[FF/PG/S/3] Beach

Title : Beach

Author : Yayang

Cast :

Shin Hyo Soo =>> Riani Ps

Lee Donghae Super Junior

 

Choi Yeo Rin =>> anggap ja reader sendiri….

 

Other cast…

 

 

Donghae POV

 

Sekarang sudah waktunya penerimaan mahasiswa baru, saat yang memang aku tunggu-tunggu dari dua tahun yang lalu. Aku sangat merindukan yeoja itu, kira-kira apakah dia berubah?, terakhir kali aku membaca email darinya kalau saat itu dia terakhir menghadapi ujian, dan ujiannya pun berjalan dengan sukses. Aku yakin dia pasti diterima di Universitas ini. aku berjalan di tengah taman kampusku yang luas sambil menatap langit biru. Aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan yeoja Mokpo-ku itu.

 

Aku duduk di salah satu bangku kosong di taman dengan tatapan yang masih menerawang menatap langit biru. Lewat email, aku dan dia pernah janjian untuk bertemu dengannya di taman kampus. Dan disinilah tempatku sekarang, sudah hampir sebulan ini semenjak pendaftaran dibuka aku selalu kesini. Berharap kalau dia sudah berada di Jepang dan dan ingin menemuiku. Waktu kosong jam kuliah selalu kusempatkan untuk berkunjung kesini, mengecek tanda-tanda keberadaannya.

 

Ditengah lamunanku tiba-tiba aku merasakan bahuku ditepuk dari belakang. “Hyo Soo-ya” tanpa sadar aku mengucapkan nama itu sambil menengok ke belakang, karena aku berharap dialah yang melakukannya.

 

“Yaaa… selalu saja nama yeoja itu yang kau sebut. Ini aku Yeo Rin” sahut yeoja di hadapanku yang ternyata adalah Yeo Rin. Dia terlihat memanyun-manyunkan bibirnya.

 

“Mianhae Yeo Rin-ah” aku kembali memandang ke depan.

 

Yeo Rin pun duduk di sampingku, bisa kurasakan dari ekor mataku kalau dia sedang menatapku. “Yaaa Donghae-ya, apa tidak bisa kau tidak memikirkan gadis itu walau hanya untuk sehari saja?” Tanya Yeo Rin padaku dengan tampang biasa, aku lengsung membelalakkan mataku tidak percaya, bagaimana bisa dia bertanya seperti itu padahal dia tahu jelas bagaimana perasaanku.

 

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau tahu kan kalau dari dua tahun yang lalu aku memang sangat mengharapkan kedatangannya.Kau juga sudah tahu perasaanku kalau aku sangat…..”

 

“Cukup, hentikan. Aku tidak mau dengar lagi” Yeo Rin tampak menutup kedua telinga dan menutup matanya sambil menggeleng-geleng.

 

Aku menggenggam bahu Yeo Rin agar dia menghadapku. “Yeo Rin-ah, tatap aku” perintahku pada Yeo Rin yang masih menutup matanya.

 

Yeo Rin masih menggeleng. “Sireo. Aku tidak mau dengar lagi” jawabnya.

 

“Yeo Rin-ah” panggilku lagi.

 

“Sudah kubilang jangan bicara. Hentikan Donghae-ya” kali ini nada bicara Yeo Rin sudah sedikit meninggi. Dia beranjak berdiri dan meninggalkanku dengan buru-buru.

 

Aku masih menatap punggungnya yang semakin menjauh meninggalkanku. “Mianhae Yeo Rin-ah” gumamku pada diri sendiri. Aku memang sangat merasa bersalah padanya, tapi aku harus menjelaskan padanya meskipun itu bisa menyakitinya, aku pikir itu lebih baik daripada aku berdiam diri seolah memberikannya harapan yang palsu.

 

Sejak kuliah disini orang pertama yang kukenal adalah Yeo Rin karena kami dulu satu pesawat dan sama-sama dari Korea. Aku menyayangi Yeo Rin sebagai adikku sendiri, tapi aku tidak menyangka perhatianku selama ini ternyata diartikan berbeda oleh Yeo Rin. Setahun lalu dia menyatakan perasaannya padaku kalau dia memendam perasaan Cinta padaku. Aku sangat terkejut, aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab perasaannya itu. Aku merasa sangat bersalah telah membiarkan benih cinta itu tumbuh dihati Yeo Rin terhadapku, tapi aku juga tidak bisa menghindar darinya karena itulah permintaannya padaku, dia tidak ingin jauh-jauh dariku meskipun aku tidak bisa membalas cintanya. Yang bisa kulakukan hanyalah terus menceritakan perasaanku terhadap Hyo Soo pada Yeo Rin agar dia mengerti.

 

Yeo Rin POV’s

 

Aku terus menutup telinga dan mataku sambil terus menggeleng. Aku tidak ingin mendengar dia terus menceritakan tentang yeoja itu. Apa istimewanya yeoja itu sampai Donghae terus saja membicarakannya??, hatiku sakit setiap kali dia mulai bercerita tentang itu padahal dia tahu jelas bagaimana perasaanku terhadapnya.

 

Hatiku telah terikat semuanya pada Donghae, aku tidak bisa melupakan bayang-bayangnya. Aku terus melangkahkan kakiku menjauhinya, tak terasa airmataku mengalir. aaaiisshh sudah berapa ratus kali airmata ini jatuh karenanya. Aku tahu dengan terus mengharapkannya itu akan semakin menyiksa hatiku, tapi apa boleh buat aku tidak bisa jauh darinya. Aku selalu merasa aman dan nyaman setiap kali berada di dekatnya. Mungkin karena itulah aku menjadi sangat mencintainya, karena dia pernah terlibat dalam suatu kejadian yang tidak akan pernah kulupakan.

 

FlashBack

 

“Hujan-hujan seperti ini kau ingin pulang ke apartemenmu??” Tanya seorang namja di hadapanku dengan mata yang terbelalak. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

 

“Yaaaa, kau ini nekat sekali” sahutnya lagi dengan raut wajah khawatir.

 

“Kau khawatir sekali. Apartemenku dekat kok. Kokjong hajima” balasku dengan senyuman agar dia tidak terlalu mengkhawatirkanku.

 

“Baiklah kalau begitu. Tapi kau pakai ini, ara..” namja yang tak lain adalah  Donghae itu menyampirkan mantelnya padaku. Aku sedikit tersentak melihat sikapnya padaku. “Cha, kau boleh pulang. Tapi tetap hati-hati ya..” lanjutnya sambil tersenyum. Entah mengapa saat ini senyuman itu seolah mempu membiusku, aku tidak tahu persisnya kapan senyuman itu berhasil memperngaruhi detak jantungku dan bersamaan dengan itu aku merasa lupa bagaimana caranya bernafas. Oh Tuhan igo mwoya..??

 

“Gomawo. Tapi kau bagaimana??” tanyaku padanya begitu berhasil bersusah patah mengumpulkan kembali puing-puing kesadaranku.

 

“Seperti katamu. Kokjong hajima” sahutnya kembali dengan senyuman. Senyumam yang sangat polos.

 

Aku melangkahkan kakiku ke tanah dengan ragu, sebelum aku menembus hujan aku sempat menoleh kembali melihat wajah polosnya yang selalu menyunggingkan senyuman untukku. Setelah mendapatkan senyuman itu aku berlari menembus kerumunan titik-titik air hujan. Sebenarnya aku belum mau pulang, tapi hujan cukup deras dan sepertinya akan berhenti untuk waktu yang cukup lama. Sedangkan hari sudah sore, aku tidak ingin kalau aku harus menginap di kampus hanya karena hujan. Toh setelah di apatemenku pun aku bisa langsung mengeringkan tubuhku dan menghangatkannya untuk mengantisipasi kalau-kalau tubuhku tidak menerima cuaca.

 

Aku memeluk diriku yang sudah basah kuyup, tapi untunglah Donghae meminjamkan mantelnya untukku sehingga aku sedikit lumayan. Aku membuka kunci apartemenku dengan buru-burur, rasanya aku tidak sabar untuk berendam di air hangat. Sekarang ini rasanya aku sudah benar-benar ingin membeku.

 

Setelah pintu berhasil kubuka. Aku langsung hendak melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.

 

“Sepetinya kau sangat kedinginan chagi. Apa diluar sangat dingin??” sebuah suara meyadarkan aku kalau sekarang ada orang lain di apartemenku, bagaimana bisa dia masuk ke apartemenku??. Aku juga sangat hafal suara itu, seseorang sangat tidak pernah kuharapkan bertemu dengannya lagi.

 

“Kenapa kau disini??, bagaimana bisa…..” kataku gemetaran sambil menatap ke arah sumber suaranya. Aku melihatnya yang sedang focus menatap televisi.

 

“ssssstttt tenanglah chagi, kenapa kau sepertinya ketakutan sekali padaku. Aku tunanganmu” katanya lagi padaku sambil melangkah mendekatiku. Aku mengantisipasi dengan melangkah mundur, menjaga jarak dengannya. Dia memang tunanganku tapi aku sama sekali tak mengharapkannya, apa gunanya aku kabur ke Jepang kalau tetap harus bertemu dengannya.

 

“Aku tahu tapi aku sama sekali tidak mengharapkannya. Aku yakin kau juga tahu itu” kataku sinis padanya.

 

“Apa karena itu kau kesini? Karena ingin menghindariku?” tanyanya padaku dengan sorot mata yang mengandung kesedihan, langkahnya tak berhenti untuk mendekatiku aku pun tak berhenti melangkah mundur untuk menghindarinya. Hingga langkahku terhenti di dinding dan itu membuatnya leluasa mendekatiku.

 

“kau sudah tahu jawabannya Choi SiWon. Jangan mendekat” kataku sambil mengulurkan tanganku dengan posisi menahan agar dia tidak mendekat lagi padaku.

 

“Apa sebegitukah menjijikkannya aku dimatamu?” tanyanya lagi tapi dia sama sekali tidak menghiraukan bahasa tubuhku yang mengisyaratkan agar dia tidak mendekat.

 

Aku memang tidak menyukainya bahkan bisa dibilang membencinya. Tidak ada alasan yang tepat kenapa aku membenci namja ini, tapi ketidaksukaanku dengan pertunangan ini membuat mataku tertutup akan semua hal baik yang dilakukannya dimataku semua yang dia lakukan adalah salah.

 

“Sudah kubilang jangan mendekat Choi SiWon” kali ini aku tidak bisa menahan airmataku lagi untuk keluar. Entah mengapa aku jijik sekali kalau harus berdekatan denganya, aku takut setiap kali dia mendekatiku meskipun dia tidak akan melakukan apapun.

 

Aku melihat sorot mata penuh kemarahan terpancar dari tatapannya padaku. Aku sama sekali tidak pernah melihat sorot mata itu sebelumnya, tatapannya berbeda sekali ketika sebelumnya dia berbicara padaku. Saat jarak tubuhnya hanya sejangkal saja dari tubuhku, dia mencengkram erat bahuku. “Tidak bisakah kau sedikit saja melihat ketulusanku Choi Yeo Rin. Aku sangat mencintaimu, bahkan kau sengaja kesini untuk menghindariku kau tau bagaimana rasanya. Sakit sekali, sakit sekali rasanya saat orang yang benar-benar kau cintai menghindar karena takut berada di dekatmu. Aku sama sekali tidak menuntut apa pun darimu, aku juga mengerti kalau selama ini kau belum bisa mencintaiku tapi setidaknya kau hargai orang tua kita. Tidak bersikap egois seperti ini. aku tau aku tidak punya hak di kehidupanmu tapi aku sangat memohon padamu” jelasnya panjang lebar. Aku terus terisak menatap ke lantai, dia masih mencengkram bahuku kadang-kadang sedikit menguncang tubuhku yang sudah lunglai ini.

 

“Jongmal mianhae” bisiknya di telingaku sambil memelukku erat. Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dari tubuhku.

 

Dia sedikit membelalakkan matanya karena sikapku. “Jangan sentuh aku, aku tidak pernah sudi kau menyentuhku” kataku dengan tatapan sinis ke arahnya.

 

“Tidak kusangka, saat-saat seperti ini pun kau masih bisa keras kepala. Sudah cukup sabar aku selama ini padamu” jawabnya. Tiba-tiba dia sudah mengurung tubuhku dengan tangan kekarnya. Tubuhnya sangat rapat padaku, aku terus berontak tapi kekuatannya jauh lebih besar dariku. Aku terus memalingkan wajahku karena sadar bibirkulah yang sedang diincarnya.

 

“Jebal, jangan lakukan ini” aku mengeluarkan airmataku lagi, kali ini dia tidak ingin mengalah sedikit pun padaku. Dia tidak menghiraukan kata-kataku lagi. aku benar-benar takut, aku melihatnya seperti seekor binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

 

“Yaaaaa, lepaskan dia” seseorang menyela.

 

Siwon beralih menatap orang yang menjadi sumber suara itu. Dari balik tubuh Siwon aku bisa melihat itu adalah Donghae. Mataku langsung berbinar-binar menangkap sosok Donghae. Aku langsung berlari berlindung ke belakang punggung Donghae saat Siwon terfokus pada Donghae dan tidak mementingkan keberadaanku. Mataku masih mengeluarkan airmata, dandananku berantakan.

 

“AKu tidak ada urusan denganmu. Dia tunanganku” ucap Siwon pada Donghae dengan tatapan seriusnya.

 

“Meskipun begitu, tidak seharusnya kau memaksanya” balas Donghae dengan lebih tenang.

 

“Sebaiknya kau pergi dari sini” kataku di tengah isak tangisku sambil masih berlindung di belakang punggung Donghae.

 

Kulihat Siwon menatapku dan Donghae secara bergantian lalu mendengus nafas kesal. dia melewati kami berjalan menuju pintu. Aku melemas begitu melihat Siwon telah keluar dari apartemenku.

 

“Yeo Rin-ah gwenchana???” Tanya Donghae dengan nada khawatir padaku.

 

Aku tidak sanggup bicara. Kurasakan semua indera tubuhku melemah. Bahkan untuk membuka mataku pun aku harus bersusah payah. Donghae meletakkan telapak tangannya di keningku. “Badanmu panas, kau bahkan masih memakai pakaian basah” kata Donghae lagi. dia menuntunku ke kamarku dan mendudukkanku di tepi tempat tidur “Sebaiknya kau ganti pakaianmu, aku akan menyiapkan bubur hangat untukmu”

 

Aku mengangguk lemah, lalu Donghae keluar dari kamarku. Tanpa pikir panjang, dengan sisa tenaga yang masih kumiliki aku mengganti pakaianku yang basah kuyup. Aku kembali duduk di tepi tempau tidurku dengan memegangi kepalaku tang pusing sambil menunggu Donghae.

 

“Yaaaa, kalau kau tidak enak badan sebaiknya kau berbaring saja jangan duduk” sahut Donghae padaku sambil membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur hangat. Dia menaruh nampan itu di meja kecil di sampan tempat tidurku. Donghae membimbingku agar berbaring, dia merapikan posisi bantal sedikit tinggi. “Sebelum istirahat kau harus makan dulu” ucap Donghae dengan penuh perhatian lalu meraih mangkok bubur hangat dan menyuapiku dengan sabar. Aku terus memperhatikannya, dia ibarat malaikatku.

 

“Cha sudah selesai” Donghae tersenyum saat di suapan terakhir, melihat tingkahnya aku juga ikut tersenyum. “Tidurlah,besok kau tidak perlu masuk kuliah” kata Donghae sambil membantuku merapikan bantal agar lebih rendah dan membimbingku untuk tidur, tidak lupa pula dia menyampirkan selimut ke tubuhku.

 

“Tapi besok ujian” sahutku pelan.

 

“Tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting kau sehat, masalah ujian aku akan menemanimu ikut ujian susulan. Kokjong hajima” jelas Donghae sambil menyunggingkan senyuman polosnya.

 

Aku membalas senyumannya dengan tulus. “Jongmal Gomawoyo Donghae-ya” bisikku, lalu aku berusaha untuk memejamkan mataku karena aku sudah merasa tidak sanggup lagi untuk memaksakan tenagaku yang melemah.

 

FlashBack end

 

Aku kembali teringat sebuah kejadian yang menjadi awal bagaimana aku menjadi sangat mencintai seorang Lee Donghae. Kebaikannya padaku lebih dari sebagai malaikat untukku. Dia selalu melindungiku dengan seksama sejak kejadian itu. Tapi hati ini juga sakit ketika mengingat kembali kalau dia mencintai yeoja lain.

 

******************************************************

 

Donghae POV’s

 

Besok pendaftaran mahasiswa baru akan segera di tutup. Kenapa sampai sekarang aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan Hyo Soo disini??. setiap hari aku mengecek email yang masuk, tapi sampai sekarang pun dia belum juga membalasnya. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Hyo Soo-ya?? Apa kau sudah melupakan janji kita??. Aku masih menerawang ke langit biru yang cerah, tapi cerahnya langit sama sekali tidak menggambarkan perasaan hatiku.

 

Seseorang duduk di sebelahku, aku tidak terlalu memperhatikannya. “Besok pendaftarannya akan tutup” seseorang yang tak lain adalah Yeo Rin mulai angkat bicara.

 

“Aku akan terus menunggu sampai dia datang” sahutku tanpa mengalihkan pandanganku.

 

“Apa kau sama sekali tidak bisa melihatku karena yeoja itu?” tanyanya. Aku diam, kali ini aku tidak ingin langsung menjawabnya karena takut dia tidak ingin mendengarkanku lagi, jawaban yang ingin aku katakana tidak berbeda dari sebelum-sebelumnya.

 

“Donghae-ya ada aku disini. untuk apa kau mengharapkan yang tidak pasti. Bisa saja dia sudah melupakan semuanya” lanjutnya. Aku mengerutkan alisku mendengar perkataannya.

 

Dia menatap ke dalam mataku. “tidak bisakah kau menerimaku?” tanyanya lagi.

 

“Yeo Rin-ah….”

 

“Aku tau kau ingin menjawab apa. Tapi setidaknya kau menganggapku, setidaknya aku rela sampai kau bertemu dengan yeoja itu” potong Yeo Rin.

 

“Yeo Rin-ah….” Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan itu.

 

“aku serius dengan kata-kataku Donghae-ya. Aku tau yeoja itu mungkin telah melekat erat di hatimu, tapi aku tidak bisa begini terus, aku mencintaimu. Jika yang jadi penghalangnya adalah yeoja itu, sudah kukatakan padamu, aku rela mundur jika suatu saat nanti kau bertemu lagi dengannya” Jelas Yeo Rin lagi. entahlah aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat ini, aku juga bisa merasakan kalau Yeo Rin tulus. Tapi bagaimana dengan janjiku dan Hyo Soo??. Apa benar seperti yang dikatakan Yeo Rin? Kalau Hyo Soo sekarang sudah melupakanku, mungkin dia lelah denganku buktinya saja sudah hampir tiga bulan ini Hyo Soo sama sekali tidak membalas emailku.

 

*******************************************************

 

Sudah dua tahun ini aku dan Yeo Rin menjadi sepasang kekasih. Yaaa, saat itu aku menerima tawarannya. Meskipun begitu, tetap saja pikiranku masih tertuju pada Hyo Soo. Tidak pernah ada kabar lagi darinya, setiap pembuakaan pendaftaran mahasiswa baru aku selalu berharap dan menunggu di taman kampus. Dan ini adalah tahun ketiga, ketiga kalinya aku menunggu keberadaan Hyo Soo. Yeo Rin tidak pernah melarangku untuk menunggu Hyo Soo, karena itu merupakan suatu perjanjian dalam hubungan kami. sampai saat ini aku bahkan masih berharap untuk bertemu Hyo Soo.

 

“Donghaeya sampai kapan kau ingin menunggu disini?? kelasnya akan segera dimulai” Yeo Rin membuyarkan lamunanku.

 

Aku mendongak kearahnya kemudian tersenyum, aku tau raut wajahnya sedih saat menyadarkanku dari lamunan tentang Hyo Soo tapi dia tidak bisa berbuat  apa-apa untuk melarangku. “Kajja” kataku sambil merangkul bahunya, setidaknya itu sudah berhasil membuatnya tersenyum.

 

Sampai kapan aku seperti ini terus? Memikirkan sesuatu yang tidak pasti sedangkan sudah beberapa tahun ini Yeo Rin sudah dengan sabar menemani hari-hariku. Apakah ini saatnya bagiku untuk melupakan Hyo Soo dan membuka hati untuk Yeo Rin?? Sepertinya aku dan Hyo Soo memang tidak ditakdirkan. Pikiran itu terlintas dalam otakku, saat ini aku sedang di ambang batas kegalauanku. Realita dan cinta, entahlah aku sulit untuk memilih salah satu dari keduanya.

 

“Bagaimana rencana liburan ke Mokponya??” Tanya Yeo Rin padaku saat kami sedang makan siang dikantin.

 

“Sepertinya aku akan berangkat akhir minggu ini. sudah empat tahun ini aku tidak melihat kampong halamanku, rasanya rindu juga” jawabku.

 

Yeo Rin mengangguk-angguk, kulihat dia tampak gelisah.

 

“Yeo Rin-ah waeyo..??” tanyaku yang melihat tingkahnya.

 

“Aku hanya khawatir setelah itu kau akan menghilang dari kehidupanku” jawab Yeo Rin. Dia menundukkan kepalanya saat menjawab pertanyaanku, sepertinya dia menangis.

 

Aku mengelus tangannya. “Jangan khawatir…” aku tidak bisa meneruskan kata-kataku, karena aku tidak ingin menjanjikan apa pun yang tidak pasti pada Yeo Rin.

 

“Bolehkan aku ikut denganmu…???” Tanya Yeo Rin tiba-tiba dengan wajah memelas.

 

“Kalau itu mau mu, aku juga tidak punya alasan untuk menolak” jawabku setelah berpikir untuk beberapa saat.

 

To Be Continue….

*******************************************************************************************************

©2011 S3FFIndo

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

****************************************************************************

 

About azuhra

Hi... :) I'm just a little girl in a big world. I'm Indonesian. Nice to meet you all. I heart you all. Oh, i forget it, i'm moslem. and i'm not a terorist!!! there's no moslem is terorist. terorists aren't moslem. ^^

Posted on 9 Maret 2011, in AUTHOR, KATEGORI, Super Fanfiction, Yayang Fitria and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. kren!!! lanjut thor penasaran jdix!!!

  2. waaaa….. penasaran abis, oppa akhirnya sama siapa,Hyo Soo atau yeo rin???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: