[FF/PG-15] CODE Part 2

Main Cast:
Lee Jinki
Sin Jeona (fiksi)
Luna F(x)
Choi Minho
Kim Jonghyun
Yoona SNSD

Genre: Family
Rating: PG 15
Leght: Sequel

Annyeong!!
Aku meratingkan FF ini PG 15 karena alur ceritanya yang agak belibet. Ahahahah..


Jeona POV

“Jeona??”

Yoona? Kampus ini luas. Kenapa aku bisa betemu dengannya.

“Jeona? Kau mendaftar dikampus ini? lama tidak berjumpa..”
“Ne..”
Aku tidak bisa berpura-pura senang melihatnya. Aku mengecek ulang beberapa persyaratan untuk mendaftar, semoga dia tahu aku sedang tidak mau diganggu.

“Jeona? Kau masih marah padaku?”
Inilah yang tidak ingin aku hadapi. Menjawab pertanyaan yang selalu dia tanyakan selama setahun belakang.
“Jeona.. kita ini sahabat bukan? Kenapa kau diamkan aku seperti ini..”
“Sepertinya sebentar lagi namaku dipanggil..”
Kuambil map dan kusampirkan tasku.

Greepp~
Haahhh..tolong jangan paksa aku untuk menepis tanganmu Yoona.
“Aku langsung kemari saat tahu kau sedang mendaftar.. berhentilah menghindariku Jeona.”

“SIN JEONA”
Beruntung namaku sudah dipanggil. Kutepis tangan Yoona dan menuju sumber suara.

//

Yoona berhasil memaksaku.

“Ini adalah kantin fakultasku.. kantin yang terbesar dikampus ini.. kau mau pesan apa?”
“Tidak usah.. langsung saja pada pokok permasalahan..”
“Jadi.. masih belum memafkanku huh?”
“Sulit..”
“Aku sungguh tidak menyangka akhirnya akan seperti ini..Mianhe.”

Sulit..
Sulit memafkan sahabatmu sendiri. Sahabat yang menawarkan mimpi manis bersama. Dan sekaligus orang yang menghancurkan mimpimu.

Berjanji untuk selalu bersama dan masuk keuniversitas yang sama.
Sakit. Sakit sekali didadaku saat melihat sahabatmu berhasil masuk ke universitas impian kami. Sedangkan aku harus mengambil cuti karena perutku yang sudah membuncit.
Itulah sebabnya aku bersikeras untuk kuliah di universital seoul. Ingin kubuktikan kalau aku pun dapat menjadi mahasiswa disini.

“Apa yang bisa kulakukan agar bisa dimaafkan?”
“Apa bisa? Sudah terlalu sakit..”
“Mianhe..jeongmal mianhe..”

Tak bisa lagi menahan air mataku. Rasa sakit ini. sakit yang sangat karena ditorehkan oleh orang yang sudah kau anggap sebagai bagian dari dirimu.

“Aku.. sangat menyesal karena menantangmu minum.”
“Jangan ungkit itu lagi..”
“Aku harus menjelaskannya!”
”Menjelaskan apa? Kalau kau yang menaruh obat perangsang diminumanku?”
“Kau sudah tahu?”
“Aku tahu dari Hyomin.”
“Aku punya alasan untuk itu..”
“Apa? Karena obat perangsangmu itulah aku jadi seperti ini!”
“Itu karena ku tahu kau menyukai Jonghyun oppa..”
“Cih!Yang benar saja..kau justru membuatku terlihat buruk dimatanya”
“Ku kira kau pulang bersama Jonghyun oppa!”
“Aku pulang sendiri! Dan Jinki oppa yang menemukanku!”

Kembali teringat dikepalaku. Awal dari kebodohanku.
Menerima tantangan minum dari sahabatku. Aku tidak tahu kalau diam-diam dia menaruh obat perangsang didalamnya.
Aku mabuk tapi masih sedikit sadar. Yoona menyuruhku untuk pulang bersama Jonghyun oppa. Tapi tak kutemukan Jonghyun oppa ditempat parkir. Maka kuputuskan untuk menunggu dihalte bis.

Aku mulai merasakan gairah yang berlebih malam itu. Tubuhku seperti minta untuk disentuh. Panas. Gerah dan frustasi karena sekujur tubuhku mulai geli. Dan rasa geli itu akan semakin membuatku gila saat seorang namja menyentuhku. Jinki oppa lah, namja yang tidak kukenal, namja yang menyentuhku malam itu. Walau hanya berada didekatnya saja sudah membuatku gila. Ingin menyentuhnya, menciumnya, dan melakukan lebih dengannya. Jinki oppa terlihat seperti namja sangat kuimpikan malam itu.

Lau dimana Jonghyun oppa malam itu?
Dia seperti hilang dari kepalaku. Tidak sedetik pun aku mengingatnya. Hatiku seperti tertutup nafsu. Nafsu lah yang mengendalikanku malam itu.

“Jonghyun oppa sangat kecewa padaku bukan? Aku pernah bertemu dengannya. Dan dia memalingkan wajahnya dariku.. apa aku terlihat begitu buruk dimatanya?”
“Jeona.. mianhe..”

//

“Kau sudah berbaikan dengan Yoona?”
“Ahni. Aku hanya sudah memaafkannya..”
“Jeona.. jangan biarkan dendam menguasaimu.. relakan yang sudah terjadi, dan jagalah baik-baik apa yang menjadi milikmu sekarang.. umma akan selalu mendukungmu..”
“Umma.. aku merasa tidak memiliki apapun saat ini.. semuanya sudah hilang..”
“Itu karena..Kau belum merelakannya Jeona..lapangkanlah hatimu sayang..”
“Umma..”
Umma mianhe. Mianhe karena aku kau mendapat masalah dengan appa. Karena aku kau harus menahan malu didepan teman-temanmu. Karena aku kau menjadi selalu khawatir.. Mianhe.

“Apakah hari ini semuanya lancar?”
“Ne appa.. semua administrasinya sudah selesai. Minggu depan aku mulai masuk.”
“Kalau begitu, besok kau temui nampyeonmu…”
Mwo? Apakah tadi itu benar keluar dari mulut appa?

“Tapi appa..aku..”
“Ada waktu bebas satu minggu bukan? Bantulah suamimu selama kau bisa..”
“Appa..”
”Appa merasa.. tadi siang, appa bertemu dengan Jinki. dia sibuk berbelanja keperluan rumah tangga dengan Jongin digendongannya. Dia bahkan masih mengenakan jas kerjanya. Tidak terlihat dia merasa terbebani oleh Jongin, dia seperti menikmatinya. Appa merasa Jinki tulus, dia adalah nampyeon yang baik..”
Kulirik umma, dia tersenyum.

Appa, tidak pernah menyukai Jinki oppa. Dia marah pada Jinki oppa, marah karena berani menghamiliku. Dimatanya, Jinki oppa hanyalah ayah biologis dari Jongin. Tidak lebih.
Bahkan appa sangat mendukungku untuk melanjutkan kuliah. Tidak mempermasalahkan aku yang hanya datang ke rumah Jinki oppa untuk menyusui saja. Dan perkataanya barusan, cukup mencengangkanku.

//

Jinki POV

“Jongin ah~.. kita sudah sampai..”
Aku melepaskan sabuk pengaman Jongin. Kuambil gendongan bayi dan kugendong Jongin didadaku.

Hari ini aku harus membeli beberapa keperluan Jongin. Susunya pun sudah hampir habis.
Biasanya Luna yang dengan baik hati membelanjakan keperluan Jongin. Tapi hari ini dia sibuk dengan pasiennya.

Aigoo~ ternyata belanja itu menyenangkan. Kuambil beberaap kotak susu formula dan kumasukan kedalam kereta belanja. Hmmm.. sepertinya aku juga harus membeli popok Jongin.
Whoa! Banyak sekali jenis popoknya.. mana yang harus kubeli? Aku tanya saja pada Jongin..

“Jongin.. mana popok yang mau kau pakai?? Heum?”
Haahh..percuma. dia hanya bisa tersenyum. menggemaskan sekali.

Pada akhirnya aku merepotkan Luna lagi. Aku menelefon Luna dan bertanya popok mana yang harus kubeli. Aku baru tahu ternyata popok bayi pun memiliki ukuran tersendiri.

Bubur bayi..check!
Popok..check!
Susu..check!
Sabun dan sampo Jongin..check!
Tinggal membeli bahan makanan untuk mr. kulkas.

Bagaimana cara memilih buah yang baik? Ibu itu tampak serius memilah apel. Sedangkan aku memasukan apel berdasarkan besarnya. Kuambil apel yang besar-besar saja.

“Jinki!”
Seseorang menepuk bahuku. Dan dia adalah Mr. Sin. Mertuaku.
“Annyeonghaseyo..”
“Annyeonghaseyo Jinki.. Annyeong Jongin~”
Aku sedtkit gugup saat mertuaku menggoyang-goyangkan tangan Jongin. Dia tidak pernah melakukannya.

“Kau sedang belanja?”
“Ne.. hanya beberapa keperluan bayi.”
“Geuraeyo? Kau pasti sibuk sekali..”
“Ahni.. gwenchana.. aku senang berbelanja.”
“Kalau begitu jangan lupa membeli biscuit bayi.. sepertinya aku tidak melihatnya dibelanjaanmu..”
Biscuit bayi? Aisshhh!! Kenapa tidak ada didaftar belanjaku?

“Aku harus pergi, aku hanya membeli pengharum mobil.”
“Ne..”
“Kalau begitu aku pergi dulu.. jaga kesehatanmu..jangan sampai sakit.”
“Ne, appa..”
Appa? Sejak kapan aku berani memanggilnya appa?.

Selesai berbelanja. Cepat pulang dan membuat bubur untuk Jongin.

Dugh~
“Aww..”
“Mianhe.. aku tidak sengaja..”
Pabo! Bagaimana bisa aku tidak melihatnya? Pintu mobilku menyenggol seorang yeoja saat aku membukanya.

“Gwenchanseumnida~”
“Mianhe..”
“Noona! Kau tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa! Hanya tersenggol! Kenapa kalian para namja begitu khawatir?”

Namja yang bersama yeoja itu, sepertinya aku kenal?. Wajahnya sudah tidak asing lagi..
Ah! Dia sepupunya Minho!
“Kau masih ingat aku? Aku rekan kerjanya Minho..”
“Ahh!! Tentu saja aku ingat! Kau..”
“Jinki..”
“Ne.. Jinki. senang bisa bertemu lagi denganmu.”
“Ne, sudah lebih dari setahun kita tidak bertemu..Jonghyun.”
Jonghyun. Jika bukan karena dia. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu Jeona. Haruskah aku berterima kasih lagi padanya?

“Kudengar dari Minho kau sudah menikah.. dan apa bayi yang kau gendong itu bayimu?”
“Ne.. namanya Jongin.”
“Lucu sekali!! Boleh kugendong?”
Yeoja yang bersama Jonghyun gemas saat melihat Jongin. Kubiarkan dia menggendong Jongin. Dan syukurlah Jongin tidak menangis.

“Istrimu.. kau tidak bersama istrimu?”
“Dia.. sedang sibuk mempersiapkan kuliahnya.”
“Oohh..”
“Jonghyun, Kapan-kapan mainlah kerumahku..”
“Ne.. jika aku sedang tidak sibuk. Karena sekarang aku sudah bekerja.”
“Jinjja? Chukkae~”
“Sebenarnya..aku sedang buru-buru..”
“Mwoya! Noona masih ingin bermain dengan Jongin..”
“Noona! Aku harus segera bertemu dengan klienku..”
Sedikit tidak rela. Yeoja yang mungkin adalah noonanya Jonghyun menyerahkan Jongin kepadaku.

“Annyeong Jinki!”
“Annyeong~”

Jika Jonghyun tidak datang tepat saat aku akan mengantar pulang Minho yang sudah mabuk, mungkin aku tidak memiliki Jongin saat ini.
Jadi.. seharusnya aku juga berterima kasih pada Minho. Rekan kerjaku yang megajak merayakan kemenangan tenderku di café. Café tempat aku pertama kali bertemu Jeona.

Minho mabuk. Dan aku hendak mengantarnya pulang. Untung saja Jonghyun, yang kebetulan baru akan pulang dari Café yang sama denganku, mau kumintai tolong untuk mengantar Minho sepupunya yang mabuk.
Setelah itu, barulah aku bertemu dengan Jeona. Dia sama seperti Minho. Mabuk. Bedanya adalah, Jeona pulang sendirian.
Aku tidak tega melihat Jeona menunggu di halte bis sendirian. Berbahaya bagi yeoja mabuk sendirian di tengah malam Seoul. Maka aku berniat mengantarnya pulang. Yah.. niat awalku hanya mengantarnya pulang. Tapi ternyata justru lebih dari sekedar itu.
Jeona yang mabuk terus mencoba meruntuhkan pertahananku, menggodaku hingga akhirnya aku pun jatuh. Jatuh kepelukannya. Padahal kami baru saja bertemu.

//

Masih pukul lima pagi..
Dan Jongin sudah membangunkanku..
Jongin terduduk di boxnya sambil menangis. Kenapa bayi bisa merasa lapar sepagi ini?

Aku mendudukannya di kursi bayi. Memberinya biscuit sementara aku membuatkan susu untuknya.

Ting~ Tong~

Ada tamu?
Sepagi ini?

Aku membawa serta Jongin. Menggendongnya menuju pintu. Luna bilang jangan pernah tinggalkan Jongin sendirian.

Cklek~

“Jeona?”
“Annyeong oppa.. aigoo~ Jongin sudah bangun sepagi ini?”
Jeona mengambil Jongin dari gendonganku. Apa yang membawanya kemari?

“Seminggu?”
Hanya seminggu?

“Ne, minggu depan aku sudah mulai kuliah.”
“Kenapa tidak menginap saja?”
“Menginap?”
“Ne. menginap. Bukankah akan lebih melelahkan jika kau pulang kerumah hanya untuk tidur disana?”
Jeona terlihat seperti menimang-nimang sesuatu. Tangannya berhenti menyuapi Jongin.

“Kalau kau mau aku bisa tidur disofa.. kau bisa tidur dikamarku bersama Jongin.”
“Baiklah.. tapi aku harus pulang untuk membawa beberapa bajuku.”
“Aku saja yang ambilkan.. setelah pulang kerja aku akan mampir kerumahmu.”
“Oke.. akan kuminta umma untuk mnyiapkan pakaianku.”
Yess! Biarlah walau hanya seminggu. Tidak masalah bagiku selama seminggu tidur disofa. Bahkan aku rela tidur disofa selamanya asalkan Jongin bisa mendapatkan perhatian dari ummanya.

“Oppa.. yeoja yang bernama Luna itu..”
“Dia temanku.. hanya teman..”
“Ohh..begitu..”
Apa dia cemburu? Aku harap dia cemburu. Atau mungkin itu alasannya kembali kerumah ini. dia cemburu pada Luna.

//

Kenapa terasa sepi?

“Aku merindukan Jongin~ hyung! Kenapa kau tidak membawa Jongin hari ini?”
“Dia bersama ummanya..”
“Jeongmalyo??”
Minho terkejut saat kubilang Jongin sedang bersama Jeona. Dia tahu masalahku dengan Jeona.

“Aisshhh!! Kalau Jongin tidak ada, pada siapa aku melampiaskan stressku!!”
”Ya! Minho! Bukankah dulu kau yang paling menentangku membawa bayi ke kantor?”
“Itu karena aku tidak tahu kalau Jongin sangat menggemaskan..”
“Sudahlah Minho.. sudah seharusnya tidak ada bayi di dalam kantor bukan?”
“Aiisshhh!! Kantor ini kembali membosankan..”
Minho keluar dari ruanganku dengan menggerutu. Bukan hanya Minho yang merasa kehilangan. Hampir seluruh rekan kerjaku menyukai keberadaan Jongin di kantorku.

Ruang kerjaku tidak terlalu besar. Tapi masih ada cukup space untuk kubuat spot tempat Jongin bermain. Dan kini spot itu kosong. Padahal baru sehari tapi aku sudah merindukan kekehannya di spot itu.
Bukankah seharusnya aku senang? Karena Jongin bersama Jeona.

//

Jeona POV

Haahhhhhh~ lelah sekali.
Ternyata menjadi seorang umma sangat melelahkan.

Kriuukkk~ Krriuukk~
Lapar..
Disaat lelah seperti ini aku bahkan harus memasak. Kalau begitu sekalian saja memasak untuk makan malam.

Terdengar suara berisik dari arah dapur..
Jinki oppa kah? Apa dia sudah pulang? Tapi cepat sekali dia pulang. Setahuku dia pulang pukul tujuh malam.

Kuberanikan diriku untuk memeriksa siapa yang berada didapur. Agak takut, bagaimana kalau itu pencuri?

Pintu kulkas terbuka. Seseorang seperti sedang mencari sesuatu didalam sana.
Aku berjalan perlahan mendekatinya. Dia.. seorang yeoja karena rambutnya panjang. Apa yang dilakukannya disini?

Prannnkkk!!

Luna?
Aku rasa dia terkejut melihatku. Tanpa disengaja mangkuk yang dipegangnya terjatuh.

“Mianhe.. aku kira tidak ada siapa-siapa dirumah..”
Luna tampak panik. Tangannya bergerak cepat memunguti pecahan kaca. Merasa tidak enak hanya menontonnya, maka aku pun ikut membantunya membersihkan pecahan mangkuk dari lantai dapur.

“Maaf aku memecahkan mangkukmu..”
Mangkukku? Semua barang disini milik Jinki oppa.

Aku menaruh serpihan kaca kedalam kantung plastic. Lalu kubuang ketempat sampah.
Kulihat di atas counter sudah terdapat beberapa bahan-bahan makanan. Sepertinya Luna akan memasak.

“Mianhe Jeona.. aku kira kau tidak ada dirumah..”
Dengan cepat Luna membuka apronnya dan melipatnya. Dimasukannya kembali di laci counter.

“Bagaimana kau bisa masuk?”
Aku sangat penasaran bagaimana Luna bisa masuk. Karena aku yakin aku mengunci pintunya.

“Aku.. Jinki oppa memberikanku kunci cadangan rumah ini..”
“Jeongmalyo?”
Apa benar hanya sekedar teman?
“Ne.. itu karena aku selalu memasak makan malam untuknya. Mian aku benar-benar tidak tahu kalau kau ada disini.”
“Gwenchana.. mengapa kau harus meminta maaf.”
“Pantas saja rumah ini bersih. Ternyata sudah ada yang membereskan.”
“Jadi selain memasak kau juga membersihkan rumah?”
“Jinki oppa tidak pernah sempat membersihkan rumah.. jadi aku hanya membantu sebisaku.”
Jadi begitu? Jadi dia berperan sebagai umma? Memasak dan membersihkan rumah. Aku ragu mereka hanya teman.

“Jongin ada disini?”
Jangan bilang kalau dia juga yang menggantikanku mengurus Jongin selama ini. hanya aku umma dari Jongin.

“Jongin sedang tidur.”
“Aahh..”
“Luna?.”
“Ne?”
“Kau teman Jinki oppa?”
“Ne. aku teman SMAnya..”
”Kalu begitu seharusnya aku memanggilmu eonni..”
“Aku tidak masalah.. panggil apa saja.”

“AKU PULLAAANNGG!!!”

Aku berlari menghampiri Jinki oppa dipintu. Entah mengapa aku ingin mendahului Luna untuk menyambut Jinki oppa.

“Itu baju-bajuku oppa?”
Jinki oppa membawa koperku. Koper yang cukup besar. Yang biasanya kupakai untuk berlibur.
“Ne. tadi..aku hanya bertemu dengan ummamu di rumah.”
“Appa sedang sibuk akhir-akhir ini. jadi dia pulang malam.”
Aku hendak membawa koperku ke kamar. Tapi Jinki oppa melarangku, dia menyeret koperku ke kamarnya.

“Oppa.”
“Ne?”
“Ada Luna di dapur.”
Oppa tidak terkejut. Mulutnya membentuk huruf O. sepertinya dia sudah tahu Luna akan datang. Aiissshh..tentu saja dia tahu. Sepertinya memang Luna setiap hari datang kerumah ini.

Aku merasa terkucilkan. Merasa seperti orang asing.

“Luna..kau masak apa?”
“Chicken teriyaki..”
“Whoaaa..”
Jinki oppa menghampiri Luna yang sedang memasak. Seharusnya aku yang memasak. Tapi harus menyusui Jongin yang tiba-tiba terbangun.
Melihat Jinki oppa bersama Luna di dapur, entah kenapa aku tidak senang.

Aku menyusui Jongin di ruang keluarga. Tidak ada sekat antara ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Hingga bisa kulihat dengan jelas apa yang dilakukan Luna dan Jinki oppa di dapur.

“Ternyata kau pintar memasak Luna..”
“Gomawo oppa..”
Jinki oppa memuji Luna yang terampil memasak.
Tidakkah Jinki oppa tahu perasaanku? Sakit rasanya saat suamimu memuji masakan yeoja lain dihadapanmu. Suami? Sejak kapan aku peduli dengan stutusnya sebagai suami? Ahni! Aku hanya tidak suka jika Luna akan memasak untuk Jongin kelak.

“Istriku Jeona juga pintar memasak! Masakannya paling enak sedunia! Benar kan Jeona?”
Degh! Oppa memujiku? Kenapa aku senang sekali?

“Chaggy~ apa saja yang bisa kau masak? Katakan pada Luna..”
Chaggy? Ini pertama kalinya oppa memanggilku chaggy didepan orang lain. Yah..karena kami tidak pernah tampil berdua di depan orang lain.

“Chaggy? Kenapa melamun?”
“Ah! Ahni.. aku hanya bisa memasak kimchi..”
“Jangan merendah chaggy~ “
Moodku semakin membaik. Hatiku semakin tenang. Kenapa hanya kerena mendapat pujian dari Jinki oppa aku seperti sudah mendapatkan jawabanya. Ternyata memang tidak ada apa-apa antara Jinki oppa dengan Luna.

Perasaan ini.. perasaan tidak karuan yang membuatku selalu tidak tenang, sebenarnya sudah muncul saat pertama kali aku bertemu Luna di rumah sakit. Aku tidak suka yeoja lain selain diriku menggendong Jongin.
Egois kah? Aku memang sudah meninggalkan Jinki oppa dan Jongin. Tapi ternyata aku juga tidak rela seseorang mengambil tempat yang kutinggalkan.

Ini malam pertamaku dengan Jinki oppa.
Aku tidak pernah tidur satu rumah dengan Jinki oppa dalam keadaan sadar. Aku bahkan pulang kerumah orang tuaku seusai pesta pernikahan kami. Tidak pernah ada bulan madu bagi kami.

Aku mencuci piring dan Jinki oppa menggendong Jongin dipangkuannya sambil menonton TV. Luna sudah pulang. Aku senang Luna membawa mobil sendiri sehingga Jinki oppa tidak perlu repot-repot mengantarnya pulang.
Apa jika tidak ada aku Jinki oppa akan mengantarnya pulang? Aisshhh!! Kenapa perasaan ini muncul lagi?
Tapi jika memang Jinki oppa mengantarnya pulang kenapa aku harus tidak senang? Apa aku cemburu? Ahni! Aku bahkan tidak menyukai Jinki oppa. Aku bermalam dirumah ini hanya untuk Jongin.
Tapi.. jika Jinki oppa dan Luna benar-benar mepunyai hubungan khusus maka otomatis Luna juga akan menjadi umma dari Jongin. Andwee!!

“Kau menggosok piringnya terlalu keras.”
Omo! Aku dikejutkan dengan keberadaan Jinki oppa yang tiba-tiba sudah ada disampingku.
“Oppa! Kau mengagetkanku..”
Aku kembali focus pada piring-piring kotor.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Huh?”
“Caramu menggosok piring. Sama seperti sedang hendak membunuh orang.”
“Mwo??”
“Ahahahahha..”
Aisshhh!! Jinki oppa menggodaku.

“Mana Jongin?”
Aku mengalihkan pembicaraan.
“Sudah tidur.”
“Kalau begitu bantu aku mengeringkan piring-piring yang selesai dicuci.”
“Ne~”
Tanpa mengeluh Jinki oppa mengambil lap dan mengeringkan piring yang basah. Ditaruhnya piring kering di rak piring.
Jinki oppa berdiri disampingku. Menunggu kiriman piring dariku. Tidak pernah selama ini aku berdiri dekat disampingnya. Aku sedikit gugup.

Ternyata Jinki oppa tinggi. Bahunya lebar, lengannya juga besar. Kenapa aku baru menyadarinya?
Hidungnya mancung. Tampan walau dilihat dari samping.

“Apa tampan bukan?’

Mwoya ige!!! Aku mengutuk diriku sendiri karena mencuri pandang menatap wajahnya disampingku. Sialnya lagi ternyata dia menyadarinya. Jinki oppa tersenyum lebar saat menagkap basah aku yang sedang memandangi wajahnya.
Umma!! Aku tidak bisa konsen mencuci piring.. aku malu sekali..>//////<

//

Sudah dua hari aku dirumah ini. Menjalani tugasku sebagai umma. Aku mulai merindukan umma dan appa dirumah.

Aku bisa bertahan karena tidak ada diantara kami yang mengungkit masa lalu. Jinki oppa memperlakukanku dengan baik. Dia akan menawarkan bantuan jika aku sudah terlihat lelah.
Sikapnya akhir-akhir ini terus berbunga-bunga. Sangat bersemangat dan berseri. Membuat moodku selalu baik. Apa Jinki oppa senang aku dirumah ini? tentu saja dia senang. Dia terbebas dari tugas merawat Jongin.

Bahkan tadi, saat akan berangkat kerja dia mengecup keningku. Awalnya kukira dia kan mencium Jongin yang sedang kugendong. Aku terkejut saat ciumannya mendarat dikeningku.

Aku masih dapat merasakan hangat dikeningku. Terutapa bagian yang tersapu bibirnya.

WAEYO!!!
Kenapa aku memikirkan Jinki oppa?? Ahni!! Ahniiii!!!
Lebih baik aku membersihkan pikiranku dengan memandikan Jongin.

Aku tidak tega mengganggu tidurnya. Pemalas.. bukankah tadi kau sudah bangun anak manja? Kenapa sudah kembali tertidur??
Kubelai pipi chubynya.. hangat? Aku mengecek keningnya. Astaga! Tuhann.. Jonginku panas sekali..
Eoddokhae???

///

Aku membawanya kedokter anak. Untung saja aku menyimpan uang untuk membayar ongkos taxi. Aku menghubungi Jinki oppa agar segera meyusul. Aku tidak membawa uang banyak.

“Nyonya Lee?”
“Ne!”
Akhirnya tiba giliran kami.

Aku masuk kedalam ruang periksa.
Begitu terkejutnya aku saat melihat Luna duduk dikursi dokter. Dia seperti sudah mengetahui kedatanganku.

“Luna?”
“Baringkan Jongin ditempat tidur.. Jinki oppa sudah menghubungiku barusan. Dia bilang Jongin sakit..”
“Ne.. badannya panas.”
Ternyata Luna dokter anak. Dia memeriksa keadaan Jongin. Jika dilihat seperti ini, dia memang terlihat seperti dokter. Begitu sempurnanya dia. Cantik, pintar memasak, mengurus rumah dengan baik, dan juga memiliki karir. Tak bisa kubandingkan dengan diriku yang bahkan masuk ke Universitas Seoul dengan bantuan koneksi.

“Jongin hanya demam biasa.. mungkin akan tumbuh gigi.. dia akan sedikit rewel.”
“Benarkah tidak apa-apa?”
“Ne.”
“Tidak akan kuberi obat. Biarkan antibody ditubuhnya bekerja sendiri..”
“Apa tidak apa-apa?”
“Percayalah padaku..aku sudah menjadi dokter pribadi Jongin selama empat bulan. Aku tahu betul kondisi Jongin.”
“Dokter pribadi?”
“Ne.. Jinki oppa datang kemari dengan panik. Dia membawa Jongin yang terus menangis. Aku membantu Jinki oppa mencarikan susu formula yang tepat untuk Jongin..kasihan Jongin tidak mendapatkan asi.”
Kenapa perkataannya barusan seperti menyindirku? Sudahlah maafkan saja. Dia sudah menolong Jongin.

“Kamzahamnida.. maaf kalau selama ini merepotkanmu.”
“Aku tidak merasa direpotkan. Aku justru senang kau pergi meninggalkan Jinki oppa.”
Mwo? Kenapa dia mau memulai pertengkaran?
Aku menahan emosiku sekuat hatiku. Mengingat ini dirumah sakit. Tidak mau ribut.

“Kau tahu Jeona? Kau tidak pantas bagi Jinki oppa. Kau tega meninggalkan anakmu sendiri.”
“Kenapa kau mengurusi urusanku?”
“Karena aku rasa aku yang lebih cocok dengan Jinki oppa. Dan aku bisa menjadi ibu yang baik bagi Jongin.. kha~ kau pergilah.”
Baiklah.. kau yang menyulut apiku Luna..

“Jika kau memang pantas bagi Jinki oppa, kenapa Jinki oppa tidak berpaling padamu?”
Luna tersontak aku tahu dia juga menyadarinya. Dia tahu Jinki oppa tidak mempunyai rasa untuknya.
“Asal kau tahu Jeona.. aku pernah menjadi yeojachingu Jinki oppa.. kau pikir kenapa Jinki oppa datang padaku untuk meminta tolong?”
Apa? Luna mantan Jinki oppa? Itu berarti mereka pernah punya rasa.

“Kau takut Jeona? Sudah kubilang kau pergi saja dari Jinki oppa! Aku sungguh tidak tahan dengan semua yang kau lakukan pada Jinki oppa!!”
“Kau!”
“Aku mencintai Jinki oppa.. aku tidak tega melihatnya membawa Jongin setiap hari ke kantornya. Membawa Jongin kemanapun dia pergi. Melakukan pekerjaan rumah sendiri. Dan saat kutanyakan kemana istrinya? Dia selalu menjawab kalau kau sedang mengejar cita-citamu!”
Nafas Luna berderu. Dia menahan amarah dan air matanya. Menatapku dengan penuh kebencian.

“Aku benci.. aku benci kau karena Jinki oppa tidak pernah berniat untuk melepaskanmu! Aku benci Jinki oppa yang terus memekai cincin kawinnya! Aku benci setiap melihat poto pernikahan kalian yang terpajang dikantor dan dirumahnya! Aku benci setiap kali Jinki oppa menceritakan tentangmu! Aku benci saat kau datang dan Jinki oppa tersenyum lebih lebar! Aku benci! Dan ingin kau mati!”

Plaakkk!!!

“JEONA!!”
Jinki oppa? Kenapa dia datang tepat saat aku menampar Luna. Membuatku terlihat seperti tersangka.

-bersambung-

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 1 Juni 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. Rasain tuh Jeona… >o<
    Pngen nangs ngbc pmaparan Luna ttng pndritaan Jinki oppa slma ini…😥
    Next part'a jgn lma" y chingu.

  2. hyaaaa,,,,,
    joena akhirnya cemburu,itu tandanya dia mulai suka jinki,kekeke

    part yang ini alurnya lebih santai dan lebih bisa dmengerti krn udah mulai byk penjelasan ttg cast2nya🙂

    at least,ffnya daebak dan dtggu next partnya y😉

  3. Aku gak mau tau bsk ffnya udah harus jadi :] #maksa hahaha udah penasaran bgt nih semoga si luna diterima di sisituhan *loh?

  4. omo~ trnyta onew tipe suami ideal bgd dsni. dy rela menderita demi ank’a. huhu.. terharu sm sikap’a onew.. -.-

    next part jgn lma” ya.. ^^

  5. huwoooohh si jeonnaa🙂,, cemburu jga akhirnya

    si author aahh~ bisa”nya pas seru di cut

    pkoknya bsok terbit lagi ya kekkeke~

  6. Aduh kirain bakal end. Next part ditunggu😀

  7. udah sebel sm luna + pas baca ff ini makin sebel sm luna ~
    huh ~
    ayoo donk jinki & jeona jadi pasngan yg baik

  8. Ya jinki y bakal salah paham dah, masalah baru lg. . .
    Luna y jahat tau y, td y udah seneng ngira luna baik ngak da maksud tau y d belakang haduh. . .

  9. jeona nyebelin. ibu dan istri macam apa yg tega meninggalkan anaknya? jeona wanita ular.. pria sebaik jinki gak pantes buat cwek egois and kasar kayak jeona. jongin jg kayak y lebih dket sm luna yg dh rawat dia. jeona pergi aja keneraka! wkwkwkkwkwk.

  10. kren author..
    Smakin penasaran sma lanjutannya..
    ^^

  11. Author bagaimana sy bz mendptkn pw ff in,sy suka ffnya tp berkali2 masukn pw dr admin g bz,please thor bz minta pwnya kan?

  12. huwaaa…
    mkin complicated aja ini cerita..
    tp seruuuu….

  13. missnandaa 최민호

    Astaga. Gak nyangka luna nenek sihir ternyata -.-

  14. karma brlaku jeona..
    tp aq jg gag ngblain luna..

    aq mlih jongin aja deh..hehe

  15. tuh jeona dengerin kata2 luna, makanya jangan egois sendiri, km kira hidup bisa kamu kendalikan ckck

  16. Aku sbel sma karakter luna… Sbellll bangeet….. Kayak ngerasain gimana gtu,,

  17. Mwo.?
    Jinki~ ah,, knp kw tmpr jeona.
    Kan kshan.!!
    Mkin seru z nh crta’a.
    Lnjt akh.~~

  18. shim hyun gi is aiu luph benedictbridgerton

    KYAAAA~~

    bagus bangetttttt

  19. Huweee sy blm bsa bca chap 2 ny krna yg prtama aja blom bca. Brhubung sya reader baru, bsa sy mnta passwordny author-ssi? Jebal, main cast ny bias sy nih.. Hahaha gomawo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: