[FF/S1/PG-15] Confidence and Treason

Confidence and Treason

 

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast

Jung HyunRa (YOU)

Choi MinHo

Support Cast

Lee Jinki

Jessica Jung

Kim Kibum (Super Junior)

Rating: PG-15

Length: oneshoot

Genre: Romance, Tragedy, Sad Romance

Summary: “Saranku, gugurkanlah kandunganmu karena aku belum bisa menikah sekarang.”

A/N: Annyeong readers! Aku kembali dengan FF oneshoot ketujuh looh~ Happy reading all~ jangan lupa RCL (read, comment, like) gomawooyoo~ GO AWAY PLAGIATORS!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yura’s POV

Sinar merah oranye menyinaritubuhku. Awan-awan yang menggumpal bergerak cepat mengiringi matahari yang kian menghilang dari pandanganku. Angin berhembus kencang menerpa wajahku. Rasanya cukup sakit karena angin terebut adalah angin kiriman tuhan untuk menegurku. Aku sangat mengetahui tuhan sangat marah kepadaku saat ini. Ini dikarenakan karena aku ingin melakukan tindakan bodoh yang dilarang oleh agama manapun. Tetapi, aku tidak takut dengan tuhan. Aku tidak takut akan ancamannya kelak. Toh nanti juga aku akan selalu bersama namjachingu-ku di neraka.

Namjachingu-ku…

Namjachingu-ku? Aku tidak yakin akan kata-kata yang baru saja kupikirkan itu. Aku memang mempunyai seorang namja yang merebut hatiku dari para namja-namja lainnya. Aku mengakui bahwa aku sangat menyayanginya. Aku juga sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Aku sangat yakin namja itu juga sangat menyayangiku dan mencintaiku dengan sepenuh hati. Namja pemilik marga Choi itu lebih tepatnya pernah menyayangiku dan mencintaiku. Tetapi itu dulu dan bukan sekarang. Segalanya berubah semenjak kejadian itu…

– FLASHBACK –

“Mm … aku didaerah Ginza. Kenapa? … Oh? Kau memangnya sekarang ada dimana? … Harajuku? … okay, tunggu aku disana … Hmm, bagaimana kalau sushi saja?”

Kututup telepon yang kuterima dari seorang namja yang baru saja kukenal dari jejaring sosial dua minggu yang lalu. Aku belum pernah melihat dan bertemu langsung dengannya. Aku hanya melihat foto-fotonya saja selama dua minggu ini. Laki-laki tampan yang mempunyai rambut hitam legam, mata yang sangat besar dilengkapi dengan manik hitam legam yang sangat dalam. Hidungnya mancung tanpa cela dipadukan dengan wajah oval yang mempunyai pipi sedikit tirus. Namja yang memiliki bibir tebal berwarna pink pudar itu bernama Choi MinHo. Orang itu sangat sempurna dalam bayanganku. Namun, yang namanya foto kan bisa di edit. Jadi, aku tidak terlalu meyakini bahwa dia sempurna.

Ia yang mengajakku berkenalan duluan. Saat aku meng’accept’nya dari friend request, keesokan harinya aku menerima chatbox dari namja tersebut dan mengobrol. Ternyata, namja itu tinggal tidak jauh dari rumahku. Hanya tiga blok saja dari rumahku. Tak lama kemudian, ia meminta nomor teleponku. Aku memberikannya kepada namja itu karena aku merasa nyaman dengannya. Jarang sekali aku cepat akrab dengan orang asing. Itu dikarenakan sifatku yang dingin dan sinis. Namun, entah apa yang membuatku sangat nyaman ketika mengobrol dengan namja ini. Lalu, semenjak itu, namja tersebut sering mengirimkan pesan singkat kepadaku. Tidak jarang juga kami berbicra lewat telepon seperti yang tadi kami lakukan.

Aku berada di Jepang sekarang aku sedang libur semester dan umma appa sangat ingin mengunjungi perusahaan kami yang berada di Jepang. Sementara namja itu? Ia berada di Jepang karena menjenguk saudaranya yang berada di Nakita. Namun, ia tidak ikut berkunjung kesana karena ia malas bertemu dengan saudara-saudaranya yang berasal dari Jepang. Ia sama sekali tidak mengenal mereka semua. Alhasil, yang pergi ke Nakita hanya umma dan appanya saja. Ia tetap tinggal di apartementnya yang berada di Tokyo dan memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian karena kakaknya, Choi SiWon tidak ikut ke Jepang karena ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sangat membuatnya sibuk di Korea. Bahkan, sekarang kakaknya sedang berada di Nice untuk bertemu klien disana. Maklum, seorang bussiness man.

Tadi dia mengajakku bertemu di Harajuku kah? Sungguh, aku gugup sekali. Aku gugup karena akan bertemu dengan seorang namja yang belum pernah kutemui sebelumnya. Biasanya, setiap kencan buta yang kualami, pasti aku akan mengajak seseorang untuk menemaniku. Aku terlalu pengecut untuk pergi sendirian menemui namja-namja itu. Namun, sekarang aku berada di Jepang bukan di Korea. Kakakku, Sica onnie tidak ikut ke Jepang karena ia sudah menikah dengan Kibum oppa dan tidak mungkin meninggalkan suaminya sendirian. Tidak mungkin kan aku mengajak umma atau appa untuk bertemu dengan MinHo? Dengan terpaksa, aku pergi sendiri kali ini. Dan faktanya, perjalananku dari Ginza ke Harajuku di halte bus, didalam bus, dan sepanjang perjalananku dari halte bus sampai didepan restaurant sushi tempat kami akan bertemu, aku terus berdoa. Namun, kekusuhkanku buyar saat telingaku mendengar lagu reff dari Weight of The World-nya Evanescence. Kubuka slidenya dengan telunjuk kananku dan mendapatkan bahwa namja itu mengirimkan pesan.

From: Choi MinHo

Kau dimana? Aku sudah kelaparan nih! Oh ya, kalau kau sudah sampai, kau minta diantarkan saja langsung ke meja nomor 10 dan aku disitu memakai jaket biru. Kau bisa bahasa Jepang kan? Ah! Tentu saja kau bisa. Okay, kutunggu kau 15 menit lagi. Kalau kau tidak datang, aku pulang saja. See you soon~

Aku mendapatkan diriku tersenyum-senyum sendiri. Namja itu seperti menganggap kami sudah lama mengenal dan sering bertemu. Sangat terlihat dari bahasa yang ia kenakan kepadaku. Orang ini pasti sangat easy going dan mempunyai kepribadian yang baik. Aku semakin tidak sabar bertemu namja tersebut. Tetapi, semakin aku membulatkan keyakinan itu dalam hatiku, aku merasa semakin lemas karena aku akan bertemu seorang namja yang tidak kukenal itu.

Kudorong pintu kayu yang sudah menjadi ciri khas Jepang itu ke samping kanan. Saat itu juga, seorang yeoja datang menghampiriku dan menanyakan ‘meja untuk berapa orang’. Tapi, aku mengatakan kepadanya bahwa aku sudah ditunggu seseorang di meja nomor sepuluh. Kemudian, yeoja cantik itu tersenyum dan membawaku ke meja nomor sepuluh tersebut. Disana, ada seorang namja berjaket biru yang sedang men-tulikan telinganya sendiri dengan headphone besar berwarna biru. Bisa kuanalisis dia sangat menyukai warna biru karena atribut yang ia kenakan semuanya berwarna biru. Tiba-tiba, ia meregangkan otot lehernya. Dan saat itu juga, matanya yang indah bertemu dengan mataku…

Minho’s POV

Omonaaaa!!!!! Apa yang kulakukan? Aku mengajaknya bertemu kah? Demi tuhan! Apa yang merasukiku hari ini? Aku sangat tidak siap untuk hal tersebut. Aku belum memperisapkan diri dengan benar. Mentalku yang tidak terlalu baik bisa ditertawakan olehnya. Aku memang merasa nyaman bila berbicara lewat sms atau telepon. Tetapi, sekarang aku akan berbicara dengannya langsung! Minho paboya! Bahkan pakaian yang sedang kukenakan sangat berantakan. Kaos oblong biru dengan jaket baseball biru hitam, celana jins biru donker, dan sepatu nike biru hitam. Entah mengapa aku merasa seperti tante rambut palsu. Bagi anak-anak yang dididik untuk menonton sinetron latin pasti tahu siapa tante rambut palsu itu.

Ketika berjalan menuju retaurant tempat kami akan bertemu, aku melihat sebuah toko kecil ayng menjual beraneka macam permen. Tiba-tiba, aku teringat dengan hadiah yang harus kuberikan kepada yeoja itu agar aku bisa menyajikan kesan pertama yang bagus. Bagiku, tidak ada seorang yeoja yang tidak menyukai lolipop. Apalagi bila sudah merasakan asam manis dari rasa lolipop tersebut. Dan aku yakin, yeoja yang akan kutemui ini adalah maniak lolipi. Keyakinan itu didukung oleh profile picture yang ia pakai di jejaring sosial. Ia berfoto bersama teman-temannya dengan latar belakang salah satu toko lolipop terkenal di Korea. Bibirnya saat itu juga terlihat lengket. Disudut bibirnya juga terdapat bahan perwarna biru yang samar dan sebenarnya tidak terlalu terlihat. Tapi, hal-hal kecil tersebut memberikan petunjuk bahwa ia memang menyukai lolipop. Kadang-kadang, aku bersyukur mempunyai mata besar dan tajam walaupun banyak orang yang tidak menyangka bahwa aku orang Korea tulen

Setelah membeli lolipop yang ukurannya lumayan besar, aku melanjutkan perjalananku menuju ke restaurant sushi yang tadi disebutkan oleh yeoja itu. Segera saja aku masuk kedalam restaurant tersebut dan duduk dimeja nomor sepuluh. Mengapa nomor sepuluh? Karena aku sangat menyukai nomor sepuluh karena… okay itu tidak penting. Mengingat jarak Ginza ke Harajuku cukup jauh, kuputuskan untuk mengirim pesan singkat kepadanya saat sudah sepuluh menit berada didalam restaurant. Setelah itu, kupasang headphone dan mulai memutarkan lagu Through Struggle-nya As I Lay Dying. Aku sangat menyukai musik aliran metal trash seperti ini. Sangat menghibur dan menenangkan diri bila sedang gugup dan panik.

Kuregangkan otot-otot leherku dan otot-otot tanganku. Entah mengapa, tubuhku selalu terasa pegal bila sedang gugup. Seperti ada sesuatu yang membebani tubuhku. Yaa, aku memang mempunyai syndrom cepat pegal. Bayangkan saja!! Bagaimana pikiranku tidak kacau? Sebentar lagi aku akan bertemu dengan seorang yeoja yang baru saja kukenal! Omonaa~ Detik itu juga aku menyadari bahwa aku adalah makhluk terbodoh di dunia ini. Dan saat kudongakan kepalaku kearah pintu masuk, kudapatkan seorang yeoja yang sangat cantik sedang berdiri mematung sambil memandangku ragu. Apakah dia…

“Jung HyunRa?”

“Choi Minho?”

Ucap kami bersamaan.

“Annyeong Haseyo Jung HyunRa-ssi. Choi MinHo imnida. Panggil saja MinHo.”

“Oh? Annyeong Haseyo Choi MinHo-ssi. Jung HyunRa imnida. Panggil saja Yura.”

“Hmm. Yura-ssi, salam kenal yaa!”

Aku berdiri dari posisi dudukku untuk menyalami yeoja itu. Kusodorkan tanganku kearahnya. Untuk sesaat, pandangannya kepadaku bingung dan takjub. Yaa, tanpa diberi tahu mengapa ia melihatku seperti itu aku sudah tahu alasannya. Aku sudah sering menghadapi pandangan mata seperti ini. Aku juga sudah tahu apa yang ia pikirkan sekarang. Pasti dia sekarang sedang memikirkan mengapa aku bisa sangat tinggi. Bayangkan saja! Yeoja didepanku ini hanya sebahuku. Kenyataan itu membuatnya harus mendongak keatas bila ingin melihatku.

Sedetik kemudian, ia segera melayangkan senyum yang tidak seperti senyum bersahabat karea senyum itu terlalu tipis dan sinis. Lalu, ia menjabat tanganku. Tangannya terasa halus di tanganku. Tangannya juga mungil dan menggemaskan karena tangan itu dengan gampang bisa kugenggam tanpa ada sedikitpun sisi tangannya yang terlihat. Namun, aku masih terganggu dengan senyumnya yang tipis itu. Namun aku tidak mengubrisnya. Aku tidak ingin menghancurkan kesan pertamanya saat melihatku hanya karena perasaanku yang bodoh saja.

Acara makan siang ini berlangsung dengan sangaat baik. Dia merupakan orang yang menyenangkan. Dan kekhawatiranku ternyata tidak beralasan sama sekali karena ia berkata bahwa ia memang tidak bisa senyum lebih dari setengah senti kecuali apa bila ia tertawa terbahak-bahak. Bahkan, saat aku melontarkan lelucon kepadanya, ia hanya tertawa kecil sambil menutup bibir indahnya. Ia berkata bahwa ia adalah seorang gadis blasteran Korea dan Inggris. Ia juga masih keturunan darah biru di Inggris. Maka dari itu, ia memang diajarkan untuk sopan dalam beraktifitas.

Ternyata, ia sangat menyukai sushi. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya piring yang berada di samping kanannya. Sekitar ada dua belas piring kecil bekas sushi disana. Yeoja manis didepanku ini sangat berbeda dengan difoto. Saat difoto, ia cantik. Namun, saat melihatnya langsung ia sangat cantik. Dia bukanlah tipe foto jenik dan aku suka itu. Kalau didalam foto, ia terlihat sedikit hitam. Namun, sebenarnya ia adalah yeoja yang kulitnya sangat putih. Maniknya juga terlihat berbeda. Di foto, maniknya berwarna hitam legam. Namun, sebenarnya berwarna abu-abu dan warna itu sangat menyenangkan dan menenangkan hati. Yang jelas, ia sangat cantik di foto maupun aslinya.

Rambutnya berwarna hitam. Namun, ada sedikit spot biru di bagian depan rambutnya. Ia mengaku bahwa dua hari yang lalu ia baru saja mengecat rambutnya di Harajuku. Namun, hal itu tidak mengurangi kecantikan yeoja ini. Malahan, aku merasa yeoja itu semakin cantik bila didandani dengan gaya anak-anak Jepang jaman sekarang yang sering nongkrong di daerah Harajuku. Tapi, jangan sampai terlalu berlebihan seperti kumpulan anak-anak yang sedang nongkrong dengan rok yang sobek-sobek didepan restaurant sushi ini.

Aku juga memperhatikan daerah telinganya. Telinga kirinya ditindik dua kali dengan anting berwarna putih dan hitam. Sementara telinga kanannya hanya ditindik satu kali dengan anting berwarna hitam. Ia memakai kalung bergambar tuts-tuts piano. Gelang yang ia kenakan juga berbentuk not-not seperti not setengah ketuk, penuh, seperempat, dan beberapa tanda diam. Sementara itu, ia menggunakan cincin juga di jari manis tangan kirinya dengan bentuk kunci F. Sudah bisa kupastikan dia adalah seorang musisi yang berkarya di bidang piano alias pianis.

“Okay, kamsahamnida untuk hari ini, Yura-ssi.”

“Ne. Tentu! Kamsahamnida telah menraktirku. Padahal kan aku yang makannya paling banyak.”

“Hahaha… gwenchana. Oh ya! Aku hampir lupa!”

“Hm? Ada apa?”

“Ini untukmu, Yura-ssi.” Kuberikan lolipop yang tadi kubeli kepadanya.

“Aigooo~ bagaimana kau tahu aku menyukai lolipop?”

“Itu tidak penting. Kekeke~”

“Yasudah, kamsahamnida MinHo-ssi. Aku pergi dulu. Annyeong!”

“Yura-ssi!!” Ucapku berteriak kepadanya.

“Mm?”

“Kita masih berteman kan? Kita masih bisa bertemu?”

Yura’s POV

Sesuai dengan perkiraanku. Namja didepanku ini sangat menarik. Easy going, baik, dan sangat lucu. Dia tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Kata-kata yang keluar dari bibirnya mengalir dengan sangat lancar. Percakapan kami bisa dibilang sama sekali tidak bermutu. Tetapi, hal itu menyenangkan untukku! Aku memang mencari teman yang bisa diajak bercanda dengan topik yang aneh-aneh seperti tentang iluminati, UFO, alien, monster, dan lain-lainnya. Rasanya, aku tidak ingin mengakhiri saat-saat bertemu dengan seseorang seperti ini. Namun, mengingat kepulanganku ke Seoul besok, aku harus kembali untuk membereskan barang-barangku.

Diakhir pertemuan kami, namja tersebut memberikan suatu barang yang sangat kusukai. Bahkan, dengan benda itu aku bisa melupakan dunia sejenak untuk segera memakannya yaitu lolipop. Ya, aku sangat menyukai permen berbentuk lingkaran itu karena warnanya yang lucu dan rasanya yang lezat. Asam namun manis. Aish~ tidak bisa kugambarkan kelezatannya seperti apa. Di Jepang, sudah sekitar tujuh lolipop yang kumakan selama seminggu. Aku tidak menyangka namja itu mengetahui apa yang kusuka. Darimana ia tahu bahwa aku menyukai permen tersebut? Nilai untuk namja tersebut bertambah pesat dari pandanganku sebelumnya. Akhir kata, kami saling bertukar sapaan dan selamat tinggal.

“Yasudah, kamsahamnida MinHo-ssi. Aku pergi dulu. Annyeong!”

“Yura-ssi!!” Ucapnya berteriak saat aku sedang berlari menuju halte bus.

“Mm?”

“Kita masih berteman kan? Kita masih bisa bertemu?”

Aisssh~ namja ini. Tentu saja kami masih bisa berteman dan masih bisa bertemu. Alasan apa yang membuat kami tidak bisa berteman dan tidak bisa bertemu lagi? Tidak ada kan? Lagi pula, tidak ada salahnya kan berteman dan bertemu dengan namja ini setelah acara makan siang ini? Toh aku menyukai sifatnya. Ia bisa menjadi pengganti Sica onnie bila aku kesepian. Ya! Dia akan menjadi teman baikku.

“Tentu saja! Kenapa tidak? Annyeong MinHo-ssi! Hati-hati dijalan!” ucapku dari dalam bus.

Dalam perjalanan pulang, aku selalu tersenyum-senyum sendiri mengingat yang terjadi selama dua jam terakhir. Wajah namja itu terbayang-bayang didalam benakku. Seakan dia sudah menghipnotisku untuk selalu mengingat wajahnya yang tampan. Sifatnya yang sangat kusukai walaupun dia tidak termasuk dalam tipeku. Senyumnya yang menular, dan segalanya yang didalam dirinya terekam jelas didalam otakku. Tuhan, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?

Aish~ apa yang kau pikirkan Yura-ah? Ingat! Kau sudah mempunyai seorang namjachingu di Korea yang sedang menantikan kepulanganmu dari Jepang. Ucapku kepada diriku sendiri. Ya, aku memang mempunyai seorang namjachingu di Korea yang bernama Lee Jinki. Pria tulen asal Korea itu mempunyai rambut cokelat pirang yang sangat indah. Matanya yag sipit terlihat menggemaskan apabila ia sedang tersenyum karena matanya ikut tersenyum juga. Pemilik manik berwarna hitam ini mempunyai hidung tanpa cela yang dilengkapi dengan bibir lebar yang menggoda. Semua kesempurnaan itu ada di wajahnya yang berbentuk oval.

Sifatnya yang dingin dan santai serta misterius membuatku menyukainya. Ia tidak pernah mengatakan kata-kata cinta kepadaku bahkan saat kami menjadi sepasang kekasih. Aku sendiri bingung kapan tepatnya aku menjadi seorang yeojanya. Semua itu terjadi dengan instan. Tiba-tiba saja setiap kami jalan-jalan berdua dan bertemu dengan salah satu teman namja itu, ia selalu mengatakan “Aigoo~ kau tahu kan aku tidak gampang menyukai seseorang. Tetapi, sekarang aku sudah memiliki cinta itu.” Kemudian ia akan melirik kearahku yang memandangnya keheranan dan merangkul bahuku. Secara tidak langsung ia mengaku bahwa kami adalah sepasang kekasih. Padahal, ia sama sekali tidak pernah mengatakan “Saranghaeyo, Yura-ah.” atau “Would you be my girl, Yura-ah?” atau semacamnya. Tetapi ia memanggilku dengan sebutan ‘Jagiya’ atau ‘Bubunie’. Ya, memang panggilan itu sangat konyol Tetapi aku tidak protes karena aku menyukai cara pacaran seperti itu. Walaupun aku terkadang meragukan cintanya kepadaku. Tiba-tiba, lagu Weight Of The World menyerang telingaku.

From: Dubu Jinki

Jagiya, pogoshipeo T_T kapan kau kembali ke sisiku, bubunie? Aku membutuhkanmu kau kau tahu? Tugas kuliahku tertunda selama tiga hari karena memikirkan keadaanmu di Jepang. Sungguh aku tidak bohong. >.< CEPATLAH KEMBALI!!!!

Aku tersenyum kecil meliat pesan singkat yang dikirimkan namja itu kepadaku. Kemudian, aku mengetik balasannya…

To: Dubu Jinki

Aish~ kau berlebihan sekali, jagiyaaa. NADO POGOSHIPEO!!!! Aku pulang besok. Jemput aku di bandara, okey? Umma dan appa juga sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana wujud aslimu. Persiapkan dirimu baik-baik, oppa. Jeongmal saranghaeyo Dubu❤

Kutekan tombol send. Tak lama kemudian sebuah sms diterima lagi oleh ponselku. Cepat sekali…

From: Dubu Jinki

Ne! Aku akan menunggumu sampai kau datang dan aku akan mencubiti pipimu yang sangat menggemaskan itu! APAAA??! Umma dan appamu ingin bertemu denganku? Ne! Aku akan mempersiapkan diriku sekarang. Nado bubunie ^^!❤

Yaah.. ia memang hanya membalas ucapanku dengan kata ‘nado’. Tetapi, aku tidak kecewa. Sudah biasa aku mendapatkan kata dari balasan kata cintaku seperti ini. Aku tidak memprotesnya sedikitpun. Yang jelas, ia masih memanggilku dengan kata ‘bubunie’. Sebenarnya sampai detik ini saja aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata tersebut. Alasan aku mau saja dipanggil bubu adalah karena nama itu lucu dan unik.Nah, terbuktikan sekarang! Aku hanya mencintai Jinki. Tidak ada nama Choi MinHo dihatiku. Choi MinHo… Tetapi mengapa aku masih saja memikirkan perasaanku saat terlintas namanya dipikiranku?

*1 New Message From Choi MinHo*

From: Choi MinHo

Yura-ssi. Kamsahamnida untuk hari ini ^^! Hati-hati dijalan yaa besok~ Lusa aku akan kembali ke Korea juga, Daeme to babgetsumnida, Yura-ssi! Annyeong~

Aku tidak membalas sms tersebut karena pulsaku habis setelah mengirim sms terakhir untuk namjachingu-ku alias Lee Jinki. Syukurlah aku bisa membalas sms tersebut karena aku sangat yakin bila aku tidak membalasnya, namja itu akan menerorku berkali-kali lewat telepon karena kekhawatiran yang tidak jelas. Tapi, sejujurnya aku sangat senang diperlakukan seperti itu. Setidaknya dia masih ingat akan kehadiranku didalam hatinya.

* 3 bulan kemudian *

“Oppaaaa!! Ayo cepat ke ayunan itu sebelum direbut orang…”

“Ne! Jangan tarik-tarik bajuku seperti itu, Hyunie! Nanti melar..”

Kukembangkan mulutku agar pipiku membelendung. Kemudian, namja itu mencubit pipiku dan kami berlari bersama-sama menuju ayunan yang berada didepan rumahku itu sambil bergandengan. Namja itu, Choi MinHo, sebenarnya aku merasa oppa-ku ini menyukaiku. Dan aku tidak ingin munafik. Aku juga menyukainya. Tetapi, bagaimana dengan Jinki oppa? Semenjak kedatangan MinHo di sisiku, perlahan-lahan aku melupkana perasaanku kepada Jinki. Bahkan aku merasa Jinki sudah tidak dibutuhkan lagi dalam hidupku. Sementara MinHo sendiri, ia tidak mengetahui bahwa aku sudah mempunyai namjachingu.

“Yura-ah,” ucapnya saat kami sedang berada diatas ayunan, “– saranghaeyo.”

“HEEEE?!”

“Maukah aku menjadi yeojaku, Yura? Aku serius.”

– hening…

“Jawablah Hyunie….”

“Aku butuh waktu, oppa. Annyeong.” Ucapku sambil berlari meninggalkannya sendirian

Jinki’s POV

 

Entah megapa yeoja itu hari ini sama sekali tidak menghubungiku. Bahkan, saat aku mencoba untuk meneleponnya tidak diangkat atau lebih tepatnya handphonenya dimatikan. Berkali-kali kucoba. Mungkin ada lima belas kali lebih. Tapi, lagi-lagi suara operator yang menjawab teleponku. Dimana yeoja itu? Mengapa mendadak aku mempunyai feeling yang tidak baik? Apakah memang benar akan terjadi sesuatu antara diriku dan yeoja itu? Dan saat kulirik kearah handphoneku, kulihat ada satu sms yang berasal dari yeoja itu.

From: Bubu Yura

Jagi, jeongmal mianhae aku tidak menghubungimu seharian ini. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita berdua. Aku capek, Jinki-ah. Kau memang segalanya untukku. Tapi, kau tidak pernah memberiku bukti bahwa kau mencintaiku. Mianhae, Lee Jinki. Jeongmal mianhae. Saranghaeyo Dubunie… Pogoshipeo. Annyeong oppa.

Kugosok-gosok kedua mataku untuk mengecek apakah aku salah baca atau tidak. Ternyata aku memang tidak salah baca dan mataku memang tidak rabun. Ia memang memutuskan hubungan kami berdua hanya karena kata-kata ‘saranghaeyo’ yang tidak pernah kuucapkan kepadanya. Masalah itu sangatlah sepele! Demi tuhan! Aku benar-benar mencintainya! Aku memang tidak pernah mengucapkan kata-kata cinta seperti yang ia harapkan karena menurutku itu sama sekali tidak penting. Banyak teman-temanku yang mengumbar kata-kata semacam itu padahal pada nyatanya mereka tetap saja mengkhianati pacarnya. Jadi, menurutku itu sama sekali bukan hal yang patut dipermasalahkan.

Kucoba menelepon yeoja itu berkali-kali. Namun, berkali-kali pula teleponku di reject. Aku frustasi. Aku tidak bisa berfikir lagi. Janji sehidup semati yang kami ucapkan dibawah sinar rembulan saat berada di sungai Han. Janji yang menyebutkan bahwa kamu akan selalu setia dan melengkapi satu sama lain. Kemana semua janji-janji yang kami buat? Janji tersebut lenyap begitu saja karena hal sepele yang meracuni pikirannya. Apakah dia sudah memiliki namja lain? Aish~ Yura bukanlah seorang yeoja brengsek seperti itu. Namun, pada kenyataannya hidupku yang digenggam 100% hilang sekarang. Aku – Lee Jinki – adalah makhluk tuhan yang memiliki raga namun tidak mempunyai jiwa karena telah dibawa pergi oleh seorang yeoja bernama Jung HyunRa. Aku… mati.

Minho’s POV

Lima jam! Dimana yeoja itu? Aku tidak bisa tidur padahal jam sudah menunjukan pukul 12.44. Semua karena seorang yeoja yang mempunyai nama Jung HyunRa atau bisa dipanggil Yura. Tadi, aku sudah mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepada yeoja pemilik manik abu-abu itu. Tapi, sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban pasti dari yeoja itu. Sungguh! Ia sangat membuatku gila. Aku sudah cukup merasakan betapa berdebarnya jantungku sekarang karena seorang yeoja bernama Yura itu. Namun, sekarang jantungku berdebar dua kali lebih cepat karena melihat satu sms yang masuk. Dan sms itu dikirim oleh yeoja itu….

From: Jung HyunRa

Mianhae aku baru mengabarimu tentang hal ini. Yak oppa! Aku mau menjadi yeojachingumu asal kau bisa menjamin bahwa kau adalah orang yang tepat untukku. Jeongmal gomawoyo oppa! Gomawo karena kau sudah menyukaiku ^^ saranghaeyo Minho oppa :*

LEGAAAA!!! Akhirnya yeoja itu memberikan jawabannya juga. Padahal, aku sudah sempat sport jantung ketika melihat pesan yang dikirim olehnya itu. Syukurlah, jawaban yang ia sampaikan sesuai dengan apa yang kuinginkan. Dengan ini, apa yang kuinginkan tercapai sudah! Sekarang tinggal menjalaninya. Syukurlah yeoja itu menerimaku. Delapan Agustus Duaribu sembilan. I HEART YOU!

***

“Ha? Kau belum mendapatkan apapun dari yeoja seseksi itu?”

“Mm. Belum hyung. Aku bingung bagaimana cara memintanya.”

“Aish~ Minho-ah. Sungguh kau sangat tidak bisa memanfaatkan kesempatan.”

“Aku tahu Hae hyung kan lebih profesional dalam hal-hal seperti ini.”

Apa yang kukatakan tengang Donghae hyung memang benar. Donghae memang seorang playboy yang sangat expert dalam urusan.. ehm… seks. Ia meneleponku untuk menanyakan apa saja yang sudah aku lakukan dengan Yura selama tiga bulan kami berpacaran. Tentu saja aku menjawab aku dan yeoja itu tidak melakukan apa-apa. Aku tidak berniat melakukan apapun dengan yeoja itu karena aku sama sekali tidak berminat melakukan hal-hal haram seperti itu. Tetapi, setelah mendapat wejangan dari Donghae hyung, aku menjadi tertarik untuk melakukan hal itu.

“Okay, hyung. Nanti akan kucoba tanyakan kepada Yura-ah.”

Kututup telepon tersebut. Aku ragu untuk menanyakan hal seperti ini kepada yeojachinguku itu. Aku takut dengan konsekuensi yang akan kuterima apabila aku menanyakan hal aneh ini. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Rasa penasaran mengalahkan rasa malu atau takutku. Alhasil, aku menanyakan hal itu kepadanya lewat sms. Aku terlalu takut untuk mengatakannya langsung atau lewat telepon. Aku terlalu pengecut untuk menanyakan hal gila yang biasa dilakukan Lee Donghae, teman seperjuanganku itu. Aku terlalu polos (?) untuk menanyakan hal laknat itu kepada seorang yeoja karena aku belum pernah sama sekali melakukannya.

Yura’s POV

 

“Gomawoyo, jagi. Saranghaeyo.”

“Ne, nado saranghaeyo oppa.”

Namja yang telah menjadi milikku selama empat bula terakhir ini baru saja merengut sesuatu yang paling berharga didalam diriku. Ia baru saja merampas sesuatu yang sangat membuatku sedih apabila melihat kearah seprai putih yan sudah penuh oleh bercak-bercak darah. Aku sudah menyerahkan segalanya dalam hidupku untuknya. Aku telah menyerahkan harga diriku dan seluruh hidupku untuknya. Aku tidak bisa mengelak lagi saat seminggu sebelum hari ini terjadi ia menananyakan hal ini kepadaku. Walaupun aku malu, tetapi aku tidak ingin munafik bahwa sebenarnya aku menginginkannya juga.

Aku mau saja melakukan hal terlarang ini karena ia sudah berjanji akan bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi denganku. Ia juga sudah mengucapkan janji sumpah mati kepadaku agar selalu menjagaku, melindungiku, dan mengasihiku selamanya. Jadi, aku yakin sekali ia tidak akan mengkhianatiku. Aku juga yakin ia mencintaiku sepenuh hati. Jadi, sama sekali tidak ada paksaan dalam melakukan hal ini.

***

“Oppa.. aku hamil… bagaimana ini oppa??”

“Mian, jagi. Aku juga tidak tahu harus bagaimana.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Saranku, gugurkanlah kandunganmu karena aku belum bisa menikah sekarang.”

JEDEER! Seperti ada petir yang emnyambarku. Seorang Choi MinHo dengan gampangnya menyuruhku menggugurkan buah cinta kami? Tida-tidak! Tidak mungkin kulakukan hal itu kepada janin yang berada didalam rahimku sekarang. Aku tidak akan pernah membiarkan anak kami pergi. Tidak akan! Nafasku tersengal-sengal. Rasanya, aku sangat ingin menampar namja itu saat ini juga. Untunglah kami berbicara di sms bukan di telepon atau bertemu langsung.

Yang kutakutkan sekarang hanyalah satu. Bagaimana caranya aku memberitahu kedua orangtuaku? Bagaimana caranya aku mempertanggung jawabkan ini semua? Tuhan… tolonglah aku.

***

Astaga! Kemana namja itu pergi? Sudah seminggu tidak ada kabar. Apakah dia melarikan diri dariku? Apakah pada nyatanya ia tidak ingin bertemu denganku? Atau yang lebih parah lagi, ia melakukan hal laknat itu hanya sekedar nafsu belaka? Bukan karena cinta? Tuhan.. mengapa ini harus terjadi kepadaku? Mengapa aku membiarkan seorang namja brengsek sepertinya merengut sesuatu yang paling berharga didalam hidupku? Ah! Dasar anak haram! Kupukuli perutku dengan kepalan tanganku berulang-ulang. Apa memang benar aku harus menggugurkan kandunganku ini? Namun, sedetik kemudian aku sadar bahwa ini bukan salah janin yang kukandung. Dan aku juga sangat sayang kepada calon bayi yang sedang kukandung ini karena benihnya berasal dari seorang namja yang sangat kusayang di dunia ini. Bahkan melebihi kedua orangtuaku.

-Meanwhile in other place – Minho’s POV-

 

“Ahh,, aku ingin tambah satu gelas lagi.”

“Aissh~ MinHo-ssi! Kau sudah mabuk. Tujuh botol soju kau minum!”

“Soora-ah. Kau menggoda sekali hari ini…”

Aku mencium bibir yeoja cantik yang sangat menggoda itu. Kim Soora, yeoja yang mempunyai badan proposional dan wajah yang sangat cantik itu membuatku melambung tinggi. Tekniknya untuk bermain sangat hebat dibandingkan dengan Yura, saudara sepupunya. Sesungguhnya, aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan perasaan Yura. Tujuanku untuk mendapatkan Yura sangat tulus. Namun, semuanya berubah ketika aku melihat dan diperkenalkan dengan saudara sepupunya itu. Saat itu juga, aku merasakan sensasi yang sangat aneh. Aku terhipnotis akan mata Soora saat itu. Hawa nafsu membakar tubuhku. Dan semenjak itu, aku mencoba untuk mendekati yeoja itu dengan cara memperalat Yura. Jahat? Memang aku jahat.

Yura sangat berbeda dengan sepupunya ini. Yura itu adalah seorang yeoja bodoh yang mau saja dibohongi dan diperalat olehku. Bayangkan saja! Ia mau saja kutiduri dengan semua janji palsu yang kubuat dengannya. Berbeda dengan Soora. Yeoja cantik ini memang sudah biasa melakukan seks. Dan tidak diragukan lagi permainannya begitu dahsyat dan menggairahkan. Ia sudah sangat profesional. Dan aku sangat mensyukuri karena aku tidak salah memilih orang untuk kuselingkui. Sejujurnya, Soora sendiri pun tahu bahwa aku berpacaran dengan saudara sepupunya. Awalnya memang sangat susah membujuk yeoja itu untuk mau tidur denganku. Tetapi, hanya sedikit alkohol dan rayuan, ia akan luluh hati dan langsung menerimaku. Dan selanjutnya dilanjutkan diatas kasur.

-Back to Yura’s Place – Yura’s POV-

 

*17 Missed Call from Kibum Oppa*

Ada apa ini? Mengapa namja itu menelponku terus? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Sica Onnie? Namun apa? Mengapa sepertinya penting sekali sampai harus memissed callku sebanyak itu? Ingin rasanya aku menelpon namja itu. Namun, pulsaku habis karena terus menerus menghubungi MinHo dan telepon rumahku tidak bisa berfungsi karena dikunci oleh appa untuk mencegah pemakaian telepon berlebihan. Jadi, sekarang apa yang bisa kulakukan?

Aku memutuskan untuk menghibur diriku sendiri dengan berjalan-jalan di sekitar kota Seoul. Untung saja umma hari ini pergi tanpa membawa mobil. Jadi, aku bisa membawa mobilnya berkeliling kota Seoul. Kukeluarkan Porsche Carrera GT merahku dari garasi mobil dan kuluncurkan di jalan raya dengan mulus. Untung saja hari ini tidak macet. Sambil menyetir keluar dari kompleks, aku memikirkan kemana sebenarnya tujuanku hari ini. Sambil berfikir dan menyetir, kuputuskan untuk mendengarkan lagu dari radio. Alhasil, kuputuskan untuk menjenguk saudara sepupuku yang tinggal sendirian di apartement, Kim Soora.

Yeoja yang umurnya lebih tua setahun daripada diriku itu memiliki wajah yang sangat cantik. Sebenarnya wajahnya itu lebih bisa dibilang eksotis daripada cantik. Tubuhnya sangat profesional bagaikan model. Namun, ia sangat rusak. Ia rusak dikarenakan orangtuanya yang bercerai sejak ia berumur lima tahun. Lalu, proses sosialisasi yang ia alami juga tidak sempurna. Begitupula dengan kakanya, Kim Saera. Semuanya dikarenakan oleh Soohyun ahjumma, umma mereka yang suka berselingkuh dan gonta-ganti pacar. Dan ironisnya, sifat itu menurun ke Soora. Keluarga ummaku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala apabila Soohyun ahjumma sudah bertingkah.

Tidak terasa, mobilku sudah sampai di lapangan parkir apartement Soora yang berada di kawasan elite Seoul, Apguejong-dong. Daerah termewah di Seoul. Setelah memarkirkan mobilku ditempat yang telah disediakan, aku keluar dari mobil dan berjalan menuju lift. Tiba-tiba, aku melihat sebuah mobil ferari sport yang sudah sangat kukenal. Mobil berwarna merah tersebut tidak salah lagi milik MinHo. Sedang apa dia disini? Mungkin saja dia mempunyai seorang teman yang tinggal disini. Ya, who knows? Semoga saja nanti aku bisa bertemu dengannya dan menanyakan kemana saja seminggu ini dia pergi.

Kutekan angka 12 karena kamar Soora berada di lantai 12. Setelah sampai, aku segera saja melangkahkan kakiku keluar dari lift dan mencari kamar dengan nomor 1212. Setelah menemukannya, kupencet bel yang berada didepan pintu kamarnya itu. Suara bel yang khas pun terdengar nyaring di telingaku. Namun, tidak kunjung dibukakan oleh Soora. Kutekan sekali lagi bel tersebut dan tetap saja hasilnya nihil. Padahal, aku sangat yakin ada orang didalam karena terdengar suara televisi yang menyala. Alhasil, kuputuskan untuk membukanya menggunakan kunci cadangan yang selalu disembunyikan Soora dibawah karpet selamat datang.

Setelah masuk kedalam apartementnya, kulihat ada sepatu dengan ukuran yang cukup besar. Aku tidak memperdulikannya dan langsung saja merebahkan tubuhku diatas sofa cokelat empuk milik Soora. Aku tahu yeoja itu sedang mandi karena samar-samar terdengar suara shower. Dan sepertinya yeoja itu sudaj selesai dengan mandi sorenya itu. Aku tahu karena terdengar suara pintu terbuka dan… suara orang tertawa? Lebih tepatnya suara dua oknum yang sedang tertawa. Salah satunya adalah suara seorang namja. Entah mengapa, suara itu sangat familiar ditelingaku. Dalam satu hentakan, kutolehkan wajahku kearah suara tersebut berasal. Dan disitulah rasanya hatiku hancur berantakan…

Aku melihat suatu pemandangan yang sangat membuat hatiku hancur layaknya dilobangi. Seorang namja yang sedang menggendong seorang yeoja dan keduanya tidak memakai pakaian. Bahkan sehelai benangpun tidak. Kemudian, mereka berdua bercumbu-cumbu ria. Sang namja mencium sang yeoja dengan nafsu sambil mengedarkan kedua tangannya untuk meraba-raba tubuh yeoja tersebut. Sementara sang yeoja terus menerus mengeluarkan desahan disela-sela ciuman yang diberikan sang namja sambil menuntun junior dari si namja kedalam daerah kewanitaannya. Mereka melakukan adegan-adegan itu tanpa memperdulikan dunia disekitarnya. Bahkan mereka tidak menyadari keberadaanku. Dengan kesal, kuentak-hentakkan kakiku kencang keatas karpet agar dua insan yang sedang dibakar oleh hawa nafsu tersebut sadar akan kehadiranku. Dan ternyata, taktikku berhasil.

Kedua insan itu langsung menoleh kearahku dan buru-buru menyudahi aktifitas mesum yang sedang mereka lakukan. Sang namja hanya bisa berdiri ternganga menata jauh kedalam mataku. Sementara sang yeoja, ia berlari kearah kamar mandi dan mengambil dua handuk. Segera saja ia melilitkan handuk tersebut ke tubuhnya. Dan satu lagi, ia melilitkan handuk tersebut ke bagian bawah tubuh sang namja yang tidak lain adalah Choi MinHo, namjachingu-ku yang telah tertangkap basah berselingkuh dengan saudara seorang yeoja yang dihamilinya, yaitu aku. Ia hanya menatapku dan tidak bergeming sedikitpun.

“Yu.. Yura-ah,”

“Jadi ini yang kau lakukan selama ini? Bermain dibelakangku, eh?!” Ia hanya terdiam dan menunduk.

“Sudah berapa bulan kalian melakukan ini, ha??!” Lagi-lagi tidak ada jawaban.

“JAWAB!! KAU PUNYA MULUT KAN?!” Ucapku membentaknya sambil menampar pipinya keras.

“Sejak kau memperkenalkanku dengan Soora-ah. Jeongmal mianhae…”

“Jadi?! Selama ini kau memperalatku?!” Ia hanya diam dan aku menganggapnya benar.

“BAJINGAN! Kau telah merengut kegadisanku, menghamiliku. DAN SEKARANG KAU BERSELINGKUH! Apa maksudmu Choi MinHo?!” Ia hanya menunduk dan diam saja. Kupalingkan wajahku kearah yeoja disampingnya.

“Dan kau,” Ucapku kepada Soora, “– WANITA JALANG! ENYAHLAH DARI KEHIDUPANKU!!”

Detik itu juga, aku keluar dari kamar Soora. Aku tidak memperdulikan panggilan dari MinHo kepadaku. Aku juga tidak peduli reaksi orang-orang yang melihat tingkah lakuku yang aneh dan tidak wajar karena tidak memperdulikan orang-orang yang kutabrak. Saat aku masuk kedalam lift, ku melihat namja brengsek itu sedang berlari menuju kearahku. Syukurlah lift sudah tertutup saat ia sudah mencapai tempat lift ini berjalan. Sungguh, aku muak dengannya. Aku muak dengan semua hal. Aku muak dengan diriku. Aku tidak ingin hidup. Aku harus mati apabila ingin menghilangkan rasa sakit ini….

– END OF FLASHBACK –

 

Tak terasa, air mataku sudah mengalir deras dari ujung mataku kearah pipiku. Entah mengapa, hari ini berjalan sangat lama. Perjalananku dari Seoul menuju kearah pantai terasa seperti lebih dari semalam. Perjalananku dari pantai , lalu mendaki ke tebing seperti memakan waktu lebih dari lima jam padahal hanya dua puluh menit. Waktu aku berfikirlah yang paling cepat. Tetapi, waktuku untuk berfikir itu hanya menambah luka yang sangat dalam karena otakku kembali ke masa lalu. Keputusanku sudah bulat. Kubuka kedua mataku untuk melihat matahari untuk terakhir kalinya. Lalu, kututup lagi mataku dan menghirup oksigen sedalam-dalamnya untuk terakhir kalinya. Dan dalam satu hentakan, kudorong tubuhku terjun bebas dari tebing menuju ke air.

Saranghaeyo Choi MinHo oppa… Daeme to babgetsumnida…

 

***

Putih.. semuanya putih. Apakah aku sudah berada di surga sekarang? Tidak tercium lagi bau air laut yang asin. Yang tercium oleh hidungku adalah bau yang sudah sering kucium. Samar-samar, indra pendengaranku mulai menangkap bunyi-bunyi aneh yang sudah tidak asing lagi untukku. Kurasakan juga ada suatu benda yang menusuk tanganku. Rasanya memang tidak sakit. Namun, bila kugerakan tanganku terasa sangat ngilu. Lalu, kudengar suara seseorang yang sangat kukenal memanggil-manggil namaku..

“Yura-ah! Yura-ah! Kau sudah sadar?!”

“Onnie? Sica onnie? Itukah kau?”

“Ne. Ini aku. Paboya! Apa yang kau lakukan di pantai itu seminggu yang lalu?!”

Aish~ jadi aku masih hidup? Mengapa aku masih hidup di dunia fana ini? Tuhan.. mengapa kau tidak mengijinkan aku untuk mati saja? Aku sudah pasrah dengan kehidupanku sekarang. Dan aku tidak bisa menjawab perkataan Jessica ketika menanyakan siapa ayah dari bayi yang sedang kukandung ini. Ia terus menerus mencekokiku berbagai macam pertanyaan sampai-sampai aku sendiri kewalahan untuk menjawabnya. Namun, tiba-tiba saja seorang namja yang sudah sangat kukenal masuk kedalam kamar rawatku di rumah sakit ini dengan membawa satu bucket bunga mawar putih yang sangat kusukai dari dulu. Kedatangannya membuatku menangis. Dan melihat kedatangan namja itu, onnie-ku langsung menutup rapat mulutnya dan keluar dari kamar rawatku meninggalkan aku dan namja itu sendirian.

“Apa kaba, Yura-ah?” ucapnya sambil tersenyum kearahku.

“Baik oppa, bagaimana kabarmu?”

“Sudah lebih baik dari seminggu yang lalu karena sudah melihatmu sadar.”

Lalu, keheningan melanda kami berdua. Entah mengapa suasana menjadi sangat mencengkam seperti ini. Ingin rasanya aku meminta maaf kepada namja didepanku ini. Ingin rasanya aku memeluk namja itu dengan segenap hatiku. Ingin rasanya aku memutarbalikan waktu. Ingin rasanya aku tertawa bersama namja ini lagi, makan malam romantis bersama, atau hanya sekedar menonton DVD bersama di rumahku atau di apartementnya. Sungguh saat-saat yang indah bersama namja itu. Tetapi, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat sekilas kejadian di pantai itu.

“Oppa, jawab pertanyaanku dengan jujur.” Karena tidak ada jawaban, kuputuskan untuk melanjutkan kata-kataku.

“Apakah oppa mengikutiku dan menyelamatkanku dari amukan ombak pantai?”

“Ne. Aku memang yang menyelamatkanmu, Yura.”

“Mengapa? Mengapa oppa melakukan itu?”

“Karena… aku masih membutuhkanmu dan aku tidak kuat untuk membiarkanmu pergi.”

Saat itu juga, air mataku menetes lagi dan lagi. Kemudian, dengan cepat namja itu membangunkanku dari posisi tidur menjadi duduk. Kemudian, ia memeluk tubuhku. Aku membasahi seluruh kemeja namja itu dengan air mataku yang tak kunjung henti. Namun, namja itu tidak memperdulikannya. Ia terus menerus mengecup ubun-ubunku dan mengelus-elus rambutku. Sungguh, aku sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi. Aku sangat menyesal dengan keputusanku dulu untuk menghancurkan semuanya dan membangun kembali kisah cintaku dengan orang yang salah. Ternyata, ia memang benar-benar mencintaiku….

“Saranghaeyo, Jinki-oppa. Jeongmal mianhae untuk yang lalu-lalu.”

“Ne.Gwenchana Yura-ah. Nado saranghaeyo, bubunie.”

Aku tersentak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh namja itu. Untuk pertama kalinya aku mendengar dia mengatakan kata ‘saranghaeyo’ untuk diriku. Ucapan itu terdengar sangat tulus dari dalam hatinya. Air mataku mengalir lebih deras dari sebelumnya. Ternyata selama ini aku telah menyia-nyiakan seseorang yang benar-benar mencintaiku sepenuh hatinya. Aku telah menyia-nyiakan seorang namja yang menerima diriku apa adanya. Namun, aku memang harus menghadapi kenyataan karena sekarang aku bukanlah Jung HyunRa yang bersih. Aku hanyalah seorang gadis kotor yang akan mengotori hidup Lee Jinki. Aku tidak akan membiarkan diriku merusak masa depan namja ini.

“Aniyo, Jinki oppa. Kau pasti jijik denganku.”

“Hee? Jijik kenapa?”

“Karena aku sudah di nodai oleh orang lain dan sekarang aku mengandung anaknya dan…”

“Dan dia tidak mau bertanggung jawab kan?”

“Ne. Darimana oppa tahu masalah itu?”

Kemudian ia menceritakan yang sebenarnya. Choi MinHo ternyata adalah saudara sepupunya. Namja itu dan Jinki oppa sangat dekat dan tidak ada satupun rahasia yang tersembunyi antara dirinya dan MinHo. Mendengar hal tersebut, aku menjadi semakin malu dan merasa bersalah kepada Jinki oppa. Dan aku tahu apa yang kualami adalah karma. Bayangkan saja! Aku selingkuh dengan Minho sementara Jinki adalah saudara Minho. Dan Minho selingkuh dengan Soora sementara Soora adalah saudaraku. Jadi, tuhan memang menegurku tentang hal ini.

“Jadi, aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu. Peduli setan dengan anak siapa itu. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri. Would you marry with me?”

“Ne, oppa! Jeongmal gomawo, Jinki oppa.”

“Ne. Cheonma jagiya.” Ucapnya lalu mencium bibirku.

“Tapi,” ucapku disela-sela ciumannya, “– darimana oppa tahu aku berada di pantai?”

“Itu rahasia…”

Alhasil, pada tanggal 10 Januari 2011, kami menikah di gereja dengan kehadiran MinHo dan Soora disana. Aku memang kesal dengan mereka berdua. Namun, rasa kesalku tertutup sudah dengan kehadiran seorang namja yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku sekarang…

– FLASHBACK – Author’s POV –

 

“APA?! MinHo berselingkuh?? Darimana kau tahu?”

“Semalam ia menceritakannya kepadaku, hyung.”

“Aish~ jeongmal kamsahamnida, Jinki-ah. Aku akan memberitahu Yura secepatnya.”

Kibum segera memutuskan sambungan telepon yang sedang ia lakukan dengan Lee Jinki, mantan pacar adik iparnya yang merupakan teman lamanya juga. Nafasnya tersengal-sengal ketika mendengar kabar mengejutkan dari teman lamanya itu. Kemudian, ia memberitahu Jessica dan segera menelpon Yura. Ia mencoba untuk menelepon Yura berkali-kali. Namun, telepon tersebut tak kunjung diangkat oleh yeoja itu. Tujuh belas kali ia menelpon Yura, tujuh belas kali juga teleponnya dijawab oleh operator telepon Yura. Alhasil, ia memutuskan untuk menghubungi Jinki lagi.

“Jeongmal mianhae, Jinki-ah. Tolong beritahu Yura secepatnya sekarang. Ia tidak bisa ditelepon sementara aku dan Jessica sedang berada di Paris.”

“Ne. Jangan khawatir hyung.”

Jinki segera mengeluarkan mobil Honda FC Sport-nya dari garasi dan meluncurkan mobilnya yang berwarna putih itu kearah rumah Yura. Namun, saat ia sudah sampai di rumahnya, ia melihat porsche merah keluar dari garasi dan melaju keluar dari rumah kearah gerbang kompleks. Dan saat itu juga, pemuda pemilik marga Lee itu memutuskan untuk mengikuti pengendara mobil porsche merah yang tidak lain adalah Yura dari belakang sampai mendapatkan waktu yang tepat untuk berbicara dengannya….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

AKHIRNYA SELESAI JUGA! Ngomong-ngomong ini panjang banget ya? K

Okay, thanks for reading this FanFiction! Jeongmal kamsahamnida!

Jangan lupa RCLnya yaa~

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 20 April 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 47 Komentar.

  1. Aish… Minho gw bunuh jga ntu namja…
    *dilepar parang
    jinki slalu jd malaikat penolong…
    Daebaks…

  2. Minho super duper sangat jahat disini -_- ditunggu karya selanjutnya ya author..

    • raisawidiastari

      Yeeep, soalnya menurut hasil observasiku selama ini, Minho selalu menjadi tokoh yg brengsek ^^ tapi author sgabenci minho kook🙂
      gomawoo yaa udh bacaa🙂

  3. emang panjaaaaaaaaaaang tapi seru bagus ceritanya
    minho jahaaaaaaaaaat amaaat yaaa, padahal dia udah nikah sama aku :p

  4. kya~~ *piring melayang* minho oppa nappeun neo!! *dibunuh flames* untung aja ada c onew’pa!! daebak deh thor!!🙂

  5. kyaa!! minho !! *pletak!dug!dezigg!/serang minho! #diserbu flamers. kekeke
    daebak author! kasian jinki, nikah sama siapa, tapi anaknya siapa, keke,

  6. Kyaaa,minho napeun sngt..
    Klo ak jd yura,ak bnuh aj tu kelolo..*ak’ya d bnh jg am flamers..
    Jinki,,u is my angels..
    Ak sk..

    • raisawidiastari

      Yeeep, Jinki emg disemua FF bikinan saya selalu jadi koreban *dibunuh MVP’s* tapi author gaada maksud buat ngebash anggota SHINee yaa, jadi… Ampuni saya flamers!!!!
      Gomawooo udah jadi readers yg baik :3

  7. Beruntung yura masiH ada jinki yg m’cintai ,a. . .

    Lalu,minho gmana nasib’a. . ? Matikah.

    • raisawidiastari

      Yeeep, Minho nasipnya? Umm, apa mau dibikin FF tentang nasip minho yaa? Tp jadinya NC =.=
      btw, thanks for being a good reader🙂

  8. Minho sungguh teganya dirimu, ,
    stuju bget ma author KARMA itu berlaku , ,
    suka bgt ma ne ff trharuuuuu bgeettt*lebay*
    ditunggu karya selanjutx!!
    Hwaithiing!!!!!

    • raisawidiastari

      YEEEP KARMA ITU MEMANG BERLAKU *emosiingetpengalamanpribadi* gomawoo yaa udh suka sama udh jadi readers ygbaik :*:*

  9. sumpah!keren! Kejam bgt dah si minho.ahahaha..daebak!

  10. annyeong ..:-)
    tiba” nyasar k blog ini n ternyata ff’a bagus ..
    tp kurang suka sm ending’a ..coba kalo dbikin mino’a menderita jg ..
    huh jd pgn mites ..

    • raisawidiastari

      Annyeoong, welcome to SHINee Super Shinki Fanfiction!!
      makasiih yaa kritiknya hehehe, apa author buat versi Minho nya ya? Tapi nanti jadinya pasti bakalan NC? Gimana gimana?😀

  11. ga tanggung jawab.. T^T

  12. Jinkiii. .Would you marry me??
    *plak! Ditimpuk kyu
    minho bad boy bangeet. .Donghae playboy kelas kakap,wkwk
    hyunranya paboo. .
    *plak, ditimpuk hyunra. .

    • raisawidiastari

      Kalo mau nikah sama oppaku, langkahkan dulu mayatku *digampar readers*
      yeeep, kan semuanya karena hae oppa mihihihi
      hyunranya kan kamuu, berarti kamu gampar diri kamu sendiri dooong? *plakk*
      gomawoo yaah udh bacaa🙂

  13. huuuaaaa…
    suami onnie jahat bgt..
    dasar saeng geblek oke kmu gitu yah sma minho..-_-
    onyu itu pasti digambari baik bgt nice ff..
    nextt..
    jgn paksa onnie bca ff klo tau ffnya gini -_-

    • raisawidiastari

      Okee, nama panggilanku bertambah satu lagi dari onnie ._. MIAAAAAAAAAAAAANNNN!!!
      Ff selanjutnya sungie ngga akan jahat kok tenang ajaa \o/
      makasiiih yaa onnie udah bacaa🙂 *sodor Minho sm yesung oppa*

  14. Hadoh sumpah minho kurang ajar bgt tp untu jinki mau nerima yura love jinki oppa

  15. Jheongmal gomawoyo onew oppa,krn dah mw mnikahiQ.jheongmal saranghaeyo😀
    #kbwa krkter Yura

  16. missnandaa 최민호

    YA! CHOI MINHO KT PUTUS! *loh
    author daebak bgt, suamiku dapet bgt evilnya…huhu
    onew oppa km memang seorang malaikat…huhuhu =)
    I DO, I DO….kkkkk~ xD

  17. author jjang ^_^ aku suka tiap bagian yg pake kata” yg susah d mnegerti, yah kiasan” itu, author bakat nulis nih, bikin novel aja😉 ow yah blh g si klo reader nitip ff ksni hehe🙂

    • raisa widiastari

      WAAAAAH!!! DOAIN AUTHOR YAA JADI NOVELIS!!! *citacita semenjak kecil* #curhat
      boleh kok chinguu😀 baca announcement yaa😀
      btw thanks yaa udah baca FF ini😀

  18. ampun deh..minho kok jahat banget, teganya di selingkuh..
    ceritanya emang panjang tapi gak bikin bosen kok,,alurnya gak lambat soalnya..nice work thor..^^b

  19. Aaaaa!!! Minho jahat! Pabo saram! Jeongmal! *kesel tingkat akut* onew keren setia pula, suka ff.a! Di tunggu next story!🙂

  20. Huaaa, bagus bgt crtanya, etdah ntu minho brengsek bgt ya
    #ups ampun flames#
    haha
    huaa,jinki kerenn, dia mau ngakuin anaknya ehm minho ntu jd anaknya dia..
    gpp author, panjang jg gpp, malah seneng bgt bacanya..haha
    ditunggu cerita yg lain ya ^^

  21. Kyyaa…suka sama perannya onew ( setia ) ^.^
    memang siih kalo mbaca2 ff minho slalu jdi pemeran kaya githu -,-

    • Raisa Widiastari

      iyaa Minho pasti jadi yang… ehem..
      *gamau nyebut entar digaplok flamers*
      onyu juga selalu jadi pemeran yang begitu mehehhee
      gomawoo yaa udah baca😀

  22. aku reader baru di sini :: BTW minho ada cocoknya juga ya meranin yang kayak giyu hhii.. #plakk..

  23. bling" shin hye

    wah…. minho oppa jaat bgt. bisa” na selingkuh…
    tp untung aja ad jinki oppa…
    sarangheo dubu oppa!!!!!

  24. Yak…knp minpa dsn jahat,,aq g rela…>_<…tp g pa2 dech,yg pntg ad jinpa..,sorax ditendang jauh2 aj,,nyebellin,,*mian,kelwt esmosi..*o.0..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: