[SF/PG] Blue Tomorrow

Blue Tomorrow

Author: Kim Ryechul a.k.a Raisa Widiastari

Cast:

Kim Ryechul

Super Junior

Rating: PG

Length: oneshot (5.729 words)

Genre: Romance, Sad Romance

 

A/N: Just enjoy this songfict. I’m happy if you like this first songfic. Jangan lupa RCL yaa sehabis baca SF ini😀. GO AWAY PLAGIATORS!!

Disarankan untuk mendengarkan lagu dibawah ini.

  • Blue Tomorrow – Super Junior M
  • Let’s Not – Super Junior KRY
  • Miss You – SM The Ballad
  • Quasimodo – SHINee
  • Life – SHINee

 

***

 

When it’s tomorrow, we agree not to meet again.

Sitting in the shop at the end of the road,

I ordered a cup of missing you…

 

***

 

“Kita putus, Chulie. Sudah berapa kali aku mengatakan hal ini kepadamu bahwa kita putus, ha?”

 

Bibirku terkatup sempurna mendengar apa yang baru saja dikatakan namja yang duduk didepanku sekarang. Ia mengeluarkan dua buah kalimat yang sangat menyakitkan. Jantungku berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Nafasku tersengal-sengal karena hal itu. Air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mataku selama satu jam terakhir ini nyaris tumpah dari tempatnya karena kata-kata yang menyakitkan itu. Kutahan air mataku karena aku tahu aku tidak boleh menangis didepannya. Tidak boleh.

 

“Putus? Ternyata memang oppa sudah menyerah. Kalau itu yang terbaik, aku setuju.”

 

Kulukiskan sebuah senyuman palsu diwajahku. Senyuman manis yang mungkin saja akan menjadi senyuman terakhirku untuknya. Atau mungkin, senyuman ini bisa menjadi senyuman terakhir untuk selamanya. Senyuman yang terukir di wajahku sekarang ini adalah sebuah senyuman palsu yang mengisyaratkan bahwa tidak ada yang kufikirkan sama sekali. Padahal, kenyataannya adalah sebaliknya, Aku memikirkan apakah aku masih bisa bernafas sehabis ini? Apakah aku masih bisa tertawa sehabis pertemuan ini? Apakah aku akan menjadi seseorang yang lebih baik di masa depan? Aku sendiri tidak tahu apakah aku akan kuat menghadapi masa depan tanpa kehadirannya di hatiku. Aku ragu akan hal itu.

 

“Annyeong oppa. Jeongmal gomapta untuk 5 tahun kita bersama. Aku pergi dulu.” Ucapku kepada namja tampan itu. Kuraih tas tanganku dan aku beranjak pergi dari kursi tempat aku duduk bersamanya.

“Chulie,” jeda sesaat, “– apakah kau senang kita berpisah?”

 

Langkahku terhenti mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan namja itu. Kuberi aba-aba kepada diriku sendiri didalam hatiku. Tiga – dua – satu – yak! Akhirnya keluar juga butiran-butiran kristal itu.  Butiran-butiran yang berasal dari ekor mataku itu menetes perlahan. Namun, semakin lama, butiran-butiran tersebut semakin banyak dan membentuk sungai kecil di pipiku. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku sedikitpun. Seluruh tenagaku hanya terfokus di otakku untuk berpikir. Pikiran yang menggangguku selama satu jam terakhir. Bagaimana kehidupanku kelak tanpa namja itu ketika ia tidak berada di sampingku lagi?

 

***

 

When it’s tomorrow, we can only let love pass by,

Before day break, two persons,

Smiling face become a yellowed photograph…

 

***

 

Bisa kurasakan namja itu tengah berjalan kearahku. Bisa kurasakan dan kucium deru nafasnya yang wangi saat ia melingkarkan kedua tangannya dipinggangku. Salah satu calon kebiasaannya yang akan sangat kurindukan. Bisa kurasakan kehangatan yang memancar dari tubuhnya, menghangatkan tubuhku yang sedingin es sekarang. Bisa kucium betapa wanginya tubuh dan rambutnya saat ia menaruh dagunya di bahuku.

 

“Jeongmal mianhae, jagiya. Naege dasidorawa, Chulie… Saranghae..”

 

Bukannya menghentikan air mataku, namja itu malahan membuatku semakin menangis dengan ucapannya barusan. Tapi oppa, apakah kau yakin bahwa kau akan mencintaiku selamanya? Aku tahu, oppa. Aku tahu kita tidak akan bisa bersatu karena perbedaan itu. Kita tidak akan bisa bersatu karena perbedaan itu sangat ditentang oleh kedua orang tua kita. Yaa, aku dan namja ini mempunyai perbedaan agama yang sangat ditentang oleh kedua orang tua kami. Belum lagi, namja pemilik rambut berwarna merah kecokelatan ini sudah dijodohkan dengan anak dari teman ayahnya. Seberapa keras namja ini menentang perjodohan yang akan dilaksanakan itu, semakin terobsesi ayahnya untuk melaksanakan rencana tersebut. Dan akhirnya, namja itu menyerah dan menerima tawaran perjodohan itu dengan sangat terpaksa. Aku sangat tahu bahwa itu bukanlah salah namja ini. Aku tahu aku tidak boleh egois untuk tetap memilikinya. Namun, seorang manusia yang masih mempunyai hati pasti tidak akan bisa merelakan seseorang yang sudah sangat dicintainya semudah membalikan telapak tangan, bukan? Belum lagi, kenangan-kenangan kami berdua sedang terputar diotakku seperti foto-foto lama berwarna sepia..

 

“Jeongmal nado saranghae, oppa. Geudael saranghamnida.”

“Nae Chulie, izinkan aku bersamamu satu hari penuh untuk terakhir kalinya hari ini. Jebal..”

 

Kuputar badanku untuk melihat sosok dirinya yang sangat menawan. Kupandang jauh kedalam manik hitamnya yang sangat dalam dan sudah basah. Cahaya kesedihan terlukis dengan jelas di kedua bola matanya yang jernih. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya yang jenjang walaupun untuk melakukan hal itu memerlukan tenaga karena aku harus berjinjit. Aku menangis kencang dibahunya, Kubasahi pakaian yang ia kenakan dengan butiran-butiran kristak yang jatuh dari pelupuk mataku itu. Aku hanya bisa berharap seluruh rasa sakit yang kurasakan ini hilang seiring mengalirnya air mata ini…

 

***

 

Around me, loneliness is spreading.

Vision, is being blurred by tears.

I Letf ‘I Love You’ at the bottom of my heart,

And put them on the tip of my lips…

 

***

 

Oppa, hari ini genap sebulan kau meninggalkanku. Hari ini juga genap 6 tahun aku seharusnya menjadi kekasih hati namja itu. Kutunggu kau didepan rumahku. Kutunggu kedatanganmu seperti biasanya diambang pintu rumahku. Membawa sebucket mawar putih segar dan sekotak cokelat sambil berteriak kegirangan ‘Happy Anniversarry nae Ryechul!!’ lalu bergerak cepat kearahku dan mencium keningku. Kutunggu dirimu seharian tanpa melewati sedikitpun waktu yang ada. Aku tidak makan, tidak minum, tidak melakukan apapun selain menatap kosong kearah taman depan rumahku. Menunggu kau dating dengan wajah cerahmu yang telah mengisi hari-hariku selama ini…

 

Namun, pada kenyataannya, aku sedang menunggu sesuatu yang tidak mungkin diraih. Aku menunggu sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Disini, aku hidup dengan penuh kehampaan. Aku seperti manusia tanpa nyawa karena sebagian besar jiwaku sudah hilang dibawa namja itu pergi. Hidupku dibawanya ke benua lain tanpa berpamitan terlebih dahulu. Ya, ayahnya memang sengaja memindahkan namja itu ke Inggris untuk menjauhkanku dari dirinya. Seburuk apakah aku dimata ayahnya?

 

Hidupku terkubur oleh beratus-ratus cairan bening yang keluar dari kedua bola mataku. Rencana bahwa kita berdua akan menikah di Yunani, berbulan madu ke Roma, Endinburg, Inggirs, Italy, Rusia, dan Perancis. Rencana bahwa kita akan mempunyai tiga orang anak yang sangat menggemaskan. Rencama dimana saat hari tua nanti kita akan duduk bersama diatas kursi goyang sambil membacakan dongeng untuk cucu-cucu kita yang sangat menggemaskan dan sangat lucu yang akan mendampingi kita selamanya sampai kita sudah tidak ada di dunia ini. Rencana-rencana yang sudah kita persiapkan dengan matang hilang begitu saja semuanya untuk selamanya.

 

Tuhan, bila aku diperbolehkan untuk egois, aku hanya ingin mengatakan sepatah kata saja kepadanya. Aku hanya ingin mengatakan sepatah kata yang selalu membayang didalam benakku selama ini. Sepatah kata yang sudah lama meronta-ronta ingin dikeluarkan dari bibirku yang selalu memenjarakannya. Sebuah kata yang sebenarnya mengakibatkan rasa sakit yang kurasakan ini bertambah parah kelak. Kata yang hanya mengakibatkan tangis dan luka yang sangat mendalam untuk diriku.

 

Namun, untuk saat ini juga, aku akan membebaskan kata-kata itu dari bibirku. Kuraih sebuah foto lama yang membawaku ke masa lalu bersama namja sempurna itu. Foto dimana kami berdua sedang berada didalam sebuah photobox yang berada didaerah Myeong-dong. Kami berpose dengan pose-pose yang aneh dan menggemaskan. Namun, untuk foto terakhir, ia berpose dengan serius. Ia mencium bibirku dengan sangat lembut didalam foto itu. Dan disaat sebelum kamera mengambil gambar kami, ia mengucapkan kata yang berarti sangat dalam. Sebuah kata yang sama dengan kata yang selama ini kupenjarakan didalam bibirku..

“Saranghae.”

***

 

When it’s tomorrow you will leave my side.

When it’s tomorrow I will wish upon a shooting star.

Just like the ending of a movie.

Our ending fulfilled the prediction of tears…

 

***

 

Air mataku bergulir pelan dari pelupuk mataku. Aku bisa merasakan betapa panasnya mataku saat ini. Oppa, apakah kau tahu bahwa aku masih mencintaimu? Apakah kau juga menangisiku seperti apa yang kulakukan setiap hari? Apakah kau sadar, oppa? Kepergianmu dari sisiku menghancurkan segalanya. Hidupku yang kau pegang seluruhnya menjadi salah satu penyebab mengapa aku selalu menangisimu. Karena, selama ini, disetiap aku memandang, disitulah kau berdiri tersenyum kepadaku. Namun, tidak untuk sekarang. Kau sudah meninggalkanku.

 

Dulu, aku sangat tidak percaya dengan keajaiban bintang jatuh. Aku sangat menentang hal tersebut. Aku sangat menentang hal-hal yang berbau takhayul seperti itu. Namun, semenjak kedatanganmu di hidupku, presepsi itu berubah seratus persen. Aku menjadi percaya akan hal-hal seperti itu. Masih terekam jelas pernyataanmu saat kita berdua sedang berada di Mokpo. Saat dimana kita sedang duduk diatas pasir putih dan menikmati suara deburan ombak laut. Dan disitulah kita melihat sebuah bintang jatuh…

***

“Aish~ nae Chulie! Lihaat! Bintang jatuh! Cepat ucapkan sebuah permintaan!”

“Aigoo~ oppa percaya dengan hal takhayul seperti itu, eh? Seperti anak kecil saja.”

“Sudah sekarang kau diam saja dan ucapkanlah permintaanmu.”

 

Namja itu segera menutup matanya dan mengatupkan kedua tangannya sambil berkonsentrasi. Entah apa yang ia ucapkan kedalam hatinya untuk bintang jatuh tersebut. Sesungguhnya, aku sama sekali tidak percaya dengan keajaiban bintang jatuh karena sejak kecil, aku hidup dengan logika dan realistis bukan dengan misteri dan hal-hal yang disebut magic. Namun, untuk saat ini mungkin aku harus mengikuti kemauannya daripada ia marah kepadaku.

 

Aku ingin namja ini menjadi romantis sedikiiiit saja.

Permintaan yang menggelikan, Ryechul. Ucapku didalam hati yang ditujukan kepada diriku sendiri. Sebenarnya aku mengucapkan itu hanya iseng saja untuk mebuktikan apakah benar keajaiban yang disebut-sebut namja itu benar-benar ada atau tidak. Sesungguhnya, aku tadi meminta dengan cara yang tidak sungguh-sungguh. Namun, apa yang kuinginkan menjadi kenyataan. Namja itu mengeluarkan handphonenya dan memutarkan lagu ballad. Dan yang membuatnya bertambah aneh adalah ia mengajakku berdansa. Padahal, belum pernah sama sekali namja ini berperilaku seperti ini. Yang ia lakukan hanya diam dan diam. Hanya berbicara kalau perlu.

 

Namun, semuanya sekarang sudah berubah. Ia menjadi sangat romantis. Cara ia menggenggam tanganku saat ia meraih organ tubuhku itu saat berdansa, cara ia menatap kedua bola mataku, cara ia mengucapkan sesuatu, semuanya sudah berubah. Dan sekarang, aku percaya bahwa keajaiban bintang jatuh benar-benar ada…

***

Tau kah kau, oppa? Karena keajaiban itu terjadi, aku sekarang sangat mempercayai yang namanya keajaiban. Aku mempercayai bahwa kau hadir di kehidupanku yang suram ini karena sebuah keajaiban dari tuhan yang diberikan kepadaku. Namja tersempurna dari seluruh namja yang ada di dunia ini. Seorang namja yang telah membuka pandangan hidupku yang tertutup sempurna dari kehidupan manusia. Seorang namja yang telah membuatku keluar dari penjara yang dibuat oleh diriku sendiri karena menarik dari hal-hal duniawi. Namja yang membuatku terlahir kembali ke dunia fana ini.

 

Dan sekarang, apa yang kulakukan disini? Mengapa aku berada di Mokpo? Siapa yang membawaku ketempat penuh kenangan yang telah kujalankan dengannya? Seingatku, aku masih berada di Seoul tadi. Mengapa aku sudah berada diluar kota sekarang? Dan mengapa harus tempat ini? Tempat dimana segala memori tentang dirimu terputar? Mengapa aku malahan mengunjungi tempat yang sebenarnya malahan membawa diriku ke ingatan masa lalu, buaian masa lalu, dan aura masa lalu? Paboya Ryechul!

 

***

 

Broken promise all over the ground.

The yesterday that cannot be pieced together again.

But I still look forward to the appearance of a miracle.

Your shadow is drifing further and further away…

 

***

 

Sekarang, aku berada ditempat semua kenangan kita terputar kembali. Masih ingatkah kau tentang janji sehidup semati yang kita ucapkan saat sedang bermain dengan air sungai Han yang sangat dingin di musim gugur? Dibawah cahaya bulan sabit yang redup dan menyendukan dimalam itu? Dengan tanganmu yang mendekap tubuhku dengan sangat erat? Saat kau mengucapkan janji itu?

 

Ryechul-ah, demi seluruh saksi yang hadir disini, aku berjanji akan berusaha

menjagamu seumur hidupku sampai jantung ini berhenti berdetak.

Kim Ryechul, marry me.

 

Aku masih bisa merasakan debar jantungku saat kau mengucapkan kata-kata itu, jagi. Namun, sekarang janji yang kau ucapkan hanyalah sebuah ucapan belaka yang sudah tidak ada artinya lagi. Janji yang telah menjadi omong kosong yang hanya membuatku semakin sakit dengan kenyataan yang terjadi. Janji yang dengan mudah kau tinggalkan. Apa buktinya? Selama kau disana, sedikitpun kau tidak ada usaha sedikitpun untuk menghubungiku. Mungkin kalian – yang membaca tulisan ini – berfikir mengapa aku berfikir negatif seperti ini. Bagaimana tidak? Aku sudah tahu semuanya kemarin. Tentang kenyataan yang harus kuhadapi dengan berat…

***

“Annyeong oppa, onnie. Ada apa ini tiba-tiba ingin bertemu denganku?”

“Aa.. itu, Chulie…” ucap Siwon oppa kepadaku, “– oppamu bulan depan akan menikah.”

“Ne, saengie. Yang sabar yaa, Chulie. Aku tahu kau akan mendapatkan yang lebih darinya.” Ucap Myura onnie kepadaku.

***

Taukah kau, oppa? Tubuhku mendadak lemas saat mendengar tentang kabar pernikahanmu yang akan diselenggarakan bulan depan dengan seorang yeoja bernama Han Seori itu? Seperti apa hal-hal yang dilakukan yeoja bernama Han Seori itu untuk melupakan seorang yeoja yang sudah hidup bersamamu selama lima tahun sebelas bulan dengan kehidupan bersama kalian yang baru dilaksanakan sekitar dua bulan? Sehebat dan sesempurna apa yeoja itu sebenarnya? Memang aku tahu bahwa yeoja itu lebih cantik daripadaku, lebih kaya dariku, lebih pinyar dariku, lebih segalanya dariku. Namun, segampang itukah kau melupakanku? Sebenarnya, serendah apa aku dimatamu, oppa?

 

Bagaimana caranya, oppa? Bagaimana caranya kau melupakanku dengan segampang itu? Seorang yeoja yang sudah hidup bersamamu selama hampir enam tahun? Apa perlu kutulis berapa jam, menit, bahkan detik aku hidup bersamamu? Masih adakah namaku dihatimu walaupun hanya sedikit? Masih adakah rasa cintamu kepadaku walaupun sangat kecil? Masih adakah kesempatan kedua untuk bertemu dan hidup bersamamu sekali lagi?

 

Demi tuhan! Aku tahu aku sudah gila karena aku berfikir bahwa akan ada kesempatan kedua untuk hubungan kita. Sejarah yang sudah terjadi tidak mungkin bisa diulang kembali. Bahkan, bila saja sejarah itu bisa terulang lagi, itu akan menimbulak luka yang sangat dalam. Tetapi, aku tidak pernah berhenti berharap untuk hal itu. Aku tidak pernah berhenti berharap untuk keajaiban yang mungkin saja akan terjadi diantara kita. Tetapi, semakin aku berharap, aku bisa merasakan bayangan dirimu mendekapku lagi semakin jauh…

 

***

 

Love, is still lingering in my room.

Before the memory become real, in a moment,

It felt like you were in front of my eyes…

 

***

 

Hari ini kau akan menikah…

 

Jujur saja, oppa. Aku sangat bingung saat ini. Walaupun aku sakit hati bila melihatmu bersama yeoja lain, tetapi, jujur saja aku sangat kecewa kepadamu. Setidaknya, kau mengundangku ke pernikahan pertama dan terakhirmu. Aku tahu kau tidak ingin menyakiti hatiku. Tetapi, setidaknya kau memberi kabar, oppa. Kalau memang kita tidak bisa bersatu, bukankah kita masih bisa menjadi teman baik?

 

Baik Kangin, Heechul, Sungie, Kyu, Siwon, Hae dan oppa-oppaku yang lainnya memang sudah memberi seribu satu alasan mengapa kau tidak mengundangku. Namun, ketahuilah sesuatu, oppa. Aku sama sekali tidak menerima alasan-alasan seperti itu. It’s just non sense for me. Bahkan, apabila Teuki oppa tidak pulang kerumah dengan membawa undangan pernikahanmu itu, aku tidak akan tahu kapan pastinya kau akan menikah. Waktu itu, Siwon oppa hanya memberi tahu waktu yang samar. Bukan waktu yang pasti.

 

Kupandangi undangan pernikahanmu semenjak aku bangun tidur sampai sekarang. Ketahuilah, oppa. Ali sama sekali tidak keluar kamar hari ini. Untuk makanpun tidak. Walaupun Teuki oppa sudah menelponku dari Inggris untuk membujukku untuk keluar dari kamar. Ya, dia ada di London untuk untuk menghadiri pesta pernikahanmu di katredal. Sementara aku? Aku hanya bisa memandangi wajagmu yang sangat tampan di undangan pernikahan ini. Sosok namja yang memakai jas hitam dan seorang yeoja cantik yang memakai dress panjang berwarna maroon. Sungguh, aku mengakui bahwa kalian sangat cocok.

 

Kupandangi kamarku dengan seksama. Aku bisa membayangkan betapa kau menganggap kamarku ini seperti kamarmu sendiri. Mengambil stick PS lalu mengajakku bermain bersama. Bisa juga kau hanya duduk atau tidur diatas kasurku sambil membaca komik ketuka aku terpaksa mengabaikanmu karena banyak tugas yang menungguku. Astaga! Sesuatu yang sangat aneh terjadi dengan otakku. Mengapa aku bisa melihat kau didalam kamarku ini? Sungguh, tiba-tiba saja aku bisa merasakan kedatanganmu, oppa.

 

Wajahmu yang menggemaskan terlihat tersenyum kepadaku. Kau buka kedua lenganmu untuk menarikku kedalam pelukanmu yang sangat hangat. Matanya tersenyum seperti bibirnya yang berwarna pink. Wajahnya yang putih dan bersih terlihat merah merona. Aku bangkit dari dudukku untuk menghampirinya. Kututup bibirku dengan sebelah tanganku untuk menahan rasa haru yang telah menguasai diriku. Tuhan, kalau ini hanyalah sebuah mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku dari tidurku yang indah ini. Biarkanlah aku hidup di alam mimpi.

 

Dengan sekali hentakan, kuraih tangan kirinya yang terjulur kearahku. Dan saat itu juga, sosok namja yang sangat kurindukan itu menghilang. Tuhan telah membangunkanku dari mimpi terindah yang pernah kuimpikan. Ternyata, teori tentang sakitnya apabila terjatuh dari langit ketika sedang jatuh cinta itu memang benar. Kau tahu oppa? Kau telah membawa separuh jiwaku pergi. Aku disini hidup tanpa perasaan dan hati. My pain was dead…

 

***

 

Without you love starts to hibernate.

Loneliness will occupy every day…

 

***

 

Cintaku yang dibawa lari olehmu ke benua lain telah mengubah hari-hariku, oppa. Sekarang, tidak ada lagi seorang Kim Ryechul yang selalu tertawa, melawak, tersenyum, dan supel. Sekarang, seorang Kim Ryechul sudah kembali seperti dulu lagi. Seorang oknum yang memiliki raga namun jiwanya sudah menghilang entah kemana. Tidak ada lagi Ryechul yang memiliki sinar indah dimatanya, pipi tembam yang selalu membuat orang-orang gemas ketika melihatnya, bibir merah yang basah, semua itu sudah hilang karenamu, oppa.

 

Sosok Kim Ryechul sekarang adalah seorang yeoja dengan rambut panjang tidak terurus, badan kurus kering layaknya tulang berbalut kulit, mata kosong yang sangat menyedihkan, bibir pecah-pecah, dan pipi tirus. Hidupku sangat berantakan, oppa. Apalagi saat aku mendengar kabar bahwa kau akan memiliki seorang peri kecil dari istrimu. Sungguh, aku sangat terpukul mendengar kabar itu dari Teuki oppa. Rasanya, saat itu juga aku ingin mati…

 

Kim Ryechul, seorang yeoja yang senang bergaul dan tidak bisa diam sudah tidak ada, oppa. Sekarang aku sudah menjelma menjadi sosok penyendiri. Aku tidak ingin bergaul dengan siapapun sama sekali. Bahkan, aku sekarang sudah lulus kuliah. Tetapi, semua cita-cita yang ingin kuraih dulu sekarang terbengkalai. Aku hanya mengabiskan waktuku didalam kamar, ruang makan, kamar mandi, ya… pokoknya didalam rumah. Sesekali aku keluar dari rumah hanya sekedar membukakan pagar untuk tamu yang datang. Semua perubahan ini terjadi karena ulahmu, oppa. Apakah kau masih memikirkanku disana? Paboya Ryechul! Tentu saja tidak.

 

Yang jelas, suasana sedih dan sendu selalu menyerangku setiap hari karena aku sangat merindukanmu…

 

***

 

I stand under the streetlight on the side of the cold street.

That place we once embraced.

Is the roof under which we once see,

On shelther from the rain together…

 

***

 

“Aish mengesalkan sekali! Musim semi memang terkadang mengesalkan!”

“Ne. Coba tadi bawa payung. Jadi, bagaimana ini, oppa?”

“Ini,” ucapnya kepadaku sambil menyerahkan mantel abu-abu yang ia pakai kepadaku.

“Untuk apa?”

“Yeoja bodoh. Lindungi kepalamu dari hujan. Kita menunggu di halte bus itu.”

 

Kulukis senyuman kecut di bibirku saat aku mendengar dia mengatakan bahwa aku adalah yeoja bodoh. Itulah dirinya. Sosok namja yang cuek dan celpas ceplos dengan omongannya sendiri. Kau melirik kearahku dan mengangkat sebelah alismu. Dan reaksi yang kau lakukan selanjutnya adalah tertawa terbahak-bahak sambil mencubit lembut pipiku. Lalu, kau menunjukan senyum terkutukmu kepadaku. Dan itulah kelemahanku. Aku tidak akan bisa berlama-lama untuk kesal apabila melihat senyum itu tersungging di bibirnya. Kukenakan mantel tersebut diatas kepalaku dan menariknya untuk ikut berteduh dibawah mantel abu-abunya tersebut.

 

“Nih,” ucapku ketika sudah sampai di halte bus.

“Ne. Aish~ dingin sekali yaa, jagi?”

“Lagian sok jagoan sih melepas mantelmu di musim semi seperti ini.”

 

Ya, memang musim semi sekarang baru saja dimulai. Bisa dibilang sekarang adalah peralihan dari musim dingin ke musim semi. Jadi, wajar saja kalau udara masih sangat dingin dan menusuk. Dan namja ini menantang udara dingin dengan cara melepaskan mantel abu-abunya yang sangat hangat itu. Sialnya, mantel itu tidak bisa dipakai lagi karena sudah basah akan derasnya hujan yang tadi kami terobos.

 

“Aku melakukan itu agar kau tidak sakit, nae Chulie.”

“Mulai kan gombalnya.”

 

Yang diajak bicara hanya tersenyum. Aish~ aku benci dia saat ia menunjukan evil smile-nya ketika aku sedang serius.

 

“Aigoo~ oppa. Jangan tersenyum seperti itu.”

“Mwoya? Terpesona yaa sama senyumanku?”

 

Ucapannya yang terakhir terdengar seperti seorang pedofil yang sedang menggoda anak kecil untuk ikut dengannya. Aku hanya mendengus mendengarnya berkata seperti itu. Kalau boleh jujur, aku memang sangat menyukai senyumannya yang sebenarnya ia curi dari Kyu oppa. Sebenarnya, aku menyukai semua yang ada didalam dirinya. Tertuama matanya yang lebar namun sipit. Tetapi, maniknya sangat dalam dan tajam. Begitu menghanyutkan ketika kau menatap dalam kearahnya. Benar-benar tipeku. Seorang namja sempurna yang sudha menjadi namjaku selama dua tahun ini memang senang sekali menggodaku. Demi seluruh objek apapun yang ada di dunia ini, aku sangat mencintainya.

 

“Chulie, saranghae.”

 

Ia mengucapkan kata-kata itu dengan sangat lembut. Disaat aku ingin membalasnya, ia menutup bibirku dengan telunjuk kanannya. Aku mendongak kearah kepalanya untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun, namja itu hanya tersenyum. Senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyum yang sangat tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. Entah mengapa, aku melihat sesuatu yang berbeda dengannya. Dengan gerakan tak terduga, ia memelukku kedalam pelukannya yang sangat hangat. Sungguh, saat itu juga, aku merasakan betapa hangat dirinya, betapa wangi tubuhnya, betapa teratur detak jantungnya. Tuhan, rasanya aku ingin sekali menghentikan waktu selamanya agar aku bisa bersamanya seperti ini selamanya.

 

“Kim Ryechul, jeongmal saranghae.”

 

Ucapnya kepadaku. Lalu, disaat aku mencoba untuk mengucapkan balasan perkataan cintanya, aku tertahan oleh bibirnya yang tiba-tiba mencium bibirku dengan lembut. Itulah ciuman pertamaku dan namja itu. Kami memang belum pernah berciuman dengan siapapun sebelumnya. Dan saat itu juga, dibawah atap halte bus yang sedang kami gunakan untuk berteeduh, ditengah hujan deras yang mengguyur kota Seoul, dan hiruk pikik kota Seoul yang tidak pernah mati, aku sekarang berani meyakinkan diriku sendiri bahwa aku benar-benar mencintainya lebih dari apapun. Dan seorang Kim Ryechul saat ini – dan untuk selamanya – sudah jatuh terlalu dalam kedalam sumur cinta yang dibuat oleh namja itu…

***

“Chulie!! Chuliee!!!!”

 

Panggilan itu menyadarkanku dari lamunanku tentang masa lalu yang pernah terjadi diantara aku dan namja itu. Aku terlambat menyadari bahwa air mataku sudah membasahi pipiku. Tuhan, mengapa kau melakukan semua ini kepadaku? Sebenarnya, seberapa besar dosaku kepadamu, eh? Sebesar apa kau dosaku sampai-sampai kau memberikan cobaan yang begitu berat kepadaku. Sekali lagi panggilan itu terngiang-ngiang ditelingaku. Ternyata, suara panggilan itu berasal dari teman namja itu, Kyu oppa.

 

“Yak! Ryechul-ah, waeyo?”

“Gwenchana, oppa, Hanya teringat olehnya.”

“Omonaa!! Jeongmal mianhae karena aku menanyakan hal ini. Tapi, apa yang membuatmu begitu mencintainya sampai kau seperti ini?

 

Aku hanya bisa terdiam, terdiam, dan terdiam. Pernyataan Kyu oppa tentang namja itu membuatku bingung. Apa yang membuatku begitu mencintainya? Sejak kapan aku benar-benar mencintainya? Apakah semenjak kejadian dibawah halte bus? Aku sendiri tidak mengetahui jawaban pastinya. Namun, pertanyaan yang Kyu oppa keluarkan kepadaku harus dijawab darripada namja itu merecokiku setiap hari karena penasaran.

 

“Karena hanya dialah yang mencuri sesuatu yang berharga didalam hidupku.”

***

 

I still reminisce the past when we were in love.

I’m still waiting for you to come back to my side.

Tears are falling on the side of my cold pillow…

 

***

 

“Chulie, demi diriku, tolonglah. Keluar dari kamar.”

 

Sudah satu jam lebih Teuki oppa berdiri dan menggedor-gedor pintu kamarku untuk keluar dari kamar. Aku memang tidak keluar dari kamar dan terus menangis sepanjang hari. Hari ini, peri kecil namja itu lahir. Ternyata, anak itu berjenis kelamin perempuan dengan nama Han San Chul. Anak itu sangat lucu, cantik, dan menggemaskan. Aku melihat fotonya melalui jejaring sosial. Sebenarnya aku sangat senang ketika aku melihat ia berbahagia dengan istri dan anaknya. Namun, yang mengganggu hatiku adalah cara ia menulis caption pada foto tersebut.

“My lovely ‘Chulie’ and I <3”

Okay, aku tahu aku hidup dengan penuh ke Gran karena aku melihat kata ‘Chulie’ disana. Namun, entah mengapa aku merasakan kata itu ditunjukan kepada dua orang. Mengapa? Karena nama itu dicetak miring dan dikutipkan. Dan disaat itu juga, perasaan sakit yang sudah kutahan – selama satu bulan terakhir – menyerang kembali. Dan saay itu juga, Teuki oppa melihatku menangis dan mengetahui apa penyebab dibalik semua tangisanku.

 

“Nae Chulie, kalau kau tidak mau keluar tidak apa. Namun, tolonglah… jangan menangis lagi.”

 

Kuangkat kepalaku yang sedari tadi hanya tertunduk dan tertutupi oleh bantal. Kulihat kearah ruangan tempat aku menangis (baca: kamarku). Gelap dan sangat sunyi. Ternyata langit sudah gelap juga. Dan bantal yang selama ini kugunakan untuk menutupi mataku yang terus mengeluarkan butiran-butiran kristal itu telah basah akan kristal-kristal tersebut. Air yang kukeluarkan itu berasal dari mataku dan mengakibatkan mataku sangat sembab.

 

Aku menangis karena namja itu. Aku menangis karena mengingat masa lalu yang telah kami alami. Aku menangis karena aku mencintainya. Sejujurnya, aku tidak pernah menyesal karena mencintainya. Aku tidak akan pernah menyesal mencintai namja itu karena aku tahu namja itu masih mencintaiku sampai sekarang. Mengapa aku yakin? Bukan karena foto itu ataupun hal lainnya. Melainkan status jejaring sosialnya adalah dua kalimat sebuah lirik lagu lama yang dinyanyikan Celine Dion yang selalu kuucapkan kepadanya…

‘Je ne vous oublie pas.. Non, jamais.’


***

 

I hit pause on time until you appear again.

I cannot stand each of the day without you…

 

***

London…

Sekarang kita tidak terpisahkan oleh benua apapun. Kita tidak terpisahkan oleh kota apapun. Aku tidak berada di Seoul sekarang. Aku berada di kota yang sama denganmu, London. Namun, tujuanku kesini bukanlah untuk bertemu denganmu. Aku ke London karena kebutuhan kesehatanku yang semakin memburuk. Ya, sudah lama aku sakit karenamu, oppa. Sebut saja penyakitku ini lupus. Ya, penyakit yang disebabkan oleh sistem imun yang diserang oleh beberapa faktor. Misalnya gen, antibodi, atau mungkin radiasi, dan lainnya. Penyakit ini juga didukung oleh kegiatan sehari-hariku. Misalnya pola makan, apa yang dilakukan, dan lainnya. Dan hidupku sangat berantakan ketika aku ditinggal oleh dirimu. Jadilah aku menjadi seorang yeoja berpenyakitan. Dokterku, Park Jun Ho, tidak bisa menanganiku lagi. Jadilah aku sekarang berada di negara kerajaan ini.

 

Walaupun aku berkata tujuanku ke kota ini bukan untuk menemuimu, tetapi, ketahuilah oppa… apabila aku bisa bertemu denganmu, aku sangat ingin. Bahkan cukup melihatmu dari jauh saja aku sudah sangat bersyukur. Hanya melihat punggungmu menjauh memang membuatku sakit hati dan tidak mengurangi sedikitpun rasa rinduku kepadamu. Tetapi, terus terang saja aku berharap sekali aku bisa melihat dirimu, mengobrol denganmu, dan melakukan aktifitas bersama denganmu. Namun, aku sangat yakin itu tidak mungkin.

 

Namun, sepertinya perkataanku barusan harus kutarik lagi. Dewi fortuna berpihak kepadaku saat ini. Saat aku sedang duduk di bangku taman kota sambil membaca novel, aku melihat sosok namja yang memakai mantel abu-abu yang sudah sangat kukenal sedang berjalan di jalan setapak disekitar taman. Namja itu memiliki rambut berwarna merah kecokelatan, mata yang unik, hidung yang mancung, dan bibir yang menggoda. Kugosok-gosok kedua bola mataku dengan kedua jari telunjukku untuk meyakinkan apa yang kulihat. Dan ternyata benar! Aku tidak salah lihat! Itu benar-benar namja itu! Sapa tidak? Sapa, tidak, sapa, tidak.. OMO!! Kedua bola mata kami bertemu!!

 

“C–Chulie?” ucapnya seraya mendekat kearahku.

“Ne, oppa.”

 

Kuulas senyum diwajahku yang pucat. Sungguh, untuk saat ini saja kalau aku diperbolehkan untuk egois, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukainya, menyayanginya, mencintainya sepenuh hati. Namun, hal itu tidak mungkin bisa kukatakan kepadanya karena pada kenyataannya namja itu sudah mempunyai seorang istri dan seorang anak. Dan hal itu tidak bisa dipungkiri lagi.

 

“Mengapa mukamu pucat?” ucapnya sambil duduk disebelahku, “– ada yang sakit?”

apakah perlu kukatakan kepadanya bahwa aku sakit?

“Gwenchana, oppa. Hanya capek saja.”

“Kapan kau sampai London? Untuk apa dan kapan kau pulang?”

“Aku sampai dua hari yang lalu, oppa. Dan aku akan tinggal disini. Tidak ada alasan khusus.”

 

Namja itu hanya terdiam dan melihat jauh kedalam manikku seperti sedang mencari sesuatu. Merasa seperti ditelanjangi, kupalingkan kepalaku dari matanya agar ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya membuatku ada ditempat ini. Aku hanya tidak kuat untuk menjelaskannya kepada namja itu. Bahkan, untuk menatapnya saja membuat aku harus menahan air mata yang sudah ingin keluar dari tempatnya habis-habisan.

 

“Mianhae oppa, aku harus pergi sekarang.” Ucapku terburu-buru sambil berdiri membelakanginya, “– annyeong.”

 

Kulangkahkan kaki kananku kedepan. Berusaha untuk berjalan lebih cepat dari biasanya karena air mataku sudah mentes dengan sangat deras. Namun, dewi fortuna tidak berpihak lagi kepadaku kali ini. Sebuah tangan besar dan hangat menggenggam pergelangan tanganku. Hanya orang bodoh saja yang tidak tahu siapa pemilik tangan halus dan hangat seperti itu kecuali namja tersebut.

 

“Kim Ryechul,” ucapnya tertahan, “– jeongmal pogoshipeo…”

 

Nafasku tercekat beberapa detik mendengar ucapannya barusan. Sungguh, aku sangat ingin berbalik dan memeluk  tubuhnya. Namun, aku tahu aku tidak akan kuat untuk melakukan hal itu karena aku akan menangis. Lalu, namja sempurna itu juga sudah mempunyai kehidupannya dengan keluargannya sendiri. Aku tidak bisa merusak semua itu. Aku tidak bisa melakukan hal itu walaupun hatiku meronta-ronta untuk melakukan hal tersebut.

 

“Nado, oppa…” ucapku lirih. Aku tahu ia menyadari betapa sedihnya aku dan aku tahu dia juga mengetahui bahwa aku sedang menangis. Dengan satu hentakan yang lembut, ia memutar pergelangan tanganku dan membuatku berbalik melihat sosoknya yang tampan. Lalu, dengan gerakan yang tidak diduga, ia menarikku kedalam dekapannya yang sangat hangat, Ia mencium ubun-ubunnku dan terus menerus mengucapkan permintaan maaf. Namun, aku hanya bisa terisak sambil berfikir apakah aku haris membalas pelukannya atau tidak. Ternyatam hatikulah yang menang. Kubalas pelukan itu dengan melingkarkan tanganku ke pinggangnya sambil menangis tersedu-sedu. Bisa kurasakan namja itu juga sedang menangis. Lalu, dengan tiba-tiba, ia mengucapkan sebuah kalimat yang sanga tidak kuduga sama sekali.

 

“Jeongmal saranghae, Kim Ryechul. Mianhae, mianhae… jeongmal mianhae…”

 

Dan saat itulaj aku merasakan jiwaku utuh kembali. Saat itu juga, aku menyadari bahwa aku memang tidak akan bisa kuat untuk berdiri menghadapi dunia ini tanpa namja itu disampingku seharipun karena aku sangat membutuhkannya…

 

***

 

Tuhan, terima kasih karena kau telah memberiku kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengannya. Terima kasih karena kau telah memberikan apa yang kuinginkan selama ini didalam hidupku. Sungguh, kalau bukan karena kuasamu, aku tidak akan bisa berbahagia dibalik penderitaanku ini. Semakin hari, penyakit lupus ini semakin menggerogoti tubuhku dan membuatku harus terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit London Presbyterian ini. Kehadirannya kembali di hidupkulah yang membuatku tetap semangat untuk hidup.

 

“Chulie, Seori-ah menitipkan bubur merah buatannya untukmu. Katanya kau harus rajin makan.”

 

Kalau kau berfikir bahwa istrinya sudah mengetahui tentang diriku, aku berikan kalian nilai seratus karena kalian benar. Sesudah kejadian reuni di taman dua minggu yang lalu, namja itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dibalik perkawinan mereka berdua. Dan aku sangat takut ketika namja itu menceritakannya kepada Seori karena saat itu juga aku ada dihadapannya. Reaksi dari yeoja itu? Ia menangis. Ia menangis sangat tersedu-sedu karena ia merasa ia adalah orang yang patut disalahkan karena kejadian diantara kami berdua. Sungguh, seorang yeoja yang penuh perhatian dan berhati lembut. Bahkan, ia sempat menawari aku untuk menjadi istri kedua dari namja itu. Namun, aku menolaknya karena ku sendiri tahu aku akan membuat namja itu mengabaikan salah satu dari kami berdua.

 

“Gomawo oppa. Taruh saja diatas meja. Nanti akan kumakan.”

“Aniyo.. harus sekarang kau makan bubur itu karena Seori telah mengomel-ngomel sedari tadi.”

 

Aku tersenyum simpul mendengar hal tersebut. Sungguh yeoja yang bijak sana membiarkan suami yang sangat ia cintai bersama yeoja lain. Demi seluruh makhluk apapun yang ada di dunia ini, aku sangat berhutang budi dengan yeoja itu karena ia berbaik hati membiarkan suaminya menemui mantan yeojanya yang sudah tidak berdaya ini. Bahkan, perhatiannya melebihi perhatian yang diberikan umma dan appaku. Aku sangat bersyukur oppaku ini dipertemukan dengan yeoja macam Han Seori.

 

Setelah selesai makan, kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Aku memang memerlukan waktu yang cukup banyak untuk beristirahat. Itu disebabkan karena penyakit sialan ini tidak mau tertidur sejenak untuk membiarkanku sehat seperti dulu lagi. Jadi, setelah namja itu merapihkan piring yang kugunakan untuk makan, ia membiarkanku istirahat dengan tenang. Namun, sebelum aku beristirahat, keningku dicium oleh namja itu dengan sepenuh hatinya. Lalu, kuucapkan sebuah kata yang sangat berarti untuknya dan untukku.

“Jeongmal saranghae, oppa. Geudael saranghamnida.”

 

***

 

I love you it will not change…

I’ll be loving you till eternity…

 

***

 

Author’s POV

Angin berhembus kencang membawa harum bunga kamboja yang sangat wangi. Nuansa hitam menghiasi daratan yang sedang dikerubungi oleh banyak orang. Langit cerah tanpa awan menyaksikan sebuah acara sendu yang diwarnai oleh beribu-ribu tetesan air mata yang turun dari pelupuk mata beberapa orang. Ya, tidak ada sebuah acara pemakaman yang menyenangkan bukan? Segala sesuatu yang hidup pada akhirnya pasti akan mati. Namun, tidak ada seorangpun yang mengetahui persisnya kapan mereka akan meninggalkan dunia fana ini. Hanya tuhan yang tahu segalanya di dunia ini.

 

Kim Ryechul, ia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Kata-kata yang ia ucapkan sebelum beristirahat kepada namja itu ternyata adalah kata-kata terakhirnya sebelum ia beristirahat selamanya. Cintanya yang tidak pernah padam itu ia bawa sampai ia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Baik orang tua, kakak, dan namja itu sendiri tidak menyangka bahwa yeoja itu akan pergi secepat itu karena mereka sangat yakin bahwa yeoja itu akan kuat menghadapi penyakitnya karena kehadiran namja yang sangat ia sayangi itu di kehidupannya lagi. Tetapi, mereka tidak tahu bahwa dibalik semua ini, Ryechul sudah berdoa kepada tuhan tentang nasibnya sendiri…

 

Tuhan, sekarang, apabila kau ingin mengambil nyawaku, ambilah..

Aku sudah siap untuk meninggalkan dunia ini dan menghadapmu karena apa yang kuinginkan sudah tercapai. Terima kasih, tuhan. Terima kasih…

 

Setelah acara pemakaman selesai, semua hadirin yang mengikuti acara pemakaman itu pergi dengan suasana yang masih sendu kecuali tiga orang. Seorang namja dan dua orang yeoja. Sang namja hanya bisa mengusap batu nisan yang sangat indah yang terukir nama yeoja yang paling ia sayangi selama ini. Seorang yeoja yang selalu memperjuangkan cintanya sampai ia mati. Seorang yeoja yang selalu menjadi bayang-bayang didalam mimpinya saat ia tertidur. Seorang yeoja yang sangat ia cintai.

 

Bertetes-tetes air mata jatuh mengenai batu pualam hitam mengkilat tersebut. Dengan suara yang pelan, ia membisikkan beberapa kata cinta kepada sosok tubuh yang berada didalam tanah sekarang. Padahal, ia sendiri tahu bahwa raga yang sudah terkubur itu tidak akan bisa membalas perkataan cintanya. Tetapi, namja itu tetap meyakinkan dirinya sendiri bahwa arwah yeoja itu masih berada disekitarnya dan masih mendengar perkataan cintanya yang ia ucapkan dari lubuk hatinya yang paling terdalam. Kemudian, yeoja yang berdiri disampingnya menepuk bahu namja itu dan memberikan sebuah tissu kepada namja itu. Tiba-tiba saja namja itu tersenyum dengan senyuman sendu sambil memegang pipinya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari batu pualam itu. Lalu, ketiga oknum yang tersisa didepan gundukan tanah itu segera meninggalkan area pemakaman tersebut dan pulang kembali ke hotel tempat mereka menginap karena mereka sekarang berada di Korea.

 

Tetapi, mereka tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang mengawasi mereka dengan senyuman yang terhias diwajah makhluk tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka dan orang-orang lain tadi katakan tentang makhluk tersebut terdengar olehnya. Dengan sentuhan halus yang dilakukan makhluk itu kepada namja yang terus menerus-menangis sambil memandang namanya yang tertulis diatas batu pualam itu, dengan pelan, makhluk itu berbisik ditelinga namja itu sebelum ia pergi.

 

“Aku mencintaimu hingga akhir hidupku, Lee Hyuk Jae. Jeongmal saranghae.”

 

Ucapnya pelan disamping telinga kirinya dan mencium pipinya sekilas dan kembali kelangit untuk mengawasi mereka dari kejauhan. Cintanya terbalas sudah. Sekarang, yeoja itu bisa tidur dengan tenang di alam sana..

 

***

HUAAAAH!! Panjang banget!!

Jeongmal kamsahamnida buat readers yang udah baca SF ini walaupun gaje ._.v

Jangan lupa RCLnya yaa😀 :*

About raisawidiastari

crooked.

Posted on 29 Mei 2011, in Kim Ryechul, Super Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 17 Komentar.

  1. eeeeh unyuk? aku pikir kyu atau jong ternyata unyuk😄
    panjaaaang tapi bagus ^.^b
    ayo nulis lagiiii

  2. hahaha*evil laugh* feeling onnie bener itu bang kunyuk..:D pantesan ditwit or sms ngomongnya kunyuk trus-,- trnyta.. jujur ini keren bgt top bgt^^b feelnya dapet dan onnie suka endingnya KMU MATI DEAD HAHAHA*puas mba* onnie udh komen jd nyuruh lg:p

    • raisa widiastari

      ._______________________.
      jadi…jadii, eonn seneng kalo aku mati?!?! *lebay mode on*
      ahahaha, tapi bagus kan kan kan? *cling cling cling*

  3. missnandaa 최민호

    DAEBAK~!!! Author-ah jeongmal daebak…
    Aduh mewek baca ini FF
    T_T

  4. daebak author..
    ^^

  5. Pas awal banget baca kirain buat teuki/henry gitu, kan author sukanya sama mereka eh malah si namjanya eunhyuk. Gabisa ketebak awalnya. Serius. Daebakkk ;D

  6. Pertama-tama kurang sedih pas tengah2 nangis T.T sumpah nih ff sedih hua sampe tisu di rumah abis

  7. kata-katanya kereeennn…
    btw, awalnya aku kira itu cowonya hae atau kyu lho, eh ternyata eunhyukk..😀
    good job

  8. ini menyedihkan sesek banget rasanya kalo jadi chullie
    padaha cast nya eunhyuk tapi aku malah ngebayanginnya heechul kkk~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: