[FF] The SORROW TWILIGHT Part 8 1/2

aretaannora.wordpress.com

Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : chapter 8 [1520 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

*Jung Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

and other support cast..

A.N :

Sumpah.. gag Pede banget publish chapter ini.. kayaknya ini chapter terhancur deh.. huhuhuuh.. makanya dibutuhkan koment, kritik, saran, dan lain-lain yah? mau bashing juga gag apa.. LoL

oyah.. di chapter ini gag ada puisi2an yah? Adanya di chapter selanjutnya…

======================================== – AUTHOR POV-

“Belum sadar”, Ucap Nicole seraya mengalihkan pandangannya ke suatu kamar. Sepertinya kamar itu tempat Yeon-ah sedang dirawat.

“Kau mau kopi hangat? Kelihatannya kau kedinginan.” Tawar Nicole. Kibum duduk di ruang tunggu. Nicole datang dengan dua cup kopi di tangannya. Nicole menyerahkan segelas pada kibum. Kibum menerimanya dengan tangan gemetar.

“Aku tidak menyangka kau benar – benar datang.” Ucap Nicole seraya menghirup kopinya. Aku menarik napas panjang. Tangan Kibum memegang cup kopi kuat – kuat sehingga panasnya bisa menyebar ke tubuhku.

“Bagaimana pertandingannya? Bukankah sekarang masih berlangsung?” tanya Nicole lagi.

“Aku tidak ikut pertandingan.” Kibum tersenyum pahit. “Eh? Tidak ikut? Bukankah kau pemain utama? Tidak apa kau pergi kesini?”

“Tidak apa.” Jawab Kibum tenang. Nicole menatap wajah Kibum yang membiru. Perlahaia rasakan kehangatan mengalir di tangannya. Tapi ini… bukan dari cup kopi. Kibum melihat kearah tangannya. Kulihat tangan Nicole di atasnya. Mengenggam tanganku erat. Hangat sekali rasanya.

“Sampai dingin begini… Kau… benar – benar keras kepala. Kenapa tidak ganti baju dulu? Seragam basket kan tipis.” Ucap Nicole prihatin. Benar juga. Aku masih memakai pakaian basket yang ditutupi jaket biasa. Pantas saja terasa dingin.Perlahan Nicole melepas genggamannya dan menatapku lurus.

“Yeon ah… menyukaimu. Apa kau sudah tahu hal itu?”Aku terdiam.

“Apa aku pantas untuk disukai?” tanyaku polos. “Maksudmu?”Aku tertawa kecil untuk menutupi rasa gugup.

“Aku… belum pernah pacaran sebelumnya. Rasanya begitu takut. Takut melukainya. Takut tak bisa menjaganya. Apa wajar jika ada perasaan macam itu?”Nicole menunduk .

“Molla-yo… Aku juga… belum pernah menjalin hubungan.” Jawab Nicole jujur. Aku menoleh tak percaya.

“Kau juga?”Nicole menunduk.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu..?” ucap Nicole mengalihkan pembicaraan. “Ne..katakanlah,”

“Apa kau juga menyukai Yeon-ah?” tanya Nicole hati-hati. Ia takut pertanyaannya justru akan membuat Kibum tersinggung. Segurat senyum terkembang di sudut bibir Kibum. Senyum yang mampu menyingkap rona merah di pipi setiap puteri hawa yang melihatnya. Nicole adalah salah satunya. Ia seperti di sengat listrik saat melihat senyum terkembang di bibir Kibum. Ingin sekali Nicole melihat senyum itu terbentuk hanya untuknya, dan hanya karenanya. Sungguh ego telah menguasai dirinya. Namun, apakah Nicole salah dengan rasa yang ia rasakan itu? Haruskah ia mengesampingkan perasaannya pada Kibum hanya karena Yeon-ah? Ya… Yeon-ah memang alasan utama baginya untuk mengesampingkan semua itu, meski dengan membiarkan hatinya remuk sekalipun. Karena Demi Tuhan! Nicole akan senantiasa membuat Yeon-ah tersenyum.. hal yang jarang ia lihat semenjak Appa meninggal. Dan Nicole yakin akan suatu hal. Bahwa melepas bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan baru. Kebahagiaan selalu ada untuk mereka yang tersakiti. Karena pada akhirnya Nicole tahu bahwa ia yang akan…

“Ahh..apa sih yang sedang kupikirkan?” batin Nicole. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menghilangkan pikiran buruk yang menjangkitinya. Nicole segera meneguk secangkir kopi yang tergenggam ditangannya.

“Kau baik-baik saja Nicole?” Kibum menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Nicole.

“Ne..” jawab Nicole singkat tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang menerawang ke arah dinding tembok di depannya.

“Ah, aku melupakan sesuatu. Aku belum menjawab pertanyaanmu,” Kibum nenarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Rasanya berat mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Jangankan Nicole.. Jinki, sahabatnya sendiri pun ia perlu berpikir berulang kali.

“Aku sangat menyukai Yeon-ah.. Rasa nyaman dan bahagia yang hanya kurasakan saat di sampingnya, bahkan aku rela menukar 1000 hari kehidupanku di surga hanya untuk satu detik berada di sisinya. Namun aku takut rasa ini justru melukai Yeon-ah. Aku terlalu takut..,” aku Kibum. “Sudah kuduga,” batin Nicole seraya tertunduk lesu. “Yeon-ah mencintaimu.. Kau pun juga.. Namun kalian sama-sama tak berani mengungkapnya.. Hahha..” Nicole tertawa lirih. “Apa perlu aku yang mengatakannya pada Yeon-ah?” tawar Nicole.

“Eh? Andwae.. Biarkan aku saja.. Aku hanya perlu mengumpulkan se…”

“Kau akan mengungkapnya dengan surat, begitukah Kim Kibum?” sela Nicole, “Sebagaimana yang biasa kau lakukan..”, sambung Nicole. Kibum terhenyak. Cangkir yang dipegangnya kini ikut bergetar karena reaksi yg Kibum berikan. “Kkau…tahu? Apa Yeon-ah yang bercerita padamu?” tanya Key seraya menatap Nicole dengan tatapan tak percaya. Nicole tersenyum penuh arti mendengarnya.

“Maaf…mungkin aku lancang, namun bagaimana aku tidak tahu? Yeon-ah adalah adik semata wayangku… Aku tahu apa saja yang ia lakukan, termasuk kemana ia pergi terutama saat senja.” Ia segera memastikan sesuatu saat menangkap wajah Kibum yang nampak cemas.

“Apakah aku mengusikmu dengan apa yang kuketahui ini?” tanya Nicole, “Aku bisa berpura-pura tidak tahu..” “Tidak, Nicole. Hanya saja aku terlalu malu. Mungkin kau akan menganggapku sebagai lelaki pengecut. Benar-benar tidak pantas untuk Yeon-ah,” keluh Kibum. “Nicole.. Bagaimana keadaan Yeon-ah?” tiba-tiba sebuah suara mengalihkan perhatian Kibum dan Nicole. “Yeon-ah sedang dirawat, dia akan baik-baik saja Umma..” Nicole berusaha menenangkan ibunya.

“Anak itu benar-benar… Sudah kubilang dia itu tidak pernah keluar malam. Dia memang selalu bandel, tidak pernah menuruti nasehat ibunya… beginilah akibatnya…”

“Umma… Yeon-ah tidak keluar malam, penyakitnya ti..” “Sudahlah Nicole. Kau tak perlu membelanya,” potong Umma. Nicole terdiam. Kadang ia lelah jika harus berdebat dengan ibunya mengenai Yeon-ah. Semua yang dilakukan Yeon-ah selalu salah di mata ibunya. Di sisi lain, Kibum sangatlah gusar. Pikirannya melayang-layang tak menentu memikirkan kemungkinan kondisi Yeon-ah.. Dan perdebatan yang tak sengaja ia dengar, membuatnya…

“Jika Yeon-ah mendengar percakapan ini pasti dia akan sakit hati” gumam Kibum. “Yeon-ah…bertahanlah, kau gadis yang kuat.. Aku yakin itu..”

“Umma.. Lebih baik Umma pulang saja, biarkan aku yang menjaga Yeon-ah di sini. Lagipula besok kan minggu,” ucap Nicole memecah keheningan di antara mereka. “Tidak, kau saja yang pulang. Tapi… Bukankah kau ingin melihat pertandingan basket? Ahh…Nicole, sungguh Umma benar-benar minta maaf atas hal ini.. Karena adikmu, acaramu jadi terganggu” “Tidak Umma. Jangan berkata begitu. Masih ada pertandingan basket minggu depan. Jadi, kuputuskan untuk menonton minggu depan saja”, dusta Nicole. Kibum yang segera menyadari kebohongan itu, menatap Nicole dengan tatapan penuh tanya.

“Benarkah begitu? Tidak apa jika kau yang menjaga Yeon-ah? Kebetulan Umma masih banyak pekerjaan rumah”. Nicole hanya mengangguk dan tersenyum, senyum yang sulit diartikan bagi Kibum.

“Gomaweo.. Kau memang gadis yang baik.. Besok pagi umma akan kembali. Kau beristirahatlah..”

*****************************************************************

45 menit berlalu sudah. Namun pertandingan masih juga seri. Belum ada satupun dari kedua team yang berhasil memasukkan bola ke dalam ring lawan. Kini saatnya bagi kedua team untuk beristirahat. Haejin yang sedari tadi menyadari tidak adanya keberadaan Kibum segera mendekati team mereka. Ia benar-benar kecewa. Tak seperti biasanya pertahanan team nampak begitu lemah.

“Lhoh… Kibum oppa di mana?” tanya Haejin. Lama.. Tak ada yang menjawab satupun. Mungkin karena pertanyaan Haejin tidak jelas ditujukan untuk siapa. Jinki yang menyadari tak ada seorangpun menjawab, segera mengambil alih.

“Dia tidak ikut bertanding. Kita harus bisa berusaha sendiri,” “Tapi dia kan pemain utama. Seluruh strategi team bergantung padanya”

“Sudahlah. Kibum tidak bisa ikut, dia ada kepentingan. Kita pasti bisa tanpa Kibum!” ucap Jinki setengah berteriak. Emosi Haejin kini meluap-luap. Semua ini terasa tidak adil bagi Haejin. Ia sudah merelakan uangnya melayang hanya untuk membuat banner raksasa yang kini sama sekali tak ada artinya . Belum lagi ia membela-belakan pergi ke salon untuk merias wajahnya. Semua ini ia lakukan hanya untuk Kibum. Tapi apa ? Kibum, pria itu malah tidak ada di sini sekarang. Haejin berjalan gontai menuju bangku penonton. Detik-detik berikutnya terasa sangat lama baginya.. Ia menonton pertandingan dengan tatapan hampa, sehampa malam yang kian gelap mencekat. Riuh penonton bagai terdengar suara nyaring ditelinganya.

***************************************************************

Keheningan kini menghampiri Kibum dan Nicole. Kibum yang sedari tadi hanya diam dan sesekali menggigit bibir bawahnya. Namun dalam diamnya kini, ternyata berjuta rasa kecemasan sedang meliputi diri Kibum. Gadis yang menjadi alasannya untuk tidak mengikuti pertandingan basket kini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Kibum yang semakin habis dengan kesabarannya akhirnya memutuskan untuk melongok Yeon-ah dari celah kecil jendela.

“Yeon-ah sadarlah, aku mohon… Aku tak akan pernah-pernah menyia-nyiakanmu lagi. Jika kesempatan itu datang.. Aku pasti akan mengatakannya”. Kibum menatap Yeon-ah dengan mata berlinang. Entah mengapa… menatap gadis yang ia puja dalam keadaan seperti ini membuat Kibum serasa tak berdaya. Kibum tahu bahwa Yeon-ah pasti berdandan untuknya. Bisa dilihat dari setelan pakaian yang ia kenakan, dan riasan yang nampak sedikit pudar. Kibum membisikkan sesuatu, berharap Yeon-ah akan mendengarnya, “Kau akan tetap cantik bagiku Yeon-ah… bagaimana pun penampilanmu. Karena cantik itu terpancar dalam dirimu, bukan wajahmu.” Kibum dikagetkan dengan sosok berbaju putih yang keluar dari ruangan tsb. Nicole yang sedari tadi hanya melamun, tersadar dari alam kembaranya dan segera mendekati Dokter tsb.

“Bagaimana keadaannya Dok”, tanya Kibum cemas.

“Kami baru bisa melaporkan hasilnya besok. Namun saudara sudah bisa menemuinya. Ia terbaring masih tak sadarkan diri, ” ujar Dokter Kim seraya berbalik meninggalkan mereka. Kibum segera memasuki ruangan tsb dan mendekati Yeon-ah. Ia mengamati setiap jengkal wajah Yeon-ah. Ingin sekali ia meminta Yeon-ah membuka kelopak matanya. Dan saat itu juga, Kibum akan mengatakan semuanya…. Perasaannya pada Yeon-ah…. Bagaimana Yeon-ah begitu menarik di matanya…. Kibum mengusap lembut tangannya dan menggumamkan berbagai permohonan do’a. Sementara Nicole hanya sanggup menatap mereka dari ambang pintu. Bagaimanapun juga ia tak ingin menganggu suasana itu. Hanya berharap dengan Kibum berada di samping Yeon-ah… adiknya akan segera tersadar.

***********************************************************


 

 

About kkangrii

| Moslem |

Posted on 4 April 2011, in Riyantika Sussi, SHINee Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Yeon ah belum sadar jg.. moga jgn sad ending.. langsung pergi ke bag. 2..

  2. Huaaaaaaaaa sedih (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  3. hwuaaa T.T
    sedih bgt .. sdah ku duga trnyata nicole cinta am kibum ..
    yeon ah cpt lah sadar >_<

  4. Pengen nangis… T.T
    ceritanya bgs bgt…
    Ibunya kpn sadar sie???

    Author great…

  5. Moga yeon-ah cpt sadar…. Aku makin sbel sma ummanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: