The Half Blood ELF -Ending-

Meski terkadang tidak masuk akal, tetapi disisi lain ketika posisi kita menjadi korbannya justru kebalikannya. ‘Mitos mampu mengalahkan sebuah logika dan keyakinan.’. -Hasim Sofarrudin

“Aku siap dihukum aku siap jika kau mencabut nyawaku.” Ucap Yeosin saat ia menghadap para Dewi

Yeosin menunduk, dihadapannya berdiri ke tujuh Dewi yang duduk membentuk setengah lingkaran,

“Kita ini tidak akan mati.”

“Aku sudah melanggar banyak peraturan, Yang Mulia.”

“Hukumanmu sudah tergantikan.”

Yeosin mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya ia melihat langsung wajah sang Dewi, “Apa maksud Anda Yang Mulia.”

“Ya~ kau berani sekali menatap Yang Mulia secara langsung dan berbicara tidak sopan padanya.” Ucap Peri-peri lainnya yang ada diruang tersebut.

“Dia yang memilih. Dia memilih untuk menggantikan posisimu. Kau yang akan terluka jika berada didekatnya dan sekarang dia yang akan terluka didekatmu.”

Yeosin terperangah mendengar ucapan Dewi Bunga.

“Aku hanya menjalankan tugasku. Dialah yang memilih.”

“TAPI KENAPA KAU MEMBERIKAN PILIHAN ITU.” Yeosin tidak dapat menahan suaranya lagi.

“Kau peri yang lancang.” Semua peri yang hadir bersahutan mengejek Yeosin.

“Kau tau peri kecil semakin banyak kau berbuat kesalahan semakin berat hukumanmu dan semakin parah sakit yang dideritanya.” Ucap Dewi Pelangi bijak.

“Pilihan yang telah dipilih tidak dapat diubah.” Ucap Dewi lainnya

Yeosin menundukan kepalanya lagi ia menyembunyikan tangisnya dan terisak pelan.

“Aku ingin bertanya padamu,” Ucap Dewi Bunga, “Apa kau bahagia?”

Para peri mendesis. Mereka menghujat, menghina dan ada yang bertanya bagaimana suatu perasaan yang biasa ada dalam diri manusia bisa ada pada jiwa seorang peri.

“Tidak.” Ucap Yeosin singkat

“Kenapa?”

“Aku tidak tau, Yang Mulia. Perasaan itu mengalir begitu saja. Aku merasa tidak senang.”

“Jadi kapan kau merasa bahagia?” Ucap Dewi yang duduk di posisi paling pinggir

“Saat aku melihat dia dalam keadaan baik-baik saja.”

Jawaban Yeosin membuat seluruh Dewi dan Peri terhenyak. Mereka saling berbisik dengan bahasa masing-masing. Terlalu benyak suara hingga membuat Yeosin binggung harus mendengarkan yang mana.

__________d_e_s_o_n_________

Heechul membuka matanya perlahan. Ia mencoba membiasakan kedua matanya dengan cahaya matahari.

Satu persatu wajah Hyung dan dongsaengnya ia perhatikan. Wajah cemas dan lemah itu terseyum padanya.

“Hyung kau tidak apa-apa?” tanya Ryeowook.

Heechul menggeleng lemah sambil memegang kepalanya.

“Biarkan dia istirahat dulu.” Ucap manajer Hyung pada Ryeowook.

Ryeowook memajukan bibirnya. Padahal ia ingin sekali meminta Heechul memakan masakanya.

“Dimana Yeosin?” ucap Heechul parau.

“Lebih baik kau memikirkan kesehatanmu dari pada memikirkan gadis itu?” ucap Manajer Hyung

“Dimana dia?” tanya Heechul lagi

“Dia sudah pergi.” Ucap Leeteuk tanpa melihat Heechul.

“Pergi menana, dia tidak punya rumah?” ucap Heechul geram.

Semua member menatap Heechul penuh tanya. Heechul memalingkan wajahnya.

“Dia bukan orang Korea. Ia datang bersama teman-temannya. Teman-temannya meninggalkannya dan dia tidak tau bagaimana caranya kembali. Itulah kenapa aku mengajaknya ke dorm.”

Leeteuk memandang Heechul sesaat kemudian pergi kebelakang.

“Hyung, kau mau kemana?” Teriak Heechul saat melihat Leeteuk keluar dari kamar inapnya.

“Sebaiknya kau istirahat dulu Hyung.” Ucap Donghae menenangkan Heechul

“Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang jika kepalaku terus memikirkan gadis itu.”

Manajer Hyung mencibir, “Dia telah berbohong Heechul-ah, dia sangat fasih berbahasa Korea.”

“Kau tidak mengenalnya Hyung. Dia berbeda. Sangat.”

“Lebih baik pikirkan kesehatanmu dan cepat kembali ke panggung bersama yang lain. ELF sudah menunggumu.”

ELF.

Bagaimana kau tau bahwa aku seorang ELF?

Kau tau aku tidak bisa bersentuhan dengan besi. Disana terlalu banyak besi.

Peri tidak mati, kau ingat. Kematian adalah kecerobohan. Mungkin aku akan segera mati.

Sebentar lagi musim semi dan aku akan mati karena ini

Heechul memengangi kepalanya yang terasa sakit

__________d_e_s_o_n_________

Seorang peri berambut ikal kecil berwarna kuning mendekati peri lain tanpa sayap.

Peri kuning itu tidak berani menghampiri peri tanpa sayap itu. Ia juga tidak berani menggunakan bahasa pikirannya karena peri lainnya juga pasti mendengar.

Peri tanpa sayap itu menoleh tiba-tia membuat peri kuning itu terlokjat kaget.

“ada apa?” ucap peri tanpa sayap itu.

“ke… ke.. mana sayapmu.” Ucap peri kuning terbata-bata.

Peri tanpa sayap itu menghembuskan nafas kesal, “aku diberi hukuman oleh Sang Dewi dan tidak boleh berpergian dari Istana bunga.”

Peri Kuning itu membulatkan matanya tidak percaya, “kau yakin.”

“tentu saja.”

Peri kuning itu mengalihkan pandangannya ke sekuntum bunga yang sedang berkembang, “Kau tau. Seorang peri terlahir dengan sayap ditubuhnya. Bagaimana bisa sayap melekat itu bisa dicabut begitu saja?”

Peri tanpa sayap itu menatap sahabatnya dengan lekat, “apa maksudmu?”

“Seorang peri akan kesakitan bila berdekatan dengan besi dan di tubuhmu sekarang mengandung banyak zat besi.” Peri Kuning menatap Peri tanpa sayap, “tapi kenapa kau tidak mati.”

“Apa yang kau ketahui lagi?”

“Kau lebih mengetahui dirimu sendiri.”

Peri tanpa sayap itu mendunduk, “apakah aku juga mempunyai kesempatan untuk memilih?”

“setiap makhluk hidup mempunyai pilihan kecuali para peri, kami hanya tunduk pada sang Dewi.”

“Apa aku juga harus memilih menjadi seorang peri.”

“Apa maksudmu??” Peri Kuning itu mengibarkan sayapnya, “ kenapa kau menjadi putus asa seperti ini. Mana peri Safir yang tersenyum meski semua peri menjauhinya. Kau punya kehidupan tapi tidak disini.”

Peri tanpa sayap itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa.”

Peri Kuning itu mengepalakan tanggannya kemudian membuka telapak tangannya. sebuah Dandelion kecil muncul dari tangannya.

“Pilihan adalah dua jalan yang berbeda menuju jalan. Harapan adalah doa agar kita tidak tersesat saat menuju tujuan.” Peri kuning itu melayangkan dandelion kecil ke peri tanpa sayap.

__________d_e_s_o_n_________

“Heechul-ah kau mau kemana?” Heechul terhenti saat Leeteuk memanggilnya

“Aku mau mencari Yeosin.” ucap Heechul masih memengang knop pintu

“Dia sudah pergi Chul-ah.”

Heechul membalikan badannya dan menatap Leeteuk tajam, “dia tidak akan pergi jauh dariku.”

“Dia benar-benar sudah pergi.”

“Dia tidak akan pergi dariku.” Teriak Heechul

“Aku yang menyuruhnya pergi.”

Heechul menatap Leeteuk tidak percaya.

“Aku yang menyuruhnya untuk meninggalkanmu, Chul-ah.”

“Hyung kau…”

“Aku setuju dengan Manajer Hyung, dia hanya membawa dampak negatif untukmu. Cukup sudah dia sebagai pengganti Eunhee.”

“Jangan sebut gadis itu lagi. Yeosin tidak sebanding dengan Eunhee.”

“Super Junior membutuhkanmu. Kami membutuhkanmu.”

“Dan aku membutuhkan ELF-ku.” Ucap Heechul sambil terisak.

Heechul bersandar pada pitu kemudian merasakan tubuhnya sudah jatuh ke lantai.

“Apa yang harus aku lakukan Hyung. Kau tidak mengenal dia dan aku juga tidak tau apa-apa tentang dia.”

“Mianhae Chul-ah. Mianhae…” Leeteuk mensejajarkan tubuhnya dengan Heechul, “aku juga yang menyuruh para preman itu agar membawa pergi Yeosin tapi saat itu kau datang.”

Praaaang…

Leetuk menoleh dan mendapati gelas yang di pengang Donghae jatuh.

“Kenapa kau melakukannya Hyung padahal kau yang mendonorkan darahmu untuk Yeosin.”

Leeteuk tertunduk, “aku yang memberikan darahku. Agar dia sembuh dan cepat meninggalkan Heechul.”

“Kau begitu picik Hyung.” Ucap Heechul sambil berdiri kemudian pergi dari dorm.

“Hyung kau pantas sekali di juluki malaikat. Malaikat pembawa keburukan.” Ucap Donghae meninggalkan Leeteuk.

__________d_e_s_o_n_________

“Kau ingin meminta pilihan?” ucap Dewi Bunga sambil menatap peri kecil tidak bersayap dihadapannya.

“Bukankah setiap makhluk hidup mempunyai pilihan dan aku ingin memilih.” Peri kecil sedikir ragu.

“Saat kau memilih, pilihanmu tidak bisa di ubah.”

Peri kecil itu menimbang pernyataan sang Dewi, jantungnya berdegup kencang. Ia tau resiko yang di tempunya sangat besar.

“Aku siap Dewi apapun itu.”

“Kau yakin kau mampu meninggalkannya?”

Peri kecil itu menengakkan kepalanya. Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis. Ia menghirup udara untuk menenguhkan hatinya, “bukankah jika aku menjadi peri berarti aku akan hidup selamanya?”

“Benar, tapi kau akan kehilangan kodratmu sebagai manusia. Kau akan kehilangan Cinta.”

Kau tau tentang cinta? Sesuatu yang bergerak disini

Ucapan Heechul terngiang di kepalanya.

“Kau yakin akan meninggalkannya?” Ucap Sang Dewi lagi

Rasanya sakit jika tidak bertemu dengannya. Rasanya hampa bila tidak bertemu denganya. Suara Heechul kembali terngiang

Peri itu menatap Sang Dewi. Ia mengulangi kesalah terbesar dalam dunia peri. Menatap sang Dewi.

“Aku akan kehilangan rasa cinta itu saat aku menjadi peri.”

“Dan dia?” sang Dewi menatap si peri

Peri itu mengalihakan pandangannya, “memori manusia terbatas, dia pasti akan melupakanku.”

“Pikirkanlah pilihanmu sekali lagi sebelum kau mengucapkannya.” Ucap Sang Dewi, “kekalan akan membuatmu menderita sepanjang masa. Itu bukan pilihan yang bagus.”

“Meski aku punya memilih aku tetap tidak punya pilihan. Ada dan mengapa aku disini. tidak pernah aku pertanyakan sebelumnya. Karena aku tidak pernah peduli. Aku hanya ingin kan satu Dewi, kabulkanlah permohonanku.”

Cinta itu buta, bukan karena tidak bisa melihat tapi karena kita terlalu memaksakan diri kita untuk selalu bersama orang yang kita cinta. Ia tau bahwa ia akan menyiksa Heechul jika terus bersama pria itu dan ia tidak ingin melihat pria itu menderita

“Komohon Dewi, bebaskan dia. Biarkan dia hidup bahagia.”

Cinta itu membiarkan orang yang kita sayangi berbahagia meski tanpa kita disampingnya. Meski dengan itu peri kecil itu harus merasakan ribuan rindu yang tidak akan pernah berujung.

“kau telah menentukan pilihanmu.”

Seketika ruangan Dewi Bunga bercahaya dan mengeluarkan ribuan warna yang indah. Cahaya itu kemudian menyelimuti peri kecil itu membentuk sebuah sayap yang sempurna dan indah.

Perlahan cahaya itu meredup meninggalkan kesan bling-bling di tubuh sang peri.

“Aku hanya mengabulkan pilihan. Aku tidak bisa mengubah takdir. Kau memilih jalan ini dan hidup sebagai makhluk abadi. Kau masih akan merasakan sakit itu. karena rasa itu sudh terekam di otakmu sebelum perubahanmu.”

Peri kecil itu menatap sang Dewi.

“Nasib masih bisa di rubah dan kau telah merubah semuanya. Kau telah memilih dan aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Semua akan berjalan seperti dan seolah tidak terjadi apa-apa?”

“Setidaknya dia tidak akan terluka dengan hadirnya aku.”

__________d_e_s_o_n_________

“Hyung apa yang kau lakukan disini?” Donghae mengerutkan keningnya saat melihat Heechul berdiri di atas bukit yang tinggi.

“Aku hanya mencari bagian dari diriku yang hilang.” Ucap Heechul acuh

Donghae menatap Hyungnya heran. Ia bisa melihat bunga dandelion di tangan Heechul. Bunga harapan yang dapat mengabulkan keinginan.

“Hyung…”

“Tenang Donghae-ah, aku tidak akan bunuh diri.”

“Apa kau masih marah pada Leeteuk Hyung?”

“Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya kecewa padanya.” Heechul menoleh pada Donghae, “Dia tidak salah, tapi dia hanya berada dalam posisi yang salah. Menyelamatkanku atau menyelamatkan super junior.”

Donghae menatap dandelion ditangan Heechul membuat Heechul terkekeh.

“Meski terkadang tidak masuk akal, tetapi disisi lain ketika posisi kita menjadi korbannya justru kebalikannya. ‘Mitos mampu mengalahkan sebuah logika dan keyakinan.’” Heechul mendekatkan dirinya ke Donghae, “Aku merasakan sesuatu yang terlupakan. Sesuatu yang aku alami sebelum bangun dari koma.”

“Apa itu Hyung?”

“Entahlah tapi aku yakin aku mencintainya tulus dari lubuk hatiku. Meski ribuan kali ingatanku terhapuskan pada akhirnya aku akan memilihnya juga.”

Angin berhembus meniupkan dandelion yang di pengang oleh Heechul. Bunga itu melayang diudara sebelum terjatuh di suatu tempat yang sangat jauh.

__________d_e_s_o_n_________

Dewi Bulan menatap cerminnya dengan tatapan nanar. Ia melihat sebuah takdir yang harusnya terjadi. Ia bisa membelokan bulan memutar waktu dan mengembalikan takdir gadis itu ke tempat semula. Itu berarti ia harus kehilangan orang yang di cintainya dan membiarkan orang itu menikah dan memiliki keluarga yang lain.

Butir air mata menetes di pipi Dewi Bulan membayangkan hal itu terjadi membuat hatinya pedih dan sakit.

Kau mengorbankan banyak manusia dalam perasaanmu. Perlu berapa korban lagi agar kau mengerti bahwa cinta itu tidak dapat dipaksa.

Dewi Bulan menggelengkan kepalanya. Tidak. Meskipun ia mengembalikan waktu ia tidak akan sanggup melihat kenyataan itu.

Bukalah matamu, kau bahagia, tapi yang diselilingmu? Apa mereka juga bahagia? Jika tidak apa kau juga kan merasa bahagia?

Ribuan kata-kata Dewi Bunga terngiang di kepalanya. Apa salahnya mencintai manusia?

“Kenapa kau tidak melihat ke dalam diri manusia?”

Dewi Bulan menoleh dan mendapati Dewa Matahari telah berdiri tegap di sampingnya. Dewa itu yang harus nya ia cintai, bukan manusia rentan yang ia kurung dalam istananya.

“Kau adalah Seorang Dewi yang mengatur waktu. Tapi kau tidak belajar dari waktu.” Ucap Dewa Matahari, “Kau membiarkan waktumu terbuang dengan menyiksa orang-orang sekitarmu.”

“Cinta itu buta.” Ucap Dewi Bulan juteks.

“Cinta itu rasa dan rasa itu tidak perlu pengelihatan untuk itu. Kita pun bisa tau hati siapa yang mencintai dan dicintai. Cinta itu tidak bisa dipaksa.”

Sang Dewi tertunduk. Cinta tidak di paksa.

“Cinta datang dengan seiring waktu. Aku yakin dia dapat mencintaiku juga.”

“apa sekarang dia mencintaimu? Dua puluh tahun berlalu dan dia tetap tidak mencintaimu. Kau terlalu buta Dewi.”

Dewi Bulan menatap Dewa Matahari.

“Wahai Dewi yang agung, jika kau tidak mau menikah denganku. Aku pun tidak memaksa, jadi biarlah waktu berjalan dengan sendirinya dan perlahan melupakan bayanganmu dihatiku.”

Dewi Bulan menatap Dewa Matahari. Dewa gagah itu menatapnya dengan tatapan bijak. Sorot mata yang berwarna merah api yang membara tapi menyejukan.

Dewi bulan menghela nafas beratnya, “ini akan jadi rahasia yang sangat indah.”

Dewa Matahari menatap mata Dewi Bulan. Ia mengerti maksud sang Dewi, “Kau tidak ingin melihat manusia itu sebelum melepasnya?”

“Aku takut jika melihatnya tidak akan sanggup melepasnya.”

“Kau tidak menyesal?”

Dewi Bulan terdiam, “Bukankah akan selalu ada dua pilihan? Dan disetiap pilihan mengandung resiko yang berbeda.”

Dewi Bulan kemudian menjetikan tangannya lalu memutar cerminnya.

Sebuah cahaya perak muncul dari dalam tubuhnya menuelimuti seluruh ruangannya. Kemudian cahaya itu merebak keluar lalu menerobos ke langit hingga seluruh alam semesta di liputi cahanya itu.

Bumi berputar terbalik dan semua berjalan ke belakang.

Sang Dewi berhenti di waktu yang tepat. Tidak akan ada yang berubah semuanya akan sama. Namun sesuai dengan tempatnya. Manusia hidup sebagai manusia. Menjalani takdirnya yang seharusnya.

__________d_e_s_o_n_________

Incheon International airport_ Februari 2011

“Hyung nanti kita makan jalan-jalan dulu yah sebelum kita kembali ke Korea.” Ucap Ryeowook pada Leeteuk.

“Iya tapi ingat jangan terlalu boros.”

“Arraseo.”

“Ya~ aishhhh… aku kalah lagi.” Gerutu Kyuhyun yang sedang asik dengan PSP-nya. Sungmin yang sedang SMS-an di sebelah Kyuhyun menggerutu saat Kyuhyun tiba-tiba berteriak tidak jelas.

Mereka sedang duduk di ruang tunggu, menunggu pesawat yang akan di membawa mereka ke Jepang untuk Sushow 3 Jepang nanti.

Member lain sibuk dengan kelakuan aneh dan kegiatan masing-masing begitu juga dengan Heechul yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Ia memandang jari maninya yang biasanya terselip di jarinya. Kecuali saat sedang show atau syuting ia melepasnya. Cincin itu benar-benar terlepas dari jarinya.

Ada sesuatu yang menjangal dihatinya. Kenapa tiba-tiba hatinya menjadi rela melepas seorang Eunhee padahal gadis itu telah membuatnya jatuh cinta.

Ada suatu kejadian yang tidak terekam oleh otaknya tapi membekas di hatinya.

Sesuatu yang ia lupakan.

“Masih memikirkan Eunhee?” ucap Donghae yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya.

“Aku tidak memikirkannya, aku hanya memikirkan bagaimana bisa saat aku terbangun dari mabuk aku melupakan segalanya. Bahkan perasaanku padanya.”

“Jusrtu bagus, kau tidak perlu repot-repot untuk melupakannya.”

Heechul tersenyum simpul, “yah kau benar.”

“Donghae-ah lihat ada rombongan Miss Korea. Mereka seksi-seksi sekali.” Ucap Eunhyuk membuat Heechul dan Donghae menoleh

Seperti mananekin para Miss itu lewat di hadapan Heechul dan member lainnya. Mereka terlalu cantik seperti boneka. Mereka melangkahkan kaki yang jenjang dengan anggun. Mereka menyapa orang yang mereka lewati.

Sosok Heechul terpaku pada seorang Miss yang berada paling belakang. Gadis itu tidak seperti gadis yang lainnya. Ia terlihat lebih manusiawi tanpa make up tebal yang menghiasi wajahnya.

Gadis itu menoleh pada Heechul.

Heechul dapat melihat mata coklat gadis itu. Mata yang snagat familiar di otaknya.

“Yeosin-ah…”

Gadis itu terdiam begitu juga dengan Heechul. kedua mata mereka saling berpandangan hingga mata gadis itu tertarik ke belakang Heechul.

“Aigooo… apakah ini kau Yeosin-ah?” Ryeowook muncul dari belakang Heechul.

Tinggi mereka hampir sejajar padahal gadis itu tidak memakai higheels.

“Oppa bogoshipo~~” gadis itu merentangkan tangannya lalu disambut pelukan Ryeowook.

Heechul memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup melihat adegan itu. Entah kenapa ia merasa cemburu dengan sikap Ryeowook yang seperti itu

“Ehemmm…” Leeteuk mendeham penuh peringatan.

Ryeowook mendengar peringatan dari Leeteuk langsung melepas pelukannya, “Hyung ini Yeosin, aku dan kakaknya berteman akrab dan dia sudah ku anggap adikku sendiri.”

“Yeosin??” ulang Heechul yang merasa familiar dengan nama itu, “Han Yeosin.”

“Iya dia salah satu Miss Korea dan baru pulang dari New York. Tak ku sanggka aku bisa bertemu dengannya disini.”

“Kenapa namamu Yeosin??” ucap Heechul tanpa peduli pada penjelasan Ryeowook sebelumnya.

Yeosin tersenyum, “Ayahku bilang dia bertemu seorang Dewi sebelum aku lahir jadi ia memberiku nama Yeosin. Dewi.”

Heechul menatap mata coklat itu sekali lagi. Tidak ada alasan kenapa dia menyukai mata itu. Matanya coklat itu terlalu sempurna.

“Oppadeul aku harus pergi. Sampai nanti Annyeong.” Yeosin membungk 90 derajat sebelum pergi meninggalkan Heechul dan member lainnya.

__________d_e_s_o_n_________

Yeosin membalikkan badannya. Ia tidak tau kenapa ia membalikan badannya dan melihat pria itu lagi.

Ia tersenyum sebelum meninggalkan bandara.

“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Jaena

Yeosin langsung memasang wajah sepertitidakterjadiapaapa, “Aku sepertinya mengalami de Javu.”

“De Javu??”

“Entahlah tapi sepertinya aku telah mengenal pria itu sebelum aku lahir ke dunia.”

Jaena mengerutkan keningnya.

“Sudahlah jangan dipikirkan terkadang didunia ini banyak yang tidak bisa di pikirkan oleh otak manusia. Termasuk cinta.”

Jaena semakin mengerutkan keningnya, “jangan kau katakan jika kau Love at first sight?”

Yeosin tidak menjawab pertanyaan dari Jaena ia hanya tersenyum sambil melihat langit.

Ia bisa merasakan angin yang berhembus lembut diwajahnya. Ia bisa melihat butiran bunga dandelion terbang diudara.

Takdir akan berjalan dengan sendirinya jika kita percaya.

Meski ribuan kali ingatanku terhapuskan pada akhirnya aku akan memilihmu.

TAMAT

waaaaahhhh akhirnya selesai juga~~~

gimana nih dilanjut atau berhenti sampai disini ajaa???

berhenti aja kan Yeosin udah jadi manusia kekekekeee

leave Comment Please

_deson_

About -deson-

Everybody loves me, coz I’m made of chocolate

Posted on 12 April 2011, in Han Yeosin, Super Fanfiction and tagged , . Bookmark the permalink. 17 Komentar.

  1. Aku gak ngerti *plak* tapi bagus ceritanya happy ending, aku gak ngerti yg bagian dewi2nya, jd itu ceritanya heechul sm yeosin balik lg ke waktu pas mereka blm ketemu ya?

  2. lanjutin dong seengganya sampe kawin kek ~
    HAHAHA
    bagus deh bagus😀

  3. lanjud dund authorr😦
    Tanggung😦

  4. Lanjtin d0ng author,nanggung bnget nih endingx, gk jelas dy jadian atw gk ama chulie,,,
    top bgt deh buat author !!

  5. akhirx smua misteri kehidupan terbongkar(?) lanjut aja thor!! sequelx gtu!! *narik2 baju author*

  6. Di lanjut. .di lanjut
    wloupun pas crta dewi n dewa’y pasti gx ngrti😀. . . .

  7. lanjut dooong authooooorrr :’O *teriak2 sambil nangis*
    gatega nih bacanya, tanggung sampe mereka punya anak kalo bisa wkwk

  8. Keren.. Akhirnya dua2nya bisa jadi manusia.. tp akhirnya agak gantung..
    Heechul tw aja namanya.. Suka banget kata2nya..
    “Meski ribuan kali ingatanku terhapuskan pada akhirnya aku akan memilihmu.”
    So Sweet..😀

  9. wa like it … !!!

  10. udah pas kok ending y, ada misteri2 gmn gt. . .

  11. Epilognya dong. .Huah ffnya bagus bgt. .

  12. annyong author..
    Slam kenal..
    Q murid bru neh d ffindo..
    *Sok kenal..hehe..
    Referensi’in dong author,,ff yg bagus ap ajh..
    Soal’a q bru tw ad wordpress yg nyediaiin FF kyak ni..
    Ok author??
    *Maksa bgt..hehe..
    Q mu lanjtutin bca dlu dch author,,dri awal..
    Coz’a q blom smpet bca yg part2 awal’a..
    Annyong…

  13. salam kenal author …
    Aku suka banget ff nya,kukira heechul kehilangan perinya,hehe..
    Lanjut dong,pengen liat mereka happy ending..

  14. SERU!!! hahaha baru baca udah ending aja!! boleh minta link part2 sebelumnya?! thanks🙂
    ————
    preciousvoice.wordpress.com

  15. Cerita dewi-dewi sama peri yg gk punya sayap jadi inget fil barbie keke~
    waktu adegan blg leeteuk ngusir yeonsi aku nangis. Ga tau kenapa T.T

    Daebak chingu!

  1. Ping-balik: [FF/PG 17] Because I am a Fool (바보라서) Part 1 « SHINee Super Shinki FF Indo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: