[FF/PG/S1] A Letter To You

A Letter To You

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast

Kim Minchan (You)

Your bias

Rating: PG

Length: 1.914 words

Genre: romance, sad romance

A/N: Annyeong, FF ini kubuat untuk sahabatku yang sedang mengalami masalah seperti ini. FF ini dibuat dengan bentuk surat ya🙂 Jadi ceritanya suratnya dari bias kamu. Anggep aja Minchan itu kamu. oKEY? Happy Reading all! And, GO AWAY PLAGIATORS!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dear, Minchan.

Annyeong jagi. Apa kabar? Maafkan aku karena aku pergi dengan tiba-tiba. Maafkan aku karena aku pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun untukmu. Aku memang sengaja melakukan itu, jagi. Aku memang sengaja membiarkan diriku tidak ditemukan oleh siapapun. Aku terlalu rapuh untuk bertemu dengan orang lain apalagi denganmu. Aku terlalu rapuh untuk melihat wajah cantikmu yang selalu membuatku tersenyum. Aku terlalu rapuh untuk mendengar tawamu yang menghidupkan duniaku. Aku terlalu rapuh untuk menyentuh tubuhmu yang selalu hangat dan memberi kedamaian tersendiri untukku. Lebih tepatnya, aku terlalu rapuh bila harus berhadapan denganmu.

Aku tahu, jagi. Aku tahu. Aku tahu kau berfikir bahwa aku adalah seorang laki-laki pengecut yang tidak bertanggung jawab dengan perkataanku sendiri. Aku tahu bahwa aku adalah laki-laki pecundang karena harus kabur dari kenyataan yang ada. Aku tahu kau sangat membenciku saat kau tahu tentang masa laluku. Mungkin kata benci tidak tepat. Mungkin kata itu bisa digantikan dengan kecewa. Aku tahu kau sangat kecewa denganku. Maafkan aku tentang hal itu walaupun aku tahu itu sangat susah untuk dimaafkan.

Segala yang kuperbuat di masalaluku memang sangat kusesalkan. Aku sendiri jijik dengan diriku sendiri. Aku jijik mempunyai tubuh seperti ini. Aku jijik mempunyai sifat yang diliputi oleh nafsu duniawi. Segala yang kuperbuat memang sangat aneh dan sangat tidak wajar untuk seorang gadis yang mengubah hidupku. Seorang gadis yang masih bersih, masih suci, dan masih baru dalam masalah percintaan. Seorang gadis yang bisa membuka semua pikiranku menjadi seorang yang lebih baik dari sebelumnya. Gadis itu adalah kau, jagi. Kim Minchan. Kau merubah seluruh hidupku.

Maafkan aku  karena aku telah mengecewakanmu. Maafkan aku karena aku telah merusak kisah percintaanmu. Padahal, aku tahu aku adalah cinta pertamamu. Namun, apa yang kulakukan? Aku hanya merusak seluruh impianmu. Aku hanya bisa menyakiti perasaanmu. Aku hanya bisa mengecewakanmu. Aku hanya bisa merepotkanmu karena masa laluku yang kuakui sangat kelam. Maafkan aku telah membuatmu jatuh cinta kepadaku, jagi. Maafkan aku.

Jagi, masih ingatkah kau saat aku menyatakan perasaanku kepadamu? Haha! Saat itu aku mengakui bahwa aku sangat pengecut karena menyatakan perasaanku lewat pesan singkat. Pesan singkat yang hanya terdiri dari dua kata tidak penting yang mengubah seluruh hidupku. Aku memang tidak salah mencintaimu. Aku memang tidak salah menyayangimu karena ternyata kau juga menyayangiku juga. Saat itu juga, aku sangat bersyukur karena kau menerimaku untuk menjadi yeojachingu-ku. Saat itu juga, dari dasar hatiku yang paling dalam, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk membuka lembaran baru dalam hidupku. Kau memotivasiku untuk berubah.

Tetapi, mengapa aku mempunyai perasaan yang tidak enak? Mengapa aku merasa aku tidak pantas untukmu? Aku merasa aku terlalu kotor dan terlalu najis untuk menjadi milikmu. Lebih tepatnya milikmu yang paling pertama. Mengapa aku merasa bersalah saat aku menyatakan perasaanku itu kepadamu? Mengapa aku merasa bersalah karena aku mengucapkan kata-kata itu kepadamu? Tuhan, apakah memang benar aku harus hidup dalam bayang-bayang masa laluku? Apakah aku pantas melupakan masa laluku itu dengan seorang gadis polos sepertimu?

Ya, sejujurnya, aku mengatakan perasaanku kepadamu itu ada tujuan tersendiri. Sebenarnya aku.. sebenarnya aku menyatakan perasaanku kepadamu ini untuk melupakan kenangan masa laluku yang sangat kelam itu dengan berpacaran denganmu. Maafkan aku karena aku mengatakannya dengan bahasa yang kasar. Aku tahu pembendarahaan kataku memang jelek dan tidak bisa memilih kata-kata dengan baik. Namun, itulah kenyataannya. Aku ingin aku melupakan mantan pacarku yang sudah mengubah hidupku menjadi sangat buruk dengan… memperalat dirimu. Maafkan aku mengatakan hal ini kepadamu melewati surat yang sudah tentu akan kau bakar habis ini. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan ini secara langsung, jagi…

Saat itu, aku terus menerus bertanya dengan tuhan. Aku terus menerus bertanya apakah yang kulakukan itu benar? Apakah yang kulakukan itu akan membawa kebahagiaan untuk diriku? Aku tahu jawabannya sudah pasti ya. Namun, apakah itu akan membawa kebahagiaan untukmu? Apakah itu akan membuat dirimu senang dan tertawa? Akupun sudah tahu jawabannya tidak. Namun, aku tidak bisa mengelak lagi. Aku harus bisa melupakan mantan pacarku itu bagaimanapun caranya. Walaupun… walaupun aku harus menyakitimu.

Semenjak satu bulan berlalu, aku mulai mencintaimu, Minchan. Ya, jujur-jujur saja.. saat aku menyatakan perasaanku, sedikitpun aku tidak mempunyai perasaan terhadap dirimu. Namun, seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai bisa melupakan mantanku itu dan mulai melihat dirimu. Aku sudah mulai bisa mencintaimu sepenuh… ah tidak.. seperempat hatiku. Maafkan aku karena untuk saat itu aku baru bisa mencintaimu seperempat hatiku. Namun, satu yang kutahu, aku akan mulai belajar mencintaimu sepenuh hati seiring berjalannya waktu. Terima kasih jagi, terima kasih.

Namun, lagi-lagi sebuah pikiran masuk kedalam otakku. Pikiran yang membuatku gelisah setiap aku berada didekatmu. Pikiran yang membuatku gelisah setiap kau tatap kedua mataku. Bagaimana bila kau mengetahui tentang maksudku memacarimu? Bagaimana bila kau mengetahui tentang masa laluku yang sangat parah dan tidak bisa ditoleransi oleh siapapun? Bagaimana reaksimu bila kau mengetahui rahasia terbesar dalam hidupku yang selama ini kupendam sendiri? Aku takut. Aku sangat takut kehilangan dirimu karena aku sendiri sudah mulai mencintaimu…

Dan ternyata, hari itu terjadi juga. Tanggal 21 April, sehabis kita menjenguk teman kita yang ummanya meninggal, Park Ri Sung. Sepulang dari sana, kita menghabiskan waktu kita bersama di salah satu restaurant kesukaan Jinki hyung. Dan saat itulah kau mengorek-ngorek isi otakku. Kau membuatku malu didepan dirimu. Kau membuat aku malu dengan diriku sendiri. Kau membuatku memerintahkan otakku untuk mengeluarkan butiran-butiran kristal kecil dari kedua mataku. Kau menghancurkan suasana hatiku yang sedang senang karena akhirnya aku bisa mencintaimu sepenuhnya. Kau menghancurkan segalanya…

Saat kuceritakan masa laluku yang kelam itu, aku tidak bisa menebak ekspresimu. Kaget? Kecewa? Takut? Atau bahkan kau jijik denganku? Aku tidak bisa membaca ekspresi wajahmu sama sekali. Kau, saat itu kau hanya diam dan diam. Aku tahu kau sedang memutar otak untuk mencari kebenaran dari semua perkataan yang baru saja meluncur dari bibirku. Aku tahu kau menjadi emosi karena auramu seketika itu menjadi sangat gelap. Aku bisa merasakan itu, Minchan. Walaupun kau tidak mengatakan apapun, aku bisa merasakan bahwa kau sedang bimbang. Kau bingung harus berbuat apa. Saat itulah aku takut untuk kehilangan dirimu.

Aku sudah pasrah dengan konsekuensi yang akan kuterima apabila kau sudah menunjukan taringmu. Aku siap untuk ditampar karena aku memang pantas untuk ditampar. Aku siap untuk ditinggalkanmu karena aku memang tidak pantas untuk dicintai oleh seorang gadis berhati lembut sepertimu. Namun, apa yang kudapat? Kau hanya menggeleng-gelengkan kepalamu dan memberiku banyak kata-kata yang sangat menusuk. Bisa dibilang kata-kata itu sangat tajam. Sangat menusuk jiwaku sampai aku harus berurai air mata. Terbentuk sungai kecil dipipiku. Mengalir dengan teratur seiring berjalannya air mata yang turun dari kedua mataku.

Jujur, saat itu aku sangat heran dengan dirimu. Bagaimana bisa seorang Kim Minchan yang kukenal orang yang mempunyai emosi yang membunuh, seorang gadis yang kukenal sebagai gadis yang mudah marah dan emosinya mudah muncul menjadi seorang gadis yang sangat tegar seperti ini? Mengapa ini bisa terjadi? Apa alasannya untuk tetap menjaga emosinya? Dalam pemikiranku yang normal, seharusnya kau menangis mendengar ceritaku, Minchan. Namun, kau tidak menangis sedikitpun. Bahkan, matamu tidak berkaca-kaca. Ada apa denganmu Minchan? Seberapa besar sebenarnya cintamu kepadaku?

Malamnya, kau baru menangis. Kau menelponku sambil berurai air mata. Suaramu yang parau menggetarkan hatiku. Suaramu membuatku iba dan merasa semakin bersalah dengan diriku sendiri. Tuhan, makhluk macam apa aku ini? Mengapa kau menciptakan iblis sepertiku? Mengapa aku harus ada di dunia ini? Mengapa aku harus dicintaimu? Mengapa kau harus menjatuhkan hatimu didalam diriku, iblis yang kejam dan hanya bisa membuatmu menangis saja? Mengapa Minchan? Mengapa? Mengapa kau mencintaiku dengan sepenuh hatimu?

Tau kah kau saat itu aku juga menangis? Aku menangis karena aku sangat merasa bersalah denganmu. Bagaimana tidak? Kita berpacaran hampir dua bulan… yaa, saat itu dua bulan kurang enam hari, tetapi aku sudah menghancurkan hatimu. Saat itu juga pikiranku kalut, jagiya. Aku takut kau meninggalkanku. Tetapi, aku tahu aku harus kuat. Aku harus kuat untuk menguatkan hatimu juga. Maka dari itu, kubuat kau tersenyum kembali, tertawa kembali, dan lainnya saat itu. Walaupun saat itu, hatiku masih hancur karena hal tersebut. Jujur, sebenarnya, tawa dan candamu itu membuat hatiku miris saat aku mendengarnya. Aku merasa sangat bersalah kepadamu.

Keesokan harinya? Kau bertingkah seperti biasa. Kau tidak menunjukan tanda-tanda bahwa kau kecewa atau apapun. Walaupun aku merasa kau sedikit menjadi pendiam. Tetapi, dengan kehadiran teman-temanmu, kau bisa seriang dulu lagi, kau bisa bercanda seperti dulu lagi. Tetapi hanya kepada mereka. Entah ini perasaanku saja atau tidak. Aku bisa merasakan kau memandangku tidak sama seperti dulu lagi. Dan aku sangat tahu kenapa kau memandangku seperti itu..

Kau jijik kan denganku? Kau menganggapku makhluk yang paling menjijikan di dunia ini kan? Jujur sajalah, Minchan-ah. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku tahu karena aku sendiri merasa jijik dengan diriku sendiri. Kau tahu? Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri karena aku telah melakukan hal terlarang itu. Rasanya ingin sekali aku membunuh diriku yang dulu dan melupakan memori masa laluku.

Sungguh, aku menyesal. Aku sendiri waktu itu terbawa suasana. Saat itu Meyra juga yang memancingku. Saat itu memang suasananya sedang mendukung untuk berbuat… berbuat itu. Apalagi bila melihat tubuh Meyra yang proposional dan bajunya yang sedang tidak menutup aurat. Aku memang bodoh karena membiarkan perasaanku mengikuti permainannya. Aku memang bodoh karena aku melakukan hal itu. Dan yang paling membuatku merasa bodoh lagi adalah aku menggunakanmu sebagai alat untuk melupakan gadis itu. Aku menyesal, jagi. Aku menyesal…

Aku tahu kata maaf tidak akan merubah segalanya. Aku tahu kata maaf tidak akan menghapuskan memori tentang masa laluku dibenakmu. Aku tahu kata maaf tidak akan meringankan bebanmu. Malahan, bebanmu menjadi tambah berat karenaku. Padahal, seluruh masalah yang kau ceritakan kepadaku sangatlah rumit dan selalu membuatmu menangis. Terlebih lagi tentang kedua orangtuamu. Kau selalu menceritakan masalah tentang mereka. Kau jujur kepadaku selama ini. Tetapi, nyatanya aku tetap membohongimu. Apalagi saat pertama kali aku berpacaran denganmu sampai saat kau tahu tentang masa laluku. Aku terus membohongimu, Minchan. Tetapi, mengapa kau tetap saja mencintaiku?

Tetapi, satu yang kuketahui. Satu kesimpulan yang dapat kuambil dari semua masalah yang kita hadapi ini. Garis besar yang bisa kutarik dari segala masalah yang ada dan dihubungi oleh satu garis merah. Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa cintamu sangat besar kepadaku. Dan hal itulah yang membuat dirimu tetap bersamaku sampai saat ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kedepannya diriku bila tidak ada dirimu disampingku. Maafkan aku , jagiya. Maafkan seluruh perbuatanku selama ini. Jeongmal mianhae…

Jagiya, tau kah kau saat ini aku sedang menangis? Mungkin saat kau menerima surat ini kau akan melihat beberapa bekas tetesan air mataku. Saat aku menulis surat ini, aku sedang membayangkan betapa manisnya kita saat berpacaran. Aku membayangkan senyummu yang selalu menghiasi wajahmu yang putih. Aku membayangkan betapa indahnya suara yang keluar dari bibir merahmu. Aku membayangkan bagaimana perasaanku ketika melihat kau tertawa dan tersenyum kepadaku. Hanya kepadaku. Hehe, aku tahu aku cengeng karena menangis seperti ini. Dan aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku memang cengeng. Itulah aku. Seorang laki-laki yang brengsek, kotor, dan tidak suci lagi. Namun, perlu kau ketahui bahwa aku sangat menyayangimu dan tidak ingin kehilangan dirimu sedikitpun dari duniaku. Sekarang maupun nanti.

Aku sangat tahu, Minchan. Aku tahu kau tidak suka melihatku menangis. Kau tidak suka melihatku bercengeng-cengeng ria seperti ini. Aku bisa membayangkan betapa murkanya kau bila melihatku menangis. Namun, untuk saat ini, biarkanlah aku menangis sepuas hatiku, tetapi, saat kita bertemu nanti, kau akan melihat aku yang baru. Kau akan melihat aku tersenyum, tertawa, dan bercanda bersamamu. Jadi, biarkanlah saat ini aku menangis…

Dan dari hatiku yang paling dalam, aku ingin mengakui sesuatu kepadamu. Aku ingin mengakui sesuatu yang sudah meronta untuk keluar dari hatiku yang paling dalam yang selama ini kutahan di bibirku. Aku ingin mengakui sesuatu yang selama ini membuatku tertekan karena terus membandingkan masa laluku dan pengakuan ini. Aku ingin mengakui bahwa…

Aku mencintaimu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

gimanaa? gaje yaa? miaaan^^

jangan lupa RCL yaa😀 gomawooo

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 6 Mei 2011, in AUTHOR, Kim Ryechul, SM Town and tagged , , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. Sediiiiiiiiih bgt, jangan sampe nanti pacarku kaya gitu huhuhu (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  2. sedih deh T________T

  3. baca ini,jadi ngebayangin donghae.hehe . .
    keren chingu,pesannya nyampe.
    sedih juga.

  4. Bagus chingu ^^ sedih bgt bacanya😦 huahhh (T.T)

  5. huwaa.. hiks.. hiks… sedih thor!!😥 tp aku msh pensaran itu pacarnya knp?? itu dr kisah nyata apa bkn c??:/ tp beneran sedih bgt kata2nya!!! T.T

    • Raisa Widiastari

      annyeoong~
      kalo kamu perdalam ceritanya, kamu pasti ngerti deeh chingu😀 apalagi kalo otak kamu prevert *plakk*
      iyaa, ini kisah nyata yang dialamin sama temen aku😀 liat aja comment dibawah ini😀
      gomawoo yaa udah baca😀

  6. raisa widiastari -_- cerita nya bagus banget sampe ngebuat aku nangis saeng-ah. Tanpa perlu lagu mellow lagi langsung nangis. Sama kayak cho kyuhyun waktu baca ff nya, langsung diem hahaha. Btw thanks for your fanfiction :’) i’m appreaciate it😀 -lust #7DS

    • Raisa Widiastari

      eonmakusayaaaaang *poppo*
      btw, READERS, ini tokoh utamanya nih ^^!
      gomawoo yaa sayang udah baca :**
      -Envy #7DS

  7. annyeong, aku reader baru
    astaga, sedih banget… TT____TT
    semoga minchan memaafkan dan si cwo bener” tobat.
    biasku eunhyuk, klo kya gtu gimana ya??

    • raisawidiastari

      Annyeooong chingu🙂
      amiin (katanya minchan). Iyaa, si minchan udh syg bgt sama kyuppa pdhl yang jadi kyuppa udh jahat bgt sama minchan =.=
      eunhyuk itu… Kembaran aku *plakk*
      gomawoo yaa udh komen🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: