(NC-17) With All My Heart – Chapter 1 (First Impression)

Preview 01 02 03 04 05

“Joo Yeon ah, omma lupa bilang kalau besok anak Mr. Kim juga akan datang.”

Besok aku dan omma akan bertemu dengan Mr. Kim. Beliau berkata bahwa ia hendak mengenalkanku secara resmi tapi aku masih belum tahu apa yang akan mereka bicarakan di pertemuan ini, dan sekarang mom bilang kalau anaknya juga akan hadir. Aku berani bertaruh kalau ini akan menjadi sesuatu yang penting yang melibatkan dua keluarga.

“Apakah omma pernah bertemu dengannya?” Dahiku berkerut.

“Omma bertemu dengannya beberapa kali. Ia pria yang tampan, mirip sekali dengan ayahnya. Ayahnya berkata bahwa anaknya sangat populer di kalangan para wanita sejak kuliah hingga sekarang. Tapi ia hanya berkencan dengan mereka untuk jangka pendek dan tidak pernah serius.”

Ah, ternyata tipe perayu atau lebih tepatnya playboy. Penjelasan yang sangat bagus dari mom, sekarang dikepalaku sudah terbentuk kesan pertama tentangnya. Aku mesti mengambil jarak dengan orang seperti ini karena tidak akan membawa manfaat bagiku. Tapi mom salah tanggap dengan pertanyaanku.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Omma, aku bertanya tentang kepribadiannya bukan wajahnya. Aku tidak perduli dengan hal itu.”

“Oh, omma kira kau menanyakan bagaimana wajahnya. Omma hanya bisa bilang kalau ia anak yang baik. Ia bergabung di perusahaan sejak dari kuliah. Omma tidak pernah bertemu dengan anak muda yang mau bekerja keras dan membantu orang tua seperti dirinya. Ia juga tidak suka banyak bicara, lebih kearah pendiam omma rasa.”

Pendiam? Aku menaikkan sebelah alisku. Bertentangan sekali. Tadi mom bilang kalau ia sangat populer di kalangan para wanita dan sering berkencan dan sekarang mom bilang kalau ia pendiam. Yang mana kepribadian yang sebenarnya?

“Siapa namanya dan berapa umurnya?”

“Namanya Kim Jae Joong dan ia berumur 29 tahun. Ia lebih tua darimu.”

Hmm, sudah berumur 29 tahun dan masih suka bermain-main dengan wanita. Tidak heran jika ia masih belum menikah sampai sekarang. Aku penasaran dengan penampilannya yang membuat para wanita tergila-gila dengannya, apakah memang setampan itu? Tapi aku tidak memberitahu mom apa yang kupikirkan tentangnya. Beliau pasti memarahiku jadi aku hanya mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut. Kurasa informasi ini sudah cukup bagiku untuk menghadapi Kim Jae Joong besok.

*****

“Joo Yeon ah, ayo cepat. Kita sudah terlambat.”

Kami membuat janji dengan Mr. Kim untuk bertemu di restoran pukul 12 siang dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke restoran dari apartemenku, itupun jika lalu lintas tidak padat. Mom berteriak dari ruang duduk, aku sedang memberikan sentuhan terakhir pada riasanku. Sebetulnya bukan riasan lengkap, hanya bedak, sedikit blush on dan lipstik hanya untuk membuat wajahku lebih cerah. Aku tidak terbiasa memakai riasan ke kantor jadi aku butuh waktu lebih lama hari ini.

Tadinya aku berpikir untuk memakai celana jeans karena lebih nyaman tapi aku teringat bahwa tidak sopan bertemu dengan orang yang lebih tua memakai jeans jadi aku memutuskan memakai terusan lengan pendek yang terbuat dari sifon berwarna abu-abu muda dengan sedikit renda dibagian depan dan memadukannya dengan sepatu flat warna hitam. Kurasa pakaianku sudah cukup sopan.

Aku mengambil tas tanganku sambil berjalan keluar kamar, omma sudah menunggu didepan pintu. Kami berjalan hingga ke tepi jalan dan memberhentikan sebuah taksi. Kuperhatikan lalu lintas didepanku dari dalam taksi, hari ini bukan hari keberuntunganku. Walaupun ini hari sabtu, tapi lalu lintasnya padat. Kulihat jam di tanganku, tinggal 15 menit lagi. Aku berdoa agar setelah lampu merah berikutnya, jalanan akan lengang karena jika itu terjadi maka kami bisa sampai ke restoran tepat waktu.

Dan ternyata doaku dikabulkan. Kami sampai ke restoran tepat waktu, sebenarnya lebih 5 menit. Aku memberitahu pelayan di meja depan kalau aku sudah reservasi atas nama Mr. Kim. Ia memeriksa nama yang kuberikan di komputer kemudian mempersilahkan kami untuk mengikutinya.

Aku mengamati sekeliling restoran sambil berjalan, interior dan suasananya mengagumkan. Dari interior yang ada, bisa dibilang kalau restoran ini dirancang khusus untuk kalangan atas. Mulai dari kalangan selebriti sampai politikus sering terlihat disini. Restoran ini selalu padat jadi butuh reservasi di awal. Untuk kalangan menengah, diharuskan membuat reservasi 1 bulan dimuka tetapi jika berasal dari kalangan atas, maka hanya butuh 3 hari. Aku sering mendengar orang membicarakan restoran ini dan membacanya dari majalah tapi ini kali pertama aku datang kesini dan aku tidak pernah menyangka bahwa akhinya aku bisa masuk. Ini adalah pengalaman sekali seumur hidup bagiku.

Pelayan tadi membawa kami ke sebuah ruangan yang terletak agak belakang. Ruangan ini dipesan jika kita menginginkan privasi tapi tentu saja akan ada biaya tambahan untuk fasilitas tersebut. Mom dan aku masuk ke ruangan dan melihat Mr. Kim sudah menunggu didalam. Beliau berdiri dari kursinya dan menyambut kami. Ia mencium pipi mom kemudian mengulurkan tangan kepadaku.

“Selamat datang, Joo Yeon ah. Kau tampak cantik hari ini, sama seperti ibumu.”

“Terima kasih, ahjussi.” Aku tersenyum padanya.

“Mari duduk. Aku sudah memesan makanan.”

Mom mengambil tempat disamping Mr. Kim dan aku duduk disamping beliau. Aku tidak melihat anak Mr. Kim. Aku baru saja hendak bertanya tapi beliau sudah berbicara.

“Maaf, Mi Rae ssi, Joo Yeon ah. Jae Joong masih belum datang sampai sekarang tapi aku sudah menghubunginya dan ia berkata bahwa ia masih dijalan. Kurasa kita harus menunggunya beberapa sesaat lagi.”

“Tidak apa-apa, Kyung Sik ssi. Lalu lintas hari ini cukup padat, kami saja terlambat datang. Mungkin ia terjebak macet.”

“Kuharap begitu. Anak itu, aku sudah bilang padanya untuk pergi bersamaku tapi ia menolak. Ia berkata bahwa ia mau pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.” Mr. Kim mengalihkan pandangannya dari mom dan berbicara padaku. “Kau tidak keberatan kan Joo Yeon?”

“Ye, ahjussi.”

Aku tidak keberatan untuk menunggu karena kupikir ia akan terlambat paling tidak 10 atau 15 menit, tapi ini sudah 30 menit dan ia masih belum datang. Ayahnya pun sudah menghubunginya selama 15 menit terakhir tapi kurasa ia tidak menjawab. Aku merasa agak sedikit bosan dan lelah menunggu seperti ini jadi aku pamit dengan mereka, kubilang aku hendak jalan-jalan sebentar di taman.

Aku berjalan disekitar taman yang ada di area restoran sambil melihat-lihat pemandangan dan orang ramai lalu lalang. Aku melihat ada sebuah bangku didekat kolam jadi aku berjalan mendekati dan duduk sambil menikmati sedikit panas matahari menyinari kulitku. Ketika aku sedang asik berjemur, kudengar suara tawa terus menerus yang menurutku sangat mengganggu. Semula kukira aku hanya sendirian ditempat ini tapi aku tidak menyadari bahwa ada seseorang, atau mungkin dua, yang sedang berbicara dibalik pohon besar. Makanya aku tidak melihat mereka sewaktu aku berjalan kesini.

Aku berdiri dan berjalan perlahan-lahan untuk melihat siapa dibalik pohon besar, tapi tentu saja tidak terlalu dekat. Kali ini aku dapat melihat dengan jelas, sepasang pria dan wanita. Dari pakaiannya aku yakin bahwa sang wanita adalah pelayan disini sedangkan untuk sang pria, aku tidak yakin kalau ia juga pelayan disini. Cara berpakaiannya agak berbeda, terlihat mahal dan berkelas. Posisi berdiri mereka yang menyamping membuatku bisa memperhatikan mereka lebih seksama. Dari sisi samping wajahnya, ia terlihat tampan. Sebenarnya, pengertian tampan itu sangat abstrak dan tergantung selera setiap orang jadi aku berusaha menggambarkan bagaimana penampilannya.

Dari sisi samping seperti ini, ia mempunyai bentuk hidung yang mancung dengan bibir yang tipis. Rambutnya yang berwarna coklat dipotong rapi tapi tetap mengikutigaya. Ia mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih serta jas hitam, lengan jasnya ditarik hingga batas siku dan ia melonggarkan dua kancing teratas dari kemejanya. Kurasa tingginya sekitar 180 cm. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku celana sembari berbicara dengan wanita didepannya. Sang wanita terlihat beberapa kali menyentuh lengan si pria setiap kali berbicara.

Wanita itu terlihat siap melemparkan dirinya ke pelukan pria itu dan sang pria terlihat menikmati perhatian yang diberikan, terbukti dari senyumannya. Aku menyeringai, semua pria sama saja. Mereka sangat senang jika ada wanita yang bersikap manja dihadapan mereka. Dan untuk pria yang satu ini, aku yakin ia yang memulai pendekatan dengan wanita itu.

Kurasa sudah cukup aku mengintai mereka jadi aku berjalan kembali ke restoran. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada diluar karena ketika aku kembali, Mr. Kim berkata bahwa beliau akhirnya berhasil menghubungi anaknya dan ia sudah berada di sekitar restoran. Kami hanya harus menunggu sesaat lagi, aku mengangguk. Karena anaknya akan segera tiba, aku memindahkan tasku yang sebelumnya kuletakkan di kursi kosong tapi aku ceroboh. Aku menjatuhkan tasku dan seluruh isinya bertebaran di lantai. Aku bangun dari kursi dan mulai mengumpulkan barang-barangku dilantai dan dibawah meja. Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuatku terkejut dan kepalaku membentur meja.

“Maaf, aku terlambat.”

“Ackk…”

Aku keluar dari bawah meja, dengan tangan masih mengusap-usap kepala aku berdiri dan melihat kearah pintu. Aku membelalak, itu pria yang tadi menggoda wanita di taman. Ia adalah Kim Jae Joong, anak Mr. Kim.

*****

Aku tidak tahu berapa lama aku berbicara dengan Ji Na ditaman tapi kurasa sangat lama jika sampai ada 20 panggilan tak terjawab di handphone. Sebenarnya aku sudah tiba disini sejak 15 menit yang lalu tapi seseorang memanggil namaku ketika aku berjalan menuju restoran. Aku berbalik dan melihat Ji Na. Terakhir aku bertemu dengannya ketika SMA dan setelah itu aku tidak mendengar kabarnya lagi, ternyata ia bekerja disini. Ia menarikku ke taman dan kami berbincang-bincang tentang aktivitas masing-masing setelah lulus. Ia masih seperti yang dulu, humoris. Lalu kulihat handphone, penuh dengan panggilan tak terjawab dari dad. Aku tidak mendengarnya karena suaranya ku non-aktifkan jadi aku segera pamit padanya dan berlari masuk ke restoran.

Aku bertanya pada resepsionis ruangan mereka dan segera meluncur kesana. Aku membuka pintu ruangan agak tergesa-gesa jadi kurasa orang-orang yang berada didalam pasti terkejut kemudian kudengar suara benturan dari bawah meja. Suara wanita. Ia berdiri dengan tangan mengusap-usap kepalanya dan melihat padaku dengan mata besarnya. Aku memperhatikannya selama beberapa saat sebelum kemudian berjalan ke kursi.

“Jae Joong, kemana saja kamu? Apakah kau tidak tahu bahwa kami menunggumu disini hampir 30 menit?”

“Mianhae, abuji. Aku lupa waktu karena aku bertemu dengan teman SMA ku, ia bekerja sebagai pelayan disini. Mianhae, ahjumma.” Aku tersenyum pada mereka berdua.

“Kyung Sik ssi, jangan memarahinya lagi okay? Tidak apa-apa, Jae Joong ah. Setidaknya kamu bisa datang. Perkenalkan, ini anak tante Joo Yeon. Ia lebih muda darimu.”

Aku berbalik dan melihat wanita yang duduk disampingku. Jadi ini anak perempuan yang sering diceritakan itu. Aku mengulurkan tangan padanya dan ia membalasnya. Hmm, penampilannya lumayan dangayaberpakaiannya tidak buruk.

“Baiklah, jadi hari ini kita berkumpul untuk mengumumkan suatu hal yang penting.” Dad mengambil tangan ahjumma dan menggenggamnya sambil melihat kearahku dan Joo Yeon. “Kami memutuskan untuk meresmikan hubungan ini. Kami akan menikah akhir tahun ini.”

Aku tahu hal ini akan terjadi. Aku bangkit berdiri dan memeluk dad serta mengucapkan selamat pada ahjumma. Joo Yeon juga memberikan selamat pada mereka berdua. Ia terlihat bahagia dengan kabar ini tapi ketika tatapan kami bertemu, senyumnya langsung lenyap. Aku menaikkan alis. Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan apapun sehingga ia bersikap demikian. Gadis aneh. Kami berempat melanjutkan makan siang sambil berbincang-bincang. Aku bertanya dimana ia bekerja tapi ibunya yang menjawab.

“Joo Yeon bekerja di Haesin grup sebagai sekertaris direktur.”

“Benarkah? Kalau begitu kau pasti kenal Yoo Chun. Ia temanku dari kecil.” Aku bertanya padanya dan ia hanya mengangguk.

Apakah ia mendadak menjadi bisu? Ia hanya duduk diam sejak aku datang dan mengangguk jika ditanya. Tapi berita bagusnya adalah ia seorang sekertaris yang artinya ia terbiasa mengurus segala sesuatu. Aku tersenyum pada diriku. Ketika orangtua kami sudah resmi menikah dan ia menjadi adikku, aku bisa memintanya untuk menjawab telepon yang tidak diinginkan dan menangani para wanita yang mengejarku. Akhinya aku bisa memiliki sekertaris pribadi.

Kami selesai makan siang sekitar jam 3 sore; sampai di pintu depan restoran, dad menyuruhku mengantar Joo Yeon sampai kerumah karena beliau mau pergi ke suatu tempat dengan ibunya. Ia akhirnya angkat bicara mendengar hal itu.

“Ahjussi, tidak perlu merepotkan Jae Joong. Aku bisa pulang sendiri.”

“Ahjussi tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri, Joo Yeon ah. Lagipula, ahjussi yakin Jae Joong juga tidak keberatan bukan?”  Dad memberi peringatan melalui matanya padaku, aku mengangguk.

“Tentu saja, aku tidak keberatan sama sekali. Ayo, beri sedikit kebebasan pada orang tua kita.”

Aku mengajaknya ikut ke tempat parkir. Ia membuka pintu penumpang didepan dan duduk disebelahku, aku menyalakan mesin dan mengeluarkan mobil dari tempat parkir. Ia memberitahukan alamat rumahnya dan kami berkendara dalam keadaan sunyi senyap. Aku melihat kearahnya beberapa kali, pandangannya tetap lurus kedepan. Gadis ini punya masalah yang serius dengan kepribadiannya, aku berkata dalam hati. Aku mencoba untuk memulai pembicaraan ringan dengannya karena ia akan menjadi adikku.

“Sudah berapa lama bekerja pada Yoo Chun?”

“2 tahun.”

“Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya?”

“Baik.”

Dahiku berkerut. Ia menjawab pertanyaanku yang panjang dengan sangat singkat dan bahkan tidak melihat kearahku. Apakah mungkin karena ia gugup duduk disebelahku? Aku menarik napas panjang; ini akan menjadi perjalanan yang panjang menuju pertemanan dengannya.

“Baiklah, karena kau sangat pelit dengan kata-kata aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku hanya berharap kita bisa menjadi teman suatu hari nanti.”

Tidak ada reaksi apapun darinya. Aku menggelengkan kepala. Tak lama berselang handphone ku berbunyi.

“Halo.”

“Oppa, kau dimana sekarang?”

Dari Hye Rin.

“Aku baru saja keluar dari restoran sehabis makan siang dengan ayahku. Kenapa?”

“Aku ingin oppa menemaniku ke butik. Aku ingin membeli sepatu yang kulihat di majalah. Oppa bisa menjemputku dirumah?”

“Kenapa kau tidak meminta oppa mu untuk menemani?”

“Aku mau oppa. Lagipula, oppa tahu kalau Chun oppa tidak pernah suka hal-hal seperti ini.”

“Lalu apa yang membuatmu berpikir kalau aku bersedia menemanimu?” Aku menggodanya.

“Karena oppa adalah Jae Joong oppa ku dan aku adalah tunanganmu.”

Aku tertawa. “Gadis nakal. Baiklah, aku akan sampai disana dalam 30 menit. Bersiaplah dan dandan yang cantik.”

“Aww, oppa saranghae.” Ia menutup telepon.

Aku tersenyum, Hye Rin selalu seperti ini. Jika menyangkut urusan berbelanja, ia selalu mencariku karena Yoo Chun selalu kesal dengannya. Tahu sendiri bagaimana para wanita kalau berbelanja; mereka bisa melihat satu barang selama berjam-jam dan tidak mengenal lelah untuk memasuki tiap toko yang ada. Aku melirik kearah Joo Yeon tapi ia tetap menjaga pandangannya lurus kedepan. Akhinya kami tiba didepan apartemen, ia menunduk padaku dan langsung keluar dari mobil segera setelah mobilku menepi dan berhenti. Aku hanya bisa melihatnya dengan heran dan menggelengkan kepalaku kemudian aku melaju dengan mobilku dan pergi menjemput Hye Rin.

*****

Akhirnya tiba dengan selamat di apartemen. Perjalanan kembali dari restoran menuju rumah yang hanya 15 menit terasa sangat lama. Aku tidak tahan dengan sifat penggodanya. Seperti tidak cukup dengan apa yang ia lakukan di taman restoran, ia menambahnya lagi di mobil dan kali ini dengan wanita yang berbeda. Kenyataan bahwa kami akan segera menjadi saudara tiri membuatku menarik napas panjang. Apa salahku dimasa lampau sehingga aku harus menjadi adiknya?

Mom kembali ke rumah pukul 9 malam, aku bertanya kemana beliau pergi dengan Mr. Kim tapi beliau tidak mau memberi tahu. Beliau berkata bahwa itu rahasia antara mereka. Malahan ia balik bertanya tentang Jae Joong.

“Bagaimana Jae Joong menurutmu?”

“Aku hanya bisa bilang kalau ia pria yang tampan, itu saja.”

“Hanya itu? Tidak ada yang lain?”

“Apalagi? Kami baru bertemu beberapa jam. Omma tidak bisa berharap kalau aku bisa memberikan komentar mengenai kepribadiannya.” Aku berbohong. Aku hanya tidak ingin mom tahu apa yang kupikirkan tentangnya karena dimata beliau, Jae Joong adalah anak yang baik dan bukan playboy.

“Kau benar. Omma senang kalian akan menjadi saudara. Omma ingin kau memanggilnya oppa, okay?”

“Hah? Oppa?” Aku kaget.

“Iya, oppa. Ia lebih tua darimu jadi kau harus memanggilnya dengan sebutan itu.”

“Omma, bisakah kita bahas hal ini nanti setelah omma menikah?” Aku memasang muka memelas dihadapannya.

“Baiklah. Oh, omma sangat lelah hari ini dan ingin tidur lebih pagi. Istirahatlah juga. Malam, sayang.” Beliau mencium keningku.

“Malam, omma.”

Aku berjalan ke kamarku dan duduk ditepi tempat tidur. Aku tidak percaya mom menyuruhku memanggil Jae Joong dengan sebutan oppa. Ketika aku berlatih mengucapkan kata itu, aku merasa ada sesuatu yang menggelitik di perutku. Jae Joong oppa? Ya Tuhan, aku tidak akan pernah mengucapkan kata itu. Aku pergi tidur dengan keputusan bulat bahwa aku tidak akan pernah memanggilnya oppa. Selamanya.

Posted on 25 April 2011, in AUTHOR and tagged , . Bookmark the permalink. 30 Komentar.

  1. keren ceritanya

    lanjut dongg

  2. Waah critanya bgus aku kra joo yeonnya mau dijodhin sma jj trnyata ortunya…lanjut ya^^

  3. Baguuuuuuuus!! Kirain mau dijodohin taunya -_- lanjutannya cepet2 ya author😀

  4. Aku komen dulu ya dan bcnya ntar malem. . .
    ntar aku komen lg hehe

  5. wahaha kocak joo bisa banget langsung ngambil kesimpulan kaya gitu ckck

    ceritanya seruu euyy lanjut nya jgn lama lama ya thor🙂

  6. jiah~~ kirain mau di jodohin ma c jj ternyata ortux!! seru nih critax thor!! lanjut dah!!🙂

  7. keren chingu! Lanjutannya cepat ya..

  8. bgus thor..,lanjutannya cpet ya !!

  9. missnandaa 최민호

    Huwaaaa….ffnya brasa kaya novel best seller thor (?)
    cpetan partnya ya thor, gak sbar :3

  10. Lanjutt lanjut hehehe
    penasaran. .
    Boleh kritik kan?
    Maaf sebelumnya, dialognya terlalu dikiiit hehe

  11. Huaaaa makasih ya buat comment2nya🙂 seneng dehh, bikin jd semangat gomawo

  12. woah.. bagus bagus.. saya tunggu kelanjutannya..

  13. Ortu nya dulu,,baru anak ny. . .
    Hehehe

  14. Kyaknya bkal seru nih, kalo mereka jd sodara ..
    Ayo lanjut thor !!

  15. wow jj oppa jd playboy n tukang rayu he he he
    aku kira jg bakal d jodohin sama jo yeon tau y malah ortu y yg nikah, pasti seru nih

  16. Aarg bagus ceritanya,kayaknya joo yeon first impressionnya udah buruk aja sama jae, next part asap, oKEY!

  17. annyeonghaseyo…^^

    aku reader baru…^^
    dan aku adalah cassieopeia!!!
    hehehe… mohon kerja sama.a… *bow*

    cerita.a bagus chingu, tapi aku kurang mengerti dengan cara bicara.a jooyeon *benarkah penulisan.a^^?* maksud.a cara bicara mengenai sudut pandang, terlalu banyak teori2 gitu… hehehe.. kalo teori di kurangin pasti tambah keren! lanjutkan ya author…^^

  18. lanjut author

  19. Hii, salam kenal smua, aku penulis kedua, join dgn catharina, thx semua buat commentnya, dan kritik2annya
    gomawo ^^

  20. kirain mau jodohin anaknya,,ternyata ortunya yang mau nikah..hehehe..
    bagus thor,,jarang typo jadi bikin enak bacanya..^^

  21. huaaa penasarann
    ayo lanjutan.a ~

  22. Hemm…… kirain…… anak2nya yg mau djodohn….. ga taunya malah…. tp, jae da pnya tunangan??? mgkinkah Joo yeon sma chunnie??? hemmm,,,, keanya bkal rumit nh, udah cinta segi 4+sodaraan tiri lg….ckckck*digetok author*#reader so tau#

  23. keren,,,,,
    baru part1 aja udah byk hal2 menarik yg bikin penasaran…

    kayanya salah paham antara jaejong dan joo yeon bakalan bikin cerita lbh seru nih🙂

    aq lanjut part2 dlu y author,,,,

  24. Wah keren neh penasaran ma kelanjutanya
    next part🙂

  25. kerrreeenn~
    joo yeon salah sangka tuh,,
    dia liat jaejoong 2an di taman restoran di sangka lagi ngegoda yeoja padahal itu temen lamanya hahaha
    serrruuu

  26. anii… knapa g mo panggil jj oppa??
    klo aq sih pnggil oppa pasti mau😀

  27. eps prtm seru. . next part ah. . .

  28. Seruu lanjut ah..🙂 >>

  29. aku udah baca lama tp baru komen sekarang, mian tor #plak,
    ceritanya bagus :*, aku lanjut next capt. ya

  1. Ping-balik: (NC-17) With All My Heart – Chapter 5 (New Home) « ミ SHINee Super Shinki FF Indo ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: