakiku.

“Aku bisa melakukannya sendiri oppa” sahutku, dia kembali berdiri menghadapku kemudian menggenggam tanganku. Beberapa detik kemudian langkah kami beriringan menciptakan jejak kaki di tanah. Aku tertawa puas sambil menelentangkan satu tanganku yang tidak di genggamnya. Aku selalu menyukai hujan, aku memejamkan mataku menghirup bau hujan dan menikmati dingin dan lembutnya setiap sentuhan titik air hujan di kulitku.

Aku dan dia menghentikan langkah kami di pinggir pantai, aku duduk berselonjor di atas pasir menikmati pemandangan yang tak bosan-bosannya kami lihat setiap hari. Dia pun mengikuti gerakanku, duduk berselonjor di atas pasir persis disampingku.

Aku anak dari keluarga Shin di kota ini, Shin Hyo Soo itulah namaku, aku anak satu-satunya dalam keluarga. Sepi, begitulah keadaan rumahku apabila eomma dan appa sedang pergi, aku hanya ditemani oleh pengasuhku dari kecil. Umurku sekarang 16 tahun, aku lahir dan besar di kota kesayanganku ini, Mokpo. Kota pantai, begitulah kebanyakan orang menjuluki kotaku. Ayahku pengusaha dan juragan ikan terbesar di kota ini.

Dan disampingku ini, seorang anak dari keluarga Lee. Pengusaha dan juga pemilik beberapa kapal terbesar di Mokpo. Dia bernama Lee DongHae. Donghae oppa beda dua tahun dari umurku, dia berumur 18 tahun sekarang. Dari kecil aku dan Donghae oppa sudah sangat akrab, dia juga anak satu-satunya dalam keluarganya.

“Hyo Soo-ah ingin lomba lari denganku kesana?” Dia berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang masih bersisa pasir-pasir. Dia menunjuk sebuah batu karang besar di pantai sebelah kanan kami.

“Siapa takut” jawabku menanggapi, dia memberikan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku pun menepuk-nepuk sisa pasir di pakaianku.

“Kau siap? Hana…tul..set… go!!” dia memberikan aba-aba memulai. Larinya sangat kencang, aku ketinggalan cukup jauh di belakangnya. Aku dan dia terus berlari dipinggir pantai menciptakan cipratan-cipratan air laut karena langkah kami. aku tidak mau menyerah, ku tambah kecepatanku. Tapi sandal yang kupakai malah terlepas dan hanyut. Aku menghentikan lariku, memandang sandal sebelah kiriku yang semakin menjauh terseret ombak.

“Hyo Soo-ah waeyo..??” dia pun menghentikan larinya, aku melihatnya sejenak kemudian memandang kearah sandalku yang hanyut lagi. dia melangkah menghampiriku.

“Waeyo Hyo Soo-ah??” tanyanya lebih pelan ketika sudah berdiri persis disampingku.

“”Bwa!!” aku menunjuk kea rah sandalku yang hanyut, dia mengikuti arah telunjukku. “sandal sebelah kiriku hanyut oppa” sedikit nada sedih dalam suaraku.

“Arasso” dia berjongkok kemudian menarik lembut sandal sebelah kanan yang masih aku pakai.

Aku menatapnya heran, tapi kemudian dia juga melempar sandal sebelah kananku itu ke laut. Aku tersentak dengan apa yang dia lakukan.

“Apa yang kau lakukan oppa, itu salah satu sandal kesayanganku” kataku protes padanya.

“Algaesseumnida” mukanya tenang menatapku. “jangan biarkan mereka terpisah. Mereka dibuat berpasangan. Kau memiliki keduanya atau kau kehilangan keduanya, itulah pilihannya. Lagipula kalau mereka terpisah juga tidak akan berfungsi lagikan? Tidak mungkin bagi kita mengambil pasangan sandalmu yang hanyut di laut. Jadi biarkan sekalian keduanya hanyut. Itu lebih baik” jelasnya panjang lebar, aku menatap lekat ke wajah Donghae oppa, aku tersenyum.

“aku pun akan melakukan hal yang sama”  katanya lagi kemudian mengamit kedua sandalnya yang sedang dipakainya dan melemparnya juga ke laut.

“Kenapa kau membuangnya?” tanyaku heran.

“Kau tidak memakai alas kaki, dan aku pun juga tidak” jawabnya “sepertinya ini lebih menyenangkan” lanjutnya sambil menjinjit kakinya dan memain-mainkannya ke pasir.

“Ayo balap lagi” kataku sambil mengambil seribu langkah, dia terkejut karena tidak siap dengan aba-abaku.

“Yaaa… kau curang Hyo Soo-ah. Lihat saja aku akan menangkapmu” teriaknya lalu mengejarku. Langkahnya cepat sekali. Aku pun menanbah kecepatanku agar tidak tertangkap olehnya. Tapi dengan mudah dia menarik ujung pakaianku dan memelukku dari belakang.

DEG…

Aku terdiam dengan perlakuannya, aku tidak bisa menemukan oxygen untuk bernapas. Jantungku berdegup kencang. Ada apa ini??

“Jangan harap kau bisa berbuat curang padaku ara..” katanya tepat di telingaku. Aku yakin sekali pasti jarak kami sangat dekat sehingga aku bisa merasakan hembusan napasnya saat dia berbicara. Aku melepaskan pelukannya dengan kaku. Aku melihat banyak bintang melintas di kepalaku.

Dari belakang aku bisa merasakan dia menahan tanganku. “Kau kenapa..??” tanyanya dengan nada khawatir. Kurasa sikapku aneh sampai-sampai mampu mengundang kekhawatirannya. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil berusaha mengembalikan puing-puing kesadaranku yang sempat terpencar akibat perlakuan Donghae oppa.

“Gwencaha” kataku tersenyum ceria, membalikkan tubuhku menghadapnya.

“Kau membuatku khawatir saja” Donghae oppa menghembuskan napas leganya.

Kami bermain-main di pinggir pantai hingga sore. Sengaja ingin melihat sunset terlebih dahulu sebelum kami pulang ke rumah masing-masing. Entah kenapa, aku merasa kebersamaan kami hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Jantungku terus saja berdegup sangat kencang tanpa henti. Aku menatap wajah Donghae oppa dari samping, dia tersenyum manis sekali memperhatikan sunset seperti itu. Padahal kami sangat sering melihat pemandangan di depan kami, tapi ekspresi takjub tidak pernah tinggal di wajah tampan itu. Tanpa terasa aku tersenyum melihatnya.

“Yaaa… kenapa kau memperhatikanku seperti itu..??” Tanya Donghae oppa yang sadar kalau sejak tadi aku memperhatikannya.

Aku tersenyum dengan senyum polosku. “Selama ini aku tidak pernah memperhatikan ekspresi oppa ketika melihat sunset. Ternyata ekspresi oppa tadi sangat lucu” jawabku seadanya.

“Yaaa.. kau meledekku” katanya cemberut, itu semakin membuatku geli melihat tingkahnya. Seperti anak kecil saja.

Aku memandang matahari yang telah berganti bulan. Sudah saatnya matahari menyinari bumi bagian lain. Kami terdiam, aku tidak tau harus melakukan apa. Aku hanya diam di tempatku. Tiba-tiba Donghae oppa merangkulkan tangannya di bahuku dan mendorong sedikit kepalaku agar bersandar di bahunya. “Aku takut” katanya kemudian, terkandung kegalauan dalam nada suaranya.

Aku mendongakkan kepalaku agar bisa melihat wajahnya, tapi dia menahan kepalaku dengan tangan kekarnya. Dia tidak ingin aku melihat kegalauannya yang terpancar sempurna di wajahnya yang tampan. Aku bingung dengan perkataannya. Tapi aku diam, aku takut akan mengganggu suasana. Dapat kulihat dari ekor mataku kalau dia sudah mengeluarkan cairan bening dari matanya.

Aku mencoba menegakkan kepalaku agar bisa melihatnya, aku tidak bisa membiarkan dirinya menangis meskipun aku tau dia bisa menangis dengan mudah atas alasan apapun, tapi yang kurasakan hari ini berbeda. Lagi-lagi dia menahan kepalaku agar tetap bersandar di bahunya.

“Kumohon jangan bergerak. Tetaplah seperti ini” katanya, aku menurut. Berharap dengan sikapku ini mampu menghiburnya.

“Jangan sembunyikan apa pun dariku oppa. Karena bagaimanapun kau mencoba menyembunyikannya aku tetap bisa melihatnya” jawabku. “Jangan menangis lagi” lanjutku, tapi aku pun merasakan cairan bening itu juga membasahi pipiku. Aku tidak bisa melihatnya menangis karena aku pun akan menangis.

“kau menyuruhku jangan menangis, tapi kau pun juga menangis. Dasar yeoja aneh” dia menanggapi. Aku memukul bahunya dengan tanganku yang bebas. Lalu suasana kembali hening.

“Tidak terasa  aku telah lulus dan sebentar lagi  akan kuliah di Jepang. Kuharap kau akan baik-baik saja disini. nanti aku pasti akan merindukanmu. Jangan pernah lupakan semua kenangan tentang kita Arasso..??” Donghae oppa kembali bersuara.

Mendengar kata-katanya hatiku sakit. Itu tandanya aku akan kehilangan seseorang yang telah menemani hari-hari selama ini. aku menangis lagi, tapi kali ini tanpa ketahuan olehnya. Kenapa disaat aku sudah menyadari kalau perasaan yang ada di hatiku terhadapnya adalah cinta, aku harus melihatnya meninggalkan Mokpo. Hatiku sakit sekali mendengarnya. Tidak bisa kubayangkan kalau setiap hari aku tidak bisa melihat sosoknya yang melindungiku. Setiap hujan, aku berjalan-jalan menikmati pemandangan pantai tanpa dirinya. Rasanya aku tidak siap untuk kehilangannya.

Aku mengumpulkan kekuatanku, dan menyiapkan suaraku. “Kau tidak perlu khawatir oppa. Kita hanya berpisah untuk waktu dua tahun saja, setelah itu aku juga akan menyusulmu dan berkuliah di Jepang  juga. Mungkin kita berdua seperti sandal yang hanyut tadi. Memiliki keduanya atau kehilangan keduanya. Kau ingat kata-katamu tadi kan..??” aku mencoba tersenyum, Donghae oppa tidak menahan tangannya lagi sehingga aku dapat mendongak memperhatikan wajahnya yang sedih.

Dia tersenyum begitu melihatku tersenyum untuknya. “Kau serius ingin menyusulku ke Jepang??” tanyanya.

Aku mengangguk. “jangan GR, aku ke Jepang  juga untuk berkuliah disana bukan hanya untuk bertemu denganmu” kataku.

Donghae oppa mengacak-acak rambutku. “Aku tidak peduli untuk apa kau kesana nanti. Tapi aku juga pasti akan menunggumu disana” jawabnya.

“Yaksok..??” kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku.

“Ne, yaksok” jawabnya sambil menautkan jari kelingkingnya di jari kelingkingku kemudian kami sama-sama tersenyum. Dan menjaga janji yang telah kami buat hari ini. aku tidak akan melupakannya.

“Dua hari lagi aku berangkat ke Jepang. Kau harus datang” dia mengingatkan. Aku mengangguk mantap.

Sedih, tentu saja itu yang aku rasakan. Menyambut kepergian orang yang benar-benar di cintai, yang telah menemani hari-hariku tapi yang parahnya dia tidak tau kalau aku mencintainya. Aku merenung di jendela kamarku. Aku yakin dengan janji yang telah kami buat, dia pasti akan menungguku disana dan setelah saat itu tiba baru aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. tidak peduli dengan apa jawabannya nanti. Aku mengganti pakaianku, karena aku akan ke rumah Donghae oppa dan mengantar kepergiannya. Karena aku sudah janji padanya. aku menyampirkan tas kecilku. Aku memakai celana setengah tiang, dan Hoodie berwarna kuning tak lupa aku memakai topi rajutanku, rambutku ku kuncir dua dan kusampirkan ke depan.

“Eomma aku pergi dulu” pamitku pada eomma yang sedang duduk santai menonton TV sambil membuka-buka majalah.

“Oeddie kayo..??” Tanya eomma padaku.

“Aku ingin ke rumah Donghae oppa, hari ini dia pergi ke Jepang. Aku ingin bertemu dengannya sebelum dia pergi.” Jawabku apa adanya.

“Tapi sekarang hujan”

“Aku harus pergi eomma”

“Kau tidak boleh pergi kalau hujan belum reda. Bagaimana kalau kau sakit”

“aku tidak akan sakit eomma. Aku membawa payung. Kumohon, aku sudah hampir telat” kataku memelas.

Eomma menatap dalam ke mataku, aku tidak bisa menolaknya lagi. “Hujan di luar sangat deras, jangan memaksakan diri. Tungulah” perintah eomma padaku.

Aku duduk gelisah di ruang tamu, menunggu hujan berhenti, setidaknya sedikit reda. Aku terus memperhatikan jam tanganku, sms dari Donghae pun sering aku terima karena disana dia telah menungguku. Kurasakan HandPhone ku kembali bergetar, aku yakin itu pasti dari Donghae oppa.

From : Donghae oppa

5 menit lagi aku berangkat. Kau dimana..?? aku tidak bisa mengulur-ulur waktu lagi.

Aku meneteskan airmata sambil membaca sms nya. Dia telah beberapa kali membujuk Sopir bis yang akan membawanya ke bandara sampai menungguku datang. Tapi aku malah masih di rumah. Aku tidak bisa menunggu lagi. aku melihat eomma lengah memperhatikanku, seketika aku pun melarikan diri, berlari sekencang-kencangnya sebelum eomma menyadari aku kabur dan menyuruh satpam rumah untuk mengejarku. Aku tidak peduli jika setelah ini aku harus sakit, yang terpikir di otakku saat ini hanyalah untuk bertemu Donghae oppa sebelum dia pergi.

Pakaianku basah semua karena hujan. Aku terus berlari, bagaimana pun caranya aku harus sampai ke rumah Donghae oppa dalam waktu lima menit. Berkali-kali aku terjatuh karena jalanan yang licin, berkali-kali pula aku bangkit. Kakiku terluka dan berdarah karena terjatuh, topi rajutanku jatuh entah dimana, kunciran rambutku pun sudah tidak rapi. Aku terus berlari dengan sedikit terpincang, menahan rasa sakit akibat lukaku. Sebentar lagi aku sampai, rumah Donghae oppa sudah mulai terlihat. Aku berharap semoga kedatanganku tepat waktu, aku semakin mempercepat langkahku. Kulihat di ujung jalan sebuah bis sudah siap untuk melaju.

“JANGAN PERGI DULU…..” aku berteriak di tengah langkah berlariku. Tapi bis itu tetap berjalan, semakin lama semakin cepat.

Aku tidak mau kalah, aku menambah kecepatanku mengejar bis itu. Dengan terus meneriaki nama Donghae oppa. “DONGHAE OPPAAAAAAA” teriakku sambil menangis.

“DONGHAE OPPA TUNGGU AKU” napasku semakin tersengal. Aku sudah tidak kuat lagi untuk berlari. Hingga aku tersungkur di tengah jalan. Mataku masih memperhatikan kepergian Bis yang ada Donghae oppa di dalamnya hingga bis itu hilang dari pandanganku . Aku menangis sejadi-jadinya di tengah jalanan yang sepi. “Donghae oppa mianhae”

Aku terus saja menangis dan menyebut nama Donghae oppa. Aku sungguh menyesal tidak bisa bertemu dengannya. Hati ini rasanya sakit sekali, melebihi rasa sakit di tubuh yang aku derita. Penglihatanku semakin redup. Aku tidak bisa melihat sekelilingku lagi, kepala sangat pusing. Aku mencoba berdiri, tiba-tiba kakiku serasa lumpuh, aku terjatuh. Kemudian semuanya menjadi gelap di mataku.

To Bee Continue….

*******************************************************************************************************

©2011 S3FFIndo

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

****************************************************************************

About azuhra

Hi... :) I'm just a little girl in a big world. I'm Indonesian. Nice to meet you all. I heart you all. Oh, i forget it, i'm moslem. and i'm not a terorist!!! there's no moslem is terorist. terorists aren't moslem. ^^

Posted on 7 Maret 2011, in AUTHOR, KATEGORI, Super Fanfiction, Yayang Fitria and tagged , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. yeaaah keren,
    apa janji mereka akan terlaksana ya.?
    ok, aku doakan mrka bersatu nanti a..

  2. Kasian hyo soo..
    Lanjut thor.. Penasaran..penasaran..

  3. huwaa hae pa jangan pergi T.T
    lanjut ya author

  4. huaa.. aku gatau harus komen apa. bagus bgt.
    lanjuuuutt authour🙂

  5. ffnya bagus😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: