[FF/PG-15] LOVE’S DISTANCE Chapt. 2/END

TITLE               :           LOVE’S DISTANCE Chapt. 2 [END]

Penulis             :           ArNy KIMTaemin

Rating               :           PG-15

Main Cast         :           [SUPER JUNIOR] Choi Siwon—[F(x)] Choi Sulli

Type                 :           Chapter [2/2] –END-

Disc                  :           sekali lagi maaf ya bagi yang gak suka dengan pairing. Terutama pairing Super Junior-F(x). Ini Cuma fanfiction yang author buat aja kok. Cuma fiksi belaka. Jadi jangan marah ama author.. ^__^.

A/N                   :           PLEASE, BE A GOOD READER!!

-tulisan warna ungu : flashback yaa..

 

~~HAPPY READING~~

(Sulli P.O.V)

Meski harus menahan kantuk yang sudah sangat melanda kelopak mataku, aku tetap berusaha menahannya agar tidak jatuh. Apalagi untuk pulang kerumah. Aku tidak ingin pulang kerumah sebelum aku bertemu dengan Siwon. aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja. karena aku yakin, ucapan Luna tadi siang di kampus pasti hanya sekedar kabar burung. Itu pasti hanya gosip semata.

Tapi… kenapa hingga saat ini aku masih tetap juga terus berada ditempat kuberada sekarang? melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan kemarin. Berdiri di depan apartment Siwon untuk menunggu laki-laki itu pulang. Meski lelah, tapi aku harus melakukannya.

‘Jin Ri! gawat Jin! Gawat! Ini benar-benar GAWAT!’ Luna berusaha mengucapkan kata-kata disela-sela napasnya yang tersengal-sengal.

‘gawat apanya?’ tanyaku penasaran. ‘apa ada gosip lagi di kampus kita? Apa ada anak baru yang tampan seperti Choi Minho?’

Luna menggeleng.

‘ atau seperti Choi Seunghyun BIG BANG lagi?’ tanyaku sambil tertawa. Yah, kampusku bukanlah kampus yang tak pernah tersebar gosip. Segala jenis gosip, walau sekecil apapun tetap akan ketahuan juga oleh salah seorang pelajar kampusku yang kemudian gosip itu segera merambat cepat bagai arus listrik yang mengalir di suatu benda yang terkena air, menembus dari satu kelas ke kekelas lain bahkan sampai pada guru-guru di kantor semuanya. Dan memang benar seperti kataku barusan, beberapa minggu yang lalu ada kabar-kabar yang meluas di sekolahku dan itu tentang kabar hadirnya murid baru di kampus kami. Murid baru yang tampannya bisa dikatakan setampan Choi Minho( anggota SHINee paling tampan yang selalu disebut ‘Flaming Charisma’) serta Choi Seunghyun TOP— penyanyi big box nya ‘BIG BANG’ yang mempunyai banyak sekali fans perempuan.

Lalu sekarang gosip apa lagi yang beredarkah?

‘ani.’ Geleng Luna . ‘lalu apa dong?’ tanyaku bingung.

‘Siwon. Choi Siwon. pacarmu itu,’

Aku kaget. Keningku sentak mengerut dan satu alisku terangkat, ketika Luna menyebut nama Siwon. ‘ada apa memangnya? Apa kali ini murid barunya mirip dengan Siwon Oppa, ?’

Aih. Aku tak bisa membayangkan jika ada seorang mahasiswa di kampusku yang wajahnya 11:12 dengan wajah Siwon. bagiku akan terasa lucu sekali jika hal tersebut terjadi.

‘aniyo.’ Keningku mengerut melihat Luna yang lagi-lagi menggeleng. Gadis itu menepuk keningnya sendiri dengan tangan. ‘haduh, Choi Jin Ri! Kau ini kenapa bolot sekali sih?’

‘Heeeh? Lalu kalau bukan mirip, apa dong? ‘

‘Choi Siwon, anggota Super Junior yang meski saat ini sudah vakum dari Super Junior tapi masih ada saja fansnya itu…, dari sejak tadi pagi sudah beredar kabar hangat tentang dia di seluruh kampus.. apa kau sudah mendengarnya?’

‘apa?’ kagetku, lalu menggelengkan kepalaku. ‘aku belum dengar, Luna Onnie.. memangnya ada berita apa tentang Siwon Oppa, Onn?’ tanyaku benar-benar penasaran.

Aku melihat raut wajah khawatir dari kedua sahabatku. Entah kenapa, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Ada apa ini? kenapa dengan Siwon? apa berita hangat yang sedang mengungkit tentangnya??

‘Siwon. dia digosipkan mempunyai kekasih baru, atau wanita simpanan atau apalah sebagainya. Yang jelas, salah seorang mahasiswi jurusan Hukum di kampus kita ini, saat ia baru pulang nonton konser ‘SHINee’ kemarin, ia melihat Siwon Oppamu jalan bersama dengan seorang perempuan! Perempun itu masuk kedalam mobil Siwon, Jin Ri! Itu yang lebih parah!’

‘MWOOO!!???’pekikku histeris, memegang kepala.

Ucapan-ucapan Luna itu masih terngiang-ngiang jelas di telingaku hingga saat ini, bagai suara hantu yang mengundang kecemasan.

Cepat-cepat, kugeleng-gelengkan kepalaku, berusaha melenyapkan berbagai pikiran buruk yang muncul itu. aku tak boleh berfikir seperti itu! Batinku.

TIDAK! ITU SEMUA TIDAK BENAR! ITU TIDAK MUNGKIN TERJADI! HEY, KALIAN.. KATAKAN PADAKU KALAU SEMUA GOSIP ITU TIDAK BENAR, KAN!! iya, pasti tidak benar! Wanita itu.. pasti hanya teman sekantornya Siwon saja kok… aku yakin itu!

aku mengayun-ngayunkan kakiku dengan kedua pipi wajah yang sengaja kugembungkan. aku tidak bisa duduk tenang untuk menunggunya saat ini. perasaanku benar-benar khawatir. Bagaimana kalau gosip itu benar? Bagaimana kalau Siwon memang jalan dengan seorang wanita?

Itu berarti??? Selama ini dia mempermainkanku?

Lalu bagaimana denganku? Jika dia lebih memilih wanita itu daripada aku, Apa aku akan dicampakkan olehnya?

Ah, pertanyaan demi pertanyaan yang terus muncul di otakku itu  sama sekali tak dapat ku ketahui apa jawabannya. Yang ada malah membuat perasaanku semakin gelisah tidak karuan sekarang.

Terlalu kantuk, kelopak mataku hendak terkatup lagi, namun wajah seseorang yang tiba-tiba terlihat membuatnya tertahan. Mataku segera membuka lebar, melihat apakah benar seseorang itu adalah Siwon?

Awalnya memang kabur, karena pengaruh dari kelopak mataku yang sudah terasa berat sekali jika di angkat. Itu semua akibat mataku yang terlalu mengantuk. Ya. ternyata memang benar, itu Siwon. namjachinguku yang paling kucinta dan kusayang.

Aku berseru riang, ‘Siwon Op…….pa..’ nada suaraku sedikit melemah pada saat mengucapkan ‘pa’. Kenapa? Yah. karena aku kaget. Kaget sekali.

Aku masih tertegun di tempat ketika Siwon bertanya sesuatu kepadaku. Meski awalnya, wajah Siwon tampak sedikit kaget tadi ketika ia melihatiku, namun ia menyapaku ramah, sama seperti biasanya.

‘ah, Jin Ri-ah. Kau ada disini?’ Kata Siwon dengan senyum khasnya. Aku menatap Siwon tajam. Dan sepertinya, Siwon merasa agak aneh dengan tatapan yang kutujukan padanya ini.

‘jam segini, kenapa kau bisa ada disini? bukankah aku sudah mengirim E-mail padamu dan memberitahu bahwa pertemuan kita hari ini batal. Apa kau tak baca E-mail ku lagi?’

Aku menelan ludahku sendiri, lalu berusaha berujar sesuatu, ‘……………sebenarnya, aku berharap aku tidak membacanya.’

‘eh?’ kaget Siwon.

‘ya.’ lanjutku. seharusnya aku tadi membaca pesanmu itu. Karena dengan begitu. Aku akan langsung ke apartmentmu dan bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau sedang bekerja dengan sangat keras. Ya. bekerja keras untuk mendapatkan hati wanita lain dan menyakiti perasaanku!’

Siwon tampak terkejut. Raut wajahnya mulai menandakan kekhawatiran. Sedangkan itu, wanita yang tadinya berjalan di belakang Siwon kini sudah berdiri di samping laki-laki itu. Tepat di sebelah Siwon. Wanita itu memasang wajah kagetnya. Aku tertawa miris. Apa wanita itu juga sama kagetnya seperti Siwon? mereka berdua sama-sama kaget karena kedok hubungan mereka terbongkar olehku?

Wanita itu melihat kearah Siwon sekilas lalu melihatiku lagi. Dari wajahnya sepertinya aku tahu apa yang akan dia katakan jika ia ingin bicara padaku. Raut itu seakan berkata, ‘tolong-jangan-berkata-seperti-itu’

Dan benar saja.

‘Jin Ri –ssi. Tolong jangan berkata seperti itu. Ini sama sekali tidak seperti apa yang kau lihat.’

Jin Rin? Oh, bagus sekali! Bahkan wanita itu tahu namaku! Apa sudah sedekat itu hubungan Siwon dengannya? Sampai, wanita itupun tahu kalau aku, mungkin, adalah seorang wanita yang sedang di permainkan oleh seorang Choi Siwon? laki-laki yang akan terus bersamanya apabila laki-laki itu memutuskanku juga meninggalkan aku?? Bagus! Bagus sekali! Pengkhianatan yang benar-benar ‘PERVECT’!

‘kerja. Selama ini, itu yang selau menjadi alasanmu! Oppa, apa kau tau? selama ini aku sudah cukup kesepian dan sudah cukup harus menahan rasa rinduku padamu lantaran kau selalu saja sibuk! Aku memaklumi pekerjaanmu! Tapi kenapa? kenapa sekarang Oppa tega membohongiku?!! Kata Oppa, Oppa sibuk! Kata Oppa, Oppa lagi kerja! Lagi rapatlah atau apalah! Tapi ternyata….’ aku tak dapat menyambung perkataanku. Hati yang mulai terasa teriris ini membuat bibirku seakan tak mampu lagi untuk bergerak, apalagi untuk mengucapkan walau hanya sebuah kata. Yang kutahu, kini bibirku bergetar. bergetar dan kemudian basah karena tertetes titikan air mata yang baru kusadari bergulir turun di pipiku yang kedinginan karena sudah lebih dua jam aku menunggu diluar dalam keadaan udara malam yang benar-benar dingin.

‘ng.. ini.. ng.. aku..’ wanita itu berusaha untuk mengatakan sesuatu padaku, tapi sepertinya kebohongan dia dan juga Siwon yang terbongkar secara tiba-tiba tanpa rencana mereka dahulu telah membuatnya bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu berbicara dengan gagap dan sama sekali tak menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya tampak kebingungan. Sesekali ia melihat kearah Siwon seolah minta pertolongan tapi sepertinya, Siwon sendiri sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. laki-laki itu masih terus tertegun, tak lepas menatapku.

‘Jin Ri,’ Siwon memanggil namaku dengan nada lembut. ‘kamu salah paham. Kami sekantor, dan dia juga tinggal di apartmen ini. dan kami tadi Cuma ngobrol. Ja-‘

‘Kalau begitu kenapa Oppa tidak jujur saja dari awal?!!’ teriakku memotong ucapan Siwon. Siwon tampak tercengang.

‘ kenapa selalu pakai ‘pekerjaanmu’ sebagai alasan, Huh?’ tambahku. Aku sadar suaraku pasti terdengar parau. Tangisku sudah hampir pecah. Dan kurasa kali ini tak akan terbendung lagi. Apalagi ketika Siwon hendak menyentuh kepalaku, itu hanya akan membuat perasaanku lebih sakit lagi karena hanya akan menumbuhkan seberkas harapan kembali padahal aku tahu kalau pada akhirnya hanya akan sia-sia saja harapan tersebut. Karena itu sebelum tangannya benar-benar menyentuh puncak kepalaku, aku sudah menepis tangan Siwon agar menjauh dari kepalaku lebih dulu. Aku tidak ingin di sentuh olehnya, untuk saat ini.

‘Jin Ri-ya?’ terdengar suara Siwon yang entah sejak kapan mulai berubah menjadi lirih dan dengan nada begitu dalam. Aku hanya mampu tersenyum miris. Itu pasti hanya sebuah sandiwara, kan?! Sandiwara agar hubungan mereka tak ketahuan secepat ini. mungkin mereka masih mau mempermainkan aku lagi? Namun, kali ini aku tak akan tertipu lagi.

Karena gugup, aku menggenggam sisi rok yang kugenakan hari ini, dan juga sengaja menundukkan kepala. Aku tak sanggup. Tak sanggup harus melihat wajah Siwon. apalagi melihat kenyataan bahwa ada perempuan lain di sampingnya. Perempuan yang aku yakin sekali umurnya tak kalah jauh dengan umur Siwon. mungkin itu salah satu faktor yang membuat Siwon mencintai perempuan itu dan tidak mencintaiku lagi.

Sampai saat ini aku seakan masih tidak percaya. Ternyata ucapan Luna tadi siang di kampus benar. Benar sekali. Sama sekali tidak salah.

‘Jin Ri. Dengarkan aku! Aku..’ Siwon berusaha menjelaskan, namun, gerakan tanganku yang memberi tanda ‘stop’ padanya, membuat ucapannya tertahan. Mulutnya bungkam kembali. Namun, matanya masih menatapku penuh kenanaran.

‘aku tidak bisa protes kalau alasannya pekerjaan Oppa.’ kataku kemudian. ‘Dari dulu. aku sama sekali tidka bisa memprotesnya. Karena aku maklum dan mau mencoba mengerti kesibukkan mu! tapi, kenapa kamu tidak mau mengerti aku, Oppa?!! Kenapa Oppa?? KENAPA?’

‘kau tahu. Tadinya aku menganggap bahwa gosip yang beredar di antara teman-teman kampusku tentang kau yang pergi bersama dengan wanita lain, selain diriku, itu salah! Kau tahu kenapa? KARENA SAAT ITU AKU PERCAYA PADAMU, OPPA! AKU PERCAYA KALAU KAU TAK KAN MEMPERMAINKANKU APALAGI MENGKHIANATIKU!’

‘……………………’ tak ada suara dari Siwon. laki-laki itu hanya diam mematung.

‘kau jahat!’ air mataku sudah bercucuran kini. aku sudah tidak dapat membendungnyalebih lama lagi. Mataku sudah terlalu memerah dan hatiku sudah terlanjur teriris sehingga terasa sakit sekali.

‘KAU JAHAT, OPPA! KAU JAHAT!!! SEBENARNYA KAU MENGANGGAPKU APA SELAMA INI, HUUH?? KAU HANYA MENGANGGAPKU SEBAGAI SAMPINGAN BELAKA YA??!!’ aku tak mampu menahan amarahku lagi dan terlanjur berteriak sekeras-keras yang kubisa sembari memukul-mukuli dada Siwon berulang kali. Sedangkan Siwon. entahlah. Aku tak tau bagaimana reaksi laki-laki itu. Apa ia sedang tersenyum? Apa dia sedang tertawa? Tersenyum dan tertawa karena berhasil menjalankan rencananya yang hendak mempermainkan diriku ini? Huh, kenapa sungguh miris hidupku ini?!

‘Jin Ri..’ suara lirih yang khas lagi-lagi terdengar di telingaku. Namun tak satupun bentuk wajah atau anggota tubuh lainnya dari sang pemilik suara yang tampak olehku. Karena mataku sudah kepenuhan dengan jutaan airmata keperihan dan kesakitan sehigga membuat pandangan mataku kabur. Kakiku mendadak saja lemas, seakan benar-benar tak punya tenaga lagi untuk bisa bergerak.

‘dengarkan aku, ya. aku sama sekali tidak pernah menganggap Jin Ri seperti itu, kok!’

Aku masih saja terisak. Yang kurasa sekarang, sebuah bidang membiarkan kepalaku bersandar disana. Hangat. Aku merasa kehangatan. Untuk sesaat aku dapat merasakan kehangatan dan ketenangan sedikit.

‘jadi, jangan berfikir macam-macam lagi ya. nah, sekarang sudah larut malam, jadi kita ngomongnya besok lagi aja ya.. aku tidak mau menjelaskan apa yang kau lihat ini disaat keadaanmu seperti ini. aku akan antar kau pulang, kau pasti kelelahan karena kuliahmu kan.’

‘LAGI-LAGI BEGITU!’

Aku bisa melihat sedikit wajah Siwon. sedikit saja, tidak begitu jelas. Tapi aku dapat melihat mata Siwon yang terbelalak dan tubuhnya yang langsung membeku ditempat bagai sebuah bongkahan es batu. Mungkinkah ia tercengang?

‘LAGI-LAGI BEGITU! OPPA PERLAKUKAN AKU SEPERTI ANAK KECIL!! AKU BENCI OPPA! AKU BENCII!! AKU MEMBENCIMU, CHOI SIWON! Uggh..’

Setelah berkata seperti itu, aku langsung berlari pergi menuju pintu keluar apartment. Meninggalkan kedua orang yang hanya tertegun di tempat posisi mereka masing-masing bagai sebuah patung.

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

(Siwon P.O.V)

Aku tahu selama ini kami jarang sekali bertemu. Dan semua itu disebabkan oleh pekerjaanku yang menumpuk. Meski awalnya, aku bersyukur karena ia memahamiku. Tapi selalu saja ada perasaan tidak enak dalam hati kecilku ketika aku harus menahan dirinya untuk tidak bertemu denganku dulu. Sesungguhnya, aku tidak ingin kebiasaan kami yang menjadi masalah ini terus terjadi.

Jika saja ada cara untuk mengakhiri semua ini, aku pasti akan melakukannya. Karena aku tak sanggup melihat wajah sedihnya, apalagi titikan air matanya yang mengalir dan disembunyikan olehnya tiap kali aku membatalkan pertemuan kami, meski tetap saja ketahuan olehku.

Maaf. Kata itu yang sejujurnya selalu ingin kukatakan padanya. Tapi, memang aku yang salah. Mungkin, Aku terlalu gengsi untuk terus mengatakan hal itu kepadanya. Ah,  tidak. Memang iya.

Tapi, seharusnya dia percaya. Dia percaya bahwa aku tidak pernah bermaksud melakukan semua hal itu padanya. Aku tidak pernah berfikir untuk membuatnya menangis. Kenapa? Karena aku cinta padanya. Bahkan terlalu besar rasa cintaku itu sampai aku sendiri tak tahu harus bagaimana lagi mengungkapkannya. Dan mungkin, benar kata orang. Aku ini bukanlah tipe laki-laki yang romantis. Tapi aku ingin ia tahu, bahwa aku benar-benar mencintainya. Sangat mencintainya malahan. Aku menyayanginya bahkan lebih daripada nyawaku sendiri. tapi jujur, sampai saat ini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menunjukkan perasaan hatiku itu sepenuhnya padanya.

Setiap kali ia menganggukkan kepalanya, pertanda setuju dengan permintaanku agar rencana pertemuan kami di batalkan, setiap kali itu pula, aku selalu merasa khawatir. Aku khawatir jika ia marah, lalu meninggalkanku. Aku tidak mau itu terjadi. Namun ketika dia menunjukkan wajah cerianya lagi seperti biasa, itu akan sedikit menenangkanku. Dan aku terus berharap agar dia tak lelah menjalani hari-harinya bersamaku. Karena aku ingin ia terus bersamaku. Selamanya.

Namun kekhawatiran itu akhirnya terjadi sekarang.

‘LAGI-LAGI BEGITU! OPPA PERLAKUKAN AKU SEPERTI ANAK KECIL!! AKU BENCI OPPA! AKU BENCII!! AKU MEMBENCIMU, CHOI SIWON! Uggh..’

Bagai ada sebuah petir yang menyambarku, aku terpaku ditempat ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang kucintai. Hatiku terasa perih bukan main ketika air mata menetes di pipinya yang putih. aku ingin menghapusnya dengan jemariku, sama seperti yang kulakukan biasa kepadanya, namun aku tidak berani. Aku takut ia akan semakin marah lalu akan semakin membenciku. Tidak. Aku tidak mau ia benci padaku!

‘Siwon-ssi.’

Aku tersadar dari keterpakuanku setelah sebelumnya mataku hanya sanggup memandang nanar punggung gadis yang berlari menjauh dari hadapanku dan lalu menghilang di balik pintu lift.

Aku baru sadar kembali bahwa saat ini masih ada seorang wanita di belakangku. Aku merundukkan kepalaku, tanpa membalikkan tubuhku yang masih tetap terasa kaku karena terlalu kaget dengan perkataan gadis yang baru saja berlalu dari hadapanku tadi.

‘maaf .. aku..’

‘tidak apa Nuna.’ Kataku, memotong ucapan gadis bertubuh tinggi dan berambut panjang sepinggul yang bernama Lee Na Ran itu. ‘justru harusnya aku yang minta maaf… maaf karena sudah melibatkanmu..’

‘……… aku berterima kasih karena kau sudah mau mengantarkanku. Dan aku sama sekali tidak pernah berfikir akan menjadi seperti ini jadinya.. maaf. Aku sudah merepotkanmu, Siwon.’

Aku mencoba tersenyum, walau terasa sangat susah untuk menggerakan bibirku. ‘tidak apa Nuna. Yang terpenting aku sudah melaksanakan perintah Jiwon Nuna, kan.’

‘ya. kau benar. Jiwon benar-benar beruntung punya adik sebaikmu. Tapi…’ gadis itu diam sebentar. Mungkin ia sedang berfikir apa kalimat selanjutnya yang hendak ia ucapkan.

‘pacarmu telah salah paham.. dan, aku tidak ingin salah paham ini semakin larut dan merusak hubungan kalian berdua. Karena itu, kurasa kau harus kejar dia! Kau harus mengejarnya dan jelaskan padanya bahwa kau hanya adik dari sahabatku, Jiwon, yang telah memerintahkanmu untuk mengantarkanku pulang supaya aku tidak dikuntit oleh para penjahat itu lagi. Lekaslah kau kejar..’

Mengejarnya?

Tidak mungkin. Ia pasti sudah pulang. Jin Ri pasti benar-benar marah padaku sampai-sampai ia tidak mau menungguku diluar, apalagi memberikan kesempatan untuk aku menjelaskan apa yang telah di salah pahamkan olehnya.

‘Siwon-ssi…’ terdengar olehku suara Na Ran Nuna lagi. ‘kenapa diam saja? kau tidak ingin mengejarnya?’

Aku hanya diam, berdiri tak bergeming.

Jangan marah. Kumohon jangan marah kepadaku.

Aku tidak sanggup jika kau marah padaku..

Jangan benci. Ku mohon, tolong kau jangan membenci aku.

Karena aku akan membenci diriku sendiri jika kau sampai membenciku, Jin Ri-ah..

Tak tahukah, kau, betapa berharganya dirimu bagiku??

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

(Author P.O.V)

dalam keadaan gelapnya malam hari, di halaman sebuah apartment mahal di daerah Seoul, seorang gadis berdiri sambil menangis menatap kearah apartment tersebut.

Beberapa menit yang lalu ia baru saja keluar sambil menangis dari dalam apartmen itu.

‘kau bahkan sama sekali tak mengejarku?’ batin gadis itu, masih saja menangis.

Jujur ia menyesal telah berteriak dan berkata lancang tadi di hadapan kekasihnya. Tapi, ia harus bagaimana lagi sekarang? Ia tak tahu bagaimana caranya waktu bisa di ulang kembali dan ia mau mendengarkan perkataan kekasihnya yang menyuruhnya untuk pulang dan tidak berfikir macam-macam.

Tapi apa daya? Semua telah terjadi sekarang.

Sempat tadi, ia berharap kekasihnya itu akan mengejarnya. Karena itu ia tak langsung pulang. Ia menunggu hingga beberapa menit lamanya di halaman luar apartment, berdiri di bawah lampu jalan yang menjadi penerang lainnya untuk jalan selain cahaya rembulan yang indah.

Tapi, ternyata!? Kekasihnya itu tak mengejarnya. Sama sekali tidak! Dan itu membuatnya sangat kecewa. Sekarang gadis itu yakin, kalau kekasihnya itu pasti sudah benar-benar membencinya. Dan sekarang ia hanya tunggu waktu saja kapan kekasihnya itu akan meninggalkannya lalu berpaling kepada wanita lain, kemudian saat itu tiba, ia harus sudah siap, kan ?!

sambil menyeka airmatanya yang belum berhenti mengalir, gadis itu berbalik badan dan setelah memantapkan hati, ia berjalan keluar dari apartment. Dengan membawa rasa cinta yang tersisa dalam dirinya kini, karena sebahagian rasa cinta lainnya, telah lebur bersama rasa kekecewaan yang sangat besar karena tertusuk oleh pisau pengkhianatan.

Aku tidak ingin selalu di lindungi olehmu,

Aku ingin di anggap sejajar denganmu..

Mungkin selama ini hanya aku saja yang serius padanya.

Sedangkan, perasaan Siwon..

Harus nya aku sadar dari dulu, kalau sejak awal kadar perasaan kami jauh berbeda..

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

(Sulli P.O.V)

Aku melangkah masuk ke dalam kamarku dengan langkah gontai bagai orang yang kehilangan semangat hidup. aku menyanderkan punggungku pada pintu dan menyeretnya kebawah, hingga aku terduduk  dengan posisi menyembunyikan wajahku di antara dua lutut.

Tangisku masih saja tak mau berhenti. aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini?

Aku ingin menghentikan airmata ini, namun tidak bisa. meski aku sudah menetapkan hati untuk tidak menangisi kejadian yang menimpaku lagi, tapi tetesan airmata ini tak mau berhenti mengalir di kedua pipiku juga. lantas aku harus bagaimana agar dia mau berhenti??

Kini aku duduk sambil menangis terisak dalam keadaan ruangan kamarku yang gelap, hanya di remangi oleh cahaya bulan purnama yang masuk melalui jendela kamar.

Perasaanku sekarang, terasa sakitnya bukan main!

Aku harus menceritakan semua ini kepada siapa sekarang?

Apakah kalian mau menjadi tempat curhatku ?

Ya. kini semuanya lenyap sudah. Tinggal tunggu waktu saja untuk aku akan melalui hari-hariku tanpa seorang kekasih pria lagi di sampingku..

‘Trrt…Trrrrttt..’ baru saja aku hendak bangkit, ketika niat itu terurung sebab kurasakan ponsel yang ada didalam kantong rok ku bergetar. Getaran ini menandakan sebuah panggilan masuk.

Aku mengambil ponselku, kemudian dengan malas membuka flapnya. Siapa sih yang menelpon disaat-saat kepalaku pusing begini?! pasti, Luna deh. Mungkin saja ia ingin menanyakan kabarku, karena siapa tahu saja, kan, tiba-tiba gadis itu bermimpi tentang kejadian yang baru saja kualami. Kejadian yang pada kenyataannya adalah sesuatu yang nyata. Sebab sudah terjadi dan itu menimpaku. Kalau memang benar begitu, Luna memang sahabat terbaikku. Dia selalu ada di saat-saat seperti ini.

’Huh?’ aku melongo menatap deretan angka yang tertera di Display ponselku. Nomor yang muncul adalah nomor yang tidak aku kenal. Dan itu bukan nomor Luna. Bukan juga nomor teman-temanku lainnya dan juga bukan nomor Siwon. Heh?? jadi, Nomor siapa ini?

‘Yeob.. yeobseyo..’ ujarku menyapa dengan nada khawatir. Tentu saja khawatir karena aku penasaran siapa yang menelponku dengan nomor yang tidak aku kenal? Bisa saja kan ini nomor penculik? Atau mungkin nomor penjahat yang suka menghipnotis korbannya melalui telfon. Sekarang ini kan, sedang marak-maraknya terjadi hal-hal kriminal seperti itu. Kalau begitu jika di hipnotis bagaimana? Hiiii~~ membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding.

‘Mmm.. Yeobseyo’ telingaku mendengar sebuah suara lembut menyapa dari seberang telfon, menyadarkan lamunanku. Aku segera memfokuskan pendengaran dan fikiranku lagi pada si penelpon.

‘ ya dengan siapa ini?’ tanyaku, masih saja merasa penasaran siapa yang menelpon.

‘ini aku. teman seapartment Siwon-ssi yang tadi bertemu denganmu, Jin Ri-ssi.’

APA?

Aku membungkam mulutku yang terbuka lebar karena kaget. BAGAIMANA IA BISA TAHU NOMOR TELFONKU?

‘ya. ada apa?’ tanyaku dengan nada suara agak malas. Ya, benar sekali. Tentu saja aku malas berbicara dengan wanita lain yang merupakan pacar kekasihku. Simpanan? Entahlah. Aku tak tahu sebenarnya siapa yang dijadikan simpanan oleh Siwon. aku atau wanita itu?

‘begini.. aduh. Bagaimana menjelaskannya yah..’ terdengar suara buru-buru dari wanita itu, membuat keningku mengerut bingung.

‘aku bukan pacar Siwon. karena kau lah pacar dia yang sesungguhnya. Siwon sering sekali bercerita tentang dirimu dan mengatakan betapa berartinya dirimu bagi dia kepada Choi Jiwon, kakak perempuannya Siwon. dan Jiwon itu adalah sahabatku, di mana Siwon juga sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri..’

Mataku terbelalak. APAA?

‘dan tadi itu.. apa yang kau lihat bukanlah sama sekali seperti yang kau bayangkan. Belakangan ini aku sering di kuntit oleh beberapa orang penjahat yang disuruh oleh mantan suamiku untuk menculikku dan membawaku kepada mantan suamiku itu lagi. aku tidak mau kembali padanya, jadi karena itu, sehabis pulang bekerja dari kantor tadi, aku yang biasanya pulang bersama supirku, namun karena hari ini supirku sedang ambil cuti, jadi Jiwon yang khawatir padaku langsung menyuruh Siwon, adiknya, untuk mengatarkanku pulang. Kebetulan aku dan Siwon tinggal di apartment yang sama. Jiwon berfikir, Setidaknya dengan ada Siwon, Jiwon dan aku bisa jauh lebih tenang karena dia adalah seorang lelaki yang pandai bela diri. Karena itu, aku ini tidak mungkin pacaran dengan Siwon. karena di hati dia hanya ada kau Jin Ri-ssi..’

‘a…. apa?’ aku terbelalak kaget. Aku tak sanggup mempercayai apa yang kudengar. Airmataku yang tadi sudah terhapus, kini menetes deras lagi. Dengan telapak tangan kanan yang membungkam mulutku, aku memejamkan mata sekali lalu membukanya lagi.

Ya Tuhan! Apa yang telah kulakukan pada Siwon?! aku telah menuduhnya macam-macam!!!

‘dengar Jin Ri. Meski aku baru bertemu denganmu sekali, tapi aku sudah terlalu sering mendengarkan tentang dirimu dari Siwon yang kerap curhat padaku dan juga Jiwon. Kami berdua tahu jelas, bahwa Siwon benar-benar mencintaimu. Dia sangat sayang padamu. Sehingga tak mungkin baginya untuk berselingkuh.. percaya padaku, Jin Ri-ssi.’

Dengan susah payah, aku berusaha menahan isak tangisku. ‘ya ampun.. a..ku ti..tidak tahu. Sungguh! Ma.. maafkan aku… Onnie,…’ kataku di sela isak tangis.

Suara lembut namun tegas kembali terdengar, ‘ya. tidak apa. Kau juga tidak salah dalam hal ini. ini hanya salah paham saja. yang penting kau sudah percaya, kan?’

Aku mengangguk. Namun, Ketika sadar bahwa perempuan itu tak dapat melihatku, aku berkata, ‘ya.. terima kasih Onnie karena kau sudah mau memberitahuku.’

‘Mmm.. Jin Ri-ssi.. Kau harus percaya padaku kalau Siwon tidak mungkin mengkhianatimu. karena aku bisa membuktikannya padamu.. membuktikan betapa Siwon sangat mencintaimu..’

Keningku berkerut. ‘Huh? Maksud Onnie apa?’

‘itu tujuanku menelponmu tadi. tapi maaf jika aku mengulur waktunya untuk menjelaskan kesalahan pahaman yang timbul antara kita tadi.. jadinya aku lupa memberi tahumu alasan utamaku menelponmu.’

‘memangnya apa alasan utama Onnie menelponku.’

‘Gawat! Ini benar-benar Gawat Jin Ri-ssi!’ suara buru-buru lagi-lagi terdengar. Namun kali ini lebih bernada panik. Sepertinya wanita yang sedang menelponku itu sedang panik di tempatnya.

‘Gawat kenapa, Onnie?’ mendadak saja perasaanku tidak enak.

Untuk beberapa detik aku tidak mendengar suara perempuan itu. Yang terdengar hanya suara saat perempuan itu menelan ludahnya sendiri. dan kedua hal itu lagi-lagi membuat keningku berkerut heran. ada apa sih sebenarnya? Apanya yang gawat?! Gawat apanya??!

‘Siwon-ssi. Dia kecelakaan saat mengejar dirimu tadi.. dan sekarang dia di rawat di rumah sakit Jam Gyeong, di dekat menara Seoul..’

TAAKK!!

Aku tak tahu apa yang terjadi pada ponselku setelah bunyi keras jatuhan itu terdengar. Yang kutahu, sekarang kakiku terasa sangat lemas, kepalaku terasa berputar, dan pandanganku berkunang-kunang. Tak kuasa menahan beban.

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

Berulang kali aku bertabrakan dengan tubuh beberapa orang yang lewat di sekitarku. Sehingga kerap sekali aku trejatuh. Namun dengan berusaha sekuat tenagaku yang masih terkumpul, aku terus berlari kearah rumah sakit Jam Gyeong. Rumah sakit dimana Siwon dirawat.

Dan sekarang, aku telah berada di dalam rumah sakit tersebut. Bergegas aku mendatangi tempat resepsionis, dimana seorang perawat muda menyapaku dengan ramah disana.

‘selamat malam Nona, ada yang bisa kami bantu?’ tanyanya. Keningnya berkerut, mungkin karena heran melihatku yang tiba dihadapannya dengan napas tersengal-sengal, bagai orang yang baru saja habis dikejar setan.

‘tolong beritahukan saya nomor kamar pasien yang bernama Siwon di rawat. Dia dirawat disini kan? bisakah anda mengantarkan saya ke kamar rawatnya?’ tanyaku dengan napas masih tersengal-sengal akibat berlari tadi. aku tidak sadar kalau aku telah melontarkan bermacam-macam pertanyaan yang kulihat langsung membuat raut kebingungan di wajah perawat muda itu. Biarlah. Saat ini, keadaan Siwon yang terpenting bagiku.

‘Siwon? apakah maksud anda, Choi Siwon Nona? Pasien yang mengalami kecelakaan itu?’

Aku mengangguk mengiyakan. ‘anda bisa beritahu saya dimana kamar ia dirawat kan, Suster?’

Bukannya menjawab perawat muda itu malah tersenyum. Membuat alisku terangkat satu, bingung menatap perawat muda tersebut.

‘maaf Nona. Tapi pasien yang bernama Choi Siwon itu sudah keluar dari rumah sakit ini. baru saja, kira-kira beberapa menit yang lalu, sebelum anda datang.’

‘APAA?’

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

‘Hikss..Hiks’

Kau kemana sih Oppa?

Kenapa dari dulu kau selalu saja membuatku khawatir?? Seperti yang kau lakukan sekarang kepadaku?

Lagi! Kau lakukan ini lagi padaku!

Apa kau merasa senang dengan membuat ku merasa cemas seperti ini, Huhh??

Oppa, dimana sih kau?

Semoga Oppa tidak apa-apa ya..

Semoga engkau baik-baik saja, Oppa..

Kumohon, jangan pergi terlalu jauh..

Aku jadi tidak dapat mengejarmu..

Aku berhenti mengetuk pintu apartment dan mendesah berat.

Tidak ada juga!

‘Oppa.. Oppa..’ aku mencoba memanggili Siwon sekali lagi sambil tetap mengetuk-ngetuk pintu apartmentnya. Namun hingga saat ini masih saja tak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan keberadaan Siwon di dalam apartmentnya.

Aku merundukkan kepalaku lagi. Aku baru sadar betapa lemasnya tubuhku sekarang. Mungkin karena tadi kebanyakan berlari.

Aku menempelkan telapak tangan kananku pada pintu dan kepalaku semakin kurundukkan. Menangis. Itu yang kulakukan sekarang.

Aku menangis dalam lingkaran kesedihan dan penyesalan yang teramat sangat kurasakan. ‘Oppa.. kau dimana, Huh? Kumohon jangan pergi terlalu jauh.. jangan tinggalkan aku.. maafkan aku, Oppa.. aku sangat menyayangimu… aku tidak bisa hidup tanpa dirimu… jangan pergi Oppa… aku mohon jangan… jangaaan… iks..iks.. kau kemana sih Oppa? jangan tinggalkan aku !’

Tiba-tiba, Sesuatu mengagetkanku, membuatku terperanjat.

‘mana mungkin aku meninggalkanmu, Huh?? Kau tahu kenapa? Karena hatiku ini terlalu tidak bisa jauh darimu..’

Aku menelan ludahku sendiri ketika mengenali suara bisikan yang terdengar di telinga kananku. suara ini.. aku membungkam mulutku sendiri dengan kedua telapak tangan.

‘O..Oppa..’

Siwon telah berdiri di belakangku sekarang. Ternyata, sepasang tangan yang melingkar di pinggangku adalah tangan Siwon. dia memeluk tubuhku dengan erat menggunakan tangannya yang kekar. Sangat erat. Dan hal itu membuat aku terisak sedih. Perlahan, kupejamkan mata. Tangisku sudah pecah kini.

Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini!

Dengan cepat aku berbalik badan, menghadap Siwon. kini aku dapat melihat dengan jelas wajah Siwon. wajahnya yang lelah.

‘Oppa.. ! lukamu bagaimana?! Apanya yang sakit?! Coba aku lihat?!’ tanyaku cemas sendiri sembari memeriksa bagian tubuh dari Siwon yang manakah yang terkena kecelakaan. dimana aku kembali menelan ludahku ketika melihat beberapa bercak darah tersisa di kemejanya. Tangan kanannya diperban.

‘kenapa bisa tertabrak? Aku kan selalu katakan padamu kalau sedang dalam keadaan menyetir itu, Oppa harus selalu hati-hati. Lihat, kan, sekarang jadinya begini !! pasti sakitnya perih sekali ya! kalau begitu ayo kita masuk sekarang, aku akan obati—Mmmp..’

Meski awalnya terkejut sekali dengan tindakan Siwon kepadaku, tapi pada akhirnya aku memejamkan mataku dan membiarkan ia mencium bibirku saja.

Lembut. Ciuman yang begitu lembut. Sudah sangat lama sekali aku merindukan ciuman ini..

Aku ingat sekali, ini adalah Ciuman hangat yang ia berikan setiap kali aku sedang marah. Setiap kali aku sedang kesal atau ngambek padanya, dan juga setiap kali aku mengomelinya. Saat itu, ia menciumiku seperti yang sedang ia lakukan padaku sekarang ini.

Aku rindu. Rindu saat-saat seperti ini.

Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya dan sedikit berjinjit, karena tubuh Siwon lebih tinggi daripadaku. Siwon memeluk pinggangku lebih erat lagi dan satu tangannya yang lain memegang kepalaku. Perlahan, aku pun membalas ciumannya itu dan setelah beberapa menit kami berdua berciuman, ia melepaskan ciuman lembutnya kemudian menatapku lekat-lekat. Aku terisak saat mengucapkan sesuatu kepadanya dan memegangi wajahnya, mencoba mencari bagian mana yang terluka pada wajahnya, ‘Oppa, apa kau tidak apa-apa?’

Ketika mataku menangkap tangan Siwon yang diperban aku langsung histeris, ‘Oppa! Tanganmu luka!’

Siwon berusaha tersenyum semanis mungkin. ‘Cuma tergores sedikit, kok. Tidak parah. Tadi juga sudah diobati dirumah sakit.’

Aku memukul bahu Siwon pelan. ‘kau jahat Oppa! Oppa Babo! Babo! Babo! Babo! BABOOOO!! kau tega membuatku cemas bukan main! Kau tahu, betapa kagetnya aku ketika aku tahu dari Onnie yang kau antar pulang tadi bahwa kau kecelakaan.. kau tahu betapa cemasnya aku, Huh? Aku takut kehilanganmu, kau tahu itu?!!’ teriakku keras sembari memukul bahu Siwon beberapa kali tanpa henti hingga akhirnya karena tak kuat lagi, tanganku berhenti dengan sendirinya. Napasku tersengal-sengal, mungkmin karena kebanyakan menangis dan juga berteriak.

Perlahan, Siwon membawa tubuhku ke dalam dekapannya lagi. ‘aku lebih kaget lagi..dengan perkataanmu tadi, Jin Ri-ah..’

Aku memejamkan mata. ‘Mianheyo Oppa..’

Siwon melepaskan pelukannya dan dengan menggunakan jemari kedua tangannya, ia menghapus lembut air mata di pipiku yang baru kusadari sudah kembali mengalir. ‘seharusnya aku yang minta maaf! Maafkan aku karena aku telah membuatmu khawatir dan cemas, ya..’ Siwon masih menghapus airmataku dengan jemari tangannya. sedang aku hanya mampu menatapnya sambil tersenyum lembut.

‘seharusnya aku tidak mencampur adukkan masalah pekerjaan dan kehidupan pribadiku. Jadinya kamu tidak khawatir. Perkataanmu tadi juga salah. Sangat salah.’

Dengan mata yang masih berair, aku menyipitkan mata. Keningkupun berkerut, semua itu berkat ucapan Siwon yang mengatakan perkataan salah. Perkataan yang mana, huh?

‘Aku sama sekali tak pernah menganggapmu anak kecil! Maafkan aku karena dulu aku terlalu gengsi untuk mengatakan ini.. tapi.. kamu benar-benar penting bagiku! Kamu itu orang yang paling berarti dalam dihidupku!! Meski beberapa kali aku sempat berfikir kalau mungkin kita berdua tidak cocok. Mungkin aku terlalu dewasa buatmu. Tapi, tidak pernah kusangka kalau aku malah menyakiti perasaan Jin Ri.. maafkan aku ya.. aku tidak bisa kehilanganmu.. aku tidak bisa jika kau marah padaku.. semua itu karena aku cinta sekali padamu, Jin Ri-ya.. ’

Aku tersenyum selembut mungkin. karena aku ingin memberikan semua senyuman lembut dan hangatku hanya kepada Siwon. laki-laki yang ternyata sangat-sangat mencintaiku. Tapi aku begitu bodohnya aku, sampai tak dapat merasakan hal itu dan malah sempat menuduhnya macam-macam.

Siwon dan aku saling terdiam beberapa saat. Menyadari kesalahan masing-masing.

Perlahan, kuraih tangan kanan Siwon dan menggenggamnya dengan kedua tanganku lalu dengan lembut kuciumi.

‘Mungkin aku memang tidak bisa diandalkan. Tapi, apa boleh aku tetap mengurus Oppa? aku  tidak mau Cuma ada disamping Oppa.. karena itu izinkan aku untuk mengurusi Oppa.’

Siwon mengelus lembut pipi kananku dengan jemari tangan kirinya. Ia tersenyum. Benar-benar manis, bagaikan seorang malaikat. ‘tentu saja! kau kan gadisku! Gadis yang sangat kucintai dan gadis yang paling berharga di hidupku!’

setelah aku mengangguk, tiba-tiba saja Siwon menggendong tubuhku. ‘Oppa! jangan ! nanti lukamu..’

‘sudah kubilang Cuma tergores..’ Siwon mengelak. ia menjilati pipiku. Aku bisa merasakan, pipiku menghangat.

Aku juga bisa merasakan debaran jantung Siwon didadanya yang kujadikan sebagai sandaran kepalaku saat ini. dan, aku pun merasakan hal yang sama di jantungku.

‘obat yang kuperlukan itu hanya ‘Jin Ri’ seorang!’

Siwon menatap mataku lekat-lekat. ‘Malam ini, kamu menginap ya..’ katanya yang langsung ku jawab dengan sebuah senyuman manis.

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

‘Jin Ri?’

Aku mencoba membuka kelopak mataku yang entah kenapa terasa berat sekali untuk dibuka. Cahaya matahari mulai masuk sehingga menyilaukan mataku ketika aku mencoba membuka kelopak mataku. Aku menyilangkan tangan di depan mata, karena cahaya silau tersebut.

Kicauan burung-burung kini terdengar. Sepertinya saat ini sudah pagi.

‘kau sudah bangun?’

Aku menoleh ke sumber suara. Tepatnya ke sebelah kiriku. Siwon, namja chinguku yang paling kusayang di dunia, itu saat ini tampak bersandar di pintu. ia melemparkan sebuah senyuman mautnya kearahku. Senyuman dengan dua buah lesung pipit yang amat manis. Membuatku mengerang dalam hati. Haduh, Pagi-pagi begini langsung melihat senyuman maut yang bisa membuatku mati.. keluhku dengan suara hati.

‘Jin Ri-ya? kau sudah bangunkan?’ dia bertanya lagi.

‘Mm..’ aku menjawab dengan gumaman. entah kenapa aku masih malas untuk bangun, jadinya aku kembali menarik selimutku lagi sebelum Siwon menyuruhku untuk bangun. Aku memejamkan kedua kelopak mataku rapat-rapat, mencoba untuk berkunjung lagi kealam mimpi yang tadi sempat terganggu gara-gara Siwon.

‘Hey~~ini sudah pagi.. ayo bangunlah..’ suara Siwon kembali terdengar. Dan kali ini, aku bisa merasakan sebuah tangan mengelus puncak kepalaku dengan lembut.

Tuh kaan…. benar apa aku bilang… Siwon selalu saja seperti itu! Ia selalu saja disiplin!

‘aku mohon, izinkan aku untuk tetap tidur lama hari iniiiiiii saja, ya!’ pintaku memasang wajah memelas, Tanpa mau membuka kelopak mataku sedikitpun.

Aku mendengar desahan Siwon. apa laki-laki itu sedang menggeleng-gelengkan kepalanya sekarang, hal yang selalu ia lakukan  setiap kali ia kewalahan menghadapi sikap keras kepalaku? Hehehe >//<

‘baiklah!’

aku tersenyum puas dalam tidur.

‘Sampai jam berapa?’ tanyanya. Pertanyaan itu langsung membuat senyumku memudar perlahan-lahan. Aku mencoba berfikir. ‘jam satu saja!’ tawarku.

‘jam 1?’

‘ya!’

‘tidak! Tidak bisa jam 1 !’

‘kalau begitu jam 12..’

‘tidak! Tidak bisa juga!’

YA!! APA-APAAN LAKI-LAKI INI?

‘eungg… baiklah, sampai jam 10 saja..’ kataku dengan nada sedikit kesal sekarang.

‘Tidak bisa !’

‘baiklah! Baiklah! Jam 9 saja! jangan katakan ‘tidak’ lagi karena ini keputusan terakhirku, Choi Siwon!’

‘kalau begitu kau harus bangun sekarang, Choi Jin Ri !’

‘HEEEH?’ keningku mengerut dan kedua tanganku sengaja kukepalkan, karena geram sekali dengan Siwon hari ini! ‘ okey! Kalau begitu jam 8 saja..’ berfikir kalau Siwon pasti akan mengatakan ‘tidak’ lagi, cepat-cepat aku berkata lagi, ‘kuralat. jam 7 saja! bagaimana?’

Siwon tidak menjawab. Membuatku bingung. Apa laki-laki itu tiba-tiba saja kena penyakit hilang suara? *plak*

‘bagaimana?’ tanyaku sekali lagi karena Siwon tak kunjung menjawab. ‘ Huuh! Pasti kau akan tetap menjawab ‘tidak’ lagi, kan!?’

Samar-samar, telingaku mendnegar suara kekehan. Apa Siwon tertawa? Tidak lebih tepatnya ia terkekeh.

‘kau memang pintar Jin Ri-ya! kau tahu itu jawabannya!’

MWOOOOO???!!!!!

Karena terlanjur kesal, aku membuka selimutku dengan kasar, dan aku menarik tubuhku untuk bangun lalu membuat posisi duduk sekarang. ‘JADI KALAU BEGITU AKU HARUS BANGUN JAM BERAPA, DONGG ??!!’ teriakku sambil berkacak pinggang dan melotot kepada Siwon. keningku berkerut, melihat seulas senyum licik di bibir laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di hadapanku.

Dengan mataku, aku memperhatikan Siwon yang berlutut di samping ranjang tidur dan sebelum sempat keterherananku hilang , aku sudah dikagetkan lagi dengan ciuman Siwon yang tiba-tiba.

Setelah menjauhkan wajahnya kembali, ia berkata dengan senyuman super POLOS tanpa DOSA kepadaku. ’jam 6 pas.’

‘Huh?’ keningku berkerut. ‘Itu kan jam sekarang?’ ujarku bingung, saat mataku menangkap jarum panjang pada jam dinding di ruangan kamar ini berada di angka 6, tepat.

Siwon mengangguk. ‘ya. memang sekarang.’

‘Uggh! Kau itu Babo atau tolol, sih Choi Siwon?? kalau begitu caranya, itu sama saja aku tidak kau beri kesempatan untuk tidur lagi! Sama saja kau menyuruhku untuk bangun sekarang! Kau curang!’

‘itu lebih baik.’ Jawab Siwon dengan senyum khasnya, tanpa memperdulikan omelanku dan wajahku yang sudah cemberut.

‘kenapa kau bisa berkata seperti itu, Huhh?’

‘tentu saja.. karena kata orang.. jika kau tidak ingin melewatkan kebahagian dan keberuntunganmu.. maka kau harus bangun lebih awal!’

Aku memiringkan kepalaku. ‘Heh? memangnya ada, ya, kepercayaan seperti itu?’

‘ada. Aku yang buat.’ Kata Siwon membuat tawaku langsung meledak karenanya. ‘Oppa itu.. ada-ada saja deh..’

‘dan bukankah seorang Choi Jin Ri tidak ingin melewatkan kebahagiannya?’

Aku memasang wajah polos dengan pipi yang sengaja kugembungkan dan dengan menggunakan kedua tanganku, aku menopang daguku untuk bisa melihat mata Siwon dengan jelas. ‘kalau Oppa sendiri, bagaimana?’

‘aku?’ tanya Siwon. aku mengangguk. ‘Ya. Oppa.’

Siwon kembali tersenyum. Kali ini senyumnya tampak begitu cerah. Entah apa yang terjadi padanya hari ini. mungkinkah ia baru saja mendapatkan suatu kebahagiaan atau suatu keuntungan, sehingga membuatnya jauh lebih ..romantis, heh? yah, mungkin romantis.. hari ini. tapi, tumben sekali??

‘tentu saja. aku tidak ingin melewatkan ‘kebahagiaan’ku.. karena itu..’ujar Siwon disaat aku sedikit memiringkan kepalaku. Alisku langsung terangkat satu saat tiba-tiba saja Siwon meraih tangan kananku dan menggenggamnya dengan erat. Ia meletakkan tanganku di dadanya yang dibaluti kaos putih. sementara itu, ia mencoba membenarkan posisi berlututnya menjadi lebih baik lagi, seolah-olah takut posisi berlututnya yang sebelumnya salah.

‘Oppa.. apa yang hendak kau lakukan?’ tanyaku bingung.

‘lihat saja’

Aku menuruti perintah Siwon untuk melihat apa yang di lakukannya. Aku lihat ia sedang mengeluarkan beberapa tangkai bunga mawar merah dan menujukkannya ke hadapanku. Aku hanya mampu terkesima saja ketika Siwon seolah membawaku kealam yang penuh dengan dunia sihir. ia benar-benar menyihirku dengan gerakan tangannya yang super lincah menggerakkan tangkai-tangkai bunga itu dengan bebas dengan memakai satu tangannya. aku tidak tahu ia belajar sulap dari mana.. tapi yang jelas..

‘Waaoww~~’ decakku kagum setiap kali Siwon membuat satu persatu dari tangkai-tangkai bunga itu menghilang sehingga kini yang tertinggal di tangannya hanya setangkai bunga. Dan bunga itu kini telah berubah menjadi sebuah bunga mawar berwarna putih. sangat cantik.

‘Ini..’ Siwon mengulurkan bunga mawar putih itu kepadaku. Aku menerimanya dengan wajah linglung. Apa sih maksud laki-laki ini? pagi-pagi begini sudah main sulap-sulapan, padahal hanya ingin memberiku bunga..

‘bagian tengah bunga itu belum mekar. Masih terkatup. Aku ingin kau membukanya ketika aku sudah menyelesaikan kalimatku. kau mengerti kan?’

Aku mengangguk. Meski sebenarnya, agak bingung. Namun aku menuruti perintah Siwon saja.

‘baiklah. Kita mulai sekarang.’

Aku menatap mata Siwon. Siwon malah balik menatap mataku dalam-dalam. Tampak jelas sekali pancaran keseriusan dan juga ketulusan dari bola mata hitam pekatnya.

‘sesuai dengan warnanya, kata orang bunga mawar putih itu suci. Dia tidak boleh terkena noda sedikitpun jika kau ingin tetap dia berwarna putih dan memancarkan kecantikan.. karena itu..’ Siwon berdeham sekali.

Aku membuka bagian kelopak bunga mawar putih yang tengahnya tertutup itu tepat ketika Siwon menyelesaikan ucapannya, yakni ‘aku ingin kita mengikat sebuah janji suci yang akan senantiasa kita menjaganya agar tak ada sedikitpun terdapat noda didalamnya. selamanya. hingga kita tua nanti.’

Aku menahan napasku ketika melihat suatu benda mungil berkilau muncul dari dalam kelopak bunga bagian tengah itu. Sebuah cincin permata biru berkilauan yang cantik dan menggoda mata siapapun yang melihatnya.

Aku membungkam mulutku dengan tangan kananku sendiri sedang tangan kiriku masih memegang tangkai bunga tadi. mataku hanya dapat terpaku kaku pada cincin di dalam bunga mawar putih yang aroma wanginya sudah tercium di udara pada pagi hari yang tenang ini.

‘ini.. ini….’ aku tak mampu menyelesaikan kalimatku karena Siwon sudah duluan mengambil cincin itu dan mengulurkannya kepadaku. Dengan tetap berlutut, ia berkata, ‘Choi Jin Ri, Would you marry me? Life with me, Forever?’

LOVE’S DISTANCE~~~~~LOVE’S DISTANCE~~~~~

=END=

Maaf ya Arny baru bisa publish sekarang, coz kemrin2 arny ikut ujian di sekolah dan ujiannya itu banyak banget, makanya gak sempat publish cepat-cepat. Seperti biasa, Arny minta tolong bagi yang udah baca FF ini mau kasih coment, saran, dan juga kritikan ya… arny sangat membutuhkannya demi kebagusan penulisan arny.

About Arliani_95 Suharli

i'm ordinary Girl~~ Im like Koreaaa and All about Korea~~~!! I'm ELF, VIP, Sone and Shawool!! in SuJu, I love Kibum, Yesung and Kyuhyun..... in SHINee, I love Keyyyy!!!! and Taeminnnnn!!!Second (?) Husband.. kkkekek, An the last in Sone, I veri love all member, specially Taeyeon, Yoona, Tiffany, and Sunny... :) :) :) In BIG BANG, GD Is My hehehehe... gomawoo..

Posted on 23 Maret 2011, in Super Fanfiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Sedih kirain siwonnya jahat taunya cuma salah paham hhe😀

  2. waahh.. aku kira siwonpa bener selingkuh, ternyataa..
    bagus ff-nya🙂

  3. WAAAH….
    DAEBAK FFNYA…
    MA’AF YA AUTHOR SAYA NUMPANG BACA..
    HEHE…
    LAIN KALI BIKIN PAIRING SIWON-SULLI LAGI DONG..
    PLEASE..
    LOVE THIS COUPLE…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: