[FF/PG-17] CODE Part 1

Main Cast:
Lee Jinki
Sin Jeona (fiksi)
Lee Taemin
Luna F(x)

Genre: Family
Rating: PG 17
Leght: Sequel
Author: Kim Jonggey


Annyeong haseyo~
Namaku masih Kim Jonggey..(gak ada yg nanya!) aku author baru disini ^^v
Ah! Ada satu hal yang baru kuketahui baru-baru ini.. jika setelah menikah marga sang istri tidak berubah, Hanya marga anaknya saja yang mengikuti marga sang ayah, tapi si istri juga bisa dipanggil dengan sebutan Nyonya Kim (misalkan marga si suaminya Kim)

RCL please~
Minimal jempolnya juga gpp..^^

JINKI POV

“Chukkae untuk Lee Jinki!!!”
“Ahahahah..jangan terlalu berlebihan Minho..”
“Wae?? Bagaimana aku tidak senang, jika temanku yang seorang eksekutif muda ini, mendapatkan tender yang yang diperebutkan banyak pesaing bisnis kita..”
“Tapi haruskah kita merayakannya seperti ini??”
“Apa kau orang Korea? Ini sudah biasa Jinki..kau terlalu lama tinggal didalam tempurung..”
Ye..ye.. aku memang sering diajak berpesta oleh Minho jika salah satu rekan kami mendapatkan tender. Dan aku selalu menolak karena aku tidak suka mabuk.
Lai hal nya dengan hari ini. Ini pestaku. Aku tidak bisa menolak. Mungkin minum beberapa gelas dan jangan sampai mabuk. Menghargai rekan-rekanku.

“Bersulang!!!”
“Ye..!!”
“Untuk kesuksesan Lee Jinki dan perusahaan kita!! Tooss!!”

“Minho.. kau bisa pulang sendiri?”
“Ngg~??”
Tidak mungkin. Berdiri saja sia tidak sanggup. Apalagi menyetir pulang.

“Ouughh~ kau berat Minho!”
“Hehehe~ aku kan tinggi Jinki hyung~”
“Ye~ aku tahu kau tinggi.”
Untung saja aku tidak mabuk. Aku bisa mengantar Minho pulang ke rumahnya. kalau saja aku ikut mabuk, mungkin kami akan menginap di Café ini.

“Minho??”
Huh? Seorang namja menghentikanku dan mengecek wajah Minho. Penampilannya seperti seorang mahasiswa.

“Minho?? Kau mabuk??”
Namja itu menepuk-nepuk pipi Minho yang sedang kubopoh. Tapi Minho sudah tak sadarkan diri.
“Kau kenal Minho??”
Semoga saja namja ini kerabat Minho. Dan aku bisa meminta bantuannya untuk mengantarkan Minho pulang.
“Ne, aku sepupunya..”
Syurkurlah..
“Kebetulan sekali.. kau bisa mengantarnya pulang??”
“sebenarnya aku.. ya baiklah.. akan kuantar Minho pulang. Aku tidak mau eomanim memarahiku..”
“Mobil Minho terparkir di..”
“Tidak usah..aku membawa mobilku sendiri..”
“Kalu begitu aku akan menitipkan mobil Minho bermalam ditempat parker Café ini..”
Aku menyerahkan Minho pada sepupunya. Sepupu Minho lebih pendek dariku, tapi dia lebih kekar. Aku yakin dia kuat membopong Minho yang berat ini.

Tanpa kesulitan namja ini merangkulkan tangan Minho dibahunya. Dia kuat juga ternyata.
“Kau rekan kerja Minho?”
“Ne. aku Lee Jinki”
“Aku Kim Jonghyun. Mianhe kalau Minho merepotkanmu..”
“Gwenchana.. Minho mabuk dipestaku. Seharusnya aku yang mengantarnya pulang..”
“Sekarang sudah ada aku.. aku yang akan mengantarkannya pulang.”
“Kamzahamnida~”
“Ahni seharusnya aku yang berterima kasih..”
Namja yang baik.
“Annyeong haseyo!”
“Ne, Annyeong!”

Aku memastikan Minho berada ditangan yang tepat. Ternyata Jonghyun memarkirkan mobilnya didekat Café ini. setelah Mobil Jonghyun berlalu berulah aku kembali ke Café.

“Maaf.. mobil temanku diparkir di halaman parker café ini.. dia mabuk dan diantar kerabatnya.. boleh kami menitipkan mobilnya disini? Besok pagi mungkin pemiliknya akan menjemputnya..”
“Ne.. Gwenchana..”
“Jeongmalyo? Kamzahamnida~”

Urusan Minho sudah selasai sekarang aku bias pulang dengan tenang.

Bughh!!

“Ah Mianhe..”
Yeoja yang menubrukku sama sekali tidak menghiraukanku. Dia pergi dengan langkah terjontai. Kenapa semua orang dari café ini pulang dengan mabuk?

Bip!
Sudah larut.. Mobilku terparkir sendirian. Yah karena aku memarkirkan mobilku cukup jauh dari café tadi.

Eoh? Yeoja yang menubrukku di café?
Dia duduk di halte. Sendirian. Kepalanya disenderkan dikaca halte. Tertunduk kedua tangannya mencrengkan kuat kedua pahanya.
Dia menungu bis? Pada jam selarut ini bis jarang sekali lewat. Kasihan.
Terlihat segerombolan namja hendak mendekati yeoja itu. Tidak baik jika namja-namja itu mengetahui kondisi yeoja itu yang sedang mabuk.

Entah kenapa aku menghampiri yeoja ini dan berniat membawanya pulang. Dia sediktit mengerang saat aku mencoba membopohnya.

Aku mendudukannya dikursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Kemudian aku kembali kekemudiku.

“Ngg~”
“Kau sudah sadar?”
Cantik. Matanya bulat.. hidungnya mancung sempurna dan bibir mungilnya terlihat segar.

“Siap..pa kau~?”
“Aku Jinki.”
“Jinki?.. kau.. tampan juga..”
Tampan? Yeoja ini masih mabuk rupanya.

“Kau.. siapa namamu?”
“Na~?”
“Ne”
“Jeona”
“Apa kau cukup sadar untuk mengingat dimana rumahmu? Jeona?”
“Hmm?? Apa mobilmu.. ac? Panas sekali..”

Glek~

Oh Tuhan! Joena mulai melapaskan cardigannya. Dia mengibas-ngibaskan tangannya agar lehernya terjena hembusan angin tangannya.
Lehernya yang jenjang. Terlihat lebih menggoda dengan bahu yang hanya tertutupi tali dressnya.

Aku pun mulai merasa panas. Maka kunyalakan Ac hingga maksimal.

_SKIP_

************************************************************************

Pernahkah terbesit dipikiran kalian bagaimana rasanya menikah dengan seorang namja yang tampan?
Apakah kau akan bahagia dengan melihat wajahnya setiap hari? Tersenyum padamu?
Apakah dia akan bahagia hanya dengan cintamu? Karena kau tak punya harta atau paras yang cantik?
Apakah orang disekelilingmu pun akan ikut bahagia jika kau berada disamping namja tampanmu?
Apakah.. aku bisa bahagia?

Jeona POV

“Noona siang ini kau mau ikut karaoke bersama kami??”
“Aku harus cepat pulang..”

Tak bisa kemana pun..
Hatiku selalu tak tenang. Sedikit rasa bersalah didada ini.

“Jangan terlalu tegang noona..kita bersenang-senang sebelum ujian..otte??”
“Mau saran dariku Taemin??”
“Mwo?”
Aigoo~ tidak pernah mata ini merasa bosan melihat wajah polosnya.

“Tetaplah berada dirumah sampai kau lulus..”

Aku akan sangat membutuhkan saran itu satu tahun yang lalu. Jika satu tahun yang lalu aku lebih memilih belajar dirumah dibanding pergi karaoke, mungkin saat ini aku tidak akan satu kelas dengan Taemin. Dan statusku sudah menjadi mahasiswa.
Bisakah aku kembali ke masa lalu? Jawabanya adalah, jangan bermimpi!.

//

Tumpukan buku baru..
Sebenarnya aku tidak membutuhkannya. Aku masih punya buku lama yang sama. Tapi aku membutuhkan buku baru ini untuk memulai lembaran hidupku yang baru.

Tok.. Tok.. Tok..

“Masuk!”

Cklek~

“Masih sibuk mempersiapkan hari ujianmu?”
“Ne umma..”

Beberapa potong buah dan segelas susu. Cemilanku.

“Gomawo umma~”

Kulihat umma masih duduk diatas ranjangku. Bukankah biasanya umma akan langsung pergi karena tidak mau mengganggu konsentrasiku?. Apa masih ada yang ingin dibicarakannya?

“Jadi.. ada sesuatu yang ingin umma bicarakan denganku?”

Umma hanya membalasnya dengan tersenyum. Menundukan kepala dan akhirnya beranjak dari duduknya.

“Kau tidak lupa tugasmu hari ini kan?”
“Ne.”

Yah, tentu saja aku tidak lupa.
Aku berniat akan pergi setelah menyelesaikan beberapa soal.

Drrtttttt~ Drrrttttt~

Ah! Aku tertidur?

Drrtttttt~ Drrrttttt~

Dimana aku simpan selfonku? Hari sudah mulai gelap. Aku tidak dapat melihat dengan jelas.

Drrtttttt~ Drrrttttt~

Hari sudah mulai gelap???
Aisshhhh!!! Dimana kutaruh selfonku. Ini dia! Beruntung cahaya dari layar selfonku menyala terang digelapnya kamarku.

Jinki calling.
Sudah kuduga dia yang menelefon.

“Yeoboseyo?”

//

Aku tidak suka tatapannya.. Seperti sedang mengintimidasiku.
Aku tahu aku yang salah. Dan aku sudah meminta maaf.

“Bisakah kau sedikit bertanggung jawab?”

Tidak kujawab pertanyaannya. Bersikap seolah aku tidak mendengarnya. Memalingkan pandanganku dengan memandangi wajah bayi mungil yang sedang menghisap kuat asi yang kuberikan.
Kasihan sekali kau bayi mungil.. mian karena membuatmu menahan lapar terlalu lama.

“Akhir-akhir ini dia tidak mau minum susu formula.. jadi kuharap kau lebih sering datang untuk memberinya asi.”
“Aku sudah semakin disibukan dengan persiapan ujianku..”
“Dan kau akan membiarkannya kelaparan?”
“Ahni.. aku akan menyimpan asiku kedalam beberapa botol. Taruh dilemari pendingin dan kau bisa memberikannya pada bayimu saat dia menangis.”
“Bayiku? ckk!”
Jinki oppa berdecak kemudian meninggalkanku dikamarnya. Kenapa harus kesal? Kenapa harus kecewa padaku?

Pandanganku lurus kedepan, menemukan sebuah gambar yang masih kokoh menempel di dinding kamar ini. Miris, hanya dengan memandangi gambar itu aku mulai menbenci diriku sendiri. Sangat mengutuk diriku sendiri hingga merasa aku tidak pantas lagi untuk hidup.

“Akkhhhh~ Appo.. belum punya gigi saja gigitanmu sudah sesakit ini huh?? Nappeun baby..”
Masih kuat menghisap asiku. Matanya melihatku, jernih, sejuk. Hanya melihatnya saja bisa membuatku melupakan semuanya. Kau bayi mungil.. sudah pintar menghipnotisku huh?? Hatiku dibuatmu tenang. Gomawo~

Hisapannya mulai melemah seiring dengan matanya sipitnya yang perlahan terpejam. Sudah kenyang? Mengantukkah?
Pelan-pelan aku melepaskan nipelku dari mulut kecilnya. Sudah terlelap. Damai sekali.
Kutepuk-tepuk punggungnya hingga terdengar sendawa dari mulutnya. Barulah aku membaringkannya di box bayinya.
Annyeong jumuseyo~

Kusimpan beberapa asi yang kutaruh dibotol kedalam lemari pendingin. Tidak terlalu yakin ini cukup sampai besok sore.

“Kau sudah mau pulang?”

Kututup perlahan pintu lemari pendingin.
“Ne”

Jinki oppa mnumpukan kedua sikutnya diatas meja makan. Dapat kulihat jelas cincin melingkar dijari manisnya.

“Masih memakai cincinmu oppa?”
Aku memasukan kedua tanganku kedalam saku celana. Menyembunyikan jari polosku.
“Tentu saja, aku masih terikat pernikahan.”
Matanya seperti mengatakan kalau aku sudah melupakan semuanya.
“Berhentilah melakukan semua ini oppa.”
“Berhenti untuk apa?”
“Berhentilah membuatku terlihat seperti orang yang paling berhianat!”
“Aku tidak pernah melakukan itu..”
Huh! Sangat menyebalkan!

“Berhentilah tetap memakai cincin bodoh itu! Tidak usah memajangkan foto pernikahan bodoh itu! Dan berhentilah bersikap seakan-akan kita ini keluarga bahagia!”
”Kenapa kau tetap menganggap pernikahan ini bodoh?”
“Cukup! Sejak awal kita sudah sepakat kalau kita menikah demi menutupi malu keluargaku! Dan kau tahu aku membenci ini..”
“Ne! Arra! Tentu saja aku tahu kau sangat membenci ini.. aku hanya menjalankan tanggung jawabku! Dan seharusnya kau pun begitu!”
“Ini semua tanggung jawabmu oppa.. bukan tanggung jawabku.”

Sudah cukup..
Lebih baik aku pergi dari tempat ini sebelum semuanya bertambah runyam.

“Kau mau kemana Jeona?”
“Pulang!”

//

Kenapa hatiku tidak tenang..

“Buka halaman 402.. carilah beberapa sentence pada setiap paragrafnya..”

Halaman 402.. Family?
Gyut~
Ngilu sekali..

“Noona.. gwenchana?”
Taemin berbisik padaku. Aku menoleh padanya dan kupaksakan untuk mengangguk.
“Kau terlihat tidak sehat?”
“Benarkah?”
“Ne”

Gyut~
Kenapa tiba-tiba ingin menangis?

“Seongsaengnim!”
“Ne Jeona? Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Boleh aku meminta ijin untuk pulang lebih cepat hari ini?”
“Kau sakit?”
“Ne..”

Perasaanku galau. Percuma aku meneruskan pelajaran.

//

Aku tidak tahu mengapa kakiku membawaku ke rumah ini. Sudahlah tidak apa-apa. Kau sudah berada dirumah ini, sebaiknya memastikan kalau perasaannya galaumu ini bukan pertanda yang buruk.

Ting~ Tong~

Tidak ada yang membukakan pintu? Bukankah seharusnya ada baby sitter yang sedang menjaga bayinya?

Ckleck~
Tidak dikunci?

Terdengar sayup-sayup suara tangisan bayi saat aku menutup pintunya. Tangisannya terdengar semakin jelas ditelingaku. Apa bayinya baik-baik saja?
Hatiku semakin gundah. Belum dapat tenang apabila belum melihat keadaan bayi mungil yang sedang menangis itu.
Aku berlari menuju kamar Jinki oppa. Suara tangisannya semakin jelas dan terdengar begitu memilukan.

Bukan baby sitter, tapi Jinki oppa yang sedang menenangkan bayinya. Dia tidak pergi bekerja?
Dengan segera aku meminta Jinki oppa untuk memberikan bayinya padaku. Dia terkejut saat melihatku didepannya. Aku mengambil sendiri bayi dari pangkuan Jinki oppa, karena Jinki oppa masih terdiam memandangiku.

“Ssshhhhtt~ sudah jangan menangis lagi bayi mungil.. aku ada disini..”

Aku membuka kancing seragamku dan berbalik membelakangi Jinki oppa. Aku mulai menyusui bayi yang memerah karena terus menangis ini. Aku duduk diatas ranjang dan membiarkan jari telunjukku digenggam erat tangan mungilnya.
Tangisannya langsung terhenti seketika. Kau lapar? Bayi yang malang..

Aku menoleh kearah Jinki oppa yang masih berdiri mematung melihatku. Matanya sembab seperti habis menangis. Dia masih memakai pakaian tidurnya yang kemarin malam.

“Oppa tidak pergi bekerja?”
“Aku tidak bisa meninggalkan Jongin..”
Jongin.. nama yang diberikan Jinki oppa untuk bayi ini.

“Bukankah biasanya ada baby sitter?”
“Aku tidak bisa mempercayakan Jongin pada mereka.”
“Wae? Kalau begini kau tidak bisa pergi bekerja oppa..”
“Sudah kubilang Jongin tidak mau lagi meminum susu formula.. dia akan terus menangis seperti ini..”
Jinki oppa menghapus air mata yang mulai keluar dari matanya. Dia mengangis? Wae?

“Aku mau mandi..”
Jinki oppa pergi memasuki kamar mandi. Dia belum mandi, bahkan mengganti bajunya pun tidak sempat kah?

Pandanganku kembali lurus kedepan, kembali menemukan sebuah gambar yang masih kokoh menempel di dinding kamar ini.
Foto pernikahan kami, aku dan Jinki oppa. Diambil saat Jinki oppa menyisipkan cincin dijariku.
Jariku? Kosong.. tidak seperti Jinki oppa. Aku menyimpan cincinku di kotak perhiasan. Tidak ingin mengingat statusku yang sudah menikah.

“Whoaaa~ roti!!”
Jinki oppa melahap roti yang sudah kusiapkan sambil memasang dasinya. Rambutnya masih basah dan belum tersisir rapih.

“Oppa mau pergi bekerja sekarang?”
Sudah pukul sepuluh, sudah terlalu terlambat.
“Hmm~”
Dia hanya mengangguk dan meneguk kopinya.
“Ada rapat pukul sebelas nanti..” melanjutkan jawabannya sambil tergesa-gesa mengunyah roti dengan selai srikaya.

“Lalu siapa yang akan menjaga Jongin mu?”
“Bukankah ada kau?”
Jinki oppa berhenti mengunyah, menatapku bingung sambil menunggu jawabanku.
“Aku harus pergi les tambahan pukul satu siang..”
Seperti kecewa dengan jawabanku. Dia menaruh rotinya dipiring dan melepas dasinya kembali. Kesal.

“Sebenarnya kau anggap apa Jongin?”
Menusuk tajam mataku. Memompa nafasnya lebih cepat.
“Dia anakmu..”
“Lalu mengapa kau masih kemari?”
“Aku menyusuinya.. sudah janjiku untuk tetap memberikannya asi sampai bayimu dapat meminum susu formula..”
“Bayiku? Dia bayimu juga!”
“Jangan memulainya oppa!”
“Apa! Apa kau akan bilang kalau kau tidak pernah menginginkan Jongin! Dan kau akan bilang kalau ini salahku!”
“INI SEMUA MEMANG SALAHMU OPPA!”
“Salahku? TIDAK AKAN TERJADI JIKA KAU TIDAK MENGGODAKU!!”
“KAU TAHU AKU MABUK DAN KAU MEMANFAATKANNYA!!”
“SIAPA YANG MENYURUHMU MABUK!!!”
“Siapa yang menyuruhku mabuk?”

Siapa yang menyuruhku mabuk?
Tidak ada.. aku sendiri yang ingin mencobanya..
Aku yang bodoh ini yang ingin terlihat keren dimata teman-temanku..

“Aku memang menjijikan karena sudah mabuk.. karena sudah berani menggodamu.. dan karena semua kebodohanku, aku kehilangan teman-temanku.. cita-citaku dan membuat malu keluargaku!! Tapi kau yang mencegahku bunuh diri! Kau yang menawarkan tanggung jawab! Maka selesaikanlah tanggung jawabmu sendiri!”

Plakkk!!!

Appo..

“Kau menyedihkan sekali Sin Jeona..”
“Oppa yang menyuruhku untuk meneruskan hidupku bukan?? Maka aku akan menyelesaikan sekolahku dan akan meneruskannya ke universitas.. jadi jangan menggangguku yang sedang menata kembali hidupku oppa..”

Jinki oppa mengepalkan tangannya. Masih ingin menamparku? Tampar saja..

“Pergilah.. selesaikan saja sekolahmu.. mian karena aku sudah mengganggumu..”

//

Pernahkah terbesit dipikiran kalian bagaimana rasanya menikah dengan seorang namja yang tampan?
Aku pernah.. bagiku Kim Jonghyun cukup tampan..
Tapi siapa yang mengira sumua tidak sejalan dengan keinginanmu..

Apakah kau akan bahagia dengan melihat wajahnya setiap hari? Tersenyum padamu?
Melihat wajahnya pun sudah membuatku membenci diriku sendiri. Setiap senyum yang dia perlihatkan, semakin membuatku terpojok..

Apakah dia akan bahagia hanya dengan cintamu? Karena kau tak punya harta atau paras yang cantik?
Tidak pernah yakin kalau kami bahagia. Bukan karena fisik atau harta, kami tidak membutuhkannya saat ini.

Apakah orang disekelilingmu pun akan ikut bahagia jika kau berada disamping namja tampanmu?
Salama orang disekitarku tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kuharap mereka juga bahagia.

Apakah.. aku bisa bahagia?
Belum.. suatu saat nanti aku pasti bahagia..

“Noona..nilai ujianmu cukup bagus?”
“Tidak terlalu bagus.. tapi kurasa cukup untuk standar kelulusan..”

Meskipun kuhabiskan waktu sehari penuh untuk belajar, hasilnya tidak maksimal.

“Nonaa~ Kau akan melanjutkan ke universitas mana?”
“Seoul University.”
“Jinjja???”
“Ne~”
“Bukankah sulit masuk ke SU?”
Tidak jika kau adalah anak dari rektor di Universitas tersebut..

“Aku akan berjuang sekuat tenaga Taemin.. kau juga, lakukanlah hal yang sama denganku.. berjuanglah agar dapat masuk ke universitas seni incaranmu.”
“Ne noona.. heheheh..”

Hanya ditemani kekehan kecil seorang Lee Taemin. Perayaan kelulusanku yang selama ini menjadi tujuan hidupku. Ternyata tidak semanis yang kubayangkan.

//

“Besok lakukan tes kesehatan ke rumah sakit..”
“Ne appa..”
“Persyaratan lainnya sudah appa urus..”
“Gomawo appa..”

Keluargaku..
Tidak pernah lagi menyinggung tentang Jinki oppa dan bayinya. Tidak pernah lagi bertanya kenapa aku tidak pergi kerumah Jinki oppa.
Keluargaku.. kupaksa untuk mendukung sepenuhnya keinginanku untuk melanjutkan studyku.

“Makan malam kali ini umma siapkan special untuk merayakan kelulusanmu Jeona..”
“Gomawo umma~ telah memasakan semua makanan favoritku..”
“Ini tidak seberapa..”

//

Aku senang karena dokter yang melayaniku seorang yeoja. Dia pasti tahu betapa risihnya aku dengan baju pasien dan tidak mengenakan pakaian dalamku dalam menjalani tes ini.

“Sin Jeo Na..”
Dokter Han memeriksa riwayat kesehatanku dan membandingkannya dengan hasil tes hari ini.

“Kau pernah mengandung?”
“Mmm..Ne”
“Riwayat kandunganmu tidak begitu baik..”
Aku tahu..
Aku berulang kali mencoba menggugurkannya tapi tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku saja.

——-

“Apa yang kau lakukan??”
Pill ditanganku terjatuh kelantai. Jinki oppa mengambil botol pill ku dan membuangnya ketampat smapah.
“Apa urusanmu??”
“Tentu saja ini jadi urusanku!! Janin itu anakku!!”
“Jadi kau tidak mau aku mati karena bayimu??huh??”
“Mengapa kau tidak percaya!! Percayalah padaku! Aku sungguh mencintaimu! Aku sudah memiliki rasa sayang yang sangat untukmu!! Aku akan tetap menikahimu walau kau tidak hamil!!”
“Jinjja?? Kalau begitu kenapa kau tidak mau aku menggugurkan bayi ini?? eoh??”
“Aku tidak mau kau jadi pembunuh Jeona.. saranghae..neomu saranghaeyo..”
Mengecup keningku lembut. Memelukku erat. Membawaku untuk menerima tawarannya untuk menikah.

—–

“Nona Sin??”
“Ah! Ne?”
“Ini surat keterangan kesehatanmu..”
“Kamzahamnida..”

//

“Bagaimana dengan tesnya?”
“Sudah selasai.. kau Taemin?”
“Aku juga sudah selesai.. aku lapar..”
“Bagaimana kalau kita makan siang??”
“Joha!!!”

Aigoo~ cute sekali.

DEGH!

Jongin? Bayi itu Jongin kan?

“Noona? Kau mau kemana?”

Kenapa Jongin bisa ada ditangan seorang yeoja??

“Noona! Tunggu aku!”

“Permisi..”
Benar. Ini Jongin.
“Ne? ahh..anda..”
“Kau mengenalku?? Apakah anak digendonganmu ini Jongin?”
“Ne.. kau Jeona?”
“Ne..”
Empat bulan tidak bertemu Jongin. Dia semakin tampan. Menggemaskan. Berapa usianya sekarang? Tujuh bulan?

“Noona!!”

Aku meminta untuk dapat menggendong Jongin. Yeoja ini memberikan Jongin tanpa segan.
“Bayi mungil..kau sudah besar?? Chu~”
Sangat rindu.. aku memeluk erat tubuh mungilnya. Ingin terus mengecupi pipi chubynya. Rindu sekali.

“Noona?? Apa bayi ini anakmu?”
“Ne Taemin..”
Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Mengecupi kepala botak bayi mungilku.

Aku membawa Jongin dan duduk diruang tunggu. Bermain dengan Jongin dan mencoba membuatnya tertawa.

“Luna! Mana Jongin??”

Jinki oppa?

“Jeona??”

-Bersambung-

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 31 Mei 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 21 Komentar.

  1. Siiipppppp….. Bagus ceritanya… Ada yang misstype kayaknya… Kim Jonghyun, dibagian POV Jeona kalo gak salah… Harusnya Lee Jinki. Cara penulisan alurnya oke bgt! Tp pas bgian Jeona ngelamun waktu mau gugurin kandungan mgkin perlu dksh ketrangan lebih kalo jeona lg ngelamun, /flashback.. Oke lanjut. HWAITING!

  2. daebak,,,,
    tapi kayanya alur ceritanya terlalu cepat mungkin klo dksih flashback jadi lebih memahami jalan ceritanya,,,

    over all,ffnya bagus dan dtggu next partnya🙂

  3. annyong..
    Slam knal..
    Q reader bru neh..
    Brita’a bgus bgt..
    Btw,, qlo mu mnta pass’a bleh gx??
    Gomawo..
    ^^

  4. Aku nangis ngbyangn onew oppa nangis T.T
    huh,Jeona jahat >.<
    next part'a,asap y chingu.

  5. Alur.y kcepetan thor,
    cba aga lbh djelsin lgi..
    Crta.y jd kya kptong2

  6. Wooaahh.. aku suka karakter onew oppa disini. tanggung jawab bgt! si Jeona oon bnere deh kagak bersyukur dia mah dapet seorang Lee Jinki! Odong bgt!!*miaaannn kebawa prasaan. tapi itu knp di skip?

  7. onew oppa kasiaaann ngurus ank’a sndiri.. sni aq bntu deh.. #plakk

    jeona g tau diri tuh, jd sebel akh.. pdhl kn onew udh bae bgd, n bertnggung jwb. *mian, sy trbw esmosi kekeke~
    sbnrnya gmn c prasaan’a c jeona k onew?? mrka slg cnta g c?
    ky’a onew doank yg sk.

  8. aigooo,, si jeona keterlaluan banget dah y,,
    akhirnya kangen tuh kan am si jongin,
    kangen jga ga ya am appanya si jongin hhahai xp
    aq lnjut part 2ny deh :p
    ga sabar #plaak

  9. Cerita y menarik, aku suka tp jeoana tega bgt sih ma anak y bilang kalo bayi y “bayimu”. . .
    Chingu mau kasi saran nih, tu kalo pas flasback d kasitau gt ada bacaan flasback y jd ngak pusing. . .

  10. jeona menyebalkan… udah deh jinki sam luna aja… kayak y dia sayang jongin deh… dr pd sama siluman ular ???? (jeona) *d bantai…

  11. Aigooo, egois kli unnie, kn ksian jinki oppa hruus ngruz bayix ndri!!!
    Jdi gk tega ngbayanginx!!!!

  12. missnandaa 최민호

    Jeona sotoy amat nih udah bgs onewppa mw tggjwab -.- *emosi* kyaaaa~ luna. Envy nih si jeona pasti xD

  13. crta aga mbngungkan di awl..

    tlg dksh ket thor byar lbh jlas…he

    jeona! ngajak rbudh pha…egois beud dah..
    #plakk

  14. Jinki kasiannnnnn~, minho salah kau membiarkan jinki begini sampe2 terjadi hal yang membuat jinki susah TT.TT

  15. annyeong saya ocha/kim eun kyo….
    ff ny menyentuh bnget…..+sedih…..
    kcian jongin jd korban…..

  16. Huaaa.
    Krenn.
    Lnjut next part.🙂

  17. Huaaa.
    Krenn.
    Lnjut next part.🙂
    tp d protect ya.
    Hhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: