[FF/PG/S/3] Life Isn’t Fair For Me

Life Isn’t Fair For Me

AUTHOR : Raisa Widiastari (Kim Ryechul)

CAST : Lee Taemin

Kim Jonghyun

Halena Jun

SUPORT CAST : Super Junior

Henry Lau

Lee Jinki a.k.a Onew

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

LENGTH : Series

GENRE : Sad Romance. Romance.

RATING : PG


A.N: Annyeong semua :D berhubung ini fanfic dibuat dengan susah payah disela-sela kegiatan sekolah yang semakin padat, tolong hargain author yang udah nulis ini capek-capek alias diharapkan menjadi pembaca yang tertib (RCL). Komen kalian bener-bener saya butuhin buat memperbaikin tulisan saya. Maaf yaa kalau nanti nemu typo! Happy Reading all :D

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Part 3


Jonghyun’s POV

Omo! Apa yang aku lakukan? Apa yang sudah aku lakukan lebih tepatnya? Gegabah sekali tindakan yang kulakukan. Aku memeluk seseorang hanya karena instingku aku harus melakukannya dan berhak melakukannya. Apa yang telah kuperbuat tuhan? Aku memeluk seseorang yang baru saja kukenal dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam! Demi dewa Zeus yang menguasai Yunani beserta para selir-selir dan teman-temannya! Aku belum pernah bertindak senekat ini. Aku merasa aku harus menenangkan gadis itu dan melakukan apapun agar gadis itu tidak menangis lagi bagaimanapun caranya. Namun, yang terlintas di benakku adalah aku memang berhak memeluk gadis yang bernama Halena Jun itu. Dan anehnya, gadis itu tidak menarik dirinya dari pelukanku. Ada apa ini? Jujur dari hati yang terdalam, aku hampir mengira ia akan menamparku sekencang mungkin saat aku memeluknya. Namun kenyataannya tidak. Hal itu terbukti saat ia melepaskan dirinya dari pelukanku.

***

Aku mengelus rambut panjangnya yang indah itu. Halus dan sangat wangi. Bau mint menyerang hidungku. Kemungkinan besar, gadis didepannya ini habis creambath dengan cream mint. Bau yang menyegarkan dipadukan dengan dinginnya udara yang masuk melewati celah mantelnya yang terbuka akibat dirinya harus menghangatkan tubuh gadis itu karena badannya bergemetar kencang. Lalu, udara dingin itu menyusup melewati sweater cokelatku dan menembus kedalam kemejaku karena pakaiannya yang basah akan air mata gadis cantik yang aneh itu. Namun, aku tidak mempedulikannya. Aku tidak akan melepaskan pelukanku ini apabila bukan gadis itu yang melepaskannya. Walaupun sudah memakai baju berlapis tiga, udara dingin itu semakin menyerangku. Dengan cepat, aku semakin mempererat pelukanku kepada Helen. Aku tahu betul ia hanya memakai dress dan mantel yang tidak terlalu tebal. Sudah pasti ia kedinginan karena hal itu.

“Sudah-sudah.. aku memang tidak tahu apa masalahmu. Tapi, demi yang kau tangisi, berhentilah menangis.”
“Ah, minhae.” – ia melepaskan dirinya dari pelukanku.
“Tidak apa-apa, santai saja. Aku tidak keberatan bila kau memang akan membasahi seluruh bajuku karena air matamu.”
“Ah.. maaf oppa. Aku tidak bermaksud merusak baju…”
“Ssstt,” aku menaruh jariku di bibirnya, “– jangan ucapkan kata-kata itu, Helen. Sekarang pikirkan dirimu dulu. Kau sangat kacau.”
Mata gadis itu membesar setengah senti. Seperti terkejut, “Ah! Iya, terima kasih oppa. Aku pulang dulu. Annyeong oppa.”
“Annyeong, sampai jumpa!”

***

Waktu yang sangat singkat namun terasa sangat panjang itu baru saja berlalu beberapa jam yang lalu. Sekarang, aku sudah berada di apartementku. Sudah semenjak dua jam aku pulang ke apartementku ini hanya duduk termenung saja memikirkan hal yang tadi terjadi diantara aku dan gadis aneh itu. Aku memeluknya? Apa benar aku memeluknya? Apa yang membuat aku memeluknya? Mengapa aku begitu yakin bahwa aku berhak memeluknya? Ada apa dengan diriku ini? Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, ia tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Toh seorang Halena kemungkinan besar juga tidak memikirkan hal tersebut. Kemungkinan mereka bertemu juga tidak lebih dari dua puluh persen. Jadi, apa yang musti dipikirkan? Namun, mengapa otakku tidak mau berhenti untuk memikirkan gadis itu? Lamunannya buyar ketika ia mendapatkan handphone-nya berbunyi nyaring. Terdengar lantunan lagu Traffict-nya DJ Tiesto yang membangkitkan semangat. Namun, entah mengapa, setelah melihat siapa yang menelpon, ia menjadi tidak bersemangat.

“Ada apa menggangguku lagi?”
“Annyeong juga dongsaeng-ku tersayang, hanya memastikan kau masih hidup atau tidak.”
Aku mendesah, “Sampai kapan nuna akan menggangguku? Sampai aku mati, eh?”
“Kim Jonghyun! Jaga mulutmu. Sudah cukup masa lalu menghantui hidupku. Kau tahu kan bahwa….”
“Ya,ya whatever lah. Sudah dulu ya. Aku tidak ingin di ganggu.”

Tanpa menunggu jawaban dari kakak perempuanku itu, aku langsung menutup sambungan tersebut. Berbicara dengan Withney selalu membuat diriku malas karena akan dihujami oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak penting dan membuang waktu. Itulah yang terjadi apabila ia habis putus cinta. Ia akan mencari adiknya kemanapun ia pergi untuk merecokinya sampai adiknya itu hanya bisa mengelus dadanya. Tidak ingin hal itu terjadi, aku memutuskan hubungan tersebut agar aku tidak terlalu dibuat rumit oleh kakakku itu. Dengan langkah yang berat, aku melangkah menuju kamar mandi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sofa yang sedaritadi kududuki. Kubasahi seluruh tubuhku di shower. Aku memejamkan mata sejenak untuk merasakan seluruh kehangatan yang dirasakanku akibat air hangat yang mulai menyentuh seluruh tubuhku. Warna hitam yang kulihat dalam mataku yang terpejam semakin lama semakin gelap. Dan tiba-tiba, gadis itu muncul didepanku. Seketika itu juga, bel pintu apartementku berbunyi.

“Annyeong, hyung. Maaf aku kesini tidak memberi tahumu terlebih dahulu.”
“Kau kah itu, Key?”
“Mm, kau dimana hyung? Kok hanya ada suaranya?”
“Kamar mandi. Tunggu sebentar.”
“Hyuuung? Aku ambil minuman di kulkas yaa!”
Suara Minho, “Mm, anggaplah rumah sendiri.”

Anggaplah rumah sendiri… Sebenarnya, kedua sahabatku yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri itu sudah menunjukan bagaimana mereka menganggap apartementku ini sebagai rumah mereka juga. Sebagai buktinya, Minho dan Key seenaknya saja masuk kedalam apartementku tanpa menunggu aku membukakannya. Namun, itu bukan masalah bagi diriku. Toh aku juga sering sekali masuk kedalam apartement mereka bila aku sedang berkunjung kerumah mereka. Dalam kunjunganku ke London kali ini, mereka juga ikut denganku karena mereka juga menjadi model iklan merek pakaian yang sangat in di London saat ini. Makanya, apartement kami semua sebenarnya bersebelahan. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau kami berkumpul hanya untuk mengobrol bersama. Aku memang sangat menyayangi kedua sahabatku itu.

Setelah aku mandi air hangat, seperti biasa bila aku keluar kamar mandi atau kamar tidurku, pasti ada bau harum yang memenuhi ruang santai di apartementku. Kalau kau menebak itu ulah Key, kau benar. Key baru saja menghidangkan sepanci kimchi yang sudah menjadi makanan kesukaanku semenjak Key memasakkan kimchi tersebut untuk diriku dan Minho. Lalu, entah ada angin apa, Minho memotong-motong sayuran dan memasukkannya kedalam sebuah mangkok kaca besar dan menuangkan bumbu salad yang entah diracik oleh dirinya sendiri atau ada campur tangan Key. Namun, dalam hati aku berhati-hati agar saat memakan salad itu aku tidak mual atau sebagainya. Dalam balutan baju panjang dan celana panjang putih, serta dengan sendal hotel putih yang sudah menjadi kesayanganku, aku berjalan menuju kearah kedua sahabatku itu. Air masih menetes-netes dari puncak kepalaku disaat aku berjala kearah mereka. Kulihat dua sahabatku memasak dengan giat. Minho yang memasak dengan ketidak mahirannya itu berkonsentrasi penuh agar potongan yang ia lakukan benar. Sementara Key? Seperti biasa, ia memilih untuk berkonsentrasi dengan apa yang ada di dalam penggorenganku itu.

“Hyungnie, tadi pagi kau makan apa? Kok bentuknya seperti ini?” Ia menatapku sambil menunjuk kearah makanan yang tidak bisa kusebut sebagai makanan itu. Key adalah sosok pria tinggi dengan badan yang tidak terlalu berotot dengan rambut yang berwarna hitam (untuk sekarang) dengan model mohawk yang lebih rendah dariku. Matanya yang besar dipadukan dengan maniknya yang berwarna kelabu membuat dirinya menawan. Hidungnya tanpa cela dipadukan dengan pipinya yang sangat mendukung wajahnya yang lonjong. Bibirnya tipis namun sangat menawan karena tidak ada sama sekali bibirnya yang pecah-pecah. Wajahnya bisa dibilang lebih cantik daripada tampan. Bulu matanya yang lentik menjadi poin pentingnya. Pipinya juga selalu merona. Perhatiannya melebihi perhatian ibukku. Ia selalu menjadi orang yang pertama ada disampingku bila aku mengalami sesuatu hal yang buruk.

Sementara Minho? Minho adalah sesosok pria yang lebih tinggi dan berotot daripadaku padahal ia lebih muda dariku. Rambutnya berwarna hitam dan bermodel biasa-biasa saja seperti orang pada umumnya. Namun, rambutnya itu sangat cocok bila dipadukan dengan wajahnya yang lucu. Alisnya tebal dengan mata besar yang mempunyai manik hitam dan bulu mata yang cukup lentik. Hidungnyapun tanpa cela dan pipinya sedikit tirus. Namun, hal itu tidak pernah mengganggu ketampanannya karena senyuman menawan yang selalu ia sunggingkan kepada orang lain. Wajahnya sangat berkharisma dan kuakui, aku belum pernah melihat orang yang sangat berkharisma seperti sahabatku itu. Kecuali satu orang. Yaa, tidak usah dibahas karena itu akan membangkitkan kenangan buruk.

“Jjong hyung?”

Seakan aku baru tersadar dari lamunanku, aku mengangkat wajahku dengan senyuman tersungging di bibirku. Aku melontarkan pandangan ‘ada-apa-memanggilku’ kepada Key yang sedang memegangi penggorengan yang isinya seperti arang. Ia berdecak-decak keras. Raut wajahnya seperti sedih mendapatkan makanan yang tidak layak untuk dimakan itu. Tiba-tiba, sorot matanya yang tajam langsung menusuk kedalam mataku.

“Kau makan apa tadi pagi, eh?” Katanya sambil menunjuk kearah penggorengan, “Kau kira kau akan sehat memakan makanan arang seperti ini? Kalau kau tidak bisa masak, bilanglah kepada sahabatmu ini!”
“Tau nih, udah punya tukang masak kok di sia-siakan.” Ujar Minho nyeletuk.
“Apa maksudmu, jagiya? Sudahlah kembali berkonsentrasi dengan salad-mu itu.” Key menyelesaikan kalimatnya kepada Minho, “Kau bisa meminta aku memasakimu. Kau tahu itu kan?”
“Mm, minhae eomma. Latter aku akan memintamu memasakiku, deal?”

Halena’s POV

Aku masih bertanya-tanya kepada diriku sendiri semenjak pulang dari lokasi pemotretan. Entah apa yang membuatku begitu mudahnya terhipnotis oleh kedua mata pria itu. Kim Jonghyun. Ia benar-benar mengingatkanku kepada Taeminnie. Aku tidak berhenti-berhentinya mengingatkanmu bahwa mereka mempunyai kemiripan yang sangat banyak. Aku tidak mungkin menyebutkannya lagi. Namun, aku akan tetap memikirkannya didalam otakku. Termasuk kejadian kecil yang terjadi di lokasi saat aku merenungkan tentang Taemin, kekasih abadiku. Aku seperti mendapatkan Taemin kembali didalam diri Kim Jonghyun. Apalagi saat dia memelukku. Aku seperti bermimpi. Aku seperti merasakan bahwa yang memelukku ada Taemin.

***

Aku tidak pernah membiarkan diriku menangis didepan orang lain. Jadi, saat aku mendengar suara Kim Jonghyun melangkah mendekatiku, aku segera menghapus butiran-butiran kristal yang keluar dari mataku itu. Namun, usahaku ternyata hanya sia-sia karena Kim Jonghyun melihat genangan air yang menumpuk di mataku. Ia juga menghapus kristal-kristal kecil itu dari mataku. Aku membiarkannya. Aku tidak menamparnya atau apalah. Yang terjadi selanjutnya adalah aku menangis dan aku dipeluk olehnya. Aku tidak memeluk pria didepanku. Namun, aku bersandar sepenuhnya di tubuh pria itu. Aku menumpahkan semua air yang membelendung dimataku ke sweater cokelat yang ia pakai yang melapisi kemeja putih yang ia kenakan. Aku menangis tersedu-sedu saat itu juga. Pelukan itu sangat hangat, manis, dan sangat… sangat mengingatkanku kepada Taemin. Aku merasa seperti dipeluk oleh Taemin saat itu juga.

“Sudah-sudah.. aku memang tidak tahu apa masalahmu. Tapi, demi yang kau tangisi, berhentilah menangis.”
Aku tersadar dari lamunanku yang sedaritadi membayangkan yang memelukku adalah Taemin. Tenyata, itu adalah Kim Jonghyun,“Ah, minhae.”
“Tidak apa-apa, santai saja. Aku tidak keberatan bila kau memang akan membasahi seluruh bajuku karena air matamu.”
“Ah.. maaf oppa. Aku tidak bermaksud merusak baju…”
“Ssstt,” Kim Jonghyun menaruh jarinya di bibirku, “– jangan ucapkan kata-kata itu, Helen. Sekarang pikirkan dirimu dulu. Kau sangat kacau.”
Aku sangat terkejut saat ia menaruh jarinya di bibirku. Persis seperti yang dilakukan oleh Taemin, “Ah! Iya, terima kasih oppa. Aku pulang dulu. Annyeong oppa.”
“Annyeong, sampai jumpa!”

***

Aku memeluk kakiku sendiri. Inilah yang biasa kulakukan bila aku sedang bingung dan sedang sedih. Kuambil foto Taemin-ku dari kamarku dan kupandangi wajahnya yang sangat sempurna itu. Aku menyentuh foto itu dari bagian rambut, kening, mata, hidung, pipi, dan bibirnya. Aku tersenyum. Aku merasakan bahwa aku menyentuh wajahnya setiap kali aku memandangi dan menyentuh fotonya. Kuputuskan untuk membuka kapsul waktu yang pernah kubuat dengan Taeminnie. Rencananya, kapsul itu akan kubuka bersamanya ketika kami sudah berumur nanti. Ketika kami sudah mempunyai cucu dan sudah hidup berbahagia selamanya bersama. Namun, hal itu harus kandas hanya karena kanker sialan yang baru disadari Taemin saat umur tujuh belas tahun. Hal itupun membuatku sakit. Sakit karena harus kehilangan Taemin. Sakit karena harus membuka kapsul waktu ini sendirian. Aku tahu Taemin sekarang berada disampingku. Aku bisa merasakan kehadirannya.

Kubuka kotak hitam bermotif akar-akar yang berwarna putih yang berada di pangkuanku sekarang. Banyak sekali barang-barang yang ada didalam kotak berukuran 25 x 50 sentimeter itu. Berata-tama, aku memutuskan untuk melihat buku yang tidak lain adalah buku pemberian Taemin kepadaku saat ulang tahunku yang ke enam belas. Scrapbook yang ia buat itu mempunyai cover yang terbuat dari tempelan-tempelan jerami kering berwarna cokelat bertulisan ‘Untuk yeojachingu-ku, Halena Jun’. Kubuka perlahan scrapbook itu. Halaman demi halaman, aku seperti kembali ke masa laluku saat aku berumur lima belas tahun. Ketika untuk pertama kalinya aku masuk SMA di Korea yang mempertemukan diriku dengan seorang Lee Taemin. Ketika aku bertemu dengannya, saat kami menjalankan ritual pendekatan, hingga saat ia menyatakan perasaannya kepadaku. Itu semua dituli dengan tangan Taemin sendiri di buku ini.

*** Flashback ***

Aku menunggumu di pohon beringin dibelakang sekolah. Ada yang ingin kukatakan kepadamu
Jangan telat! Aku tidak ingin menunggumu dengan waktu yang sangat lama.
LT

Aku tersenyum saat membaca surat singkat yang diselipkan kakak kelasku itu didalam sepatuku yang kutaruh didalam loker bernomer 444. Aku memang menyukai angka empat. Bagi orang-orang yang percaya takhayul, mereka pasti takut dengan angka empat karena angka itu katanya angka setan. Tapi tidak bagiku. Banyak seorang pemimpin basket yang memakai angka empat. Jadi, bagiku angka empat adalah angka seorang pemenang. Aku tersenyum saat melihat goretan tinta yang terukir di kertas memo kecil itu. Segera saja aku memakai sepatuku dan pergi ke halaman di belakang sekolah. Tempat dimana aku bisa sebebas-bebasnya menangis dibahu kakak kelasku yang sudah kuanggap menjadi bagian yang terpenting dalam hidupku. Tempat dimana kami tertawa, dan melakukan hal yang lain bersama. Pohon beringin tua yang sakral namun indah dimata kami berdua.

Aku melihat bayangan Taemin disudut mataku ketika aku berbelok dari lapangan bola ke halaman belakang sekolah. Laki-laki tampan itu sedang duduk sambil membaca buku dan earphone menempel setia di telinganya di akar-akar pohon sakral tersebut. Dalam baluan sweter cokelat dan dipadukan dengan celana jins yang menjadi pakaian favoritnya itu. Hari ini adalah hari rabu, hari dimana aku lahir dan hari dimana kakak kelasnya itu lahir juga. Kami mempunyai banyak hal yang sama. Sama-sama menyukai dance, musik, menonton film, buku, dan lainnya. Itu yang membuat kami sangat dekat. Kami sangat cocok. Kami saling melengkapi satu sama lain. Hanya melihatnya dari kejauhan saja, aku sudah senang karena bertemu dengannya. Rae dan Seyoon mengatakan bahwa aku menyukainya. Namun, aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku kepadanya.

“Annyeong, Taemin oppa! Sudah menunggu lama?”
Ia menutup buku yang sedang dibacanya, “Oh, Halena-ah. Kau sudah datang?”
Aku mengambil tempat duduk disebelahnya, “Mm. I’m here oppa. Jadi, apa yang mau dibicarakan olehmu?”
“Err.. aku hanya ingin memberi tahu bahwa buku ini sangat bagus! Kau harus membacanya.”
“Apa ceritanya oppa?”
“Tentang pembunuhan berantai yang dilakukan seseorang hanya untuk mendapat perhatian.”
“Terdengar seperti cerita di Detective Conan, hm?”
“Hahaha, kau benar!” Ia terdiam sebentar, “Halena, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
“Hee? Tempat apa, oppa?”
“Itu kejutan! Ayo ikut denganku.”

Iya mengulurkan tangannya kepadaku. Entah apa yang membuatku merasa yakin untuk menyambut tangan yang terulur itu. Mungkin karena mata hitam kelabu yang sangat dalam bila dipandangi itu sudah menusuk-nusuk jiwaku dan membuatku mengikuti perintahnya. Ia telah menghipnotisku dengan matanya yang indah. Kami bersama-sama menaiki tangga entah sampai lantai berapa karena dia selalu membuatku tertawa sampai aku sendiri lupa bahwa aku sedang menaiki tangga sampai lantai paling atas. Akupun berjalan bersamanya ke area yang belum pernah kulihat sebelumnya di sekolahku. Sebuah ruangan kosong yang sangat gelap dan sama sekali tidak ada jendela yang meneranginya. Aku tidak bisa melihat apa-apa didalam ruangan itu. Namun, Taemin sepertinya sudah mengenal ruangan ini lebih baik. Jadi, karena aku yakin Taemin tidak akan berbuat sesuatu yang dilarang agama, aku ikut masuk kedalam ruangan sialan itu sambil menggenggam erat tangannya.

“Oppa! Mengapa kita berada disini? Aku tidak bisa melihat apa-apa tahu!.”
“Sstt, jangan berisik.”
Tiba-tiba, tangannya terlepas dari genggamanku, “Oppa! Oppa dimana? Mengapa oppa meninggalkanku sendirian?”
Tidak ada sahutan.
“Oppaaaaa?!” Seruku menahan nangis.

Tiba-tiba, dari arah belakangku, terlihat sinar hijau kekuningan yang sangat halus. Lembut. Warna hijau itu adalah warna kesukaanku. Karena sudah menemukan cahaya, aku memutar badanku menuju cahaya itu. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat teman-teman Taemin memegang huruf yang terbuat dari lampu. Kyuhyun, Shindong, Teuki, Kibum, Yesung, Sungmin, Eunhyuk, Ryeowook, Heechul, Hangkyung, Siwon, Kangin, dan Donghae oppa masing-masing memegang satu huruf yang membentuk tulisan ‘Happy Birthday’. Wajah mereka terlihat bersinar karena benda yang bercahaya tersebut. Dan lagi-lagi, ada benda bercahaya dari belakangnya. Benda itu ternyata dipegang oleh kakakku, Henry. Cahaya putih yang dipadukan dengan warna biru itu terpancar dari tongkat yang ia pegang. Tongkat Elder yang sangat aku dambakan (Harry Potter). Seketika itu juga, aku memeluk tubuh kakakku yang sudah tahu bahwa aku akan memeluknya. Dalam pelukan kakakku, tiba-tiba aku merasa ada sinar yang menyilaukan terpancar dari sudut mata kananku. Segera saja aku menoleh kearah tersebut. Ternyata, cahaya tersebut berasal dari jendela yang ternyata tadi di tutup oleh entah siapa.

“Halena Jun adikku, lihatlah keluar.” Kakaku berkata kepadaku.
“Memangnya ada apa oppa?”

Kakakku hanya tersenyum. Karena aku adalah orang yang gampang sekali penasaran, aku mendongak keluar jendela. Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat itu. Aku menutup mulutku tidak percaya melihat apa yang sedang kulihat. Mataku mendapati banyak sekali orang-orang yang berbaris di lapangan bola membentuk kalimat ‘Saranghae Halena’ dan menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Bahkan ada guru yang ikut didalam barisan itu. Dengan sekejap, manikku sudah basah karena genangan air yang menumpuk. Dari belakang, ada yang menepuk bahuku. Disitulah aku melihat sosok laki-laki jangkung bermata hitam kelabu yang menatap tajam kedalam manik emas cairku. Laki-laki itu tersenyum tipis memamerkan deretan giginya yang bersinar dan rapi. Ia membawa kue ulang tahun di kedua tangannya. Ukiran namaku terdapat di puncak kue yang beringkat dua itu.

“Halena Jun, saengil chugha hamnida. Tiuplah lilinmu ini. Namun, ucapkan satu permintaan sebelumnya.”

Aku mengangguk dan memejamkan mataku. Aku meminta kepada tuhan satu permintaan yang sangat aku inginkan. Aku ingin menemani Taemin sampai waktu memisahkan kami. Terasa dua butir kristal berhargaku jatuh dari ujung mataku dan membasahi pipiku. Setelah membuka mataku, aku meniup lilin yang berjumlah enam belas yang melambangkan umurku sekarang. Aku tesenyum bahagia. Bahagia karena ulang tahunku dirayakan. Bahagia karena aku mendapat perhatian dari beratus-ratus orang dibawah dan yang didalam ruangan gelap tadi. Dan yang terpenting, aku bahagia karena seseorang yang sudah menjadi bagian paling penting di hidupku berdiri didepanku, menatapku, tersenyum kepadaku, Lee Taemin.

“Boleh aku minta satu permintaan? Oh aku tahu seharusnya kau yang meminta.”
“Mm. Tentu. Apa yang kau inginkan oppa?”
“Berputarlah sekali lagi dan lihat kebawah.”

Akupun memutar badanku kearah jendela tersebut. Aku terpejam karena terlalu gugup untuk melihat kejutan selanjutnya dari laki-laki asli Korea yang sepertinya merencanakan acara ini dengan matang. Perlahan-lahan, aku membuka mataku dan aku melihat sebuah kalimat ‘Be mine, Halena Jun’. Aku terkejut akan hal itu. Aku mengucek-ucekan mataku karena belum percaya apa yang kulihat dibawah itu. Ternyata, pengelihatanku tidak salah. Lee Taemin memintaku untuk menjadi yojachingu-nya. Tuhan, apakah aku bermimpi? Apakah aku pantas bermimpi mendapatkan Lee Taemin?

“Halena Jun,” ia berkata kepadaku. Seketika itu juga aku berbalik menghadapnya. “– aku menunggu jawabanmu.”
“…….”
“Kalau kau tidak menjawab, kau boleh memakai barang ini.” Ia memberiku sepuluh balon berwarna warni.
“Kalau kau mau menjadi yeojachinguku, terbangkan seluruh balon yang kau pegang,” jeda sesaat, “– tapi, kalau kau tidak mau, terbangkan satu saja.” Ia tersenyum.
“……..”
“Aku siap menerima apapun jawabanmu.”

Lee Taemin menunjukan senyum terbaiknya. Deretan gigi putih itu kembali hadi dihadapanku. Aku memejamkan mata. Membayangkan apa saja yang sudah kulakukan dengan Taemin. Membayangkan bagaimana perasaanku ketika aku berada dihadapannya. Membayangkan bagaimana perasaanku kalau Taemin tidak ada kabar atau tidak bersamaku. Membayangkan bagaimana perasaanku ketika dia merangkulku. Membayangkan perasaanku ketika dia bermain piano, gitar, biola, atau apalah segala macam alat musik yang pernah ia mainkan untukku. Membayangkan betapa indah suaranya saat bernyanyi. Dan lagi-lagi yang paling terpenting, aku membayangkan bagaimana kondisi jantungku ketika kau menatapku dengan mata hitam kelabu yang kau punya. Aku membuka mataku. Aku sudah mempunyai jawaban untuknya. Sebutir kristal bening berhargaku mengalir dari ujung mataku. Turun ke pipi dan akhirnya jatuh ketanah. Dengan satu hentakan, aku melepaskan satu balon berwarna merah maroon ke udara. Saat itu juga, aku mendengar suara desahan dari bawah dan dari belakang Taemin. Wajah laki-laki itu langsung berubah sedih melihat diriku hanya melepaskan satu balon.

“Maafkan aku Taemin… Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa, Helen. Aku menerima apapun jawabanmu.”
“Maafkan aku,” jeda sesaat, “– maafkan aku karena aku tidak bisa tidak menolak cintamu.”

Seketika itu juga, aku melepaskan seluruh balon yang kugenggam dan memeluk Lee Taemin. Aku mendengar tepuk tangan yang sangat keras dari bawah gedung dan dari dalam ruangan. Aku melihat senyum Taemin mengembang dan matanya menunjukan ekspresi yang sangat lega dan senang. Lalu, tanpa sadar, kue yang tadinya dipegang Taemin sudah dipegang oleh kakakku, Henry. Lalu, kakak laki-laki satu-satunya yang kupunya itu mengadukan kue ulang tahun itu dengan mukaku dan akhirnya mukaku berlumuran kue. Saat itu juga, Teuki mengacak-acak rambutku sambil mengucapkan selamat kepada namjachingu baruku itu. Duabelas orang lainnya termasuk Henry malah memakani kue ulang tahun yang sama sekali belum aku sentuh itu. Memang mereka seperti anak bocah. Hanya Teuki saja yang dewasa diatas sini. Bahkan, sebenarnya Taemin bisa lebih bocah daripada anak-anak yang berebutan kue ulang tahun itu. Namun, aku tahu. Kali ini ia benar-benar tidak bisa bertingkah seperti anak kecil karena dia baru saja merasakan kebahagiaan yang paling besar dihidupnya. Aku ingat saat Taemin berkata bahwa ia belum pernah berpacaran. Sama seperti aku. Jadi, aku menjadi orang pertama didalam hidupnya dan dia menjadi orang pertama dihidupku.

“Saranghae, Halena-ah” Ujarnya seraya memelukku.
“Nado saranghae, Taemin oppa.”
“Mulai sekarang, jangan pernah panggil aku dengan sebutan oppa, okay?”

*** Flashback End ***

Senyumku mengembang saat membayangkan betapa bahagianya aku mempunyai kekasih seperti Lee Taemin. Betapa bahagianya aku bisa memilikinya. Betapa bahagianya, aku bisa berada di sisinya sampai akhir hayatnya. Tuhan memang mengabulkan permintaanku. Namun, mengapa secepat itu? Tapi, aku cukup puas karena saat ia menghembuskan nafas terakhirnya, aku berada disampingnya. Saat itu juga, ia masih menyentuh pipiku. Saat itu juga, dia masih mengucapkan kalimat cinta yang pada nyatanya tidak pernah terselesaikan. Hal itu sudah sangat cukup untukku. Kututup scrapbook yang diberikannya kepadaku dan kutaruh di atas meja didepanku.

Barang kedua yang kuambil adalah sebuah album foto yang berisi kenangan-kenangan kami saat pergi bersama. Foto pertama yang kulihat adalah foto dimana kami pergi ke jepang untuk mengunjungi Disney Land. Saat itu juga, iseng-iseng kami mengambil foto didepan obake saat sedang menunggu antrian yang sangat panjang. Bosan karena hal itu, Taemin pergi sebentar untuk membeli ice cream green tea yang sudah tiga kali dibeli kami semenjak melihat counter ice cream itu. Lalu, saat kembali, aku dan Taemin memutuskan untuk berfoto bersama dengan bantuan seorang laki-laki Jepang yang tidak bisa berbahasa Korea maupun Inggris. Terpaksa mereka memberi isyarat dengan tangan.

“Kau ingat Taemin-ah?” ucapku kepada Taemin yang tidak terlihat oleh mataku. Namun, aku bisa merasakan kehadirannya disampingku, “– ini adalah foto saat aku dan kau berada di Jepang! Aku ingat sekali saat itu kau tidak memakai sarung tangan sehingga kita harus membeli sarung tangan tersebut dan kau menggerutu sepanjang jalan karena harganya yang mahal.”

Aku merasahawa hangat menyerbu tubuhku. Saat ini juga aku merasa bahwa Taemin sedang merangkulku atau sekedar menggenggam tanganku. Aku merasa bahagia akan hal itu walaupun aku tidak bisa melihatnya sekarang. Foto kedua yang kulihat adalah foto saat aku dan Taemin sedang berfoto didepan Museum Louvre saat sedang melihat lukisan Leornado Da Vinci di Perancis. Taemin merangkul tubuhku dengan tangan kanannya sementara tangan kiriku memeluk pinggangnya. Kami sama-sama menyunggingkan senyum yang memperlihatkan deretan gigi putih yang sangat rapi kepada kamera. Saat itu, kami bertemu dengan seorang turis dari Inggris yang sedang berjalan-jalan di Perancis juga sehingga kami meminta tolong untuk mengambil foto kami.

“Yaampun, aku ingat ketika kau memecahkan suasana hening di museum ketika kau bersin. Kau sih sok-sokan tidak memakai syal sementara mantelmu tidak menutupi lehermu.”

Lagi-lagi aku merasakan kehangatan menjalar ke tubuhku melalui tangan kiriku. Aku merasakannya Taemin. Aku merasakannya. Aku tahu kau ada disebelahku. Aku tahu kau sedang bersamaku sekarang. Aku tahu kau juga ingin berbicara kepadaku walaupun tuhan tidak akan mengijinkan kau hidup kembali. Aku tahu perasaanmu namjachingu-ku. Aku tahu betul kau merindukanku. Akupun juga merasakan hal itu. Aku juga merindukanmu, Taemin-ah. Aku merindukanmu… Foto-foto yang menjadi kenanganku dengan kekasih abadiku satu persatu aku pandangi dengan seksama. Aku juga mengajak Taemin berkomunikasi walaupun tidak ada jawaban satupun dari siapapun. Tapi, aku yakin disaat malam nanti, aku akan memimpikan Taemin. Ia akan menjawab semua perkataanku tadi. Persis seperti mimpi-mimpi sebelumnya apabila aku mengajak ngobrol arwah Taemin.

Halaman demi halaman terus berlalu sampai akhirnya menuju ke foto terakhir. Foto tersebut membuat nafasku tercekat. Membuat diriku tidak bisa menguasai emosiku lagi. Membuat diriku membiarkan air mata yang sedaritadi sudah menggenang di mataku terjatuh begitu saja di pipiku. Mengalir deras membasahi pipiku. Membuat diriku histeris karena melihat foto itu. Tiga foto diriku dengan Lee Taemin yang sedang berada di salah satu tempat hiburan yang menyediakan fasilitas fotobox. Foto pertama adalah foto dimana aku dan Taemin memamerkan senyum kami kearah kamera. Foto kedua adalah saat aku tersenyum menghadap kearah kamera sementara Taemin memandang diriku dengan mata dan senyum yang penuh arti cinta dan kasih sayang. Yang ketiga adalah foto yang sangat membuat diriku harus mengingatkan diriku sendiri untuk bernafas. Saat Taemin merangkul diriku sambil mencium pipiku dan aku hanya tersenyum kearah kamera. Aku menyentuh pipiku. Aku bisa merasakan hangatnya ciuman Taemin yang waktu itu ia berikan kepadaku. Taemin dan aku tidak pernah melangkah lebih jauh dari ciuman di pipi ataupun ciuman di kening. Tidak pernah. Ia menghormatiku sebagai perempuan dan aku sangat menghargai hal itu.

“Ta–taemin-ah, aa-aku tahu kkau adda dissini. Ttaemin-ah, a–aku merindukanmu. Ssarang Hha–hae Ttaemin-ah. Aa-ku ingin ber-ttemu denganmu ssekk–ali lagi. Aa–ku hhanya ingin kkau me–nyelessaikan kkalimatmu dd-ulu.” Ucapku terbata-bata. Aku menarik nafas untuk mengucapkan kata-kata ini dengan benar, “– saranghae Taemin-ah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

The End of Part 3. To be continue~

Jangan lupa komen yaa :D jangan cuman di read doang, author lemparin bias kalo ngga komen *plak*

Thanks for reading this fanfiction. Saranghae~

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 9 Maret 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Baguuuuuus banget tp flashback terus ya hhe semangat author. You’re daebak!! Lanjutannya ditunggu ya ~(‾▿‾~) ~(‾▿‾)~ (~‾▿‾)~

    • raisawidiastari

      uwaaaa, makasih yaa udah sempetin bacaa~ hehehe
      iyanih dalam proses kelanjutan
      kebanyakan flashback biar tambah banyak yang sedih-sedihnya onnie *plak*

  2. sedih bgt baca flashback kenangannya helen sama taemin😦
    kereeeenn ff-nya authour.
    lanjuuuutttkaaan! haha🙂

  3. raisa widiastari

    @iseul: onnieeee makasiih yaa udah bacaaa *smooch* (•̯͡__•̯͡)‎, iyaa doain aja yaa supaya FF ini lancar wakakak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: