[FF/1S/PG-15]: “Pokky, Caramel Coffe??”

Author : Seongrin Park

Cast: Park Seongrin, Lee Donghae, Leeteuk, other member Super Junior

Lenght : 1SHOT

Genre : Comedy Romance

Ratting: PG-15

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seongrin membekap mulutnya sendiri rapat-rapat. Ia tidak ingin menangis saat ini, sama sekali tidak. Ia ingin berpikir lebih jernih dan menelaah semuanya pelan-pelan. Tapi air mata tak pernah mau tau. Cairan bening itu mulai menerobos keluar dari sepasang mata coklatnya.

“Onnie mau kubuatkan Caramel Coffe??” Seseorang berteriak dari arah dapur.

Seongrin tak menanggapi. Gadis itu masih terisak lirih lalu menyandarkan punggungnya di badan kursi. Sementara pandangannya tak lepas dari sebuah artikel singkat di layar Laptop..

“Yasudah, Pokoknya kubuatkan!!” suara dari dapur akhirnya memutuskan sendiri, karena tak ada sahutan sejak beberapa detik lalu.

Sementara Park Seongrin berkali-kali menarik nafas panjang, mulai mencoba mengatur emosi. Mencoba menyugestikan diri sendiri seolah apa yang baru saja dibacanya tadi hanyalah sebuah kekonyolan. Mencoba menenangkan hatinya sendiri bahwa semua masih baik-baik saja. Tapi hasilnya? Gagal! Ia kembali terisak lirih..

Tak lama kemudian, Yoora berjalan mendekat dari arah dapur dengan dua cangkir kopi di tangannya, “Bagaimana artikelnya? Apa sudah….” Gadis itu menggantungkan kalimatnya begitu melihat kearah Seongrin, “Onnie Gwaenchanika?”

Seongrin mengigit bibir bawah, menahan isak, sambil kemudian menyeka air matanya perlahan. Seolah mencoba meyakikankan Yoora bahwa ia baik-baik saja. Yoora yang panik sekaligus bingung, langsung mengikuti tatapan pias Seongrin ke layar laptop..

‘Donghae SuJu menjalin hubungan dengan Sunye WG??’

Yoora menelan ludah, kemudian kembali menatap Seongrin dengan sedikit miris, “Onnie Gwaencha?? Telfon Donghae oppa di Taiwan ya? Telfon ya?”

Adik dari Park Jungsoo itu menggeleng pelan, ia menarik nafas, lalu memaksakan sebuah senyum kecil di wajahnya, “Nggak usah. Aku percaya Pokky kok…”

BOHONG!! Bohong kalau dia bilang percaya sepenuhnya pada Donghae!! Bohong kalau dia tersenyum seolah merasa baik-baik saja! Bohong kalau dia bilang tidak usah telfon Donghae padahal hatinya penuh tanda Tanya. BOHONG!! Yoora bisa melihat jelas semua itu dari mata Seongrin..

“Jangan bohong sama Yool! Kita udah berapa tahun sih kenal? Kita udah kayak kakak adik kan? Yool tau onnie luar dalam! Onnie nggak bisa bohong!! Kalau mau nangis, jangan malah tersenyum!!” bentak Yoora seraya merengkuh kepala Seongrin dalam dekapan. Dan detik berikutnya, kekasih Lee Donghae itu sudah kembali menangis..

***

“Ne, kau tenangkan Orin dulu Yool. Bisa kan? Oppa tau, besok oppa kesana setelah siaran Sukira. Iya, oppa nanti bantu bilang ke Donghae, Pasti!” Leeteuk menghela nafas dan memasukan ponselnya lagi kedalam saku. Susah kalau Orin udah kayak gini..

Leeteuk dengan sigap menangkap, “Nugu?”

“Lee Donghae!”

“Aishh…” dengan malas, diletakannya speaker phone di telinga kanan, “Kau kena…”

“HYUNG, GIMANA DONG INI?” suara galau Donghae menyambut.

“Apanya?”

“Hyung suka pura-pura nggak tau deh, itu loh!!”

Leeteuk kesel sendiri sama gaya galau-nya ikan mokpo satu ini, “Apa? Briptu Norman dapet motor? Tomy kurniawan ama Sania udah nikah?”

“BUKAN!! ITU YANG YONGSTREET!! YANG AKU DIGOSIPIN SAMA SUNYE!!” pekik Donghae yang membuat Leeteuk buru-buru menjauhkan telinganya.

“Owhh.. itu..”

“JUNGSOO HYUNG!! Kok Cuma gitu? Ekspresinya yang ‘Wooww…’ dong!” suara Donghae di seberang tampak sewot, “Aku takutnya Seongrin ngambek..”

“Emang udah ngambek,..” timpal Leeteuk, sudah diap-siap menjauhkan ponsel dari telinga,

“AHH.. JINCHA?? ANDWAE!!! DONGHAE PABOYA!! AKU NYAKITIN DIA LAGI… HUAAA…” diluar pekikkan kalut Donghae, Leeteuk bisa mendengar gerutuan seluruh anak SuJu M di Taipe.

“Kau sudah telfon dia?” Tanya Leeteuk kemudian.

“Belum. Nggak berani ahh..”

Heechul tiba-tiba keluar dari kamarnya sambil melirik Leeteuk, “Siapa? Donghae ya? Kena amuk Seongrin? Cari masalah sih..”

“YA!! KIM HEECHUL! KAU PIKIR YANG SEBENARNYA BIKIN MASALAH ITU SIAPA??”

***

………………………………………………………………………………………….

Dia memang tak pernah berjanji untuk tak pergi..

Tak pernah berjanji untuk membuat hatiku tenang..

Atau mengumbar mimpi tentang sehidup semati..

Tidak juga sekedar menguntai kata tentang selalu di sini..

Dia memang tak perlu bilang tentang rasa yang disimpan..

Tidak juga bicara asa yang tak pernah ingin terpatahkan…

Atau sekedar mengobati sakit yang tak terniat untuk ditimbulkan…

Tapi seperti biasa aku tetap terluka. Mungkin dia juga?

Tapi tetap saja, aku yang paling terluka…

………………………………………………………………………………………….

Dengan tatapan sendu yang sama sejak kemarin, Seongrin terus mencoretkan penanya diatas kertas. Mencurahkan segala apa yang ada dihatinya saat ini. Rasa sakit. Rasa kecewa. Rasa ingin berontak. Teruntuk seseorang yang secara tak langsung membuatnya sakit. Teruntuk seseorang yang kembali mengoyak kepercayaannya untuk kesekian kali.

Pagi ini ia kembali terbangun dengan rasa itu, rasa aneh yang tak jelas. Teras belakang menjadi satu-satunya tempat untuk berdiam. Ia tak mau, bahkan tak bisa memperdulikan apa-apa lagi saat ini. Pikirannya penuh dengan nama ‘Lee Donghae’. Bahkan artikel-artikel fashion yang harusnya ia siapan minggu ini, terbengkalai begitu saja.

Sosok Park Seongrin terdiam disini. Membodohi diri sendiri yang terus bertahan selama ini, sambil merangkai belasan puisi atas nama sakit hati. Bukan sebagai adik seorang Park Jungsoo. Bukan sebagai jurnalis utama majalah ‘Ceci’. Tapi sebagai seorang gadis yang perlahan rapuh kepercayaannya karena sang kekasih..

Yoora berjalan dari pintu belakang, menatap sang onnie dengan tatapan iba. Gadis itu lalu mendudukan diri di samping Seongrin sambil menopang dagu, kemudian menyodorkan sepiring bulgogi, “Extra pedas, seperti yang onnie suka..”

“Untukmu saja..”

“Ckkk.. Ayolah Onnie.. jangan begini..” Yoora berdecak kecil, kemudian menatap Seongrin dengan penuh perngertian, “Onnie belum makan apa pun sejak kemarin..”

Seongrin tersenyum pahit, “Aku nggak lapar Yool..”

Lee Yoora menyerah. Ia tak bisa menawarkan makanan lain karena hanya Bulgogi yang bisa dibuatnya, dan Seongrin menolak, “Oke. Kalau begitu onnie pasti haus! Pokoknya harus minum!”

Gadis itu beranjak, kemudian menghilang di balik pintu dapur. Dan tak berapa lama kemudian, ia sudah keluar lagi dengan senampan penuh berisi minuman. Semua kesukaan Seogrin tentunya. Diletakannya salah satu minuman berwarna hijau kental ke atas meja.

“Avocado Juice?”

Jus Alpukat? Satu-satunya Juss yang bisa Donghae buat dengan baik untuknya. Juss yang biasa mereka buat bersama di Dorm Super Junior dengan diam-diam mengambil Alpukat milik Heechul di kulkas. Seongrin menggeser minuman itu dari hadapannya.

Yoora menyodorkan yang lain, “Cherry ice cream?”

Sekotak Cherry ice cream? Ice cream kesukaannya sejak kecil. Yang selalu ia lahap di siang terik sambil berceloteh riang bersama Donghae. Ice cream yang menemaninya kala mengobrol semalam suntuk via telfon dengan Donghae. Seongrin menggeleng pelan.

“Blueberry milk?” Yoora mulai frustasi kali ini,

Blueberry milk? Rasa susu yang aneh memang untuk dijadikan selera. Tapi ia suka itu. Jika malam hari Donghae puas melahap sekotak Blueberry ice cream, maka ia akan menemaninya dengan menyesap secangkir Blueberry milk. Seongrin meraih cangkir itu, tapi kemudian menumpahkan isinya..

Yoora menghela nafas. Ingin menangis rasanya melihat sang Onnie yang seperti mayat hidup. Sama sekali tak ada keceriaan di wajahnya. Tak ada sedikit pun senyum tulus yang terulas. Dengan pasrah Yoora menyodorkan minuman terakhir yang dibawanya pada Seongrin..

“Caramel Coffe?”

Seongrin melirik sebentar, kemudian menyesapnya.. “Thanks..”

Yoora tersenyum kecil. Tapi senyuman kecil itu kemudian menghilang saat ia menyadari sesuatu. Di tatapnya Seongrin yang masih terdiam sambil mencoret-coretkan pulpennya diatas kertas. Rasanya ia tau alasan mengapa Onnie-nya lebih memilih minuman itu daripada yang lain..

Gadis itu menangis kecil sambil kemudian memeluk Seongrin dari belakang, “Jangan pernah merasa bahwa cinta onnie pahit seperti kopi itu. Jangan pernah…”

***

Untuk yang kesekian puluh kali dalam sehari ini, Donghae kembali menekan serentet nomor yang sudah ia hafal di luar kepala itu, kemudian menghubunginya. Tetap tidak aktif. Semarah itukah Seongrin hingga ia menonaktifkan ponselnya selama dua hari ini? Sebegitu tidak inginkah yeoja itu mendengar penjelasan darinya? Donghae makin kalut.

“Aktifin dong sayang! Aktifin, kenapa sih??” Donghae masih berusaha menghubungi kekasihnya itu. Sementara Siwon dan Eunhyuk cuma geleng-geleng kepala sambil rangkul-rangkulan diatas kasur. Sedang Kyuhyun sibuk baca buku rumus matematika..

“Ahhhh.. JANGAN GINI DONG!!!” Donghae dengan galau melempar ponselnya.

Eunhyuk dengan sigap langsung lompat dan menangkap ponsel itu sebelum jatuh ke lantai, “YA!! Jangan di lempar! Kalau lecet, nanti harga jualnya bisa turun!”

“LEE HYUKJAE!! KAU SIH!!” Donghae malah balik membentak.

“Heh? Kok aku? Apanya?”

Donghae melempar segala celana dalem dan boxer kotor yang ada di sofa kearah Eunhyuk, “KAU SIH PAKE ACARA NYURUH AKU TELFON KE YOUNGSTREET SEGALA!!”

Eunhyuk menghindar cepat, “Loh, katanya kau kangen HeeChul hyung?”

“TAPI AKU NGGAK SUKA DIGOSIP-GOSIPIN SAMA SUNYE!!” Donghae bener-bener ngamuk sekarang, kekesalannya gara-gara nomer Seongrin yang nggak aktif, meluap dengan menerbangkan semua benda-benda yang ada di kamar.

“Kan kau sendiri yang bikin masalah, pake sok tebar pesona di telfon. Seongrin ngambek kan tuh?? Nah lo.. Adiknya Eeteuk hyung kalau marah larinya ke Dorm 2PM loh!” cecar Siwon.

Kyuhyun langsung pasang Evilsmirk, “Terus nanti nangis di pelukannya Chansung…”

“HUAAAAAA….. ANDWAE!!!!!” Donghae langsung merosot dan nangis sejadinya sambil ngesot-ngesot dilantai. Hwang Chansung?? Nama itu menghantuinya. Sampai kiamat pun dia nggak akan rela lahir batin kalau kekasihnya itu dipeluk-peluk Chansung..

Sungmin melongok masuk kedalam kamar berpenghuni 4 orang itu, “Aishhh.. kenapa ribut-ribut? Jam segini kok kalian berempat pada belum tidur sih? Besok pagi kan ada promo di Daemun..”

Kyuhyun melirik Donghae yang masih mewek sambil ngelap ingus, “Itu.. Itu tuh, si playboy stress, nomernya Seongrin nggak aktif..”

“Skandal Sunye?”

“AKU BERANI SUMPAH HYUNG!! AKU NGGAK ADA HUBUNGAN APA-APA SAMA LEADER WONDER GIRLS!!” pekik Donghae, seolah lagi melakukan pembelaan karena dituduh melarikan dan menikahi anak di bawah umur tanpa izin orangtua.

Sungmin geleng-geleng, “Sumpahnya sama Seongrin dong! Pacarmu kan dia, bukan aku..”

“HYUNGG~~~” Donghae narik-narik ujung celana Sungmin dengan mata berkaca-kaca.

“Eumh… Nggak hubungin ke telfon rumah aja?”

“HYUNG DAEBAK!!!” Donghae langsung girang dan nyium pipi Sungmin, kemudian merebut ponselnya yang sedari tadi di pegang Eunhyuk..

“Ckckckck..” Kyuhyun Eunhyuk kompak geleng-geleng sambil pasang tampang cengo.

“Woowww.. kenapa nggak dateng dari tadi aja hyung?” takjub Siwon.

“Aisshhh…” Sementara Sungmin mengusap pipi kanannya yang dicium Donghae. Kok Lengket ya? Berlendir?? “Ige mwoya? Ingus???”

***

“Nuguseyo?”

Donghae girang setengah mati saat mendapati suara Seongrin di ujung telfon. Saking girangnya sampai ingin loncat dari balkon, terus nyebur ke laut pasifik, terus dimakan ia hiu, sampai di jaman pinokio, nonton sirkus di planet Pluto… AHHHHH.. karena hidup penuh banyak rasa. Kopi goodday punya banyak rasa untuk harimu..

Lee Donghae menyesap secangkir caramel coffe goodday yang entah sejak kapan sudah ada ditangannya, “Sayang?”

“Ckkk…” terdengar decakan malas dari seberang,

“JANGAN DITUTUP TELFONNYA!! PLEASE!!” Tahan Donghae, memohon. Ia seolah tau apa yang akan dilakukan Seongrin beberapa detik kemudian.

“Oke! Apa?” suara lemah Seongrin menyahut.

“Katakanlah sesuatu..” desah Donghae. Ia berharap Seongrin akan mengatakan ‘Aku cemburu’ atau ‘Aku cinta kamu, jangan bikin skandal lagi’ atau..

“Maaf nggak bisa jadi sehebat Sunye onnie..”

“Uhukk.. Uhukk..” Donghae tersendak caramel coffenya, “NGOMONG APA SIH, LOPPHY?”

Dari Seoul sana, Seongrin tersenyum miris menahan isak, “Kalian cocok kok..”

“Lopphy, dengarkan aku!” kini ganti Donghae yang nyaris menangis di ujung telfon. Suaranya mulai ringkih. Perih sekali saat tau kepercayaan Seongrin untuknya sudah hilang..

“Kau butuh yang seperti dia! Yang sama-sama Idol. Yang sekelas papan atas. Kalian akan saling mengerti dengan kesibukan masing-masing..” potong Seongrin. Gadis itu merosot jatuh dibawah meja telfon, menangis tertahan. Ada jutaan rasa sakit saat ia mengucapkan kata-kata itu.

“LOPPHY STOP IT!!! DENGARKAN AKU!!” dengan emosi, Donghae menekan cangkir kopi ditangannya hingga pecah berkeping-keping.

“Dulu kau juga sempat dekat dengannya kan Donghae ya?” balas Seongrin, tak mengindahkan Donghae. Suaranya terdengar begitu parau namun sinis. Menusuk.

“JEBAL!! JANGAN BEGINI! Panggil aku ‘Pokky’!” Donghae benar-benar menangis sekarang, Seongrin bisa mendengarnya dengan jelas dari seberang.

“Jangan begini… Lopphy.. panggil aku ‘Pokky’, panggil aku begitu..” isaknya, begitu ringkih. Ia menjambaki rambutnya sendiri dengan tangan yang berlumuran darah..

Seongrin membekap mulut. Ia tidak boleh menangis. Tidak, sekalipun Donghae sudah terisak memohon diseberang sana. “Kenapa?? Kenapa aku masih harus memanggilmu dengan sebutan itu?”

“Lopphy, Please…” suara Donghae bergetar, pilu.

“DONGHAE YA, PLEASE!!!” Jerit Seongrin, ia tak kuat lagi, “Aku sudah berusaha jadi gadis yang kuat untukmu selama ini! Selalu! Aku selalu mencoba mengerti posisimu sebagai seorang idol! Aku selalu mencoba sabar dan menahan rasa sakit tiap kau bertingkah dengan yeoja idol lain! Aku selalu mencoba tenang saat kau tebar pesona pada seorang elf di setiap SuShow! AKU SELALU MENCOBA!! APA KAU TAU ITU??” tangisnya pecah.

Donghae tersentak, ribuan jarum serasa menusuk batinnya. “Lopphy…”

“TAPI SEKARANG AKU SUDAH LELAH, LEE DONGHAE!! Benar-benar lelah! Kenapa harus selalu aku yang mengerti kau? Kenapa kau tak pernah bisa mengerti aku?? KENAPA SELALU MEMBUAT SKANDAL TANPA MEMIKIRKAN RASA SAKIT YANG HARUS AKU TAHAN??” Jerit Seongrin lagi. Gadis itu tak peduli sudah seberapa sesak dadanya saat ini. Ia hanya ingin merasa lega, itu saja…

Donghae membentur-benturkan kepalanya sendiri ke belakang tembok. Bodoh! Benar-benar bodoh! Bagaimana bisa selama ini ia tak menyadari itu? Bagaimana bisa ia terus menyakiti Seongrin padahal gadis itu selalu mencoba bertahan?? Bagaimana bisa ia begitu jahat dan egois dengan kekasihnya sendiri?? Bagaimana bisa??

“Lopphy, Maaf.. aku…”

‘Tuttttt… Tuuttt…. Tutttt….’

***

And If I open my heart to you,

I’m hoping you’ll show me what to do

And if you help me to start again,

you know that I’ll be there for you in the end..’

“Oke.. Yesung shhi, sepertinya aku lebih merindukan kehadiran Eunhyuk disini..” cletuk Leeteuk setelah lagu ‘Way back into love’ selesai di putar.

Yesung manyun sambil membenarkan posisi duduknya, “Arra.. kau ingin membuangku dari Sukira?”

“Hahaha.. kurasa fans memang lebih suka Eunteuk daripada Yeteuk..” Leeteuk terkekeh kecil sambil kemudian memasang headphone-nya, “Baiklah, Angel Teuki-Teuki disini, saat-nya free call untuk kalian yang mau request lagu..”

“Atau untuk sekedar titip salam buat DJ-nya yang imut juga boleh,” tambah Yesung yang langsung mendapat jitakan dari Teuki.

“Oke, ada satu telfon masuk sepertinya, Hallo…”

“Hallo Assalamu’alaikum…” sahut suara sang penelfon.

“Wa’alaikumsalam, dengan siapa dimana?” sambut Yesung.

“Dengan Hamba Allah di Seoul aja, oppa..”

“Noona Hamba Allah ini suaranya kok serak sekali, lagi radang tenggorokan ya?” ledek Yesung. Suara gadis yang menelfon itu memang sedikit parau..

“Ne..”

“Apa Noona sedang di dekat kompor?” Leeteuk menyambar tiba-tiba.

“Aniyo, Waey?”

“Benarkah? Soalnya hatiku terasa panas membara mendengar suara Noona..” goda Leeteuk yang langsung disambut gelak tawa studio.

“YA!! Kau ini jago sekali menggombal! Kadang lebih parah dari Donghae..”

“Hahaha…” gadis yang menelfon juga tertawa kecil walau terdengar getir dan dipaksakan, “Oppa, boleh aku request sebuah lagu?”

“Tentu..”

Yesung siap-siap promo, “Mau apa? Let’s not? Registration? It has to be you? What if? Atau..

Suara penelfon memotong cepat, “Hahaha.. ani. Aku minta Oppa Nappa dari SNSD onnie…”

………………………………………………………………………

.Da aneunde nan aninde

Geuraedo nohchigi shilheunde

Ddak hanbeonman nae maleul deuruhyo

Oppa apeseon yeojaranmariya

.Narang baphanbeon meokneunge

Geureohke himdeungayo

Ijeotdamyeonsuh honjaramyeonsuh

Geu unnin wae mannanayo

.ajik naneun andoenayo

Manhi boojokhangayo

Hanbeonman nal mideobwayo

Naega jal hal soo inneunde

.Wae jagguman utgimanhaeyo

Naega geureohke aegi gatnayo

Ddak hanbeonman nae jinshim deuruhyo

Oppa apeseon yeojaranmariya

.Narang baphanbeon meokneunge

Geureohke himdeungayo

Ijeotdamyeonsuh honjaramyeonsuh

Geu unnin wae mannanayo

.Ajik naneun andoenayo

Manhi boojokhangayo

Hanbeonman nal mideobwayo

Naega jal hal su inneunde

.Harue~ manbeon

Saenggagi~ nayo

Noonmulinado nan ireohke chama

.Geudael saranghamyeon andoel iyoorado innayo

Ijeotdamyeonsuh honjaramyeonsuh

Geu unnin wae mannanayo

.Oppan jeongmal nabbeunsaram

Jeongmal nae mameul molra~ nal mideobwayo

Nado jalhalsoo inneunde

………………………………………………………………………

Leeteuk memutar kursinya dan kembali ke Mraff, “Oke. Itu lagu yang bagus dan sangat memilukan dari Yedongsaeng kami di SM..”

“Kami yakin Noona pasti punya alasan meminta lagu ini, benar?” Yesung sok tau.

Terdengar helaan nafas berat, “Ne, garaeyo..”

“Baiklah, mungkin Noona mau titip salam? Untukku mungkin, agar suaraku bertambah merdu. Atau untuk Shindong agar mengurangi berat badannya? Atau untuk Eunhyuk agar berhenti mengupil di tempat umum?” Yesung masih berkoar, sementara Leeteuk tiba-tiba terdiam ketika merasakan sesuatu yang tidak asing.

“Eumh.. Ya, untuk seseorang yang sudah menyakitiku untuk kesekian kalinya..” sahut sang penelfon, suaranya bertambah parau kali ini.

“Wooahhh…” jerit Yesung. Sementara Leeteuk hanya mengigit bibir bawahnya,

“Aku mau bilang. Dalam cinta memang harus ada kepercayaan. Tapi kepercayaan saja tidak cukup. Terlalu sering menggunakan kepercayaan, akan membuat kepercayaan itu semakin kikis. Aku bukan ragu padamu. Aku hanya merasa kepercayaanku padamu mulai berkurang..” terdengar suara isakan kecil dari seberang.

“Jadi, bisakah kau berhenti menguji kepercayaanku dengan tingkah itu?? Aku mohon..” sambungnya lagi, benar-benar lirih kali ini.

Yesung menelan ludah, “Ahh.. Jincha.. romantis sekaligus mengharukan sekali. Menurutmu bagaimana Leeteuk sshi?” ia menyenggol lengan namja di sebelahnya..

“SEONGRIN AHH, INI KAU KAN??” lengking Leeteteuk tiba-tiba.

“Heh?” Yesung bingung.

“SEONGRIN AHH, JAWAB OPPA!!”

‘Tuttttt… TUtttt… Tuuuttt…’

***

Geudael saranghamyeon andoel iyoorado innayo

Ijeotdamyeonsuh honjaramyeonsuh

Geu unnin wae mannanayo

Oppan jeongmal nabbeunsaram

Jeongmal nae mameul molra~ nal mideobwayo

Nado jalhalsoo inneunde….’

Donghae menghela nafas, airmatanya sudah mengalir pelan sejak lagu itu mulai diputar tadi. Buru-buru ditutupnya laptop Apple with. Ia pikir, mendengarkan Sukira akan sedikit menghibur untuk malam ini, tapi ternyata?? Salah besar!! Salah besar setelah ia menyadari penelfon pertama yang masuk di acara radio itu. Kekasihnya sendiri..

Oppa Nappa? Itukah ungkapan hati Seongrin untuknya? Apa ia benar-benar sudah menyakiti Seongrin terlalu dalam? Apa kepercayaan Seongrin untuknya benar-benar mulai luntur?? Apakah ia terlalu jahat selama ini karena tak pernah mengerti Seongrin??

“Maaf…” Donghae melirik secangkir caramel coffe diatas meja, “Berikan aku satu kesempatan lagi untuk tetep bisa menikmati secangkir caramel coffe bersamamu..”

Donghae beranjak, kemudian mendekati Zhoumi yang tengah mengkomposer lagu di ruang tengah. Ia menatap leader SuJu M itu dengan penuh harap, “Aku minta izin pulang ke Seoul. beberapa jam saja. Besok pagi aku pasti sudah ada di Taipe lagi..”

Zhoumi tampak menimangbang-nimbang, ia melirik arlojinya sekilas sebelum kemudian menyerahkan sesuatu ke tangan Donghae “Ingat! Jam 10 pagi, kau sudah harus ada disini..”

Donghae tersenyum mendapati apa yang digenggamnya saat ini. Tiket penerbangan Taipe-Seoul. Bodoh. Semua member bahkan sudah menyiapkan tiket ini untuknya, “Gomapta..”

“Tunggu apa? Pesawat berangkat setengah jam lagi. Cepat ke bandara!!” seru member SuJu M yang lain dari arah belakang, “Taxi sudah menunggu di depan!!”

***

Leeteuk berdiri di depan pintu kamar Seongrin yang terbuka. Diam sebentar. Sengaja tak mau menimbulkan suara sekecil apa pun. Dipandanginya lekat-lekat, sosok sang adik yang tengah termenung di sisi ranjang, sambil menatap keluar jendela. Mungkin sedang menghitung bintang? Atau sekedar mencari angin malam?? Entahlah, yang jelas ia terlihat sangat rapuh.

“Orin ahh..”

Seongrin menoleh, “Soo Oppa…”

“Ngapain telfon-telfon ke Sukira? Cari sensasi??”

Seongrin buru-buru menghambur kedalam pelukan Leeteuk, dan tiba-tiba saja langsung menangis hebat dalam dekapan kakaknya itu, “Oppa.. aku lelah, benar-benar lelah..”

Leeteuk tersenyum miris, mendekap Seongrin semakin erat, “Menangislah sayang, menangislah pada oppa selama kau masih merasa sesak..”

“Aku benci dia!! Aku benci dia!!” Seongrin terus merancau dalam tangisnya.

Sambil terus memeluk Seongrin dalam dekapan, Leeteuk membimbing adiknya itu untuk kembali duduk di tepi ranjang, “Hey, bukankah Park Seongrin itu gadis yang kuat?”

Leeteuk melepas pelukannya, mengangkat dagu Seongrin, kemudian mengusap air mata gadis itu perlahan, “Tersenyumlah, sayang..”

“Bagimana aku bisa tersenyum kalau semuanya tidak baik-baik saja?”

Leeteuk mengecup kening adiknya dengan penuh kasih sayang, “Bukan karena semua baik lalu kita tersenyum, tapi karena kita tersenyum makan semua menjadi baik..”

“Nyontek kata-kata dari mana?” cletuk Seongrin, gadis itu mulai menyeka air matanya sendiri.

“Dari SooJin. Hahaha…” Leeteuk terkekeh malu sambil mengacak-acak rambut adiknya, “SooJin tanya sama Oppa kemarin, kenapa kau belum menyelesaikan artikel utama untuk majalah Ceci? Ayolah, katanya Jurnalis professional..”

“Tapi aku ini kan tetap gadis biasa yang bisa sakit hati..” desah Seongrin, cemberut.

“Iya deh, iya. Udah donk. Jangan sedih terus. Mau oppa panggilin Chansung 2PM biar dia meluk adik oppa yang cantik ini semaleman?” goda Leeteuk.

“Andwae!!!”

“Hahaha.. Kau masih menjaga perasaan Donghae ternyata..” Leeteuk menyentil hidung sang adik.

Seongrin manyun sambil menggosok-gosok hidungnya, “Aniyo. Buat apa aku menjaga perasaanya? Dia juga nggak pernah menjaga perasaanku..”

“Ssttt.. udah-udah. Sekarang tidur, udah malem. Arra?” potong Leeteuk seraya merebahkan Seongrin ke posisi tidur, kemudian menyelimutinya…

“Orin tidur, tapi Oppa sini aja..” Seongrin mencekal lengan kakaknya, “Oppa temenin Orin tidur. Ya? Please..” pintanya penuh harap.

Leeteuk terdiam sejenak. Tampak berfikir keras hingga kemudian mengangguk kecil, “Oke, oppa temenin Orin tidur..” putusnya. Ia kemudian ikut merebahkan diri di samping Seongrin, lalu memeluk adiknya itu dengan erat, “Oppa disini, jadi… ayo tidur!!”

Seongrin tersenyum kecil, kemudian menutup matanya, “Gomapta..”

***

……………………………………….

………………………………………………….

Gantikan posisiku.. Dia lebih membutuhkanmu untuk memeluknya..”

Terimakasih hyung telah menenangkannya..”

Sekali lagi kau sakiti dia, maka aku akan benar-benar menyerahkannya pada Chansung..”

Maaf hyung, aku tau aku salah..”

Kau akan terus menyayanginya kan?”

Selalu. Bahkan jika suatu saat nanti aku tak lagi mampu untuk itu, aku akan tetap berusaha menyayanginya sebisaku..”

……………………………………….

………………………………………………….

Dalam tidur pulasnya, Seongrin samar-samar mendengar potongan percakapan itu. Percakapan antara sang kakak dan kekasihnya. Entahlah, mungkin hanya mimpi. Tapi gadis itu tetap mengulaskan sebuah senyum kecil kala mata coklatnya itu masih tertutup lembut. Bahagia, mendengar bahwa seorang Lee Donghae akan selalu menyayanginya. Ya, walau itu hanya dalam mimpi..

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar, terasa amat menyilaukan. Seongrin menggeliat pelan di atas ranjang, kemudian membuka matanya perlahan. Masih sedikit ada kantuk memang. Gadis itu menyingkap selimutnya,

“Oppa??” Panggilnya, serak, seraya mengucek-ucek mata. Tak ada sahutan.

Seongrin membetulkan letak bantal dan menyandarkan punggungnya di badan ranjang, mengedarkan pandangan keseluruh sisi kamar, “Ahhh.. Soo oppa sudah pulang..”

“Caramel Coffe?”

Suara itu membuat mata Seongrin membulat kaget. Seorang pria menyeruak masuk kedalam kamarnya sambil membawa 2 cangkir minuman yang asapnya masih tampak mengepul. Tercium jelas aroma favoritnya. Caramel coffe hangat..

“Morning, Lopphy…” pria yang tak lain adalah Donghae itu meletakan kedua cangkir caramel coffe tadi keatas rak kecil disamping ranjang.

“Sedang apa disini?”

Donghae melemparkan satu senyum manis, “Masa tidak boleh mengunjungi kekasih sendiri?”

“Kekasihmu bukannya di Dorm Wonder girls?” Sahutan sinis Seongrin membuat Donghae terhenyak diam, benar-benar merasa tak enak hati.

“Kau seharusnya berada di kamar Sunye onnie pagi ini..” tambah Seongrin lagi, gadis itu dengan cuek menenggelamkan wajahnya kedalam selimut.

“Lopphy, ayolah..”

“Terserah…”

“Jeongmal Mianhaeyo..” Donghae meraih telapak tangan Seongrin dari bawah selimut, lalu mengecupnya, tapi setelah itu Seongrin buru-buru menyentak.

Donghae menghela nafas berat. Namja itu mendudukan diri di tepi ranjang sambil menyesap secangkir caramel coffe-nya, “Aku minta maaf. Mungkin selama ini aku tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukmu. Aku egois. Cemburuan. Tapi juga selalu membuatmu cemburu..”

“Aku bodoh. Selalu bertindak semauku, selalu tebar pesona di depan yeoja-yeoja lain, selalu bikin sensasi, selalu dengan mudah bilang suka pada para yeoja idol. Aku selalu melakukan semua hal tanpa pernah memikirkan perasaanmu nanti. Maaf.. Aku memang benar-benar bodoh..”

“Kau memang bodoh..” desis Seongrin dari balik selimut.

“Harusnya aku sadar kalau aku bukan single lagi. Harusnya aku sadar kalau aku sudah punya kau. Harusnya aku sadar bahwa kau sudah mati-matian percaya padaku. Harusnya aku sadar bahwa kau sudah bertahan untuk waktu yang lama. Harusnya aku sadar kalau semua tingkah lakuku akan sangat berpengaruh dengan perasaanmu. Harusnya aku sadar.. Tapi aku terlalu bodoh..” Donghae mulai terisak, merutuki dirinya sendiri.

Dibalik selimut putih tulang itu, Seongrin masih tampak diam. Tak bergeming. Tapi sebenarnya, diam-diam ia menitihkan air mata. Diam-diam ia membekap mulutnya sendiri. Diam-diam ia menahan jerit tangis yang nyaris tumpah.

“Lopphy, kau boleh marah. Kau boleh memakiku. Kau boleh mengacuhkanku. Karena aku tau, aku memang pantas mendapatkan semua itu…” Donghae semakin ringkih. Ia membenamkan kepalanya kedalam dua tangan.

“Tapi kumohon, maafkan aku. Aku masih ingin berada di sisimu. Menjadi satu-satunya orang yang menemanimu menyesap secangkir caramel coffe di teras belakang. Menjadi satu-satunya orang yang memanggilmu ‘Lopphy’. Menjadi satu-satunya orang yang mengusap sisa Cherry ice cream di sudut bibirmu. Menjadi satu-satunya orang yang kau cintai dan mencintaimu atas rasa nyaman..”

Seongrin bisa mendengar getaran ringkih dalam suara Donghae. Penuh penyesalan. Tapi gadis itu benar-benar belum bisa keluar dari selimutnya. Belum untuk sekarang. Ia tak mau terlihat seperti gadis cengeng dengan mata sembab di depan Donghae..

“Maaf, Lopphy…” Donghae marik nafas, pandangannya tertuju pada secarik kertas yang tertempel di sisi jendela. Ia meraihnya..

………………………………………………………………………………………….

Dia memang tak pernah berjanji untuk tak pergi..

Tak pernah berjanji untuk membuat hatiku tenang..

Atau mengumbar mimpi tentang sehidup semati..

Tidak juga sekedar menguntai kata tentang selalu di sini..

Dia memang tak perlu bilang tentang rasa yang disimpan..

Tidak juga bicara asa yang tak pernah ingin terpatahkan…

Atau sekedar mengobati sakit yang tak terniat untuk ditimbulkan…

Tapi seperti biasa aku tetap terluka. Mungkin dia juga?

Tapi tetap saja, aku yang paling terluka…

………………………………………………………………………………………….

Donghae tersenyum membaca seutas puisi dari coretan tangan Seongrin. Untuk dirinya, ia tau betul itu. Namja itu mencari pulpen di laci rak, kemudian balas menuliskan puisi lain dibalik kertas tadi. Kemudian meletakannya di bawah secangkir caramel coffe milik Seongrin.

“Kau tau, Lopphy?? Kadang kita tak butuh hal manis seperti cherry ice cream. Kadang kita tak butuh hal kental seperti juss alpukat. Tidak juga hal masam seperti blueberry milk..” Donghae menyeka air matanya yang nyaris tumpah,

“Kadang kita hanya butuh secangkir caramel coffe hangat untuk dinikmati bersama. Cukup itu. Karena sepaket cinta kita sudah tersaji lengkap disana..”

Ia tersenyum kecil sambil terus menatap Seongrin yang masih meringkuk di bawah selimut, “Caramel coffe. Jika kau minum pertama kali, yang akan terasa adalah manis krimnya. Kemudian lama-lama akan terasa sedikit hambar. Terus kau minum, semakin terasa pahit dari rasa asli kopi. Tapi disaat-saat akhir kau menyesapnya, akan kembali teras manis karena endapan caramel..”

Belum juga ada reaksi dari Seongrin. Donghae menyerah, “AKU MENCINTAIMU!! Aku hanya butuh kau percaya pada kata-kata itu..” Ia beranjak dari tepi ranjang, berlalu keluar meninggalkan kamar.

Satu detik…

Lima detik…

Sepuluh detik, merambat lebih..

Seongrin keluar dari dalam selimutnya. Sepasang mata coklat itu tampak sembab. Hidung mancungnya tampak merah. Pipinya basah oleh keringat yang bercampur air mata..

“Caramel coffe..” ia melirik kearah secangkir caramel coffe hangat di atas meja, ada secarik kertas yang terselip di bawah cangkir putih dengan aksen bunga merah jambu itu. Seongrin meraihnya perlahan, sebuah.. balasan puisi??

………………………………………………………………………………………….

Kini aku berjanji untuk tak pergi dari jiwamu..

Kini aku berjanji untuk membuat hatimu tenang..

Serta mengumbar mimpi tentang sehidup semati..

Juga menguntai kata tentang selalu di hati..

Aku memang tak perlu bilang tentang rasa yang disimpan..

Tidak juga bicara asa yang tak pernah ingin terpatahkan…

Tapi aku akan mencoba mengobati sakit yang tak terniat untuk ditimbulkan…

Dan untuk selanjutnya, kuharap kau tak lagi terluka. Mungkin aku juga?

Tapi aku tak peduli, yang jelas aku tak akan membiarkan kau terluka lagi.

………………………………………………………………………………………….

Seongrin tertegun. Air matanya kembali mengalir, bersamaan dengan seulas senyum tipis yang terkembang di bibir pucatnya, “Pokky, Gomapta..”

Lalu detik berikutnya, ia buru-buru beranjak dari ranjang, dan berlari keluar kamar. Dengan tergesa ia berlari menuruni tangga, memutar pandangan, kemudian berteriak pada sosok seorang namja yang hendak melangkah keluar dari pintu depan,

“POKKY!!!!”

Donghae menoleh, sedikit kaget mendapati sosok Seongrin yang tampak kusut itu tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan ‘Pokky’, “Kau kembali…”

Seongrin menyeka air matanya perlahan, lalu berjalan mendekat kearah Donghae, selangkah demi selangkah, “Bukankah agar menjadi caramel coffe, cinta kita harus berakhir manis, Pokky?”

Donghae tersenyum, “Lopphy??”

Seongrin menghentikan langkah, kemudian merentangkan tangannya dengan manja, “Peluk aku sekarang, atau kau akan benar-benar akan kehilangan ‘Lopphy-mu’ selamanya..”

Lee Donghae tak membuang waktu. Ia segera berlari kecil dan buru-buru mendekap tubuh Seongrin kedalam pelukannya. Erat. Begitu erat. Seolah tak ingin membiarkannya lolos walau sedetik. Dibelai dan dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang, kemudian berbisik, “Kau mau secangkir caramel coffe lagi, Lopphy?”

……………………………………

…………………………………………….

About Mrs.Coffee

Cola. Coffee. Cola. Coffee. Cola. Coffee :9

Posted on 20 April 2011, in AUTHOR, Seongrin Park, Super Fanfiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. WaahH ff ny k0mpLit bngt.. Ad sedih ny, lucU ny, and r0mantiz nY yG pling penting.. MenariKk dEch pk0k ny… d tUngGu ff yg lucu and r0mantizZ ny…

  2. Aaaaaaaaah sedih, bagus banget ceritanya haha lucu jg😀

  3. Tenkqyu..😄

  4. annyeong,, readers baru ninggalin jejak!!!!
    sedihhhhhhh!!!!! pengen nangis baca ny ,, hae mank selalu bikin yeoja ny sakit hati dng skandal ny termasuk aq uga!! neomu apha****

    tapi pass ending ny bikin terharu, kirain bakal sad ending gtu!! trnyata nggak udah mah baca nya sambill dengerin lagu ny bdsk yg ” hug ” passs bgt!!
    daebakkk chingu,, d tunggu ff selanjut ny!!

  5. huwaaa… so sweet bgt deh thor!!🙂 DAEBAK pas lg dengerin lgux ukiss-0330 jdi dpt feelx deh!! :”(

  6. waw ffnya keren bgt😀

  7. anyeonngg, saiaa readers baru nih😀
    ffnya so sweet bangettt….

  8. Huahaha authornya sekalian ngiklan, minta royalti. .
    FFnya lengkap, sedih, humor,manis, asam, asin, rame rasanya?!
    *plak!
    Suka bgt. .Keep writing yahh!

  9. siwooooooooon ….. *lho koq?!*
    donge emang romantis ya ..

  10. missnandaa 최민호

    Oke haeppa nangis sampe ingusan plus ngesot itu lawak bgt thor! Wkwkwkwk… xD
    YA!! Hyukkie ngapaiin pelukan sm siwon oppa? Itu suamimu lagi mewek woy… *loh
    FFny keren thor kocak pula =)
    lanjutkan!!

  11. kkangrii 강영리♥

    ASRIIkuuu babykuu sayangku cintakuuuuu…. Akhirnya kau kembali ke blog ini X) Seneng deh …. *lompat2 breng Key*

    AS USUAL LAH! FFMU EMANG DAEBAK ASS! Selalu aja punya ide setiap ada kejadian apa gitu (?) jiwa penulis emang kamu. Oyah btw, kamu tahu aku kan? -___- jangan2 pangling neh gara2 IDku, LOLOL.

    Maaaf bng ya as, aku jarang buka fb sekarang. Jadi aku baca FFmu yg diblog ini ajalah. Makanya sering posting di sini *plak*

    Ayo post yang lain lagi. Kalo perlu SEMUA FFMU *ngakak*

    Btw, Did u know? Readers pada nagihin My Love Or My Brother noh…. Kasihan as u,u ayo lanjut. Aku kan juga pengen baca lanjutannya. Ekekekeke….

  12. co cweeet…
    tapi nanggung cerita.a… konflik.a juga kurang kerasa… kalo sunye juga ikut ambil peran pasti lebih seru… apa lagi ada adegan bunuh diri… uhhh sadis baget *apa dah -.-?*
    next story.a di tunggu ya author…^^

  13. Wow,wow,wow. Kereen So sweet..🙂

  14. So sweet..
    Aq ska ff’a..!

    Aq tggu kry slnjt’a.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: