[FF/PG-15/1S] Murder of Demon

Murder Of Demon

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast

Kim Ki Bum (Key)

Kim Saera

Support Cast

Lee Taemin (as Pastor)

Rating: PG-15

Length: oneshoot

Genre: Romance,

A/N: Annyeong readers! Aku kembali dengan oneshoot ke-empatku nih! Okey langsung aja. Aku ngingetin RCL jangan lupa karen lagi-lagi banyak rintangan (baca: nonton spongebob) waktu lagi bikin FF ini. Jadi, jangan lupa RCL yaa chingu! Aku tahu kalian baik dan tidak sombong ^^! Enjoy this FF btw! Jangan lupa RCL~ Oh ya! Bagi yang SEVENFOLDISM pasti ngerti banget jalan cerita ini karena inspirasi FF ini dari video clip yang A Little Piece Of Heaven.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Key’s POV

Kuputuskan untuk melamarnya hari ini. Sudah lima tahun aku menjalinkan hubungan dengan yeoja idamanku itu, Kim Saera. Gadis itu mempunyai rambut yang panjangnya se-dada dan berwarna hitam legam yang sangat indah dan bersinar. Matanya yang besar dan maniknya yang berwarna hitam legam itu tidak seperti orang Korea pada umumnya. Hidungnya tanpa cela dipadukan dengan pipinya yang selalu merah merona, lucu dan menggemaskan. Tubuhnya sangat profesional. Belum pernah aku melihat yeoja secantik Kim Saera. Menurutku, aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini karena aku bisa mendapatkan hati yeoja itu. Tidak banyak orang yang iri dan kesal kepadaku karena yeojachingu-ku ini.

Dalam balutan T-shirt abu-abu dan jaket sport hitam, serta celana jins dan sepatu kets berwarna merah, aku mempersiapkan diri untuk mengatakannya kepada yeojachingu-ku itu. Kumasukan kotak berwarna hijau dengan pita kuning yang melilitnya kedalam saku celanaku. Aku menghela nafas panjang. Untuk sentuhan terakhir, aku mengaca di kaca paling besar di rumahku itu. Setelah yakin dan merasa percaya diri, aku melangkahkan kakiku menuju mobil porche merahku dan menyetir dengan mulus ke rumah kediaman keluarga Saera.

Aku sudah sampai di tempat tujuan. Rumah putih yang sangat megah itu terlihat menyeramkan karena lampu-lampu yang menerangi jalanan sangat sedikit sehingga terlihat remang-remang. Pagar rumah keluarga ini juga sangat tinggi dan bernuansa Gothic. Sejujurnya, aku tidak begitu suka dengan warna-warna gelap seperti ini karena terlihat sangat menyeramkan dan sangat… sangat aneh dan sudah pasti Lucifer menyukai tempat-tempat seperti ini. Namun, apa daya seorang Saera untuk memprotes kedua orangtuanya. Orangtuanya adalah tipikal orang yang sangat keras dan tidak akan mau dinasihati. Egois. Untung saja hari ini orangtua yeojachinguku itu sedang keluar kota dan akan kembali ke Seoul beberapa bulan kedepan.

Gerbang pintu yang menyeramkan itu terbuka secara otomatis. Aku yakin, Saera sudah melihat mobilku dari kamera pengintainya sehingga ia membukakan pintu tersebut. Aku menyusuri jalanan panjang yang melewati taman yang sangat luas dalam suasana remang-remang itu dengan mobil kesayanganku yang sedang kupakai ini. Keluarga Saera memang sangat kaya raya. Luas tanah disini berkisar antara 2 X 3.5 hektar. Berani taruhan, tidak ada arsitektur yang tidak kagum bila melihat rumah kuno yang sangat mewah ini. Tidak bisa dibayangkan mengapa keluarga Saera bisa mendapatkan tanah sebesar ini. Kedudukan keluarga Kim memang sangat tinggi di Korea. Bisa dibilang, keluarga tersebut adalah salah satu orang terpenting di Korea. Yaa, sama dengan kedudukanku dan keluargaku. Namun, ini bukan saatnya menyombongkan diri bukan?

Kulihat seorang yeoja berdiri diambang pintu rumahnya. Dalam balutan pakaian berwarna putih dan rambut yang digerai, ia terlihat sangat cantik. Aku semakin bersyukur karena ia memilihku daripada orang-orang lain. Keyakinanku untuk memiliki yeoja itu sepenuhnya semakin menjadi-jadi. Kuparkirkan mobilku tepat didepan pintu utama rumahnya yang merupakan tempat yeoja itu berdiri. Kubuka pintu mobilku dan kuletakkan kedua tanganku di pinggang sambil memasang muka yang dibuat cemberut sedemikian rupa. Padahal, dalam hatiku, aku ingin tersenyum dengan senyumku yang paling manis kepadanya.

“Jagi, ada apa dengan mukamu?” Ujarnya sambil menaruh telunjuknya yang halus di sudut bibirku.

“Kau memakai pakaian tipis di musim dingin seperti ini! Bagaimana kalau kau sakit?”

“Aish~ hanya karena itu saja? Kukira kau mengenalku dengan baik.” Ucapnya sambil memasang raut muka sedih.

“Hahaha, Saera-ah. Aku tahu kau tidak mempunyai baju hangat kecuali baju yang benar-benar membuat hangat sampai kau kepanasan.” Aku tidak bisa menahan senyumanku lagi.

“Aigoo! Kau mengesalkan sekali!” Ia melangkah kedalam rumah dengan raut muka kesal.

Kutarik bahunya agar ia kembali menghadap kearah wajahku. Kutatap matanya yang sekarang menandakan keterkejutan dirinya kepada apa yang kulakukan. Namun, beberapa detik kemudian, dia memasang muka cemberut yang pipinya dikembungkan. Sungguh lucu yeojachingu-ku ini. Aku tahu dia kesal karena ia merasa dipermainkan dengan kata-kataku yang tadi. Aku memang senang menjaili yeojachingu-ku itu. Dia terlalu polos untuk seseorang yang berumur dua puluh dua tahun. Sangking polosnya, ia bisa diajak orang tak dikenal dengan mudah. Yaa, memang saat umur sembilan belas tahun dia pernah diculik dan ia dibawa oleh orang-orang asing itu dengan mudahnya.

Kudekatkan wajahku kearah wajahnya dan mencium bibirnya yang lembut dengan penuh kasih sayang. Otomatis, wajah yeoja itu berubah dan menampakan muka yang tenang dan santai. Itulah yang kusukai dari yeoja didepanku ini. Ia begitu mudah dan santai didepanku. Padahal, kepada orang lain ia begitu dingin dan sinis. Hanya kepada satu namja ia berperilaku santai dan sangat manis yaitu aku, Kim Kibum. Sekali lagi aku sangat bersyukur menjadi diriku sendiri. Tuhan memang adil…

Aku segera menghentikan aktifitas intim itu dan berjalan bersamanya kearah meja makan yang sangat panjang dengan lapisan taplak meja berwarna putih yang terdapat berbagai aneka ragam hidangan yang sangat lezat dan sangat menarik. Saera memang sangat pintar memasak dan tidak diragukan lagi kelezatannya. Walaupun hanya berdua, meja makan ini sangat penuh karena yeoja ini mengetahui selera makanku yang sangat besar bila memakan masakan buatannya. Aku tersenyum kearah yeoja tersebut. Aku duduk disampingnya dan kami mulai makan tanpa suara. Aku sudah memutuskan untuk melamarnya sesudah makan malam ini.

“Saera-ah,” kataku sesudah menyelesaikan makan malamku, “– aku ingin berbicara sesuatu denganmu.”

“Mm. Katakanlah, oppa.”

Aku beranjak dari tempat dudukku ke depan yeoja itu yang sedang berada di dapur. “Saranghaeyo.”

“Mm. Nado saranghae, oppa.” Ucapnya tersenyum kepadaku.

“Marry me, yeojaku.” Ucapku sambil menyodorkan cincin berlian yang berada didalam kotak hijau yang kubawa.

“Ne? Jangan bercanda oppa. Aku tidak bisa menikahimu.”

“Tapi kau bilang… kau mencintaiku?”

“Maaf, oppa. Aku sudah mempunyai tunangan….”

Tiba-tiba kendaliku hilang. Aku sangat marah kepadanya. Aku merasa dibohongi olehnya. Tadi dia mengatakan bahwa dia juga mencintaiku. Namun, mengapa dia sudah bertunangan dengan orang lain? Jadi selama ini aku dibohongi olehnya? Sejak kapan? Sungguh, pikiranku diselimuti oleh emosi saat ini. Kulayangkan pandanganku kearah mejadapur. Kulihat sebilah pisau yang menanggur. Kuambil pisau itu dan kulayangkan pisau tersebut kearah yeojachingu-ku yang sudah membohongiku dan sudah membuat hatiku sangat hancur.

Saera’s POV

“Maaf, oppa. Aku sudah mempunyai tunangan….”

Demi tuhan! Aku tidak bermaksud untuk membohonginya selama ini. Namun, umma dan appa tadi siang menelpon dan memberitahukan bahwa aku sudah dijodohkan dengan seseorang dan aku akan dinikahkan bulan depan saat umma dan appa pulang. Tunanganku itu juga sudah datang kerumahku tadi pagi. Ia cukup tampan dan menawan. Namun, aku hanya mencintai Key. Hatiku hanya untuknya. Berkali-kali kujelaskan kepada kedua orangtuaku bahwa aku tidak bisa bertunangan dengan orang itu. Tetapi, umma berkata bahwa ini untuk kepentingan bisnis appa-ku yang sedang naik daun. Umma juga meyakinkan bahwa hidupku akan terjamin bila bersamanya. Maka dari itu, aku memutuskan malam ini untuk berbicara baik-baik dengan Key. Dan ternyata, Key juga ingin melamarku. Aku tidak bisa menghancurkan hati umma dan appa bila kuterima lamaran Key. Namun, aku juga tidak mau menyakiti hati namja yang sudah bersamaku selama lima tahun. Tetapi, aku harus tegas.

“Oppa, umma yang menyuruhku untuk….”

Tiba-tiba sebilah pisau melayang kearahku. Otomatis aku menghindar cepat dari barang tajam itu. Aku berlari keluar dapur dan menyusuri meja makan. Namja itu tetap mengejarku dengan pisau dapur yang besar dan tajam. Aku tahu Key sangat marah kepadaku. Namun, mengapa ia seperti bukan Key? Mengapa ia marah dengan sikap seperti itu? Aku mengetahui bahwa namja itu mempunyai sifat tempramental yang sangat kronis. Namun, seumur hidupku, aku belum pernah melihat Key marah dan berusaha membunuh orang yang membuat dirinya marah alias diriku.

Aku tersandung sofa putih yang sangat empuk. Aku tidak menyadari bahwa aku sudah berlari dari dapur ke ruang keluarga yang jaraknya sangat jauh karena harus menaiki tangga terlebih dahulu. Rasanya, ini seperti mimpi. Seorang namja yang sangat kucintai dan kusayangi yang selalu melindungiku dari segala macam gangguan sekarang ingin membunuhku dengan sebilah pisau. Jantungku terasa ingin copot dari tempatnya. Aku terus menerus memasang mataku agar aku selamat dari hujaman pisau Key.

Namun, aku salah. Ternyata namja tampan yang mempunyai manik sangat dalam itu sudah berada di belakangku. Kurasakan sakit yang luar biasa didaerah tulang sum-sum ku. Pisau tajam itu sudah mencabik-cabik punggungku. Darah yang keluar dari punggungku menetes-netes keatas karpet yang menjadi pelapis lantai di ruang keluarga. Dalam sekejap,karpet putih yang berukuran dua meter itu terhiasi oleh darahku. Aku masih sadar. Tetapi, darahku yang mengalir terus menerus membuatku pusing dan mataku menjadi kabur. Kurasakan namja itu membalikan tubuhku. Dan dengan satu hentakan, dia menusukkan pisau tersebut tepat kearah jantungku. Kemudian, semuanya gelap….

Key’s POV

Kulihat karpet putih yang melapisi lantai ruang keluarga ini sudah dipenuhi oleh darah seorang yeoja yang sudah mati ditanganku. Aku tersenyum puas melihatnya. Bagiku, aku lebih senang Saera mati daripada harus menikah dengan orang lain. Bukan dengan diriku. Mungkin itu terlalu egois dan terlalu memaksakan kehendak. Tetapi, itulah kenyataan yang kurasakan sekarang. Aku muak melihat yeoja itu. Bagaimana tidak? Lamaranku ditolak mentah-mentah olehnya karena ada namja lain yang sudah menjadi tunangannya. Brengsek!

Kulayangkan pandanganku kearah jasad Saera yang sudah tidak bernyawa lagi. Noda merah darah itu menghiasi gaun tidurnya yang tipis. Hal itu membuat birahiku tumbuh. Aku mendekat kearah yeoja tersebut dan mulai mengulum bibirnya. Masih hangat seperti masih hidup. Namun, tidak ada perlawanan dari oknum yang kuciumi. Belum puas dengan hal itu, kugendong jasad tersebut kearah kamar si mati. Kutaruh jasad tersebut diatas tempat tidur dan kukunci pintu kamarnya walaupun aku tahu tidak akan ada orang yang masuk kedalam kamar tersebut.

Aku tahu bahwa Saera sebentar lagi akan menjadi dokter. Maka dari itu, aku yakin bahwa yeoja tersebut menyimpan benang dan jarum untuk menjait luka. Jadi, kubongkar seluruh lemarinya untuk menemukan benda-benda itu. Saat sudah menemukan benda yang kucari, aku segera mengambil benda tersebut dan duduk disamping jasad yeoja yang sudah kubunuh itu. Tubuhnya penuh dengan cabikan pisauku. Kuputuskan untuk menjait luka-lukanya agar jasadnya tidak jelek dan ia akan terlihat sempurna seperti sebelum ia mati.

Setelah selesai menjait luka-luka tersebut, aku memandang kearah yeojachinguku yang sudah mati itu. Ia sangat cantik dan sangat menawan. Ia juga sangat menggairahkan. Kubuka pakaian yang ia kenakan dan kusetubuhi mayat itu. Walaupun tidak ada perlawanan, aku sangat puas karena dengan itu Saera hanya pernah disetubuhi olehku. Dan tidak ada orang lain yang akan menyetubuhinya. Setelah puas dengan hal tersebut, aku mengambil kamera polaroid yang kubawa dan aku berfoto bersama jasad Saera. Walaupun sudah mati, ia masih terlihat sangat cantik. Wajahnya memang sudah memucat, namun, kecantikannya tidak memudar.

Kemudian, aku memutuskan untuk memakan isi tubuhnya. Jantung, hati, dan usus kumakan secara lahap tanpa dimasak atau diolah terlebih dahulu. Darah Saera terasa manis dimulutku. Aku sangat senang hari ini. Entah mengapa, lagi-lagi aku harus mengatakan bahwa aku sangat puas Saera mati ditanganku bukan ditangan orang lain. Karena, walaupun aku membunuhnya, aku masih merawatnya. Aku masih mencintainya sepenuh hati. Sayangnya dirumah ini tidak ada formalin.

Kuputuskan untuk memasukan maya tersebut kedalam lemari. Kumasukan mayatnya kedalam lemari kaca yang berada di ruang keluarga. Aku juga memasang beberapa foto yang kami ambil tadi. Lalu, aku merilekskan diri dengan menonton TV di ruang keluarga tersebut. Kulayangkan pandanganku hanya kedepan televisi yang sedang menyajikan siaran musik. Kebetulan, musik yang sedang disiarkan adalah musik kesukaanku. Lalu, aku menyantaikan diriku dengan membaca majalah yang berada di atas meja ruang keluarga itu. Rasanya sangat puas dan sangat nikmat acara intim tadi. Coba yeoja itu masih hidup. Kalau dia masih hidup, pasti akan mengasyikan! Tetapi, sudah bisa kuduga, ia tidak akan melakukan itu bila tidak bersama suaminya.

Saat sedang membolak-balikan halaman majalah yang kubaca, tiba-tiba saja musik yang diputarkan oleh acara musik itu berubah menjadi musik yang mencengkam. Dan saat itu juga, aku merasakan bahwa ada yang menatapku dengan tajam. Kulayangkan pandanganku kearah ruang keluarga tersebut. Namun, disini tidak ada siapapun. Bahkan, pembantu saja tidak ada. Jadi, siapa yang memandangiku? Apakah mungkin itu arwah Saera? Ah! Bila memang itu arwah Saera memangnya kenapa? Dia tidak akan bisa berbuat apapun kan? Bahkan memegang pisau saja tidak bisa. Aku juga tidak takut dengan hantu. Namun, apa ini? Mengapa ada pisau yang terlempar kearahku? Kulayangkan pandanganku kearah lemari kaca. Dan disitulah aku menyadari bahwa yeoja yang kubunuh itu sedang membawa beberapa pisau dengan mata yang tidak ada maniknya. Semuanya putih. Apakah dia….

Saera’s POV

Aku terjebak didalam kegelapan. Aku sendiri dan aku sangat takut akan hal itu. Aku menangis namun air mataku tidak kunjung keluar. Aku berteriak namun suaraku tidak keluar. Mengapa? Mengapa aku berada ditempat seperti ini? Mengapa juga aku tidak bisa mengeluarkan air mata ataupun suara? Ah! Aku sudah mati! Aku sudah mati dibunuh oleh seorang namja yang sudah menjadi seseorang yang paling penting didalam hidupku. Sungguh! Aku memang ingin mati karena terlalu bingung mengatakan masalah itu kepada Key. Namun, aku tidak ingin mati ditangan laki-laki itu! Sialan!

Tiba-tiba saja, punggungku terasa sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuk punggungku. Aku berteriak minta tolong. Namun, suaraku tidak keluar. Dan aku juga yakin tidak akan ada yang mendengarku berteriak. Namun, beberapa menit kemudian, rasa sakit itu hilang dari tubuhku. Aku bisa bernafas lega. Aku juga tidak perlu menangis lagi. Tetapi, daerah kewanitaanku tiba-tiba terasa sakit. Seperti ditusuk-tusuk oleh pisau tumpul. Ada apa ini? Apakah ada yang sedang mengutak-atik jasadku? Ah! Pasti Key! Dia sudah lama menginginkanku sepenuhnya! Bajingan! Apa yang dia perbuat kepadaku? Aku, seorang yeoja yang sudah mencintainya sepenuh hati malah dikhianati seperti ini! Brengsek! Tuhan, andaikan kau memberikanku kesempatan untuk membalaskan dendamku kepada laki-laki itu.

Tiba-tiba, aku melihat ada setitik cahaya yang muncul. Cahaya itu memang tidak menyilaukan mata. Namun, lama kelamaan cahaya itu semakin terang dan sangat menyilaukan. Kuangkat tanganku untuk menutupi mataku dari serangan cahaya tersebut. Setelah itu, cahaya tersebut mulai meredup dan menjadi normal. Kulihat bayangan namja sialan itu dimataku. Ia sedang membaca majalah kesukaanku di ruang keluarga. Dan apa ini? Mengapa aku merasa berada di tempat sempit? Mengapa aku bisa memegang lima pisau? Dan mengapa… aku berada didalam lemari? Mungkinkah… aku hidup lagi?

Kubuka pintu lemari tersebut dan keluar dari ruang sempit itu. Kupegang dadaku untuk memeriksa detak jantungku. Namun, tidak ada sama sekali denyut jantung yang terasa di telapak tanganku. Kutempelkan telunjukku kearah hidungku. Aku tidak bernafas. Omo?! Sekarang aku adalah makhluk apa? Apakah sekarang aku menjadi pengikut Lucifer? Tidak. Tidak mungkin aku menjadi salah satu bagian dari iblis itu. Kutatap tajam kearah namja yang sama sekali tidak merasakan kehadiranku. Aku sudah memantapkan hati untuk melemparkan pisau kearahnya dan aku melakukan hal itu.

Dan sekarang dia melihatku dengan mata yang sangat terkejut. Aku yakin seratus persen bahwa namja tersebut kaget dengan kehadiranku sekarang. Aku tersenyum puas kearahnya. Kulempar tiga pisau yang kupegang kearah namja sialan itu. Sialnya, pisau-pisau itu tidak mengenai tubuhnya. Lebih tepatnya meleset karena namja itu sudah berlari ketakutan kearah dapur. Kususul dia dengan satu-satunya pisau yang masih ada ditanganku.

Saat berada di dapur, dia sudah tidak ada. Dia lenyap dari pandanganku. Namun, tiba-tiba ada benda keras dan berat yang membentur kepalaku. Tetapi aku tidak merasakan kesakitan sama sekali. Yaa, itu diakibatkan karena saraf-sarafku sudah mati. Aku adalah mayat yang hidup untuk membalas dendam sekarang. Dan saat aku berbalik, ternyata Key sedang mengangkat kursi yang berada di meja makan dan dari gerak-geriknya ia terlihat seperti ingin memukulku dengan kursi itu. Perilaku seperti apa itu! Terhadap wanita sangat kasar! Bahkan sampai membunuhnya! Dasar bajingan!

Kuangkat tanganku mengambil ancang-ancang untuk menusuknya. Namun, namja itu seperti sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ia segera melempar kursi yang ia bawa kearahku dan pergi. Kulihat ia menuruni tangga dan berjalan kearah mobilnya. Lalu, namja itu menyalakan mobilnya dan pergi menuju kearah gerbang pintu rumahku. Tetapi, ia tidak bisa keluar dari gerbang rumah karena gerbang tersebut hanya bisa dibuka oleh remote control yang berada didalam genggamanku sekarang. Jadi, kutahan dia dan kususul dia didepan gerbang tersebut.

Key’s POV

Aku panik melihat yeoja itu bangun dari kematiannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba saja, tubuhku membeku. Aku tidak bisa berfikir apapun. Apalagi ketika ada tiga pisau yang melayang kearahku. Segera saja aku memasang posisi defensif sekaligus berlari kabur dari tempat tersebut. Entah mengapa, kakiku berjalan dengan sendirinya kearah dapur. Aku bersembunyi dibalik kulkas. Aku terus berharap agar Saera tidak menemukanku. Ternyata benar dia tidak menemukanku! Tapi, apabila aku terus menerus berada di tempat ini, aku bisa mati. Jadi, aku mengambil langkah lain.

Kuambil kursi kayu yang dipakai untuk duduk di meja makan. Kuangkat tinggi-tinggi dengan niat ingin melemparnya kearah Saera. Aku sudah meyakinkan diriku sendiri. Jadi, aku mengambil ancang-ancang dalam hati. Satu… dua… tiga… aku mengenainya! Namun, sepertinya dia tidak merasakan sakit sama sekali karena ia tidak mengeluh sedikitpun. Dalam satu hentakan, ia mengambil ancang-ancang untuk membunuhku dengan pisau yang ia bawa. Namun, hal itu bisa kuhentikan dengan melempar kursi itu kearahnya dan turun melalui tangga menuju kearah porsche kesayanganku.

Kunyalakan mobil tersebut dan melaju kencang kearah gerbang. Namun, hal bodoh yang kusadari adalah gerbang tersebut tidak akan terbuka bila tidak dipencet tombolnya oleh Saera. Cih! Pasti dia dalam perjalanan mengejarku. Jadi, aku harus bagaimana? Apakah aku memang harus berlari? Namun, bagaimana dengan mobilku? Ah! Sudahlah. Yang penting sekarang aku harus menyelamatkan diriku sendiri terlebih dahulu.

Kubuka seatbelt yang kupakai. Lalu, aku membuka mantel yang kukenakan dan mulai memanjat pagar. Suasana disana sangat sepi sekali sehingga aku yakin seratus persen tidak ada yang melihatku dan tidak akan ada orang yang mengira aku pencuri. Demi tuhan! Pagar ini sangat tinggi dan sangat membuatku kecapekan. Namun, entah darimana kekuatanku untuk terus memanjat pagar tersebut. Mungkin karena ketakutanku akan dibunuh oleh yeoja yang sudah mati itu. Kulirik pandanganku kearah bawah. Dan disitulah yeojachingu matiku berdiri.

“Pengecut! Turun kau!”

Ia mulai memanjat pagar yang sedang kupanjat juga. Aku ketakutan setengah mati melihat yeoja itu memanjat lebih cepat dariku. Mungkin itu karena ia tidak mempunyai berat lagi karena sudah mati. Aku terus menerus berdoa kepada tuhan agar aku diselamatkan dari yeoja matiku itu. Dan akupun berhasil! Aku nekat loncat dari atas pagar ke seberang agar terselamatkan dari yeoja tersebut. Akupun berlari tanpa tujuan. Aku bingung akan berlari kemana. Kakiku kubiarkan bergerak sesukanya. Yang penting, aku selamat dari ancaman kematian yang dibawa Saera. Dan kakiku membawaku menuju kearah area pemakaman dibelakang gereja.

Aku sudah merasa aman disini. Aku tinggal masuk kedalam gereja dan melindungi diri dari serangan Saera. Namun, ternyata aku salah besar. Ketika membalikan tubuhku untuk berlari masuk kedalam gereja, tiba-tiba ada sesuatu yang mengoyak kulitku dan meremas jantungku. Kulihat seorang mayat hidup yang sangat cantik itu berada didepanku. Kemudian, ia mencabut paksa jantungku dan aku terkapar lemas. Aku akan mati… aku sudah pasti mati… ditangan seorang yeoja yang sudah kubunuh.

Terbayang betapa kejamnya saat aku membunuh Saera. Kucabik-cabik tubuhnya sampai aku harus menjaitnya. Tidak terbayang betapa sakitnya menjadi seorang Saera. Namjachingunya yang selama ini ia percaya menjadi seperti binatang buas yang siap menerkamnya. Tuhan, aku sudah menjadi penyengsara hidup Saera. Ambilah nyawaku. Biarkanlah aku hidup tenang dialam sana. Aku yakin kau akan memberikanku neraka. Namun, bisakah kau memperlihatkanku sedikit bagian dari surga?

Namun, mengapa aku masih bisa melihat? Aku masih bisa mendengar suara Saera? Aku masih bisa merasakan bagaimana dinginnya tangan Saera yang sedang mencekikku sekarang? Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal, jantungku sudah tercabut dari tempatnya. Bahkan, jantungku sudah dimakan oleh Saera. Jadi, aku ini sebenarnya apa? Mengapa aku masih hidup? Intinya, aku dan yeoja itu sekarang menjadi makhluk yang bernama apa? Zombie? Aish! Tidak mungkin. Aku tidak percaya adanya Zombie. Apakah ini sedikit surga yang diperlihatkanmu kepadaku, tuhan? Melihat seorang yeoja yang sangat kucintai?

“Apa alasanmu untuk membunuhku?”

“Aku kecewa, jagi. Mian…” ucapku sambil menyatukan kedua tanganku memohon kepada Saera.

“Saranghae, Key oppa.”

“Nado saranghae. Aku akan melakukan apapun untukmu.”

Saera’s POV

“Nado saranghae. Aku akan melakukan apapun untukmu.”

Key mengatakan kalimat itu dengan lirih. Aku iba melihatnya. Aku kasihan melihatnya. Aku mencintainya dan aku tidak mau berbohong akan hal itu. Sudah pasti ia menyesali perbuatannya. Dan karena kami sudah menjadi makhluk yang tidak jelas dan sudah pasti kami adalah makhluk terkutuk, aku memutuskan untuk mengajaknya kedalam gereja. Tujuan kami bukan membuat pengakuan dosa. Bukan untuk mengikuti kebaktian. Bukan untuk berbagi kebaikan kepada orang lain. Bukan untuk belajar agama. Namun, tujuan kami adalah….

Membunuh.

Kuambil dua gergaji mesin yang berada didekatku. Kuberikan satu kepada namjachingu matiku itu. Lalu, kami berdua sama-sama memasuki gereja dengan diam-diam. Korban pertama yang kami bunuh adalah seorang satpam yang menjaga gereja tersebut. Darah segar keluar dari kepala namja tersebut karena Key membelahnya menjadi dua dari kepala ke pinggangnya. Ternyata, saat itu ada sepasang pengantin baru yang akan mengucapkan janji suci sehidup semati. Namun, sang pria melihat ada darah berceceran di sepatunya. Dan saat itulah kami berdua… aku dan Key membunuh semua orang yang berada disana kecuali pastor.

Teriakan demi teriakan terdengar sangat jelas dikupingku. Namun, aku dan Key tidak memperdulikannya. Kami berdua sama-sama menikmati waktu ini. Melihat betapa lucunya bola mata yang keluar dari tengkorak pria tua yang kami sembelih, melihat betapa lezatnya pemandangan otak anak kecil yang masih segar, melihat betapa menggiurkannya isi wanita hamil yang kubunuh. Semuanya sangat menggairahkan. Namun, tiba-tiba Key menarik tanganku keatas altar. Sang pastor yang sedaritadi hanya berdiam diri melihat kami berdua dengan pandangan ngeri mengerti maksud Key dan segera menanyakan janji suci kepada kami.

“Apakah anda menerima namja didepan anda dengan keadaan mati untuk sisa hidup anda yang tidak wajar?” ucap pastor terhadapku.

“Ya, aku menerimanya.” Ucapku kepada pastor tanpa mengalihkan pandangan dari namja didepanku itu.

“Apakah anda menerima yeoja didepan anda dengan keadaan mati untuk sisa hidup anda yang tidak wajar?” ucap pastor kepada Key

“Aku menerimanya.”

“Sekarang, kuputuskan kalian sudah menikah.”

Saat itu juga, Key memasukan cincin yang dipakai pengantin sebelumnya di jari manisku. Cincin itu terasa sangat indah dan sangat istimewa dimataku. Sekarang, aku dan Key sudah resmi menjadi ‘pasangan mati’. Peduli setan dengan kedua orangtuaku yang tidak mengetahui kemana aku pergi. Peduli setan dengan orang yang akan melamarku itu. Aku tidak peduli dengan semua orang di dunia ini yang akan mencariku dan mengkhawatirkanku. Yang jelas, sekarang aku akan bersama Key. Selamanya.

Kulirik Key yang sudah mengambil gergaji mesinnya lagi. Aku sudah tau apa yang akan Key lakukan. Ia akan menyembelih pastor yang bernama Taemin itu. Dengan satu hentakan, Key memotong urat nadinya. Aku menghujam-hujamkan gergaji tersebut kearah perutnya. Kurang dari sepuluh detik, sudah dipastikan pastor tersebut sudah mati. Lalu, key memenggal kepalanya dan menguliti rambutnya. Terlihat otak Taemin yang sangat segar dimataku. Saat itu juga, Key mengeluarkan dua sedotan yang entah ia ambil darimana. Kemudian, kami meminum isi otak pastor tersebut.

Kami juga berfoto-foto bersama layaknya pasangan baru pada umumnya. Namun, kami berfoto dengan dihiasi oleh cacing yang hidup didalam telinga key dan darah-darah kental yang keluar dari leherku. Banyak juga belatung yang bermunculan dari mataku. Namun, kami tidak peduli. Kami tidak peduli dengan apapun karena intinya kami sudah saling memiliki. Dalam keadaan hidup atau mati, aku dan Key sudah menikah. Kami tidak akan terpisahkan lagi. Selamanya.

 

-The End-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gomawo udah baca FanFic asal2an ini😀 RCL jangan lupa yaa chingudeul2 sekalian😄

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 28 Maret 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 36 Komentar.

  1. y ampun? shock diriku baca ni ff. serem bgt!

  2. omo~~ *speechless* lanjutlah thor!!!🙂

  3. omo~~ *speechless* lanjutlah thor!!🙂

  4. omoo…serem n tragis ffx

  5. iihhh…ngeri banget..,
    good job buad author,,,

  6. Serem banget ‎​(˚☐˚!!!~) \(˚☐˚!!!)/ (~!!!˚☐˚) shock baru bangun tidur

  7. astaga.., aq kira romance aja…. ternyata eh teryata.. menyeramkan sangat…
    Iih.., merinding sendiri aq…

  8. hadew…pagi2 dah baca yg beginian,

  9. Serem banget 2mayat hidup itu >~<

  10. Key umma kok jdi serem gitu sih???

    • Raisa Widiastari

      Author lagi kesurupan pas bikin makanya jadinya Key kaya gitu *bingung sendiri kenapa bisa buat Key kayak gitu*
      gomawoo yaa udah bacaa😀

  11. bagus nih ffnya. gaya penulisannya aku suka, terkesan dark dan kebawa ama situasi yang kamu gambarin.
    good ff ^^

    • Raisa Widiastari

      waaaah, makasiih yaa komennyaa😀
      tujuan awal sih emang mau bikin jadi gothic! bagus deh tercapai \m/
      gomawooo udah baca *poppo*

  12. kkangrii 강영리♥

    Saengieee…. *tutup muka pake bantal* hoahhh, menyeramkan o.o keren2! Good joob!!! Sedikit mual bagian akhirnya, ada belatung muncul sih…

    • Raisa Widiastari

      onnieeeee~
      miaan yaah aku buat suami onnie jadi kayak gini *digampar lockets*
      iyaa, aku lagi kena syndrom yang serem-serem pas lagi bikin ^^ miaan onniee ._.v
      makasiih yaa onnie nyempetin baca ^^

  13. dari vidclip a little peace of heaven ya? pantes bagian terakhirnya agak mirip2 gitu “pasangan mati” o.O

    daebak thor,tapi serem amat sampe dimakan organ2nya
    hoho mantap ^^b

  14. hahahahaa…… untung gaada onew..
    tapi key kjam banegt di sini.>,<,

  15. Sereem gilaa………. Dpet inspirasi dmn?? Pada maen bunuh”an…. Ji”k d bagian mkan organ”…. Geelaaa…..

    • raisawidiastari

      ^ ketahuan gabaca A/N hehehe
      dari MV A Little Piece Of Heaven-nya Avenged Sevenfold
      Hehehe, gomawoo yaah udh baca :3

  16. gila..arggh serem banget.. >-<

  17. bling" shin hye

    astaga… cerita na agak mengerikan n menjijikkan. tp keren bgt onnie…
    nih cerita beda dari yg laen. key oppa keren bisa berkepribadian gitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: