[FF/S/7/PG-15] The SORROW TWILIGHT

aretaannora.wordpress.com

Title : The SORROW TWILIGHT

Author : Areta Annora “REANN”

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : chapter 7 [3091 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Park Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

A.N :

Dalam part ini ada beberapa adegan yang agak mengganjal, kurang sesuai dengan Sudut Pandangnya.Di karenakan jika sudut pandangnya di ganti malah akan menambah rumit, jadi anggap saja sudut pandang yang kurang pas itu sebagai Author Point Of View. Author Point Of View ku beri tanda seperti ini : **

==================================

“Kibum-ah.” Nicole muncul dari dalam rumah.
“Ah, Yeon-ah kenapa?” tanya Nicole panik begitu melihat yeon ah yang masih terpejam.“Dia tidur.” Jawab kibum singkat.“Tidur? Sempat-sempatnya…”“Hehe… Biarkan saja. Mungkin dia lelah.”

Satu bulan kemudian


~~ Yeon-ah POV ~~


Ini adalah saatnya serigala bertarung..Menampakkan kekuatan yang terpendam dalan diri..Namun, serigala yang satu ini, tiadalah daya ia punya..Kecuali sang gadis, teman serigala,Ada di sisinya..Maka kekuatan yang tiada dua…akan tercipta..Dan kini serigala memohon..pada sang gadis, agar ia menemani serigala..


Aku tersenyum geli membacanya.“Minta saja langsung padaku secara lisan. Tidak perlu sampai seperti ini aku juga akan menerima ajakannya.” Ucapku seraya melipat balik kertas itu.
Ya, benar. Kim Kibum mengajakku menonton ke pertandingan basket. Ia memintaku dalam bentuk tulisan. Diserahkan padaku dengan cara yang sama. Tak berubah sedikitpun sejak awal kami memulainya. Dan cara ini, tempat ini, kenangan ini… adalah milik kami sepenuhnya. Tidak ada orang lain yang tahu. Semua ini.. adalah milik kami berdua. Aku tak tahu seberapa besar ini bagi kibum, tapi bagiku adalah segalanya. Segalanya… milikku…


Pertandingan basket senja esok. Semua orang begitu antusias menghadapi ajang terakhir dari siswa senior. Dapat dipastikan akan terjadi pertarungan sengit serigala muda. Mengingat ini adalah kali terakhir mereka menunjukan taringnya sebelum menyerahkan diri masuk kandang.Demikian juga serigala itu… Serigala yang selalu menemuiku sebelum mentari pergi. Sungguh hanya bahagia yang kutahu saat serigala itu ada di sampingku. Bagai ada mantra dalam tingkah dan perkataannya sehingga sedihku bersembunyi entah dimana.Rasa yang indah setiap sosoknya tertangkap bola mata coklatku itu… sudah pantaskah jika ini kuanggap rasa cinta? Atau hanya hasrat semata? Jika aku menganggapnya cinta, akan muncul seberkas gelap membayangi cahaya wajah Kibum. Dalam gelap itu masih terdapat kemungkinan bahwa aku akan terluka saat dia tidak merasakan rasa yang sama denganku. Dan jika aku tidak menganggapnya cinta… maka sebagai apa lagi aku harus menganggapnya?

Jika Bumi mengijinkan

Dan Sang Penguasa menghendaki..

Maka kau akan melihat gadis itu,

Teman bagi serigala..

Begitu isi tulisan yang kubuat tiga menit setelah membaca tulisannya. Kuserahkan padanya dengan tradisi yang sama pula. Pohon ini seolah menjadi pengantar isi hati.Mataku mulai menerawang jauh. Membayangkan kemungkinan yang akan terjadi saat aku meminta ijin pada Umma. Apa Umma akan mengijinkan? Padahal, aku tidak pernah keluar malam.


Tunggu! Apa Nicole akan menonton pertandingan itu juga? Mungkin jika aku pergi bersama Nicole, umma akan…


Di rumah …


“Umma apa aku boleh pergi besok malam?” tanya Nicole. Aku yang kebetulan lewat saat percakapan itu terjadi langsung memelankan langkahku agar suara umma dan Nicole masih bisa tertangkap.

“Kau mau kemana?” tanya Umma.“Ada pertandingan basket. Semua anak kelas tiga diharapkan hadir karena acara ini adalah pertandingan terakhir kami.”

“Baiklah.”“Apa aku juga boleh ikut?” aku ikut menyela.

“Untuk apa kau ikut acara anak kelas tiga. Kau kan masih kelas dua.” Balas umma.

“Kalau begitu bagaimana jika ditukar? Saat pertandingan basket tahun depan, aku tidak akan ikut.” Tawarku.

Umma menatapku tajam. Nicole langsung berdiri di depanku seolah ingin melindungiku.

“Teman dekat yeon-ah ada yang ikut pertandingan juga. Tolong ijinkan Yeon-ah menontonnya. Aku akan menjaganya, Umma.” Pinta Nicole.

“Kau punya teman? Benarkah itu?”, Umma menatapku dengan tatapan mengejek.Tubuhku makin mengkerut di belakang punggung Nicole.

“Umma…” Nicole membelaku

“Baiklah, Yeon-ah juga ikut. Jangan pulang terlalu malam.” Putus umma.Sebuah senyum puas terkembang di bibirku. Aku bisa melihat pertandingan Kibum. Jujur belum pernah sekalipun aku menonton pertandingan macam itu. Nicole menoleh ke belakang dan ikut tersenyum setelah mendapati aku tengah tersenyum. Tapi kali ini senyum Nicole membuat senyumku pudar. Umma mengijinkanku karena Nicole yang memintanya. Apa di telinga umma hanya suara Nicole yang terdengar?


~ Di kamar Yeon-ah ~


“Jadi Umma-mu mengijinkan!?” tanya Kibum tak percaya. Aku menggenggam ponselku erat.

“Ne.” jawabku sambil menganggukan kepalaku kuat – kuat biarpun aku tahu kibum tak akan bisa melihat anggukan kepalaku.

“Baguslah. Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan kau tidak akan sanggup pergi kesana.” Kibum menarik napas lega.
Aku duduk di pinggiran tempat tidurku.

“Kenapa begitu ingin aku ke sana, melihat pertandinganmu?” aku memancing Kibum. Wajahku memerah sendiri memikirkan jawaban yang akan Kibum berikan.

“Keajaiban hanya akan terjadi jika malaikat ada di sekitar kan?”

“Ehh?”Tawa kecil kibum terdengar.

“Lupakan saja. Kau bisa datang, aku sudah sangat bahagia. Anggap saja aku memintamu datang sebagai ganti aku membalas tulisanmu.”

“Tapi kau kan hanya menulis saja.”

“Aku menulis selama satu bulan. Berarti sudah ada tiga puluh bait yang kutulis untukmu. Dalam satu bait anggap ada lima baris dan dalam satu baris anggap saja ada 20 huruf. Berarti sudah 3000 huruf kutulis untukmu. Orang sibuk macam aku sudah menyempatkan diri menulis 3000 huruf. Bukankah aku sangat baik hati?”Aku mengerucutkan bibirku.

“Ternyata ego-nya masih sama saja… Saat pertama bertemu, kelihatannya ramah. Tapi lama – lama agak sombong juga. Apalagi kalau sudah melihat cermin. Dia ini pria atau wanita sih?” keluhku dalam hati.“

Kenapa diam?” tanya kibum.

“Tidak. Aku hanya sedang…” ucapanku terhenti.

“Sedang apa?”Aku menarik napas panjang.

“Sedang berpikir. Kau… dan aku… sebenarnya… sebenarnya…”,

“Kau menelpon siapa?” Nicole tiba – tiba sudah ada di dekatku. Aku segera memutus panggilan.


** Kibum menatap layar ponselnya. Panggilannya sudah terputus. Dahi kibum berkerut.“Anak ini sebenarnya mau bicara apa sih?” kibum mengacak rambutnya. **


“Teman.” Jawabku singkat. Nicole mendekat.Bodoh! Alasan yang bodoh. Nicole tahu bahwa aku tidak ada teman di sekolah. Kenapa aku menggunakan alasan itu?“Pria atau wanita?” tanya Nicole menyelidik.Aku hanya menatapnya dengan mata membulat.

“Apa aku tidak boleh mengetahuinya?” tanya Nicole.Aku menunduk. Nicole tersenyum geli dan mengelus kepalaku lembut.

“Pria kan? Ternyata adikku sedang jatuh cinta ya.” Tebak Nicole. Aku mengangkat wajahku. Nicole menatap wajahku lekat. Pandangannya mendadak menjadi sayu.

“Ternyata… kita benar – benar mirip ya. Aku baru menyadarinya.” Gumam Nicole seraya menyibakkan beberapa rambut yang menutupi wajahku. Aku… Nicole… mirip? Hhh, apa kau sedang bercanda? Atau sedang mengejek? Mirip darimana?“Tapi… kenapa matamu…?” Nicole menatap mataku lurus.“Kenapa matamu begitu mirip dengan appa?” lanjut Nicole.Aku segera memalingkan wajahku. Aku selalu begitu jika ada orang yang membicarakan mengenai mataku. Selalu… Kecuali saat kibum yang melihatnya. Nicole agak terkejut menanggapi reaksiku.“Aku lelah. Aku ingin tidur.” Usirku halus. Nicole yang mengerti maksud ucapanku melangkah pergi.


Aku dan Nicole mirip? Ayolah! Kami sangat berbeda. Apa Nicole sedang mengejekku?


Senja di hari berikutnya ~~


Jika ada orang yang mengetahui perbuatanku ini, pasti aku akan benar – benar malu. Sudah seperti kejahatan moral bagiku melakukan hal ini. Tak dapat kupercaya aku melakukan hal ini. Aku menyelinap ke kamar Nicole dan mencuri, bukan… bukan mencuri.. meminjam tepatnya. Meminjam aksesoris Nicole. Entah setan macam apa yang merasukiku. Hanya kali ini saja. Aku ingin tampil ‘cantik’ di depan kibum. Supaya setidaknya Kibum menganggapku sebagai ‘seseorang’ yang pantas.
Mataku tertuju pada kotak aksesoris Nicole. Aroma khas wanita langsung menusuk hidungku. Ada begitu banyak barang di kotak itu. Hanya beberapa yang familiar bagiku. Sisanya aku tidak tahu apa fungsinya.


“Yang mana yang harus kupinjam?” gumamku. Bau yang menyengat menarik perhatianku. Ternyata tanpa sengaja aku menumpahkan parfum Nicole! Astaga! Bagaimana ini? Aku bergegas mengambilnya dan menutup botol itu. Tinggal sedikit yang tersisa. Aku menatap tempat tidur Nicole yang basah oleh parfum dan mencoba mengeringkannya dengan bajuku. Hhh.. Baunya tidak akan hilang semudah itu. Lagipula kenapa Nicole memakai parfum dengan bau semencolok ini?


“Eotteokhae?” keluhku.
Gagang pintu bergerak kebawah. Nicole Nampak begitu terkejut melihat keberadaanku di kamarnya. Wajahku langsung pucat pasi.
“A.. a.. aku…”


Hidung Nicole yang mencium bau menyengat parfum segera membimbing matanya kearah botol parfum setengah kosong yang ada di genggamanku. Dan segera ia menyadari tumpahannya di tempat tidurnya. Nicole ganti menatapku. Aku hanya terdiam tanpa tahu harus berkata apa. Apa aku harus mengakuinya? Nicole melangkah mendekatiku.
“Kenapa?” tanyanya lembut.“Aku… hanya ingin pinjam barang.” Ucapku malu.


Pandangan Nicole teralih pada aksesorisnya yang berserakan di luar kotak.“Kau… ingin berdandan?” tanya Nicole halus.Aku menarik napas panjang.“Apa untuk temanmu itu?” tanya Nicole lagi.Aku mengangguk lirih.“Aku… Aku tidak cantik seperti onnie… Jadi, kupikir berdandan akan membantuku sedikit. Tapi sepertinya aku akan tetap jelek.” Aku tetap menunduk. Aku terlalu malu untuk menatap wajah Nicole.Nicole menatapku penuh pengertian. Lalu membimbingku ke kursi di depan cermin. Perlahan ia mengangkat wajahku. Membiarkanku sejenak menatap bayanganku. Astaga, mukaku begitu merah. Apalagi kulitku pucat, sungguh jelas terlihat.


“Kau cantik, yeon-ah. Percayalah padaku. Kau cantik.” Nicole ikut menatap bayanganku.“Benarkah?” tanyaku tidak percaya.Nicole tersenyum.“Ayo kita buat temanmu terkejut.” Nicole mengambil sekotak bedak yang biasa ia pakai.Tangan Nicole yang terampil segera memoles wajahku. Aku menurut saja dengannya. Lagipula jika aku ingin melakukannya sendiri, aku tidak mengerti caranya. Dan aku yakin jika Nicole yang melakukannya pasti akan lebih baik.


Setengah jam kemudian…


Nicole tersenyum puas melihat hasil kerjanya.“Sudah selesai. Ayo buka matamu.” Ucap Nicole.

Perlahan aku membuka mataku. Mataku terbelalak lebar. Sulit dipercaya bahwa gadis di cermin itu adalah aku. Dia begitu… cantik… Lebih cantik dari Nicole. Aku menengok ke belakang. Nicole masih tersenyum. Keringat Nampak menempel di dahinya. Apa merias orang juga sama melelahkannya dengan bermain basket?

“Cantik ,kan?” tanya Nicole.Aku mengangguk.

“Gomaewo, onnie.” Aku ikut tersenyum puas.
Aku berbalik dan melihat kearah cermin lagi. Kenapa aku jadi sangat suka melihat cermin? Apa aku tertular kibum?
“Tapi… onnie, apa ini tidak apa? Acara itu kan hanya pertandingan basket biasa.”

“Tidak apa. Bukankah disana ada kibum? Aku yakin pasti banyak gadis lain yang berdandan lebih dari ini.” Tebak Nicole.

Kibum… Ya, kibum harus melihatnya. Kibum harus melihatku secepatnya. Aku ingin ia ada disini saat ini juga. Sangat ingin bertemu dengannya. Kira – kira apa yang akan ia katakan setelah melihat penampilanku? Apa ia akan memujiku?

“Umm.. sepertinya ada yang kurang.” Nicole membuka lemari bajunya dan mengeluarkan beberapa potong baju.Sejenak ia Nampak memilih. Dan akhirnya mengambil pakaian putih dengan rok selutut. Lalu Nicole berjalan ke arah rak sepatunya dan mengambil high heels warna putih susu.

“Pakai ini ya.” Nicole menyerahkan pakaian dan sepatu.

“Tapi..” ,

“Ukuran kita kan tidak jauh berbeda. Pasti muat.” Potong Nicole.

“Tapi… aku tidak pernah memakai high heels.” Jawabku polos.“Oh. Kalau begitu, ini saja.” Nicole mengambil sandal tali dengan hak pendek.“Sudah ayo ganti bajumu! Aku tidak sabar ingin melihatnya.” Nicole mendorongku keluar dari kamarnya.“Gomawo, onnie.” Ucapku lagi.Nicole tersenyum.

Aku berlari kecil menuju kamarku. Dengan penuh semangat aku mencoba pakaian Nicole. Benar, ukurannya pas. Aku melangkah ke dekat cermin dengan wajah berseri. Ini adalah kali pertama aku melihat cermin dengan senyum.

“Park yeon-ah, ternyata cantik juga.” Aku memuji diriku sendiri.Beberapa menit kuhabiskan untuk mengamati bayanganku di cermin. Berputar. Mencoba berbagai gaya.


Ponselku berbunyi. Senyumku makin lebar ketika membaca nama yang tertera di layar. ‘Kim kibum’.“Yobboseyo.” Ucapku riang.“Kedengarannya kau bahagia sekali. Kenapa?” kibum menyadari perubahan perasaanku.“Bukan apa – apa.” Ucapku.Aku ingin kibum melihatnya sebagai kejutan. Aku ingin ia terpesona oleh penampilan baruku.“Umm… aku hanya ingin menanyakan apa kau sudah berangkat?” tanya kibum.“Sebentar lagi.” Ucapku.“Baiklah. Sebaiknya kau bergegas. Bangku penonton sudah hampir penuh.” Ucap kibum.“Ne.” jawabku.Kibum menutup ponselnya.“Kenapa lagi anak itu?” tanya kibum.
Kembali aku menatap cermin. Sungguh kebiasaan Kibum sudah menular padaku. Gerakanku terhenti. Pandanganku tertuju pada mata dari sosok di balik cermin. Matanya berwarna cokelat, sama dengan mataku. Memandang matanya… mengembalikan ingatanku akan malam itu…


Nicole berbohong… Malam itu… aku… tidak terjatuh…..


Aku…..


Aku…..


Aku ingat semuanya..Rasa sakit yang kualami.. Aku yang bersusah payah mencari Umma, namun Umma malah meninggalkanku. Tangis Nicole. Kepala yang berdenyut. Terasa begitu nyata. Seolah kini kepalaku sungguh berdenyut. Tidak. Maksudku, kepalaku kini benar-benar berdenyut..Rasa sakit yang sama dengan malam itu. Tanganku segera menekan kepala kuat – kuat.

“Kumohon… Jangan sekarang. Kibum harus melihatku dulu. Harus…”Pandanganku mulai kabur lagi.

“Tenang, park yeon-ah. Tenang. Aku harus tetap datang ke pertandingan itu. Sakit ini… cepatlah pergi. Kumohon.”Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Mungkin tiduran sejenak bisa mengurangi rasa sakitku.


Tok… tok..Seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Yeon-ah, bagaimana? Apa ukurannya pas?” tanya Nicole dari luar kamar. Aku ingin menjawab tapi kepalaku terlalu sakit.

“Yeon-ah.” Nicole memanggilku lagi. Gawat! Bagaimana jika ia masuk dan mendapatiku dalam kondisi seperti ini? Nicole pasti tak akan mengijinkanku menghadiri pertandingan basket. Tidak! Nicole tidak boleh tahu akan keadaanku.

“Yeon-ah!” panggil Nicole lagi.“Ppp..paass…” ucapku terbata.

“Cc.. cantikk ssekali..” lanjutku.“Benarkah? Suaramu terdengar aneh. Apa kau tidak suka modelnya?” tanya Nicole.Aku tidak menjawab kali ini. Melainkan hanya merintih pelan menahan sakit.“

Biarkan aku masuk, yeon-ah. Nanti aku carikan baju lainnya.”

“Jj..jangan. A..a..aku sedang meng.. ganti baju. O.. onnie tidak boleh ma.. suk.” Jawabku.

“Kenapa suaramu begitu? Apa kau sakit?” tebak Nicole.Aku makin meringkuk di ranjangku.

“Kita akan terlambat, yeon-ah.”

“O.. onnie berang..kat dulu ss..saja. A..a..ku akan men..yusul nanti…”

Samar – samar aku melihat cermin. Riasanku sudah berantakan kini. Rambutku kusut. Sungguh memalukan jika kibum melihatku dalam kondisi seperti ini.“Kenapa tidak berangkat bersama?”


Nicole yang mulai habis kesabaran memutar gagang pintu. Tidak dikunci. Nicole melongok ke dalam.Nicole langsung berlari menghampiriku. Aku tetap meringkuk di tempat tidur.

“Yeon-ah, kau kenapa?” tanya Nicole khawatir.

“Ayo kita ke rumah sakit.” Nicole mengambil ponselnya.

“A.. andwae..” aku mencoba merampas ponsel Nicole.“Ayolah, yeon-ah. Jangan begitu.” Nicole makin cemas.

“Kibum akan mengerti. Kibum akan mengerti!!” Ucap Nicole sedikit membentak.

Aku menatap Nicole tidak percaya. Darimana ia tahu mengenai kibum?“Aku tahu kau menyukainya. Aku tahu kau ingin dia melihatmu hari ini. Tapi kondisimu tidak memungkinkan, yeon-ah.” Lannjut Nicole. Darimana Nicole tahu sebanyak ini? Apa mungkin.. dia…?


~~ Kibum POV ~~


“Kenapa? Apa ada yang kau cari?” tanya jinki.Aku menggeleng.

Namun mataku terus menyapu bangku penonton. Mencari sosoknya yang tak kunjung datang.“Nicole?” tebak jinki. Aku menoleh.“Bukan.” Jawabku singkat.

“Haejin?”“Untuk apa aku mencarinya? Dengan suara melengkingnya itu, dia sudah begitu mencolok. Tidak perlu dicari.”

“Tapi suaranya lucu.”

“Hehe… Benar. Lucu. Seperti suara orang kejempit pintu.”Jinki memukul kepala kibum.

“Kau tidak boleh begitu pada wanita!”“Apa dia wanita? Aku bahkan masih tidak yakin kalau dia manusia.”

“Aiissh… Memang siapa yang kau tunggu?”Aku terdiam lagi.

“Mungkin ia terlambat. Ayolah. Kita harus bersiap untuk pertandingan ini. Bukankah ini pertandingan yang sudah kita tunggu – tunggu sejak kita masih kelas dua?” Ajak jinki.

“Lima menit lagi.” Tawarku.

“Lima menit lagi aku akan kesana.” Janjiku. Jinki pun menyerah. “Lima menit ya?” ulang jinki.Jinki pun pergi memberi instruksi untuk anggota basket lainnya.

“Oppa, hwaiting!!!” seru Haejin dari kejauhan.“Cih, dia itu… Selalu membuatku malu.” Ucapku seraya melihat kearah banner raksasa bertuliskan ‘Kibum, Hwaiting! <3’ yang dibawa haejin.


Beberapa anak dari sekolah lain tersenyum geli melihat tingkah Haejin dan banner raksasanya.

“Lihat itu. Seperti mau menonton konser saja.” Celetuk pemain basket lain.

“Kibum oppa, jika kau menang aku akan mentraktirmu makan! Kau mau kan makan denganku?” teriak Haejin.

“MWO?? Aaissh… Lebih baik aku puasa saja.”
Penasaran aku mengambil ponselku dan menelpon yeon-ah.
“Yobboseyo…” terdengar suara Nicole.“Umm… Nicole, apa yeon-ah sudah pergi ke pertandingan?” tanyaku agak kecewa karena bukan yeon ah yang mengangkatnya.“Dia… tidak bisa datang.” Jawab Nicole lirih.“Kenapa?”“Penyakit lamanya kumat lagi.”“Penyakit? Penyakit apa?” jantungku berdetak cepat.Nicole mulai menceritakan panjang lebar mengenai kecelakaan sepuluh tahun lalu. Betapa terkejutnya aku mendengar semua itu. Ternyata yeon ah…
“Mohon kau bisa mengerti, kibum-ah… Tadi dia bersikeras ingin melihat pertandinganmu, tapi kondisinya tidak memungkinkan.” Ucap Nicole di akhir ceritanya.“Dimana ia dirawat?” tanyaku cepat.“Eh? Bukankah kau ada pertandingan?”“Dimana?” tanyaku lagi.Nicole memberikan nama rumah sakit tempat yeon ah dirawat. Ternyata rumah sakitnya tidak begitu jauh dari tempat ini. Hanya beberapa blok saja. Segera kututup ponselku.
Aku berlari menyeruak anggota basket lain yang masih sibuk menerima pengarahan dari Jinki.
“Cepat sekali. Padahal baru tiga menit.” Celetuk jinki.”Tidak jinki. Kau salah. Aku kemari bukan untuk menerima pengarahanmu. Aku kemari.. untuk mengambil jaket dan tasku”, batinku. Segera setelahnya aku berlari meyeruak keluar.“Yaak!! Kim kibum! Pertandingan sudah hampir dimulai!” panggil jinki.Aku tidak menoleh sama sekali. Yang ada di pikiranku hanya Yeon-ah. Hanya gadis itu.
Jinki mengejarku dan menarik pundakku.“Yaak! Apa sih yang kau pikirkan?” jinki mulai emosi.Aku bisa mengerti jika jinki marah padaku. Pertandingan ini adalah mimpi kami berdua sejak setahun yang lalu. Kami sudah berusaha begitu keras demi pertandingan ini. Dan semua usaha itu seolah tak lagi berarti sejak sepuluh menit yang lalu. Aku melepas tangan jinki dari pundakku.“Ada hal lain yang lebih penting.” Ucapku.“Apa!? Nicole!?”“Bukan.”“Lalu apa? Demi Tuhan, kibum! Kita telah berjuang begitu keras demi pertandingan ini. Tidakkah kau ingat latihan keras yang telah kita lakukan?”“Jinki, kumohon berpikirlah untuk jangka panjang! Jika aku mengikuti pertandingan ini dan menang, lalu apa!? Hanya memuaskan hasrat sementara. Tapi jika aku tidak pergi sekarang, aku akan menyesal seumur hidupku. Aku akan membawa kenangan ini sebagai dosa sampai akhirat. Katakan padaku Lee Jinki, tanpa basket aku bisa tetap bahagia. Biarpun harga diri jatuh aku pun akan tetap bahagia. Tapi jika aku mengorbankan perasaan demi basket, apa aku masih bisa bahagia?”
“Apa yang kau katakan?”“Yang aku maksud adalah… aku… demi gadis ini… aku rela melepas apapun. Keringat yang terbuang biarlah terbuang. Harapan yang pupus biarlah pupus. Asal itu demi dia… semua akan kulakukan.” Aku tertunduk lemah.
“Dia siapa?” tanya jinki.
** Kibum Nampak ragu. Ini adalah kali pertama ia mengatakannya pada orang lain.**
“Dia… Gadis yang pergi bersama mentari… Park yeon-ah.” Ucapku seraya pergi meninggalkan Jinki.“Park yeon-ah? Bukankah dia adik Nicole?” gumam jinki.

Aku terus berlari. Angin malam menembus kulitku, mengigit dagingku, menusuk tulangku. Riuh penonton basket masih terdengar dari kejauhan. Aku memilih berpura-pura tuli sementara.
“Aku mengambil keputusan yang tepat. Aku mengambil keputusan yang tepat.” Kalimat itu terus aku ulang seiring dengan langkahku.
Aku tahu, seharusnya saat ini aku sedang berlari bersama rekan – rekanku di lapangan basket. Berlari membawa bola ditemani dukungan dari penonton. Tapi kini aku berlari sendiri di tengah malam yang dingin. Tanpa seorangpun yang mendukung.Sedih? Kecewa? Tentu saja tidak! Aku berlari demi sesuatu yang pantas untuk aku perjuangkan. Sesuatu yang jauh lebih berharga dari popularitas basket. Sesuatu yang mungkin disebut… cinta…

Di rumah sakit…
Keringat membasahi tubuhku. Persis setelah latihan basket. Bibirku membiru karena dinginnya malam. Kupikir kulitku sudah agak mati rasa karena terlalu dingin.
“Kibum-ah…” panggil Nicole.“Yeon ah… dimana?” tanyaku dengan napas memburu.

===========T.B.C============

Commet in this blog or my account Twitter

About kkangrii

| Moslem |

Posted on 19 Maret 2011, in Riyantika Sussi. Bookmark the permalink. 16 Komentar.

  1. keren bgt Bummie rela ninggalin smuanya.. Moga yeon ah gpp.. penasaran bgt, cepet lanjutin lg thor..

  2. Astaga nicole baik bgt, kibum jg,, so sweet bgt, hua padahal pengen liat yeon ah dandan. .Plis yeon ah jgn dibikin mati ya unn,haha udah tragis soalnya

  3. Keren,,.
    Kibum rela ngelakuin apa aja,buat yeon ah.
    Penasaran kelanjutannya, ditunggu ya author.

  4. Happy ending please (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  5. Iya neh tmbh keren za, jd mkin ksengsem ma si kunci *dijitak hae

    iya thor moga happy ending ya! jan mpe yeon-ah mti ya! kcian si kunci’y.. part 8 ASAP thor!!

  6. ayo thor yeon ahx jgn dibkin mati biarkan dia merasakan kebahagiaan yg blm dia rasakan slama nie!!! jebal~~~🙂

  7. Kya,knp pgn nangis y? Ki bum so sweet,please yeon-ah jgn mati! Lanjut~

  8. Kyaaa…ff.y keren abis…
    Moga aja gak sad ending klo sad ending bisa2 saa nangis darah ini…jgn sampe yeon ah mati…thor tolong jgn dibuat gitu yah, plisss *narik2 lengan baju author #plak*
    Pokok.y Lanjuttttttt……

  9. oia…hampir lupa, tolong key oppa sm yeon ah aja yah jgn sm nicole *ditabok nicole*

  10. Lnjut eonni,, aq pnasaran.

  11. ini cerita kapan dilanjutin lagi thor…
    akku masi penasaran tingkat super akut

  12. kyaaa~i ff nya keren,,,,,,,,
    aq kecanduan dg ff chingu,,,lanjutin dongg,,,,,,,,,,,,,,huhuh

  13. KEREN …..
    .
    wah Key rela ngga ikut tanding hanya karna Yeon Ah~
    tapi aku setuJUN bgt sama kata” Key ke Onew *yg key mau pergi dr lap*
    maknanya dalem bgt ,,,

  14. Bgus bgt ff’y. .
    Tpi Sedih bca’y. .
    Lanjutkan ya. .hwaiting!!

  15. I’m afraid that I may have seen this page somewhere else.though, nice for sharing.

  16. Thanks for the information you’ve shared. I believe that I got benefits from the points.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: