[FF/PG-13/1S] Calumniation

Calumniation

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast

Kim Ryechul

Lee Jinki (Onew)

Kim Jonghyun

Kim Heechul

Rating: PG-13

Length: oneshoot

Genre: Sad, Friendship, Romance, Triangle Love, Sad Ending

A/N: Annyeong readers~ aku balik lagi nih dengan FF oneshoot yang dibikin penuh rintangan karena harus membagi waktu pandang dengan Inuyasha The Final Act -_______-“ tapi akhirnya selesai juga! Horaaay~ RCL jangan lupa yaa hehe. Terus, aku mau bilang kalo ini ceritanya dapet inspirasi dari Mvnya Zhang Li ying yang I Will sama Happiness Left Shore. Hehehe, enjoy all! RCLRCLRCL jangan lupa wkwkwk.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jinki’s POV

Sudah berkali-kali aku mendapatkan diriku terdiam kaku karenamu. Entah mengapa, bila aku tidak melihat wajahmu seharian, hatiku terasa sangat gelisah. Yaa, walaupun aku hanya bisa melihatmu dibalik tiang-tiang studio balet atau dibalik pintu. Bahkan, aku pernah melihatmu dibalik ventilasi udara. Pengorbanan itu memang harus dilakukan. Kalau tidak melihatmu, rasanya ada sesuatu yang kurang. Sebenarnya, aku tidak perlu bersembunyi untuk melihatmu. Karena, kita memang teman sepermainan sejak kecil bukan? Tapi, aku merasa sungkan bila kita hanya berdua. Aku bisa terdiam seribu bahasa bila kau tersenyum kepadaku. Maka dari itu, aku memilih untuk melihatmu secara diam-diam. Memang itu terdengar sangat menyeramkan. Bayangkan saja! Ada orang yang mengikutimu dan memperhatikanmu secara diam-diam. Oh tidak! Apakah sekarang aku sudah berubah profesi menjadi seorang penguntit?

Jujur, sejak kecil aku sangat mengidolakanmu. Sejak kecil aku sudah memperhatikanmu. Bahkan, sejak kecil aku sudah mati-matian menunjukan kepadamu bahwa aku sangat menyayangimu dan aku tidak ingin kau hilang dari hidupku. Namun, entah mengapa kau tidak pernah merespon semua yang kulakukan. Aku sudah melakukan segala hal untuk menarik perhatianmu. Tapi, tetap saja hatimu keras bagaikan intan. Apa yang harus kulakukan lagi? Apakah aku harus mengaku memecahkan vas bunga seperti dulu lagi?

– FLASHBACK –

Aku hanya duduk termenung melihat kegemulaianmu menari. Dengan balutan baju serba pputih itu, kau sangat cantik. Selendang putih yang kau mainkan terasa sangat cocok denganmu. Seakan, kalian mempunyai perasaan yang sama. Jari-jari lentikmu itu sangat indah untuk menarikan tarian tradisional Korea itu. Kau mempunyai segalanya. Wajah yang cantik, kegemulaian, kepintaran, kebaikan, dan kekayaan. Kau mempunyai semua hal itu. Namun, mengapa aku tidak pernah melihat kau mempunyai teman? Tapi aku tidak berani berbicara kepadamu sedikitpun karena aku memang tipe orang yang sangat mudah gugup didepan orang yang menarik perhatianku. Jadi, kuputuskan agar aku membantu dan menemanimu dari jauh saja. Kuputuskan untuk menghiburmu dari jauh. Seperti sekarang, aku melukiskan rupamu diatas sebuah kertas dengan pensil yang kutemukan di bangku taman tadi.

Ah! Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Tapi, di umurku yang masih sepuluh tahun ini rasanya terlalu cepat untuk merasakan cinta. Aku memang pernah merasakan cinta. Namun cinta itu hanya untuk ibuku yang sudah tidak ada. Hanya ibuku. Namun, ibuku sudah tidak ada semenjak umurku delapan tahun. Hidupku hampa semenjak ibuku meninggal. Tetapi, semenjak kau hadir dihadapanku, mengapa aku merasakan bahwa hidupku tidak akan hampa lagi? Apakah benar aku mencintaimu? Tapi bagaimana seorang anak dari budak sepertiku mencintai seorang putri bangsawan sepertimu?

Ya, memang benar aku adalah seorang anak budak. Ayahku adalah seorang kuli dan tukang sapu. Sementara aku adalah pelampiasan kekesalan ayahku. Bila ayahku sedang kesal, selalu aku dibuat menjadi bahan pelampiasannya. Memang rasanya sakit harus dipukuli setiap hari. Namun, aku tetap menyayangi ayahku. Aku tidak menyimpan dendam apapun kepadanya. Hanya saja, aku terkadang kesal. Tapi, itulah hidupku yang diberikan tuhan. Mau tak mau, aku harus menjalaninya dengan sabar. Toh pertolongan dari tuhan akan datang suatu saat nanti, kan? Bila tidak di dunia, kemungkinan besar di akhirat.

Kugoreskan granit yang terkandung didalam pensil itu diatas kertas putih membentuk wajahmu, tubuhmu, tanganmu dan kakimu itu. Gambarku belum sepenuhnya jadi. Namun, tiba-tiba saja Seung Ho dan Shin Hyuk datang kearahku dan segera merebut kertas putih tersebut. Diangkat tinggi-tinggi kertas itu sehingga aku tidak bisa mengambilnya. Mereka juga anak budak sepertiku. Namun, mereka lebih tua dua tahun daripadaku. Maka dari itu aku harus menghormatinya. Tapi, bagaimana aku bisa merebut kembali kertas itu?

“Hyung, kembalikan kertas itu!” bentakku kepada kedua tuyul didepanku itu.

“Aigoo, kau menggambar Ryechul-ssi lagi, eh?” jawab Seung Ho tidak memperdulikanku.

“Cuih!” Shin Hyuk meludahi kertas itu, “– berhentilah bermimpi, Jinki.”

Kemudian, mereka melempar kertas itu keatas tanah yang kering. Dan mereka pergi begitu saja tanpa meminta maaf! Bagus sekali! Aku menatap sedih kearah kertas yang berisikan goresan tanganku yang tadinya akan kuhadiahkan kepada Ryechul. Tapi, kertas itu sudah tidak mungkin diberikan kepadanya. Aku memutuskan untuk masuk kedalam rumahku dengan perasaan sangat sedih. Kutahan air mataku agar tidak jatuh sekarang. Aku takut kedua hyung-ku melihatku menangis dan mencacimaki-ku dengan sebutan cengeng. Sementara aku berjalan tertunduk kearah rumahku, aku tidak menyadari bahwa Ryechul mengambil kertas itu dan tersenyum kearahku.

– Author’s POV –

“Jahat sekali kau padanya, hyung! Kau tidak melihat ia tadi hampir menangis?” Seung Ho berkata kepada Shin Hyuk.

“Biarkan saja, habisnya dia bermimpi terlalu tinggi sih. Kan aku hanya membantu menyadarkannya.”

“Mm. Benar juga sih.”

“Yasudah ayuk kita main kejar-kejaran saja!”

Mereka beruda bermain kejar-kejaran di arena lorong dinasti kerajaan Korea ini. Mereka saling mengejar satu sama lain dan tidak sadar akan bahaya akan mereka dapatkan. Tidak sadar bahwa mereka akan melakukan suatu kesalahan besar. Mereka terlalu memikirkan kesenangan mereka saja. Dan tiiba-tiba, Seung Ho terdorong oleh Shin Hyuk dan memecahkan vas bunga putih yang menjadi salah satu hiasan di lorong tersebut. Suara yang ditimbulkan akibat vas itu sangat besar sehingga Jinki dan Ryechul datang kearah lorong tersebut. Beberapa menit kemudian, ayah Jinki datang.

“Siapa yang memecahkan vas ini?” Bentak ayah Jinki kepada mereka ber-empat.

“Dia! Dia yang memecahkannya.” Seung Ho dan Shin Hyuk menunjuk kearah Ryechul.

“Nona! Apa yang kau lakukan? Ini berbahaya!”

“Bukan Ryechul-ssi, ayah. Akulah yang melakukannya.” Ujar Jinki membela Ryechul padahal ia tdak bersalah.

Dalam satu hentakan, Jinki diseret kedalam rumahnya dan ditampar berkali-kali oleh ayahnya. Kakinya dipukul berkali-kali dengan cambuk hitam yang panas. Terlihat mimik kesakitan yang diperlihatkan oleh Jinki. Namun, laki-laki sepuluh tahun itu membiarkan dirinya kesakitan daripada melihat gadis yang dicintainya itu diberi hukuman walaupun hukumannya tidak separah yang ia dapatkan. Dan lagi-lagi ia tidak menyadari bahwa Ryechul mengintip dari balik pintu dan menangis saat melihat Jinki diperlakukan seperti binatang oleh ayahnya. Tapi, siapa sangka hal itu berhasil menarik perhatian Ryechul untuk menyapa Lee Jinki? Dan semenjak itu, mereka berdua berteman sangat akrab.

– FLASHBACKOFF + Jinki’s POV –

Karena terlalu asyik mengenang masa lalu, aku tidak sadar bahwa pegangan sapu hampir saja terlepas dari tanganku. Dan lamunanku buyar saat sapu tersebut terjatuh ke lantai. Seketika itu juga aku mengumpat dibalik tiang karena aku takut Ryechul menyadari keberadaanku semenjak tadi. Namun, apa yang kulakukan? Memangnya kenapa kalau dia tahu bahwa aku memperhatikannya? Toh aku dan dia sudah kenal sangat dekat. Oh tuhan, mengapa aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu? Sadarkan aku tuhan! Sebelum aku terlanjur jatuh kedalam sumur cinta yang ia buat didalam hatiku. Tetapi, sepertinya aku memang sudah jatuh kedalam sumur itu.

Beberapa jam kemudian, Jonghyun mengajakku untuk pergi ke kota. Tentunya dia mengajak Ryechul juga. Karena, kami bertiga memang sudah dekat sejak kecil. Aku sangat ingat saat Jonghyun membawa mainan dan menunjukannya kepadaku. Lalu, ia mengajakku bermain bersama dan Ryechul pun ikut bermain dengan kami. Walaupun mereka anak bangsawan, mereka sangat ramah dengan orang-orang yang statusnya seperti aku. Aku sangat bahagia bisa mengenal mereka berdua. Rasanya, aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini karena mengenal mereka. Tetapi, ada satu hal yang menggangguku. Entah mengapa aku melihat sesuatu yang aneh didalam pandangan Jonghyun kepada Ryechul. Berani taruhan sepuluh ribu won, Jonghyun menyukai Ryechul. Terlihat dari cara dia melihat gadis bermanik emas cair yang sangat indah itu, cara berbicara kepadanya, dan hal-hal kecil yang lainnya. Aku memang bukan cenayang. Tetapi aku mengetahui hal itu karena akupun melakukan yang sama dengan Jonghyun.

“Hyung! Lihatlah gelang ini. Cantik sekali bukan?” Jonghyun berkata kepadaku sambil mengambil gelang yang mempunyai bandul berwarna hijau.

“Mm. Sangat indah. Pilihan yang bagus, Jjong. Tetapi, aku rasa lebih indah yang ini.” Aku mengambil gelang yang mempunyai bandul berwarna aqua.

“Ryechul-ah! Menurutmu bagusan yang ini atau yang ini?” Jonghyun membawa kedua gelang yang tadi diperdebatkan oleh kami berdua kedepan gadis itu.

“Mm. Kurasa, aku lebih menyukai yang ini.” Ia menunjuk kearah warna pilihan Jonghyun.

“Okay, aku akan membelikannya untukmu.” Jonghyun segera membayar gelang itu kepada sang penjual.

Inilah yang tidak kupunyai. Kekayaan. Aku tidak bisa membelikan apapun untuk Ryechul. Sementara Jonghyun? Ia mempunyai segalanya. Ia bisa membeli apapun yang ia mau untuk membahagiakan Ryechul. Itulah yang kurasakan akibat terlalu jatuh kedalam hati Ryechul. Sakit. Perih rasanya mengetahui bahwa kenyataannya Ryechul akan memilih Jonghyun daripada aku. Seandainya ayahku bukanlah seorang budak. Ah! Apa yang kau pikirkan, Jinki? Jangan mengejek ayahmu sendiri! Namun, entah mengapa aku sangat tidak terima jika Ryechul lebih bisa dibahagiakan oleh Jonghyun daripada aku. Apakah ini cinta? Benarkah aku mencintai Ryechul? Lantas apa yang membuatku tidak menyatakan perasaanku kepadanya? Tuhan, mengapa kau membuat otakku dipenuhi tanda tanya?

Setelah Jonghyun membelikan gelang itu, aku dan Ryechul diajaknya ke suatu tempat. Tempat ini bisa dibilang seperti mini teater. Hanya ada empat puluh kursi dan satu panggung yang tidak terlalu besar. Jonghyun berkata bahwa ia akan berpentas diatas panggung ini namun ia membutuhkan satu orang laki-laki dan satu orang perempuan untuk melengkapi script-nya. Ia menawarkan peran itu kepada aku dan Ryechul. Tentu saja kami menyetujuinya karena kami tidak mungkin mengecewakan Jonghyun kan sebagai sahabat? Alhasil, setiap hari, kami berlatih sambil tertawa-tawa bersama. Ah! Semoga hal sepeti ini terjadi selamanya.

Saat latihan untuk terakhir kalinya, aku, Ryechul, dan Jonghyun memutuskan untuk latihan tanpa tertawa-tawa alias mencoba untuk serius. Saat adegan terakhir yaitu saatnya aku membunuh Jonghyun karena peperangan, aku menusukkan tombakku ke perutnya. Seketika itu juga Jonghyun jatuh dan terkapar di lantai dengan darah yang berceceran. Kemudian, aku dan Ryechul berdansa bersama. Tapi, ada yang aneh! Mengapa Jonghyun sama sekali tidak bergerak? Aku dan Ryechul cemas akan hal itu. Aku dan yeoja itu segera menghampiri Jonghyun dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Ternyata, Jonghyun hanya acting agar kami cemas. Dasar anak itu menyusahkan saja! Namun, aku sangat senang dengan kondisi saat ini.

Saat latihan telah usai, kami bertiga menuju ke ruang ganti untuk mengganti baju kami. Namun, Jonghyun tidak sengaja menjatuhkan handphone milik salah satu pemeran di drama ini juga, Heechul. Otomatis Jonghyun meminta maaf kepada laki-laki yang lebih tua beberapa tahun darinya itu. Namun, Heechul tidak mengubrisnya. Ia segera menarik kerah baju Jonghyun dan mengangkat tangannya untuk menghabisinya dengan tamparannya itu. Namun, mereka dilerai oleh staff yang lain. Aku juga ikut menarik Jonghyun untuk menjauh dari Heechul. Seperti anak kecil sekali! Hanya jatuh saja marahnya seperti itu. Aku menenangkan hari sahabat yang sudah kuanggap seperti dongsaengku itu. Lebih baik fokus untuk drama besok daripada memikirkan Heechul bukan?

***

Akhirnya hari yang dinantikan tiba juga. Hari dimana aku harus menjelma seperti bangsawan yang kaya raya. Hari dimana aku merasakan seperti apa menjadi seorang artis. Hari dimana aku akan tampil didepan banyak orang bersama kedua sahabatku dan lainnya. Aku sudah siap secara fisik. Namun, secara mental kuakui aku belum terlalu siap. Yaa, itu karena ini adalah pertama kalinya aku melihat banyak orang yang matanya tertuju kepadaku. Kutenangkan diriku sejenak sambil membiarkan sang penata rias mendandaniku. ‘Aku pasti bisa’ bisikku kepada diriku sendiri.

Puji tuhan! Drama ini sangat berjalan mulus dan antusias dari para penonton juga sangat hebat. Aku merasa senang akan hal ini. Namun, masih ada satu scene lagi sebelum drama ini selesai. Masih ada adegan dimana aku harus membunuh Jonghyun. Kulihat sutradara memanggilku untuk bersiap-siap, kuambil tombakku dan menuju kearah sutradara sambil menunggu giliranku. Aku terus berdoa dalam hati agar adegan terakhir ini berakhir dengan sempurna. Dan tibalah saatnya. Aku dipanggil sutradara untuk keluar dari balik tirai dan berkelahi dengan Jonghyun.

Aku keluar dari balik tirai sambil membawa tombakku. Kuacungkan tombak tersebut kearah Jonghyun. Ia segera mengeluarkan pedangnya. Kami berkelahi sangat seru. Masing-masing mencoba menghindar dari senjata lawannya. Walaupun senjata itu hanya plastik saja, kami harus tetap menjiwai peran kami agar berakhir dengan sukses. Siapa tahu, salah satu penonton disini adalah orang penting dan karena melihat actingku dia akan merekrutku sebagai artis. Bisa saja kan? Namun, tidak ada alasan untuk memikirkan itu. Yang penting drama ini selesai dan berakhir dengan baik. Sekaranglah saatnya menusuk perut Jonghyun. Dengan memberi tanda kedipan mata kepada laki-laki itu, ia sengaja membuang pedangnya dan aku menusuk perutnya. Kulihat ekspresi mukanya sangat menjiwai. Aku sangat senang melihat ekspresinya yang sangat hebat itu. Adegan selanjutnya adalah aku berdansa dengan Ryechul. Kulakukan hal itu bersamanya. Namun… mengapa sangat ribut? Segera saja kulayangkan pandanganku kearah Jonghyun.

Darah yang segar mengalir dari perut Jonghyun keatas lantai. Tombak yang kutusuk itu harusnya lepas karena ada bantalan yang menjaga perut Jonghyun. Namun, tombak itu tetap menancap setia di perutnya. Tuhan, jangan bilang kalau pisau di tombak itu adalah pisau sungguhan? Jangan bilang aku telah menusuk sahabatku sendiri dengan pisau? Jangan bilang ada yang menukar pisau-pisauan dengan pisau sungguhan. Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan? Semua orang sekarang melihat kearahku. Malahan ada beberapa yang menunjuk-nunjukku. Aku tidak bisa berfikir dengan jernih. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kabur! Ya! Aku harus kabur! Kutarik tangan Ryechul dan lari meninggalkan panggung tersebut. Apa yang terjadi? Siapa yang menukar pisau tersebut? Ah! Sialan! Sialaaaan!!

– FLASHBACK + AUTHOR’s POV –

Heechul masih sangat kesal dengan Jonghyun. Ia sangat tidak terima handphone kesayangannya yang diberikan oleh almarhum ibunya itu dijatuhkan olehnya. Memang terdengar sangat kekanak-kanakkan. Lagi pula, ponsel tersebut tidak rusak. Hanya sekedar jatuh saja. Namun, laki-laki ini memang tidak suka barang-barangnya disentuh oleh orang lain. Dan dia sangat pandai untuk menyimpan dendam dan itu sangat menyusahkan orang-orang. Tidak ada yang bisa dilakukan bila Heechul sudah mendendam terhadap seseorang. Dan sekarang, orang yang ia dendamkan adalah Kim Jonghyun. Seorang bangsawan yang merupakan partner dalam drama yang sedang mereka mainkan bersama-sama ini. Laki-laki berambut pirang itu segera menyusun rencana yang sangat jahat untuk Jonghyun. Yaitu memfitah Jinki bahwa Jinki membunuh Jonghyun.

“Rasakan itu, Jonghyun.”

Ucap laki-laki bermanik hitam pekat itu seraya menukarkan pisau mainan yang berada di ujung tombak yang akan digunakan Jinki saat bermain drama esok hari dengan pisau sungguhan yang sudah di asah sehingga sangat tajam. Heechul tersenyum puas melihat kerjanya yang sangat baik dan sukses. Ia bersyukur tidak ada kamera pengintai didalam ruangan ini. Jadi, dia bisa bergerak sebebas mungkin. Ia juga mengganti bantalan yang berada didalam baju yang akan dipakai Jonghyun dengan tissu-tissu biasa agar saat terkena pisau efeknya lebih baik daripada memakai bantal. Sungguh kejam bukan? Namun, apa yang bisa kita lakukan apabila seorang Heechul sudah mendendam dengan seseorang?

– FLASHBACK OFF + Ryechul’s POV –

Aku terus berlari dengan namja disampingku tanpa henti sampai kami tiba di suatu perdesaan yang entah berada dimananya dinasti Korea tersebut. Namja yang mempunyai rambut berwarna cokelat dan manik hitam yang sangat bersinar itu sangat menawan. Namun, raut wajahnya yang biasanya segar dan pipinya yang dihiasi dengan warna merah merona sekarang pudar. Wajahnya tampak pucat. Nafasnya tidak teratur. Aku hanya takut asma yang ia derita kambuh. Dengan hati-hati, kududukan dia di batu terdekat.

Aku ingin menangis melihat keadaannya. Ia begitu lemah dan begitu payah. Aku tahu bahwa Jinki tidak mungkin melakukan hal itu. Sebenarnya, kemarin malam aku melihat Heechul oppa keluar dari ruangan penyimpanan barang-barang. Tapi, aku tidak mempedulikannya karena aku tidak mau berprasangka buruk terlebih dahulu. Namun, ternyata terbukti bahwa dia telah memfitnah Jinki dengan menukar pisau palsu dengan palsu asli. Sunggu kasihan Jinki. Semoga saja Jonghyun masih bisa bertahan. Tapi, bila ia masih hidup, pasti ia akan mencari Jinki untuk meminta penjelasan. Tidak kecil kemungkinan bahwa Jonghyun akan membalaskan dendam kepada Jinki kalau dilihat dari sifatnya yang tempramental itu. Ah! Aku pusing sekarang! Kuputuskan untuk mengambil beberapa jemuran yang sedang dijemur oleh penduduk desa setempat. Setelah itu, kubawa Jinki pergi ke sudut desa yang sangat terpencil. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi. Semuanya gelap….

***

Keesokan harinya, aku terbangun diatas sebuah dipan dengan sebuah handuk kecil yang basah diatas keningku. Sepertinya aku pingsan tadi malam. Kulihat Jinki sedang menyedu teh hangat untuk diriku. Kemudian, ia tersenyum kepadaku saat menyadari bahwa aku sudah bangun. Senyum itu sangat menawan, sangat berarti, dan ah sial! Perasaan apa ini? Mengapa tiba-tiba jantungku berhenti berdetak dan aku menahan nafas melihat senyumnya? Apakah… ah tidak mungkin! Aku tidak mungkin menyukainya. Lagipula apa alasanku menyukainya? Aku tersadar dari lamunanku ketika Jinki duduk disampingku dan menaruh tangannya di kedua pipiku.

“Demammu sudah turun, Rye-ah?”

“Mm. Kau yang mengurusku?”

“Seperti yang kau lihat, Rye-ah. Sekarang minum dulu teh ini.”

“Err.. Jinki, aku tidak pernah tahu bahwa kau bisa menyedu teh.”

“Makanya coba dulu!”

Ucapnya seraya menyeruput teh yang ada di tangannya. Dalam satu hentakan, ia menyemburkan tehnya kearah tanah. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lakunya. Aku sudah tahu sejak kecil Jinki memang tidak bisa menyedu teh dan selalu  gagal bila mencobanya. Entah terlalu pahit atau terlalu manis. Tapi, aku tetap meminum teh tersebut. Rasanya pahit namun aku suka. Aku tidak begitu suka minuman yang terlalu manis. Lalu. Kami tertawa bersama sambil memasak beberapa bahan makanan yang dibeli kami di desa dengan uang yang kubawa pas-pasan dari gedung teater kecil itu.

– DINASTI KOREA + Jonghyun’s POV –

Ah! Apa ini sakit-sakit didaerah perutku? Oh ya, aku baru terbangun ya dari kejadian laknat itu? Sialan! Apa yang dipikirkan Jinki sampai menusukku dengan pisau sungguhan? Salah apa aku dengan dirinya? Kulihat jarum infus tertancap setia di lengan kananku. Pengukur detak jantung juga berada tepat di samping kiriku dengan alatnya yang menancap di jari telunjuk tangan kiriku. Masker oksigen juga dipakaikan untukku. Apa maksud ini semua? Mengapa kamarku yang megah ini mendadak menjadi dipenuhi dengan alat-alat kedokteran yang sebenarnya tidak aku perlukan? Cih! Pasti ini ulah ayah karena ia mempunyai syndrom kekhawatiran yang berlebihan.

Kulihat badanku yang dililitkan oleh perban putih dan ada sedikit noda merah di bagian perutku. Apakah aku masih pendarahan? Aku masih ingat sekali sensasi tertusuk pisau seperti itu. Rasanya ada yang merobek ususku sampai-sampai penglihatanku kabur dan aku tidak bisa melihat apa-apa. Mungkin untuk semua orang yang tidak mengetahui kondisiku yang sebenarnya mereka beranggapan bahwa acting-ku sangat bagus. Namun, kenyataannya aku memang merasakan sakit yang luar biasa. Untuk ada beberapa orang yang mengetahui keadaanku dan segera memberikan pertolongan pertama. Saat itu, aku tidak mengetahui siapa yang melakukan itu. Pandanganku kabur dan hanya bisa melihat semuanya membayang. Kemudian, manik hitamku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Hanya ada satu yang kupikirkan saat itu. Yang kupikirkan adalah apakah alasan Jinki melakukan ini semua padaku. Yaa kira-kira begitulah seingatku sebelum aku dibawa ke ruangan yang tidak lain adalah kamarku sendiri.

Aku melepas paksa infus yang jarumnya tertancap di lengan kananku. Kurasakan perih namun tidak kupedulikan. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes darah mengalir deras dari lengan kananku itu. Kulepas pula masker oksigen dan alat pengukur detak jantung itu dari tubuhku. Lalu, aku mendudukan diriku sendiri dan turun dari tempat tidurku. Aku sudah memutuskan untuk mencari Jinki dan meminta penjelasannya. Kuambil jaket biruku dan berjalan keluar kamar lalu melanjutkannya keluar dari rumahku. Aku harus menemukan sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri itu. Aku harus menemukannya.. aku harus benar-benar menemukannya….

– Author’s POV –

Jonghyun berjalan dengan perasaan yang kalang kabut. Ia sangat bingung memikirkan apa yang terjadi tiga hari terakhir ini. Saat dimana ia mendapat tusukan sampai ia tidak sadarkan diri untuk beberapa saat. Ia juga bingung apa yang akan ia lakukan sekarang. Namja bermanik hitam yang bersinar itu menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. Ia membeli beberapa jajanan di pinggir jalan dan melahapnya dengan cepat berhubung mulutnya yang cukup lebar. Ia tidak mempedulikan apapun kecuali pikirannya. Bahkan, ia tidak mempedulikan bahwa ada seseorang yang mengikutinya beberapa meter dibalik punggungnya.

– Jinki’s POV –

“Oppa, makanan sudah siap!” Serunya kepadaku.

Segera saja aku berjalan sambil tersenyum kearah meja kecil yang kami buat dari kayu-kayu pohon yang sudah tumbang. Ada berbagai macam makanan disana. Empat sehat lima sempurna. Dan aku tidak bercanda akan hal itu. Disana ada susu! Seumur hidupku, aku hanya pernah merasakan ASI dan aku tidak pernah merasakan susu yang berasal dari sapi. Saat melihat minuman berwarna putih itu, aku merasa sungkan terhadap yeoja yang berada di sampingku ini sekarang. Aku merasa sungkan karena aku menjadi bebannya karena hanya dialah yang membawa uang dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Aku masih menatap makanan itu dalam keadaan diam. Namun, ada yang aneh dari mimik Ryechul. Ia sepertinya mengetahui isi hatiku. Ia terlihat sedih dan murung. Oleh karena itu, aku segera memakan makanan-makanan itu dengan sikap yang kubuat seolah-olah aku biasa-biasa saja sambil memuji masakannya. Namun, tetap saja yeoja itu tidak bergeming sedikitpun. Kuputuskan untuk menyuapinya sesendok nasi.

“Makanlah, Rye-ah. Kau nanti bisa sakit.”

Aku tersenyum kepadanya. Ia hanya menatapku dengan pandangan yang bingung lalu tersenyum. Rasanya, jantungku berhenti berdetak dan aku mendapatkan diriku menahan nafas saat melihat senyumnya. Seumur hidupku, aku belum pernah melihat Ryechul tersenyum seperti ini ke satu orangpun. Senyum itu begitu tulus dan begitu manis. Aku merasa bahagia karena ia mengeluarkan senyum itu hanya kepadaku. Kemudian dia melahap nasi yang kusuapkan untuknya. Dan saat itu juga, matanya terbuka sangat lebar kearah jemuran pakaian. Otomatis aku mengikuti pandangannya. Aku membeku melihat apa yang dilihat Ryechul juga. Dia ada di sini. Tatapannya sinis dan menyeramkan. Untuk apa dia ada disini? Bagaimana dia menemukan kami? Oh tuhan! Sudah pasti ia ingin meminta penjelasanku. Ia berjalan kearahku lalu menari kerah bajuku sampai kakiku tidak menapak di tanah.

“Hyung! Apa maksudmu melakukan ini semua kepadaku?!”

“Aa..aku tt-iddak melakukan app-appun!” Seruku dengan kata-kata yang terputus-putus karena nafasku terbatas.

“Kalau kau ingin berdua saja dengan Ryechul, bilang padaku! Tidak usah sampai membunuhku! BRENGSEK!”

“Jjong-ah! Sudah! Kumohoon dia tidak bisa bernafaas.” Ucap Ryechul dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Perdebatan antara aku dan Jonghyun terus terjadi. Dia sedikit melonggarkan cekikannya karena ingin meminta penjelasan dariku. Namun, sorot matanya tetap tajam dan menusuk. Aku tidak tahu mengapa aku yang lebih tua daripadanya tetap saja takut dengannya. Sorot mata itu memang sangat menakutkan. Seperti kau melihat seorang pembunuh bayaran berdarah dingin ingin membunuhmu saat itu juga. Itulah sorot mata yang ia tunjukan setiap hari. Namun, untuk saat ini, sorot itu lebih dari sorot pembunuh bayaran. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rupanya dan bagaimana rasanya ditatap seperti itu. Intinya, aku sangat ngeri memandang lurus kearah matanya.

Ia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Aku tahu ia ingin menghabisiku saat itu juga. Tapi, pandanganku menjadi sangat takut ketika aku melihat seseorang mengangkat pistol dan mengarahkannya kepada Jonghyun. Tatapan orang itu seperti ingin menyelesaikan semuanya dengan satu tembakan. Kulihat dongsaengku itu bergantian dengan orang yang berada didepanku. Aku berteriak kepada namja yang mencekikku itu dan akhirnya, aku membalikan tubuh Jonghyun dan saat itu juga bunyi pistol terdengar dan mengenai perut sebelah kananku. Rasanya sangat sakit. Sakit sekali…

– Jonghyun’s POV –

“Awass!!”

Tiba-tiba, namja yang sedang kucekik itu berteriak kencang dan memutarkan posisi kami. Saat itu juga, aku mendengarkan letupan pistol yang sangat kencang dan namja didepanku itu jatuh ke tanah. Ryechul segera berlari kearah kami dan langsung menangis sambil terus meneriakan nama namja itu. Aku mendongakan kepalaku untuk mencari tau siapa yang berniat membunuhku. Dan sosok yang kudapatkan adalah laki-laki bajingan yang seperti anak-anak itu, Heechul. Segera saja aku mengambil balok kayu terdekat dan memukul kepalanya dengan keras sehingga pistol yang ia genggam terlempar.

“BAJINGAN KAU!”

Ucapku sambil terus menerus menerus menghujam-hujamkan balok kayu itu ke kepala Heechul. Aku kalap karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa hyung-ku itu ditembak oleh orang yang sangat kekanak-kanakan seperti Heechul. Dan saat itu juga, aku sadar bahwa yang menukarkan pisau tersebut sudah pasti Heechul dan bukan Jinki. Aku sangat merasa bersalah akan hal itu. Namun, pikiranku hanya tertuju pada satu hal sekarang. Aku akan membunuh namja didepanku itu. Aku akan membunuhnya! Harus!

Tetapi, takdir berkata lain. Tiba-tiba saja Heechul dengan kepalanya yang sudah berdarah-darah membalikan tubuhku menjadi posisinya yang tadi ia tempati. Ia juga memegang balok kayu yang tadi kupakai untuk melukainya. Saat itu juga aku mengetahui bahwa hidupku akan berakhir. Aku mengetahui bahwa aku tidak akan bisa bertemu dengan Ryechul, orang tuaku dan terlebih lagi Jinki. Aku merasa sangat bersalah akan hal itu. Aku ingin mengulang waktu dan sudah mengetahu hal yang sebenarnya sehingga aku tidak melakukan hal seperti itu kepada Jinki. Maafkan aku tuhan, maafkan aku Ryechul, maafkan aku hyung…

DOOR!!

Tiba-tiba bunyi pistol terdengar kembali. Seketika, tubuh Heechul jatuh kesamping dan aku segera menduduki tubuhku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan mencari asal suara tembakan itu. Kudapatkan kembali mataku terbuka lebar saat melihat bahwa yang menembak tadi adalah Jinki hyung. Ia mengerahkan segala tenaganya yang terakhir untuk menyelamatkanku. Saat itu juga, air mataku menetes dan aku segera berlari kearah hyung-ku itu. Aku berlari dan akhirnya aku memeluk tubuh yang sudah lemas dan berdarah-darah itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangis karena semua hal. Aku menangis karena aku telah melakukan hal terbodoh sepanjang hidupku. Maafkan aku tuhan…

“Jjong,” ucapnya sambil tersenyum, “– jagalah Ryechul dengan baik.”

“Hyungie! Kau tidak boleh berkata seperti itu.”

“Ryechul-ah,” ucapnya sambil mengusap pipi yeoja yang sedari tadi menangis itu, “– saranghae.”

“Nado saranghae, oppa.”

Saat itu juga, hyung-ku itu menutup matanya dan tersenyum. Lalu, tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan kepalanya seperti tidak mempunyai tegangan lagi. Kuperiksa denyut nadinya. Tidak ada! Kutaruh telunjukku didepan hidungnya untuk memeriksa apakah ia masih bernafas. Dan hasinya nihil. Aku segera memeluk kencang-kencang tubuhnya dan meneriakan namanya. Namun, ia tidak membuka matanya. Ryechul memelukku sambil meneriakan namanya juga. Hasilnya tetap saja nihil. Aku memeluk tubuhnya sekencang mungkin berharap dia akan membuka matanya. Namun, sama sekali tidak ada respon dari orang yang kupeluk. Ia tidak membuka matanya lagi dan tidak akan pernah membuka matanya kembali. Ia sudah pergi untuk selama-lamanya.

Selamat jalan, Jinki hyung. Saranghae…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Akhirnya selesai jugaa!! Jangan lupa RCL yaa chingu~ Saranghae :3

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 19 Maret 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Admin… ff keren… bhsax jga ngak berbelit2… terharu bacax… T^T

    b(^o^)d

  2. Raisa Widiastari

    Waaah. Makasiih yaa atas komennya :3 gomawo udah bacaa ^^

  3. keren. bahasanya juga bagus, jadi serasa ngerasain apa yg si pemain rasain,🙂

  4. Kereen.. Kesian onyu oppa u.u icul kejam amat .____.

  5. khairina_ilhami

    Jinki kasian bgt,dr kcil sll ditindas,
    sad ending bgt,T_T
    ff’y kereen bgt chingu,daebak… ^^b

    • raisawidiastari

      Gomawooo yaaah udah bacaa :*:*
      gatau kenapa menurut author yg cocok buat sad ending tuh tokohnya jinki =.= *digampar MVP’s*

  6. Aigooo, keren. Ampe sedih pas baca😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: