[FF/PG/S/2] Life Isn’t Fair For Me

 

Life Isn’t Fair For Me

AUTHOR : Raisa Widiastari (Kim Ryechul)

CAST : Lee Taemin

Kim Jonghyun

Halena Jun

SUPORT CAST : Super Junior

Henry Lau

Lee Jinki a.k.a Onew

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

LENGTH : Series

GENRE : Sad Romance. Romance.

RATING : PG

A.N: Annyeong semua😀 berhubung ini fanfic dibuat dengan susah payah disela-sela kegiatan sekolah yang semakin padat, tolong hargain author yang udah nulis ini capek-capek alias diharapkan menjadi pembaca yang tertib (RCL). Komen kalian bener-bener saya butuhin buat memperbaikin tulisan saya. Maaf yaa kalau nanti nemu typo! Happy Reading all😀

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Part 2


Author’s POV

Jonghyun mengulurkan tangan kearah gadis itu untuk memegang bahunya untuk memastikan keadaannya. Dengan cepat, ia tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya. Gadis bermanik emas itu segera menghindar dari sentuhannya. Sangking kagetnya, Helen terlihat seperti orang yang tidak mau disentuh siapapun. Pria dua puluh satu tahun itupun bergidik. Jelas sekali terlihat di raut wajah tampannya itu bahwa ia sangat penasaran apa yang membuat gadis itu terlihat kaget saat melihatnya. Sebenarnya, Kim Jonghyun bukanlah orang yang peduli apapun kata orang-orang saat melihatnya. Toh ia sudah terbiasa dengan para gadis-gadis yang melihatnya dengan takjub lalu mengejarnya. Namun, kali ini, ia akui bahwa ia terheran-heran terhadap gadis didepannya ini. Ia melihatnya dengan tatapan takut. Bukan tatapan takjub atau apalah yang biasa dikatakan oleh media masa saat meliputnya. Gadis ini berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui bahkan ibunya sekalipun. Gadis ini benar-benar susah ditebak. Dengan caranya memandang laki-laki didepannya yang sudah mati beku dipandangi oleh manik emas yang sangat indah, sangat terlihat jelas sekali bahwa ia takut kepadanya. Cih! Apa yang dipikirkan pemuda Kim ini?

“Miss. Jun, Jonghyun! Kesini cepat! Kita akan memulai 2 menit lagi.”
“Tunggu sebentar, hyung.”
“Jangan sampai aku memanggil Withney untuk menyeretmu.”
“Bisa tidak hyung pergi kesini untuk mengecek Han-Lee daripada hyung mengomel-ngomel?”
“Ada apa dengannya?”
“Mana ku tahu. Tapi sepertinya dia sedang berada di alam lain? Bagaimana menurut hyung sendiri?”
“Miss? Miss Jun? Hello? Are you still there?”
“Tuhkan! Apa kataku! Dia sedang berada di dunia lain! Lihat saja matanya. Seperti ketakutan.”
“Apa yang telah kau lakukan, Jjong?”
“Aku tidak melakukan apa-apa! Sungguh! Iya kan nuna? Aku tidak melakukan apa-apa?”
“Hanya membuat teman lamaku terkejut saja sih?”

Frustasi. Itu yang dirasakan oleh pemuda Kim ini sekarang. Entah apa yang membuat gadis didepannya itu begitu kaget saat ia mengatakan hal tersebut. Itu adalah kata-kata yang biasa-biasa saja. Lagi pula, pemuda dua puluh satu tahun ini senang bercanda dan kalimat itu terlontar begitu saja saat bertemu dengan seseorang yang baru ditemuinya alias kalimat itu memang sudah sering ia ucapkan. Namun, mengapa gadis didepannya itu begitu kaget saat ia melantunkan kalimat itu? Apa perlu ia memutarbalikan waktu untuk menarik kata-katanya. Disaat inilah ia ingin sekali mempunyai Doraemon. Sejak kecil, bisa dibilang ia sangat memimpi-impikan bila ia mempunyai Doraermon. Namun, Doraemon hanya ada di dunia kartun. Ia tidak bisa meminjam mesin waktu kepada robot kucing berkumis om-om itu. Kata-kata yang ia lontarkan sudah tidak bisa ditarik lagi. Jadi? Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak ingin hyung-nya khawatir dan akhirnya pemotretan yang tidak penting ini tidak jadi dilanjutkan? Apakah ia harus mencoba untuk menyentuhnya lagi? Apakah ia akan menarik diri lagi? Demi tuhan! Ada apa dengan gadis Jun didepannya ini?

“Miss Jun? Kau sehat?”

Jonghyun menempelkan tangannya kepada wanita didepannya. Dengan satu hentakan, manik emas cair itu langsung berisi lagi dan dengan cepat menepis tangannya. Terlalu kaget, Kim Jonghyun mundur satu langkah dan mengangkat tangan kirinya ke depan dan tangannya ke belakang (bayangin posisi Ring Ding Dong). Posisi defensif. Gadis itu mengerjap-ngerjap matanya satu kali, dua kali, tiga kali, dan akhirnya maniknya memancarkan cahaya kembali. Seperti baru tersadar dari lamunan. Sungguh aneh. Ia tidak pernah bertemu dengan gadis seperti ini. Ia berbeda dari gadis-gadis yang pernah ia temui. Rasanya, gadis pemilik marga Jun ini terlalu defensif dan sangat tidak mau dipegang oleh orang asing. Tunggu tunggu! Setiap orang juga tidak mungkin ingin dipegang-pegang oleh orang asing. Bahkan, Kim Jonghyun sendiri tidak akan mau bila ia dipegang-pegang oleh orang lain yang sama sekali asing bagi dirinya. Jadi, mungkin perilaku gadis didepannya ini karena sikap kurang ajar yang dilakukan oleh pemuda Kim ini.

“A–aku sehat. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Ayo kembali bekerja.”

Mengapa ia tertunduk dan tidak mau melihat kearahku? Pikir pemuda ini dalam hati. Gadis itu segera beranjak dari tempat duduknya yang tadi ia duduki berdampingan dengan Sonna. Berjalan melewatinya dengan membuang muka kepada Jonghyun. Apa yang ia lakukan sehingga wanita itu berperilaku seperti itu? Seolah tidak terjadi apa-apa, ia segera tersenyum kearah Mr. Danks dan berjalan menuju lokasi yang menjadi tempat untuk mengambil gambar yang bagus dan indah. Ada apa dengan gadis itu? Sepintas, ia merasa bahwa gadis tersebut membencinya. Tapi kenapa? Rasa frustasi melanda pikirannya. Pemuda dua puluh satu tahun ini mengacak-acak rambutnya dan segera berjalan menyusul gadis yang membuatnya frustasi itu.

Dengan wajah yang masih sedikit menekuk, Mr. Danks memerintahkan kami semua untuk kembali ke posisi masing-masing karena sesi foto-foto akan dimulai lagi. Halena Jun masih saja duduk termenung di kursi yang merupakan properti dari sesi foto kali ini. Tatapannya tertuju kepada semen yang melapisi jalanan yang menjadi pijakan di taman ini. Namun, tatapan itu tatapan sedih. Tatapan orang yang sedang sedih. Seperti baru saja menemukan masalah. Apakah ia salah menegur gadis itu? Apakah seharusnya ia tidak menegurnya tadi? Tuhan! Saat ini aku menginginkan Doraemon disisiku. Mengapa Doraemon hanya ada di dunia kartun saja?

Selama pemotretan berlangsung, tidak ada masalah yang terjadi diantara pemuda Kim ini dengan gadis Jun tersebut. Hanya mengambil gambar dimana ia harus tergeletak di tanah dengan darah berceceran dan Helen memegang pisau yang berlumuran darah. Lalu, pose dimana mereka saling membelakangi namun punggung mereka saling menyentuh, dan beberapa pose-pose lainnya. Pemotretan kali ini hanya berjalan selama tiga jam. Syukurlah pemotretan kali ini tidak berlangsung lama. Suasana hati Jonghyun hari ini kurang baik. Walaupun ia memancarkan senyumnya keseluruh orang hari ini, tetap saja. Itu hanyalah senyuman palsu yang ia buat untuk tidak ditanya-tanya oleh Mr. Danks. Ia juga masih menderita jetlag walaupun ia sudah berkali-kali pergi ke luar negri. Baginya, London adalah kota dimana ia harus menyimpan segala kenangan buruk yang ia alami di Korea karena ia terkesan dengan semua hal yang ada di London. Walaupun ini adalah kunjungan keduanya di London dan kunjungan pertamanya saat ia masih umur tiga tahun, ia tidak pernah melupakan betapa indahnya kota yang merupakan pusat kerajaan Inggris ini.

Tiba-tiba, ponselnya berdering keras. Lagu “Spider Pig” OST dari Simpson The Movie terdengar sangat keras sehingga semua orang yang berada di dekatnya dalam jarak kurang lebih delapan meter masih bisa mendengar jelas suara ringtone-nya itu. Dengan malas, ia men-slide I-Phonenya dan melihat apa yang membuat benda ini begitu berisik hingga membuat kepalanya sedikit pusing. Memang sih lagu yang ia pakai tidak begitu hebring seperti lagu-lagu yang biasanya dipakai oleh orang-orang. Namun, tetap saja dalam keadaan frustasi dan pusing ia merasa kesal dengan ponselnya yang tidak berhenti berdering. Kau tahu? Inilah yang tidak disukai olehnya. Bayangkan saja! Sudah mengganggu ketenangan orang lain, mengganggu dirinya, ternyata, itu hanyalah sebuah sms. Dan sms itu sama sekali tidak penting karena sms itu dikirim dari operatornya. Dasar kurang kerjaan. Untuk apa mereka mengirimkan sms berbunyi “Selamat anda mendapatkan £ 10.000”. Hanya itu saja. Bayangkan! Betapa kesalnya pemuda Kim ini dengan operatornya. Demi tuhan, ia tidak akan memakai nomer lamanya ini lagi bila operatornya mengirim sms tidak penting seperti ini sekali lagi.

Kim Jonghyun memasuki caravan nomer enam lagi dan mengganti bajunya dengan pakaian yang sering ia gunakan karena pakaian itu adalah pakaian favoritnya. Mantel tebal yang melapisi sweater cokelat polos dan yang melapisi lagi kemeja putih dipadukan dengan celana jins dan sepatu vans berwarna putih serta dengan topi seniman berwarna hitam. Entah mengapa, ia sangat senang memakai pakaian seperti itu sekarang. Dan tidak lupa dengan kacamata hitamnya yang sangat ia sayangi. Mengapa? Karena kacamata tersebut adalah barang pertama yang ia beli dengan gaji pertamanya. Kacamata itu sudah menjadi benda keramat di hidupnya karena entah mengapa bila ia tidak bersama benda tersebut, ia akan gelisah. Demi tuhan! Ia memiliki ketergantungan seperti itu kepada benda mati. Ada apa dengannya?

Setelah merasa dirinya cukup keren, ia memutuskan untuk keluar dari caravan dan berjalan keluar dari taman Buckingham ini. Dalam balutan sweater cokelat, ia mendongak ke langit. Cerah. Namun, hal tersebut tidak mengakibatkan penghangatan suhu. Ia sendiri tidak pernah mengharapkan di musim dingin tiba-tiba menjadi hangat seperti di musim semi menuju musim panas. Membayangkan seperti itu membuatnya bergidik. Kiamat memang sudah mulai dekat. Alam sudah menunjukan tanda-tandanya. Sudah banyak orang-orang yang bersifat seperti dajal seperti yang dijelaskan di kitabnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah: berdoa, berusaha tidak melakukan dosa, memperbanyak pahala. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Namun, mengapa tiba-tiba jadi membicarakan tentang agama dan kiamat? Siapa yang memulainya?

Tiba-tiba, ia menangkap bayangan seseorang di maniknya yang berwarna hitam legam itu dibalik kacamata hitamnya. Jun Han Lee, gadis aneh yang menarik itu. Apakah ia akan menyapanya lagi? Atau ia harus berlagak tidak tahu bahwa itu dia dan melanjutkan perjalanannya yang tanpa arah saja? Karena ia bukan tipe orang yang bisa membiarkan rasa penasarannya berkobar, ia memutuskan untuk menyapa gadis itu sekali lagi. Bila gadis itu kembali mengeluarkan reaksi yang tidak enak, ia tidak akan mendekati gadis aneh itu lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Tidak ada rasa penasaran lagi. Tidak ada hubungan dengan dirinya lagi. Namun, bila reaksinya berbeda, ia akan melanjutkan ke tahap pertemanan. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Let it flow. Segera saja Jonghyun melangkah cepat kearahnya.

“Han Lee!”
“Hm?” – ada yang salah dengan dirinya. Matanya… sembab.
“Err.. Tidak apa-apa, aku hanya ingin menyapamu saja. Soalnya, tadi kita belum banyak mengobrol.”
“Hm? Iya ya? Sepertinya aku terlalu larut dalam pekerjaan tadi.”
“Oh ya, kau belum memperkenalkan namamu secara langsung. Ayo kita saling mengenalkan diri.”
“Oh? Namaku Jun Han Lee atau Halena Jun. Kau bisa memanggilku Helen, atau Halena.”
“Namaku Kim Jonghyun. Orang-orang biasanya memanggilku Dino atau Jjong.”

Mengapa ia merasa respon yang ia dapatkan dari wanita ini sangat dingin? Apakah memang pada nyatanya ia memang orang yang dingin? Ataukah memang dirinya yang dinilai kurang ajar oleh gadis didepannya ini? Ataukah memang pada dasarnya ia sudah tidak disukai saat pertama kali melihatnya? Senyum tipis itu yang membuatnya berfikir aneh-aneh sekarang. Demi tuhan! Kim Jonghyun tidak pernah bisa tidur bila ia terus-menerus penasaran. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Namun, sebenarnya perilaku seperti itu memang wajar. Perilakunya yang dingin terhadap orang yang baru saja dikenal memang hal yang biasa. Malahan, itu adalah sikap yang baik karena kita tidak akan dianggap murahan karena terlalu agresif dengan orang yang baru dikenalnya. Sebenarnya, dalam relung hati kecilnya, ia mengakui bahwa seorang Kim Jonghyun juga mempunyai sifat seperti itu. Berarti, kemungkinan besar, ia hanya bernegatif thinking ria kan?

Helen’s POV

Sejujurnya, aku masih bingung dengan kehadiran orang yang bernama Kim Jonghyun itu. Aku yakin bahwa aku tidak mengenalnya. Namun, mengapa hati kecilku berkata lain? Muka, sikap, dan senyumnya terasa familiar. Ah! Aku baru ingat! Kim Jonghyun mengingatkannya dengan seseorang di masa laluku, Lee Taemin. Kekasih abadinya yang berada di Korea sampai sekarang. Anak itu sangat lucu, manis, dan sangat…. segalanya ada didalam dirinya. Orang yang selalu membuatnya tertawa setiap waktu dengan sikapnya yang jelas-jelas masih bocah di umurnya yang tujuh belas tahun. Maniknya yang berwarna hitam kelabu dipadukan dengan rambutnya yang gayanya berubah-ubah namun tetap dalam satu warna, blonde. Matanya tajam seakan-akan bisa membaca apa saja yang ada dipikiranmu saat itu. Hidungnya mancung dipadukan dengan pipi yang sedikit chubby dan bibir pink pudar yang seksi karena basahnya bibir tersebut. Badannya yang tinggi dan bisa dibilang eksotis membuatnya terlihat seperti anak yang bukan berumur tujuh belas tahun. Namun, hal itu tidak bertahan lama.

***

Tiga bulan setelah ia menggelar acara pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas, kondisinya turun drastis. Dokter memvonisnya bahwa ia mempunyai penyakit kanker otak stadium tiga. Ia tidak pernah sekolah lagi karena hal itu. Namun, aku tetap cinta kepadanya. Aku tetap sayang padanya walaupun kondisinya sangat mengenaskan. Matanya yang dulu sangat berisi dan mempunyai arti yang sangat mendalam sudah tidak memancar sama sekali. Kosong. Pipinya yang tadinya sangat menggemaskan sampai-sampai pipinya selalu kucubit, tiba-tiba berubah menjadi pipi yang kempot. Tulang pipinya sangat terlihat jelas dibalik kulitnya tersebut. Bibirnya yang dulu selalu dihiasi dengan senyuman yang ia tebarkan ke seluruh orang di dunia ini yang pernah bertemu dengannya, terutama aku, telah hilang dilahap oleh kanker sialan yang kian hari menggerogoti tubuhnya. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Namun, hal tersebut tidak pernah mengurangi rasa cintaku kepadanya. Bahkan, disaat aku menyadari bahwa umurnya sudah tidak panjang lagi, wajahnya masih bercahaya. Kharisma yang sangat terpancar dari wajahnya itu menghilang ketika aku pergi mengunjunginya untuk terakhir kalinya. Saat itu, kami sedang merayakan empat belas bulan semenjak kami menjadi sepasang kekasih.

“Halena-ah, jaga dirimu baik-baik ya.” Ucapnya dibalik masker oksigen yang dipakainya.
“Jangan berkata seperti itu,” air mataku jatuh begitu saja saat aku mengucapkan kata-kata itu, “– dokter pasti akan menyembuhkanmu. Kalau kau tidak ada, aku akan menyusul…”
“Ssst, jangan pernah mengatakan hal itu, yeobo.” Ia menaruh jari telujuknya yang bergetar kencang dengan halus di tengah bibirku. “– berjanjilah kepadaku, Halena-ah, kau akan tetap melanjutkan hidupmu, kau akan membahagiakan orang tuamu, kau akan menggapai cita-citamu, dan kau akan menemukan seseorang yang lebih dari diriku. Yang bisa menjagamu, membuatmu tertawa, dan membahagiakanmu.”
Aku menggeleng dengan cepat, “Tidak! Cintaku hanya untuk dirimu, Lee Taemin. Hanya untukmu. Selamanya! Aku akan menyusulmu, Taemin. Mm–minhae”
“Jagiya, apakah kau benar-benar mencintaiku? Berjanjilah kepadaku untuk terakhir kalinya. Aku tidak menuntut lebih, Halena-ah.” Ucap laki-laki itu, suaranya bergetar dibalik masker oksigen yang digunakannya.
“Taemin-ah, aku percaya kau akan sembuh! A-aaku per-ca–ya kau ak–an se-ehat lla-aagi.” Tangisku mulai pecah. Mata namjachinguku itu langsung terbuka lebar dan cepat-cepat menghapus air mataku yang tidak berhenti mengalir.
“Halena Jun, berjanjilah. Kumohon. Anggap ini permintaan terakhirku. Aku tidak akan tidur tenang bila tidak mendengar kata janji darimu, jagiya.” Ia membelai pipiku dengan lembut.
Aku bergidik ngeri. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya.
“Halena…”
“Aku berjanji, Lee Taemin. Aku berjanji.”

Ia menghela nafas panjang. Dengan gerakan tak terduga, ia melepaskan masker oksigen yang dipakainya kemudian memancarkan senyum yang ia miliki dulu. Matanya kembali berisi, seakan-akan ia sudah pulih dari penyakitnya. Wajahnya bersinar dipenuhi oleh kharisma yang membanjirinya. Bibirnya menjadi basah lagi dan halus. Dalam posisi duduk, ia mengelus pipiku dengan penuh kasih sayang. Persis seperti yang ia lakukan sebelum ia menderita penyakit kronis ini.

“Apa yang kau lakukan? Dasar babo! Kau harus memakai masker itu.”
“Aku tidak apa-apa, jagiya. Aku hanya ingin mengucapkan satu kalimat untukmu secara sehat. Aku harap kau mengizinkanku.”
“Cepat ucapkan dan aku akan memasang masker ini lagi kepadamu.”
“Terima kasih Halena-ah. Aku akan selalu menjagamu disampingmu, yeobo. Kau akan selalu menjadi miliku, Halena Jun. Sarangha…”

Tiba-tiba, laki-laki yang sangat kucintai memejamkan matanya. Tubuhnya mendadak tergeletak lemas di ranjang rumah sakit tersebut. Tangan yang tadinya membelai pipiku dengan rasa kasih sayang itu jatuh disamping tubuhnya yang kaku. Aku mengguncang-guncangkan badannya sambil meneriakan namanya berkali-kali. Terdengar suara nyaring dan panjang dari sebuah alat yang terpasang di tubuh Taemin. Suara itu membuatku gugup. Aku tidak mau menerima hal yang terburuk. Bukan, aku belum siap menerima hal yang terburuk yang akan terjadi. Aku tidak siap hidup tanpa Taemin. Namun, aku harus memastikan hal itu. Aku mengedarkan pandangan kearah alat-alat yang menghubungkan mesin tersebut dengan tubuh taemin dengan kabel-kabel panjang. Kulihat kearah pendeteksi detak jantungnya. Alat itu menunjukan garis panjang. Garis yang tadinya membentuk segitiga-segitiga tidak beraturan yang menunjukan detak jantung Taemin sekarang membentuk garis panjang yang tidak mempunyai bentuk apapun. Hanya garis panjang. Tidak lama kemudian, sesosok orang-orang berbaju putih masuk kedalam ruangan rawat Taemin. Aku segera ditarik kearah pojok ruangan oleh teman-temanku yang tidak lain adalah Seyoon dan Rae. Orang tua Taemin berada di samping diriku. Menangis melihat anaknya yang sedang ditangani oleh dokter itu tidak bisa di selamatkan lagi. Aku tidak akan bisa melihat Taemin tersenyum lagi. Aku tidak bisa mendengar suara tawanya lagi. Aku tidak bisa merasakan sentuhan hangat yang selalu ia lakukan. Aku tidak bisa menatap matanya yang selalu membuatku tenggelam dalam matanya. Dan yang terpenting adalah..
Aku tidak akan pernah mendengarkan kata-kata ‘Saranghae’ dari dirinya lagi. Selamanya. Bahkan disaat terakhir hidupnya. Saat ia akan mengucapkan kata-kata itu dan berniat menyelesaikannya, tuhan sudah mengambil nyawanya.

Around me loneliness is spreading
Vision is being blurred by tears
I left ‘I Love You’ at the bottom of my heart and put them on the tip of my lips
When it’s tomorrow, you will leave my side
I still reminisce the past when we were in love
I cannot stand each of the days without you
I Love you, it will not change….

***

Tanpa tersadar, pipiku sudah basah karena air mata yang mengalir tanpa izin dariku. Walaupun sudah lewat tiga tahun, sejujurnya aku masih mencintainya. Saat aku berumur delapan belas tahun, aku melaksanakan janjiku kepada Taemin. Aku akan melanjutkan hidupku, membuat orang tuaku bangga dengan prestasi yang sangat membuat mereka kegirangan karena aku akan dikirim ke London untuk melanjutkan kuliah. Aku sudah menjadi model yang telah menjadi cita-citaku selama ini. Dan yang paling berat adalah mencari orang yang akan menggantikan posisi Taemin. Walaupun berat, aku harus melaksanakan itu karena aku tahu Taemin masih mengawasiku dan menjagaku dari alam sana. Kuputuskan untuk menerima cinta Jerremy yang ternyata hanya membuatku menderita. Kami pun putus dari hubungan yang cukup lama tersebut. Aku memang sedih putus hubungan dari Jerremy. Namun, aku sudah berjanji kepada Taemin untuk mencari orang yang bisa membahagiakan hidupku. Jadi, aku tidak pernah mengeluh dan tetap tegar karena sekali lagi aku percaya bahwa Taemin selalu disisinya walaupun aku tidak bisa melihatnya. Maka dari itu, aku selalu menyebutnya kekasih abadiku yang sampai sekarang jasadnya masih berada di Korea. Hanya jasadnya saja. Namun, arwahnya selalu berada disampingku. Selamanya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa menghampiri kearahku dipadukan dengan suara yang memanggilku. Dari balik bahuku, aku sudah mengetahui siapa yang sedang berjalan kearah diriku serta siapa yang memanggil namaku tadi. Kim Jonghyun, suara khas yang menjadi pembeda suaranya dengan orang lain itu yang membuat diriku mengetahui siapa orang itu.

“Han Lee!”
“Hm?” – aku menyahut singkat.
“Err.. Tidak apa-apa, aku hanya ingin menyapamu saja. Soalnya, tadi kita belum banyak mengobrol.”
“Hm? Iya ya? Sepertinya aku terlalu larut dalam pekerjaan tadi.”
“Oh ya, kau belum memperkenalkan namamu secara langsung. Ayo kita saling mengenalkan diri.”
“Oh? Namaku Jun Han Lee atau Halena Jun. Kau bisa memanggilku Helen, atau Halena.”
“Namaku Kim Jonghyun. Orang-orang biasanya memanggilku Dino atau Jjong.”

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata terakhirnya. Pikiranku sedang kacau balau sekarang. Aku kembali menangis karena Taemin padahal aku selalu menguatkan diriku untuk tidak menangis lagi karenanya. Aku masih mengingat jelas suara Taemin yang mengucapkan kata-kata bahwa ia tidak bisa tidur dengan tenang apabila ia tidak berjanji. Janji yang sangat sulit untuk kutepati karena memang aku tidak mau kehilangan Taemin sampai detik ini. Bahkan, selama aku pindah ke London, aku sudah tidak pernah mengeluarkan air mata lagi. Aku yakin Taemin senang karena hal itu. Namun, mengapa tiba-tiba aku melihat sosok yang mirip dengan Taemin sekarang? Kim Jonghyun, kau membunuhku asal kau tahu.

“Hei, kau kenapa?”
Aku tersadar dari lamunanku karena suara merdu yang mengucapkan kata-kata itu. “Hee?”
“Kau habis menangis ya?” Tanyanya dengan muka yang sangat prihatin. Matanya menatap jauh kedalam mataku. Persis seperti yang biasanya dilakukan Taemin.
“Tt–idak.” Ucapku terbata-bata karena gugup.
“Kalau tidak menangis, tidak mungkin ada air mata yang membasahi mata indahmu.” Ucap laki-laki itu tersenyum seraya menyapukan air mata yang menggenang di sudut mataku dengan lembut.
“Aku hanya mengantuk, kau tahu?”
“Kalau kau mengantuk, pipimu tidak akan sebasah ini, Halena Jun.”
“……………..”

Aku membuka mulutku. Namun, aku tidak mengucapkan satu patah katapun. Aku tidak bisa membalas perkataan Kim Jonghyun barusan karena aku baru saja tertangkap basah sedang menangis. Tanpa tersadar, air mataku jatuh lagi dari ujung mataku. Kim Jonghyun yang melihatnya langsung menarikku ke pelukannya. Aku terlalu kaget untuk menerima perilaku seperti ini dihari pertama aku bertemu dengan pria ini. Terasa sangat aneh. Aku tidak pernah ingin disentuh orang yang baru saja dikenalnya. Namun, untuk kasus yang ini, aku tidak mengelaknya. Aku membiarkan wajahku tersembunyi dibalik mantel tebal yang ia pakai. Aku membiarkan air mataku membasahi kemejanya. Oh tuhan, mengapa aku merasa aku seperti sedang menangis dipelukan Taemin? Mengapa aku merasakan kehangatan yang sama ketika aku dipeluk Taemin dengan Jonghyun? Ada apa dengan laki-laki didepannya ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

The End of Part 2. To be continue~

Jangan lupa komen yaa😀 jangan cuman di read doang, author lemparin bias kalo ngga komen *plak*

Thanks for reading this fanfiction. Saranghae~

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 8 Maret 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. wuihhh, nangis nih bacanya :p so sweet banget dah si Jonghyun pake acara meluk: gitu. mauu dongg~
    tapi kasian banget yah Taemin, pas diingat” lagi bagia taemin aku malah ketawa, hahahaha. padahal kan menyedihkan T^T kekeke
    nice author😉 good job

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: