[FF/PG/S/1] Life Isn’t Fair For Me

TITTLE : Life Isn’t Fair For Me

AUTHOR : Raisa Widiastari (Kim Ryechul)

CAST : Lee Taemin

Kim Jonghyun

Halena Jun

SUPORT CAST : Super Junior

Henry Lau

Lee Jinki a.k.a Onew

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

LENGTH : Series

GENRE : Sad Romance. Romance.

RATING : PG

A.N: Annyeong semua😀 berhubung ini fanfic dibuat dengan susah payah disela-sela kegiatan sekolah yang semakin padat, tolong hargain author yang udah nulis ini capek-capek alias diharapkan menjadi pembaca yang tertib (RCL). Komen kalian bener-bener saya butuhin buat memperbaikin tulisan saya. Maaf yaa kalau nanti nemu typo! Oh ya! Di part yang ini, mungkin kalian akan menemukan sedikit kemiripan dengan Summer In Seoul atau Spring In London. Cuman, author ngga ngikutin parah kok. Malah sebenernya ngga ada niat buat ngikutin. Tapi kalian pasti kebayangnya jadi itu. Tapi tenang! Di part selanjutnya bener-bener beda hehehe😄

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Part 1


Kalau dulu aku begini, bagaimana denganku sekarang?
Kalau aku dulu tidak lahir, dimana aku sekarang?
Kalau kita tidak bertemu, bagaimana hubungan kita sekarang?
Kalau aku tidak melakukan itu dulu, apa yang terjadi sekarang?
Akankah aku masih bisa bernafas?
Akankah aku masih tersenyum?
Akankah aku masih tertawa?
Akankah aku masih bisa melihatmu lagi?


AUTHOR’s POV

London

Pagi buta kali ini benar-benar mengesalkan! Udara dingin sangat terasa di sekitar ruangan kecil berukurang 5 x 5 meter berwarna hitam itu. Cahaya kekuningan redup bersinar di seluruh sudut ruangan tersebut. Ruangan yang sangat berantakan dan seperti tidak terurus itu membuat suasana seperti hangat. Namun, pada kenyataannya pagi ini sangat menusuk sekali. Jun Han Lee terbangun dengan malas. Udara dingin menusuk ke tulangnya. Gadis sembilan belas tahun ini baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan belas tadi malam bersama teman-temannya. Itulah alasan mengapa Han Lee sangat malas untuk bangun pagi ini.

Sebut saja dia Helen. Seorang model asal Korea blasteran Inggris yang sangat cantik. Ia sudah menjelajahi seluruh dunia karena ia memang mempunyai kerjaan yang membuatnya harus pergi keliling dunia untuk berjalan diatas karpet merah. Awalnya, mungkin kau tidak tahu mengapa Han Lee bisa dipanggil Helen. Itu terjadi karena ibunya yang berasal dari Inggris itu tidak begitu suka dengan nama ‘Jun Han Lee’ karena terlalu susah untuk disebut. Awalnya memang ayah Helen sendiri yang berasal dari Korea tidak setuju dengan pendapat itu. Namun, tetap saja ibunya berusaha agar ia dipanggil Helen. Hanya kerabat, teman Korea, dan ayahnya saja sekarang yang memanggilnya Han-Lee. Jadi, gadis itu mempunyai dua nama. Jun Han Lee dan Halena Jun.

Gadis ini mempunyai rambut panjang se-dada berwarna cokelat madu berjenis gelombang. Matanya yang besar sangat tajam dan menusuk. Memberi kesan seolah ia adalah orang yang kejam dan sangat dingin. Itu juga didukung oleh maniknya yang berwarna emas yang sangat berkilau. Tidak seperti orang-orang korea pada umumnya. Sehingga, bila kau melihat gadis ini, hal yang pertama kau sadari adalah matanya sangat indah. Hidungnya yang mancung mendukung dengan wajahnya yang oval. Bibirnya berwarna pink pudar kecil dan tipis. Pipinya sedikit merona dan itu membuat ia semakin cantik karena sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna putih itu. Tingginya sekitar 168 cm dengan berat badan 48 kg. Tangan, tubuh, dan kakinya sangat lentur seperti penari-penari yang profesional. Gadis ini bisa dibilang sangat perfect.

Ia tidak mempunyai pacar. Namun, ia mempunyai beberapa mantan. Terakhir ia pacaran saat berumur 18 tahun. Ia dan pacarnya putus karena hal sepele saja namun akibatnya sangat fatal. Sebut saja pria itu bernama Jerremy. Seorang pria asli Inggris dengan kepribadian yang sangat bagus dan sangat berkharisma. Namun, memang pada takdirnya mereka berdua harus putus dan sudah tidak bisa melanjutkan hubungan lagi. Tentu saja karena masalah sepele yang sangat tidak penting itu tadi. Memang terkadang pikiran pria tidak bisa ditebak dan hanya bisa membuat wanita bingung. Benar bukan?

Cukup dengan pengenalannya. Helen menggosok-gosok matanya dan berjalan kearah kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurnya untuk mencuci mukanya. Berharap bisa menghilangkan bekas tidur yang sangat jelas terlihat di wajahnya sekarang. Setelah melakukan beberapa aktifitas kecil di kamar mandi, ia berjalan kearah saklar lampu untuk menerangi kamarnya yang sangat berantakan itu. Ternyata, kamar itu lebih berantakan daripada yang ia bayangkan. Lemari baju terbuka lebar dengan isinya yang keluar semua, lantai yang berserakan boneka, cd lagu, baju, buku, dan barang-barang lainnya. Komputernya ternyata juga belum dimatikan dari semalam. Diatas CPU terdapat pakaian dalam dan di kursi komputer terdapat banyak bungkus snack. Kamar ini seperti kapal pecah. Helen sangat ingat mengapa hal ini bisa terjadi. Kemaren, saat ia ingin pergi menemui teman-temannya untuk merayakan pesta ulang tahunnya ia membongkar seluruh isi lemarinya karena bajunya hilang dan entah berada dimana. Setelah ketemu, ia langsung pergi saja tidak merapikan baju-bajunya kembali karena sudah telat dari waktu janjian.

Dengan semangat yang bekobar dan api semangat sudah muncul, ia mulai membereskan tempat tidurnya. Ia mengganti seprai kasurnya menjadi warna biru kuning bergambar bulan dan bintang. Lalu ia melipat selimutnya dan membersihkan tempat tidurnya dari debu dengan menggunakan sapu lidi. Setelah bagian tempat tidur selesai, ia melanjutkan dengan lantai kamarnya. Ia memungut beberapa barang seperti buku, cd lagu artis terkenal, dan beberapa boneka dan surat penggemar. Lalu, ia mengambil jam kecilnya yang tergeletak di tempat yang tidak seharusnya. Saat itu juga ia melihat jam yang tertera di jam kecil berwarna ungu itu.

07.05.28 AM

Lalu, dengan cepat ia menaruh jam kecil itu di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya dan memakai sendal kamar untuk keluar dari kamarnya yang sudah mulai rapi itu menuju dapur. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke dapur sampai hampir terpeleset beberapa kali karena lantai apartementnya sangat licin dan tidak ada karpet. Ia melewati ruang tamu kecil yang sangat berantakan dan ruang santai yang TVnya masih menyala sejak kemarin sore. Tapi, ia tidak mempedulikan hal-hal itu. Hal yang ia ingin lakukan sekarang hanyalah pergi ke dapur dan melihat memo kecil yang ditempel di kulkas. Sesampai di dapur, ia segera melihat memo tersebut.

Buckinghan Street. Mr. Danks. 07.45

“Oh dear.” ucapnya dengan bergidik. Ia hanya mempunyai waktu sekitar 40 menit lagi untuk sampai ke tempat itu. Tanpa banyak membuang waktu, Helen segera meraih handuknya dan segera berlari menuju kamar mandi. Dalam waktu 20 menit, ia sudah keluar dari kamar mandi dan sudah siap pergi. Masih ada waktu 20 menit lagi. Kira-kira, kalau ia berlari dari apartementnya ke stasiun lalu menaiki kereta pertama akan memakan waktu 13 menit. Jadi, ia sempat membuat sandwich terlebih dahulu lalu segera keluar dari apartementnya dan berlari menuju ke stasiun subway yang menuju kearah Buckingham Street. Ia tidak tahu berapa lama ia berlari dan ia tidak memperdulikan orang-orang melihatnya seperti orang gila karena berlari tanpa arah. Ia berkali-kali hampir tertabrak mobil karena menyebrang di tempat yang tidak benar. Beruntung, disana tidak ada polisi. Kalau ada, ia akan terlibat suatu masalah dan akan memperpanjang waktu dan ia tidak akan tepat berada di lokasi dengan waktu yang tepat.

Setelah membeli tiket untuk masuk kedalam kereta bawah tanah tersebut, ia kembali berlari agar berada di depan pintu pembatas antara stasiun dan kereta. Cukup lama waktu berlalu. Entah karena kepanikan menjalar tubuhnya, atau memang kereta tersebut datangnya lama. Dengan sabar, Helen hanya menunggu kereta tersebut sambil melahap salah satu sandwich yang dibuatnya. Seakan sudah lama sekali tidak makan, sandwich berisi ikan tuna dengan sayuran selada, tomat, dan mentimun segar dan diberi sedikit mayo dan sambal itu menjadi salah satu makanan terenak di dunia selama ia hidup. Tentu saja karena ia belum makan pagi. Dan sekarang, ia harus menderita penyakit lamanya, vertigo. Makanya, ia memutuskan untuk duduk sebentar di ruang duduk dan memakan sandwich itu. Beruntung, penumpang belum terlalu banyak. Mungkin penumpang akan menumpuk sekitar 10 menit lagi karena jam kantor sudah akan dimulai jam 9.

Tidak lama kemudian, kereta yang sedaritadi ia tunggu lewat. Betapa bahagianya Helen melihat keretanya itu datang. Tidak ada penumpang sama sekali dari stasiun sebelumnya. Jadi, kemungkinan Helen menjadi salah satu penumpang pertama kereta bawah tanah itu. Ia memasuki kereta tersebut dengan hati-hati. Karena, bila ia tidak hati-hati, bisa saja hak tingginya menyangkut dan itu akan menjadi masalah yang besar. Didalam kereta, ia langsung mengambil tempat duduk terdekat dari pintu keluar agar di tiga stasiun berikutnya ia mudah untuk keluar. Dengan sabar, ia menunggu. Bodohnya, hari ini ia lupa membawa jam.

Sekitar 7 menit kemudian, ia sudah berada di stasiun Buckingham dan segera keluar dan berlari kearah Buckingham Park. Disana, sudah ada beberapa orang-orang yang berlalu lalang membawa Tripod dan banyak lampu flash. Serta ada beberapa orang yang menuju kedalam mobil caravan. Mungkin itu adalah ruang dimana ia akan di rias. Namun, sebelumnya gadis sembilan belas tahun ini harus menemui Mr. Danks terlebih dahulu daripada laki-laki itu khawatir. Segera saja ia berlari menuju orang yang memakai topi besar dan berbadan sedikit lebar itu terlebih dahulu. Ia tidak ingin membuang waktu lebih banyak.

“Aku sudah datang, Mr. Danks.”
“Okay, dear. Sekarang segera ke caravan nomer 4 dan temui orang yang akan meriasmu disana.”

Tanpa menunggu lama, Helen segera mengangguk dan pergi ke caravan nomer 4 tersebut. Ia mengetuk pintu tersebut dan membuka pintu perlahan. Caravan tersebut lumayan besar dan nyaman. Suasana hijau yang segar dipadukan dengan warna ungu violet yang sangat manis. Dua warna tersebut adalah warna kesukaannya. Gadis sembilan belas tahun ini segera melangkah masuk kedalam caravan dan melihat ke sekelilingnya lebih jelas lagi. Ada lemari baju yang terbuka dengan berbagai macam model dan warna, meja rias dan kaca yang sangat besar, sofa yang panjang dan terlihat sangat empuk, hiasan dinding yang sangat indah, dan lainnya. Terpesona oleh semua hal yang berada didalam caravan itu, ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya.

“Jun Han Lee?”

Helen tersentak kaget. Tiba-tiba seorang perempuan yang tidak dikenal bertubuh besar, kira-kira dua kali lipat dirinya, berada dibelakangnya sambi memegang bahunya. Badannya tidak berhenti bergetar melihat sosok makhluk asing yang aneh dan tidak dikenal ini. Wajahnya sangat aneh. Perpaduan antara laki-laki dan perempuan. Tuhan, apakah dia – banci? Demi Tuhan! Helen paling takut dengan banci. Ia tidak pernah ingin berkomunikasi dengan manusia jenis itu karena itu terlalu beresiko. Salah-salah sedikit, tulang bisa remuk sana sini. Belum lagi kalau mereka sudah ‘pacaran’ dengan laki-laki. Demi Tuhan! Helen tidak akan kuat melihat cara mereka berpacaran yang tidak lain seperti kucing kawin dengan singa. Sungguh mengenaskan.

“Han Lee! Sudah kuduga itu kau! Apakah kau lupa? Aku Soona! Jo Soona! Kita berteman dulu di Korea!”
“Jo Sonna? Jo Seyoon?! Demi Tuhan! Apa yang kau lakukan sampai bisa menjadi–“ Helen menghentikan perkataannya sebentar. Berharap Seyoon tidak tersinggung, “—er, menjadi…. perempuan?”
“Han Lee! Bukankah aku memang sudah terlihat seperti perempuan sejak dulu?”
“Kau benar, dan sekarang kau benar-benar menjadi,” jeda sesaat, “—perempuan?”
“Ya, aku sudah operasi plastik dan alat kelaminku.”

Speechless. Helen tidak bisa berkata apa-apa. Seyoon adalah laki-laki yang seperti perempuan. Bisa dibilang ia hanya mempunyai teman perempuan sehingga ia lebih cenderung bergaul dan berdandan seperti perempuan. Tiba-tiba saja, ia menjadi menyukai laki-laki karena teman-teman perempuannya menyukai laki-laki. Lebih tepatnya dia itu… salah gaul. Kasihan orang tua Seyoon. Entah apa yang akan dikatakannya kalau mengetahui bahwa anak laki-lakinya sudah menjadi perempuan. Apa jangan-jangan memang sudah tahu? Demi Tuhan! Kalaupun Helen menjadi orang tua Seyoon, dia tidak akan mengijinkan anaknya merubah kelaminnya. Dalam agama, hal itu sangat dilarang karena melawan kodrat tuhan. Namun, apa yang bisa dikatakan Helen kepada Seyoon yang sekarang merubah namanya menjadi Sonna. Tidak ada. Tidak ada yang bisa ia katakan kepada teman laki-laki… maksudnya teman perempuannya itu.

“Jadi… Sonna, apa yang kau lakukan disini?”
“Oh, aku bertugas menjadi make up artist untuk dirimu. He he he. Anggap saja ini sebagai reuni.”
“Jadi, kau akan menjadi penata rias-ku? Sejak kapan kau –“
“Sejak kapan kau bisa mendandani orang? Demi Tuhan, Han Lee. Aku belajar dari dirimu dan Rae.”
“Rae? Jin Da Rae? Apa kabar dia sekarang? Aku sudah kehilangan semua tentang Korea.”
“Dia sudah menikah sekarang. Kau tahulah dia orang yang seperti apa.”

Jin Da Rae, Jun Han Lee, dan Jo Seyoon adalah tiga sahabat yang selalu bersama dimasa sekolah di Korea dulu. Rae dan Seyoon tetap di Korea saat mereka lulus dari tingkat SMA. Sementara Helen, ia berhasil menembus beasiswa Oxford di Inggris. Maka dari itu, Helen pindah dari Korea ke Inggris untuk melanjutkan sekolahnya dan sekaligus bekerja menjadi model. Sebelum ia pindah ke Inggris, dia adalah model yang sangat terkenal dan tenar di kalangan masyarakat Korea dan Jepang. Mata dari gadis inilah yang menarik para sutradara, perancang busana, dan fotografer. Belum lagi apabila gadis ini memancarkan senyum setengah senti khasnya. Helen bukannya tidak bisa tersenyum. Namun, gadis ini memang terlalu dingin. Hanya orang-orang yang sudah dekat dengannya sajalah yang bisa melihat gadis ini tertawa terbahak-bahak dan tersenyum sangat lebar. Malahan bisa dibilang ia bisa bertingkah konyol didepan teman-teman dekatnya. Gadis ini memang seseorang yang susah ditebak.

Sementara Rae? Dia adalah pekerja yang sangat keras. Ia adalah penari disebuah bar terkenal di daerah pojokan Seoul, Korea. Gadis ini memang nakal. Itu juga karena disebabkan oleh orang tuanya yang bercerai. Lalu, ia ditinggal sendirian sementara ayah dan ibunya menikah lagi dengan orang lain dan mempunyai anak yang baru. Ia hanya gadis yang tidak mempunyai apa-apa. Sehingga, suatu saat, ia berjalan pulang dari sekolah menuju ke rumah kontrakan yang dibayari oleh Helen dan Seyoon. Tiba-tiba, seorang pria menghampirinya dan menawarinya bekerja di bar. Ia juga dijanjikan kaya dan diberi tumpanngan untuk menginap selama ia bersedia mengabdi di bar tersebut. Dengan cepat, Rae menyutujuinya karena ia tidak mau merepotkan Helen dan Seyoon lebih lama lagi. Namun, semenjak kepindahannya di bar tersebut, Rae menjadi ‘liar’. Ia menjadi seorang penari di Bar tersebut. Tentu saja penari yang tidak benar. Penari yang tidak mempunyai adat dan hanya mengandalkan tubuh saja. Namun, hal itu harus diterima Rae karena rasa frustasi atas ayah dan ibunya serta tidak mau merepotkan Helen dan Seyoon. Mungkin, setelah ‘bermain’ dengan banyak pria, akhirnya dia hamil juga. Semoga ia bahagia dengan suaminya dan ia bisa mendapatkan kehidupan yang utuh. Amin.

“Kau tahu, pasanganmu di pemotretan kali ini siapa?’
“Mm. Aku tidak tahu. Memang dia siapa?”
“Kim Jonghyun. Seorang model dari Korea yang sudah terkenal sampai ke dunia internasional. Kurang lebih nasibnya sama sepertimu.”
“Oh ya?”
“Ya! Dia tampan sekali, Han Lee. Benar-benar tipe ku. Ups~ aku sudah punya pacar tapi.”
“Dasar kau, Sonna. Memangnya, dimana dia sekarang?”
“Dia sedang tidur di caravan 6. Dia memang gemar tidur. Perjalanan dari Korea ke London saja dia tidur sepanjang waktu.”

Helen hanya memilih untuk tertawa. Walaupun tidak ada yang bisa di tertawakan karena tidak ada yang lucu. Namun, ia tidak akan mengecewakan sahabat lamanya itu. Lagipula, apa salahnya bila ia tertawa? Toh tidak mendapatkan dosa. Setelah pembicaraan tentang Rae dan pasangan pemotretannya hari ini, Helen dan Sonna membicarakan tentang masa lalu mereka. Seperti nostalgia saja. Sambil sedikit-sedikit Sonna mengambil kesempatan untuk curhat tentang ‘pacar’ barunya yang ternyata sudah tidak segar lagi karena sudah pernah ‘menjalin hubungan’ dengan manusia jenis gay lainnya. Tentu saja hal itu membuat Sonna kecewa. Namun, perlu diakui, Helen salut dengan Sonna. Laki-laki itu memang tampan. Ia memiliki wajah yang putih dan mata yang berwarna biru. Sangat indah. Seakan-akan kau bisa terhanyut didalam matanya. Mata itu juga menipu semua wanita yang melihatnya. Mata itu menunjukan bahwa ia adalah pria sejati. Namun, dia hanyalah seorang gay. Itulah kesan yang dilihat gadis sembilan belas tahun ini di foto yang ditunjukan Sonna kepadanya. Foto mereka berdua yang sedang saling merangkul. Kalau dibayangkan, hal itu cukup mengerikan bukan? Bayangkan saja kau melihat dua orang laki-laki berfoto didepan kamera sambil saling merangkul dengan tatapan mata nafsu. Menjijikan.

Setelah selesai didandani oleh sahabat lamanya itu, Helen diberikan hak untuk memilih pakaian apa yang akan dikenakannya saat pemotretan nanti. Ia memilih gaun berwarna maroon panjang dengan dada yang terbuka dan belahan sampai ke ¾ pahanya. Ia tidak merasa risi dengan pakaian tersebut karena memang ia sudah terbiasa memakai pakaian-pakaian vulgar seperti itu. Namun, itu tidak menunjukan bahwa Helen adalah wanita murahan. Ia melakukan itu hanya untuk berrsenang-senang saja. Tidak ada paksaan maupun perasaan tidak ikhlas. Ia memang menyukai fashion. Ia juga memilih sepatu higheels berwarna merah maroon yang sedikit lebih tua dengan hak sepanjang 10 cm. Lalu, dengan dandanan yang sempurna hasil karya Sonna dan rambut yang sudah ditata dengan baik olehnya, ia terlihat sangat cantik. Benar-benar seperti orang yang sedang menghadiri pesta dansa. Sonna sendiri terlihat sangat takjub dengan penampilan sahabatnya. Ia tersenyum lebar dan berjalan mendekati Helen.

“Demi Tuhan! Kau cantik sekali. Mungkin aku bisa menjadi lelaki normal bila melihatmu seperti ini.”
“Hahaha! Dasar kau, Sonna. Bisa saja.”

Tiba-tiba, diluar caravan ada seseorang yang berteriak-teriak menandakan bahwa pemotretan akan segera dimulai. Lalu, didekat caravan nomer 4 ini, ada yang sedang berdiskusi bagaimana cara membangunkan putri tidur yang berada di caravan nomer 6. Putri tidur? Pasti yang dimaksud adalah Kim Jonghyun itu. Helen menjadi penasaran seperti apa sosok Pemuda pemilik marga Kim itu?. Apakah ia memang benar-benar tampan seperti apa yang dikatakan Sonna tadi? Tapi, rasanya selera Sonna selalu benar dan bagus. Berarti, Jonghyun adalah pria yang tampan dan kece seperti yang tadi diceritakan Sonna. Namun, peduli setan dengan hal itu. Pekerjaan tetap menjadi pekerjaan. Tidak ada waktu untuk melirik orang lain saat sedang melakukan pekerjaan. Hasilnya tidak akan baik bila kita tidak fokus bukan? Jadi, Jun Han Lee memutuskan untuk tidak memikirkan hal tersebut.

Saat keluar dari caravan, Helen langsung berjalan kearah Mr. Danks bersama dengan Sonna. Ia segera diberi pengarahan untuk melakukan gaya. Ternyata, ini sangat sederhana. Ia hanya perlu memamerkan muka sinisnya dan segala ekspresi yang kejam. Tidak boleh ada senyum. Tidak boleh ada tertawa. Harus tetap fokus kepada kamera. Helen mengetahui Mr. Danks adalah fotografer yang perfectionist. Jadi, ia selalu ingin agar modelnya terlihat perfek di kamera. Lalu, setelah melakukan beberapa gaya, tibalah saatnya berfoto dengan pasangan. Namun, putri tidur itu tidak terlihat dimanapun sehingga Mr. Danks marah dan membentak anak buahnya.

“Bangunkan anak itu sekarang juga!”
“Please, hyung. Jangan berteriak seperti itu.”

Mr. Danks mendongak. Ia mendapati seseorang yang sedaritadi membuatnya kesal dan marah. Dengan tidak sadar, gadis sembilan belas tahun itu membuka mulutnya sambil pelan-pelan berdiri. Ia kaget melihat seseorang yang berada tidak kurang dari 2 meter didepannya. Ia bergidik melihat sosok didepannya itu. Rambutnya yang berwarna hitam dengan model rambut yang di mohawk. Matanya yang berwarna hitam legam memberi kesan misterius didalam dirinya. Walaupun matanya yang sangat terlihat seperti orang yang baru bangun tidur, Helen masih bisa melihat warna maniknya itu. Bulu matanya yang lentik membuat dirinya terlihat cantik dan mempesona. Lalu, wajahnya yang berbentuk oval sangat mendukung dengan hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tebal itu sangat menggoda didukung dengan warna yang tidak terlalu merah namun basah. Kulitnya yang kelewat putih dan sangat bersih. Tingginya yang kurang lebih 173cm dengan tubuh yang tidak terlalu ber-otot. Namun, terlihat jelas dibalik jas hitam yang sekarang dikenakannya, ia berdada bidang dan mempunyai tubuh yang sempurna. Beberapa detik kemudian, Helen baru menyadari bahwa matanya ternyata belok. Samar-samar, ia terlihat menyeramkan karena ia sedikit mirip dengan Dinosaurus bagi gadis Jun ini. Siapa lagi orang itu kalau bukan Kim Jonghyun. Orang yang gemar tidur seperti bayi sekarang berada didepannya dengan senyum yang sangat cerah. Senyum tanpa dosa yang bisa membuat para wanita jatuh bergelimpangan melihat senyum itu. Namun, mengapa lelaki ini tidak asing baginya?

“Jonghyun boy! Darimana saja kau?! Dasar kau tidak tahu waktu. Aku cemas tahu.”
“Maaf, hyung. Kau tahu sendiri kan bagaimana kebiasaanku bila ada waktu luang.”
“Terserahlah. Sekarang, temui pasanganmu yang sekarang bersama Sonna.”

Mr. Danks menunjukkan tangannya kearah Sonna dan Helen. Dengan satu sentakan, Kim Jonghyun menoleh kearah gadis itu sambil tersenyum lebar. Senyum itu dipenuhi dengan aura yang hangat dan manis. Matanya yang besar menjadi seperti garis ketika ia tersenyum lebar seperti ini. Deretan gigi yang rapi dipadukan dengan bibirnya yang basah dan tebal itu. Wajahnya yang putih bersih membuat orang lain akan mengira ia wanita bila ia memakai wig. Namun, laki-laki ini tidak terlihat seperti banci. Ia mempunyai badan yang bagus. Dibalik jas itu, ia melihat jelas sekali ada suatu yang tersembunyi. Kepribadiannya yang sangat tertutup terlihat jelas dimatanya. Namun, pembawaannya sangat sempurna. Kharismanya sangat terlihat dengan caranya berjalan dan menyapa kepada orang-orang. Dan akhirnya, laki-laki itu berhenti tepat didepannya. Didepan seorang gadis yang tidak lain adalah Helen.

“Pagi, nuna! Apa kabar hari ini?”
“Jjong! kau kira sekarang jam berapa, eh? Baik. Bagaimana dengan kau?”
“Hmm.. aku masih ngantuuuuk sekali. Nuna terlihat seksi dengan pakaian itu.”
“Jangan begitu! Aku bisa melayang karena itu. Oh ya! Ini pasanganmu.”

Sonna menunjuk kearah Helen. Gadis itu sedaritadi hanya diam dan diam melihat kedua orang itu berbicara. Ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari laki-laki itu. Jonghyun. Ia tersenyum kearah gadis itu sambil memamerkan giginya yang putih bersih itu. Mata, hidung, dan bibirnya, semuanya terlihat begitu indah di mata Helen. Ia tahu betul bahwa ia harus fokus dalam pekerjaannya. Namun, keadaan yang memaksakan dirinya untuk tidak berpaling dari pemuda didepannya itu. Seolah-olah dunia ini berputar dan saat gadis sembilan belas tahun itu melihat mata lelaki itu, rasanya sepertii bertahun-tahun ia menatap mata itu. Terasa sangat lama mereka saling bertatapan. Namun, kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik saja.

“Hmm, jadi ini gadis yang akan membuat diriku rela terbunuh akan kecantikannya?.”

Ia tersenyum lebar sementara Helen tersentak kaget mendengarnya. Bayangkan saja, ia baru bertemu dengan laki-laki ini kurang dari lima menit namun ia sudah menyatakan kalimat itu. Aneh. Ia juga menatap gadis keturunan keluarga Jun ini dengan pandangan penuh dengan rasa penasaran. Ia sangat ingin tahu apa yang didalam diri Helen sebenarnya. Oh dear, jangan bilang kalau ia juga bisa membaca orang lain. Apakah ia bisa membaca pikiran gadis itu? Apakah ia bisa merasakan perasaannya? Apakah ia bisa mengetahui masa lalunya? Demi tuhan! Helen tidak mau mengubrisnya lagi. Toh sekarang apa yang harus ia katakan kepada laki-laki didepannya ini? Menjawab ‘iya’ kah? Atau ia harus menjawab ‘Hah?”. Ia sendiri juga bingung apa yang harus dikatakannya kepada laki-laki itu.

“Aaah! Maksudnya dalam sesi foto kali ini.”
–aku mati beku dibuatnya.
“Demi tuhan! Jangan menatapku seperti itu.”
–bergerak lah!
“Han-Lee? Kau masih disana?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

The End of Part 1. To be continue~

Jangan lupa komen yaa😀 jangan cuman di read doang, author lemparin bias kalo ngga komen *plak*

Thanks for reading this fanfiction. Saranghae~

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 8 Maret 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. kyaaa~~ jjong’pa gombal deh!!!

  2. aku suka ffnya thor,bahasanya bagus banget,mengalir gituh,two thumbs up ^^

    ohyah mampir ke blogku yukz imaginasfanfic94.wordpress.com
    gomawo

  3. baru kali ini aku baca ff yg pemeran untamanya jjong, kekeke
    ditunggu part selanjutnya deh authour.
    aku masih mau ngobrak-ngabrik ff yg ada disini, hehe

    • raisawidiastari

      gomawo yaa udah baca :*
      udah ada part selanjutnya kok yang kedua sama yang ketiga hehehe, kalo untuk part ke empat masih otw chingu! hehehe

  4. haha, keren nih😄 jonghyunnn! I love youuu~ but I love Key more. nyahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: