[FF/S/2/PG-13] I’m Still Loving You (TRUE STORY) Part 2

I’m Still Loving you (TRUE STORY) Part 2

 

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast

Kim Ryechul (Author)

Park Jungsoo (Leeteuk)

Support Cast

Super Junior

And others~

Rating: PG-13

Length: SERIES

Genre: Romance, Sad Romance, Love/Hate, Life, Tragedy

Part 1

Summary: “Yak Lee Jinki! Kau masih tidak mengerti kalimatku barusan? AKU MENCINTAI JUNGSOO! Dan aku sudah tidak mencintaimu SAMA SEKALI. Mengerti?”

A/N: Annyeong Readers! Kembali lagi bersama Kim Ryechul di Fanfic ini. Okay, berhubung ini benar-benar cerita asli author (tapi lokasi, nama, dan grade sekolahnya diubah) dan benar-benar 100% asli. Ngga ada yang dikurangin dan ditambahin. *author nangis kejer bikin part ini* Happy reading all! Jangan lupa RCL nya~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah dua bulan akhirnya aku bisa dekat dengan namja yang mengalihkan dunia-ku itu. Tidak kuragukan lagi, aku benar-benar menyukainya. Ah! Bukan. Aku mencintainya. Dan kufikir, ia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Buktinya adalah segala perilaku yang kuterima darinya sangat berbeda. Walaupun kami beda kelas, kami masih sering bertemu untuk sekedar mengobrol bersama di kantin, atau duduk-duduk di aula, atau bahkan nongkrong di lapangan. Hubungan kami tidak putus begitu saja. Namun, semua yang kulakukan dengannya sangat mengurangi perasaanku kepada Jinki. Perlu kalian ketahui, namja itu sama sekali tidak mengetahui sedikitpun tentang hubunganku dengan Jungsoo oppa. Aku jahat? Memang. Namun, apakah kalian bisa berfikir jernih ketika kalian sedang jatuh cinta?

“Ryechul-ah!”

Dalam perjalananku menuju kearah gerbang kampus, kudengar sebuah panggilan dari seorang namja yang sudah tidak asing lagi di telingaku. Kutolehkan kepalaku kearah datangnya suara tersebut. Kulihat seorang namja sedang berlari kearah tubuhku berdiri dengan air muka yang… sungguh aku tidak bisa membaca apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Yang jelas, air muka itu aneh dan aku tidak pernah melihat namja itu mengeluarkan tatapan seperti yang sedang ia keluarkan tepat kearah mataku. Tatapannya tajam seperti sedang mencari sesuatu dibalik kedua manikku. Merasa risi dengan apa yang kudapatkan, aku memalingkan wajahku dan menatapnya kembali dengan tatapan yang tidak kalah menyeramkan.

“Apa? Aku ingin pulang. Jadi, bila ada yang ingin oppa katakan, katakanlah sekarang.”

–sejak kapan aku menjadi ketus terhadapnya?

“Aku menginginkan kejujuranmu. Sekarang juga.”

Sesungguhnya, aku sudah mengetahui apa yang diinginkan namja berambut cokelat tua dihadapanku ini. Ia sangat ingin meminta pertanggungjawabanku atas pesan singkat yang baru saja dibacanya didalam handphone Jungsoo oppa. Aku tahu hal itu karena tadi Henry oppa yang memberitahukan hal tersebut kepadaku. Aku juga sudah bisa menduganya. Cepat atau lambat, kedekatanku dengan Jungsoo oppa akan diketahui olehnya. Dan mungkin ini adalah saatnya untuk mengakui apa yang telah terjadi antara aku dan namja berambut blonde itu sebenarnya kepada namja dihadapanku ini. Karena aku hanya diam saja, ia memutuskan untuk melanjutkan kata-katanya.

“Aku tahu, aku tahu kau pernah berkata bahwa segala gossip yang kuterima harus kutanyakan kebenarannya kepada dirimu terlebih dahulu.”

“Ne. Jadi, apa yang oppa inginkan sekarang?”

“Aku ingin tahu.. seperti apa hubunganmu dengan Jungsoo.”

Air mukanya berubah menjadi tegang. Aku sudah tahu ia akan menanyakan hal ini kepadaku sebelum ia mengucapkan kata-kata itu. Aku hanya tersenyum tipis. Aku tidak bisa mengelak lagi seperti dulu karena ia sudah melihat semuanya. Ia mempunyai bukti dan aku sudah capek untuk bermain di belakangnya. Sebenarnya, hubunganku dengan Jungsoo oppa tidak bisa disebut seperti pacaran karena aku dan dirinya menganggap hubungan kami hanya sebatas adik dan kakak. Tidak lebih. Namun, segala perhatiannya membuatku mengharapkan sesuatu yang lebih dari dirinya. Segala perhatiannya membuatku  ingin mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya dan aku ingin hubungan kami lebih dari sebatas adik dan kakak.

“Hubunganku dengan Jungsoo oppa tidak lebih dari adik dan kakak.”

“Namun, apa maksud sms ini, jagi?” ia menyodorkan sebuah foto.

From: Kim Ryechul

Ne oppa, aku akan makan secepatnya. Aku juga akan meminum obat dan susu sebelum tidur. Aku juga tidak akan lupa menggosok gigi dan berdoa sebelum tidur. Kau juga jangan lupa makan karena kau akan mendapatkan kado special dariku apabila kau sakit, okay? Dan jangan terus-terusan mengkhawatirkanku karena tugas kuliahmu akan sangat keteteran apabila kau memikirkanku terus *plak*

Goodnight oppa. Nado pogoshipeo🙂

Apa maksud seorang Lee Jinki memfoto sebuah sms yang sebenarnya tidak penting? Hanya karena ada kata-kata ‘Nado pogoshipeo’ kah? Demi tuhan! Namja didepanku ini sangat berlebihan untuk menanyakan tentang hal ini. Entah mengapa, rasa sayangku yang dulu sangat kuberikan kepada namja didepanku ini hilang begitu saja karena masalah sepele seperti ini. Aku tidak suka telalu di protect seperti ini. Aku ingin bebas seperti burung yang terbang di langit. Namun, Jinki tidak pernah mengijinkanku untuk terbang bebas seperti burung-burung itu. Inilah saatnya. Inilah saatnya untuk mengakhiri semuanya…

“Sudah jelas kan apa yang kau lihat?” ucapku dengan nada yang cukup keras, “– aku mencintainya.”

“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?”

“Yak Lee Jinki! Kau masih tidak mengerti kalimatku barusan? AKU MENCINTAI JUNGSOO! Dan aku sudah tidak mencintaimu SAMA SEKALI. Mengerti?”

Namja itu hanya diam saja. Tidak berani mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya yang terbuka. Aku tahu, aku tahu aku sangat jahat kepadanya. Dan aku tidak ingin menyakitinya lebih lanjut karena aku tidak tega bila aku terus bermain dibelakangnya. Lagi pula, untuk apa aku mempertahankan hubunganku dengan Jinki padahal aku sama sekali tidak merasakan sesuatu hal lagi didalam dirinya? Untuk apa aku mempertahankan segala hubunganku dengan seorang Lee Jinki sementara hatiku sudah sepenuhnya diliputi oleh perasaan haus akan cinta yang diberikan Jungsoo kelak. Untuk apa? Aku hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam bukan kalau aku melakukan hal seperti itu?

“Jeongmal kamsahamnida untuk cintamu kepadaku. Tapi, kutegaskan lagi aku tidak mencintaimu. Selamat tinggal.”

Aku berlari meninggalkan namja itu. Ia masih berdiri mematung ditempat. Aku tidak tega melihat wajah namja itu yang sudah menggenangkan air dimatanya. Aku tahu ia sangat mencintaiku. Bahkan kedua orangtuanya sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri. Kakaknya sudah sering menghubungiku bila Jinki tidak pulang kerumah tepat waktu. Jinki memang sudah siap untuk menikah denganku kelak. Namun, tidak untukku. Aku tidak ingin menikah dengannya. Aku tidak ingin menikah dengan seorang namja yang sama sekali tidak kurasakan feel yang diberikannya untukku.

***

“Kangin oppa… jebal…”

“Aish~ Chulie. Aku akan membantumu. Tetapi, aku tidak janji aku bisa melakukannya.”

“Ne. Jeongmal gomawo oppa!”

Kututup telepon yang membuat aku dan Kangin berbicara panjang lebar. Aku berbicara kepadanya tentang perasaanku sebenarnya kepada Jungsoo. Kangin tidak kaget melainkan heran. Ia heran karena ia harus membantu diriku yang merupakan saeng terdekatnya tetapi ia juga merasa tidak enak dengan Jinki yang merupakan sahabatnya juga. Tetapi, aku sudah meyakinkan dirinya agar persahabatan antara Kangin dan mantan namja-ku itu tidak akan pecah karena ini. Aku memang meminta bantuan Kangin oppa untuk menjodohkanku dengan Jungsoo. Aku meminta bantuan karena semenjak putusnya Jungsoo oppa dengan yeojanya, ia memang sangat memperhatikanku lebih dari yeoja-yeoja lainnya. Lebih tepatnya memang ia tidak peduli dengan yeoja-yeoja itu. Tapi, entah mengapa semenjak kedatangan Sekyung onnie dikehidupannya, perhatian itu mulai menghilang.

Kubuka diary pribadiku yang sudah penuh dengan tulisan nama Jungsoo oppa. Semua hal yang kutaruh disana sebenarnya tidak penting. Seperti tiket bus saat menuju ke Disney Land, lalu tiket masuk Disney Land, dan segala macam hal yang berhubungan dengan kami selama ini. Tidak berarti bagi orang-orang yang melihatnya namun sangat berarti untuk diriku. Bahkan ada tulisan yang ia tulis sendiri diatas kertas diary-ku ini. Tulisan dimana tulisan tersebut tidak ada maknyanya sama sekali dan hanya basa basi. Tetapi, setiap kubaca tulisan itu, aku sangat senang dan sangat… yaa seperti orang gila. Aku seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Jungsoo membuatku gila. Ya, gila karena dirinya.

***

“Apa?! Hari ini ia akan menyatakannya kepadaku?!”

“Ne. Tunggu saja jam mainnya. Jangan lupa pajak jadiannya!”

“Tentu oppa! GOMAWOOOO~”

Aku sedang berada disebuah restaurant yang menu utamanya adalah daging sapi. Aku memang sudah membuat janji bersama Kangin oppa untuk bertemu di restaurant ini karena Kangin memberitahuku bahwa ada kabar baik yang akan ia sampaikan. Dan benar saja! Ternyata, usaha Kangin oppa selama satu bulan terakhir ini untuk meyakinkan perasaan Jungsoo kepadaku berhasil! Betapa bahagianya diriku ketika mengetahui hal ini. Segera saja kutraktir Kangin untuk makan sepuasnya dan kenyataannya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Berbotol-botol soju ia habiskan dan soju yang ia pesan bukan soju murahan. Tapi, rasa kesalku terhadap Kangin oppa yang menghabiskan uangku sebesar 93.000 won tidak sebanding dengan rasa terima kasihku terhadapnya. Jadi, aku biarkan saja namja itu mendapatkan haknya atas kerja keras yang ia lakukan selama ini.

***

Seperti biasa, setiap malam aku pasti melakukan ritual smsan bersama Jungsoo oppa. Ia sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan menyatakan perasaannya kepadaku. Aku sempat terfikir Kangin oppa berbohong kepadaku. Namun, sepertinya Kangin bukanlah seseorang yang seperti itu. Jadi, kutepiskan pikiran negatif itu dari otakku dan mencoba untuk bersikap biasa saja saat Jungsoo oppa membalas smsku dengan perhatian-perhatiannya. Aku mencoba untuk tidak menunjukan rasa senangku daripada Jungsoo oppa mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya kepadaku.

Jujur, aku sangat tidak sabar untuk memilikinya. Kalau difikir-fikir, aku memang sangat jahat melakukan ini kepada Jinki. Tapi, memang cinta tidak bisa dilawan oleh apapun kan? Apalagi aku adalah seorang wanita yang tidak bisa menahan emosi dan keinginannya. Namun, apa yang sudah terjadi, terjadilah. Aku tidak peduli dengan anggapan orang nantinya akan hal aku berpacaran dengan Jungsoo oppa yang sebenarnya adalah teman dekat Jinki juga. Lagi pula, selama ini hanya ada satu orang yaitu Henry yang mengetahui bahwa hubunganku dengan Jinki masih berlanjut usai peristiwa salah paham itu. Peduli setan akan anggapan-anggapan fans Jungsoo tentang diriku yang dulu sangat membencinya.

Kulirik kearah jam dinding. Sudah jam 22.20. Mengapa ia tidak mengucap-ucapkan kata-kata itu? Ia masih membahas sesuatu yang tidak penting bahkan denganku. Aish~ mengesalkan sekali rasanya dihantui rasa penasaran dan haus akan cinta. Dulu, saat bersama Jinki aku sama sekali tidak pernah merasakan seperti ini. Cih! Mengesalkan sekali rasanya harus menunggu, menunggu dan menunggu. Kulirik handphoneku. Ternyata ada sebuah sms. Padahal, baru saja sekitar satu menit yang lalu aku mengirim sms kepadanya. Mengapa dibalasnya cepat sekali?

From: Park Jungsoo

Kangin-ah. Aku masih ragu untuk mengatakan perasaanku kepada Ryechul. Bagaimana ini?

Aku bingung. Aku bingung bagaimana caranya mengatakan perasaanku terhadapnya.

Balas smsku ini ASAP!

DEG! Sesaat jantungku berhenti berdetak. Aku telalu shock untuk membaca sms yang baru saja kuterima dari namja itu. Terlalu frontal dan terlalu.. ah tidak bisa kugambarkan! Namun, mengapa aku merasa sms ini sebenarnya ditunjukan untuk Kangin bukan untukku? Ya, itu disebabkan karena nama yang ia sebut adalah nama namja itu. Tetapi, disitu jelas-jelas tertulis namaku dan ada kata-kata soal perasaannya kepadaku. Ini dia yang kunanti-nanti. Satu menit rasanya sangat lama sekali untukku. Lalu, tiba-tiba handphone-ku bergetar kencang. Kulihat kearah layar handphoneku. Disana, tertera nama yang sangat aneh bila dibilang ia menelponku. Ya, nama itu adalah ‘Jungsoo’s umma’. Sangat aneh.

“Yeoboseyo, ajumma. Ada apa?”

“Err, Ryechul-ah. Jungsoo ingin berbicara kepadamu. Silahkan,”

“Chulie,” ucapnya sebagai pembuka, “– kau pasti sudah membaca sms itu.”

“Hah? Sms apa?”

Ucapku pura-pura tidak tahu. Padahal, aku sangat tahu apa yang ia maksudkan. Sudah pasti ia menanyakan soal sms nyasar yang ditujukan kepada Kangin. Aku tahu ia sangat gugup saat ini karena suaranya bergetar sangat hebat dan sangat.. sangat terdengar gugup. Aku tidak bisa mengucapkan apapun lagi. Aku bingung dan aku tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan namja itu lebih banyak berdecak daripada berkata-kata. Aku mengerti keadaannya sekarang adalah sedang menyusun kata-kata untuk berbicara kepadaku. Setelah ia menemukan kembali suaranya, ia menjelaskan sms yang ia maksud dan tetap saja aku pura-pura bodoh tidak mengerti dan hanya mengatakan ‘benarkah?’ ‘serius?’ dan ‘iya’.

“Jadi, chulie…” ucapnya tertahan, “– maukah kau menjadi… yeojachinguku?”

–ini dia yang kutunggu-tunggu!

“Yak oppa! Aku terima kau menjadi namjachinguku.”

“Aish~ kau tahu, ini adalah salah satu saat yang paling mendebarkan dalam hidupku.”

“Haha, oppa kau sangat menggemaskan.”

“Gomawoyo chulie! Goodnight yeojaku.”

Alhasil, tanggal 23 September 2008 jam 22.33 aku berhasil menjadi seorang yeojachingu-nya Park Jungsoo. Betapa bahagianya diriku ketika mendapatkan sebuah sms yang mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tentu saja aku juga mengucapkan bahwa aku mencintainya juga. Dan semenjak tanggal itu, hidupku dipenuhi dengan warna. Kemanapun aku pergi, aku melihat sosok Jungsoo disitu. Kemanapun aku memandang, disitu ada sepasang mata yang menatapku jauh kedalam relung hatiku. Kemanapun aku melangkah, selalu ada seorang namja bernama Park Jungsoo yang berada disampingku. Hidupku tidak akan sepi lagi. Hidupku akan selamanya seperti ini. Aku mencintainya sepenuh hatiku. Aku mencintainya lebih dari kedua orangtuaku sendiri. Saranghaeyo, Park Jungsoo.

***

“Jagi, tau ngga..” ucapnya kepadaku. Namun, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, aku memotongnya.”

“Engga.”

“Iih, seriusss!” rengeknya kepadaku, “– masa tadi malem aku mimpi kita udah berkeluarga dan punya satu anak. Anaknya lucu banget loh.”

Aku hanya bisa menutup mulutku karena terlalu shock atas perkataannya itu. Namun, sejujurnya aku sangat senang akan hal itu. Setidaknya, ia benar-benar mencintaiku sampai berkata seperti itu. Kemudian, kupeluk pinggangnya dari samping dan bersandar di bahunya. Aku memejamkan mataku. Kuhirup aroma tubuh namja itu. Wangi dan sangat membawa ketenangan yang amat sangat. Ketika hatiku sedang gundah, hal yang kulakukan adalah bersandar di pelukannya. Kemudian, hal yang ia lakukan adalah mencium ubun-ubunku. Aku sangat sayang kepadanya. Dan aku juga merasakan hal yang sama didalam diri Jungsoo. Meskipun banyak orang yang mencacimaki hubungan kami, aku sama sekali tidak peduli karena cintaku tidak akan hilang.

“Semoga kita bisa seperti itu suatu saat yaa, chulie.”

“Ne oppa.” Ucapku masih sambil dalam mata terpejam.

“Chulie, maukah kau berjanji denganku?”

“Janji apa oppa?”

Ia membuka resleting tasnya dan mulai merogoh-rogoh tas tersebut. Selama tiga menit penuh aku menunggu kata-kata selanjutnya dari namja itu. Kemudian, raut wajahnya berubah menjadi cemerlang ketika ia sepertinya menemukan apa yang ia cari. Sebuah kantong plastik kresek hitam yang mengandung banyak racun. Apa itu maksudnya? Tidak ada yang istimewa dengan kantong plastik tersebut. Dan tidak ada sama sekali yang bisa dibuat janji oleh kantong plastik tersebut. Aku melayangkan tatapan heran kepadanya. Dan sepertinya, Jungsoo oppa mengerti mengapa aku menatapnya heran. Kemudian, ia mengeluarkan suatu benda kecil yang berada didalam kantong plastik itu. Sebuah silet. Untuk apa silet itu? Kemudian, ia menyilet jempol tangan kanannya sendiri dan tersenyum yang mengandung banyak arti kepadaku.

“Aku ingin melakukan perjanjian darah, chulie.” Ucapnya dengan suara yang dalam.

“Perjanjian… darah?”

“Ya, kemarikan tangan kananmu.”

Kuberika tangan kananku kepadanya. Saat berada digenggamannya, rasa hangat menghampiriku. Tangannya begitu besar ketika ia menggapai tanganku. Rasanya, dengan mudah ia membuat seluruh tanganku tertutup oleh tangannya. Kemudian, dengan perlahan, ia membuka tanganku dan mendekatkan silet tersebut kearah jempol tanganku. Dengan satu hentakan, ia telah merobek kulit jempolku dan mengeluarkan darah merah kental. Aku merintih kesakitan dan sangat lemas ketika melihat darah yang makin lama makin banyak keluar dari luka yang terbuka lebar itu.

“Aku ingin,” ucapnya sambil tersenyum, “– kita mengikat janji kita dengan darah.”

“….”

“Ryechul-ah. Saranghaeyo,” ucapnya sambil mendekatkan jempolnya yang berdarah kearah jempolku.

“Nado saranghaeyo, Jungsoo oppa.”

Kemudian, dengan perlahan ia menyatukan jempol kami yang saling terluka dan menekannya dengan sangat kuat. Hal itu membuat aku berteriak meringis kesakitan. Siapa sih yang tidak kesakitan apabila luka yang baru saja terbuat tiba-tiba ditekan oleh sesuatu.

“Jeongmal paboya! Sakit tahu!” ucapku sambil berusaha menarik tanganku tetapi tetap saja namja itu tidak mengijinkannya.

“Aku berjanji akan melindungimu selamanya, bersama disampingmu selamanya, dan aku berjanji menyerahkan seluruh hidupku untukmu selamanya, Ryechul-ah. Atas nama tuhan dan darah yang mengalir di lukaku ini.”

Speechless. Aku tidak bisa menemukan suaraku sendiri. Aku hanya bisa memandang kaku kearah namja didepanku itu. Aku hanya bisa memandang jauh kedalam matanya untuk mencari keteguhan hatinya. Aku hanya bisa berdoa didalam hati agar namja itu sama sekali tidak membohongiku dan tidak menyianyiakan darahnya hanya untuk mengumbar janji palsu. Aku hanya bisa menangguk kecil menanggapi perkataannya. Lalu, dengan masih menyatukan kedua bagian tangan kami itu, ia menagih janjiku yang akan kubuat untuknya. Untuk sesaat, aku masih tidak menemukan suaraku. Tetapi, ketika aku sudah menemukannya, aku berkata dengan suara yang bergetar.

“Atas nama tuhan dan darah ini, aku berjanji akan selalu mencintai oppa dan memberi seluruh hidupku untuk oppa seorang. Sepertinya itu sudah mewakili seluruhnya.” Satu, dua, tiga tetes dan aku menangis.

“Jagiya, kenapa kau menangis?” ucapnya sambil menghapus air mataku yang mengalir deras dengan telunjuknya.

“Aku… aku bahagia. Jeongmal saranghae Jungsoo oppa.”

“Nado saranghae Chulie.”

Kemudian kami berpelukan. Aku menangis dibahunya. Bisa kurasakan dekapannya makin erat ketika aku meringis kesakitan ketika mendapatkan lukaku terkena tetesan air mataku. Tapi, aku tidak memperdulikan lukaku yang mulai mengering itu. Aku tidak memperdulikan betapa dinginnya udara saat ini. Aku hanya bisa merasakan kehangatan yang dipancarkan oleh seorang Park Jungsoo lewat dekapan hangatnya itu. Aku hanya bisa menangis menangis dan menangis. Aku hanya bisa berharap agar ini semua bukan mimpi. Dan untuk semua hal yang terjadi, aku mengakui kalau aku sudah berada didalam sumur cinta yang diberikannya untukku…

***

Hari ini adalah hari ulangtahunku. Aku bahagia karena disaat aku berulang tahun, aku mempunyai seorang namja yang akan membahagiakan diriku. Dan benar saja! Hari ini aku berencana untuk pergi menonton film di bioskop hanya bersama Jungsoo, Luna, dan Krystal saja. Itu disebabkan karena member Restrovolic dan Rebellions, gankku dan Jungsoo yang lain berhalangan datang. Namun, ternyata setelah sampai di tempat tujuan, anggota Restrovolic dan Rebellions sudah menungguku sambil membawa sebuah kue tiramisu yang sangat kusukai. Dan ritual ‘beradu muka dengan kue’ dilakukan. Dengan terpaksa aku harus mencuci mukaku dan menata ulang penampilanku yang kacau karena berlumuran kue disana sini.

Setelah selesai dengan acara bersih-bersihnya, aku keluar dari kamar mandi bersama Sunny, sahabat terdekatku yang menemaniku membersihkan diri, kulihat teman-temanku sudah memegang tiket dan menunjukan bahwa mereka semua membeli tiket-tiket itu dengan dompetku yang entah mengapa sudah ada ditangan mereka. Sejak kapan? Aish~ ini pasti ulah Jungsoo oppa. Ia tadi yang memegang tasku dan melindunginya sekaligus mencuri dompetku. Sialan. Dan kalian tahu, mereka membeli tiket untuk menonton film horror yang sangat kusukai. Aku sangat menghargai perhatian mereka untukku. Namun, aku sangat tahu Jungsoo oppa sangat tidak menyukai horror dan dia sangat takut dengan film horror. Sudah pasti ia akan meremas tanganku setiap ada adegan yang tidak ia sukai dan ia akan mengenakan headset agar tidak mendengar suara-suara dari film itu.

Benarkan! Pikirku dalam hati. Aku duduk disebelahnya saat menonton film. Ia memakai headset untuk mentulikan telinganya sendiri. Sesungguhnya ia tidak ingin mengambil resiko. Ia tidak mau nanti malam diejek-ejek oleh ummanya karena ia meminta untuk tidur bersama ummanya itu. Aku hanya tertawa saat mengetahui kisah masa lalunya yang membuatnya harus ditertawai seumur hidup oleh seluruh keluarga besar ummanya. Ya, ia tidak pernah membahas sedikitpun denganku tentang appanya karena sudah lama mereka bercerai dan sudah lama sekali Jungsoo tidak bertemu dengan appanya itu.

Sesekali, kulirik dirinya yang terus menerus memegang handphonenya untuk menghindari tatapan mata kearah layar besar di bioskop ini. Aku tersenyum kecil melihatnya bertingkah aneh seperti itu. Sungguh, aku sangat ingin tertawa terbahak-bahak karena Jungsoo meremas tanganku kuat-kuat ketika ia tidak sengaja melirik kearah layar yang dipenuhi oleh wajah si setan. Ia benar-benar seperti orang panik dan sangat menggemaskan. Kubiarkan tanganku sakit karena remasannya itu. Ia hanya mengucapkan kata ‘mianhae’ berkali-kali kepadaku tanpa suara. Dan hanya kubalas dengan satu jari telunjuk yang menyentuh bibirnya agar ia bisa diam dan tidak mengganggu waktu menonton film.

Setelah film selesai, kami memutuskan untuk makan di restorant Jepang yang letaknya persis disebelah bioskop ini. Tentu saja aku yang traktir dan mereka lagi-lagi menghabiskan uangku. Kesal? Tidak. Karena selalu ada namja yang sudah menjadi malaikat tersendiri untukku disini. Ia tidak pernah melepaskan diriku sendirian. Bahkan saat memesan makanan, ia tidak membiarkan aku sendirian. Jungsoo selalu berada disampingku. Hal ini sangat membuatku senang dan gembira. Jujur, aku semakin sayang dengan namja ini.

“Oppa, mengapa kau sibuk dengan handphone-mu terus? Makanlah.” Ucapku kepada namja itu.

“Gwenchana. Kau makan saja duluan.”

“Aish oppa~ sini biar aku suapi.”

Dan terjadilah adegan suap-suapan. Semua teman-temanku yang berada disitu menyorakiku dan mengejek-ngejek diriku dan Jungsoo. Namun, Jungsoo bukannya kesal malah makin membuat adegan itu lebih menggoda iman teman-temanku dengan menyuruh aku menggigit daging yang sedang ia gigit. Dan aku melakukannya. Lalu, kami difoto oleh salah satu temanku. Setelah selesai berfoto, kugigit daging itu dan bagian yang besar malahan berada di bibirku. Jadi, namja itu sedikit kesal karena ternyata kekuatan gigiku lebih kuat daripada miliknya. Kemudian, ia kembali disibukan oleh handphonenya yang selalu bergetar setiap lima menit.

“Oppa, boleh kupinjam handphone-mu?”

“Untuk apa?”

“Lihat-lihat saja. Aku kan belum pernah meminjam handphone-mu.”

“Mian, aku sedang memakainya.”

Karena kesal jawabannya sangat acuh, kurebut saja handphonenya itu dari tangannya. Kulihat ada sebuah sms yang berasal dari seorang yeoja yang tidak lain adalah Shin Sekyung, seorang yeoja cantik dan seksi yang dulu pernah mendekati Jungsoo. Kubaca seluruh percakapan yang mereka lakukan di sms itu. Aku masih bisa berfikir jernih ketika kubaca sms-sms terdahulu yang mereka lakukan. Hanya sekedar mengatakan ‘Halo oppa! Lagi apa?’ atau ‘Sudah makan oppa?’ atau bahkan ‘Goodnight oppa! Pogoshipeo🙂’. Tapi, apakah kalian bisa berfikir jernih apabila melihat isi pesan ini?

From: Shin Sekyung

Oppa, permainanmu semalam sangat dahsyat! Aku belum pernah merasakan sensasi seperti itu dari namja-namja yang pernah tidur bersamaku. Hehehe ^^ kapan kita bisa melakukan itu lagi? Kau sangat menggairahkan oppa! Kau seperti heroin untukku. Saranghaeyo, Teuki oppa!!

Sms itu diterima oleh Jungsoo tepat hari ini saat berada didalam bioskop. Pantas saja wajahnya hari ini terlihat sangat aneh dan sangat mengandung makna tersendiri. Mungkinkah yang dikatakan Sekyung onnie itu benar? Apakah benar Jungsoo oppa berbuat hal itu bersama yeoja cantik itu? Tanpa terasa, air mataku sudah mengalir dengan sangat deras. Seluruh teman-temanku segera menanyakan ada apa. Aku tidak menjawab apapun. Kuambil jaketku dan segera keluar dari restaurant tanpa menghiraukan panggilan dari teman-temanku maupun Jungsoo oppa. Aku hanya ingin sendiri. Aku hanya ingin berfikir sejenak. Entah mengapa, tiba-tiba saja ada lubang yang sangat besar didalam dadaku. Hari yang sangat kunanti-nanti berubah menjadi hari yang sangat buruk dan sangat mengenaskan. Apakah hubunganku dan Jungsoo harus kuhentikan?

Aku berdiri dibawah lampu jalanan. Hari ini cuaca sangat dingin. Saljupun masih turun karena sekarang masih awal-awal Januari. Tapi, rasa dingin yang menyerangku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan didalam hatiku. Aku tidak bisa berfikir jernih. Kududukan diriku sendiri dibawah lampu jalanan yang berlapis oleh salju tersebut. Aku bisa merasakan air mataku terus mengalir dengan deras dan menetes kearah salju-salju itu dan menjadi salah satu dari bagian dari kumpulan es putih itu. Namun, tiba-tiba saja aku melihat sepasang kaki yang berdiri tepat didepanku. Sepatu nike air berwarna biru hitam dan putih. Aku sudah tahu pemilik sepatu nike unlimited tersebut tanpa melihat siapa dia.

“Mianhae, jagiya. Mianhae. Aku tidak bermaksud menyakitimu.” Ucapnya dan aku hanya terdiam.

“Aku tahu kau marah kepadaku, Chulie. Namun, tolong dengarkan penjelasanku dulu.”

“Penjelasan apa lagi oppa?! SEMUANYA SUDAH JELAS!” ucapku membentak namja berdada bidang itu.

Aku membalikan badanku kearah lain agar tangisku yang semakin menjadi tidak dilihat oleh namja itu. Akupun diliputi perasaan takut, marah, dan sedih. Rasanya, aku sangat ingin menampar Sekyung onnie dan namja ini sekarang. Namun, untuk masalah Jungsoo, aku mengurungkan niatku karena aku sendiri tidak ingin menyakiti dirinya. Aku sudah menanggap bahwa aku adalah miliknya dan dia adalah milikku. Bila dia merasakan sakit, aku juga merasakannya. Aku tidak akan tega menyakiti diriku sendiri. Itu berarti, aku juga tidak akan tega menyakiti dirinya karena tubuhnya adalah tubuhku. Tetapi, aku tidak mau munafik. Aku sangat kesal dan sangat kecewa kepadanya. Namun, aku tahu, aku masih sangat mencintai namja itu.

“Chulie, aku tidak peduli kau akan mendengarkan penjelasanku atau tidak. Tapi, aku akan tetap menjelaskan semuanya.” Ucapnya lembut kepadaku.

“Jadi, tadi malam aku sedang berada disebuah pesta yang diadakan oleh Ryeowook dirumahnya. Yang diundang hanyalah teman-teman terdekatnya saja. Dan ternyata, Sekyung juga ada disana. Aku tidak mendekatinya. Namun, dia yang mendekatiku.”

“Kemudian, berbotol-botol soju disiapkan diatas meja. Tentu saja aku sebagai maniak soju tidak kusia-siakan kesempatan untuk meminum minuman kesukaanku itu. Lalu, mungkin karena aku meminum lebih dari kapasitas biasanya, aku naik dan aku mabuk.”

“Kemudian, dengan samar kulihat ada seorang yeoja yang mendekatiku yang tidak lain adalah Sekyung. Dan entah ada apa dengan diriku, aku menurut saja masuk kedalam kamar dan..” ucapannya terhenti, “– yah, kau tahu kan apa yang dilakukan oleh seorang yeoja dan namja yang mabuk.”

Jadi, ia sedang mabuk? Namun, mengapa aku masih saja tidak percaya dengan ceritanya itu? Aku tidak percaya dengan cerita itu karena aku masih ingat saat aku belum menjadi yeojanya, ia sering menceritakan tentang Sekyung onnie. Baik sifatnya maupun.. ehem. Bentuk badannya yang seksi. Aku hanya bisa cemberut saja saat itu. Namun, sekarang aku sudah menjadi yeojanya. Dia juga sudah berjanji kepadaku. Jadi, apa arti semua janji itu? Tetapi, apabila memang benar ia mabuk dan tidak sadarkan diri, aku bisa memaafkannya. Walaupun aku sudah mulai bisa berfikir jernih, aku tetap saja tidak ingin melihat wajahnya.

Tiba-tiba saja, aku melihat sebuah taksi yang melintas. Lalu, kulirik jam tanganku. Sudah pukul 22.03 ternyata. Mengapa hari ini terasa sangat cepat? Lalu, tanpa memandangnya, kuucapkan selamat tinggal dan selamat malam serta terima kasih untuk segala kejutan hari ini. Ucapanku tulus namun untuk kata-kata ‘segala kejutan untuk hari ini’, aku terpaksa menekankan kata kejutan itu. Dengan tegas, kulangkahkan kakiku kearah depan. Namun, tangan kananku tiba-tiba saja ditarik oleh namja itu dan ia memutar tubuhku. Otomatis, sekarang aku melihat wujud namja itu dan melihat kearah matanya. Maniknya bersinar indah dan lembut. Aku bisa melihat bayanganku sendiri disana. Dan dalam satu hentakan ia memelukku.

“Jeongmal mianhae, Ryechul-ah. Paboya Jungsoo!”

“…..” aku hanya bisa menangis dipelukannya itu.

“Mianhae, mianhae chulie.”

Lalu, ia meregangkan pelukannya. Ia juga mendongakan kepalaku agar ia bisa melihat kearah mataku. Dengan jari-jari halusnya, ia menghapus seluruh air mata yang menggenang dimataku. Bibirku terus bergetar walaupun air mata yang menggenang di mataku sudah hilang. Kemudian, namja tersebut mengeluarkan senyumnya yang sangat tulus kepadaku. Kutatap dalam matanya yang indah. Ia benar-benar tulus tersenyum kepadaku. Tidak ada kebohongan sedikitpun. Lalu, kupaksakan bibirku yang bergetar membentuk senyuman juga. Kemudian ia mendekatkan bibirnya kearah wajahku.

Semua yang berada disitu menjadi saksinya. Bulan yang memancarkan sinar sendunya, kota metropolitan Seoul, berbagai macam lampu kerlap kerlip yang menyala terang, bunyi klakson dikejauhan sana, angin musim dingin yang berhembus kencang, salju yang menumpuk dan salju yang turun, gedung-gedung perkotaan yang berdiri kokoh, dan suara nafas seorang namja yang berada didepanku. Mereka adalah saksi dari cinta kami berdua. Mereka adalah saksi dari percintaan kami yang akan berjalan semuanya. Dibawah sinar rembulan yang bercaha sendu,

He kissed me.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

.TBC.

Makasiih yaa readers yang udah sempetin baca FF ini~ sekali lagi ini bener-bener TRUE STORY dari kehidupan Author. Saranghae readers :* RCL yaa~

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 17 April 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, Super Fanfiction and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Yaaa TBC,,,,
    emg msh pnjang lnjtanx ya author ?? Penasaran nih…

  2. Wah penasaran Mau Nanjutan ceritanya author secepatnya keluarkan the chapter yah >O< !!

  3. ke2 klinya sya di paksa baca..-,-
    keren kok ngena bgt..
    onnie udh yakin 100% klo kmu bklan putusin mas onyu..
    jd..??
    keren lah pokoknya..
    next chap hrs kudu secepatnya ._.v

  4. wow author kisah cinta y menarik, tp tu yg jungso ngelakuin ma sekyung kenyataan jg ngak? Salut aku kalo beneran n cwe y bisa maafin cwo y yg udah salah gt. . .

    • makasiih udah bacaa😀
      iyaa itu kenyataan….
      semua yang author ceritain disini kenyataan kok😄
      cuman bagian salju2 itu sebenarnya hujan. tapikan ceritanya di Korea makanya diganti.
      tapi alur ceritanya beneran semua kok ^^
      gomawoo udah jadi readers yang baik😀

  5. Aigooo, ntuk ma se kyung it bneran ? Tega amat😥 nice ff thor

  6. whoa.. tambah penasaran nih…
    but.. wait ..
    sekyung..
    apa jjongppa nya gak marah ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: