[FF/PG/S/4] Life Isn’t Fair For Me

Life Isn’t Fair For Me

AUTHOR : Raisa Widiastari (Kim Ryechul)

CAST : Lee Taemin

Kim Jonghyun

Halena Jun

SUPORT CAST : Super Junior

Henry Lau

Lee Jinki a.k.a Onew

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

LENGTH : Series

GENRE : Sad Romance. Romance.

RATING : PG

A.N: Annyeong semua😀 berhubung ini fanfic dibuat dengan susah payah disela-sela kegiatan sekolah yang semakin padat, tolong hargain author yang udah nulis ini capek-capek alias diharapkan menjadi pembaca yang tertib (RCL). Komen kalian bener-bener saya butuhin buat memperbaikin tulisan saya. Maaf yaa kalau nanti nemu typo! Happ y Reading all😀

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Part 4


Taemin’s POV

Sedikitpun, aku tidak pernah terfikir untuk meninggalkan gadis yang sangat kusayang itu. Aku tidak pernah berfikir sedikitpun untuk membiarkannya hidup di dunia ini sendirian. Aku tidak bisa membiarkan dirinya sendirian ditengah malam yang dingin. Aku tidak bisa tidur dengan tenang apabila selalu memikirkannya. Terlebih lagi, aku belum menyelesaikan kata-kata terakhirku kepadanya. Aku belum bisa kembali ke alam sana. Aku masih ingin bersamanya. Aku masih ingin bersamanya. Namun, aku tahu tuhan memang menakdirkan dirinya tidak bersamaku. Pasti ada yang lebih baik daripada diriku ini. Aku yakin saat itu akan terwujud. Tapi, aku tidak akan melepaskan cinta pertamaku itu sebelum dia menemukan pasangan sejatinya. Pasangan yang akan membahagiakan hidupnya. Ia akan selalu bersama Halena Jun sampai saat itu. Walaupun aku tidak bisa berbicara dengannya, aku tahu dia merasakan kehadiranku.

Hal itu terbukti hari ini. Puncak dimana ia menangisi kepergianku. Dimana ia seolah-olah mengajakku berbicara. Aku tahu, ia sering sekali dikata-katai teman-temannya karena suka berbicara kepada dirinya sendiri. Padahal, tidak ada siapaun disana. Sebenarnya aku ada disana. Namun, tidak ada satupun orang yang bisa melihatku. Tidak ada satupun orang yang merasakan kehadiranku. Bahkan ibuku sendiri tidak menyadari ketika aku berkunjung kerumah dan membelai kepada ibuku. Ia tidak sadar bahwa anaknya berada di sampingnya saat itu. Tapi, tidak untuk kasus Helen. Ia tidak pernah berhenti-hentinya menganggap diriku masih hidup sampai detik ini. Aku  bisa mendengar semua ocehan yang dikeluarkan yeojachingu-ku yang mengenang masa lalunya. Masa lalunya yang ia lewati bersamaku. Kenyataan itu sangat menyakitkan diriku. Aku tidak bisa melihat dirinya menangis seperti itu. Aku tidak bisa membiarkannya menangis terus seperti itu. Apa yang harus kulakukan tuhan? Aku hanya bisa menyentuh tangannya walaupun memang aku tidak bisa menyentuh tangannya dengan tubuhku yang asli. Aku hanya bisa menembus tangannya. Namun, aku bisa melihat seulas senyum diwajahnya. Sudah pasti ia merasakan sentuhanku. Aku cukup tenang dengan hal seperti itu. Setidaknya, ia tersenyum.

Namun, yang paling aku khawatirkan adalah saat ia mendekati halaman-halaman terakhir album foto yang menyimpan seluruh kenangan-kenangan kami itu. Aku sengaja menaruh foto kami berdua saat masuk kedalam fotobox itu terakhir karena foto itu memang foto favorit kami berdua. Entah mengapa, aku merasa Helen sangat cantik di foto itu. Ia terlihat sangat menawan. Pandangan yang sama juga diutarakan oleh Helen kepadaku. Ia berkata bahwa wajahku sangat tampan dan menawan di foto itu. Itu sebabnya aku menaruh foto itu di halaman terakhir karena itu adalah penutup dari cinta kami berdua. Foto tersebut dapat menyimpulkan bahwa kami saling mencintai dan cinta kami sangat tulus. Itulah yang membuat foto itu begitu berharga untuk kami berdua. Dan saat lamunanku buyar, aku mendapatkan yeojachingu-ku menangis histeris akan hal itu. Aku tidak tega melihatnya. Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. Aku ingin menangis tapi aku tidak bisa menangis. Aku ingin menenangkannya tapi aku tidak bisa menenangkannya. Aku ingin memeluknya namun aku tidak bisa memeluknya. Aku ingin menciumnya tapi aku tidak bisa menciumnya. Saat itu juga ia meluncurkan serentetan kata yang sangat menyedihkan.

“Ta–taemin-ah, aa-aku tahu kkau adda dissini. Ttaemin-ah, a–aku merindukanmu. Ssaranghha–hae Ttaemin-ah. Aa-ku ingin ber-ttemu denganmu ssekk–ali lagi. Aa–ku hhanya ingin kkau me–nyelessaikan kkalimatmu dd-ulu.” Ucapnya terbata-bata. Terdengar tarikan nafas panjang dari dirinya, “– saranghae Taemin-ah.”

Saat itu juga, aku merasa sangat sakit. Aku merasa sangat sakit ketika yeojachingu-ku mengatakan bahwa ia mencintaiku. Dan aku juga teringat dimana saat hari kematianku, aku belum menyelesaikan kata-kata cintaku untuknya. Hanya tinggal satu huruf saja tidak bisa terucap dari bibirku saat itu. Aku masih mempunyai hutang kepadanya. Dan aku tidak bisa membayar itu semua dengan apapun yang ada di dunia ini. Aku hanya bisa membayar hutang itu dengan kata-kata cintaku. Hanya satu kata. Saranghae. Mengapa aku tidak diberikan kesempatan untuk mengucapkan itu tuhan? Mengapa?

Halena’s POV

Aku menemukan hal lain yang berada di kapsul waktu itu. Aku belum pernah membacanya, lebih tepatnya Taemin belum pernah memberikanku benda itu. Sebuah amplop berwarna hijau toska yang sangat kusukai dengan ukiran namaku yang ditulis dengan tulisan yang sangat payah dan terlalu dipaksakan sehingga meninggalkan bekas yang menonjol dibalik amplop tersebut. Tulisan yang ditulis dengan susah payah namun penuh cinta. Aku mengelus ukiran namaku yang dibuat oleh Lee Taemin itu. Aku tidak pernah tahu saat ia berada di rumah sakit, ia menulis surat untukku. Bahkan ia tidak pernah berkata padaku bahwa ia meninggalkan surat wasiat ini. Aku ragu untuk membukanya. Aku ragu untuk melihatnya. Aku terlalu takut untuk membukanya. Apakah aku akan menangis lagi? Namun, aku harus tetap melakukannya. Aku harus… harus. Kubuka amplop itu perlahan-lahan.

Didalam amplop itu, terdapat sebuah CD dan secarik kertas kecil berwarna biru langit yang menjadi warna kesukaanku dengan Taemin. Aku memasukan CD tersebut ke CD player disebelah sofa tempat aku duduk sekarang. Terdengar suara gitar yang dimainkan seseorang. Suara yang indah. Lalu, disusul oleh suara yang sangat kukenal. Suara kekasih abadiku, Lee Taemin.

[quote=Yeojachingu-ku, Halena Jun]

Dear Halena Jun.

Many people said that true love is when all you want is that person to be happy, even if you are not part of that happiness. That’s the true meaning of true love. And i think, that’s me. All i want is to see you always happy even i never be a part of your happiness. Because the cancercous will killing me in several days. And i don’t wanna see your tears all falling down from your beautiful eyes. I don’t wanna see you cry because of me.

This is my last last request for you, Halena Jun. I hope you’ll  pledge allegiance this last request.

Don’t love someone like me again. Don’t make someone to miss again. Only who looks at you and needs only you. Meet someone who loves you so much. Meet someone who could grow old together with you, laugh with you, wipe your tears away, always beside you through good and bad times. Don’t cry in pain. Don’t ever miss a foolish love that’s already passed. And for anything we already do, please promise to me. Be happy with him, Helen. Be happy for me. I always beside you, jagiya. I always beside you.

Goodbye my love.

I’ll be loving you till eternity.

Lee Taemin. [/quote]

Dengan berakhirnya membaca goretan tangan Taemin yang terakhir kali, lagu yang dibuatnya juga berakhir. Lagu yang dibuatnya untukku terngiang-ngiang di telingaku. Saat itu juga, aku mengatupkan bibirku keras-keras. Namun, bibirku tetap saja bergetar. Aku tak kuasa menahan tangisku lebih lama. Butiran-butiran kristal jatuh dari ekor mataku. Makin lama, butiran itu menjadi semakin deras. Semakin deras dan tidak bisa dihentikan layaknya air terjun di pegunungan. Aku berusaha menghentikannya. Aku berusaha keras untuk tidak menangis sampai histeris. Namun, aku tidak kuasa menahannya. Aku segera mengambil bantal terdekat yang terdapat diatas sofa yang kududuki. Aku membungkam mulutku sendiri dengan bantal itu. Aku menggigit keras sarung yang melapisinya. Berharap hal tersebut dapat meredamkan tangisanku. Namun, semakin ku coba, semakin sakit rasanya. Kucoba untuk membekap mukaku sendiri. Aku berharap aku akan kekurangan nafas dan aku akan menyusul laki-laki itu di surga. Namun, tiba-tiba cd lagu yang Taemin berikan terputar kembali.

‘Jagiya, aku tidak tahu apakah kau akan mendengarkan dan membaca suratku disaat aku masih bernafas atau tidak. Walaupun aku selalu berharap agar aku diberikan kesempatan kedua untuk tetap bersamamu. Yeojachingu-ku, tetaplah hidup! Tetaplah bersemangat! Tetaplah tersenyum. Karena, aku bisa merasakaan saat kau bersemangat, tersenyum, bahagia, dan semua hal yang menyenangkan hatimu. Aku bisa merasakannya, jagiya. Aku akan bahagia bila kau juga bahagia. So, keep smiling, my dear. HALENA JUN, FIGHTING!’

Satu hal yang harus ia ketahui. Seorang Lee Taemin yang mengirimkan voicenote seperti ini tidak akan menghiburku. Malah membuat diriku semakin terpuruk dan menangis. Dasar babo! Apa yang dia lakukan? Mengapa tuhan harus mengambil nyawanya disaat ia masih muda? Tuhan, apakah aku boleh bertemu dengannya sekali lagi? Walaupun hanya sekali saja. Aku hanya ingin mengatakan secara langsung bahwa aku mencintainya. Aku hanya ingin membelai wajahnya sekali lagi. Untuk terakhir kalinya tuhan. Mengapa hidup ini tidak adil bagiku? Life Isn’t Fair For me! Mengapa tuhan? Mengapa? Aku membiarkan diriku tergeletak lemas diatas sofa dengan kapsul waktu yang masih berada di pangkuanku. Aku menangis untuk diriku sendiri, untuk Taemin, dan untuk segala macam hal yang pernah kulakukan bersama Taemin. Tiba-tiba, lagu Haunted – Evanescence terdengar ditelingaku. Kuhapus air mataku dan tanpa melihat siapa yang menelpon, aku segera menyentuh layar I-Phone ku untuk mengangkatnya.

“Aan-nnyeong?”

“Dongsaeng-ku? Kamu kenapa?”

“Ooh. Oppa,” Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku sejenak, “– ada apa?”

“Aku sudah berada didepan apartementmu. Bukakan aku pintu sekarang. Aku lelah.”

Tanpa pikir panjang, aku membukakan pintu untuk kakakku satu-satunya. Tadinya, aku sempat berfikir bahwa kakakku hanya berbohong saja kalau ia berada di London. Namun, ternyata benar. Laki-laki berumur dua puluh dua tahun itu berdiri didepanku dengan rambut hitam model mohawk yang acak-acakan. Manik hitam didalam matanya yang sipit itu mengisyaratkan bahwa ia sangat capek akan semua hal. Bibirnya yang tebal terlihat tidak seperti biasanya. Pucat dan kering. Pipinya yang menggemaskan itu berwarna merah. Dalam balutan mantel bulu yang melapisi kaus tipis dan celana jeans yang dikenakannya, ia terlihat seperti orang yang baru dari perjalanan jauh. Nafas laki-laki itu tidak teratur seperti sehabis berlari-lari. Ya, itu adalah Henry Lau, kakakku. Tapi, untuk apa dia kesini?

“Masuk dulu oppa. Aku akan memberimu teh hangat.” Ujarku seraya meminggirkan badanku agar kakakku itu bisa masuk kedalam apartementku.

Tanpa diduga olehku sebelumnya, kakakku tiba-tiba melempar kopernya dan memelukku. “Halena-ah? Kau menangis kenapa? Ada yang menyakitimu?”

“Ngg.. itu..” Jawabku ragu kepada kakakku.

Tiba-tiba, lagu buatan Taemin yang dipersembahkan terakhir kali kepadaku terputar kembali. Mungkin, aku tidak sadar bahwa cd tape tersebut kuprogram untuk mengulang lagu dari track pertama. Dengan satu hentakan, kakakku menengok kearah suara itu berasal lalu memandang mataku lagi. Aku yang tidak kuat untuk mengelak segala pertanyaan dari kakakku. Hanya satu yang bisa kulakukan. Menangis. Ya, aku hanya bisa menangis. Dengan cepat, Henry melepaskan tangannya dari bahuku dan berjalan kearah cd tape tersebut.

Henry’s POV

Ini adalah kunjunganku yang ke sekian kalinya ke London. Aku pergi kesini meninggalkan segalanya yang ada di Korea sebenarnya hanya satu hal yang sangat simpel. Aku hanya ingin mengecek keadaan adikku yang menetap di London untuk melanjutkan kuliahnya. Aku sangat mengerti perasaannya. Adikku itu benar-benar seseorang yang sensitif dan sangat mudah menangis. Aku masih ingat beberapa tahun yang lalu saat sahabatku yang tidak lain adalah namjachingu adikku juga, Lee Taemin, pergi meninggalkan dunia fana ini. Aku masih ingat betapa depresinya adikku yang sangat kusayang itu. Ia berbulan-bulan menjadi seperti orang gila. Hidupnya berantakan karena kehilangan sebelah mata. Mengapa aku berani berkata seperti itu? Karena, setiap adikku memandang, disitulah Taemin berada. Dan kehilangan Taemin membuat hidupnya tidak seimbang lagi. Aku juga masih mengingat permintaan terakhir Taemin kepadaku.

***

“Selamat pagi, calon adik ipar.” Ujarku tersenyum kepada orang yang berada didepanku.

“Selamat pagi, hyung. Apa kabar? Dimana…”

“Dimana adikmu? Hahaha. Ia sekarang sedang menyelesaikan beberapa tugas dan ia akan datang kesini dalam waktu tiga puluh menit. Jangan khawatir okay?”

“Mm. Hyung tau kan hari ini aku empat belas bulan dengannya?” Ujar Taemin memasang muka melas.

“Tentu saja! Untuk itu aku membawakan ini untukmu.”

Aku memberinya sebuah kotak biru safir yang berisikan dua kalung perak yang masing-masing mempunyai sisi dari setengah bintang yang sangat disukai oleh adikku. Aku juga mengetahui bahwa Taemin menyukai bintang juga karena mereka mempunyai kenangan manis bersama salah satu bintang yang berada diluar atmosfir bumi ini. Jadi, kuputuskan untuk memberi mereka kado kalung tersebut. Aku melihat Taemin membukanya. Wajahnya terlihat senang. Namun, hanya seklias. Sedetik kemudian wajahnya terlihat murung. Seperti mengetahui akan terjadi sesuatu yang buruk yang menimpanya.

“Terima kasih, hyung.” Katanya sambil memakai kalung tersebut.

“Mm. Kalau mau berterima kasih bagaimana kalau kau membelikanku senar biola baru?”

“Aku tidak mungkin melakukannya, hyung.”

“Hee? Apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa.”

Ia tersenyum lebar kearahku. Namun, aku bisa melihat kesedihan yang sangat mendalam yang berasal dari lubuk hatinya melewati mata hitam kelabu yang kosong itu. Aku tidak mengerti apa yang dikatakan calon adik iparku itu. Tapi, karena aku tidak suka membawa sesuatu menjadi masalah yang besar, aku mengiyakannya saja daripada aku mati penasaran karena hal itu.

“Boleh aku meminta tolong sesuatu kepadamu?”

“Tentu. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Ini,” ia memberikanku sebuah amplop berwarna hijau toska yang berukuran besar dengan goretan tinta yang membentuk nama adikku, “– tolong masukan benda ini kedalam kotak berwarna hitam dengan motif akar-akar berwarna putih didalam kamar Helen yang disimpan didalam lemarinya.”

“Apa ini?”

“Sesuatu hal yang akan membuatnya mengingatku selalu. Dan jangan dibuka ya, hyung.”

“Iye, iye. Selow aje kali, min. Okay aku pergi dulu sekarang. Nanti aku akan kembali lagi. Annyeong Taemin-ah!”

“Aaah! Satu lagI!”

“Ape?”

“Jaga dirinya baik-baik ya! Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa!”

“Tanpa kau beri tahu, aku akan selalu menjaga dirinya baik-baik tahu! Daah~”

***

Sampai detik ini, aku belum percaya bahwa sahabatku itu sudah tiada. Sehabis dialog cukup panjang yang kulakukan bersama Taemin, dalam hitungan kurang dari satu jam ia sudah tidak ada di muka bumi ini. Saat itu, aku baru saja selesai meletakkan amplop yang diberikan Taemin kedalam box besar tersebut. Tiba-tiba aku menerima telfon dari Seyoon, salah satu teman adikku bahwa Taemin sudah meninggal dan sekarang dalam perjalanan menuju kerumahnya. Aku segera keluar dari kamar Helen saat itu juga dan berlari menuju garasi mobil. Kumasukan kunci mobil tersebut kedalam lubang kunci yang tersedia. Namun, hal itu terasa sulit karena ia merasakan kepanikan yang sangat luar biasa membuatnya ingin menangis. Mengangis memikirkan sahabatku dan menangis karena memikirkan adikku. Saat itu juga, yang kupikirkan adalah perasaan adikku, Halena Jun. Apa yang ia rasakan sekarang? Tuhan! Hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan olehnya. Hari dimana mereka memperingati hari jadi mereka. Apa yang membuatmu begitu kejam terhadap adikku tuhan? Namun, hal tersebut sudah terjadi. Waktu tidak bisa diputar kembali. Taemin sudah tidak ada. Walaupun berat, aku tahu aku harus bisa menerima keadaan tersebut. Lamunanku buyar saat menerima telfon dari seorang yeoja yang tidak lain adalah pacarku.

“Annyeong, Ryechul-ah. Maafkan aku baru menjawab telfonmu sekarang. Aku sudah berada di London sekarang.”

“Mm, tidak apa-apa, chagi. Sudah bertemu dengan Helen-ah?”

“Belum. Aku baru saja keluar dari bandara. Rindu padaku ya?”

“Aish! Kau memang paling tahu diriku ya chagi.”

“Hahaha, Ryechul-ah. Aku juga rindu padamu. Saranghae yeojachingu-ku.”

“Nado saranghae, Henry-ah.”

Setelah menutup telfon dari yeojachingu-ku yang sebentar lagi akan menjadi tunanganku, aku segera menyetop taksi yang sedang lewat didepan lobby Bandara Heathrow yang merupakan bandara internasional utama di London ini. Setelah memberi tahu alamat yang akan kami tuju, aku kembali berkonsentrasi dengan novel yang ia baca semenjak perjalanan dari Korea ke Inggris di dalam pesawat. Novel yang cukup menarik karena bersifat misteri dan kriminal. Aku, Helen, maupun Taemin memang memiliki kesamaan yang sama dalam berbagai macam hal. Salah satunya adalah tentang genre yang dipilih untuk membaca buku. Untuk itu, setiap aku membaca novel-novel seperti ini, pikiranku langsung tertuju kepada mendiang Taemin. Seandainya ia masih hidup… Tidak-tidak! Aku tidak boleh berkata seperti itu! Aku tidak akan mungkin membiarkan Taemin tidak tenang di alam sana! Ah! Sudah sampai. Kuputuskan untuk menelfon dongsaeng-ku tersayang.

“Aan-nnyeong?” Dibalik suaranya, terdengar kesedihan yang sedang dirasakannya.

“Dongsaeng-ku? Kamu kenapa?”

“Ooh. Oppa,” ia menarik nafas panjang sejenak, “– ada apa?”

“Aku sudah berada didepan apartementmu. Bukakan aku pintu sekarang. Aku lelah.”

Tidak sampai dua detik, pintu apartementnya terbuka dan kulihat sosok dongsaengku yang sangat berantakan. Rambut madu yang indah itu terlihat awut-awutan. Matanya bengkak sudah pasti karena tangisan. Dalam balutan gaun tidur berwarna hijau toska itu, ia terlihat sangat pucat. Sudah pasti ia kedinginan. Pipinya basah karena air mata yang menetes dari sudut matanya. Berani taruhan dua ratus ribu poundsterling, ia menangis karena Taemin. Kalau bukan karena Taemin, tidak akan pernah kubiarkan siapapun itu hidup.

“Masuk dulu oppa. Aku akan memberimu teh hangat.” Katanya berusaha tersenyum.

Aku melempar koperku dan segera menarik adikku kedalam pelukanku, “Halena-ah? Kau menangis kenapa? Ada yang menyakitimu?”

“Ngg.. itu..” Jawabnya terbata-bata.

“…When i lose my way inside the dark forest. When my young soul is crying. Guide me like a light, like a miracle. Before this life ends…”

Aku tercengang ketika mendengar suara yang berasal dari arah ruangan tengah yang sangat berantakan akibat terlalu banyaknya barang yang berada disana. Suara tersebut berasal dari sebuah cd player yang menyala. Itu… suara Taemin kah? Mengapa bisa ada suara Taemin? Aku memutar otak untuk mencari jawabannya. Segera saja aku melepaskan pelukanku dan berjalan kearah tape tersebut dengan niat untuk mematikan lagu yang mungkin dibuat Taemin untuk dongsaengku namun lagu tersebut hanya membuatnya menderita. Aku tidak tega melihat dongsaengku terus menerus menangis seperti ini. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila Helen menangis. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena aku gagal menjadi seorang kakak yang baik baginya. Saat sudah sampai didepan cd player tersebut, telunjukku menggapai tombol stop. Hanya satu sentuhan, sudah pasti suara itu akan berhenti. Namun, aku tercengang ketika mendengarkan suara yang merdu itu mengucapkan kata-kata dengan suara dan makna yang sangat dalam. Belum pernah aku mendengar suara sedalam itu.

“…You make me, you perfect me. You make me able to breathe like this. If only you.. are with me…”

Mataku terasa mau meloncat dari tempatnya. Aku terlalu shock mendengar kalimat yang diucapkan sahabatku itu didalam lagu ini. Aku segera menengok kearah amplop hijau toska yang menarik perhatianku di atas sofa yang terlihat sangat familiar. Ya, aku sangat ingat itu adalah amplop yang kutaruh didalam kotak hitam yang berada di sofa itu juga saat beberapa tahun yang lalu. Taemin yang memintaku untuk menaruhnya. Jadi ini yang berada didalam amplop hijau itu? Rekaman suaranya dan…. oh tidak! Ia ternyata juga mengirimkan surat? Benda itu kutangkap dari sudut mata kananku saat sedang melirik keatas meja. Aku melirik kearah adikku ragu. Ia hanya menunduk terdiam didepan pintu yang terbuka lebar. Aku yakin ia sedang melamun karena tatapannya kosonng. Satu tetes, dua tetes, dan yak! Dia menangis lagi. Segera saja kututup pintu apartementnya dan menuntun adikku untuk ikut duduk bersamaku di sofanya yang empuk dan panjang itu.

Aku membiarkannya menangis. Mungkin ia memang memerlukan waktu untuk menangis. Untunglah aku ke London hari ini. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan adikku tersayang ini. Aku tidak tahan melihatnya menangis terus. Namun, apalah dayaku? Aku tidak bisa melarangnya menangis untuk hari ini. Tidak bisa. Aku saja menangis bila mengingat Taemin sudah tidak ada. Kalimat terakhir yang diucapkan Taemin kepadaku selalu terngiang di telingaku. Terlalu sakit bila mengingat kalimat itu berulang-ulang. Pesan terakhir yang ia sampaikan kepadaku ternyata memang sangat berat. Aku bolak-balik pergi dari Korea ke London hanya untuk memastikan adikku ini baik-baik saja. Persis seperti yang diinginkan Taemin. Aku akan menjaga adikku sampai akhir hayatku. Itu janjiku kepada diriku, tuhan, dan Taemin. Saat selesai membaca surat yang ternyata sangat menyentuh dan membuatku menjadi laki-laki yang cengeng karena menangis, aku memeluk dongsaengku tersayang itu. Kami bersama-sama menangis sambil berpelukan.

Jonghyun’s POV

Mengapa perasaanku tidak enak begini? Semenjak kepulangan Key dan Minho dari apartementku, mendadak suasana disini sangat mencekam dan sunyi. Aku merasakan kehampaan yang sangat mendalam. Dan tiba-tiba saja, didalam benakku, muncul seorang gadis cantik jelita yang mempunyai rambut berwarna cokelat, manik berwarna manik emas, dan wajahnya yang sangat cantik. Siapa lagi kalau bukan Halena Jun. Mengapa wanita itu selalu ada didalam bayang-bayangku, tuhan? Apa yang salah dengan diriku? Hal apa yang menyebabkan diriku terus-terusan memikirkan wanita tersebut? Aku seorang Kim Jonghyun seumur hidup belum pernah mengalami hal seperti ini dengan seorang yeoja. Apalagi yeoja tersebut baru saja kukenal hari ini. Apa yang terjadi dengan diriku?

Sebenarnya, saat pertama kali aku melihatnya, aku seperti pernah melihatnya. Yeoja itu terasa sangat tidak asing bagiku. Namun, otakku mengatakan bahwa aku tidak mengenalnya. Tapi, mengapa hatiku mengatakan sebaliknya? Ah! Aku sangat tidak menyukai situasi seperti ini. Sangat membingungkan! Apakah aku harus menelpon sahabatku untuk meminta pendapatnya tentang situasi yang sedang kuhadapi sekarang? Tapi, apakah tidak terlalu malam bila menelponnya sekarang? Ah tak apalah. Lagi pula pasti dia tidak keberatan bila berbicara kepadaku.

“Onew hyung!” Kataku saat nada tunggu berakhir.

“Oi. Ada apa menelponku disaat aku sudah mau tidur?”

“Hmm, aku hanya ingin bertanya. Pernahkah kau bertemu dengan seseorang yang tidak kau kenal namun dalam hatimu kau kenal orang itu?”

“Pertanyaan yang membingungkan. Namun, aku tidak pernah merasakannya. Memangnya kenapa?”

“Aku sedang mengalami itu. Aku harus bagaimana?”

“Hmm.. coba kau pikir-pikir lagi. Mungkin saja kau pernah mengenalnya atau sekedar mengetahui keberadaannya dulu dalam jarak yang dekat.”

Setelah beberapa perbincangan yang kulakukan dengan Onew, aku malah semakin bingung dengan diriku sendiri. Terngiang-ngiang pernyataan yang dibuat oleh hyung-ku itu tentang aku pernah mengetahui keberadaannya dulu dalam jarak yang dekat. Mungkinkah aku mengenalnya? Tapi aku yakin seratus persen bahwa aku sama sekali tidak mengenalnya. Jadi, apa alasan hatiku berkata lain dari otakku? Aku tidak mempunyai riwayat lupa ingatan atau apalah. Aku tidak pernah menderita penyakit separah itu. Bahkan masuk rumah sakit saja tidak pernah. Jadi, ada apa dengan diriku ini?

Kulihat foto keluarga yang merupakan wallpaper handphone-ku. Foto keluarga saat aku masih berumur sembilan belas tahun. Foto disaat aku masih tidak peduli akan cinta, dan segala macam hal yang tidak penting di dunia ini. Foto disaat aku masih dalam masa labil dan masih dalam masa-masa menyusahkan orang tua. Semua hal tercurahkan di foto tersebut. Aku sangat ingat saat itu aku tidak mau ikut foto keluarga karena kesannya sangat membuang-buang waktu. Aku tidak menyukai waktu-waktu bersama keluarga karena itu sangat membosankan. Tetapi, karena anak itu aku berada disana saat itu….

“Hyungie~ ayolaah ikut foto.”

“Aish! Kau tahu sendiri aku tidak suka berfoto bersama umma dan appa.”

“Hanya sekali, hyung. Setelah itu terserah kau mau ngapain.”

“Ya ya baiklah.”

Dan itulah foto keluarga yang lengkap terakhir kita…. Itulah foto terakhir keluargaku yang masih lengkap. Foto sebelum keluargaku kehilangan salah satu anggota keluarga karena hal yang sangat menyedihkan. Foto dimana aku tidak menyesal karena telah mendengarkan ucapan dongsaengku karena memaksaku untuk ikut masuk kedalam foto keluarga. Tuhan, terimakasih kau telah memberikanku satu kesempatan untuk membahagiakannya sebelum ia pergi meninggalkanku selamanya….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

mian kelamaan >.< RCL yaaa~ gomawooo!!!

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 4 April 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Aaaah akhirnya ada lg lanjutannya aku nunggu lama banget (: lanjutannya lg jangan lama2 ya author hhe aku suka ceritanya soalnya :D:D

  2. lanjutanx jgn lma2 thor!!😉

  3. Next partnya jgn lama”.
    Aq suka bgt critanya.
    Dongsaengnya Jjong Tae

  4. lanjutannya dong~ aku suka bgt ceritanya hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: