[FF] The SORROW TWILIGHT Part 10

aretaannora.wordpress.com

Title : The SORROW TWILIGHT

Genre : Romance, Mistery,

Rate : STRAIGHT/PG -15

Lenght : Part 8 [2400 words]

CAST :

* Kim Kibum – belongs to Key SHINee

* Jung Yong-Joo – belongs to Nicole KARA

* Jung Yeon-ah – belongs YOU-readers

* Lee Jinki – belongs to Onew SHINee

* Kim Haejin – belongs to Rhanthy Hapssary

and other support cast..

**********************The Sorrow Twilight**********************

Namun belum sempat Yeon-ah menjawab, Kibum sudah lebih dahulu menginjak pedal gas mobil.

****************************************************************************************

Yeon-ah memandang Kibum heran, saat ia memarkirkan mobil di suatu tempat.

“Kibum-ah, ini sudah malam. Lebih baik antarkan aku pulang saja,” tolak Yeon-ah.

Kibum menghiraukan ucapan Yeon-ah. Ia tetap membukakan pintu mobil dan menyuruh Yeon-ah keluar.

“Malam ini saja. Sebagai pengganti waktu kita yang hilang,” pinta Kibum.

‘Ya, malam ini saja Kibum. Untuk kali terakhir kita bersama di tempat ini,’ Ingin sekali Yeon-ah mengucapkan hal itu, namun tidak ia utarakan. Ia tidak tega, mungkin.

“Baiklah,” ujar Yeon-ah akhirnya.

***********************************************************************************************************

Kibum dan Yeon-ah terduduk di tempat seperti biasa. Di bawah pohon, di halaman belakang sekolah. Keheningan menyelimuti mereka berdua, hingga akhirnya Kibum memutuskan untuk mengawali pembicaraan mereka.

“Yeon-ah ssi, apa kau tahu aku meninggalkan pertandingan basket saat itu?” tanya Kibum.

“Ya,” jawab Yeon-ah singkat.

“Kau tahu kan? Betapa pentingnya pertandingan basket itu untukku?” tanya Kibum lagi.

“Ya,” lagi-lagi Yeon-ah menjawabnya dengan singkat.

“Dan sekarang aku telah kehilangan kesempatan itu,” ujar Kibum.

“Hanya karena alasan yang bodoh,” timpal Yeon-ah. Kibum menatap Yeon-ah tak mengerti, sementara Yeon-ah hanya tersenyum dan melanjutkan,

“Jika aku jadi kau, aku tak akan mungkin meninggalkan pertandingan basket yang begitu berarti untukku hanya karena seorang gadis. Toh kehadiranku di samping gadis itu, tidak akan berarti apa-apa,” tutur Yeon-ah tanpa mengalihkan perhatiannya yang sedang menerawang langit.

“Yeon-ah, aku benar-benar mengkhawatirkanmu saat itu. Kau tak pernah bercerita padaku mengenai penyakitmu?”

“Penyakitku tak ada hubungannya denganmu sama sekali,” sanggah Yeon-ah.

“Dan aku harap, masalah ini tak akan mempengaruhi hubungan kita ke depannya,” pinta Kibum.

“Hubungan kita?” ulang Yeon-ah, “Di antara kita tak ada hubungan apapun,” sambungnya.

“Yeon-ah.. kita,”

“Cukup!” potong Yeon-ah, “Aku mohon jangan bahas hal ini lagi. Kau tahu kan? Yang kubutuhkan saat ini adalah ketenangan, hiburan,”

“A.. aku mengerti. Maafkan aku. Bagaimana kalau kita berkeliling Seoul saja? Pemandangan kota Seoul sangat indah,” tawar Kibum.

Yeon-ah mengangguk pertanda setuju, “Tidak buruk,” ujarnya tersenyum.

****************************************************************************************************************

Sudah 2 jam lebih mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan. Saat ini mereka sedang berada di Namsan Tower, melihat kota Seoul dari ketinggian. Dan akhirnya memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

“Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa lebih baik?” tanya Kibum tanpa mengalihkan perhatiannya yang terfokus pada jalanan.

“Sedikit. Tapi perasaanku begitu tenang ketika berada di puncak tadi,” ujar Yeon-ah.

“Kau suka berada di ketinggian?” tanya Kibum.

“Tidak juga. Ketika berada di tempat yang tinggi, aku hanya merasa semua beban berat terlepas dari pundakku. Bagaimana denganmu? Sepertinya tadi kau begitu ketakutan saat berada di ketinggian?” Yeon-ah balik bertanya.

Kibum tidak langsung menjawab. Lama.. barulah terdengar jawaban darinya,

“Aku memang takut ketinggian,” aku Kibum. Ia menghela napas sejenak kemudian melanjutkan, “Namun.. semua ketakutan itu lenyap begitu melihat wajahmu yang menenangkan.”

Yeon-ah mengernyit heran.

“Yeon-ah, aku ingin bicara sesuatu,” ucap Kibum.

“Katakanlah, masih ada waktu 15 menit sebelum kita tiba di rumahku.”

“Bukan sekarang, tapi besok. Temui aku di tempat biasa,”

Wajah Yeon-ah mendadak pucat.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa datang lagi ke tempat itu atau tidak. Tapi Kibum-ah… Aku mohon, jangan pernah temui aku lagi di sana. Karena aku tidak akan ke sana lagi,” nada suara Yeon-ah terdengar berat.

“Mengapa?” tanya Kibum tak mengerti. Yeon-ah tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke luar.

“Aku tidak tahu alasanmu untuk tidak datang ke tempat itu. Kurasa lebih baik aku tidak tahu. Dan kalaupun kau memberitahuku, aku tidak ingin mendengarnya. Yeon-ah, apapun yang terjadi, aku akan menunggumu di tempat itu,” tegas Kibum.

‘Karena semuanya sudah berakhir,’ begitu ingin Yeon-ah mengatakan hal itu namun ia lebih memilih memandangi jalanan. 15 menit berlalu. Tanpa percakapan di antara mereka. Kini, mereka sudah tiba di halaman rumah Yeon-ah.

“Bagaimanapun, aku sangat berterima kasih padamu,” Yeon-ah membungkuk kemudian berlalu memasuki rumah.

Yeon-ah menghentikan langkahnya ketika berada di ambang pintu.

“Aku menunggumu besok. Kuharap kau datang,” ujar Kibum.

Yeon-ah tetap melangkah masuk, tanpa memperdulikan ucapan Kibum. Ia sudah mengambil keputusan untuk besok, dan ia tak ingin menghiraukan ucapan Kibum. Bagaimanapun, keputusan yang diambilnya sudah bulat.

Yeon-ah masuk, kemudian menutup pintu rumah dan menguncinya. Ia sedikit membuka tirai jendela untuk memastikan kepergian Kibum.

Kibum masih berdiri di sana. Tidak lama, dan setelah itu ia kembali memasuki mobilnya. Yeon-ah terus memperhatikan kepergian Kibum sampai mobil itu lenyap dari pandangannya.

Seseorang menepuk pundak Yeon-ah dari belakang. “Yeon-ah, kau sudah pulang? Onnie sangat mengkhawatirkanmu,”

“Aku baik-baik saja,”

“Tapi tidak seharusnya kau pergi dari rumah sakit,”

“Sudahlah onnie, aku lelah. Aku ingin istirahat.” Yeon-ah berlalu, menaiki tangga menuju kamarnya. Ia berpapasan dengan ummanya.

“Yeon-ah, kau sudah kembali rupanya. Apa Kibum mengajakmu jalan-jalan?” tanya ibunya. Sebenarnya tidak perlu mendengar jawaban Yeon-ah, ia juga sudah tahu jawabannya. Jinki, teman Nicole sudah memberi kabar pada mereka sebelumnya.

“Ah, umma tahu. Kau pasti lelah kan? Umma sudah memasakkan masakan enak untukmu. Ayo sayang, kita makan bersama,” ajak Ibu Yeon-ah.

“Tidak. Aku sudah makan tadi,” jawab Yeon-ah singkat.

Yeon-ah melayangkan pandangan penuh tanya pada ibunya,

“Umma, bersikaplah padaku seperti biasa. Jangan membuatku bingung seperti ini.”

Ibunya terhenyak mendengar ucapan Yeon-ah barusan. Namun Yeon-ah sudah berlalu memasuki kamarnya sebelum ibunya sempat berbicara lebih banyak lagi.

*********************************************************************************************************

Yeon-ah merebahkan tubuhnya pelan di ranjang. Ia mencoba memejamkan matanya, namun potongan-potongan kejadian tadi terus membayang dalam benaknya.

Yeon-ah teringat ucapan Kibum, “Aku tidak tahu alasanmu untuk tidak datang ketempat itu. Kurasa lebih baik aku tidak tahu. Dan kalaupun kau memberitahuku, aku tidak ingin mendengarnya. Yeon-ah, apapun yang terjadi, aku akan menunggumu di tempat itu.”

“Arggghh! Sial! Kenapa aku mengingatnya?” geramnya pada diri sendiri.

Yeon-ah beranjak dari ranjangnya kemudian meraih selembar kertas dan pena.

Ia menuliskan beberapa kata yang ingin ia curahkan.

Tangannya terasa kaku pada awalnya, namun ia terus memaksanya untuk menggoreskan pena di atas kertas tsb.

…………….

…………….

Ia menghentikan gerakan tangannya. Dan kembali membaca apa yang telah ia tulis.

“Maafkan aku Kibum. Tapi semuanya sudah berakhir. Bukan keinginanku, bukan pula keinginanmu. Tapi inilah takdir, tidak ada satupun dari kita yang bisa melawannya,” batinnya. Dan saat itulah setitik jiwa Yeon-ah yang rapuh, menjadi hancur berkeping-keping. Tangisnya pecah tanpa bisa ia cegah.

Yeon-ah membekap mulutnya sendiri agar isakan tangisnya tidak terdengar. Ia ingin menangis tanpa seorang pun yang tahu. Ia ingin menangis, menangisi segalanya. Menangisi keadaannya, kondisinya, nasibnya, takdirnya, juga Kibum, satu-satunya keindahan dalam hidupnya. Kenyataan bahwa ia tidak mungkin bisa lagi bersama Kibum membuat setitik harapannya untuk hidup, hilang sudah.

Takdir memang kejam. Sungguh kejam. Ketika Yeon-ah ‘baru saja’ merasakan kebahagian dalam hidupnya, namun takdir merenggutnya begitu saja. Ia tidak diperkenankan untuk merasakan kebahagiaan itu lebih lama. Lalu untuk apa kebahagiaan itu datang dalam kehidupannya? Andaikan Yeon-ah boleh memilih, ia lebih memilih untuk tidak merasakan setitik kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan yang selama ini ia rasakan. Hanya akan menambah luka di dada saat mengetahui kenyataan bahwa ‘Ia tidak bisa hidup lebih lama dengan Kibum, dengan kebahagiaan itu sendiri.’

Yeon-ah memegangi dadanya yang terasa sesak dan berat. Nafasnya tersengal-sengal.

Yeon-ah menatap foto Kibum yang terbingkai rapi dalam figura di hadapannya. Dadanya semakin sesak. Tanpa ia sadari, ia membanting figura itu ke lantai hingga pecahan kacanya mengenai kaki Yeon-ah.

Sepertinya Yeon-ah sudah mati rasa kini. Ia tidak merasakan sakit apapun saat pecahan kaca itu mengenai kakinya dan menusuk kulitnya. Namun ia masih bisa merasakan yang satu ini….

Rasa sakit di dadanya. Sakit….

Sakit sekali rasanya….

Ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.

Berharap rasa sakit itu akan mereda pada keesokan harinya.

Samar-samar terdengar suara seseorang memanggil Yeon-ah dari balik pintu kamarnya. Namun tidak digubrisnya sama sekali. Mata Yeon-ah sudah terpejam, walaupun telinganya masih bisa mendengarkan samar-samar.

*********************************************************************************************

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah kecil jendela kamar Yeon-ah. Yeon-ah tersadar dan mendapati keadaan kamarnya yang sungguh berantakan. Terdengar bunyi ketukan dari luar pintu.

“Tunggu sebentar,” teriak Yeon-ah seraya buru-buru membereskan pecahan kaca dari figura foto. Ia menyembunyikannya di bawah tempat tidurnya.

“Awww..,” rintih Yeon-ah. Ternyata pecahan kaca itu kembali menggores kakinya, menambah luka tadi malam yang nampak sudah sedikit mengering. Ia mencoba berjalan senormal mungkin. Dan…. Bisa! Walau berarti, ia harus menahan rasa sakit di kakinya. ‘Tidak apa. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit yang lebih sakit dari ini,” pikirnya.

“Kau sudah bangun rupanya?” tanya Nicole begitu Yeon-ah membuka pintu kamarnya.

Nicole melongok sekilas ke dalam kamar adiknya. “Ya sudah, hari ini kau tidak usah berangkat dulu. Kau harus banyak istirahat,”

“Tidak. Aku akan tetap berangkat,” sergah Yeon-ah.

“Yeon-ah, tapi kondisimu..”

“Aku baik-baik saja,” potong Yeon-ah.

***************************************************************************************************************

“Selamat pagi Yeon-ah. Kau sudah siap berangkat ternyata,” sapa Nyonya Jung begitu melihat Yeon-ah menuruni anak tangga.

“Sarapanlah dulu. Umma sudah membuatkan sarapan untukmu dan Nicole.”

‘Sarapan? Kapan terakhir kali Umma menawarkan sarapan padaku?’ batin Yeon-ah.

“Tidak usah! Aku tidak lapar,” ketus Yeon-ah sambil terus berjalan menuju pintu.

“Umma tahu, umma salah. Apakah kau tidak mau memaafkan umma?” Yeon-ah menghentikan langkahnya. Ia begitu ingin berbalik, berlari dan mendekap ibunya. Untuk kali ini saja? Ia ingin merasakan kehangatan seperti yang ia dapatkan saat kecil.

Yeon-ah menolehkan sedikit kepalanya dan tersenyum. “Umma tidak perlu minta maaf begitu. Karena umma tidak melakukan kesalahan apapun.” Hanya itu yang bisa Yeon-ah katakan. Yeon-ah kembali melangkah keluar rumah, diikuti Nicole yang nampak menyusulnya.

**************************************************************************************************************

Kibum berjalan tergesa-gesa seraya berkali-kali menatap arlojinya. Ia masih punya waktu sekitar 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.

Kibum menghentikan langkahnya, tepat di depan gerbang rumah Yeon-ah begitu melihat sosok Yeon-ah, diikuti Nicole yang tampak sedang mengejar langkah Yeon-ah.

“Yeon-ah?” gumam Kibum lirih, hanya terdengar olehnya. Yeon-ah dan Nicole nampak terkejut dengan kehadiran Kibum.

Yeon-ah dan Kibum berdiri tak bergeming sedikitpun, saling menatap untuk rentang waktu yang cukup lama. Sementara Nicole hanya sanggup menatap 2 figur yang saling bertatapan, mengabaikan dirinya seolah keberadaannya memang tak ada.

“Kebetulan sekali. Yeon-ah, kau akan berangkat sekolah? Apa kau yakin?” tanya Kibum akhirnya.

“Ya,” jawab Yeon-ah singkat dan kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti. Kibum berbalik, dan berusaha menyamainya langkahnya. Namun Yeon-ah berjalan lebih cepat, seolah menghindar.

“Apa nanti sore kau bisa datang?” tanya Kibum.

“Tidak.”

Kibum tersentak. “Aku akan tetap menunggumu,” tegas Kibum. “Seperti biasa,” tambahnya.

“Terserah… Tapi aku tidak akan datang.”

“Yeon-ah…,” panggil Kibum, “Aku mohon! Ada sesuatu yang penting yang harus kukatakan..,” ujar Kibum.

“Oh? Mengapa harus menunggu hingga sore nanti? Mengapa tidak sekarang saja?”

Kibum terdiam. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri Yeon-ah. Sulit baginya untuk percaya bahwa sosok di depannya adalah Jung Yeon-ah, gadis yang dikaguminya selama ini.

“Yeon-ah… sebenarnya ada apa denganmu?”

“Aku?” ucap Yeon-ah memastikan. “Memangnya ada apa denganku?” Yeon-ah balik bertanya.

Nicole yang membuntuti mereka di belakang berusaha menyimak pembicaraan mereka.

Kibum berhasil mensejajari langkah Yeon-ah.

“Mengapa kau berubah seperti ini?”

tanya Kibum.

“Aku tidak berubah. Aku, Jung Yeon-ah, masih tetap seperti yang dulu. Dan akan selalu seperti ini. Karena ini adalah aku yang sebenarnya. Jauhi aku, Kibum-ah. Jauhi aku, jika kau tidak ingin menyesal.”

“Tidak bisa. Aku tidak pernah bisa melakukan hal itu!” tukas Kibum.

“Kau pasti bisa. Hanya saja, kau tidak pernah mencoba menjauhiku.” Yeon-ah meyakinkan. “Semua ini demi kebaikanmu,” tambahnya. Yeon-ah menolehkan kepalanya, memandang Kibum sejenak kemudian semakin mempercepat langkahnya hingga Kibum tertinggal di belakang.

‘Maafkan aku, Kibum-ah. Aku benar-benar minta maaf…. Namun semuanya sudah berakhir. Aku harap kau bisa menerima semua ini,’ batin Yeon-ah.

*******************

“Hei, mengapa hanya berdiam diri saja? Sebentar lagi masuk,” Nicole menepuk bahu Kibum yang hanya berdiri termenung.

“Ah, ya. Ayo kita berangkat,” ajak Kibum.

Nicole menghela napas panjang.

“Aku minta maaf atas kelancanganku. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.”

“Mohon, maklumi sikap adikku tadi,” sambung Nicole.

Kibum hanya terdiam, nampak sedang merenungkan sesuatu.

“Mengapa dia menjadi seperti itu. Apa ada masalah dalam keluarga kalian?” tanya Kibum. “Ahh, maaf aku tidak bermaksud..”

“Tidak apa,” potong Nicole. Nicole mengambil napas, dalam.

“Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yeon-ah. Hubungan keluarga kami baik-baik saja. Aku begitu khawatir jika perubahan sikapnya dikarenakan Yeon-ah mengetahui tentang….,” Nicole membiarkan ucapannya menggantung di udara. Tiba-tiba saja ia merasa berat mengatakan ‘hal itu’.

“Sudahlah, sebaiknya kau temui Yeon-ah lagi, saja..” saran Nicole. Tanpa mereka sadari, mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah. Haejin mengernyitkan dahi bingung begitu melihat Kibum dan Nicole saling melempar senyum dan melambaikan tangan.

‘Aku tidak salah lihat kan? Mereka berangkat bersama? Sebenarnya Kibum itu menyukai Nicole atau adiknya?’ tanya Haejin dalam hati.

***************** *************************************************************************************

“Yeon-ah, ada yang ingin kutanyakan,” ucap Sulli, teman sebangku Yeon-ah begitu bel istirahat berbunyi.

“Ne, silahkan..”

“Sejak kapan kakakmu dan Kibum sunbae putus? Kudengar Kibum sunbae tidak mengikuti pertandingan basket, karena menjengukmu. Apa itu berarti kau dan Kibum sunbae sedang menjalin hubungan?” tanya Sulli menyelidik.

‘Aigoo~~ secepat inikah berita Kibum menyebar? Tidak kusangka. Ya Tuhan, haruskah aku menjawab pertanyaannya?’ batin Yeon-ah.

Haejin yang mendengar percakapan itu, segera tanggap.

“Sulli-ya, asal kau tahu saja. Nicole dan Kibum sunbae itu tidak pernah berpacaran. Semua itu hanya gossib,” timpal Haejin dengan menekankan nada suaranya pada kata ‘gossip’.

“Yah, memang gossip. Tapi tidak seorangpun tahu mengenai perasaan di antara mereka. Bisa saja mereka saling menyukai,” timpal Yeon-ah.

Sulli makin tidak mengerti sementara Haejin menatap Yeon-ah tak percaya. Tak percaya akan ucapan yang baru saja ia dengar.

“Sudahlah… Aku tidak peduli. Aku ingin ke kafe saja,” ucap Sulli seraya beranjak meninggalkan Haejin dan Yeon-ah.

“Yeon-ah…. muka sepertinya pucat sekali. Bibirmu juga sedikit membiru. Kau tidak apa-apa kan?” tanya Haejin khawatir.

“Umm.. Benarkah? Ah, aku baik-baik saja kok. Sungguh!!!” Yeon-ah meyakinkan.

“Syukurlah. Ngomong-ngomong tadi pagi kau berangkat bersama siapa?”

“Sendiri,” jawab Yeon-ah tanpa menambahkan apapun.

“Sendiri?” kaget Haejin.

Yeon-ah mengerutkan dahinya mendengar reaksi Haejin yang berlebihan, menurutnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Yeon-ah ingin tahu.

“Umm, itu. Errr, tadi pagi aku melihat…,”

ucapan Haejin terhenti karena tiba-tiba terdengar sedikit kegaduhan di depan pintu kelas mereka. Spontan, perhatian Haejin dan Yeon-ah teralihkan.

“Omona!! Kibum sunbae!”

“Kibum sunbae, ada keperluan apa datang ke kelas kami?”

“Apakah Kibum sunbae mencari Yeon-ah?”

“Oh, tidak mungkin! Jadi berita itu benar?”

“APA??? Katakan pada kami bahwa itu tidak benar!!”

“Sunbae tidak boleh berpacaran dengan Yeon-ah!!”

Suara terdengar tumpang tindih saat Kibum memasuki kelas Yeon-ah. Haejin berjalan mendekati sumber keributan.

“Apa-apaan sih, kalian ini?? Cihh, Kekanak-kanakan!!” cela Haejin pada segerombolan temannya yang menghalangi jalan Kibum.

“Tidak bisakah kalian bersikap sopan dengan memberi jalan untuknya?” tegas Haejin.

Gerombolan gadis itu spontan menjauh, memberi jalan pada Kibum yang ingin memasuki kelas itu. Well, Haejin adalah seorang dictator bagi kaum wanita di kelas itu. Tidak heran jika teman-temannya segan padanya.

Yeon-ah sudah bisa melihat dengan jelas sosok di depan pintu sana, karena gerombolan gadis itu tidak lagi menghalangi pandangannya.

“Kibum? Untuk apa sih dia kemari?” batin Yeon-ah kesal.

Sementara Kibum memasang tampang bingung. Bingung dengan apa yang barusan ia dengar. ‘Dia Haejin kan? Gadis yang selalu merecokiku saat latihan basket?’ tanyanya dalam hati.

“Sunbae mencari Yeon-ah?” tanya Haejin, membuat Kibum tersadar.

“Ohh, iya a…aku mencarinya,” jawabnya gelagapan.

*********************************************************************************************************

TO BE CONTINUED…..

Ehmm… maaf lama yah *ditimpuk* Oh ya.. kayaknya ini masih panjang deh… 4 atau 5 chapter lagi *senyumepilllll* aku mau nanya nih…. alurnya masih fokus kan???

About kkangrii

| Moslem |

Posted on 1 Mei 2011, in Riyantika Sussi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 23 Komentar.

  1. Masi panjang banget ya author tp aku setia membaca kok *gak penting* kasian kibum nya dicuekin. Yeon ah nya kok jd gitu sih u.u ditunggu kelanjutannya

  2. Aigooo, aku mau jadi yg pertama. Tapi kenapa ga bisa? Hehehe.
    Eonni, kenapa tega sama para reader? Kenapa TBCnya pas lagi seruuuu😦 kan makin penasaran aja nih.. Pokoknya lanjutannya harus cepet” publish (maksa) *ditabok admin* aku tunggu lohhh lanjutan nya. Hehehe.

  3. uwooh… trnyata masih panjang perjalanan ney ff ya
    sikap yeon ah k’ jdi dingin ma kibum kenapa…. huwaa… penasaran ma lanjutanx jangan lama2 ya thor ^_^

  4. alurnya msh nyambung kok thor!!🙂 walaupun msh lama qw tetep setia menggu kok thor(?) *lebay* tuh kasian bgt deh kibum+yeon ah!! >< lanjut dah thor!!😉

  5. aku masih setia baca kok author, asal jangan kelamaan postnya🙂

  6. yah Yeon ah nya berubah -,- >,<
    entah knapa tidak smenegangkan crita2 sbelumnya.. hehhe tapi masih stia baca lanjutannya kok^^
    lanjutt yuu ah~~

  7. Silvi Anggraini

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

  8. msh kok,, !!! aish gregetan ak bc ni ff , gemes bin pnasaran.com,, next chap. jgn lamalamalamalama yaaaaaaaaaa…..🙂 gomawo author ^^

  9. Waaaaaaaaaaa FF nya bagus banget… Tapi di chapter ini lagi ada masalah c… jadi ga ada so sweetnya. wkwkwkw hehehe mian, ini pertama kalinya aku comment di sini. Biasanya pake hp, jadi susah mau comment.

  10. aiiiihh..jadi penasaran endingnya kyak gimana..FFnya bagus banget! cepet2 d lanjut y author..kasih ‘thumbs’ buat author😀😀

  11. Arrggh….. yeon ah napa jd gtu dah??? kayanya yeon ah sring bgt kna pchan kaca ya?? trz ga dbrshn lg tu luka. alur crta msh nyambung. tp, sdkit koreksi dr aku, alurnya dbkin lbh detail. cz kalo ga djabarin lbh detail. jd kya ada yg kosong/ilang ceritanya…. mian kalo aku so tau…:)

  12. aku prmbaca setia kok, lanjutannya jgn lama2 yaaa thor😀

  13. onn aku balik,lama ga ketemu n bca fanfic coz kemarin aku bnyak tugas,ujian trus pr,mumpung bsok libur,jadi nyempetin buat baca fanfic lagi ^^ eh tapi ngemeng2 msih inget kan sama aku?? hehehe

    komentar ff:
    kenapa yeon-ah sikapnya kayak gitu ke kibum…
    lanjut onn =)

  14. Ufff..fuhhh #buang nafas dalam2
    Aishh..kenapa sih yeon ah menderita mulu…yeon ah jg sih yg pabo…
    Hmm..tpi ff.y keren… Lanjutannya ditunggy yah..hehe

  15. makin keren nih😄 pnasaran banget si kibum mau ngapain… romantisnya ini FF. aku bacanya sampai nangis lho T^T
    smoga lanjutannya cepet slese yah ^^

  16. waaahh eonni.. Kok ceritanya nge-gantung sih?? Cpt donk lanjutin yaa.. Ahahaha..😀

  17. wa sudah lama banget rasanya😀 aku nyari blog kamu tapi nggak dapet sus xD
    terus teruss….ditunggu lanjutannya
    kok yeonah nya jadi gitu ya,kesian kibum😦 hehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: