[FF/S/6/PG-15] The SORROW TWILIGHT

aretaannora.wordpress.com

 

Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : chapter 6 [2067 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

Backsound :

Kiss Without Commitment-Danniel Beddiengfield

A.N :

Dalam part ini ada beberapa adegan yang agak mengganjal, kurang sesuai dengan Sudut Pandangnya.Di karenakan jika sudut pandangnya di ganti malah akan menambah rumit, jadi anggap saja sudut pandang yang kurang pas itu sebagai Author Point Of View. Author Point Of View ku beri tanda seperti ini : **

==================================

Sampai kapan kau akan ada disana? Tidak bisakan kau menghilang saja?”

==========================================

Esok harinya …

-KIBUM POV-

Pelajaran hari ini, aku benar – benar tidak bisa focus. Kejadian kemarin… Hhh… aku menarik napas panjang. Untung saja bel istirahat berbunyi. Sungguh aku sudah tidak ada niat untuk mengikuti pelajaran.

“Astaga, apa yang telah kulakukan?” desahku.

“Memang apa yang telah kau lakukan?” jinki menghampiri mejaku.

Aku mengangkat wajahku.

“Lee jinki, jawab dengan serius. Aku adalah seorang pria normal yang sedang berada dalam masa puber. Apa… Apa normal jika tanpa sebab aku mencium seorang gadis?” tanyaku dengan suara berbisik.

Mata jinki langsung terbelalak lebar.

“Tanpa sebab… mencium gadis? Apa disini?” jinki menunjuk bibirku.

Aku mengangguk malu.

“Masalahnya itu adalah ciuman pertamaku dan aku memberikannya pada gadis yang baru kukenal. Aiissh… Bahkan dia bukan pacarku sama sekali.” Keluhku.

“Tunggu! Ciuman pertama? Kupikir kau playboy.” Jinki tak percaya.

“Aku playboy yang jual mahal. Ciumanku itu bukan barang murahan. Harus diberikan pada wanita yang benar – benar special.” Ucapku penuh wibawa.

“Tapi aku telah memberikannya pada gadis yang bahkan bukan kekasihku.” aku merebahkan kepalaku di meja.

“Yah, lalu berikan yang kedua pada kekasihmu. Dia tidak akan tahu itu yang pertama atau yang kedua.” Saran jinki enteng.

“Bagaimana bisa? Aku bahkan belum punya kekasih.” Ucapku lesu.

“Haaah!? Kau belum punya kekasih!? Jangan bercanda masalah cinta denganku kim kibum. Lalu kau anggap Nicole itu apa?” jinki menyelidik.

“Aaaah… aku harus mencuci mukaku sebentar. Semua ini membuat kepalaku pusing.” aku bangkit berdiri dan berjalan keluar kelas.

“Dia mencium gadis yang baru ia kenal. Benar – benar cassanova sejati.” Jinki tersenyum kagum.

Jinki ikut keluar dari kelas.

“Kau dengar itu?” tanya anak perempuan yang duduk di depan meja kibum.

Anak perempuan yang lainnya mengangguk.

“Kibum mencium seorang gadis yang baru ia kenal. Dan gadis itu bukan Nicole.” Ucap anak permpuan tersebut.

“Tapi bukankah kibum pacaran dengan Nicole?”

“Omo! Berarti kibum…”

Dua gadis itu berpandangan lalu berbisik lirih, “Kibum selingkuh…”

———————————————————————————

Aku membasuhi wajahku dengan air dingin yang mengalir dari keran. Segar sekali rasanya. Lalu melihat ke cermin untuk merapikan rambut. Setelah rambutku rapi aku meraba bibirku lagi. Dan kembali menarik napas panjang hingga menimbulkan embun di kaca.

“Lupakan! Lupakan!” aku memerintah diriku sendiri.

Aku melangkah keluar dari kamar kecil. Dan langsung dikejutkan oleh sosok yang sudah menungguku tepat di depan pintu.

“Yaak! Lee jinki, kenapa kau selalu mengagetkanku?” aku belum lepas dari keterkejutanku.

“Kau terlalu mudah terkejut. Yakin kau tidak ada kelainan jantung?” ejek jinki.

“La.. lagipula… kenapa kau tiba – tiba ada disini? Kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Kau ini stalker ya!?”

“Aku kan teman baikmu.”

“Teman baik macam apa yang membuntuti sampai ke kamar kecil!?”

“Ok! Aku mengikutimu bukan karena aku temanmu. Aku butuh popularitas.”

“Aku lebih suka alasan yang pertama.” Ucapku seraya pergi meninggalkan jinki.

Dan ternyata bukan hanya jinki yang menungguku. Ada segerombolan anak perempuan yang telah menungguku di depan toilet pria. Lagi – lagi aku terkejut. Jinki yang keluar tepat setelahku juga ikut terkejut.

“Apa yang kalian lakukan disini? Ini toilet pria!” aku mulai emosi.

Seorang gadis mendekat perlahan.

“Oppa, selingkuh itu sangat tidak baik. Bisa kena hukum karma.” Ucap gadis itu.

Aku mengerutkan dahiku. Lalu menatap jinki tajam.

“Kau yang bilang?” aku menunduh jinki.

Jinki mengangkat tangannya dan menggelengkan kepalanya kuat – kuat.

“Oppa, aku pikir kau adalah pria paling baik. Ternyata semua pria sama saja.” Ucap gadis yang lain.

“Aku pria yang baik.” Celetuk jinki seraya mengacungkan tangannya.

Aku segera menatapnya tajam seolah mengatakan ‘Diam saja!’.

“Aku tidak selingkuh.” Tegasku.

Tapi gadis itu Nampak tidak percaya. Aku menyerah.

“Baik. Terserah kalian saja.” Aku pergi meninggalkan mereka.

“Aku pria yang baik.” Ulang jinki pada gadis – gadis itu sebelum ia pergi mengikutiku.

Hari ini aku benar – benar tidak focus. Bahkan latihan basketpun kulakukan asal – asalan. Padahal pertandingan tinggal satu bulan lagi. Dan sebagai murid senior, mungkin ini adalah pertandingan basket SMA terakhir yang kuikuti. Konsentrasiku makin buyar. Operan ke arahku tak lagi bisa kutangkap dengan tepat. Selalu meleset. Bahkan aku terjatuh saat melompat. Jinki yang sudah tidak tahan melihatku akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan latihan. Karena aku adalah pemain andalan team ini, jika permainanku kacau maka permainan team juga ikut kacau.

Jinki mengulurkan tangannya dan aku meraihnya. Jinki mengangkat tubuhku.

“Kenapa? Apa kau tidak enak badan?” tanya jinki.

“Apa aku masih bisa pindah sekolah?” tanyaku.

“Yaak! Kim kibum. Kau ini murid senior. Sebentar lagi juga akan lulus. Tahan saja.”

“Bagaimana kalau home schooling?”

“Aiissh! Jangan berpikir macam – macam lagi.”

“Aku tidak berpikir macam – macam. Pikiranku saat ini hanya dipenuhi satu macam saja.”

“Lalu hilangkan pikiran yang satu macam itu.”

“Apa itu berarti mengkosongkan otakku?”

“Kim kibum!”

———————————————————————————

-Yeon-Ah POV-

Hari ini entah kenapa aku ingin kembali ke tempat itu. Apa ini yang disebut kata hati? Atau bisikan setan? Haha! Aku selalu tersenyum sendiri memikirkannya. Ternyata sudah ada balasannya.

Apalah arti sebuah nama?

Biar kata Romeo menyandang nama Mercutio..

Cinta Romeo pada Juliet tetap sama adanya…

Rasa dan jiwa Romeo tetaplah Romeo…

Dan Romeo tetaplah Romeo…

“Misterius sekali.” Keluhku yang merasa agak kecewa karena ia tak mau menyebutkan identitasnya.

Mendadak seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh. Dan lebih terkejut lagi karena ternyata yang menyentuh pundakku adalah Kim kibum.

“Latihan basket sudah selesai?” tanyaku.

“Belum sebenarnya. Tapi kupikir aku akan pulang lebih dahulu.” Jawab kibum

Sejenak kami terdiam. Berada di sisi kibum makin membuatku gugup. Dia tidak akan melakukan hal itu lagi kan?

“Mianhe…” ucap kibum lirih.

Aku terdiam.

“Kau tidak apa kan?” tanya kibum.

“Gwanchana. Jeongmal gwaenchana.” Ucapku.

“Hanya ciuman, park yeon ah. Aku yakin bagi pria macam kibum pasti sebuah ciuman tidak berarti apa –apa. Dia kan pria yang amat popular. Pasti sebelumnya ia juga sudah mencium banya gadis lain yang lebih cantik dari aku.” Pikirku.

Kibum tersenyum.

“Rasanya aneh sekali. Ciuman pertamaku kuberikan pada gadis yang baru kukenal 4 jam sebelumnya.” Gumam kibum.

“Ne?”

“Bukan apa – apa. Lupakan saja.” Kibum tersenyum lagi.

Apa aku tidak salah dengar? Yang pertama? Sulit dipercaya… Jadi selama ini pria setenar kim kibum belum pernah…

“Tidakkah kau merasa aneh? Kita selalu bertemu di tempat ini.” Ucap kibum.

Aku terdiam.

“Apa kibum yang melakukannya?” tanyaku dalam hati.

** “Apa yeon-ah yang melakukannya?” tanya kibum dalam hati.

Sejenak kami terdiam lagi.

“Apa kau…?” tanya kami bersamaan.

Kami kembali terdiam salah tingkah.

“Ummm… Apa… merupakkan suatu hal yang bodoh jika kita meninggalkan surat di sebuah pohon dan menunggu balasannya setiap hari?” tanyaku gugup.

“Hehe… Pasti hanya orang bodoh yang mau meladeni hal bodoh macam itu.” Ucapku seraya terkekeh.

“Hehe… Benar. Hanya aku orang bodoh yang akan membalasnya.” Balas kibum.

“Eh?”

“Kenapa? Aku memang bodoh.”

Kami pun tertawa bersamaan. Tawa lepas yang sudah begitu lama tidak kulakukan. Apa pada akhirnya Tuhan mengubah takdirku? Atau tawa ini hanya merupakan awal tragedy saja? Karena dari semua tragedy pasti dimulai dari tawa dan senyum yang pada akhirnya berubah jadi tangis dan jerit. Akankah tawaku ini merupakan awal tragedy lain dalam hidupku? Akankah berlangsung selamanya hingga bibir ini habis dimakan tanah?

Satu jam kemudian…

“Jadi appa-mu meninggal karena itu?” tanya kibum setelah aku selesai menceritakan kisahku.

Ini adalah kali pertama aku menceritakan kisahku pada orang lain. Dan entah kenapa aku merasa bahagia, bahwa orang tersebut adalah Kim kibum.

Sudah satu jam kami terduduk di bawah pohon. Entah mengapa meskipun ada bangku kosong namun kami lebih memilih duduk bersandar pada pohon, dengan sisi yang berlawanan tapi tetap terhubung karena kibum terus menimpali ceritaku dan memberiku semangat.

Aku sangat beruntung karena kini ada Kibum di sisiku.

Dan mendadak kepalaku terasa sakit sekali. Kenapa terasa begitu sakit? Sakit… Sakit…

“Kenapa tidak bercerita lagi?” tanya kibum dari balik sisi pohon.

“A… Aku… lelah.” Jawabku.

“Lelah?”

Aku menekan kepalaku kuat – kuat. Tuhan, apa yang terjadi?

“Cepat sekali kau lelah. Padahal aku belum lelah sama sekali.” Ejek kibum.

“K..Kkau… diam sebentar. Jangan berisik.”

“Kenapa? Aku terlalu cerewet ya? Memang kata Jinki aku terlalu cerewet untuk ukuran pria. Tapi, menurutku aku tidak begitu cerewet kok. Yah, mungkin memang kadang aku cerewet. Tapi kan tidak selalu. Hehe…”

“A.. aku mau tidur sebentar. K..kkau… diam dulu.” Ucapku seraya memejamkan mata menahan rasa sakit.

“Tidur? Apa kau baru saja begadang? Kenapa hari masih sore begini sudah mau tidur?”

Kesadaranku hampir hilang. Semua begitu kabur di mataku.

“Baik. Tidurlah, park yeon-ah. Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu.” Ucap kibum.

“KISS WITHOUT COMMITMENT”

[NB : Lyric edited by Reann]

A kiss without commitment’s…

like a flower without the rain…

It only leads to pain…

And it fills my heart with emptiness…

Your touch without commitment’s…

Like a calm before the storm…

The tears are starting to form in my eyes…

When I kissed you, I was curious…

The child that I was…

I never realised I would love you so…

And in the magic of the moment…

I was swept to the side…

And I saw your heart…

So small and tender…

When I kissed you, it wass…

Everything I dreamed it would be…

But I never dreamed it would be…

Mean so much to me…

And our closeness is too valuable to carelessly lose…

So today I choose…

To really love you…

Yeon-ah…your heart is like a beautiful twilight…

Although the sorrowness beside it…

It’s so beautiful to see…

You make me feel better…

When I beside you, my juiette.

“Kau sudah tidur, yeon ah?” tanya kibum.

“Yeon ah…?”

-AUTHOR POV-

“Yeon ah…?”

Kibum menoleh dan mendapati Yeon-ah dengan mata terpejam.

“Sudah tidur? Cepat sekali.” Keluh kibum.

“Yaah… Aku jadi tidak ada teman mengobrol. Park yeon ah payah!” lanjutnya.

Kibum membalikkan tubuhnya dan berlutut tepat di depan yeon ah. Kepalanya dimiringkan sedikit supaya bisa menatap wajah yeon ah yang menunduk. Wajah yang begitu damai. Tenang. Bagai lautan biru.

Tanpa sadar kibum kembali mendekatkan wajahnya.

Tapi beberapa detik kemudian, kembali ia mundur.

“Apa sih yang sedang kupikirkan!?” kibum menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran yang sempat muncul.

Hari makin gelap. Tapi yeon-ah tidak menunjukan tanda – tanda akan bangun.

“Cih, anak ini! Mau tidur sampai kapan?” keluh kibum.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Menunggunya hingga tersadar atau meninggalkannya sendirian di sini?”

tanya Kibum pada diri sendiri.

Akhirnya Kibum memutuskan untuk menggendong Yeon-ah pulang kerumahnya.

“Tunggu! Tapi aku tidak tahu rumahnya. Hhh… Eotteokhae?”

Kibum bertambah gusar, namun tiba-tiba sosok Jinki muncul dibenaknya.

“Aha! Kutelfon saja. Pasti Jinki tau rumahnya,” ucap Kibum seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Yoboseyo”, terdengar suara Jinki entah darimana *??*

“Yaaa Jinki ya!?”

“Yaa? Wae? Tak usah berteriak gitu, kau pikir aku tunarungu hah?”

“Hhhh…” selanjutnya hanya terdengar desah nafas Kibum. Ia bingung, apa yang yang harus dikatakannya pada Jinki? Haruskah Kibum bertanya mengenai rumah Nicole???

“Jinki, em..e.. a.. apa kau tahu dimana rumah Nicole?”

“HEHH?? Apa aku tidak salah dengar? Rumah Nicole? Untuk apa kau kesana? Kau ingin mengajaknya kencan ya? Tapi ini masih senja?” tanya Jinki bertubi-tubi.

“Yakk! Lee Jinki! Serius, jawab aku!” bentak Kibum kesal.

“ne..ne ara…” Jinki terkekeh

” Tidak jauh dari sekolah kok. Kau hanya perlu berjalan ke arah utara kurang lebih 500 meter, kemudian . . . . . . . . Nah kau akan menemukan rumah dengan cat warna biru, itulah rumah Nicole ” jelas Jinki panjang lebar

“Sebenarnya..ad.. ttut..tutt…”, Kibum sudah menutup telfonnya sebelum Jinki sempat menyelesaikan kata-katanya.

_________________________________________

Sepuluh menit kemudian…

“Ughh.. ternyaka kau berat”, keluh Kibum

“Park yeon-ah, apa kau masih tertidur?” tanya kibum sambil tetap berjalan menggendong yeon ah.

Yeon ah tidak merespon.

“Masih tidur?” ulangnya.

Tidak ada jawaban.

“Baguslah! Karena aku ingin latihan dulu. Hehe… Akan lebih mudah jika kau sedang tidur.” Lanjut kibum.

Kibum menghentikan langkahnya.

“Saranghaeyo…” ucapnya lirih.

Mendadak sepi.

“Hhh…sudah kukatakan.” Ucap kibum lega dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Kau tahu tidak? Aku butuh waktu yang sangat lama untuk mengakuinya. Dan mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk mengatakannya, karena perlu latihan yang juga memakan waktu lama. Jadi kau yang sabar ya.” Lanjutnya.

“Kau tunggu saja sampai aku mengatakannya. Aku butuh waktu sebentar. Kau jangan pergi dulu. Setuju?” tanya kibum.

Yeon ah tetap tidak menjawab. Dan tak terasa kibum sudah tiba di depan rumah yeon ah.

“Ah, sudah sampai rupanya. Kenapa rumahmu begitu dekat? Aku belum puas mengobrol.” Keluh kibum.

“Kibum-ah.” Nicole muncul dari dalam rumah.

========================T.B.C=====================

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on 19 Maret 2011, in Riyantika Sussi, SHINee Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Keren….keren abis….😀 d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: