[FF/PG-15] The SORROW TWILIGHT Part 9

aretaannora.wordpress.com

Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : Part 9 [3400 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Jung Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

and other support cast..

==================================

“Yeon-ah sedang apa kau di sini?”

**********************The Sorrow Twilight**********************

Di Rumah Sakit

AUTHOR POV

Kibum menatap garang kepergian Dokter Kim dari ruang prakteknya. Terngiang kembali apa yang tadi Dokter ucapkan. Ia putuskan untuk kembali ke ruangan Yeon-ah.

“Yeon-ah?! Di mana dia?”
Kibum sangat panik melihat selimut yang terjatuh dari ranjang.

“Tidak…,” gumamnya, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kibum berlari kembali ke ruang prakter Dokter Kim – menemui Nicole dan Jung Ahjumma.

“Nicole-ya, apa kau melihat Yeon-ah?” tanyanya membuat perhatian Nicole dan Jung Ahjumma teralih padanya.

“Tidak, bukankah dia masih belum sadarkan diri?” Kibum bertambah gusar mendengar jawaban yang sama sekali tidak ia harapkan.

“Memangnya ada apa?” tanya Jung Ahjumma heran.

“Dia tidak ada di ranjangnya..”
Sontak, Nicole dan Jung Ahjumma menatap Kibum tak percaya seolah ia berkata bohong. Nicole segera berlari menghambur ke kamar tempat Yeon-ah dirawat, diikuti dengan Jung Ahjumma.

“Bagaimana mungkin?” Nicole bersandar di dinding tembok, seluruh persendiannya terasa lemas kini.
“Mungkin dia sedang ke toilet.. atau… Sudahlah Nicole, tak usah panik begitu. Kita bisa menghubungi satpam atau petugas,” ujar Jung Ahjumma.
Sementara Kibum seperti tersadar akan sesuatu, ia melirik arlojinya sekilas.

“Jam 15.45…” gumamnya “Mungkinkah….?”

“Nicole, sebaiknya kau tunggu saja di sini. Aku akan mencari Yeon-ah. Hubungi aku jika dia sudah kembali. Ahjumma permisi…,” Kibum berlalu sebelum Nicole sempat menjawab.

********The Sorrow Twilight********

Kibum mempercepat langkahnya, menuju sekolahnya. Tidak begitu jauh dari rumah sakit. Kibum yakin sekali.. Yeon-ah pasti ada di sana, di tempat itu.

“Mungkinkah ia sedang menungguku di sana?” pikir Kibum. Sesampai di depan gerbang rumah sakit, dendadak ponselnya berbunyi.
Ia melihat nama yang tertera di layar handphone.

“Jinki?” gumamnya.

“Yoboseyo, ada apa?” tanya Kibum.
“Aku ke sana sekarang. Yeon-ah ada di ruang nomor berapa?”
“Tidak Jinki. Kau tak perlu ke rumah sakit. Yeon-ah tak ada di sana. Aku sedang mencarinya sekarang..”
“Bagaimana bisa?”
“Begini saja, apa kau mau membantuku mencarinya?” terdengar Kibum nampak berharap.
“Ah baiklah. Aku segera menemui sekarang. Kau ada di mana?”
“Aku masih di depan rumah sakit,” ujar Kibum kemudian melihat layar handphonenya dan mendapati Jinki telah memutuskan sambungan.

********The Sorrow Twilight********

“Yeon-ah sedang apa kau di sini?”
Haejin melangkah mendekati Yeon-ah dan turut duduk di sampingnya.

“Bukankah kau seharusnya ada di rumah sakit?” tanya Haejin. Yeon-ah terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin Haejin bisa tahu? Ia berusaha mencari jawaban yang tepat agar Haejin tidak curiga.

“Tidak. Aku sudah kembali tadi pagi. Aku kesepian di rumah, jadi aku kemari. Aku sangat menyukai tempat ini,” aku Yeon-ah.

“Tunggu, tapi tadi Jinki oppa bilang padaku dia ingin menjengukmu,”

“Benarkah? Mungkin maksudnya, dia ingin menemui Kibum sunbae sekalian melihat keadaanku. Kebetulan tadi Kibum sunbae memang kerumahku,” dusta Yeon-ah.

“Ya, mungkin juga,” Haejin menyetujui.

Yeon-ah bisa bernafas lega sekarang. Namun ia sedikit curiga dengan sikap Haejin. Biasanya, saat mereka bertemu, Haejin selalu menatap Yeon-ah dengan aura kebencian. Namun kini? Bahkan Haejin menyapanya terlebih dahulu. Dan tatapan sengit itu, tidak lagi ia rasakan. Apa yang terjadi dengan Haejin? Pikir Yeon-ah.

YEON-AH POV

“Ngomong-ngomong kau sedang apa di sini? Sepertinya kau bahagia sekali,”

“Aku..? Ah ya, kau benar. Aku sedang bahagia sekali. Katakan padaku bahwa aku tidak sedang bermimpi?” pinta Haejin disertai senyuman lebar terkembang dibibirnya.

“Rasanya aku tahu. Apa… kau baru berkencan dengan seseorang? Atau seseorang yang kau sukai menyatakan cinta padamu?” tebakku asal.

Aku memalingkan wajahku ke arah Haejin, menatapnya lurus dan kudapati ia tersenyum sebagai balasannya.

“Dua-duanya. Sebenarnya aku tidak mempunyai perasaan yang khusus terhadap pria itu. Tapi aku benar-benar menyukainya saat ini,”

“Dengan Jinki sunbae?” tanyaku lagi.

“Uh? Kau ini seperti paranormal saja. Dari mana kau tahu…?” tanya Haejin menyelidik.

“Tidak ada cowok sehebat Jinki sunbae yang bisa membuat wanita jatuh cinta dalam sekejap,” ujarku tersenyum. Haejin terkekeh menanggapi ucapanku.

“Haejin-ah, tolong jawab aku!” Mendadak aku berubah menjadi serius. Haejin membalas tatapan seriusku, nampak menunggu pertanyaan yang terlontar dari bibirku.

“Apa yang biasa dilakukan gadis seusia kita?” tanyaku serius.

“Engg??” kening Haejin semakin berkerut.

“Errr, begini… aku ingin bersenang-senang. Jadi, apa yang biasa gadis seusia kita lakukan?”

“SHOPPING!!” jawab Haejin senang.

“Shopping? Bukankah itu sebuah rutinitas yang biasa kita lakukan?”
Haejin termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi kau ingin yang luar biasa? Mungkin …..,” ia nampak ragu dengan apa yang sedang dipikirkannya.

“Tapi ini tidak pantas untuk seusia kita, yah.. meski banyak diluar sana yang melakukan hal tsb..”

“Memangnya apa?” tanyaku semakin penasaran.

“Clubbing.. Party, dan sejenisnya..”

Aku tersenyum mendengarnya. Sungguh ide yang sangat bagus. Aku teramat bosan dengan aktifitas keseharianku. Duduk termenung di tempat ini saat senja tiba, meringkih di ranjang menahan rasa sakit di malam hari.
Aku sangat butuh suasana baru.

“Kalau begitu, apa kau mau menemaniku?”

“Eh?” kaget Haejin.

“Yeon-ah, apa kau sedang bercanda?”
Aku menghela nafas sesaat, membiarkan udara mengisi paru-paruku. Aku perlu berfikir jernih, memantapkan apa yang akan menjadi keputusanku.

“Aku serius, aku ingin kesana. Haejin-ah, aku mohon.. temani aku..”

Haejin nampak menimbang-nimbang keputusannya.
“Baiklah, anggap saja ini sebagai permintaan maafku padamu. Aku sudah terlalu banyak berbuat kasar,” ujarnya.

“Aku ingin hari ini dan sekarang juga,” ucapku girang.

“Dengan kondisi yang seperti itu? Ayolah Yeon-ah, kau baru saja keluar dari rumah sakit,” timpal Haejin.

“Lagipula club baru dibuka jam 7 malam..” sambungnya.

“Kau pulang dulu saja, nanti aku akan men…”

“Tidak bisa,” potongku, “Apa kau tega membiarkanku sendiri di rumah?” Aku memasang tampang memelas. “Keluargaku sedang tidak di rumah,” sambungku.

“Okelah, tapi ingat! Hanya kali ini saja,” ujar Haejin seraya menekankan nada pada ‘kali ini’. Aku mengangguk sebagai balasannya dan menggamit lengan Haejin untuk segera pergi dari tempat ini.

“Kakimu sedikit terluka. Bagaimana bisa kau tak mengenakan alas kaki?” Haejin melepas sneakernya dan meletakkannya di depan jari kakiku.

“Pakailah, tak mengapa. Aku memarkirkan mobilku di sana… Jadi tak masalah bagiku berjalan ke sana tanpa alas kaki,” sambung Haejin seraya melempar pandangannya ke tempat di mana mobilnya terparkir.

********The Sorrow Twilight********

-AUTHOR POV-

“Di mana kita akan mencarinya?” tanya Jinki.

“Di sekolah,” jawab Kibum singkat.

“Di sekolah?” heran Jinki.

“Kebetulan tadi aku dari sana,” ujarnya.

“Jeongmal?” tanya Kibum sedikit tersentak.

“Hmm, tapi aku tidak melihat Yeon-ah sama sekali.”

“Mungkin karena kau sudah lebih dulu pergi dari sana,” ucap Kibum merasa yakin bahwa Yeon-ah ada di sana, bukan di sekolah tepatnya di halaman belakang sekolah.

********The Sorrow Twilight********

“Kau yakin Yeon-ah ke sini?” tanya Jinki setelah mendapati tak adanya Yeon-ah di tempat yang mereka tuju.

Kibum hanya terduduk lesu, bersandar di batang pohon yang kokoh. Matanya menerawang jauh, sementara berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya.

Ia memejamkan mata sejenak. Dan bayangan Yeon-ah sang gadis senja juga kenangan-kenangan yang telah mereka lewatkan muncul begitu saja.

“Aku yakin sekali….,”

“Tapi, Kibum cobalah lihat! Dia tidak ada di sini. Mengapa kau tidak menghubungi pihak rumah sakit saja?” nada suara Jinki meninggi.

“Jinki, tapi aku yakin sekali. Yeon-ah baru saja ada di tempat ini. Dia selalu mengunjungi tempat ini saat senja.”

Jinki menatap Kibum dengan tatapan iba.

“Tempat ini pasti tersimpan banyak kenangan antara kau dan Yeon-ah, meskipun aku tak tahu apa itu.” ujar Jinki,
“Jadi kemungkinan, kau hanya sedang berhalusinasi… Kau rindu akan kebersamaan kalian di tempat ini. Bukankah begitu, Kim Kibum?”

Kibum memilih untuk tak menjawab.

“Ngomong-ngomong, tadi kau bilang baru saja dari sekolah. Untuk apa kau ke sini?” tanya Kibum menyelidik, mengalihkan pembicaraan mereka.

“Hanya berjalan-jalan di sekitar sini. Pemandangan di belakang gedung sekolah sangat indah…”

“Sendiri?” tanya Kibum lagi.

“Tidak, bersama Haejin,” jawab Jinki tertunduk. Meski posisi duduk mereka berlawanan, Jinki tidak ingin perubahan raut wajahnya terlihat oleh Kibum.

“Haejin? Lalu setelah itu, dia kemana?” Kibum mencoba menelaah bukti sebelum ia menyusun hipotesanya.

“Mengapa kau jadi menanyakannya?” tanya Jinki curiga

“Tenang saja Jinki-ya. Aku tak akan merebutnya darimu,” ledek Kibum, “Aku hanya ingin tau sesuatu. Kemungkinan jika Haejin masih di sini tadi, dia pasti bertemu dengan Yeon-ah,” ujarnya.

“Eh? Kau tau tentang Haejin dengan… ku?” Kibum tersenyum mendengarnya.

“Aku ini sahabatmu. Aku bisa menduga sesuatu sedang terjadi padamu. Terlihat dari nada suaramu saat mengucapkan namanya,” ujar Kibum disertai tawa lirihnya.

“Jadi apa Haejin masih di sini? Mungkin untuk beberapa saat yang lalu..?”

“Tidak. Dia sudah pulang. Kibum-ah.. sudahlah, kita kembali ke rumah sakit saja.”

“Aku akan menunggu. Biarkan aku di sini,” Kibum tersenyum getir. Jinki beranjak dan berbalik menatap Kibum dengan tatapan heran.

“Kibum-ah..,”

“Setidaknya sampai jam 5. Biarkan aku di sini. Aku akan menunggunya,” potong Kibum.

——————–

“Aku sudah mengabulkan permintaan pertamamu. Dan sesegara mungkin permintaan keduamu. Jadi sekarang katakan padaku, Park Yeon-ah. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Mengapa kau tiba-tiba ingin mengunjungi tempat seperti itu?” tanya Haejin seraya mendekati Yeon-ah yang terduduk di tepi ranjang milik Haejin.

Yeon-ah menatap Haejin ragu, dan mengalihkan tatapannya ke luar jendela.

“Aku.. aku ingin menikmati setiap waktuku saat berada di dunia ini. Aku tidak ingin mengisinya dengan…”

“Ouchh…” Yeon-ah menekan kepalanya kuat-kuat dengan tangannya. Rasa nyeri yang teramat sangat kembali menyerang saraf otaknya. Seluruh persendiannya terasa lemas hingga tubuhnya melorot dari tepi ranjang.

“Astaga, Yeon-ah.. Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Haejin panik seraya mengangkat tubuh Yeon-ah yang jatuh tersungkur di lantai.

“Ti…ti..dak, bia..r..k..kan .. aku te..tap di sin..ni,” susah payah Yeon-ah berusaha menjawabnya. Haejin menidurkan Yeon-ah di ranjangnya.

“Jangan bodoh!! Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.. Yeon-ah. Lihatlah wajahmu pucat sekali,” panik Haejin. Ia menggigit bibir bawahnya, tak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan.

Haejin hendak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas buffet, namun tangan Yeon-ah dengan sigap mencengkeram pergelangan tangan Haejin.

Yeon-ah meregangkan cengkeraman tangannya pada kepalanya. Sakit itu, sedikit mereda. Ia mengatur nafasnya kembali agar dapat berbicara normal.

“Ja..ja..ngan Haejin. Biar..kan, sungguh aku tak mengapa. Kau tak usah panik begitu. Apa aku boleh minta minum?”

“Tunggu sebentar akan aku ambilkan. Nampaknya kau juga membutuhkan makanan. Biar kuambilkan sekalian…” ujar Haejin dan tak lama setelahnya ia lenyap dibalik pintu kamarnya.

————————

“Tidak sepantasnya kau menunggu di sini,” ujar sebuah suara menyeruak di antara keheningan yang menyeliputi Kibum dan Jinki.
Mereka menatap pada sosok yang tengah berdiri di hadapan mereka.

“Kau..”

“Jinki mengirimkan pesan – meyuruhku kemari,” potong Nicole seraya mengerjapkan matanya pada Jinki seolah menyampaikan pesan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kibum memandang Jinki sekilas, dan kembali perhatiaannya tertuju pada Nicole.
“Bagaimana? Apa Yeon-ah sudah kembali?” tanya Kibum. Raut mukanya nampak penuh harap.

“Belum. Namun pihak rumah sakit sedang mencarinya. Kibum-ah… apa kau tahu?”
Nicole mendekat dan ikut bersandar pada batang pohon yang kokoh tsb. Kibum menolehkan kepalanya, memandang heran ke arah Nicole.

“Huhh?”

“Yeon-ah pergi dari rumah sakit, pasti ada alasan dibaliknya. Dan kurasa, dia sedang ingin menyendiri.” ujar Nicole.

“Yeon-ah bukan lagi anak kecil. Dia adalah gadis dewasa yang perasaannya kadang terguncang. Aku harap kau mengerti itu. Dan sebaiknya kau pulang saja, hari sudah mulai senja.”

Kibum melirik arlojinya. Benar saja, jarum menunjuk di angka 5. Ia juga sudah berjanji pada Jinki hanya akan menunggu sampai jam 5. Kibum beranjak, diikuti dengan Jinki dan Nicole.

“Baiklah. Jika nanti Yeon-ah sudah kembali, kumohon… hubungi aku,” pinta Kibum disertai anggukan Nicole sebagai jawaban atas permintaan Kibum.

Kibum berlalu, meninggalkan tempat itu… Tempat di mana ia dan Yeon-ah bisa berbagi tawa, duka, maupun suka. Sudah sebulan lebih ia menjalaninya, tak sehari pun ia biarkan lewat tanpa kisah senja yang terukir di tempat itu bersama Yeon-ah, gadis yang senantia mengisi waktu senjanya. Namun hari ini… senja ini… tak ada gadis itu, di mana dia? Gundah… kecewa menyelimuti setiap langkah Kibum. Ia ingin hari ini cepat berlalu dan berganti hari esok dengan kisah senja yang akan menyapanya kembali.
Tentunya bersama dia, sang gadis senja.

**********************The Sorrow Twilight**********************

Haejin berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya, sementara jarum jam terus berdetak – hampir mendekati angka 7. Ia semakin di rundung kegelisahan, mengingat kondisi Yeon-ah yang tidak terlalu baik.
Bagaimana mungkin ia akan membawa Yeon-ah ke club dengan kondisi Yeon-ah yang seperti itu?

Haejin memaksa otaknya untuk terus berpikir. Ia mencari tempat alternatif lain yang mungkin bisa ia tawarkan pada Yeon-ah. Namun syaraf otaknya berhenti bekerja saat terdengar suara pintu kamarnya terbuka. Haejin hampir terlonjak kaget karenanya.

“Aku sudah siap,” ujar Yeon-ah dengan semburat senyum menghiasi sudut bibirnya.

Haejin menatap Yeon-ah penuh keraguan. Namun segera lenyap saat mendapati Yeon-ah tengah tersenyum manis seolah kebahagiaan sedang menantinya di depan mata.

Haejin menghela nafas sebentar, membiarkan udara yang baru ia hirup menjalar ke seluruh tubuhnya bersama dengan darah yang mengangkutnya. Dan saat Haejin menghembuskan kembali udara yang harus dikeluarkan dari tubuhnya, Haejin merasa yakin dengan anggapannya.

“Tidak akan terjadi apa-apa pada Yeon-ah..” batinnya. Haejin menatap Yeon-ah yang nampak anggun dengan dress miliknya yang melekat di tubuh Yeon-ah. Ia menggandeng tangan Yeon-ah menuju mobil yang telah terparkir di halaman rumahnya.

“Kau harus bersyukur. Jika umma dan appaku ada di rumah, mungkin ia tak akan mengijinkanku keluar malam meski dengan seorang teman wanita,” ujar Haejin seraya memasukkan gigi persneling, kemudian perlahan menginjak pedal gas mobilnya.

***

Yeon-ah berdecak kagum melihat bangunan yang ada dihadapannya. Ia menggamit lengan Haejin, mengisyaratkannya agar segera memasuki club.

“Tunggu Yeon-ah. Aku tanya padamu sekali lagi. Kondisimu sedang dalam keadaan yang tidak baik, kau yakin akan mengunjungi tempat seperti ini?” tanya Haejin penuh keraguan.

“Kndsiku akan lebih baik jika sudah berada di dalam sana. Ayolah Haejin…” pinta Yeon-ah memelas.

“Oke, baiklah,” Haejin menyerah. Sempat langkah mereka kembali terhenti saat persis berada di depan pintu kaca. Sepertinya keraguan juga menyelimuti Yeon-ah. Wajar, ini adalah kali pertamanya ia mengunjungi tempat seperti ini. Tempat yang sekedar dilihatnya dalam sebuah serial drama atau hanya mendengar dari mulut ke mulut. Namun akhirnya ia mendorong pintu kaca pub dengan mantab, seolah yakin dengan keputusannya. Seketika itu hingar bingar musik memekakkan gendang telinganya. Juga sorot sinar lampu yang membuatnya berkali-kali harus menyipitkan matanya.
Yeon-ah melangkahkan kakinya menuju bar, diikuti dengan Haejin.

“Apa yang akan kau lakukan di sini?” bisik Haejin saat mereka tengah terduduk di sofa.
Yeon-ah melemparkan tatapan bingung pada Haejin.
“Aku akan melakukan seperti apa yang orang lain melakukannya di tempat ini,” jawab Yeon-ah polos.

“Huh? Apa itu berarti kau juga akan dansa di sana?” Haejin melayangkan telunjuknya ke arah dancefloor, di mana beberapa pasang insan tengah menikmati alunan musik. Hentakan kaki pun mengiringi setiap gerakannya.
“Uh? Tentu saja tidak, aku tidak bisa dansa. Mungkin di sini aku hanya ingin mencicipi minuman,” ujar Yeon-ah seraya mengerlingkan matanya nakal.

Yeon-ah meepuk kedua punggung tangannya, dan hanya sekali tepuk seorang waiter laki-laki menghampirinya.

“Satu botol saja,” ujarnya seraya mengulas senyum di antara kedua bibirnya.

“Yeon-ah?”

“Waegure?”

“Jangan lama-lama di sini. Aku takut..,” cemas Haejin.

“Ya, tenang saja. Jika sudah puas minum, kita kembali. Kau mau kan mengantarku pulang?” pinta Yeon-ah polos, tanpa beban. Haejin hanya mendengus kesal. Namun akhirnya, ia toh mengangguk juga pertanda setuju.

*********The Sorrow Twilight*********

Haejin melirik arlojinya, beberapa kali ia hanya menelan ludah dan mengeluh kesah tak keruan. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ia menatap pada layar, dan keluar club meninggalkan Yeon-ah sejenak untuk mengangkat telfonnya. Bagaimana pun juga, Haejin tidak ingin diketahui bahwa ia sedang berada di club.

“Ne, yobosseyo. Jinki oppa? Ada apa?”

“Kau ada di mana?”

“Eh? Aku? Aku…. aku…,” Haejin gelapan.

“Tadi aku ke rumahmu tapi kau tidak ada. Bibimu bilang kau sedang bersama temanmu. Apa kau bersama..”

“Aku bersama Yeon-ah, oppa. Kau jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” potong Haejin.

“APA?? Jadi benar kau bersama Yeon-ah? Katakan Haejin, sekarang kau ada di mana?”
Haejin menggigit bibir bawahnya cemas. Haruskah ia mengatakannya?

“Aku… aku sedang di club. Oppa, tapi kau jangan salah paham. Yeon-ah yang memintaku untuk menemaninya. Aku tidak punya pilihan lain,”

“Di club? Club mana?”

“Victoria Club,”

“Baiklah, tetap di sana. Aku akan ke sana bersama Kibum,”

Haejin mengerutkan dahinya saat dilihatnya sambungan sudah terputus.

“Mengapa dia begitu khawatir? Untuk apa oppa kemari bersama Kibum sunbae? Apa ini ada hubungannya dengan Yeon-ah? Arrggghhh! Ada apa ini sebenarnya?”

Berbagai pertanyaan berkelebat dalam benaknya. Namun tidak satupun yang bisa terjawab. Ia memilih untuk kembali memasuki club. Di tatapnya lekat-lekat wajah perempuan yang tengah tersenyum kepadanya.

“Siapa? Hmm, sepertinya aku tahu. Pasti kekasihmu. Dia mengkhawatirkanmu bukan?” tebak Yeon-ah asal. Suaranya sedikit serak, mungkin karena terlalu banyak minum. Namun anehnya, ia masih cukup sadar untuk mengenali seseorang juga berkomunikasi.

“Iya. Tadi dia sempat kerumahku,” jawab Haejin singkat.

“Apa kau bilang padanya kau sedang di club?”

“Ya,” jawab Haejin singkat.

“Maaf. Aku membuatmu repot, aku tidak seharusnya memintamu menemaniku..,”

“Tidak mengapa. Emm, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Haejin hati-hati.

“Tentu,” jawab Yeon-ah seraya meneguk vodka.

“Kau dan Kibum sunbae, apakah kalian berpacaran?”

“Tidak.” jawab Yeon-ah enteng tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Dia mencintaimu. Apa kau tidak menyadarinya? Bukankah kau juga menyukainya?”

“Entahlah. Aku tidak tahu,”

“Dia meninggalkan pertandingan basket hanya demi menjengukmu. Kau harus tahu itu,”

“Kau tahu aku ada dirumah sakit saat itu?” Yeon-ah nampak terkejut.

“Jinki oppa yang memberitahuku. Kau tahu? Aku begitu sakit hati saat itu. Alasanku melihat pertandingan basket itu adalah Kibum, tapi dia malah tidak ada dalam pertandingan itu.”
Yeon-ah menatap Haejin serba salah.

“Sudahlah. Kau tak perlu bersikap seperti itu. Aku sudah melupakannya. Justru karena peristiwa itu aku bisa merasa lega sekarang. Aku sudah mempunyai Jinki oppa,” ujar Haejin tersenyum. “Tapi kau harus berjanji padaku,” lanjut Haejin.

“Apa?”

“Aku sudah merelakan Kibum sunbae untukmu. Jadi kau tidak boleh menyia-nyiakannya, oke?”

Yeon-ah menghela napas sejenak.
“Aku tidak bisa.” ujarnya singkat. Haejin menatapnya heran.

“Mengapa?” tanya Haejin kecewa.

“Yeon-ah dengarkan aku. Kau gadis yang baik. Hanya kau satu-satunya yang pantas dengan Kibum sunbae. Sungguh, kalian sangat serasi…,”

“Nicole lebih cocok dengannya. Dia lebih cantik, dan cerdas.”

“Ahh, sudahlah. Jangan bahas hal ini lagi,” ujar Yeon-ah seraya menuangkan sebotol alkohol kedalam gelas. Ia hampir saja meneguknya saat tangan seseorang mencengkeramnya erat.

“Kk..kkau..,” kaget Yeon-ah melihat sosok Kibum yang sudah ada dihadapannya.

“Kembalikan mimuman itu padaku!!” gertak Yeon-ah seraya berusaha merebutnya.

Namun Kibum sudah lebih dulu meneguk vodka itu hingga habis. Yeon-ah hanya bisa menatap Kibum garang.

“Haejin-ssi, Jinki sedang menunggumu diluar. Biar aku saja yang mengantar Yeon-ah pulang,” ujar Kibum tanpa memperdulikan Yeon-ah yang tidak menyetujui ucapan itu.

“Baiklah, terima kasih. Annyeong,” pamit Haejin.

Kibum melayangkan senyuman pada Yeon-ah dan ikut duduk di sampingnya.

“Untuk apa kau datang kemari?” tanya Yeon-ah ketus seraya sedikit menggeser posisi duduknya menjauhi Kibum.

“Menemuimu, tentu saja.”

“Mengapa kau kabur dari rumah sakit?” tanya Kibum.

“Aku tersiksa di sana. Meringkuk di ranjang dan memimum obat, itu adalah hal yang paling membosankan,”

“Lalu mengapa kau malah datang ke tempat seperti ini? Seharusnya kau menjaga kesehatanmu, Yeon-ah…,” ujar Kibum sedikit kesal.

“Mengapa harus? Apa akan ada bedanya jika aku tidak meminum alkohol? Apa penyakitku akan sembuh? Toh aku akan mati, dalam waktu dekat ini,”

Kibum tersentak mendengar ucapan Yeon-ah.

“Aku masih ingin di sini. Jadi kau sebaiknya pulanglah. Katakan pada kakakku, tidak usah mencemaskanku. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”

“Jangan pernah katakan hal itu lagi.”

Yeon-ah tertawa lirih. “Apa?”

“Ikut aku,” Kibum menarik lengan Yeon-ah dan membawanya keluar club. Yeon-ah meronta-ronta berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kibum pada tangannya.

“Kibum-ah… lepaskan! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” teriak Yeon-ah kalap saat sudah berada di luar club.

“Aku menginginkanmu,” jawab Kibum singkat seraya membimbingnya menuju kedalam mobil.

Namun Yeon-ah berhasil melepaskan genggaman tangan Kibum.

“Apa yang kau harapkan dari seorang Jung Yeon-ah? Gadis yang hidupnya akan berakhir sebentar lagi. Bukankah kau juga sudah tahu hal ini? Kau mendengarnya langsung dari Dokter kan?”

Mata Yeon-ah nampak berkaca-kaca. Ia berusaha sekuat tenaga membendung tangisnya agar tidak pecah.

Kibum menatap tajam sepasang mata milik Yeon-ah. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluknya.

“Apa yang kau lakukan? Lepaskan!!” Yeon-ah mengelak.

“Aku tidak akan melepaskanmu jika kau terus meronta-ronta seperti ini.”
Yeon-ah terdiam.
Kibum menarik napas dalam-dalam dan perlahan melepaskan pelukannya.

“Jadi, kau sudah mendengar penjelasan Dokter? Kau percaya?”

“Aku tidak sengaja mendengarnya. Ya, aku percaya, aku akan…”

“Cih. Di mana Yeon-ah yang kukenal selama ini? Kau percaya begitu saja?” potong Kibum. “Kupikir kau adalah gadis yang kuat. Karena ketegaranmulah yang membuat bertahan sampai sekarang ini,” ujar Kibum.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya ada di posisiku, jadi tidak usah banyak berkomentar.”

“Kalu begitu ikut aku,” ajak Kibum seraya menggandeng tangan Yeon-ah menuju ke dalam mobilnya.

“Malam ini saja, kita lupakan semua masalah ini. Anggap semua baik-baik saja. Kita akan bersenang-senang…, bagaimana?” tawar Kibum. Belum sempat Yeon-ah menjawab Kibum sudah menginjak pedal gas mobil.

TBC

A.N : Aaaaaaaaaaaaa~~~ mian banget kalo jadinya gak jelas begini, ancur pullak. Aduh sumpah, mav banget yahhh…, udah ngepostnya lama minta ampuunn. Aku sempet kehilangan mood buat ngelanjutin FF ini -,- jadi mohon sekali komentarnya yah, saya terima apa adanya bentuk komentar anda kok. Bentar lagi FF ini tamat. Silahkan berimajinasi bagaimana nanti endingnya. Jugaa mav banget belum bisa masukin part puisi-puisian, (?) mungkin di next part =D Oyah, penting ni, nama Park Yeon-ah kuganti jadi Jung Yeon-ah, coz nyesuain ama nama marganya Nicole. Trus ama aja Jung Yeon-ah itu kamu =) lagi pula nama korea author, bukan Jung Yeon-ah, tapi Kang Ji Yeon #gapensangatwoy

About kkangrii

| Moslem |

Posted on 23 April 2011, in AUTHOR, Riyantika Sussi, SHINee Fanfiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 16 Komentar.

  1. Lanjutannya lama bgt authoooor. Ditunggu part selanjutnya ya author tp jgn lama2😀

  2. lanjutannya jgn lama2 ya thor hehe

  3. Seru..
    mkin ksni mkin Menarikkk ;D
    Author ngilang kmn c??
    Udh Dicari dr kpn tauu😦
    Jng2 chapt besok ada unsur2 Dewasa /PLAK
    *Sarapny keluar :P*
    Author.. Bikin yg bisa Mmbuat Adrenalin tergungcang😀
    But ALWAYS HEPPI END yaaa🙂

  4. akhirnya..
    udah lama nunggu..
    ceritanya seru d(^^)b
    part slanjutnya jangan lama2 ya😀

  5. *penasaran mode on* lanjut thor seru c habisx!!🙂

  6. Waaahhh!!!
    Lagi srius baca ech malh tbc, , pensran bgt nech, ,
    jgn lma” loh thor next partx!!!

  7. next part d.tnggu. . . Jgn lma2 y

  8. Arggh unnie aku udah bc 2 kali tetep aja geregetan, unn jgn dimatiin dong yeon ah nyaa, udah cukup ngenes. .Hiks

  9. uwaaa !
    kasian yeon ah ..😦
    tp key oppa mau ngajak yeon ah kmn iy ?
    cpt lnjut’n iy admin ud penasran ..

  10. part 10nya cpetan dong author, kagak sabar pengen baca😀

  11. Huwahh..part 9.y lama…-,- #plak digampar author

    Mau kemana tuh kibum am yeon ah??
    Trus…bakal happy endingkan thor?? :3 #cemas
    Pokok.y,,,hwaiting thor…daebak part 10.y~😀

  12. WaaH part 9 ny bikin sediH.. Coz ye0n-ah ny udh puTz asa gtUch.. Tpi krenN bngt dEch pk0k ny.. HarUzZ hapPy ending ea e0nNi.. Coz lw gug hapPy ending kaSian key oPpa ny d0nkK.. d tUngGu bngt part berikUt ny.. Penasaran nieh..

  13. Aigoo, kenapa masih TBC chingu? *ditabok author* lanjuti, pokoknya lanjutin ya😀

  14. part sblmnya aku smpet mau bilang. cz author ska brubh2 nulisnya kadang park ahjumma. kdang jung ahjumma. kdang ny. park, kdang ny. jung.

    yah, tp, slbhhnya keren ko crtanya. tp, plist jgn sad end.

  15. bagus banget, astaga😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: