[FF/PG/S/2] Beach

Title : Beach

Author : Yayang

Cast ::

Shin Hyo Soo =>> Riani Ps

 

Lee Donghae Super Junior

 

Other cast…

 

 

 

Hyo Soo POV’s

 

 

 

 

 

Bosan sekali rasanya hanya berada diatas tempat tidur rumah sakit. Aku hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, entah apa yang kulihat yang jelas aku sudah kehilangan semangatku. Mengapa mereka tidak mengerti kalau bukan fisikku yang sakit tapi jiwaku. Tidak ada gunanya aku di rumah sakit. Kejadian itu terus terngiang di kepalaku, saat aku dan Donghae oppa membuat janji, saat kami bermain-maian di pinggir pantai, dan yang terakhir  dan yang paling menyakitkan adalah saat aku berjuang untuk mengerjarnya tetapi usahaku itu sia-sia. Tanpa sadar aku mengeluarkan cairan bening dari kedua mataku, padahal aku tidak ingin mereka mengalir dengan leluasa di pipiku. Aku tidak mempedulikan sekitarku, aku hanya larut dalam duniaku sendiri.

 

 

 

Bisa kurasakan seseorang disampingku menggenggam tanganku lembut. “Chagi, maafkan eomma. Eomma tidak pernah menyangka kalau larangan eomma malah membuatmu sakit” ternyata yang menggenggam tanganku adalah eomma, aku bisa menangkap suaranya  bergetar. Apakah eomma menangis..???? aku belum mau menolehkan  kepalaku dari  pandangan lurusku yang kosong.

 

 

 

“Dokter bilang tidak ada masalah dengan fisikmu, eomma tidak ingin melihatmu seperti ini terus. Sudah satu minggu kau tidak bicara dan tidak makan apa pun, eomma sangat mengkhawatirkanmu chagi, eomma mohon kembalilah menjadi Hyo Soo yang seperti dulu” kali ini eomma mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Bahkan aku lupa sudah selama itu aku tidak bicara pada siapa pun, sebuah jarum dan selang bersarang di jalur nadiku, mungkin inilah yang membuatku tidak kelaparan meskipun sudah seminggu aku tidak makan apa pun.

 

 

 

Aku ingin sekali memeluk  eomma dan mengatakan padanya kalau aku baik-baik saja, tapi itu berarti aku bohong toh kenyataannya aku sangat hancur.  “eomma” bisikku.

 

 

 

“chagi kau sudah berbicara lagi..???” kata eomma berbinar-binar, kelihatan sekali dia sangat bahagia melihat perkembanganku.

 

 

 

“eomma maafkan aku sudah merepotkan” kataku lagi dengan airmata yang kembali mengalir.

 

 

 

Eomma langsung memelukku erat seolah tak ingin melepaskanku lagi. “Eomma janji eomma tidak akan membuatmu sedih lagi. eomma sudah tau semuanya, kalau kau ingin kuliah di Jepang eomma setuju asal kau bahagia chagi” sahut eomma bertubi-tubi padaku.

 

 

 

Aku melepaskan pelukan eomma “chinca eomma??” tanyaku memastikan karena aku pun senang mendengarnya, seolah itu adalah obat bagiku.

 

 

 

Eomma mengangguk mantap, aku mencoba menyunggingkan senyumanku yang paling tulus untuk eomma. Aku berasa sangat bersalah sudah membuat eomma khawatir selama seminggu terakhir ini. aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengikhlaskan  kejadian waktu itu, aku yakin Donghae oppa juga akan sedih melihatku yang seperti ini. aku harus bangkit dan menyusulnya ke Jepang. Jika aku masih seperti ini aku tidak akan mendapatkan impianku dan menepati janjiku itu. Itu tidak boleh terjadi.

 

 

 

Aku kembali ke sekolah dengan sisa semangat yang masih melekat di diriku. Teman-temanku berkumpul di mejaku saat jam istirahat hampir seluruh dari mereka menanyakan keadaanku. Aku masih beruntung karena masih mempunyai banyak orang yang perhatian dan peduli bagiku. Aku sadar kehilangan satu orang yang berarti bagiku itu tidak adil membuatku terus terpuruk toh aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku lagipula kami sudah berjanji untuk bertemu di Jepang dua tahun lagi. sekarang ini itulah yang menjadi semangatku, bayangan yang akan membawaku bertemu dengannya dua tahun lagi di Jepang. Aku harus memdapatkan nilai terbaik dan memjadi siswa berprestasi jika aku ingin dengan mudah dapat ke Jepang. Ya aku harus melakukan itu. Dan mulai detik ini aku bertekad di dalam hatiku.

 

 

 

Selama ini aku belajar dengan keras, mendapatkan nilai-nilai yang bagus entah mengapa tidak terlalu membuatku puas. Lee seonsaengnim bangga sekali dengan nilai-nilai yang aku dapat, mungkin dia pikir dia telah berhasil mengajarku. Tidak masalah kalau  Lee seonsaengnim beranggapan begitu, setidaknya itu berarti aku sudah membuat orang lain senang.

 

 

 

Ujian sebentar lagi akan dilaksanakan. Rasanya tegang, tapi aku yakin aku pasti bisa, selama ini kan aku sudah berusaha sengan segala kemampuanku. Ya, sekarang aku sudah di tingkat akhir High School. Itu barati hanya dalam hitungan bulan lagi aku akan bertemu dengan orang yang sudah sangat aku rindukan. Aku tersenyum pada diriku sendiri.

 

 

 

“Hyo Soo-ya” seseorang merangkulku.

 

 

 

Aku menolehkan kepalaku melihat siapa itu, ternyata sahabatku. Yong Soon dan Yeon Ji “ne, kalian mengejutkanku saja” jawabku sambil tersenyum dan masih melangkahkan kakiku, saat ini aku memang sedang di jalan menuju rumahku.

 

 

 

Mereka tertawa. “Yaaa, bagaimana ujian terakhirnya tadi??” Tanya Yong Soon padaku.

 

 

 

“Pasti Hyo Soo bisa mengatasinya dengan mudah, dia kan pintar sekali” sahut Yeon Ji dengan wajah manjanya.

 

 

 

“Sama saja seperti kalian. Ada yang mudah tapi ada juga yang sulit yang penting hanya melakukan yang terbaik saja” jawabku. Dan mereka berdua pun mengangguk.

 

 

 

Kami sampai di pertigaan yang harus memisahkan kami bertiga. Jalan ke rumah kami memang berbeda. Aku masih melangkah dengan penuh semangat. Dua minggu lagi akan di umumkan hasil ujian kami.

 

 

 

**************************************************************

 

 

 

Hari ini acara upacara perpisahan bagi anak-anak tingkat akhir yang sudah melaksanakan ujian dua minggu yang lalu. Hari ini juga sekalian pengumuman nilai yang kami dapatkan selama belajar tiga tahun disekolah. Aku duduk di bangku nomor dua paling depan sebarisan dengan sahabat-sahabatku Yong Soon, Yeon Ji, Je Rid an Rae Bin. Terlihat wajah-wajah tegang semua teman-temanku termasuk aku saat akan pengumuman.

 

 

 

“Tahun ini yang menerima gelar siswa paling berprestasi adalah Shin Hyo Soo” kata Kim Seonsaengnim, kepala kesiswaan disekolah.

 

 

 

Dengan perasaan gugup yang luar biasa aku naik ke atas panggung dan menerima penghargaan tahunan itu. Aku begitu tidak menyangka benar-benar akan mendapatkannya. Bagiku mendapat nilai yang bagus dan memenuhi syarat agar bisa melanjutkan pendidikan pun sudah lumayan cukup bagiku. Tak terasa aku malah menangis. Lebih tepatnya menangis karena terharu. Semua sahabat-sahabatku pun tersenyum dengan puas dan bangga melihatku. Sudah saatnya aku menjemput impianku. Donghae oppa tunggu aku, gumamku dalam hati.

 

 

 

“Hyo Soo lkau hebat sekali” kata Rae Bin di tengah perjalanan kami menuju rumah masing-masing. Selama ini aku memang suka berjalan bersama menuju rumah ataupun sekolah.

 

 

 

“Benar kana pa kataku Hyo Soo pasti dapat gelar itu. Aku sudah tidak heran lagi” sahut Yeon Ji.

 

 

 

“Itu berarti kau benar-banar akan kuliah ke Jepang?” Tanya Yong Soon kemudian.

 

 

 

Aku mengangguk menjawab pertanyaan Yong Soon. “Aku akan kuliah di Jepang. Terima kasih sudah menjadi sahabatku”

 

 

 

“Kami pasti akan merindukanmu” Je Ri memelukku setelah mengatakan itu. Dan yang lain pun ikut memelukku, aku merasakan kehangatan cinta sahabat dari  pelukan mereka. Aku juga pasti akan sangan merindukan mereka.

 

 

 

“Aku juga akan merindukan kalian. Tapi kalian tenang saja, aku masih punya rumah disini aku akan pulang setiap liburan dan kita akan berkumpul bersama lagi” kataku sambil menyunggingkan senyumanku yang paling tulus pada mereka.

 

 

 

Aku sampai di depan rumahku tapi aku tidak langsung masuk. Aku menatap rumahku yang selama ini sudah menjadi tempat tinggalku sejak aku lahir. Akankah sebentar lagi aku akan meninggalkannya?? Aku juga masih membayangkan bagaimana ekspresi eomma dan appa setelah tahu kalau aku mendapat gelas siswa paling berprestasi di sekolahku.

 

 

 

Aku melangkah masuk kerumahku disana eomma sudah menungguku, aku menghambur ke dalam pelukan eomma dan menangis di pelukannya.

 

 

 

“Chagi, kenapa kau menangis?” Tanya eomma cemas padaku.

 

 

 

“Aku mendapat gelar siswa paling berprestasi di sekolahku eomma” jawabku masih menenggelamkan kepalaku di pelukan wanita yang sangat aku sayangi ini.

 

 

 

“Kau memang hebat” Puji eomma padaku. “Nanti malam kita makan malam diluar bersama appa untuk merayakan prestasimu otokke..??”

 

 

 

Aku mengangguk setuju.

 

 

 

Sudah jam tujuh malam. Aku dan eomma sudah berdandan dengan rapi karena malam ini aku, eomma dan appa akan merayakan keberhasilanku dengan makan malam di rumah. Appa juga bilang kalau dia akan pulang lebih cepat tapi jam segini dia belum sampai rumah juga. Appa selalu saja sibuk, tapi aku dan eomma tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan appa, karena kami tahu dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan membahagiakan kami.

 

 

 

Tiba-tiba saja telpon rumah berbunyi di tengah kesunyian kami menunggu appa. Eomma mendekati meja yang terdapat telpon disana, perlahan eomma mengangkatnya.

 

 

 

“Yoboseyo” kata eomma ketika dia mengangkat telponnya.

 

 

 

Eomma tampak terdiam dengan tatapan kosong. Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana. Tapi melihat ekspresi eomma membuatku khawatir.

 

 

 

Begitu eomma selesai mengangkat telponnya aku mendekatinya dan melihatnya sudah menangis, aku memeluknya erat.

 

 

 

“Eomma ada apa??” tanyaku pada eomma.

 

 

 

“Appa mu masuk rumah sakit karena sakit jantungnya kambuh. Kita harus segera kerumah sakit Hyo Soo-ah” kata eomma padaku aku mengangguk sambil ikut menangis mendengar kabar buruk itu.

 

 

 

Aku dan eomma berlari di sepanjang koridor rumah sakit kami ingin cepat-cepat melihat keadaan appa. Aku melihat tubuh appa terbaring lemas di atas tempat tidur. Seketika aku ingat diriku saat dua tahun lalu aku masuk rumah sakit. Baginikah perasaan khawatir eomma dan appa pada saat itu??? Aku merasakan perasaan yang sangat khawatir menyusup di benakku. Aku tidak bisa lagi mengontrol airmataku agar tidak keluar, begitupun dengan eomma di sampingku. Eomma terus menggenggam tangan appa dengan lembut dan penuh kasih sayang.

 

 

 

“Appa cepatlah sembuh” bisikku tepat di telinga appa.

 

 

 

Aku melihat tangan appa bergerak setelah aku mengatakan kata-kata itu. Tak lama setelah itu mata appa pun membuka. Eomma yang juga menyaksikan hal itu langsung berbinar dan menghentikan tangisannya. Aku juga melakukan hal yang sama.

 

 

 

Appa melihatku dan eomma secara bergantian, aku dan eomma sama sekali tidak melepaskan  gemgaman tangan kami di tangan appa. Appa tersenyum melihat kami, entah mengapa aku merasa senyuman itu begitu lemah seolah dia menutupi rasa sakitnya dan hendak meyakinkanku dan eomma kalau dia tidak apa-apa. Tapi appa sama sekali tidak bisa berbohong, aku tahu kalau dia menahan rasa sakitnya.

 

 

 

“Hyo Soo-ah chukae, kau memang anak kebanggaan appa. Mianhae kalau kita tidak sempat makan malam bersama diluar karena appamu ini tiba-tiba sakit” appa angkat bicara, sesekali dia mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya untu berbicara.

 

 

 

“Gwenchana appa, yang panting sekarang appa harus cepat sembuh” jawabku tanpa bisa menahan airmataku lagi.

 

 

 

“Ne yeobo cepatlah sembuh” eomma ikut menengahi dengan airmata yang kembali mengalir.

 

 

 

Appa kembali tersenyum lemah, aku heran appa memang tidak ingin sekali  tampak rapuh meskipun di depan anak dan istriya sendiri.

 

 

 

“Yeobo kau sudah berhasil mendidik anak kita Hyo Soo, aku sangat bangga mempunyai ostri sepertimu saranghae. Hyo Soo-ah jangan pernah membuat eommamu susah lagi ara?” appa kembali berkata-kata lalu tiba-tiba saja appa merasa sesak nafas.

 

 

 

Aku dan eomma panik bukan main, aku langsung berlari ke luar ruangan mencari dokter yang menangani appa.

 

 

 

“Saya minta nyonya shin dan nona shin silahkan keluar dulu. Kami akan menangani tuan Shin” perintah dokter pada kami.

 

 

 

Aku membimbing eomma untuk keluar karena eomma seolah tidak ingin meninggalkan appa di ruangannya.

 

 

 

Kami menunggu dengan perasaan yang sangat cemas dan khawatir. Eomma tidak henti-hentinya menangis dan berdo’a. ya Tuhan tolong berikan yang terbaik untuk kami.

 

 

 

Dokter beserta perawat keluar dari ruangan appa begitu kami sudah menunggu selama dua jam. Tanpa pikir panjang eomma langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan appa. “Bagaimana keadaan suami saya?? Dia baik-baik saja kan??” Tanya eomma menuntut.

 

 

 

“Jwesonghamnida Nyonya Shin….” Jawab dokter itu dengan ekspresi yang sama sekali tidak aku harapkan. Apa arti dari ekspresinya itu?

 

 

 

“Dia tidak kenapa-napa kan dokter?? Tidak mungkin suami saya…..” eomma tidak bisa meneruskan kata-katanya karena tangisannya, eomma juga menangkap sesuatu yang tidak diinginkan dari nada bicara dokter itu. “Dia begitu kuat, tidak mungkin dia meninggalkan kami” teriak eomma.

 

 

 

“Tapi begitulah kenyataanya Nyonya Shin, maaf tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain” lanjut dokter itu, lalu meninggalkan kami yang sudah menangis terisak-isak.

 

 

 

Eomma terduduk lemas di depan kamar inap appa. Aku menuntunnya masuk kamar inap appa melihat wajah appa untuk yang terakhir kalinya. Tangis kami pecah dengan sejadi-jadinya melihat tubuh kaku appa. Appa terlihat tenang sekali, yapi kami belum siap untuk kehilangannya.

 

 

 

****************************************************************

 

 

 

“Hyo Soo-ah” panggil eomma dengan lembut padaku setelah upacara pemakaman dan do’a untuk appa. Eomma sangat terpukul dengan kepergian appa yang sangat mendadak begitu pun dengan aku.

 

 

 

“Ne eomma” aku menghampiri eomma dan menyandarkan kepalaku di bahu eomma. Dia mengelus rambutku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku bangga dengan eomma, meskipun dia sangat terpukut tapi eomma sama seperti appa dia tidak ingin terlalu terlihat rapuh dia mencoba untuk tetap tegar.

 

 

 

“Kita jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Eomma yakin appa pasti sedih disana melihat kita seperti ini terus” jelas eomma padaku, aku mengerutkan alisku dan mendongak menatap wajah eomma.

 

 

 

“Kejarlah cita-citamu Hyo Soo-ah” lanjut eomma.

 

 

 

“Aku berubah pikiran” jawabku.

 

 

 

“Apa maksudmu??” kali ini eomma yang mengerutkan alisnya tidak mengerti.

 

 

 

“Aku tidak akan ke Jepang dan meninggalkan eomma di Mokpo sendirian. Kecuali eomma ikut denganku” jawabku tegas.

 

 

 

“Eomma tidak mungkin meninggalkan Mokpo dan kenangan keluarga kita”

 

 

 

“Kalau begitu aku juga tidak mungkin meninggalkan eomma sendirian”

 

 

 

“Tapi kuliah di Jepang adalah cita-citamu, bukankah kau juga ingin bertemu dengannya Hyo Soo-ah..???”

 

 

 

“Aku sudah ikhlas jika aku memang tidak bisa bertemu dengan Donghae oppa lagi. tapi aku tidak ikhlas melihat eomma menjalani kehidupan sendirian. Aku sudah berjanji pada appa kalau aku tidak akan membuat eomma susah lagi. cukup kejadian dua tahun lalu saja yang membuat eomma susah, tidak untuk yang kedua kalinya…” Jelasku panjang lebar pada eomma.

 

 

 

“Tapi bagaimana dengan cita-citamu…???”

 

 

 

“Aku akan berkuliah di Korea saja dan melanjutkan pekerjaan appa dengan meneruskan bisnis yang sudah ditekuni appa dari dulu. Itu adalah cita-citaku saat ini eomma. Jangan paksa aku” aku menjawab pertanyaan dengan tegas tapi tatep lembut. Eomma hanya mengelus rambutku penuh kasih sayang dan itu adalah kekuatanku saat ini. eomma adalah kekuatanku, sekarang yang hanya dipikiranku adalah untuk membahagiakan eomma dan mengurusi keluarga bagu kami yang hanya beranggotakan dua orang saja sekarang. Donghae oppa mianhae, aku tidak bermaksud untuk mengingkari janji kita… tapi ini adalah jalan yang harus aku tempuh, aku tidak bisa meninggalkan eomma sendiri dan menjalani kehidupannya tanpa aku. Eomma lebih membutuhkanku saat ini….

 

 

 

 

 

To Be Continue…..

*******************************************************************************************************

©2011 S3FFIndo

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

****************************************************************************

 

About azuhra

Hi... :) I'm just a little girl in a big world. I'm Indonesian. Nice to meet you all. I heart you all. Oh, i forget it, i'm moslem. and i'm not a terorist!!! there's no moslem is terorist. terorists aren't moslem. ^^

Posted on 8 Maret 2011, in AUTHOR, KATEGORI, Super Fanfiction, Yayang Fitria and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Yahhh……
    *reader kecewa*

    ko’ jd gini….

  2. penasaran!!! part slanjutx jgn lama2 thor!!!

  3. lanjut thor!!!! *penasaranmodeon*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: