[FF/PG/S/4] Beach

Title : Beach

Author : Yayang

Cast ::

Shin Hyo Soo =>> Riani Ps

Lee Donghae Super Junior

Choi Yeo Rin =>> anggap ja reader sendiri….

Other cast…

 

Hyo Soo POV’s

 

“Hyo Soo-ya” eomma merentangkan tangannya seolah menyambutku ke dalam pelukannya.

 

Aku membalas pelukan eomma, aku tersenyum padanya setelaah melepaskan pelukan kami. “Aku merindukan eomma” sahutku pada eomma sambil tetap mengenggam tangannya.

 

“Eomma juga sangat merindukanmu chagi” eomma mengelus-elus rambutku sambil menemaniku melangkah ke kamarku.

 

Ya, sekarang aku berkuliah di Universitas Seoul. Aku bisa pulang hanya setiap akhir pekan saja, biasanya aku pulang pada hari jum’at sore. Meskipun lagi-lagi harus terpisah dari eomma, tapi setidaknya setiap minggunya aku masih bisa pulang dan mengunjungi eomma, hal yang tidak akan bisa aku lakukan ketika aku memutuskan untuk berkuliah di Jepang. Huft, mengingat tentang Jepang membuatku kembali mengingat Donghae oppa. Sudahlah Hyo Soo, kau sudah memutuskan untuk tidak memikirkan tentang hal ini lagi sejak dua tahun yang lalu, tidak ada gunanya menyesal toh akhirnya aku juga tetap bisa bahagia berada di dekat  eomma.

 

“Bagaimana ujianmu kemarin??” Tanya eomma disela-sela kegiatanku membereskan pakaian di tas dan memasukkannya ke lemari pakaianku, eomma membantuku mengeluarkan barang-barang dalam tas.

 

“Lancar, dan syukurlah hasilnya juga bagus” aku menghentikan kegiatanku, dan menatap eomma saat menjawabnya.

 

“Eomma senang mendengarnya. Kau memang anak yang selalu dapat membanggakan orang tua. Eomma yakin appa mu juga bahagia disana” kata eomma, ada rona kesedihan saat eomma menyebut nama appa.

 

Aku menghampiri eomma yang duduk di tepi tempat tidurku, kurangkul eomma. “Eomma jangan sedih” bisikku.

 

Eomma mengubah ekspresinya seperti biasa. “Siapa yang sedih, ayo cepat bereskan barang-barangmu” eomma mengalihkan pembicaraan. Aku tau kalau selama ini emma kuat, aku percaya itu. Lalu aku pun kembali beranjak dan membereskan barang-barangku lagi. selama sebulan penuh ini aku akan menghabiskan waktu liburanku sepenuhnya dengan berkumpul bersama eomma di Mokpo.

 

Eomma berjalan meninggalkanku sendirian di kamar yang masih sibuk membereskan kamar dan barang-barangku.

 

Aku mengecek sms yang masuk ke inbox Handphoneku ternyata disana sudah ada sms dari sahabat-sahabatku. Tanpa sadar aku tersenyum dan membuka satu persatu sms yang mereka kirim untukku.

 

From : Rae Bin

Hyo Soo-ya, kau sudah pulang dari Seoul kan?? Aku merindukanmu ayo kita bermain!!!

 

From : Yeon Ji

Kenapa tidak memberitahuku kalau ingin pulang ke Mokpo hari ini?? kita kan bisa pulang bersama.

 

From : Yong Soon

Lihat saja, aku akan kerumahmu menagih oleh-oleh. Hahaha

 

From : Je Ri

Hari ini aku, Rae Bin, Yeon Ji, dan Yong Soon ingin berkumpul. Kau ikut ya?? ^_^

Aku tersenyum melihat isi sms dari mereka, mereka memang sahabatku. Meskipun sudah jarang bertemu tapi kami selalu dapat menjada persahabatan kami, mereka adalah bagian dari hidupku. Aku pun mulai menggoyangkan jari-jariku membalas sms mereka satu persatu.

 

To : Rae Bin

Aku baru saja sampai, aku merindukan kalian. Tentu saja aku mau.. ^_^

 

To : Yeon Ji

Aku pikir kau sudah pulang duluan, mianhae. Tapi sekarang kau sudah pulang kan? Sampai jumpa nanti.

 

To : Yong Soon

Kalau begitu aku juga akan menagih oleh-oleh ke rumahmu. Sesama dari Seoul sepertinya seru saling bertukar oleh-oleh. Haha…

 

To : Je Ri

Tentu saja, dimana? Aku juga sudah merindukan kalian.

 

Aku mengirim sms-sms itu kepada mereka. Kami sama-sama berkuliah berkuliah di Seoul Universitas tapi perbedaan jurusan membuat kami jarang sekali bertemu, bahkan kami hanya bertemu di Mokpo saja seperti liburan ini. handphoneku kembali bergetar sms dari Je Ri masuk ke inbox ku.

 

From :  Je Ri

Aku sudah bersama yang lain sekarang, kami akan menjemputmu.

 

Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Kurasa sebentar lagi mereka akan menjemputku, aku pun mengganti pakaian. Setelah itu aku menyusul eomma yang sedang memasak, ini masih dibilang siang tapi eomma sudah masak saja.

 

“Eomma memasak untuk apa?” tanyaku

 

“Untuk kita, eomma memasak lebih kau juga bisa mengajak teman-temanmu makan bersama disini” eomma tersenyum. Eomma tahu sekali dengan kebiasaan kami, setiap pulang ke Mokpo kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu hanya sekedar berbincang-bincang ataupun saling curhat. Aku membalas senyuman eomma.

 

“Annyong” suara beberapa orang terdengar dari luar rumah, sepertinya itu mereka berempat

 

“eomma sepertinya itu mereka” kataku pada eomma

 

Eomma mengangguk “sana temui teman-temanmu” perintah eomma, aku mengangguk dan tersenyum kemudian beranjak untuk menghampiri mereka.

 

Aku tersenyum pada sahabat-sahabatku itu. Rae Bin dan Je Ri terlihat sedang berdiri di teras rumahku sedangkan Yeon Ji dan Yong Soon sibuk bermain ayunan di depan rumahku, aaaisshh dua anak itu seperti anak kecil saja. “Yaaaa Hyo Soo-ya” sapa Rae Bin sambil tersenyum senang begitu melihatku keluar rumah menghampiri mereka.

 

Kami sampai disebuah tempat, tempat yang indah untuk bermain-main. Aku mencoba untuk menikmati hari pertama liburanku di Mokpo dengan teman-temanku yang tercinta. Aku tersenyum melihat tingkah mereka. “Dengar yang ini, suaranya baguskan..??” seru Yong Soon pada Yeon Ji, Yeon Ji tampak serius mendengarkan sesekali dia mengangguk-angguk. Apa yang mereka dengarkan.

 

“Tapi suara namjachinguku juga tak kalah bagus” sahut Yeon Ji ketika selesai mendengar sesuatu dari handphone Yong Soon.

 

“Suara namjachinguku suaranya juga bagus”  sela Je Ri.

 

“Aaaaiiisshh kalian ini, ara. Namjachingu kalian kan bintang vocal di kampus” sahut Rae Bin. Mereka bertiga terkekeh, aku pun terkekeh melihat tingkah mereka.

 

“Berarti tinggal Hyo sendiri yang belum mempunyai namjachingu, sampai kapan kau terus ingin menunggu Donghae oppa” kata Yeon Ji tiba-tiba dengan ekspresi polosnya. Aku terdiam.

 

Terlihat Rae Bin menjitak pelan kepala Yeon Ji, “Yaaa kau ini, lihatlah ulahmu itu Hyo Soo jadi sedih lagi” sungut Rae Bin pada Yeon Ji.

 

“Mianhae aku tidak tau kalau Hyo Soo masih sedih mengingat Donghae oppa” kata Yeon Ji membela diri.

 

“Sudah tidak usah mengkhawatirkanku. Nan gwenchana. Aku sudah tidak terlalu mengharapkan Donghae oppa lagi, tapi aku masih belum bisa melupakannya. Sulit untuk melakukan itu, walaupun aku mencoba sekuat tenaga” jelasku pada mereka, tanpa sadar aku malah mengeluarkan cairan bening dari mataku. Kulihat keempat sahabatku itu yang ada malah semakin mengkhawatirkanku dan memelukku dengan erat.

 

“Hyo Soo-ya, ada kami disini” bisik Yong Soon padaku yang segera di jawab anggukan dari semuanya. Aku melepaskan pelukan kami, aku tersenyum pada mereka. Selama ini tak jarang merekalah yang memberikanku kekuatan.

 

Hari sudah sore, jam tanganku sudah menunjukkan jam lima sore. Kami membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing tadinya aku mengajak mereka untuk makan malam bersama di rumahku karena eomma sudah memasak masakan lebih tapi mereka tidak bisa, dengan alasan orang rumah mereka juga sudah memasak makanan lebih. Aku langsung pulang ke rumah, aku meminta eomma untuk membungkus makanan berlebih yang dia masak. Rencananya aku ingin memberikannya kepada para nelayan yang sudah berkerja sama dengan bisnis keluarga kami. biasanya mereka akan mulai berlayar pada malam hari dan pulang pada pagi hari.

 

Aku berjalan ke pantai dengan dua rantang penuh di kedua tanganku, aku tersenyum berjalan tanpa beban. Dari kejauhan aku melihat Song Ajuhssi yang sedang sibuk menyiapkan jarring dan unpam yang akan dia dan teman-temannya gunakan untuk menangkap ikan dilaut.

 

“Song ajuhssi” teriakku dari kejauhan pada Song ajuhssi. Aku semakin mempercepat langkahku untuk menghampirinya dia tampak tersenyum padaku.

 

“Shin aghessi” gumamnya begitu aku sampai di hadapannya.

 

“Sudah ingin siap-siap?” tanyaku basa-basi. Aku dan beberapa nelayan disini bisa dibilang cukup akrab, aku sering mengunjungi mereka setiap kali aku pulang ke Mokpo. Aku meneruskan kebiasaan appa saat beliau masih hidup. Appa sering mengunjungi para nelayan walau hanya untuk memberikan semangat saja. Waktu akan terasa sangat panjang jika aku tidak melakukan sesuatu, aku sering membantu mereka menyiapkan barang-barang yang akan digunakan. Tidah heran jika aku sudah hafal kebiasaan mereka dan juga jadwal mereka pergi dan pulang.

 

“Aku membawa bekal makan malam ajuhssi bersama teman-teman di laut. Igo..” aku ngelulurkan tanganku yang memegang rantang Song ajuhssi menyambutnya.

 

“Jongmal gamsahamnida agesshi” katanya sambil membungkuk, aku pun ikut membungkuk.

 

“Ye, cheonmaneyo ajuhssi. Semoga tangkapan mala mini banyak” aku tersenyum Song ajuhssi juga balas tersenyum.

 

“kau memang sangat mirip dengan appa mu” sahut Song Ajuhssi.

 

“Kudengar anak tunggal keluarga Lee kemarin telah kembali dari Jepang” kata seorang ajuhssi yang melewati kami pada seorang temannya.

 

“Iya, dari tampilannya dia sudah berubah. Lebih gagah dan tampan dari empat tahun yang lalu” sahut temannya.

 

Aku buru-buru mengejar langkah kedua ajuhssi itu. “Jwesonghamnida ajuhssi boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku pada kedua ajuhssi itu sambil membungkukkan badanku.

 

“Kau ingin bertanya apa Shin Agesshi??” ajuhssi yang pertama itu heran melihatku. Aku igat sekarang yang sedang berbicara padaku ini adalah Park ajuhssi sedangkan temannya adalah Kim ajuhssi.

 

“Apakah yang ajuhssi bicarakan tadi Lee Donghae?” tanyaku was-was. Park ajuhssi memandang Kim ajuhssi, aku masih menunggu mereka untuk menjawab.

 

“Ne benar. Aigo aku lupa kalau dia adalah temanmu kan?” sahut Kim ajuhssi.

 

Apa benar itu Donghae oppa? Aku masih tak percaya dengan yang aku dengar. “Jongmal gamsahamnida atas informasinya” aku membungkuk pada kedua ajuhssi itu dan segera berlari sekencang-kencangnya. Entah mengapa kakiku malah ingin membawaku ke tepi pantai tempat kami pernah berjanji satu sama lain. Di tengah lengkah lariku aku malah mengeluarkan airmata. Aku juga tidak tahu kenapa aku mengeluarkan airmata.

 

Aku berhenti berlari dengan nafas yang masih ngos-ngosan kulihat di kejauhan tampak dua orang yang sedang berdiri di tepi pantai itu. Seorang yeoja dan seorang namja. Yeoja itu tampak melukis sesuatu di atas pasir pantai dengan ranting kayu yang di pegangnya sedangkan namja itu hanya melihat saja. Sepertinya aku mengenal namja itu. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas siapa itu. Perawakannya seperti DOnghae oppa, benarkah itu dia? Tanpa sadar aku malah melangkah sedikit demi sedikit, mataku masih terpaku pada sosok itu. Aku yakin sekali itu pasti DOnghae oppa, batinku berkata. Aku kembali berlari untuk menghjampirinya, aku sangat merindukan nemja itu tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya dari belakang sambil mengeluarkan isak tangis. “Donghae oppa” gumamku.

 

Aku bisa merasakan orang yang kupeluk ini menegang kaku. “Hyo Soo-ya..???” tanyanya memastikan, aku mengangguk masih sambil memeluknya.

 

Dia melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya dan menarikku agar menghadapnya. “Kau benar Hyo Soo..??” dia masih tampak tidak percaya, Donghae oppa memegangi pipiku dan memperhatikan diriku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah diyakininya ini benar-benar aku, dia menghentakkan tubuhku ke dalam pelukannya tanpa ragu aku membalas pelukannya. Aku memang sangat merindukan namja ini. sudah empat tahun aku tidak bertemu dengannya. Tangisku masih pecah, dia mengelus rambutku dengan lembut.

 

Yeo Rin POV’s

 

Aku sama sekali tidak dianggap, mereka seakan lupa dengan keberadaanku. Terpaksa aku harus menelan luka hati ini, melihat pemandangan yang paling aku takutkan dari dulu. Hyo Soo. Bukankah nama itu yang selama ini sering disebut-sebut oleh Donghae. Ternyata yeoja ini yang sangat diharapkan Donghae. Mereka terus saja berpelukan satu sama lain, seolah tidak ingin terpisah lagi. apa yang harus aku lakukan? Marah pada mereka dengan tuduha pengkhianatan? Itu tidak mungkin, atau aku harus menangis dan larut dalam kesedihanku juga?. Akhirnya aku lebih memilih untuk diam dan menyaksikan mereka. Untuk beberapa menit mereka saling melepas rindu Donghae beralih,

 

“Hyo Soo-ya, kenalkan ini Yeo Rin” Donghae memperkenalkan aku pada yeoja itu.

 

“Yeo Rin-ah ini Hyo Soo” kata Donghae padaku selanjutnya. Aku merasa perkenalan ini bisa dibilang aneh, setidaknya Donghae tidak berkata seperti ini ‘Hyo Soo-ya kenalkan ini Yeo Rin yeojachinguku dan Yeo Rin ini Hyo Soo orang yang aku cintai dari dulu’ apa jadinya semua itu.

 

Yeoja bernama Hyo Soo itu mengulurkan tangannya padaku aku pun membalasnya. “chonuen Hyo Soo imnida, mannaseo pangawoyo” katanya sambil tersenyum ceria.

 

“Choneun Yeo Rin imnida” balasku, aku terpaksa berpura-pura seolah aku senang dengan perkenalan ini. aku tersenyum padanya. entah kenapa, aku merasa senyuman mereka seolah menertawakanku.

 

“Sepertinya kalian teman lama. Aku akan memberikan waktu agar kalian bisa mengobrol” kataku lagi. Donghae menatapku,dari tatapannya seolah dia mengatakan ‘gomawo’. Aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua di tepi pantai. aku duduk di bawah pohon yang cukup jauh dari mereka tapi aku masih bisa melihat bayangan mereka.

 

Aku marasakan kalau hatiku saat ini benar-benar sakit. Akakah ini akhir dari hubunganku dengan Donghae. Aku sakit mencintai namja itu, aku tidak tau apakah aku sanggup tanpa dia disampingku. Dari kajauhan aku bisa melihat mereka saling berpelukan. sekarang aku sudang mengeluarkan airmata. Sepertinya aku tidak siap jika harus kehilangan Donghae sekarang, aku harus melakukan sesuatu agar Donghae tetap bersamaku. Tapi apa..??? apa yang harus aku lakukan..??

 

***********************************************************************************

 

Hyo Soo POV’s

 

Akankah ini hanya sekedar mimpi bagiku??, aku tidak dapat percaya kalau ini adalah sebuah kenyataan. Selama ini bayangan dirinya, lekuk-lekuk tubuhnya, suaranya, ekspresi wajahnya hanya terekam dalam mimpi dan pikiranku. Aku takut, aku taku ketika aku sudah mulai mempercayai kalau ini bukanlah hanya sekedar mimpiku aku harus tersadar kalau ini semua tak luput dari ilusiku. Aku tau aku memang sangat merindukannya, merindukan sesosok manusia yang ada dihadapanku sekarang ini. aku masih menatapnya tidak percaya. Aku sudah hafal betul bayangannya dan suaranya, itu adalah seratus persen milik Donghae oppaku. Bayangan dan suara yang akan selalu aku kenal dimana pun kapan pun aku berada. Baik ketika aku sedang bermimpi, sadar, tak sadarkan diri, baik dalam keadaan bangun ataupun terlelap bahkan mungkin aku sudah merasakan nyawaku terpisah dari ragaku aku tidak akan melupakannya. Bayangan dan suara yang untuknya aku rela menembus hujan lebat, meskipun aku sendiri harus mengorbankan diriku sendiri.

 

Cairan bening itu kembali membasahi pipiku, mengalir dengan deras bak sungai yang sedang pasang. “Chepal katakan kalau ini bukan hanya sekedar mimpiku” gumamku lirih padanya, aku menatap lekat ke dalam matanya. Aku tidak mengedipkan mataku sama sekali, takut kalau aku melakukannya banyangannya akan hilang dari pandanganku, aku tidak ingin itu terjadi lagi.

 

Dia mengulurkan tangannya padaku, menyentuh lembut pipiku dengan tangan hangatnya. “Ini bukan mimpi Hyo Soo-ya, ini aku Donghae. Lee Donghae mu”

 

Kupeluk tubuhnya sekali lagi, mencium bau tubuhnya yang akan membuatku semakin yakin kalau dia adalah sebuah kenyataan. Dia mengulurkan tangannya dan mengarahkannya mengelus rambutku dengan lembut. Aku mendongak untuk melihat gurat-gurat wajahnya yang sangat aku rindukan selama empat tahun ini.

 

Kini kami berjalan di tepi pantai dengan kecanggungan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya dan juga bibirku. Yang ada hanyalah suara ombak yang saling berkejar-kejaran. Dan itu membuatku mengingat masa lalu kami yang sering bermain bersama dan saling berkejar-kejaran di pinggir pantai layaknya ombak.

 

“Mengapa kau tak datang??” Donghae oppa memecah kesunyian, dia menanyaiku.

 

Aku terdiam, berusaha mengumpulkan kata-kata untuk menjelaskan semua padanya. aku menghentikan langkahku, dia yang telah berjalan lebih dulu dariku menyadari ketertinggalkanku. Aku duduk di atas pasir pantai yang basah, dulu juga ini sering kami lakukan. Dia tampak menghapiriku dan duduk persis disebelah kananku. Aku menatap lekat kea rah matahari, sepertinya matahari akan segera tenggelam, terlihat dari cahaya keemasan yang terlukis indah di langit. Aku ingat, dulu dia sangat menyukai pemandangan ini dia tidak pernah ingin melewatkan pemandangan seperti ini meskipun hanya untuk sedetik. Tapi sekarang dapat kulihat dari ekor mataku, dia sama sekali tidak memandang pemandangan lukisan tuhan ini, melainkan sedang menatapku lekat.

 

Aku menolehkan kepalaku menghadapnya, dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku, dia mesih menetapku lekat. Menuntut jawaban akan pertanyaan yang tadi diajukannya. “Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi. Sesuatu yang membuat kehidupanku berubah 180 derajat. Sesuatu yang harus membuatku melupakan janji kita. Saat itu aku seakan tidak punya pilihan oppa, aku sangat merasa bersalah padamu tapi aku tidak pernah menyesalinya. Aku sanggup jika setelah ini kau akan menganggapku yeoja munafik ataupun yeoja yang tidak bisa menepati janji” kataku panjang lebar tanpa menatap kematanya.

 

“Apa yang sebenarnya telah terjadi Hyo Soo-ya..???” tanyanya penasaran. Siluet wajah kekhawatiran Nampak jelas dari ekspresi yang dibuatnya.

 

Aku mendengus nafas, tenggorokanku tercekat seakan aku tidak sanggup ingin menjawab pertanyaannya. “Appa meninggal, tepat saat kelulusanku” kataku, kurasakan tenggorokanku seperti terbakar ketika mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang tidak ingin aku ucapkan karena akan menggali luka lama yang sudah aku kubur dalam-dalam. mataku memanas, aku bisa merasakan cairan itu turun lagi. bahkan lebih leluasa dari sebelumnya meskipun aku sudah sekuat tenaga membuat bendungan di mataku agar merka tidak mengalir tapi percuma.

 

“Uljima…uljima Hyo Soo-ya.. uljima” gumamnya sambil membawa kepalaku bersandar di bahunya.

 

“Mianhae oppa, mianhae. Jongmal mianhae” aku bergumam di dalam dekapannya airmataku semakin deras bercampur dengan suara isakan yang kutimbulkan.

 

“Gwenchana…  arasso, uljima Hyo Soo-ya. Ada aku disini, harusnya aku yang minta maaf padamu. Harusnya dulu aku menyadari ada yang tidak beres darimu. Harusnya aku percaya kau tidak mungkin mengingkari janji kita tanpa alasan. Mianhae Hyo Soo-ya… Jongmal mianhae…” gumamnya sambil mengelus-elus rambutku dengan lembut. Tiba-tiba aku merasakan tetesan air hangat jatuh di kepalaku, dia menangis.

 

Aku melepaskan pelukan Donghae oppa padaku. “Reuni kecil macam apa ini?, kanapa ada airmata, harusnya yang keluar adalah senyuman bukan airmata” sahutku, aku menghapus airmataku dengan kasar. Dia memperhatikan gelagatku dan menghapus airmatanya juga.

 

Aku berdiri, dan dia pun melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. “Oppa mau balapan denganku kesana??” tantangku sambil menunjuk sebuah batu karang besar yang sering menjadi tujuan balapan kami.

 

Dia mengangguk. “siapa takut, hasilnya akan tetap sama. Pasti aku yang akan menang” jawabnya dengan penuh percaya diri.

 

Aku mendengus. “Kita lihat kali ini siapa yang akan menang” detik berikutnya aku sudah melangkahkan langkahku yang paling panjang dan cepat.

 

“Yaaa Hyo Soo-ya kau curang” teriaknya di belakangku kemudian dia memacu langkahnya di belakangku dan berusaha untuk menyamakan langkah kami. “Aku akan menangkapmu” sahutnya lagi.

 

************************************************************************

 

“Hyo Soo-ya, kau ingat dulu aku pernah melempar sandalmu ke laut” Tanya Donghae oppa isenga padaku di tengah kegiatan kami melukis di pasir pantai yang lembut.

 

“Tentu saja aku ingat” jawabku sambil terkekeh pelan.

 

“Lihat apa yang ku gambar. Ada yang bisa menebaknya??” Tanya Yeo Rin eonnie tiba-tiba padaku dan Donghae oppa.

 

Aku dan Donghae oppa mendekatkan jarak kami pada Yeo Rin eonnie agar dapat melihat lebih jelas apa yang dia gambar.

 

“Itu seperti burung merpati. Wah eonnie kau pintar sekali melukis meskipun melukis di pasir sekali pun” kataku dengan senyum yang merekah sambil mengamit lengan Yeo Rin eonnie, dia tersenyum ceria padaku.

 

“Tapi kenapa seperti ada yang terluka di kaki burung merpati itu?” Tanya Donghae oppa tiba-tiba, sepertinya dia memperhatikan dengan seksama setiap goresan yang dibuar Yeo Rin eonni. Yeo Rin eonnie hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis, tidak ada kata-kata yang di ucapkannya untuk menjawab pertanyaan Donghae oppa itu. Aku pun memperhatikan dengan seksama lukisan pasir Yeo Rin eonnie itu, mencari tahu apa yang di lihat oleh Donghae oppa, dan iya, aku melihatnya, aku melihat kaki burung merpati itu terluka.

 

“Itu tidak penting, aku hanya iseng membuatnya seperti itu” jawab Yeo Rin eonni sekenanya. Donghae oppa pun tak ingin ambil pusing dengan jawabannya, sedangkan aku masih memperhatikan lukisan Yeo Rin eonnie dengan seksama.

 

“Kenapa kau masih memperhatikannya Hyo Soo-ya” gumam Yeo Rin eonnie lagi, kemudian dia mengusap-usapkan kakinya ke lukisan pasir yan dibuatnya itu sehingga lukisan itu tidak berbentuk gambar lagi melaikan tak lain seperti gundukan pasir biasa.

 

“Kenapa dihapus?? Padahal itu tadi bagus sekali” protesku pada Yeo Rin eonnie dengan ekspresi heranku.

 

“Yasudah. Apa kalian tidak haus, aku sudah sangat haus. Kalian tunggu sini aku akan mengambilkan minuman untuk kalian” sahut Donghae oppa, aku dan Yeo RIn eonnie mengangguk mantap. Donghae oppa pun segera melangkahkan kakinya menjauhi kami untuk mengambilkan minuman.

 

Yeo Rin POV’s

 

Kulihat Hyo Soo sedang memain-mainkan airlaut dengan kakinya. Aku menatapnya lekat, melihat punggungnya dari belakang. Kuputuskan untuk menghampirinya yang sedang asyik bermain air.

 

Aku mendengus di sampingnya dan sepertinya dia menyadari keberadaanku karena dia segera menoleh kearahku. “Yeo RIn eonnie” sapanya sambil tersenyum tulus padaku.

 

Tidak ada yang salah dengan yeoja ini. dia begitu baik dan ramah padaku selama aku tinggal disini. apakah ini yang membuatnya sangat dirindukan oleh Donghae?? Aku bisa melihat ketulusan terpancar dari sorot matanya. Dia selalu menyunggingkan senyuman terbaiknya pada siapa pun dan membuat orang yang melihatnya merasa damai. tapi aku terpaksa, aku terpaksa harus membuatnya sedih. Aku sungguh tidak ingin melihat yeoja ini bersedih karena aku sendiri pun sedah menganggapnya seperti yeodongsaengku sendiri. Sudah seminggu ini dia terus menemaniku. Apa boleh buat kalau dengan menyakitinya aku tidak akan kehilangan Donghae, aku tidak bisa kehilangan Donghae. Aku akan melakukan apa pun yang aku bisa agar Donghae tidak meninggalkanku, apa pun itu karena aku tidak yakin aku bisa hidup tanpa Donghae di sampingku.

 

“Hyo Soo-ya” sapaku padanya.

 

“Ne..??” jawabnya dengan pandangan tepat kemataku. Sepertinya dia bisa membaca bahwa ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya.

 

“kulihat kau bahagia sekali. Kalian sudah bersama sejak kecilkan?? Aku sering mendengar cerita itu dari Donghae”  aku memulai pembicaraan.

 

Dia tampak tersenyum sebelum memulai bicara. “Ne eonnie, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Donghae oppa, aku tidak pernah menyangka dapat bertemu dengannya lagi. kami memang sudah terbiasa bersama sejak kecil” jawabnya masih dengan rona senyum di wajahnya. Aku jadi tidak tega melihat ekspresi itu. Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan bermaksud memberikan kekuatan pada diriku sendiri.

 

“Ne arasso. Aku juga tahu semua tentang janji kalian. Kalian berjanji untuk bertemu dua tahun yang lalu. Donghae selalu menunggumu, dia selalu mengharapkan kedatanganmu bahkan sampai terkhir kami berada di Jepang kemarin”

 

“Ne eonnie arasso. Aku sangat menyesal tentang itu” kali ini aku tidak melihat senyuman lagi dari wajahnya.

 

“Donghae sangat kehilanganmu, kau adalah kehidupannya Hyo Soo-ya. Dia sedih karena kau tidak bisa menapati janjimu itu, aku tahu betul keadaan Donghae saat itu, karena aku lah yang berada di sampingnya”

 

“Apa yang ingin eonnie bicarakan tentang Donghae oppa??”

 

“Donghae mencintaimu HYo Soo-ya, dia sangat terpuruk karena kau tidak datang. Selama dua tahun ini aku lah yang selalu hadir untuknya dan selalu ada disampingnya hingga dia dapat tersenyum lagi. aku adalah yeojachingunya, aku juga sangat mencintai Donghae layaknya Donghae yang sangat mencintaimu. Donghae sudah bisa menerima kehadiranku di dalam kehidupannya, dia juga sudah mulai bisa mencintaiku, dia bahagia bersamaku Hyo Soo-ya. Aku mohon dengan sangat padamu, mangalahlah demi Donghae” jelasku panjang lebar, aku tidak sanggup menatap ke dalam mata Hyo Soo. Aku takut aku akan kehilangan kekuatanku kalau aku memaksa untuk menatap kedalam matanya.

 

“Arasso eonnie. Aku memang sudah menyakiti Donghae oppa. Aku terima kalau aku harus mengalah demi kebahagiaannya, aku rela asal dia bahagia” jawab Hyo Soo setelah dia lama berdiam diri. Aku menangkap nada suaranya bergetar. “Tolong bahagiakan Donghae oppa untukku eonnie” sambung Hyo Soo, detik berikutnya aku bisa melihat dari ekor mataku dia melangkah pergi menjauhiku.

 

Aku berbalik menatap kepergian Hyo Soo. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh meninggalkanku. Apakah aku terlalu kejam? Tanpa sadar aku malah mengeluarkan airmataku. Aku sudah menyakiti seorang yeoja baik hati, karena aku sangat mencintai orang yang mencintainya. Hatiku sakit melihatnya mengeluarkan airmata, tapi jika aku tidak melakukannya maka hatikulah yang akan lebih sakit lagi. lagi-lagi aku tegaskan kalau aku tidak bisa tanpa DOnghae.

 

“Yeo Rin-ah dimana Hyo Soo? Kau menangis?” tiba-tiba Donghae sudah berdiri disampingku, entah sejak kapan dia ada disini. aku menolehkan pandanganku agar bisa melihat wajahnya, kulihat ekspresi heran terlukis dengan sempurna di wajahnya.

 

“Aku tidak menangis, hanya kelilipan. Tadi Hyo Soo bilang dia ada urusan, jadi dia pergi” jawabku sekenanya.

 

Donghae tampak mengangguk mengerti, “Kurasa Hyo Soo pulang ke rumahnya, aku akan menyusulnya” sahut Donghae lagi, kemudian dia segera berbalik hendak meninggalkanku namun sebelum dia sempat melangkah aku buru-buru menahan tangannya.

 

“Kau tidak perlu menyusulnya, sepertinya dia sedang sibuk” kataku pada Donghae, DOnghae tampak berpikir kemudian kembali mengangguk mengerti. Dia memperbaiki posisinya berdiri di sampingku. Apakah yang aku lakukan ini benar? Aku menerawang kembali pada saat aku dan Hyo Soo terlibat dalam suatu pembicaraan yang serius tadi.

 

To Be Continue…

*******************************************************************************************************

©2011 S3FFIndo

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

****************************************************************************

 

About azuhra

Hi... :) I'm just a little girl in a big world. I'm Indonesian. Nice to meet you all. I heart you all. Oh, i forget it, i'm moslem. and i'm not a terorist!!! there's no moslem is terorist. terorists aren't moslem. ^^

Posted on 10 Maret 2011, in AUTHOR, KATEGORI, Super Fanfiction, Yayang Fitria and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Jahat banget.. Donghae gak bisa tegas jg.. Harusnya diputusin aja tuh cwenya..

  2. oppa….. plin plan bgt sie…, yg tegas donk.

  3. Haepa gimana sih ?
    padahal kejar aja Hyo soo, ga usah peduliin yeo rin.
    huaa.. penasaran kelanjutannya.😀

  4. WAOWWWW !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: