The Half Blood ELF Part 5

Seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan, akan ku sakiti diriku demi menjagamu agar tidak terluka, supaya kau tetap aman –Stephenie Meyer –twilight–

Tolong… tolong aku kumohon!”

Heechul memengang keningnya. Ia mendapat firasat tidak baik tentang Yeosin. Ia segera mengambil kunci mobilnya lalu pergi mencari Yeosin.

Ia tidak menemukan Yeosin dimanapun di seluruh taman di Seoul.

Heechul menelepon Donghae menanyakan apakah Yeosin pulang ke Dorm. Donghae menjawab tidak. Heechul menghela nafasnya.

“kau dimana?” batin Heechul

Heechul melihat siulet bayangan di sebuah gang di dekat taman. Heechul mendekati siulet itu dan terkejut saat melihat Yeosin meronta di gendongan seorang preman.

Heechul segera berlari mengejar preman itu.

“Hei Lepaskan dia.” Teriak Heechul hingga membuat kedua preman itu menoleh

“kami tidak ada urusan dengamu. Pergilah!”

Heechul membuang ludah, “hadapi aku jika kalian ingin membawanya pergi?”

Preman yang membawa tubuh Yeosin menghempaskan tubuh gadis itu ketanah. Heechul mencoba menahan marahnya saat melihat preman itu memperlakukan Yeosin secara tidak manusiawi.

“kau mencoba menghalangi kami? Kau pikir dirimu siapa?” salah satu preman itu melemparkan sebuah tonjokan ke Heechul. Heechul bisa menghindarinya tapi untuk pukulan kedua dan selanjutnya Heechul tidak bisa mengelak lagi.

Heechul merasakan sesuatu bergejolak di perutnya kemudian menjalar ke tenggorokannya. Heechul membuka mulutnya dan segumpal darah kotor keluar. Heechul mengelap mulutnya.

Ia melirik Yeosin yang sedang memeluk tubuhnya sendiri menahan kesakitan.

Pandangan mereka bertemu. Yeosin menarik bibirnya dan mengumamnkan kata “gwenchanayo?” samar namun terasa jelas bagi Heechul.

Heechul seolah mendapat kekuatan. Ia bangkit dan menghadap kedua preman itu. ia menojok preman itu dengan sekuat tenaga. Berhasil preman itu tersungkur. Heechul memandang preman satu lagi. Preman itu sedikit lebih jago dari preman sebelumnya.

Heechul melihat sebauh botol soju. Ia mengambilnya dengan kecepatan ekstra. Lalu memukulnya tepat ke kepala sang preman.

Heechul tersenyum puas saat melihat itu terkulai tidak berdaya.

Yeosin melihat Heechul memukul preman itu hingga jatuh. Ia tersenyum melihat Heechul membela dirinya. Yeosin melihat preman satunya lagi bangkit. Ia bisa mencium bau besi. Preman itu membawa besi.

Preman itu mengacungkan sebuah pisau ke arah Heechul. Heechul tidak bisa mengelak. Preman itu lebih cepat dari Heechul.

Yeosin bisa melihat preman itu mengayunkan pisaunya ke arah Heechul. Ia menjerit, ia melepaskan semua yang ia punya termasuk hidupnya. Sebuah cahaya keluar dari tubuhnya.

Seperti film yang di pencet tombol Pause nya.

Semuanya berhenti.

Yeosin menangis sejadi-jadinya. Ia tidak sanggup melihat Heechul terluka. Ia tidak sanggup melihat Heechul pergi dari sisinya. Ia tidak sanggup melihat Heechul berdarah.

Cahaya itu meredup dan seketika preman-preman itu terpental jauh dari Heechul. Kepalanya terbentur tiang listrik dan mengeluarkan darah.

Heechul pun ikut terpental dan akhirnya pingsan.

Yeosin terisak sambil memeluk lututnya.

“Hyung… Hyung… Yeosin-ssi… Yeosin-ssi…!” Yeosin merasakan seseorang menghampirinya dan menepuk pipinya.

Yeosin meringis saat orang tersebut memengang tubuhnya. Ia terbakar sekali lagi.

__________d_e_s_o_n_________

“kau sudah sadar?” tanya Donghae

Yeosin mengerjapkan matanya. Ia merasakan sakit ditangannya. Ia mendapati sebauh jarum tertanjap di lengannya, diikuti dengan selang panjang berisi darah.

Darah.

Yeosin menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Peri menghindari Darah karena darah mengandung zat besi. Besi adalah hal yang dihindarkan.

“Tananglah!” Donghae menyentuh bahu Yeosin menenangkannya.

Yeosin mengerutkan keningnya, aneh. Ia tidak merasakan sakit saat Donghae menyentuhnya. Ia semakin tidak mengerti, ada apa dengan dirinya.

Yeosin bersandar di ranjangnya menatap Donghae dengan tatapan bingung.

“Kau kehilangan banyak darah jadi Dokter memberikan kau donor darah.” Donghae mencoba menjelaskan namun bukan itu yang Yeosin herankan, “Bahkan Leeteuk Hyung sendiri yang mendonorkan darahnya untukmu.”

“Apa dia baik-baik saja.” ucap Yeosin parau mengalihkan pembicaraan tentang darah yang membuatnya merinding.

Donghae terdiam, ia mengalihakan pandangannya dari Yeosin.

“Kau jangan memikirkan hal yang aneh-aneh dulu, kau masih butuh istirahat.” Leeteuk masuk membawa sebuklet mawar lalu menaruhnya di meja. Ia mengusap kepala Yeosin dengan lembut.

“Dimana dia sekarang?” tanya Yeosin tidak sabaran, “aku ingin melihatnya.”

“Dia baik-baik saja.” Donghae masih tidak berani menatap Yeosin

“Kau bohong.” Yeosin mencabut selang yang menempel di tangannya lalu beranjak dari tidurnya. Ia bergedik saat melihat darah berceran  disekitarnya.

Baru satu langkah Yeosin langsung abruk beruntung Donghae sigap langsung menangkapnya dan membopongnya ke atas kasur.

“Lepaskan aku ingin melihatnya.” Isak Yeosin dalam pelukan Donghae.

Donghae mamandang Leeteuk meminta persetujuannya. Leeteuk berfikir sejenak kemudian berkata, “kau ambilkan kursi roda.”

Donghae mendudukan Yeosin diatas kursiroda dan mendorong gadis itu kekamar Heechul. Donghae dan Leeteuk sengaja meninggalkan Yeosin sendirian.

Yeosin menatap tubuh Heechul yang ditusuk berbagai jarum dan kepalanya dibalut oleh perban. Ia menatap sendu Heechul. Dadanya sakit dan terus bergemuruh. Air matanya terus mengalir tanpa alasan. Sakit yang ia terima tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan di dadanya.

“apakah ini yang namanya cinta? Katakan kau bohong tentang semua ini.” Yeosin mengenggam tangan Heechul.

“bangunlah… kau belum menunjukan tentang duniamu padaku. Bangunlah!” Isak Yeosin

__________d_e_s_o_n_________

Heechul memembuka matanya perlahan, ia menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Ia melihat kesekeliling. Putih.

Kau sudah bangun?

Heechul menoleh dan mendapati seorang wanita berdiri membelakanginya. Ia memiringkan tubuhnya untuk melihat wanita itu tapi tidak berhasil.

Kau tidak bisa melihat wajahku. Itu adalah peraturan. Wanita menjawab rasa penasaran Heechul, aku adalah Dewi Bunga, Dewi penebar bunga di seluruh jagat. Aku selalu memberi dua pilihan dan mengabulkannya salah satunya.

Heechul menatap Dewi itu dengan tatapan bingung. Logika tidak bisa masuk lebih jauh untuk mempercayai semua ini.

Kau tau kau sudah terlalu tau dalam urusan dunia kami. Tapi itu bukan salahmu. Jadi aku tidak akan menghukummu, aku akan menghukum peri itu.

“Tiidaaaaaaaaaaaaaaak.” Heechul berteriak refleks saat sang Dewi menyinggung tentang Yeosin, “Aku yang salah karena telah menutup jalan pulangnya. Aku yang menyiksanya selama di duniaku. Aku yang harusnya dihukum.”

Ehmmm… aku memberimu dua pilihan, membiarkan dia menerima hukumannya atau mengantikan hukumannya?

Heechul menatap Dewi itu dengan tatapan memelas, “Dia sudah banyak menderita, jadi biarlah aku yang mengantikannya.”

Kau yakin seberapa lama kau sanggup menanggungnya??

Heechul berfikir sejenak, “Selama aku hidup. Sampai aku menutup mata.”

Baiklah itu pilihanmu, aku akan mengabulkannya. Dewi Bunga menjentikan jarinya. Ruang putih itu berubah menjadi sebuah taman yang indah. Heechul dan Dewi itu duduk bersebelahan, Heechul tidak dapat melihat wajah sang Dewi, ia terlalu takut.

“Apa kita berada di surga? Apakah aku sudah mati.” tanya Heechul

Belum saatnya kau pergi kesana. Ini tempatku, tempat aku membesarkan dan peri-periku, anak-anakku.

“Kau ibunya para peri? Apa kau juga Ibu Yeosin?” tanya Heechul penasaran

Kau pikir seperti itu?

Heechul menggeleng, “Dia akhir-akhir ini dia terlihat lebih manusiawi. Dia juga berkata dia berbeda dengan peri lainnya.”

Kau benar dia sangat berbeda dengan kami.

Heechul mengerutkan keningnya, “Kenapa bisa begitu?”

“Kau tau cerita awalnya. Cerita tentang seorang Dewi yang jatuh cinta dengan manusia biasa. Namun manusia itu tidak mencintainya. Dewi itu pun mengubah nasib pria itu. ia membawa pria itu ke Kayangan dan mengurungnya. Cinta itu tidak bisa dipaksa. Pria itu hidup abadi. Namun tidak bahagia.”

Dewi Bunga mengangkat tangannya. sebuah segalas dan teko melayang dihadapan Heechul. Heechul mengambilnya lalu meminum isinya. Manis, lebih manis dari madu dan menghilangkan dahaga.

“Melihat sang pria tidak bahagia. Sang Dewi akhirnya membuat sebuah keluarga kecil-kecilan. Ia menculik Putri pria itu dan membawanya ke tempatku. Kau tau kami tidak bisa bersentuhan dengan besi dan manusia secara langsung. Namun Sang Dewi tetap mengurungnya disini sampai gadis itu berubah menjadi peri sepenuhnya. Kau tau betapa tersiksanya dia disini. Semua peri menjauhinya. Bahkan sedikit demi sedikit dia mulai kehilangan semua sifat manusianya.”

Heechul tertegun mendengar penjelasan Dewi Bunga, “Jadi dia sama sepertiku.”

“Aku tidak mengatakan begiku.”

“Jadi maksudmu dulu dia sepertiku dan sekarang dia seperti kaummu? Begitu?”

Heechul memang tidak bisa melihat wajah sang Dewi namun ia bisa melihat sang Dewi sedang tersenyum padanya.

“Nasib memang bisa berubah, dia bisa berubah menjadi peri tapi takdirnya untuk mencintai manusia dan dicintai manusia tidak dapat berubah. Sekuat apa-pun sang Dewi menahannya, pada akhirnya ia akan mencintaimu dan kau pun mencintainya bukan.”

Heechul tak bisa mengelak saat sang Dewi mengatakan kalau ia mencintainya. Ya dia mulai mencintai gadis itu. Gadis itu yang hampir membuatnya gila, gadis itu yang selalu ingin dia lindungi.

Dewi Bunga menyerahkan sebuah cincin perak berukiran EunHeeChul kepada Heechul. Heechul memandang cincin itu tidak mengerti. Bukankah cincin itu sudah ia buang ke sungai Han. Cincin yang membuat peri itu tidak bisa pulang ke rumahnya.

Nasib bisa ditulis ulang. Seberapa sering nasib di tulis ulang tidak akan pernah berlaku bila sang pecinta berubah hati. Untuk sebuah hati yang benar-benar mencintai, jarak tak lebih dari sebuah kata bersedia untuk menunggu. Aku percaya padamu.

Dewi Bunga kemudian menjentikan jarinya. Sebuah cahaya berpendari dari jarinya kemudian melayang layang diatas tangannya. cahaya itu kemudian menubruk kening Heechul hingga membuatnya kehabisan nafas.

Heechul meronta. Ia berteriak namun suaranya tidak keluar. Tubuhnya terasa kaku. Ia tidak dapat bergerak. Kepalanya terasa sakit. Sesuatu seperti paku seperti tertancap di kepalanya.

Heechul mencoba membuka matanya. Ia melihat Yeosin sedang terisak di tangannya.

Ia tersenyum saat ia melihat Yeosin tidak terluka parah.

Heechul merasakan kepalanya sangat sakit. Ia tidak tahan dengan rasa sakitnya ia meringis. Ia memukul-mukul kepalanya dengan tangan yang masih bebas.

Yeosin melihat Heechul meringis menahan sakit. Ia panik lalu memanggil Donghae dan Leeteuk. Donghae lalu memanggil dokter sementara Leeteuk menenangkan Heechul.

“Heechul-ah tenanglah…” Leeteuk memenggangi tangan Heechul yang sedari tadi dipakainya untuk melukai diri sendiri.

Yeosin meringis melihat Heechul begitu kesakitan.

Dokter datang lalu memberikan obat penahan rasa sakit. Dokter bahkan harus memberikan dosis yang tinggi.

Dokter meminta Leeteuk keruangannya. Sementara Donghae menemani Yeosin di tetap di samping Heechul.

“Yeosin-ah…” lirih Heechul

Yeosin mendekat dan mencium tangan Heechul.

“Kau baik-baik saja?” tanya Heechul, “Kau tidak kesakitan lagi?”

Yeosin menggeleng, “Kau tidak pernah membuatku sakit. Kau selalu membuatku nyaman.” Yeosin mendekatkan tangan Heechul ke pipinya.

“Aku bahagia mendengarnya.” Kemudian Heechul pun tertidur lagi sambil tersenyum.

Yeosin terisak disebelah Heechul. Donghae menarik Yeosin menjauhi Heechul

“Dia akan baik-baik saja!” ucap Donghae

Yeosin tidak bisa berkata apapun. Ia bukan peri lagi. Ia telah kehilangan kekuatannya. Harusnya dia yang mati sekarang bukan Heechul yang menderita.

Yeosin menghala nafas, seandainya ia mempunyai satu kekuatan ia akan menukar hidupnya untuk Heechul.

__________d_e_s_o_n_________

Heechul akan merasakan sakit yang luar biasa ketika ia ingin mencoba mengingat sesuatu. Rasa sakit itu sangat menyiksa sehingga ia ingin membenturkan kepalanya ke tembok.

Dokter harus memberikan suntikan penahan rasa sakit dengan dosis tinggi untuk menenangkan Heechul.

Yeosin hanya bisa menggigit jarinya saat melihat Heechul kesakitan. Ia tidak berani mendekat.

Setelah Heechul tenang dia biasanya tertidur untuk waktu yang lama. Disaat seperti itulah Yeosin mendekati Heechul dan memandangi wajahnya.

Ada sedikit penyesalan dalam hati Yeosin. Ribuan umpatan dan pertanyaan bergelung dipikirannya.

“Seandainya, aku manusia biasa. Seandainya kita dalam dunia yang sama.”

“Se… andainya…,” Yeosin tersentak saat Heechul sudah membuka mata dan bergumam dengan lirih, “Seandainya adalah kata untuk orang yang tidak berusahaa.”

Heechul memandang Yeosin dengan tatapan teduhnya.

Heechul mencoba meraih tangan Yeosin. Hangat. Kemudian ada sesuatu yang menjalar dari tanganya ke tubuhnya dan menusuk jantungnya.

“Aaaarrghhh………….” Heechul meringis kesakitan.

Ia memukul mukul dadanya untuk menghilangkan rasa sakit. Namun rasa sakit itu malah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Yeosin berjalan mundur menjauhi Heechul. Ia takut sekali. Ia takut kehilangan Heechul.

Dokter dan suster segera menolong dan menyuntikan obat menahan rasa sakit lagi. Yeosin tidak bisa melihat Heechul dalam keadaan seperti ini. Dia harus meminta bantuan.

Yeosin melihat Manager Hyung berjalan ke arahnya bersama beberapa teman Heechul.

“Kau wanita jalang kenapa kau masih ada disini.” Manager Hyung langsung menarik Yeosin lalu menghempaskannya ke lantai, “Pergilah kau membawa pengaruh buruk bagi kami.”

Yeosin jatuh terduduk. Ia melihat kemarahan di mata Manager Hyung.

“Hyung sudahlah kita bisa berbicara secara baik-baik.” Ucap Leeteuk

Manager Hyung mengibaskan tangannya, “Bawa dia jauh dariku dan Heechul. Aku tidak mau Heechul semakin terluka parah.”

Leeteuk membatu Yeosin berdiri dan memapahnya ke taman rumah sakit.

Yeosin menatap hamparan bunga yang berwarna-warni. Musim semi telah datang, Heechul dalam keadaan sekarat, Kekuatannya hilang semua. Yeosin menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya. Air matanya tidak berhenti menetes.

“Aku yang membuatnya celaka.” Rintih Yeosin, “Jika dia tidak menolongku, mungkin dia baik-baik saja.”

Leeteuk memandang hamparan rumput yang berwarna hijau, “Apakah dia akan baik-baik saja jika melihatmu terluka?”

“Dia akan kesakitan saat aku memegang tubuhnya. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu tapi aku takut. Aku takut dia kenapa-kenapa.”

Leeteuk terdiam kemudian dia berkata, “Dokter berkata Heechul mengalami benturan dikepalanya. Otaknya terus merekam rasa sakit. Ia akan kesakitan padahal tidak ada yang melukainya.”

Yeosin menatap Leeteuk tidak percaya, “Tidak mungkin.”

“Heechul harus menjalani terapi untuk penyembuhannya, tapi saat ini Dokter tidak mengizinkan karena tubuhnya masih dibalut perban.”

“Yeosin-ah, aku tau kau sangat mencintai Heechul,” Yeosin terbelak saat mendengar ucapan Leeteuk, “Semua itu terlihat dari caramu memandangnya. Kau sangat tidak ingin kehilangannya. Begitu juga dengan Heechul. Caranya memandangmu seperti terlalu proterctiv seolah kau ini benda yang tidak boleh tersentuh. Kau hanya miliknya.”

Yeosin terharu mendengar ucapan Leeteuk, semoga hal itu benar adanya.

“Yeosin-ah, kumohon.” Leeteuk melorotkan tubuhnya hingga dia berlutut dihadapan Yeosin, “Tinggalkanlah Heechul.”

Gleguaaaaaaaaarrrrrrrr…

Jika Leeteuk dijuluki malaikat oleh fansnya. Dimata Yeosin, Leeteuk seperti seorang pengemis. Memuja kemudian meminta.

Apakah semua pujiannya hanya omong kosong. Seenaknya dia melambukan hati seseorang kemudian menjatuhkannya.

“Dia sangat tersiksa. Kumohon lepaskanlah.”

Yeosin masih terdiam terpaku mendengar ucapan Leetuk.

“Media dan masyarakat tau kalau kau adalah mantan kekasih Heechul. Kau bisa Heechul bebas. Heechul pun sudah lepas dari bayang-bayang Eunhee. Kurasa dia bisa hidup seperti sediakala.”

Leeteuk bangkit lalu berjalan perlahan, “Terimakasih Yeosin-ah, kau telah membuat Heechul terlepas dari sosok Eunhee.”

Rintik hujan turun perlahan. Membasahi tubuh Yeosin. Tak ada sedikitpun niat untuknya pergi dari taman.

Air mata dan air hujan berubah menjadi satu.

Pikirannya kosong. Hatinya kelu. Separuh dari jiwanya sudah terenggut dan separuh lagi sedang tersiksa didalam sana. Bagaimana ia bisa hidup. Ia bahkan tidak tau apa arti kehidupan. Baginya hidup dalah Heechul dan Heechul adalah kehidupannya.

Sebuah cahaya berpendar kecil dibalik bunga matahari. Cahaya itu mendekat ke arah Yeosin. Cahaya itu menyelimuti Yeosin dan membawanya ke suatu tempat.

TBC…

part 5 publish, maka kuis part sebelumnya di tutup…

jawabannya udah tau kan karena dalam tubuh manusia mengandung darah dan darah itu mengandung zat besi. Peri g boleh deket-deket ma besi, ingat kan???

terimaksih bwt reader yg udh berpartisipasi hadiahnya author bw balik lagi…

part 6, part terakhir…. hayo kalo yg baca dari awal pasti udah tau akhirnya kayak gimana…

leave coment please

_deson_

 

About -deson-

Everybody loves me, coz I’m made of chocolate

Posted on 3 April 2011, in Han Yeosin and tagged , . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. yah, pendek
    #plakk
    lanjut, thor..

    Mian bru bisa komen… Bru ol al.a..

  2. ga sabar sama endingnya >,<

  3. aku belum bisa nebak ending y. . .
    Heechul ma yeosin berpisah, pa heechul berubah jd peri. . .
    Penasaran lanjut. . .

  4. Author crita nie keren bnget,, jarang ad yg buat ff tntng manusia n peri,,
    good job author *ngangkat 4 jempol*
    gk sbr nunggu part trkhr.a,,,,,

  5. Ah kependekan nih hhe gak sabar nunggu part terakhirnyaaaaaaaaa😀

  6. aq baru tw diakhir alasan Elf gak bisa bersentuhan sm manusia.. Tp tetep masih bingung setiap adegan dewi bunga.. Jadi Heechul dihukum gak bisa bersentuhan sm elf itu.. Kasian bgt sih, manajer oppa jg jahat bgt.. Gak sabar tunggu part akhir..

    • Iya karena besi itu…

      adegan Dewi bunga sama Dewi Bulan???

      Dewi bunga itu punya kekuatan buat ngabulin satu permintaan, tapi setiap manusia cuma di kasih dua pilihan, biasanya pilihannya sulit atau ada resikonya.

      kalo dewi bulan itu penjaga waktu dia bisa ngerubah waktu n ngubah nasib tapi g bisa ngerubah takdir

      Dewi bunga itu suka sama manusia. tapi manusia nya g suka. manusia itu malah nikah sama manusia lain. Dewi Bulan akhirnya nyulik manusia itu sama anaknya.
      bokapnya di kurung di Istana bulan n anaknya di titipin di istana Dewi Bunga biar mereka g ketemu.

      manusia kalo kelamaan tinggal di alam peri lama-lama bisa jadi peri. tapi konsekuensi kalo jd peri harus patuh sama dewinya, n harus ninggalin semua kodratnya sbg manusia termasuk jatuh cinta.

      Heechul milih nanggung semua hukuman Yeosin. Yeosin kan g bisa bersentuhan dengan manusia. jadi sekarang Heechulnya yg g bisa bersentuhan dengan Yeosin.

      Gimana ada yg kurang jelas ???

  7. huwaa… keren” part terakhir jgn lma” y thor!!!😉

  8. Nunggu ending’y. .
    Makin cinta sma heechul oppa. .😀

  9. @Yosin: ne, araseo.. *manggut2 kpla* ide ceritanya keren bgt.. jalan ceritanya gak keduga.. jd penasaran part terakhirnya..

  10. Aigoo kasian heechulnya jadi sakit kayak gitu ;___;
    harus happy ending ya thor hehehe🙂

  1. Ping-balik: [FF/PG 17] Because I am a Fool (바보라서) Part 1 « SHINee Super Shinki FF Indo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: