[FF/1S/PG-15] I Regret for Anything

I Regret for Anything.

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast:

Kim Ryechul

Lee Jinki

Other Cast:

SHINee member

Halena Jun

Henry Lau

Rating: PG-15 (?)

Length: oneshoot

Genre: Romance, Sad Romance, Sad Ending (?)

A/N: ANNYEONG ALL~ ini adalah FF oneshoot kedua yang aku bikin selama aku hidup. Jujur, aku tidak pernah bisa membuat oneshoot karena imajinasiku yang sangat berlebihan selalu membuat fanfic bikinanku berakhir dengan part-part yang sangat banyak. Namun, setelah bertapa selama dua jam, aku memutuskan untuk mengontrol imajinasiku. Dan terjadilah FanFiction ini selama dua setengah jam. Banyak sekali rintangan yang kulewati seperti: nonton cinta fitri, nonton tentang uji nyali, nonton scary job, dan lainnya. Makanya, ini FF dibikin penuh perjuangan #authorcurhat *digampar readers* Jadi, ceritanya ini jalannya tuh kayak mengenang masa lalu, jadi banyak flashbacknya! Okay, cuman mau ngingetin aja! Jangan jadi pembaca yang tidak tertib yaa! RCL! Jangan lupa tuh RCL! Komentar kalian sangat kubutuhkan! Selamat membaca dan terima kasih sudah membaca  FanFiction ini! *senyum sumringah* Oh ya! Ini cerita rada ngikutin video clipnya Avenged Sevenfold yang Seize The Day yaa~ *author cinta mati sama avenged sevenfold*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kuhirup oksigen yang berada disekitarku. Dibawa oleh angin yang kencang dan menyejukan. Hamparan rumput yang hijau nan rapih, serta dilengkapi oleh bunga-bunga musim semi yang bermekaran. Bunyi gemercik air dari air terjun yang berada di tengah-tengah padang rumput ini, terdengar di telingaku. Kicauan burung, menjadi symphony tersendiri untuk hatiku. Langit biru tanpa awan, terlihat sangat cerah. Kulihat kupu-kupu terbang diatas padang rumput tersebut, bersamaan dengan capung yang selalu berdampingan dengan kupu-kupu itu. Layaknya sepasang kekasih yang selalu bersama. Entah mengapa, aku tersenyum melihat kedua makhluk tuhan tersebut. Sekuntum bunga mawar, terasa sangat indah dimataku. Kupetik setangkai untuk mencium harumnya. Tapi, hanya sakit yang kurasakan. Duri bunga mawar melukai buku-buku jariku. Kulihat setetes, dua tetes, tiga tetes darah yang keluar dari luka tersebut. Perih! Rasanya sangat perih! Seperti yang kurasakan sekarang.

Pemandangan musim semi tahun ini, masih sama dengan pemandangan musim semi tiga tahun yang lalu. Disaat aku pergi ke padang rumput ini bersama seorang gadis cantik jelita yang sudah menjadi kekasihku selama lima tahun terakhir. Kami sama-sama terbaring diatas rumput hijau yang masih mengandung embun tersebut. Gadis itu – padang rumput – langit biru – burung berkicau – dan segala macam pemandangan waktu itu terasa sangat indah dimataku. Terlebih gadis itu. Gadis berambut cokelat  tua dengan mata besar dan manik hitam yang sangat berkilau. Hidung tanpa cela, bibir tipis yang merah merona, dan kulitnya yang sangat putih terasa indah saat berkombinasi dengan alam. Senyumnya, merupakan pemacu jantungku. Suaranya sudah menjadi penenang hatiku. Ia seperti heroin untukku. Sekali mencobanya, akan terjerumus kedalamnya. Semakin lama, semakin berusaha untuk mendekat kearahnya. Dan kau akan melakukan apapun sekedar untuk mendapatkannya. Bila sudah mendapatkannya, hatimu akan bahagia. Bagaikan dibawa ke langit biru dan tidak turun-turun lagi. Hal tersebut terjadi kepadaku. Saat pertama kali kulihat gadis itu, aku langsung mencintainya walaupun aku tidak tahu namanya. Semakin lama, rasa penasaranku sangat besar. Mengalahkan harga diriku sendiri. Kulakukan apapun untuk bisa berkenalan dengannya. Dan saat aku mendapatkannya, aku merasakan betapa bahagianya aku bisa mendapatkan seseorang seperti dia. Aku masih ingat keadaan saat itu. Kupandang mata hitamnya. Mencoba untuk mengatakan apa yang berada dipikiranku.

*** flashback ***

“Ryechul-ah. Saranghae.” Aku bangkit dari posisi tidurku menjadi duduk.

“Nado saranghae, Jinki oppa.” Ujarnya seraya memejamkan matanya sambil tersenyum.

Aku memetik sekuntum bunga mawar dihamparan padang rumput bercampur bunga tersebut. Kuhirup wangi akan bunga yang cantik jelita itu. Kugoncangkan tubuh seorang yeoja didepanku. Berharap dia membuka matanya dan tersenyum kepadaku. Dan hal itu terjadi. Ia memandangku dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Manis. Rasanya sangat manis melihat senyumnya itu. Padahal, aku hanya memandangnya. Tidak merasakan rasa bibir yeoja tersebut. Aku menghormatinya sebagai perempuan. Aku tidak akan pernah mencoba untuk menggoyahkan prinsip hidupnya. Karena, aku yakin. Suatu saat dia akan menjadi milikku seutuhnya. Tidak ada yang bisa merebutnya dari sisiku kecuali tuhan. Ya, kecuali tuhan. Kita semua adalah milik tuhan. Orang tua hanyalah dititipkan oleh tuhan untuk menjaga kita sebaik-baiknya.

“Mm? Ada apa oppa mengguncang-guncangkan tubuhku?”

“Ini.” Kuberikan sekuntum bunga tersebut kepada yeoja yang tidak lain adalah yeojachingu-ku.

“Oppa? Tadi malam makan apa, eh?” ucapnya seraya bangkit dari posisi tidurnya.

“Mm? Makan apa? Aku hanya makan tart buatanmu, jagi.”

“Mungkinkah aku memasukan rum dengan takaran yang salah?” Tiba-tiba ia tertawa.

Aku hanya bisa tersenyum lebar saat mendengar tawanya. Hal itu merupakan bagian dari keseharian hidupku. Rasanya, bila aku tidak mendengar tawa atau suaranya sehari saja, aku sudah gelisah. Ya, aku kecanduan dengan hangatnya tawa yang dikeluarkan dari yeoja itu. Seperti heroin yang sangat membuat seseorang tidak bisa lepas dari hal tersebut bila sudah kecanduan dengan barang laknat tersebut. Dan aku kecanduan oleh heroin tersebut. Namun, heroin itu bukanlah semacam bubuk atau cairan. Tapi, berbentuk seorang gadis. Gadis yang bernama Kim Ryechul itu telah merengut separuh jiwaku.

“Oppa,” ucapnya disela tawanya, “– mengapa bisa jadi romantis seperti ini sih? Bukan dirimu!”

“Aish~ jangan berkata seperti itu. Aku juga tidak tahu mengapa bisa seperti ini.”

Tiba-tiba, yeoja itu bangkit dari duduknya dan berdiri menatap air terjun yang airnya membentuk tujuh warna yang sangat indah bila dipadukan dengan cahaya matahari tersebut.

“SARANGHAE LEE JINKI OPPA!” Ucapnya seraya merentangkan tangan.

Aku terkejut mendengarnya. Namun, akupun membalasnya, “NADO SARANGHAE KIM RYECHUL!”

Tawanya terdengar kembali di telingaku, “Haha, Lee Jinki! Kau sangat lucu!”

“Hahaha! Kau juga begitu, Ryechul-ah!” Ucapku sambil memeluknya.

“Aah! Jinki, jangan memelukku seperti ituu! Geli~”

“Yasudah aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Ujarku sambil melepaskan pelukanku kepadanya, “– tapi aku ingin kita serius.”

“Mm. Apa yang ingin kau bicarakan, oppa?”

Aku menghela nafas panjang. Belum pernah aku merasakan ketegangan seperti ini. Aku memang sering merasakan gugup. Namun, kegugupan itu tidak seperti kegugupan seperti sekarang. Kegugupan yang paling parah yang pernah kualamin adalah kegugupan akibat gadis ini. Pertama kali saat aku melihat matanya. Kedua saat aku mencoba untuk mengajaknya kenalan. Ketiga, saat aku mencoba untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Kegugupan itu membuatku ingin pergi ke toilet. Namun, bila sudah berada di toilet, aku tidak akan melakukan apa-apa. Gadis ini memang membuatku gila. Dan kegugupan yang sekarang adalah puncak dari kegugupan yang pernah kurasakan.

“Rye-ah,” ucapku seraya menelan ludahku dalam-dalam, “– saranghae … tunggu! Jangan potong dulu kata-kataku.” Ucapku panik saat aku melihat yeoja itu membuka mulutnya.

Ia hanya terdiam sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Aku ingin mengatakan bahwa … aduh aku sakit perut … aah, melilit … aduh!”

“Oppaaa, katakan dengan jelaaas!” ucapnya manja kepadaku.

“Okay,” aku menarik nafas dalam-dalam. Dalam posisi setengah duduk dan setengah berdiri, aku menyodorkan kotak biru yang berisikan cincin berlian, “– Kim Ryechul, would you be my wife? Marry me.”

“ ……………………………………………… “

“Aku menunggu jawabanmu, Kim Ryechul.”

Dia hanya menangis.

“Yeojachingu-ku, kenapa kau menangis?”

Dia hanya diam saja.

“Rye-ah, tidak apa kalau kau tidak mau menerima lamaranku.”

Ia membuka matanya, dalam satu hentakan, ia menghapus air matanya, “I.. do Lee Jinki! I do..”

Ia memelukku sangat erat sampai aku merasa tidak bisa bernafas. Namun, kutahan perasaan tersebut karena aku tidak ingin mengecewakan yeoja yang sekarang sudah menjadi tunanganku itu. Dengan cepat, ia menarik tanganku dan berlari kearah mobilku yang terparkir rapi di jalanan diluar padang rumput yang berada didalam hutan ini. Seketika itu juga, ia menyuruhku untuk memberitahukan kepada omma dan appa-nya karena aku sudah melamarnya dan dia setuju untuk menikah denganku. Betapa bahagianya diriku saat aku mendengar dengan telingaku sendiri bahwa omma dan appa sangat merestui hubungan kami berdua. Begitupula dengan dirinya. Alhasil, pada 23 September 2008, kami resmi menikah dengan dinikahkan oleh seorang pastur di gereja katredal disekitar daerah rumah kami. Kamipun hidup bersama sampai kejadian yang mengenaskan itu terjadi.

***

Aku mengulum bibirnya yang tipis dan mungil itu. Rasanya sangat manis dan lembut. Kupeluk dirinya sebagaimana aku memeluk bonekaku saat aku masih kecil. Yaa, aku memang bermain boneka. Namun, aku tidak menindih perutnya karena ia sedang mengandung anak kami yang sedang jalan enam bulan. Aku, dia, keluarga kami, semua teman-teman kami memang sedang menunggu kehadiran peri kecil tersebut. Dokter sudah memprediksikan bahwa anak kami perempuan. Hal itu membuat kami berdua sangat bahagia dan sebisa mungkin menjaga baik-baik janin yang dikandung  oleh istriku itu sekarang. Kuelus rambutnya yang indah sambil terus mengulum bibirnya itu. Aku sangat sayang kepada istri dan calon anakku itu. Sementara aku melakukan beberapa aktivitas tersebut, ia memegang sebuah handycam yang memang sudah menjadi perekam sejarah kami berdua. Segala kegiatan menarik kami tidak pernah tidak terekam oleh kamera itu. Bahkan, saat kami berenang pun direkam oleh kamera tersebut walaupun diabadikan melewati tangan Jonghyun, salah satu temanku.

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Secara otomatis aktivitas kami yang dilakukan di ruang TV itu tertunda sebentar karena tidak sopan bila kami berada didalam rumah tapi tidak membukakan pintu. Karena aku tidak akan pernah mengijinkan istriku membukakan pintu karena takut hadirnya penjahat, aku beranjak membukakan pintu yang tidak jauh dari ruangan tempat kami bercumbu tersebut. Kulihat dari lobang pengintip. Ah! Ternyata hanya sahabat-sahabat lamaku. Sahabat-sahabatku ini bisa dibilang lebih berharga daripada apapun di dunia ini nomer dua setelah Ryechul-ku yang sangat kusayang, dengan antusias, kubuka pintu rumahku dengan lebar. Disana, empat orang sahabatku berdiri dengan gagah dalam balutan pakaian serba hitam sambil tersenyum. Oh dear, jangan bilang mereka…

“Onew hyung! Apa kabar?” Kata laki-laki yang paling depan yang tidak lain adalah Minho.

“Hyungnie! Aku rindu padamu~” Taemin tiba-tiba memelukku dari balik tubuh Minho.

“Annyeong Ryechul-ah.” Sapa Jonghyun kepada istriku yang seenaknya saja masuk kedalam rumah.

“Waah, sudah berapa nuna mengandung?” Key bertanya kepada istriku.

Suasana tersebut menjadi sangat ramai dan sangat nyaman. Aku bertemu dengan teman-temanku itu, istriku juga sangat hangat saat menyambut mereka semua. Begitupula sebaliknya. Semua teman-temanku itu sangat ramah kepada Ryechul. Kenyataan itu membuat diriku mengalami kepuasan batin tersendiri. Namun, ada yang aneh. Entah mengapa aku merasa kunjungan mereka kesini mempunyai maksud yang lain. Dengan pakaian mereka yang serba hitam itu dan Minho yang selalu berada disampingku disetiap saat. Aku tahu apa yang ingin ia bicarakan. Jadi, sebisa mungkin aku menghindari laki-laki yang lebih muda beberapa tahun dariku itu. Namun, tuhan sedang tidak memihak kepada diriku. Pada suatu kesempatan, saat aku sedang membuatkan mereka kopi dan ditemani oleh Jonghyun, tiba-tiba Minho muncul dan Jonghyun menghilang entah kemana.

“Hyungnie, aku tahu kau sudah tahu maksud kedatangan kami sekarang apa.”

“Mm. Aku tahu benar, Minho. Namun, tolong jangan melakukan ini kepadaku.”

“Tapi hal ini harus dilakukan, hyung.”

“Tidak. Itu perbuatan yang salah! Aku sudah muak hidup dengan cara seperti itu.”

“Demi tuhan! Lihatlah dirimu, hyung! Kau hidup dengan istrimu dengan cara apa?”

Aku hanya terdiam.

“Mencuri kan? Istrimu juga tahu bahwa kau dulu seorang pencuri! Sudahlah, tidak usah ditutupi seperti itu.”

“Tapi… aku tidak bisa meninggalkan istriku sendirian.”

“Kau bisa, hyung. Jadi, katakan padanya sekarang bahwa kau harus pergi dengan kami sekarang.”

Aku dipenuhi rasa bimbang. Otakku mengatakan bahwa aku harus melakukan hal laknat tersebut karena aku hidup karena hal itu. Tapi, hati kecilku berkata bahwa aku harus berhenti melakukan itu karena sekarang aku sudah mempunyai istri dan akan mempunyai seorang anak. Aku juga sudah mendapat pekerjaan tetap. Namun, aku tidak ingin melukai sahabat-sahabatku juga. Pasti seseorang diantara kami sekarang ada yang membutuhkan uang. Jadi, kami terpaksa melakukan hal ini lagi. Dulu, saat aku juga membutuhkan uang, aku juga mengajak mereka untuk mencuri beberapa toko di Seoul. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan? Sekarang, rasanya aku disuruh memilih antara sahabatku atau istriku. Tuhan? Mengapa kau melakukan hal ini kepadaku?

Aku berfikir sejenak. Berharap aku bisa menemukan jawaban yang tepat untuk hal ini. Setelah melewati beberapa pertimbangan dan karena risih dilihat oleh Minho dengan sangat tajam karena ia menunggu keputusanku, aku membuka mataku dan mengangguk kearah dongsaeng-ku itu. Terlihat senyum puas yang tersungging di bibirnya. Aku berjalan melewati anak itu dan menghampiri istriku yang sedang bermain dengan handycam dan Jonghyun itu. Rasanya, sangat berat untuk memberitahu istriku itu. Sadar akan keadaanku, Jjong langsung menyingkir dari sofa yang ia duduki dan bergabung bersama teman-temanku yang lain.

“Yeobo, maafkan aku. Aku harus pergi.”

“Pergi kemana? Jangan bilang… tidak! Kau tidak boleh melakukan itu!”

“Aku harus, Ryechul.” Kulihat ada air mata yang mengalir dari sudut matanya.

“Tidak! Kau sudah janji! Tidak boleh!” Ucapnya seraya menarik tanganku agar tidak pergi.

“Tidak bisa, Ryechul. Tidak bisa.” Ujarku sambil terus berlalu dan tidak memperdulikan istriku yang hampir jatuh itu.

Akhirnya, aku pergi bersama teman-temanku. Taemin bilang kepadaku bahwa istriku menangis sangat kencang. Aku sendiri tahu akan hal itu. Istriku memang akan selalu menangis bila aku tidak mengikuti perintahnya. Namun, aku tidak ingin berbalik untuk memeluknya. Akan sulit untuk melepasnya bila aku sudah memeluknya. Aku juga tidak ingin menunggu lebih lama lagi karena Minho sudah menatap tajam mataku. Ah! Laki-laki itu. Dia lebih muda daripadaku namun kharismanya melebihi diriku. Mungkin itu yang menyebabkan aku sungkan dengannya. Dan ternyata, yang membutuhkan uang kali ini adalah Key. Ibunya sedang sakit parah dan sekarang sedang dalam keadaan koma. Kakak dan adik Key sendiri sedang berada di luar kota dan mereka akan sampai ke Seoul kira-kira tiga hari lagi. Sementara, pembayaran rumah sakit harus dilakukan besok. Dia sudah putus asa dan akhirnya meminta teman-temannya termasuk aku untuk membantunya mencari uang. Kasihan sekali sahabatku ini.

Mobil yang dikemudikan oleh Jonghyun berhenti dibelakang sebuah bank. Ternyata, incaran kami kali ini adalah bank tersebut. Kami semua bersiap-siap untuk merampuk bank itu. Masker hitam, jaket anti peluru, tongkat baseball, pistol, celurit, dan alat-alat untuk menodong lainnya sudah dibawa. Sekarang, saatnya melakukan perampokan ini. Tuhan, maafkan aku telah berbuat seperti ini. Maafkan aku karena aku telah mencampakan istriku sendiri. Tolong jaga istriku apabila terjadi sesuatu kepadaku. Tolong jaga dia dan calon anakku, tuhan. Tanpa sadar, tenyata teman-temanku sudah keluar dari mobil sementara aku masih saja berdoa. Kususul teman-temanku itu dan segera berlari kedalam bank tersebut. Jonghyun berdiri di tengah-tengah bank ramai itu sambil mengangkat pistolnya keatas dan menembakkan peluru ukuran 0.5 cm itu ke lampu kristal yang tergantung diatas langit-langit gedung tersebut. Sementara Minho dan Key menodong para teller menggunakan pisau. Aku dan Taemin menahan dua satpam yang sedang bekerja menggunaka tongkat baseball dan celurit. Dalam sekejap, suasana menjadi ramai dan banyak sekali yang berteriak minta tolong, minta ampun, dan lain-lainnya.

“Berikan semua yang kalian punya! Lemparkan semuanya kedepan kakiku!” Teriak Jonghyun.

“Berikan semua uang yang ada didalam bank ini! Cepat atau kau akan kubunuh!” Ucap Minho.

“Cepat! Dasar wanita jalang! Bekerja saja tidak becus.” Tambah Key.

Aku dan Taemin hanya bisa terdiam. Laki-laki yang paling kecil diantara kami itu hanya bisa melihat tegang kearah teman-teman kami yang sedang beraksi itu. Aku mengerti apa yang dipikirkan Taemin sekarang. Ia sedang memikirkan nasip kami karena dia memang seseorang yang berhati lembut. Ia juga sering sekali memandang sekilas kearahku. Dan aku tahu apa yang ia fikirkan. Ia memikirkan nasipku dan istriku serta calon bayiku apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Benar saja! Satu unit mobil polisi datang kedepan bank tersebut dan segera mengeluarkan pistol kearah Jonghyun. Kami berlima kabur dengan mendekap hasil perampokan kami melewati pintu belakang karena mobil yang kami parkir berada di belakang gedung tersebut. Berhubung aku yang paling diluar menjaga sang satpam itu, otomatis urutanku sekarang berada dibelakang mereka. Namun, kecepatan lariku tetap saja tidak bisa dikalahkan oleh polisipolisi tersebut.

Setelah sampai mobil, aku dan teman-temanku langsung melempar barang curian kami itu dan segera naik mobil. Jonghyun sudah menyalakan mesin mobil tersebut dan menjalankannya padahal setengah badanku masih berada di luar mobil. Dalam kecepatan mobil yang masih lambat itu, polisi berhasil menangkapku dan menghentakkan tubuhku yang bidang kearah aspal dengan sangat keras. Mobil yang dikendarai Jonghyun jalan begitu saja meninggalkanku. Aku tahu, mereka tidak ada maksud untuk meninggalkanku. Tapi, aku memang menyuruh mereka untuk jalan saja daripada kami semua tertangkap oleh polisi-polisi sialan ini. Mereka melepas masker hitamku dengan cara yang sangat memaksa. Namun, akhirnya masker itu terbuka juga. Alhasil, wajahku terlihat oleh mereka. Beberapa wartawan segera mengerubutiku dan sang polisi. Ini siaran langsung! Apakah istiku melihat bahwa suaminya sudah ditangkap oleh pihak yang berwajib?

– Di lain tempat… + Ryechul’s POV –

Aku sangat gelisah. Aku tidak bisa tenang. Pikiranku dihantui akan apa yang akan terjadi dengan suamiku, Jinki. Aku khawatir dia akan ditangkap polisi bila memang nasipnya sendang tidak beruntung. Aku sangat takut. ‘Tuhan, tolong lindungi Jinki-ku. Aku tidak ingin ia menderita, tuhan. Aku berjanji atas namamu, aku akan melakukan apa saja asalkan kau menyelamatkan suamiku dan aku akan melarangnya berbuat laknat seperti ini lagi, tuhan. Tolong aku. Aku tidak ingin saat anakku lahir tidak ada ayahnya disampingnya. Ini adalah titipanmu yang berharga, tuhan! Aku tidak ingin mengecewakanmu.’ Ucapku dalam hati sambil berderai air mata. Aku hanya bisa berharap tuhan mendengarkan apa yang kuinginkan. Namun, sepertinya ia berkata lain. Takdir sudah menentukannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat aku melihat breaking news di TV-ku.

“… Dengan nama Lee Jinki. Ia ditangkap karena mencoba untuk membobol bank Seoul bersama ke-empat teman-temannya. Walaupun sisanya tidak tertangkap, laki-laki ini sudah diamankan oleh pihak kepolisian.” Oh tidak! Sialan!, “– beritkut adalah wajah dari penjahat tersebut.”

Kulihat wajah suamiku yang tengah di borgol di lokasi kejadian. Semenjak aku mendengarkan wartawan berbicara, aku selalu berharap bahwa itu bukanlah salah satu dari kawanan suamiku. Walaupun namanya ada yang sama dengan suamiku. Tapi, ternyata memang benar. Suamiku sekarang sudah berada didalam mobil polisi. Aku tidak bisa menerima semua ini. Tidak bisa! Seharusnya tadi tidak kuijinkan suamiku itu pergi bersama mereka! Sialan! Sialan! Apa yang harus kulakukan sekarang? Tanpa pikir panjang, aku mengambil kunci mobil yang berada di atas meja makan dan segera berlari ke garasi. Menghidupkan mobil dan menyetir menuju penjara.

– Di penjara… + Jinki’s POV –

Aku digiring kearah ruangan untuk mengganti bajuku menjadi baju tahanan seperti binatang. Tubuhku diseret-seret melalui jalanan sempit yang kedua sisinya terdapat banyak sel-sel penjara calon tempat tinggalku selama tiga tahun kedepan. Ya, hukumanku adalah dipenjara tiga tahun. Syukurlah aku tidak perlu berlama-lama disini. Namun, bagaimana nasib istriku? Bagaimana kelahiran anakku kelak? Tuhan! Mengapa kau melakukan hal ini kepadaku? Para tahanan melemparkan pandangan ‘rasakan-itu-pecundang’ kepadaku. Beberapa ada yang menyorakiku bahkan meludahiku. Aku hanya bisa pasrah sekarang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa disini. Apakah Ryechul sudah mendengar tentang kabarku? Kuharap belum. Dan sebenarnya, aku berharap dia tidak akan tahu.

“Ini sel-mu, Jinki.” Ujar seorang polisi yang menggiringku semenjak aku mengganti bajuku.

“Mm.”

Aku berada di sel ini bersama seseorang yang tidak lain adalah penjahat yang menyebarkan narkoba secara ilegal. Namanya Deriano Christivarco. Pria asal Amerika yang sedang mampir di Korea dan tertangkap di Korea juga. Laki-laki ini mempunyai kumis yang sangat tebal, mata yang besar dan tajam, badan yang besar layaknya preman, dan suara yang berat. Namun, pria ini sangat bersahabat. Dia tidak mencacimakikan aku seperti yang lain. Malahan, ia bertanya mengapa aku bisa masuk kedalam sel ini, menanyakan istriku, dan lainnya. Syukurlah tuhan masih sayang kepadaku karena memberikan teman satu sel seperti ini. Namun, hal itu harus ditunda sebentar karena salah satu penjaga sel memanggilku untuk keluar karena ada yang mau berbicara kepadaku. Taemin? Minho? Jjong? Key? Atau mungkin Ryechul kah? Kita lihat nanti.

“Dasar babo! Sudah kukatakan tidak usah ikut dengan mereka!”

“Minhae, yeobo. Aku tidak bisa membiarkan mereka bekerja sendirian.”

“Tapi kau yang kena! Sekarang bagaimana rencanamu?”

“Aku tidak tahu… minhae.”

“You’re so FOOL!”

“Aghr! Yeobo! Tunggu!”

Ia berlalu saja dariku. Tidak mempedulikan teriakanku. Kami memang berbicara dengan dibatasi oleh sekat dan dihubungi oleh telfon. Telfon itu dibanting olehnya dan seketika ia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah luar tanpa melihatku lagi. Perih! Rasanya sangat perih! Aku tidak bisa memayangkan bagaimana rasanya menjadi istriku itu. Ini memang salahku! Semuanya salahku! Dasar babo! Apa yang kau lakukan? Kau melukai hati istrimu juga calon anakmu! Dasar bodoh! Ucapku dalam hati sambil menampar pipiku sendiri. Tidak peduli dengan darah yang kian menetes dari sudut kanan bibirku. Aku tidak peduli. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakan istriku. Aku menangis untuk diriku sendiri. Aku menangis untuk istriku dan calon anakku. Aku menangis karena aku menyesal. I Regret fo Anything. Minhae… yeobo. Minhae….

Ryechul’s POV

Sh*t! Apa yang aku lakukan tadi?! Aku pasti membuat suamiku menangis tadi. Namun, aku tidak bisa menghadapinya dengan tenang-tenang saja. Aku sudah cukup sabar selama ini. Aku tidak menentangnya apabila dia mau pergi karena pekerjaan laknat itu. Namun, sekarang aku mempunyai janjin didalam perutku. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa ayahnya. Dasar babo! Apa yang dia lakukan, ha? Menghancurkan hidupku dan anaknya sendiri. Apa maunya? Sebisa mungkin, kutahan tangisku. Aku tidak mungkin menyetir dalam keadaan mata yang berbayang-bayang akan air mata. Aku hanya bisa mengatur nafasku sedemikian rupa agar aku bisa meredam emosi yang sedaritadi membuat diriku gila!

Mobilku meluncur dengan mulus sepulang dari penjara. Pikiranku sibuk akan apa yang harus kulakukan untuk tiga tahun kedepan. Hidup sendirian bersama seorang anak yang baru saja lahir. Pasti aku terbayang-bayang akan suamiku itu. Aku sangat sayang kepadanya. Namun, hukuman tetap hukuman. Tiga tahun penjara itu sudah ditentukan dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kuelus pelan perutku. Maafkan eomma, nak. Minhae.. Aku kembali konsentrasi kepada jalanan didepanku. Namun, tidak bisa. Pikiranku tetap kepada ekspresi wajah Jinki saat ia mengaku ia bersalah. Aku tidak tega melihatnya. Karena aku asyik sendiri dengan lamunanku, aku tidak menyadari ada sesorot cahaya dari arah kiri yang menyinari mobilku. Sebuah truk tiba-tiba saja menghantam mobilku. Dalam otakku, yang kupikirkan hanyalah Jinki. Hanya Jinki. Dan setelah itu, aku hanya merasakan sakit yang luar biasa. Dan semua itu hilang sekejap. Aku tidak merasakan apa-apa pagi. Aku hanya bisa menatap jasad-ku yang terbaring lemah  didalam mobil yang sudah tidak berbentuk lagi. Maafkan aku Jinki, maafkan aku calon bayiku…

Jinki’s POV

“Ryechul!! SARANGHAE RYECHUL! AGHRR!”

“Tenanglah, Jinki. Aku tahu kau sangat sedih.” Ucap Deriano seraya menahanku untuk melukai diriku sendiri dengan sel yang kawatnya mencuat.

“Opsir! Tolong biarkan aku melihat istriku untuk terakhir kalinya!” Ucapku kepada sang penjaga penjara tersebut.

“Dasar cengeng! Kau anak baru jangan belagu disini.” Ucap salah satu tahanan sambil meludah kearah selku.

“Sudah-sudah. Sekarang kau tenang saja dulu, Jinki.”

Aku tidak bisa tenang! Bagaimana bisa aku tenang bila aku kehilangan istri sekaligus anakku? Dunia ini gila! Aku ingin mati saja! Aku tahu kejadian ini karena kehadiran Jonghyun yang menengokiku tadi pagi. Ia menceritakannya kepadaku dengan nada yang sangat cemas. Jonghyun memang orang yang paling mengerti keadaanku. Ia adalah satu-satunya yang menentang rencana kami saat ingin merampok tempo hari itu. Ia mengkhawatirkan keadaan Ryechul karena Ryechul adalah saudaranya. Dan sekarang, saudaranya sudah hilang. Saudaranya adalah istriku. Seketika itu juga, aku histeris. Rasa perasaan bersalah menghujami tubuhku. Aku memang bodoh! Apa yang kulakukan kepada istri dan calon anakku itu sangatlah tidak masuk akal. Aku ingin menyusul istriku. Tapi, berkali-kali aku ditahan oleh Deriano. Aku ingin melihat pemakaman istriku, tapi aku tidak boleh keluar dari sel yang dijaga opsir sialan itu. Aku sangat frustasi karenanya. Tuhan, apakah aku bisa mengulang waktu untuk membahagiakan istriku di detik-detik akhir kematiannya? Dan aku sendiri sudah tau jawabannya tidak.

“Deri hyung, aku mencintai istriku.” Ucapku dengan terisak-isak sambil mendekap foto istriku itu.

“Aku tahu. Aku sangat tahu kau mencintainya.”

“Apa yang harus kulakukan, hyung?”

“Tidak ada. Tidak ada yang bisa kau lakukan selama kau berada didalam penjara ini.”

Aku terdiam. Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Aku tidak bisa berfikir apa-apa. Aku hanya ingin mati detik ini juga. Namun, tuhan memang tidak mengijinkan diriku untuk mati. Mungkin ini adalah akibat aku telah mengingkari janjiku kepada diriku sendiri agar membahagiakan istriku. Dan aku mengingkarinya. Aku sangat menyesal. Aku sangat menyesal akan hal itu. Seorang Lee Jinki telah melakukan kesalahan terbesar didalam hidupnya. “Saranghaeyo, Ryechul-ah.” Ucapku seperti berbisik seraya memandangi foto istriku itu.

– Di pemakaman + Jonghyun’s POV –

“Ryechul-ssi adalah orang yang baik. Semasa hidupnya, ia selalu berbakti kepada orang tuanya …”

Dihadapanku sekarang, terdapat peti mati berwarna putih yang tidak lain adalah peti mati saudaraku, Kim Ryechul. Aku merasakan kehilangan yang luar biasa. Mataku dilingkari oleh nuansa hitam pekat. Hanya yeojachingu-ku, Halena Jun yang senantiasa menungguiku dari tadi malam saat aku mengurus jenazah dongsaeng-ku itu. Hanya dia yang bisa menenangiku saat aku mengetahui bahwa saudariku itu meninggal, saat aku memberitahu Jinki bahwa istrinya meninggal, saat aku memberitahu eomma, appa, dan nuna bahwa Rye sudah tidak ada di dunia ini. Hanya Helen yang menenangi hatiku. Namun, kenyataan Ryechul sudah tidak ada tetap saja membuat diriku gusar. Helen sedaritadi tidak beranjak dari lengan kananku. Begitupula dengan Henry, kakak Helen yang hanya berdiri menahan tangis melihat peti mati putih itu masuk kedalam liang kubur yang isinya tidak lain adalah jasad mantan yeojachingu-nya. Terlihat raut wajah bersalah yang sangat mendalam dari wajah calon kakak iparku itu. Helen bercerita bahwa kakaknya itu sangat menyesal dulu mengakhiri hubungan mereka berdua hanya karena Jinki. Padahal, Henry tahu bahwa ia akan bisa membahagiakan Ryechul lebih baik daripada Jinki.

“Oppa, berhentilah menangis. Aku tahu kau sangat menyayangi Ryechul-ah. Begitupula dengan aku.”

“Gomawo, jagi. Tapi aku tidak bisa berhenti menangis.”

“Oppa, lihat mataku.”

Aku melihat kedalam manik emas cair yeoja itu.

“Tidak ada yang abadi,” ujarnya sambil tersenyum, “– kita juga suatu saat akan berpisah, oppa.”

Aku tersadar karena ucapan yeojachingu-ku itu. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Segera kutarik tubuh mungil yeoja itu kedalam pelukanku. Kudekap erat-erat Helen karena aku takut dia akan menghilang dari hidupku. Hanya dirinya yang menjadi penyemangat hidupku sekarang. Hanya dia. Kusunggingkan senyuman yang masih dihiasi oleh ekspresi sendu kepada yeoja itu. Ia mencium sekilas bibirku dan kembali menatap kearah Ryechul. Begitupula dengan diriku. Mentapa kepergian adik kandungku yang sangat kusayang itu. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan membiarkan Jinki ikut kedalam misi yang kami jalani. Selamat jalan, adikku. Tuhan memberkatimu. Sampaikan salamku untuk Taemin….

*** end of flashback + Jinki’s POV ***

Tanpa sadar, air mataku jatuh ke atas sebuah batu pualam hitam. Terlihat goresan pahatan yang dibuat oleh sang pembuat nisan diatas batu tersebut. Bertuliskan nama seseorang yang sangat kucintai. Orang yang sangat kusayangi. Orang yang telah menjadi segalanya dalam hidupku. Orang yang telah mengubah cara pandang didalam hidupku. Orang yang telah membuat diriku berubah menjadi lebih baik. Orang yang menggajariku akan cinta kepada alam. Orang yang membuat aku mempunyai agama. Orang yang selalu disampingku. Orang yang selalu menjadi orang nomer satu didalam hidupku selamanya.

 

Putri, adik, sahabat, dan istri tercinta

Kim Ryechul

– 10 Januari 1986 –

– 10 Oktober 2008 –

Kuelus pelan kaligrafi yang berada diatas batu nisan tersebut. Nama istriku yang sangat cantik dan sangat sabar. Istriku yang selalu berada disampingku sampai akhir kematiannya. Istirahatlah dengan tenang, istriku. Kutaruh setangkai bunga mawar yang tadi kupetik. Berlumuran darahku yang terkena tajamnya duri mawar tersebut. Aku mengambil sebilah pisau yang berada dibalik jas hitamku. Dengan memegang kaset dari handycam yang dulu dipakai kami berdua, aku menusukan pisau tersebut kearah jantungku. Rasanya sakit. Namun, aku tidak akan pernah merasakan sakit ini sebentar lagi. Karena, aku akan menyusul Ryechul.

“Saranghaeyo, Ryechul-ah. Aku akan menyusulmu…”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nah! Selesai deh akhirnya! Bagaimana cerita FF ini? Jelek yaa? Minhae >-<! Maaf banget yaa kalau jelek! Nah, saatnya menjelma menjadi reader yang tertib! Komen kalian dibutuhkan banget loh buat tulisan aku! Tolong banget yaa! Dan makasih kalian udah baca FF ini *smirk* SARANGHAE Readers~

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 14 Maret 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. Gyaaaaa chachaaaa!! >//////< Deskripsinya juga pas banget, berasa ngeliat kejadian-kejadian itu beneran ;___;

    I like it, anyway ^^

  2. jinki jadi nyusul mati ya authour ?
    huaa.. sedih😦
    daebakk! lha pokonya ni ff.
    pas bgt, aku lagi pengen baca ff yg sedih2.

    • Raisa Widiastari

      aduuh, makasih yaa chingu udah baca FFku yang gaje super ini ^^
      iyaa, jinki ujung2nya nyusul ryechul karena dia merasa bersalah… hahaha, bagusdeh udah memuaskan reader.
      gomawo commentnya🙂

  3. huuuuuwwwaaaa!!
    jinki mati!!
    kenapa dibikin mati?
    trus ryechul kan blm melahirkan,bayinya ikut mati dong?
    ahhhhhh sedih!!
    bsk pasti mataku bengkak gara” nangis..
    nice ff author..
    pertama baca ff ini aku jadi keinget sama twilight..
    settingny sama penulisannya mengingatkanku pada edward and bella..
    hehehe..
    uia,salam kenal yah author..^^

    • Raisa Widiastari

      aduuh, gomawo chingu udah baca FF ini malem2~
      hmm, latar tempat padang rumputnya yaa? suer deh aku ngga ngikutin twilight! hahahaha
      aduuuh maaf yaa bikin nangis -_____-” *author bacanya juga nangis*
      Alasan aku bikin mati soalnya: cerita jinki kebanyakan sad ending :p
      Iyaa, bayi dalam kandungan Ryechul juga meninggal. kronis banget yaa😥
      salam kenal jugaa yaa😀

  4. itu taemin juga meninggal ya chingu?

  5. Kokx jjong blang krimkan salamku bwt taemin.. Mang minnie dah meninggl??

    Bru pernah bca SHINee jd rampok(?) bysanya jd polisi klu g’ detectif…
    Kren…
    Nice ff ^^

  6. Raisa Widiastari

    @Haru onnie: iyaa, minnie juga meninggal, keterangan lebih lanjut ada di FF ‘Life Isn’t Fair For Me Part 2 ‘ yaa🙂 btw thanks for read this FF :*

  7. wuaa bagus ><
    sukasuka^o^
    ohh taeminnie q sayang kau memang namja yang lembut….

  8. Huwee T.T
    auh ga bisa ngomong apa apa. .Huaa
    *lap ingus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: