[FF/S/PG-15] “SAPPHIRE DIAMOND” {Part 1 of 8}

Title : “Sapphire Diamond”

Author : Orin_Park

Cast : Seoka Izume, Hwang Chansung, Jang WooYoung, Shim Changmin, Lee Donghae, Kim Jongwoon, Shin HeeChan, Min SooJin, Im seulong

Lenght : Series, 1 of 8

Rating : [PG-15]

———————————————————


Jeungdo, kota kecil penghasil garam di sisi selatan pulau Sinan itu nampak ramai seperti biasa. Beberapa nelayan garam sibuk menguapkan air laut di petak masing-masing, sedang sebagian besar orang dewasa lainnya mulai menyibukkan diri dengan mesin-mesin pabrik kecil tempat mereka bekerja. Anak-anak kecil tertawa riang, kaki-kaki mungil itu berlarian di atas pasir putih Sinan, seiring beberapa perahu yang terlihat mulai berlayar menuju Mokpo.

Sementara di sebuah rumah kecil dekat pantai, suasana tampak legam. Rumah minimalis bercat abu-abu dengan aksen bebatuan marmer dan rerumputan panjang yang tumbuh liar di halaman depan itu terlihat sejuk sekaligus menakutkan. Di ruang tengah, seorang pria dengan syal putih yang terlilit di lehernya, nampak terdiam di depan sebuah lemari besar. Lemari yang terisi penuh dengan berbagai batu-batu krystal berwarna biru sapphire. Begitu indah, mewah, glamour, dan menyilaukan.

Cukup dengan melihat saja, semua orang bisa tau, bahwa dia adalah seorang kolektor Krystal Sapphire blue yang ambisius. Ya, kalau saja orang melihat semua itu. Tapi nyatanya? Tidak. Pria itu lebih memilih hidup dalam kesepian, mengurung diri dirumah sambil memandangi krystal-krystal Sapphire blue kebanggaannya. Hanya kadang, sesekali pergi tanpa alasan yang jelas, kemudian kembali dengan membawa Krystal Sapphire blue yang lain..

“Hey, Rich… Appa akan membersihkanmu sekarang. Kau senang?” pria itu tersenyum, memandang batu ‘Sapphire Blue Swan’ di tangannya dengan penuh damba.

Perlahan, pria itu mulai membersih ‘Sapphire Blue Swan’ dengan pandangan berbinar, mengelapnya, menyemprotkan sedikit cairan bening dari botol kecil di atas rak perapian, dan terakhir mengecupnya. Terlihat seperti orang sinting memang, tapi ia memang sudah menganggap krystal-krystal itu seperti anaknya sendiri.

“Waahh… hebat, indah sekali..”

Suara pekikkan nyaring itu membuat sang pria tersentak kaget. Ia buru-buru menengok dan menemukan sesosok pria kecil berusia sekitar 7 tahun, sudah berdiri tak jauh di belakangnya, mata mungilnya terbelalak kagum menatap isi lemari-lemari itu.

“Hey, Bocah!! Lancang sekali kau masuk kemari!” bentak sang Pria seraya meletakan kembali ‘Swan Sapphire Blue’nya dengan hati-hati.

“Maaf Jongwoon ahjusshi, Hyo mau pinjam pompa, ban sepeda Hyo kempes..” pria kecil itu menyunggingkan senyuman kecil, “Ahh.. hampir lupa, Hyo itu namaku. Hyojin..” tambahnya.

Jongwoon membulatkan matanya, “Darimana kau tau namaku?”

Hyojin tertawa, “Hahaha.. Ahjusshi terkenal tau!! Teman-teman Hyo bilang, rumah ahjusshi ini rumah hantu. Terus katanya lagi, ahjusshi itu seperti Vampire, tidak pernah senyum..”

Detik itu juga Jongwoon mendengus. Sebentar, ia semakin menguatkan pikirannya sendiri bahwa ia memang benci anak-anak. Anak-anak memang jujur, ia tau itu. Tapi kadang, kejujuran yang dibawa anak-anak itu menyakitkan. Kenapa anak-anak tidak bisa diam dan duduk manis saja? Kenapa anak-anak tidak bisa seperti Krystal-Krystal miliknya?

“Kuambilkan pompanya, lalu kau segera pulang! Mengerti?” ujar Jongwoon kemudian. Ia segera berlalu mencari pompa setelah sebelumnya melihat Hyojin mengangguk paham.

Sedetik, dua detik, tiga detik, merambat lebih. Ini lama, teramat lama, bahkan sangat lama bagi seorang bocah yang menantikan sebuah pompa untuk sepeda kesayangannya. Bosan, dan Hyojin pun dengan iseng mengamati lemari-lemari disekitarnya.

Bocah itu mengambil krystal berbentuk segitiga lempeng yang menarik perhatiannya, “Woow… Hyo tidak tau Jongwoon ahjusshi punya batu-batu cantik seperti ini..”

“JANGAN SENTUH APA PUN!” Jongwoon tiba-tiba sudah ada di ruang tengah dengan pompa kecil ditangan kananya. Pria itu mendelikkan matanya dengan tajam, tanda tidak suka dengan apa yang diperbuat Hyojin pada kystal-kystalnya.

“Aishh.. baiklah..” Hyojin mendengus, ia meletakan batu krystal itu lagi ke tempatnya, “Padahal Hyo hanya ingin bilang kalau Hyo pernah lihat batu-batu seperti ini, bahkan yang lebih besar!! Hyo hebat kan? Hahaha..” tambahnya sembari tertawa kecil membanggakan diri.

Detik itu juga, mata Jongwoon menyipit, penuh rasa ingin tau, “Yang lebih besar?”

“Heeh.. Namanya cantik sekali, Eumh.. Sapi Mon.. eh.. Supir amon.. Duh, apa ya??”

“Sapphire Diamond??”

“YA! ITU! Seratus untuk ahjusshi..” Hyojin memekik girang sambil mengacungkan kedua jempolnya, “Changmin Appa bilang, batu super keren itu akan dipamerkan di Museum Seoul beberapa hari lagi..”

Kim Jongwoon tersenyum, semakin lebar, semakin lebar, hingga segurat senyuman itu berubah menjadi seringai penuh ambisi. Keinginan untuk mendapatkan Sapphire diamond, berlian yang merupakan symbol keindahan Korea Selatan.

***

Busan, bukan sebuah kota yang terlalu ramai seperti Seoul, bukan sebuah tempat yang sangat indah seperti Jeju Island, tapi bukan juga kota kecil yang sepi seperti Pyeongtek. Busan hanyalah sebuah kota di tepi pantai, yang disebut-sebut sebagai salah satu kota romantis di Korea Selatan karena panorama langit dan lautnya yang menawan.

Namun tidak semua hal di Busan bisa kita sebut indah dan romantis. Ada beberapa yang terkadang selalu mengecewakan dan tak berakhir bahagia. Seperti hal-nya di kota lain, di Busan juga ada kisah tentang seorang pria yang terus mengejar cinta seorang wanita, walau sang wanita tak pernah membalas atau pun peduli dengan rasa cintanya. Seperti yang terjadi di teras kecil sebuah rumah ini..

“Aku mencintaimu, Jung..” pria itu terus menekan, sorot matanya menyiratkan rasa harap sekaligus kecewa yang teramat sangat.

“Hentikan hal konyol itu, Im Seulong!” cibir si wanita dengan angkuhnya.

“Tapi aku benar-benar mencintaimu, Han EunJung! Aku sudah berkorban banyak..”

“Berkorban banyak, katamu?” Wanita bernama EunJung itu memutar matanya

Seulong menghela nafas pendek, “Baiklah, apa lagi yang harus kulakukan agar kau mau menerima cintaku, Han EunJung? Katakan!!”

EunJung tersenyum licik. Ia tau siapa Im Seulong. Pria yang begitu tergila-gila padanya selama 5 tahun ini. Pria yang selalu menuruti semua keinginannya selama ini. Pria yang begitu ambisius untuk mendapatkan cintanya dengan segala cara. Ya, segala macam cara. Bahkan dengan cara yang begitu bodoh dan tak masuk akal sekali pun.

“Eumh.. Korbankan nyawamu…”

“Ehh? Jung, aku.. tidak…” mimik wajah Seulong berubah tak yakin detik itu juga.

“Kau bilang kau ingin mendapatkan cintaku, bukan?” EunJung menyibak rambutnya, tersenyum mengejek pada pria dihadapannya.

“Aku tidak bodoh, Jung! Kalau aku mati, aku sama saja tidak akan mendapatkanmu. Berikan syarat lain, apa pun aku lakukan asal jangan dengan taruhan nyawa..” Seulong berujar pasti, pria itu menelan ludah, menguatkan perasaannya sendiri.

“Apa pun?” tantang EunJung. Seulong mengangguk mantap, tidak pernah ia seyakin ini mengiyakan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum tau apa itu.

EunJung terdiam sejenak, gadis berambut coklat itu menyapukan matanya keseluruh sisi teras, Nampak berpikir keras. Hingga kemudian, pandangannya tertuju pada sebuah majalah yang tergeletak di depan pintu masuk. Majalah bercover berlian kebanggaan Korea Selatan.

“Bagaimana kalau… kau berikan aku Sapphire Diamond??”

Seulong tersentak, ia tau betul tentang benda yang dimintai EunJung tadi. Berlian kebanggaan Korea Selatan yang menjadi lambang kota Seoul. Salah satu dari 3 berlian terindah dan termahal di dunia. Berlian yang beberapa hari lagi akan dipamerkan selama 5 jam di Museum National dengan penjagaan yang pastinya sangat amat ketat.

“Kalau kau tidak bisa, lebih baik jangan temui aku lagi…” tandas EunJung.

Seulong menatap gadis yang begitu dicintainya itu lamat-lamat, kemudian menggeleng.. “Aku akan mendapatkannya untukmu. Pasti!!”

***

Hujan yang mengguyur Mokpo dengan ganas, membuat malam terasa semakin mengigil. Semua orang menyalakan perapian rumahnya, menghangatkan diri dalam balutan jaket tebal dan sarung tangan, tak terkecuali untuk pria bernama Lee Donghae. Ia duduk di depan televisi sambil menyeruput secangkir coklat panas setelah sebelumnnya menidurkan Hyewon, sang putri tercinta.

Donghae beberapa kali memainkan remote di tangannya dengan sedikit malas. Mengganti-ganti Chanel yang kebanyakan hanya menayangkan Drama Romance, hingga kemudian ditemukannya sebuah tayangan yang cukup berbobot untuk malam ini, Night News..

‘Siapa yang tak tau Sapphire Diamond? Berlian kebanggaan Korea Selatan yang merupakan lambang keindahan Seoul ini, akan dipamerkan secara umum untuk pertama kalinya di National Museum…..’

“Membosankan…” gumam Donghae, ia baru saja hendak kembali mengganti Chanel, tapi sosok yang kemudian tertampil dalam mini VCR tayangan Night News itu membuatnya mengurungkan niat..

‘……………. Inspektur Hwang selaku Kepala Kepolisian setempat, diberi tanggung jawab sepenuhnya dalam penjalanan sistem keamaan dan penjagaan terhadap Sapphire Diamond tersebut selama dipamerkan. Dalam hal ini……….’

“Inspektur Hwang. Hwang Chansung…” desis Donghae tiba-tiba, sinis..

Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya sejenak, lalu mengambil sebuah foto yang terbingkai rapi di atas meja kecil di samping sofa, “Aku, Lee Donghae!! sudah bersumpah untuk menghancurkannya. Kau ingat kan, sayang?”

Dikecupnya sosok wanita yang tengah tersenyum dalam foto itu. Senyum sinisnya perlahan tegurat, bersamaan dengan sorot kebencian dan dendam yang terpancar jelas dari matanya. Benci. Begitu benci. Teramat benci pada seseorang yang telah merenggut kebahagiaan rumah tangganya.

Donghae kembali menatap kearah layar televisi, masih dengan senyum sinis penuh kebencian yang sama, “Jika Sapphire diamond hilang, bukankah itu akan menghancurkan karirmu sebagai Inspektur utama kepolisian Seoul, Hwang Chansung?”

“Appa….”

Donghae meletakan figura itu kembali dan menoleh seketika. Didapatinya sang putri kecil sudah berdiri di depan pintu kamar sambil mengucek-ucek matanya, “Hyewon, kenapa bangun?”

“Eomma kapan pulang?” Hyewon kecil balik bertanya sambil melangkah gontai mendekati Papanya.

“Hemh? Kenapa Hyewon tiba-tiba menanyakan Eomma?” tanya Donghae sembari mengangkat putri kecilnya itu keatas pangkuan.

“Hyewon mimpi bertemu Eomma. Hyewon kangen Eomma…”

“Appa juga. Appa juga kangen Eomma…” sahut Donghae sembari tersenyum kecil. Digendongnya Hyewon perlahan. Didekapnya gadis kecil itu erat-erat. Dipeluknya dalam kasih sayang seorang Ayah..

‘Semuanya akan baik-baik saja sayang, semua akan kembali. Kita akan segera berkumpul kembali dengan Eomma, setelah Appa membunuh inspektur biadab itu…’ bisik Donghae dalam hati.

***

‘DESSHHHIINGGGG…..’

Itu adalah suara desingan terakhir yang terdengar. Disusul seluruh asap yang menghiasi heningnya malam. Dan setiap asap tersebut menyembul keluar dari letusan tembakan pistol Magnum. Keheningan malam ini membuat setiap orang yang berada di kawasan pergudangan Seongnam itu tegang. Salah langkah satu saja dapat mengakibatkan nyawa melayang..

“Hey, Boys…”

Tiba-tiba seorang gadis dengan jacket kulit hitam keluar dari salah satu sekat, meniup sisa-sisa kepulan asap di ujung salah satu magnum yang ia pegang. Tubuhnya tinggi tegap, sorot matanya begitu tajam, rambutnya hitam pekat, wajahnya cantik namun terlihat keras. Ia memutar pandangan ke seluruh area pergudangan sembari menyunggingkan sebuah seringai sinis..

“Your Death, Boss!!” seru seorang pria dengan kaos singlet hitam yang muncul dari balik pilar besi.

Disusul dengan beberapa pria dengan pakaian serupa yang keluar dari belakang drum dan kardus-kardus. Posisi mereka melingkar, mengarahkan sebuah Slepty magnum kearah gadis yang masih menyunggingkan seringainya di tengah area pergudangan itu.

“Hentikan lelucon ini, aku lelah..” Gadis itu mengibaskan tangannya..

Dan yang terdengar berikutnya adalah suara Slepty magnum yang bertubi-tubi ditembakkan. Namun kosong. Hampa. Hanya udara. Tak ada satu biji pun peluru dalam magnum-magnum itu. Si gadis tadi menyeringai semakin lebar, lalu menjatuhkan dirinya diatas tumpukan jerami..

“Jadi kau sudah tau bahwa peluru kami habis, Shin HeeChan??” Tanya pria dengan kaos singlet hitam tadi sambil ikut merebahkan diri di samping kawannya..

HeeChan tersenyum, “Kau tau, Dong YoungBae?? Ini membosankan. Aku tidak mau lagi..”

“What?? Apa maksudmu? Kau Ingin mengkhianati Korea Utara? Kau ingin lepas tangan dari masalah ini? Dimana kau letakan otakkmu, HAH??” pekik YoungBae, matanya membulat tajam.

YoungBae tak bisa membayangkan jika nanti ia harus berjuang sendiri menyerang Korea Selatan. Ya, walau dengan cara diam-diam. Ia yakin hanya HeeChan yang bisa menjalankan semua rencana ini dengan mulus. Sosok gadis paling cerdas, kuat, dan pemberani dari semua gadis yang pernah ditemuinya. Ia bahkan lebih hebat dari mata-mata Korea Utara yang lain selama 2 tahun ini.

“Bodoh! Maksudku, bukan tentang menjadi mata-mata Korea Utara untuk menghancurkan Negara ini..” sahut HeeChan tak lama kemudian.

YoungBae menghela nafas lega, “Jadi?”

“Aku punya cara yang lebih asyik untuk menyerang Korea Selatan, diluar cara terorisme yang selama ini kita lakukan..” HeeChan beranjak dari posisi tidur, kemudian memilih bersandar pada pilar besi dibelakangnya sambil melemaskan otot-otot leher..

YoungBae ikut mengambil posisi duduk, menyamping dari arah HeeChan, “Apa itu?”

HeeChan memicingkan matanya dan mengeluarkan sebuah Cluft Spok dari saku jaket. Semacam pisau bedah, tapi lebih tipis, dan lebih tajam tentunya. Masih dengan seringai khas-nya, HeeChan menjilat sisi tajam pisau itu dengan begitu tenang.

“Berhenti melakukan itu! Kau membuatku merinding!! Apa kau ti…..” ucapan YoungBae seketika terhenti begitu Heechan mengarahkan mata pisau itu kearahnya.

YoungBae menegang, “Kau, jangan main-main, Shin HeeChan..”

HeeChan menyeringai puas, “Aku tidak pernah main-main, Dong Youngbae…” sedetik kemudian Cluft Spok itu pun terlempar begitu cepat dari tangannya..

‘CCCLLEEEBBBBBB!!!’

Dan mata pisau itu menancap dalam, tepat di sana. Menancap pada sebuah poster berukuran sedang yang tertempel lusuh di dinding belakang sosok YoungBae. Poster dengan gambar sebuah berlian biru sapphire yang mendominasi seluruh isinya..

YoungBae memutar badannya, “Maksudmu? Sapphire Diamond??”

***

Tokyo tower menjulang indah dengan segelintir lampu-lampu temaram yang menghiasinya. Jalanan Guang street terlihat ramai malam ini. Malam minggu yang menyenangkan, semua orang sibuk. Namun beberapa lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah, seperti yang dilakukan seorang gadis di apartement no.256 GimZang.

“Ya, aku paham Fukuda-chan, kau tenang saja…” Gadis cantik berambut coklat ikal itu tampak sibuk dengan ponsel yang ia himpit dipundak, sementara kedua tangannya sibuk membuat secangkir kopi..

“Oke! Kau tidak perlu menceramahiku! Aku lebih paham segalanya. Mengerti?” Dengan kesal, gadis itu kemudian mematikan ponsel bluft black kesayangannya dan melempar benda itu sembarang.

Gadis itu meletakan secangkir kopi panasnya diatas meja, kemudian menghempaskan diri diatas sofa. Ia lelah, teramat lelah. Dikeluarkannya beberapa magnum mini dan pistol bius dari saku celana, kemudian mengelap benda-benda itu sebentar sebelum memasukkannya kedalam mantel hitam yang tergeletak disamping sofa. Setelah itu, ditekannya tombol power pada remote televisi..

‘…………..Siapa yang tak tau Sapphire Diamond? Berlian kebanggaan Korea Selatan yang merupakan lambang keindahan Seoul ini, akan dipamerkan secara umum untuk pertama kalinya di National Museum dengan penjagaan yang ketat…..’

“Heumh, berlian kebanggaan South Korea itu ya..” gumamnya sambil sedikit mengeraskan volume.

‘………………….Bagi anda yang penasaran untuk melihat berlian kebanggaan Korea Selatan ini secara langsung. Silahkan berkunjung ke Seoul National Museum, lusa, pukul 8 pagi….’

Gadis itu mematikan televisi beberapa saat kemudian, lalu mulai menyeruput kopinya, “Banyak pencuri cerdik yang mengincar benda berharga itu. Aku yakin. Sekarang, tinggal melihat seberapa hebat para prajurit dan polisi negara itu bisa menjaganya…”

‘Tok.. tok… tok…’

Suara ketukan nyaring dari luar membuat gadis itu mau tak mau menghentikan kegiatan menyeruput secangkir kopinya. Ia segera beranjak dari duduk, melangkah menuju pintu apartement, kemudian membukanya dengan cepat tanpa memeriksa lebih dulu..

“Seoka-chan!! Gawat!!” pekik seorang gadis berambut cepak yang sudah berdiri di depan pintu.

Seoka mentautkan alisnya, “Ya?”

“Direktur Mizawa ditemukan tewas di perpustakan pribadinya!!”

Mendengar hal itu, seketika sepasang mata hitamnya membulat kaget, dengan reflek ia merogoh kantong celana dan menyerahkan serantai kunci pada gadis dihadapannya, “Kyo, Panaskan mobilku!! Kita kesana sekarang..”

Gadis berambut cepak yang dipanggil ‘Kyo’ itu mengangguk paham dan segera berlari menuju lift. Sementara Seoka tak tinggal diam, ia segera mengambil luph, selotip, sarung tangan, pinset, dan beberapa perlengkapan lain, kemudian memasukan semua benda itu kedalam little bag kecilnya.

Sebentar ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat kepada Aori Makoto, patner kerjanya. Seoka melirik jam tangannya, 20.03. Diraihnya mantel hitam panjang yang dilengkapi mini magnum dan pistol bius itu, kemudian ia segera berlari keluar…

Ia berlari begitu cepat menuruni tangga, membuat mantel hitamnya berkibar, menunjukan sebuah papan nama kecil yang tertambat di bagian dada sebelah kanan…

‘Detektif Seoka Izume..’

***

Seoul, ibukota Korea Selatan itu malam ini terlihat ramai seperti biasa. Tapi ada yang sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Air mancur dari jembatan banpo serta cahaya-cahaya dari Seoul Tower yang biasanya menjadi pusat pemandangan utama, kini tergeser oleh sebuah bangunan kapur putih megah di dekat gedung pemerintahan.

Bisa kalian tebak bangunan apa itu? Seoul National Museum. Tepat. Tempat itu selalu terlihat indah gemerlap beberapa hari belakangan, karena pemerintah mengadakan pesta kembang api 3 malam penuh sebelum ‘Sapphire Diamond’ dipamerkan secara umum..

Namun yang perlu kalian intip sekarang bukanlah keadaan dengan penuh sesak penjaga dan polisi di dalam Museum itu. Melainkan keadaan disebuah Motel kecil yang berjarak sekitar 300 meter dari Museum. Tempat dimana sepasang suami istri yang merupakan anggota utama kepolisian Seoul itu tinggal untuk sementara..

“Shittt… dasar keras kepala!!” seorang wanita berambut bob acak-acakkan, dengan kesal membanting ponselnya keatas Sofa.

Seorang pria dengan setelan jas hitam keluar dari kamar, “Kau baik-baik saja SooJin ahh?”

“Iya, tadinya. Sebelum si otak batu itu mematikan telfon sebelum aku selesai bicara..” gerutu SooJin. Wanita itu kini sibuk merapikan tumpukan diktatnya sambil terus bersungut.

“Siapa yang kau bicarakan, sayang?”

“SIAPA PUN!!” SooJin berdiri sambil menghimpit tumpukan berkas dan agenda di tangannya, “Kau tidak perlu ikut campur, WooYoung-ku sayang..”

‘BUUUGGGhhhhh….’

Berkas-berkas dan agenda itu terjatuh begitu saja saat SooJin hendak berlalu ke dalam kamar. Semua kertas didalamnya berserakan. Membuat Min SooJin, inspektur wanita dari Kepolisian Incheon itu kembali mendengus kesal sambil membereskan semuanya.

“Sayang, Foto siapa itu?” WooYoung menyipitkan matanya pada selembar foto yang sedikit menyembul keluar dari agenda sang istri. Sepertinya ia tidak asing dengan..

SooJin buru-buru meraih agendanya dan menyelipkan foto itu dalam-dalam, “Bukan siapa-siapa! Hanya Leeteuk Super Junior!!” sahutnya seraya bergegas masuk kedalam kamar.

Sementara WooYoung masih terdiam memandanginya dengan kedua alis yang bertaut. Istrinya itu aneh sekali belakangan ini. Dan foto tadi, walau hanya melihat sedikit, tapi WooYoung yakin benar kalau pria dalam foto itu tidak asing baginya. Jelas itu bukan Leeteuk Super Junior..

‘KKringgg…. Kriiinggg….’

WooYoung mengangkat telfon didepannya dengan sedikit enggan, “Yoboseyo?”

Suara tegas yang kemudian mengoceh dari seberang membuatnya mulai serius, “Ah, Baik Inspektur Hwang. Ne, saya mengerti..”

“Seperti yang inspektur minta, saya dan Shim Changmin sudah menyiapkan system keamanan terbaik untuk penjagaan lusa. Jadi Inspektur tenang saja..”

–To be continued…

PS: “I HATE SILENT READERS!!”

About Mrs.Coffee

Cola. Coffee. Cola. Coffee. Cola. Coffee :9

Posted on 18 April 2011, in AUTHOR, Seongrin Park, Shinki Fanfiction, SM Town, Super Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Keren lanjut jangan lama2

  2. Masi perkenalan ya ini, seru seru ceritanya. Nanti pada rebutan dong itu ¬_¬ ditunggu lanjutannya ya😀

  3. DAEBAK thor. Lanjutin ya. Jrang da ff genre kya action yg aku baca.

  4. gomapta..^^

  5. annyeong,aku readers baru.. Salam kenal..
    Ff nya keren thor,,
    lnjutn.n jngn lama”@,@

  6. ini bru perkenalan-awal-prolog dan ep pertama thoor?
    gile??
    kkereenn booo’!!><"
    ayoo author~! lanjutinnya cepet yak!? eheheee…

  7. eonnie lanjut!! ceritanya keren^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: