[FF/S/4/PG-17] We Got Baby

Title : We Got Baby

Author : Mithaa Charinyoung a.k.a Min Soo Jin @S3FFi

Genre : Romance

Length : Series (chapter 4)

Rating : PG-17

Main Cast : Lee Jin Ki (Onew-SHINee) , Min Soo Jin (YOU-readers)

Supported Cast : Other SHINee member, Park Seong Rin, Jung Yu Ri and other ^^

 

——————————————————————-

 

 

Kutatap diriku untuk terakhir kalinya di cermin sambil tersenyum puas dengan hasil dandanan ku yang sangat sederhana. Aku hendak keluar berjalan-jalan sebentar sekedar untuk melepas penat.

Sebuah pesan singkat yang dikirimkan Jin Ki tadi masih terbayang di kepalaku. Kutatap layar ponselku yang menunjukkan isi pesannya sekali lagi seraya tersenyum.

“Appamu merindukanmu, sayang”, kuelus perutku lembut.

Aku kembali menatap layar ponselku dan mengetikkan sebuah pesan balasan untuknya.

To : Chicken

Aku baik-baik saja. Jaga kesehatanmu juga.

Ah dan satu lagi, ia juga merindukanmu.

Kukirim pesan balasan itu dan segera menutup flip handphoneku. Ketika hampur sampau di ambang pintu kamar, handphoneku kembali bergetar. Apa balasan dari Jin Ki? Secepat itukah? O.o

From : Chicken

Kuharap ibunya juga merindukanku ^^

***

“OMO! Hyo Jin. Hye Won. Sedang apa kalian?”, tanyaku setengah berteriak ketika keluar dari kamar. Ruang tengah seketika berubah menjadi lautan ramen instan hanya karena ulah dua makhluk kecil ini.

Aku berlari menghampiri Hyo Jin, sang kakak yang tengah mencelup-celupkan biskuit ke dalam ramennya.

“Aigoo… Berhenti mencelupkan itu, Hyo Jin. Itu bukan untuk ramen”, anak itu menatapku sumringah dan beranjak dari posisi duduknya. “Mandilah, kau harus sekolah”

“Huuwwwoooooooooo”, suara seorang anak perempuan yang tidak jauh dariku terdengar. Aku menoleh dan mendapatinya sedang memainkan ramen dengan jari-jarinya. Pakaiannya sekarang sudah kotor luar biasa.

“Astaga Hye Won, apa yang kau lakukan?”

“Ahjumma mau mengajak kami jalan-jalan”, tanyanya manja.

“Ya, kalau kau mau mandi sekarang. Ah, bukan jalan-jalan, kalian harus sekolah dulu. Pulang sekolah lalu kita jalan-jalan”, ia menatapku seraya memamerkan giginya dan mengangguk cepat menanggapi ucapanku.

Kedua makhluk itu pun akhirnya berlari menuju kamar mandi. Aku mengambil seperangkat alat untuk membersihkan dari dapur dan mulai membersihkan ruangan ini. Ckck..

30 minutes later..

Kurebahkan tubuhku di sofa seraya melepas peluh sehabis membersihkan. Wajahku yang sudah kupoles akhirnya berubah karena tetesan keringat. Aku hanya bisa menghela nafas pasrah akan keadaan.

“Cukup Dong Hae, aku lelah”, suara manja Seong Rin mulai terdengar di telingaku. Astaga, aku bahkan lupa kalau mereka berdua masih ada di rumah ini. Aku menoleh ke arah kamar Seong Rin. Ia dan Dong Hae oppa akhirnya keluar kamar dan berhenti di amabang pintu. Ia masih berbalut pakaian tidur yang memperlihatkan bahunya, sedangkan di belakangnya, Dong Hae oppa yang bahkan sedang bertelanjang dada memeluk Seong Rin dari belakang seraya menciumi leher wanita itu. Aku hanya memberikan satu tatapan ngeri (?) melihat aksi mereka berdua.

“Ehm.. Kurasa kalian harus menyadari adanya manusia lain yang sementara ini tinggal di rumah kalian”, ujarku akhirnya. Seong Rin yang sadar dengan kehadiranku menoleh padaku dan hanya memamerkan senyuman salah tingkahnya. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Dong Hae oppa disaat Dong Hae oppa masih memeluknya dengan manja dan antusias (?)

“Ahh.. Maafkan aku, Soo Jin”, Seong Rin berusaha bersikap normal. Ia menyikut pelan dada Dong Hae agar melakukan hal serupa, yaitu kembali bersikap normal.

“Oh yeah. Aku yakin kau mengerti ritual sepasang suami-istri dipagi hari dengan saling memberi..aukhh”, jerit Dong Hae saat ia memperoleh sebuah cubitan keras di lengan atasnya.

“Maksudku, aku minta maaf Soo Jin-ah”, sahut Dong Hae akhirnya.

“Santailah oppa. Tidak perlu minta maaf seperti itu”, ujarku.

“Ahjumma, aku sudah siap!”, sahut sebuah suara anak laki-laki yang tidak lain adalah Hyo Jin putra pertama pasangan suami istri yang ada di hadapanku saat ini. Hye Won, adiknya, juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Aku hanya memberikan satu senyuman banggaku kepada dua makhluk kecil ini. Setidaknya mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri.

“OMONA! Bahkan anak-anakku sudah siap berangkat sekolah”, pekik Seong Rin. Ia menghampiri dua anaknya dan mengelus kepala mereka pelan.

“YYA! Ikan! Palliwa~ mereka sudah mau berangkat!”, sahut Seong Rin pada Dong Hae oppa yang masih saja berdiam diri di ambang pintu kamar mereka.

Ia mendesah pelan dan kembali masuk ke kamarnya.

“Tidak usah, oppa. Biar aku yang mengantar mereka”, sahutku kemudian. Dong Hae oppa berbalik cepat menghadapku.

“Jangan gila Soo Jin-ah”

“Kau sedang hamil, Soo Jin. Seharusnya kau beristirahat. Lagi pula, ini sudah jadi tugas ikan itu”, kata Seong Rin seraya memakaikan kaos kaki pada kedua anaknya, meski sebenarnya aku yakin anak-anak itu bisa melakukannya sendiri.

“Hey, aku hamil bukan berarti aku harus terus-menerus menetap tanpa kerjaan sama sekali, kan? Aku butuh olahraga, ya setidaknya bergerak. Aku terlalu suntuk kalau terus-terusan di rumah, Seong Rin-ah”, terangku.

“Kalau begitu kita berangkat bersama saja, Soo Jin”, ujar Dong Hae oppa yang sudah mengenakan tshirt serta celana panjang dan memegang kunci mobil di tangannya. Aku menghentikan langkahnya dan segera merebut kunci mobil di tangan kirinya dengan mudah.

“Aku bukan anak kecil lagi, oppa. Aku akan baik-baik saja. I swear! Biarkan aku mengantar anakmu ke sekolah. Aku akan jamin keselamatannya”, terangku tepat di depan wajah suami Seong Rin itu. Aku tersenyum tulus dan ia hanya menatapku pasrah.

“Berhati-hatilah kalau begitu. Aku tidak ingin mendapat serangan ayam (?) dari suamimu jika ia pulang nanti”

“Ne oppa. Gokjonghajima (don’t worry)”, aku berlalu dari hadapannya dan segera menghampiri Seong Rin dan kedua anaknya.

“Kau yakin, Soo?”

“Berhenti memperlakukanku seperti seorang nenek yang sangat tua dan tinggal menunggu ajal mereka”, ledekku. Seong Rin hanya tertawa pelan.

“Berhati-hatilah. Jaga kandunganmu”, aku mengangguk pelan dan mencium pipi Seong Rin kilat.

“OK kids, let’s go!”, aku membuka pintu rumah Seong Rin dan mempersilakan kedua anak itu keluar duluan.

“Ahh. Silakan melanjutkan kegiatan kalian yang sempat tertunda”, ujarku pada pasangan suami istri itu seraya mengedipkan sebelah mataku.

***

“Ahjumma-ah”, panggil si kecil Hye Won yang duduk di jok belakang mobil sendirian, sedangkan Hyo Jin menemaniku di jok bagian depan.

“Emm”, gumamku pelan.

“Kira-kira anakmu nanti laki-laki atau perempuan?”, tanyanya polos.

“Harus laki-laki. Agar nanti bisa kuajak main masak-masak (?) balapan tamiya (sigh katrok maenan lu nak)”, jawab Hyo Jin antusias.

“YYA! Oppa, aku bertanya pada ahjumma. Bukan padamu”

“Hey, don’t be noise kids”, aku menoleh pada kedua anak Seong Rin dan Dong Hae oppa ini.

“Well, aku juga belum tau jenis kelamin adik bayi di perutku ini”

“Kenapa tidak diperiksakan saja ahjumma?”, tanya Hyo Jin semangat.

“Kan sekarang ibu-ibu hamil bisa ikut tes U..U.. U apa ya? Ahh UGD kan ahjumma?”, ujar Hye Won.

Aku terkekeh pelan mendengar ocehan bocah ini. “USG, sayang. Iya, nanti akan ahjumma periksa”

“Kalau adiknya perempuan, pasti cantik seperti ahjumma”

Aku hanya menatap kedua anak Seong Rin seraya tersenyum. Bahkan mereka juga tidak sabar menantikan kelahiran benih di rahimku ini.

***

“Aku pesan jus wortel saja ya”, ujarku pada salah satu waitress, ia mencatat pesananku kemudian berlalu.

Aku menatap pemandangan kota Seoul di pagi hari dari sini, salah satu cafe yang cukup terkenal di daerah pusat kota Seoul. Sehabis dari rumah sakit, kuputuskan untuk menikmati segelas jus disini. Ya, sesuai dengan anjuran si kecil Hye Won, aku melakukan tes USG di salah satu Rumah Sakit bersalin. Aku bahkan sempat mengambil gambar akan keadaan bayiku saat ini. Aku mengelus gambar itu pelan sembari tersenyum.

“Kemungkinan anak anda laki-laki, Nyonya”, perkataan dokter tadi masih terngiang jelas di telingaku.

“Aku sangat menunggu kehadiranmu, Sayang”, kutatap sebentar gambar itu kembali dan menaruhnya di tasku.

***

“Kau yakin?”, tanya Seong Rin yang sudah berulang kali ia menanyakan hal yang sama.

“Ne, Seong Rin. Ooh ayolah, aku tidak apa-apa. Biarkan aku menjemput kedua anakmu”, jawabku sembari mengambil kunci mobil yang terletak diatas meja makan. Seong Rin masih menatapku khawatir ketika aku hendak berjalan menuju pintu.

“I’m okay. Don’t worry”

***

“Mwo? Ahjumma, kau menjemput kami?”, tanya Hyo Jin saat memasuki mobil dan menyadari bahwa bukan ibunya yang menjemputnya.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum pada mereka berdua.

“Kau sudah periksakan bayimu, ahjumma?”, tanya si kecil Hye Won.

“Ne, dan kau tahu jenis kelaminnya apa?”, aku menatap mereka bergantian, “Laki-laki”, sambungku. Hyo Jin langsung bersorak bahkan bertepuk tangan mendengar perkataanku. Dan Hye Won hanya menghela nafas kecil.

“Yeahh.. Aku punya teman main”, seru Hyo Jin girang.

“Ahjumma, traktir kita eskrim dong”, pinta Hye Won. Aku pura-pura menimbang-nimbang sebentar dan akhirnya aku mengangguk pelan.

***

“Es krim rasa vanillanya 2 dan strawberry 1, agasshi”, ujarku pada seorang penjual eskrim di pinggir jalan. Aku melihat ke arah mobil yang kuparkir di seberang, sekedar memastikan kedua anak itu, Hyo Jin dan Hye Won yang berada di seberang dalam keadaan baik-baik saja.

“Ini es krimnya”, aku mengambil 3 cone es krim dari sang penjual kemudian memberikan beberapa lembar uang dan membungkuk pamit.

Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah pemandangan di seberang jalan, tepat di dekat mobil Seong Rin yang kukendarai tadi. Aku menajamkan penglihatanku untuk memastikan, dan yaa aku tidak salah liat. Aku melihat Lee Jin Ki bergandengan mesra dengan seorang wanita. Meski dia, Jin Ki, sedang dalam penyamarannya tapi aku dapat mengenalinya. Wanita yang digandengnya memakai topi kupluk dan sebuah kacamata hitam yang melindungi matanya sehingga aku tidak bisa memastikan betul siapa dia. Aku berdiri mematung sepersekian detik melihat pemandangan di seberang jalan tersebut. Dadaku sesak, mataku mulai panas bahkan pandanganku mengabur karena air mata yang akan keluar dari pelupuk mataku. Es krim yang kubeli untuk Hyo Jin dan Hye Won mulai meleleh di tanganku. Kedua orang itu, Jin Ki dan wanita yang tidak kuketahui siapa semakin bergandengan mesra. Mereka bahkan tertawa bersama seakan-akan tidak akan ada yang menyadari mereka. Apa selama ini Jin Ki melakukan hal tersebut? Bermesaraan dengan wanita lain sementara istrinya sedang mengandung?

Pandanganku kemudian beralih pada Hyo Jin dan Hye Won yang mulai memanggilku. Aku tersenyum pahit kepada mereka dan mulai melangkahkan kakiku pelan. Entah kenapa langkah kakiku terasa sangat berat dan menyebabkan aku kehilangan konsentrasiku.

“PIIIIIPPPPPPPP……”, suara klakson sebuah mobil akhirnya menyadarkanku bahwa sekarang aku tepat berada di tengah jalan. Mobil itu melaju dengan sangat cepat bahkan tidak memberikanku waktu untuk bergerak. Detik berikutnya, kurasakan diriku membentur jalanan dengan keras, sebuah cairan anyir mulai menggenangi pelipisku dan akhirnya pandanganku benar-benar hilang.

(END OF SOOJIN POV)

***

(AUTHOR POV)

Seorang wanita muda berjalan dengan cukup cepat melewati setiap koridor Rumah Sakit Internasional Seoul. Raut wajahnya menampakkan bahwa ia benar-benar cemas dengan sesuatu yang terjadi dan menyangkut hidupnya, lebih tepatnya keluarga. Ia bertanya pada resepsionis sebentar kemudian segera berlalu mendengar jawaban sang resepsionis tadi.

“EOMMA”, teriak dua orang anak secara bersamaan, laki-laki dan perempuan di salah satu ujung koridor di lantai 3 itu. Wanita tadi, Park Seong Rin, segera berbalik seolah mengenal suara yang terdengar barusan. Ia menajamkan penglihatannya, menghela nafas kecil dan tersenyum lega. Ia berjalan pelan menuju kedua anak itu dan segera memeluknya erat.

“Kalian tahu, kalian membuat jantung eomma hampir lepas dari singgasananya”, seru Seong Rin membuat kedua anak di hadapannya, Hyo Jin dan Hye Won sedikit tertawa setelah sebelumnya merasa tegang akan peristiwa yang terjadi.

“Appa tidak datang?”

“Anni. Dia sibuk. Eomma juga belum memberi tahunya tentang ini. Nanti saja jika ia pulang”, jawab Seong Rin tenang. Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal berisi beberapa sandwich dan menyodorkannya kepada kedua anaknya.

“Sekarang ceritakan pada Eomma apa yang terjadi”, pinta Seong Rin saat melihat kedua anaknya mulai melahap sandwich yang dibawanya.

Hyo Jin akhirnya menceritakan semuanya, mulai dari saat Soo Jin mengantarnya pergi sekolah dan disaat itu Hyo Jin dan Hye Won memintanya untuk segera tes USG, sampai ketika Hyo Jin memenangkan taruhan dengan adiknya bahwa anak Soo Jin adalah laki-laki.

“Kami lalu ditraktir es krim oleh Soo Jin Ahjumma. Waktu ia mau kembali ke mobil, tiba-tiba ia melamun, makanya aku melambaikan tanganku dari jendela mobil. Dan di saat itu juga, aku melihat Jin Ki Ahjussi ada di dekat mobil dengan perempuan lain”, terang Hye Won sambil tetap memegang sandwichnya.

“Siapa perempuan itu?”, tanya Seong Rin pada kedua anaknya.

“Mollayo, Eomma”

“Waktu mau menyebrang, tiba-tiba saja Ahjumma berhenti di tengah jalan dan kejadian selanjutnya aku tidak lihat. Aku takut”, ujar Hye Won mengerucutkan bibirnya. Seong Rin merangkul bahu anak perempuannya itu.

***

Sementara itu, di sebuah ruangan VIP sebuah rumah sakit yang sama, seorang wanita terbaring lemah di tempat tidurnya. Beberapa alat medis masih terpasang di tubuhnya dan mengatur kinerja organ-organ tubuh wanita itu. Sudah hampir 3 jam wanita itu tidak sadarkan diri.

Sore pun berlalu dan kemudian digantikan oleh kehadiran sang malam. Matahari yang sejak pagi memberikan kehangatannya kini telah menghilang kembali. Ruangan itu gelap, hanya mendapat penerangan dari arah luar kamar. Seorang wanita yang terbaring lemah akhirnya menunjukkan sebuah peningkatan. Jari-jarinya mulai bergerak, kemudian diikuti oleh tangannya. Wanita itu, Soo Jin, akhirnya mencoba membuka matanya. Percobaan pertama, gagal. Ia mencoba bernafas dan mengulangi usahanya kedua kali. Ia membuka matanya, dan berhasil. Ia menatap langit-langit kamar dengan samar. Ia mengerjapkan matanya pelan dan mencoba menelaah semua hal yang menjadi objek penglihatannya saat itu.

“Argghh..”, erangnya saat ia mencoba untuk duduk dan merasakan sakit di seluruh persendiannya. Ia memegang kepalanya yang masih pusing dan mencoba mengenali tempat dimana ia berada sekarang. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar VIP itu, namun tidak ada satupun manusia selain dia penghuni kamar itu.

CKLEK!

Kenop pintu terdengar terbuka dan seorang suster muncul dibaliknya.

“Ah nona, kau sudah sadar. Tunggu sebentar kupanggilkan dokter”

“Errrr.. Ahh..”, Soo Jin sedikit mengumpat agak kesal. Belum sempat ia bertanya keadaannya, suster itu kembali menghilang.

Beberapa saat kemudian seorang dokter didampingi 2 orang suster datang dan memeriksa keadaan Soo Jin secara intensif.

“Syukurlah kau sudah sadar, nona”, ucap sang dokter dengan ekspresi lega terpampang di wajahnya. Soo Jin hanya memberikan seulas senyum yang tidak begitu tulus.

“Kau tertimpa kecelakaan, nona. Kepalamu terpental ke jalanan dan menyebabkan sedikit masalah di otakmu. Tapi jangan khawatir, kami telah mengatasi hal itu dan sekarang kau hanya perlu beristirahat”, terang sang dokter dan Soo Jin hanya mengangguk-angguk. Ia menyentuh kepalanya yang dibalut dengan perban dan sedikit meringis.

“Jaga kondisimu. Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Konsumsi makanan bergizi serta teratur minum obat. Ah ya, jangan lupa untuk…”

“Dokter.. Mana bayiku?”, tanya Soo Jin blak-blakan setelah mengetahui bahwa perutnya yang sebelumnya buncit itu kemudian mengecil, bahkan nyaris rata. Sedari tadi ia memang masih merasakan sakit yang menyerang tubuhnya. Namun akhirnya ia menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

Dokter itu menunduk lemah. Kedua suster yang mendampinginya hanya saling bertatapan dan menghindari kontak mata dengan Soo Jin. Soo Jin mulai meraba perutnya bahkan mencengkeramnya. Sesuatu yang buruk pun melintas di otaknya.

“Where is my baby, huh? Dimana ia? DIMANA BAYIKU DOKTER?”, tanyanya dengan penuh emosi. Seketika matanya mulai dipenuhi dengan air mata yang membasahi wajah pucatnya. Ia sedikit bangkit dari posisi duduknya dan mencengkeram jas yang dikenakan dokter di hadapannya.

“KATAKAN DIMANA DIA. KUMOHON KATAKAAAANNNNNN”

Sang dokter akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Soo Jin iba. Ia melepaskan tangan Soo Jin yang mencengkeram bagian leher jasnya dan menurunkannya perlahan.

“Maaf, nona. Anda kehilangan bayi anda”

***

“Jin Ki, ada yang perlu kubicarakan. Kau sibuk?”

“…..”

“Ah yaa baguslah. Kita bertemu di cafe ku sekarang. Kau bisa kan?”

“…..”

“Baiklah. Sampai jumpa”

Seong Rin menutup flip ponselnya dan meletakkannya dalam tas. Ia melipat tangannya didepan dada sembari memperhatikan karyawan-karyawannya yang sedang bekerja di sebuah cafe miliknya. Pembicaraannya yang singkat dengan Jin Ki tadi kemudian hinggap di kepalanya. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi.

KKRRRIIIINNGGGG…

Dentingan bel yang menandakan kehadiran seorang pelanggan membuyarkan lamunan Seong Rin. Ia menoleh pelan ke arah pintu masuk dan mendapati Jin Ki yang lengkap dengan penyamarannya sedang melihat-lihat ke seluruh sudut ruangan. Seong Rin menghela nafas sejenak kemudian beranjak dari posisinya dan mendekati Jin Ki.

“Tidak kusangka kau datang secepat ini”, sahut Seong Rin yang membuat Jin Ki menoleh menatap wanita itu.

“Ahh. Tadi waktu kau menelepon aku sedang di jalan dekat sini. Jadi langsung singgah saja”

“Emm.. Ya sudah, kita cari tempat duduk. Aku yakin kau tidak akan mungkin mampu terus-menerus berdiri, kan”, ujar Seong Rin kemudian dan membuat keduanya terkekeh pelan. Seong Rin berjalan lebih dulu dari Jin Ki dan memilih sebuah meja di bagian pojok ruangan.

Setelah mengucapkan pesanan pada seorang waitress, Jin Ki akhirnya membuka penyamarannya. Ia melepas topi serta kacamata hitam yang sedari tadi dikenakannya.

“Aku minta maaf menyuruhmu kesini ditengah kesibukanmu”, kata Seong Rin memulai pembicaraan.

“Sudah kubilang aku sedang tidak sibuk, Seong Rin-ssi. Aku baru saja kembali dari Jepang dini hari tadi”, balas Jin Ki dengan senyumnya.

“Jepang?”

“He’em. Kami sedang ada aktivitas di Jepang belakangan ini. Baru tadi pagi aku sampai di Korea”, Jin Ki menyeruput Cappucino pesanannya yang baru saja diantarkan.

Seong Rin tersenyum sinis mendengar ucapan pria di hadapannya. Apa ia sedang mencoba berbohong? Sudah jelas-jelas bahwa dialah yang menyebabkan Soo Jin kecelakaan.

“Kau yakin?”

“Absolutely yes, Miss. Hey, sebenarnya ada apa? Kau..terlihat sedikit..aneh?”

Seong Rin melipat tangannya di depan dada dan hanya mencibir mendengar jawaban pria dihadapannya.

“You know what, Soo Jin got accident. Ahh kau tidak tahu ya. Kemarin kan kau di Jepang. Tapi Soo Jin kan kecelakaan karena kau”, sahut Soo Jin seraya menatap Jin Ki secara tajam.

“What? Maksudmu apa Seong Rin-ssi. Aku..aku tidak mngerti. Soo Jin kecelakaan, dan gara-gara aku? Apa yang terjadi sebenarnya?”, Jin Ki memasang tampang bingung membalas perkataan Seong Rin tadi.

“Jawab aku, siapa wanita itu?”

“Wanita? Siapa yang kau maksud? Ohh come on Seong Rin. Explain everything clearly please”, Jin Ki hanya mampu memasang tampang memelasnya.

Seong Rin menghela nafas panjang dan masih menatap tajam pria dihadapannya. Ia akhirnya bercerita tentang semua yang telah terjadi. Mulai dari Soo Jin yang menjalani tes USG, sampai ia mengalami kecelakaan hanya karena melihat suaminya bersama wanita lain. Jin Ki yang mendengar seksama penuturan sahabat istrinya itu hanya bisa menunjukkan satu ekspresi shock di wajahnya.

“Jadi, ada pembelaan Mister?”

“Aku.. Hhh.. Ini salah paham.. Aku.. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya”, Jin Ki mencengkeram kepalanya dengan kedua tangannya. Dengan penjelasan Seong Rin tadi, ia sangat merasa bersalah dan menyesal terhadap apa yang telah menimpa istrinya itu.

“Jawab dengan jujur, siapa dia? Dan apa hubungannya denganmu?”

“Dia hanya temanku, Seong Rin-ssi”

“Teman? Lalu kenapa kau harus berbohong padaku tadi kalau kau di Jepang kemarin, huh? Kau selingkuh?”

“Itu.. Itu.. Aku minta maaf soal itu”, jawab Jin Ki gelagapan. Terlihat jelas di wajah pria itu bahwa ia sedang kalut menghadapi semua ini.

“Dan aku akan memaafkanmu?”

“Ms. Park, tolong jangan menyudutkan aku seperti ini. I really don’t know what should I do now”

Hening sejenak. Suasana di meja itu yang sejak tadi sudah memanas akhirnya mereda. Keduanya masih diam. Jin Ki masih mencengkeram kepalanya dan menutup matanya. Sesekali ia meringis dan menghela nafas panjang untuk mengatur pikirannya. Sedangkan Seong Rin, ia hanya menunggu hingga pria yang menjadi suami dari sahabatnya itu berbicara.

“Wanita itu sahabat SMA-ku. Aku berbohong padamu kalau aku masih di Jepang kemarin dan baru kembali pagi tadi karena yeahh..aku memang tidak ingin ada yang tahu kalau aku pergi dengan sahabatku. Sebenarnya aku kembali dari Jepang sejak 2 hari yang lalu. Dan selama disini, aku memang kembali dekat dengannya. Hanya sebatas reuni saja, tidak lebih, apalagi sampai selingkuh. Kurasa penafsiran itu terlalu berlebihan”, terang Jin Ki.

Seong Rin masih menatap Jin Ki dengan tatapan menyelidiknya.

“Kali ini aku jujur, Ms. Park”

Seong Rin tampak menghela nafas sejenak kemudian berkata, “Baiklah, aku percaya. Temui istrimu di Seoul International Hospital. Kau cari sendiri kamarnya”

Jin Ki mengangguk mantap kemudian beranjak dari kursinya. Ia membungkuk sebentar pada Seong Rin sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.

“Ah aku lupa, Tuan Lee”, Jin Ki berbalik kembali menatap Seong Rin, “Istrimu keguguran. Dan well, kau hadapi saja sendiri semuanya”

“WHAT?”

TO BE CONTINUED….

Dan apa ini sekaranggggggg?????

Omo saya ga percaya bisa buat beginian. Ga jelas sumfeh -_-

Udah lama post, pas muncul malah gajeh begini. Mian readers tercintahhh *multi puppy eyes*

Next part entah kapan *smirk*. Ini aja harus nguras bak mandi (?) buat mikirin lanjutannya. Dasar author rongsokan -_-

harup maklum yaaaa.. Hahahahahaaa…

Please appreciate this FF by comment or like it. kamsahamnida ^^

Love you all, LoReSSSFics ^^

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

Posted on 22 Maret 2011, in Mithaa Charinyoung, SHINee Fanfiction and tagged , . Bookmark the permalink. 51 Komentar.

  1. Omoooo, keguguran? T^T
    Tapi gapapa, kan bisa bikin lagi😀 /plak/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: