[FF/PG-13] All I Want is You

Title : All I Want is You

Written By : MIVP

Length : Oneshote / 3410 words

Type : Angst, Romance

Rating : PG-13

Mian Cast : Kim Jonghyun, Choi Raemi (OC)

A/N: jangan lupa komennya yaaa😀

All I Want is You

“Jonghyun-ah, tak ikut pelajaran olahraga lagi?” tanya seorang murid lelaki—yang sudah berpakaian olahraga lengkap—terakhir yang hendak keluar dari ruang kelas menuju lapangan.

Lelaki yang dimaksud, Jonghyun, hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Ia bergeming di mejanya, hanya membolak-balik halaman sebuah novel yang tadi dipinjamnya dari perpustakaan tanpa benar-benar niat membacanya.

“Kalau begitu, aku ke lapangan ya. Hati-hati kau sendirian di kelas!” murid lelaki terakhir tadi akhirnya keluar dan kini tinggallah Jonghyun sendirian di ruangan kelasnya.

Kim Jonghyun, seorang murid kelas 2 salah satu SMA Negeri di Seoul, Korea Selatan, yang tak pernah sekalipun mengikuti pelajaran olahraga seumur hidupnya. Sejak ia duduk di sekolah dasar, hingga kini. Tak seorangpun teman-temannya yang mengatahui alasannya mengapa, karena memang ia tak berniat untuk memberi tahu. Di dunia ini hanya beberapa orang yang tahu—termasuk Tuhan tentunya. Mereka adalah kedua orangtuanya, adik perempuannya, kepala sekolah, wali kelasnya, dan guru olahraga.

Kim Jonghyun, seorang anak lelaki dari sebuah keluarga sederhana di Seoul. Ayahnya hanya pegawai kantoran biasa, sementara ibunya penulis artikel di sebuah majalah yang tidak terlalu bagus penjualannya. Adik perempuannya selalu berprestasi di sekolahnya, membuat Jonghyun sangat menyayangi gadis itu. Dan mereka semua menerima Jonghyun apa adanya, dengan jantungnya yang lemah, yang bisa berhenti berdetak kapan saja, yang membuatnya tak pernah bisa mengikuti pelajaran olahraga, yang membuatnya harus berhati-hati melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kalau sampai lelah sedikit saja, jantungnya…

Oleh karena itu, terkadang, Jonghyun benci saat di mana keluarganya memperlakukannya seperti seorang gadis kecil rapuh. Terkadang, ia begitu ingin segera mendapatkan transplantasi jantung agar ia bisa beraktivitas seperti biasa. Terkadang, ia marah pada Tuhan karena menciptakannya… berbeda.

Kim Jonghyun menghela napas berat. Ia menengok ke jendela, menatap nanar pemandangan di belakangnya. Teman-teman sekelasnya yang dipenuhi gelak tawa sedang dihukum oleh sang guru olahraga, memaksa mereka berlari keliling lapangan yang luas. Ia kembali menghela napas. “Entah kapan aku bisa ikut berla—”

Suara hentakan di depan kelas membuat Jonghyun tersentak. Lelaki itu menoleh ke asal suara dan mendapatkan seorang gadis terengah-engah sambil memegangi hidungnya yang penuh darah. Refleks, Jonghyun menghampirinya dan memapahnya hingga ia duduk di bangkunya.

“Ya, Choi Raemi, gwaenchana yo? Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba berdarah begini?” tanya Jonghyun bertubi-tubi, khawatir dengan darah yang tak kunjung berhenti keluar dari hidung temannya itu, malah bisa dibilang makin banyak.

Gadis yang dipanggil Choi Raemi tadi mencari sebungkus tisu dari tasnya, mengeluarkannya beberapa lembar dan langsung menempelkannya pada hidungnya. Terlihat warna merah langsung mendominasi warna tisu itu. “Gwaenchana, Jonghyun-ah. Tadi aku mimisan saat berlari, jadi Seonsaengnim menyuruh aku kembali ke kelas.”

Jonghyun mendecak. Walau sudah habis tisu sebungkus itu digunakan untuk membuat darah yang mengalir dari hidung Raemi berhenti mengalir, tetap saja darah itu masih ada—walau sedikit. Lelaki itu mengeluarkan saputangan dari saku kanannya, langsung menempelkannya pada hidung gadis di depannya. “Apanya yang baik-baik saja? Masa darah sebanyak ini baik-baik saja? Kau yakin ini hanya mimisan biasa, Raemi-ya?”

Raemi mengangguk. Ia melepaskan tangan Jonghyun yang sedikit menekan hidungnya, membuatnya agak sulit bernapas. “Aku sering kok mimisan seperti ini, Jjong-ah. Sudahlah, jangan khawatir begitu.” Untunglah, sekarang darahnya sudah berhenti.

Jonghyun memberi saputangannya tadi pada Raemi yang langsung mengambilnya dan mengusap-usap hidungnya pelan, memastikan bahwa darah takkan keluar lagi. “Kau sudah periksa ke dokter? Kau yakin itu benar-benar hanya mimisan biasa? Darahnya banyak sekali…”

“Iya, tidak apa-apa. Akhir-akhir ini aku memang terlalu lelah, sejak aku dapat kerja sambilan. Gomawo yo. Ini,” ucap Raemi sambil mengacungkan saputangan Jonghyun, “aku cuci dulu ya, baru kukembalikan padamu.”

Jonghyun mengangguk. Ia duduk kembali di bangkunya, namun pandangannya masih fokus pada gadis itu. “Kerja sambilan apa?”

Choi Raemi tertawa kecil. “Rahasia!”

***

Hari ini jadwal check-up bulanan Jonghyun dan saat ini ia baru saja selesai bertemu dengan dokter spealis jantung yang merawatnya sejak ia masih lima tahun. Ia mendesah pelan, sedikit kesal karena hasil check-up kali ini tak ada kemajuan. Jantungnya tak kunjung membaik, malah, kinerjanya sedikit menurun. Juga tak ada transplantasi jantung.

Kim Jonghyun hendak keluar dari bagian penyakit dalam saat ia mendengar suara yang familiar ditengah gelak tawa. Lelaki itu mundur beberapa langkah, mencari-cari sumber suara. Ia berhenti di depan sebuah ruangan dengan rumbai-rumbai dan cat warna-warni. Jonghyun menengok ke atas pintu, membaca papan nama ruangan tersebut. Ruang Bermain Pasien Kanker dibawah 17 Tahun.

Penasaran, si lelaki berambut coklat gelap ini mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat. Benar saja, teman sekelasnya, Choi Raemi, berada di dalam ruangan itu, ikut bermain dan bercanda tawa dengan anak-anak yang dikisar Jonghyun, berumur 7-12 tahun.

“Choi.. Raemi?” panggil Jonghyun, membuat gadis itu menoleh. Kaget melihat siapa yang memanggilnya, Raemi bangun dari duduknya dan segera mendekati lelaki yang berdiri di depan pintu.

“Noona, mau kemana? Jangan pergi dulu.” sahut seorang bocah lelaki di pojok ruangan.

“Aku tidak mau pergi, kok. Hanya mau menemui teman sebentar.” jawab Raemi tersenyum sambil menunjuk Jonghyun yang bergeming di tempatnya.

Raemi menarik tangan Jonghyun menjauhi ruang bermain anak-anak tadi. Setelah ia pikir cukup jauh, ia melepas genggamannya pada tangan Jonghyun dan menatapnya. “Ada perlu apa, Jjong-ah?”

“Jadi ini kerja sambilanmu, Mi-ya?” tanya Jonghyun tanpa basa-basi.

Raemi memutar bola matanya. “Seperti yang kau lihat.”

Lelaki di depannya itu terkekeh. “Seperti tak ada pekerjaan lain saja. Kau seperti pembantu tahu, bekerja seperti itu. Hanya saja kerjanya bukan di rumah, tapi rumah sa—”

PLAK.

Kata-kata Jonghyun terhenti oleh tamparan keras Raemi di pipi kirinya. Ia meringis. Kalau ia boleh mengakui, tamparan tadi… tamparan pertama yang pernah ia dapatkan. Seumur hidup, ibunya saja belum pernah.

“Kau tak pernah tahu bagaimana kesepiannya mereka tinggal di rumah sakit, bukan di rumah sendiri, Kim Jonghyun. Kau juga tak pernah tahu bagaimana rasanya tidak bisa hidup normal, bagaimana pikiranmu terkekang oleh pertanyaan-pertanyaan kapan penyakit ini akan pergi dari tubuhmu. Kau juga takkan pernah tahu bagaimana rasanya tidak bisa tidur di malam hari karena terus-menerus memikirkan bahwa sebentar lagi kau akan mati! Setidaknya, aku menemani mereka menjalani masa-masa sulit di rumah sakit ini, juga mendengar cerita dan keluhan mereka. Kau… kau mengerti apa, Jonghyun-ah?”

Jonghyun tercengang. Dengan tangan kirinya yang masih memegangi pipi bekas tamparan tadi, ia menatap Raemi tanpa kata. Lidahnya kelu, tak bisa memberi pembelaan apa-apa.

Choi Raemi berbalik, meninggalkan Jonghyun yang masih mematung sendiri. Gadis itu kembali masuk ke ruangan bermain, yang beberapa detik kemudian kembali menimbulkan gelak tawa.

Jonghyun menghela napas saat mulai melangkah pulang. Ingin sekali ia berkata pada gadis tadi bahwa ia mengerti semua itu. Sangat mengerti.

***

“Annyeonghaseo,” sapa Jonghyun saat ia melongokkan kepalanya ke dalam ruangan yang dikunjunginya kemarin, tempat bermain anak-anak yang menderita kanker. “Raemi… ada?”

“Raemi-eonni belum datang. Oppa siapa?” tanya seorang anak perempuan berambut cepak—hasil kemoterapi—yang sedang bermain boneka.

Jonghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hehe, aku Kim Jonghyun, teman Raemi. Eng, boleh aku masuk?”

Seorang anak lelaki—kira-kira berumur sembilan tahun, menghampiri Jonghyun dan menarik tangannya untuk masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk di tengah ruangan. Jonghyun yang agak sedikit bingung harus berbuat apa, hanya menyengir. Niatnya hari ini, ia ingin minta maaf pada Raemi atas perkataannya—tentang kerja sambilannya yang seperti pembantu—seminggu yang lalu. Sejak saat itu, Raemi tak pernah menyapanya di sekolah. Jika Jonghyun mengajaknya berbicara, pasti dia acuhkan. Karena bingung, Jonghyun memberanikan diri bertanya pada Jeon Ji, sahabat Raemi. Dan hingga sekarang, masih teringat jelas kata-kata Jeon Ji kemarin.

“Kau tahu kan bahwa ibu Raemi sudah tiada?” tanya Jeon Ji. Jonghyun hanya mengangguk, meminta gadis di depannya untuk melanjutkan. “Saat ia masih berumur tujuh tahun, ibunya meninggal. Ia tidak begitu mengerti tentang penyakit dan kematian saat itu. Tentu saja, siapa sih yang tahu hal-hal seperti itu saat kita masih bocah?” Jeon Ji tertawa kecil, lalu berdehem sedikit menyadari bahwa Jonghyun tak tertawa. “Ibunya meninggal karena kanker. Kanker rahim. Ia sering menyalahkan dirinya karena tak bisa membantu apa-apa untuk ibunya. Mungkin ia kerja sambilan di rumah sakit itu demi mengobati rasa bersalahnya.”

“Hyung, ini apa?” tanya bocah lelaki—dengan benjolan sebesar buah mangga di pipinya—menunjuk sebuah benda dalam bungkusan tas hitam yang dibawa Jonghyun. “Aku buka ya.”

Jonghyun mengangguk. Tanpa ba-bi-bu lagi, anak lelaki itu segera membuka tas hitam tersebut. Wajahnya berubah cerah saat menemukan gitar dibaliknya. “Mau aku mainkan sebuah lagu?”

Anak-anak bersorak gembira. “Menyanyi juga ya, Oppa!” pinta seorang anak perempuan berambut cepak tadi. Dengan cepat Jonghyun mengangguk.

Diletakkannya gitar itu dalam pangkuannya. Dipetiknya perlahan, menghasilkan suara lembut melodi musik yang diiringi suara terkagum beberapa anak kecil. Jonghyun tersenyum. Ia tidak mengira bahwa gitarnya ternyata berguna. Sempat bimbang ia saat ingin pergi, apakah perlu dibawa atau tidak gitar itu. Kini, ia merasa beruntung telah membawanya. “Mau lagu apa?”

Serempak, anak-anak itu berteriak, “Gomsaemari~!”

Jonghyun sempat terkekeh pelan, ia tahu bahwa anak-anak akan meminta lagu itu. “Kalau aku bilang ‘hana, dul, set’, kalian baru bernyanyi ya.” Mulailah ia memainkan gitarnya.

“Hana, dul, set!”

Gomsaemari ga han jibbe iso.
Appa gom, eomma gom, aegi gom.

“Ah, Raemi-eonni! Sini, Eonni, ikut kami bernyanyi!” teriak seorang anak perempuan yang dengan rambut dikuncir dua yang duduk di sebelah Kim Jonghyun.

Choi Raemi terkejut saat memasuki ruangan bermain dan melihat betapa lebarnya senyum anak-anak selagi bernyanyi dengan Jonghyun. Kemudian ia masuk ke dalam lingkaran anak-anak yang mengelilingi Jonghyun bernyanyi, dan duduk persis di hadapan lelaki itu.

“Gomawo,” ucap Raemi tanpa suara.

Jonghyun mengangguk dan tersenyum dengan matanya.

***

Sudah sebulan ini Jonghyun selalu menemani Raemi saat kerja sambilannya. Raemi bercanda dengan anak-anak, mendengar cerita mereka, bahkan meninabobokan mereka sementara Jonghyun bernyanyi sambil bermain gitar untuk menghibur mereka. Dan sudah sebulan ini juga, hubungan keduanya semakin dekat. Bisa dibilang, Jonghyun sudah sangat… sayang pada Raemi.

“Oppa, besok awas kalau sampai tidak datang!” teriak seorang anak perempuan saat Raemi memaksanya masuk ke dalam kamar rawatnya.

Jonghyun mengacungkan jempolnya. “Ne, tenang saja. Aku pasti datang bersama gitarku ini.”

“Ya, Jjong-ah, berhentilah bicara. Kalau tidak, mereka tidak akan tidur!” omel Raemi pada Jonghyun sambil tetap memaksa beberapa anak yang masih berkeliaran di lorong.

Jonghyun tertawa, lalu diam dan berbalik menjauhi kamar rawat setelah terkena tatapan marah Raemi. Ia melangkah menuju ruang tunggu di depan lift dan duduk di salah satu kursinya. Dimainkannya pelan gitar yang selalu dibawanya kini tiap ia mengunjungi rumah sakit.

Sesangae mureup kkulgo noonmul heullilddae.
Pokpoong sok bal mumchool ddae,
Geudaeman seo itdamyon.
Eereom apeum noonmul jjeum chameul su itneun geolyo.
All I want is you, only one is you in my life.

“Jonghyun-ah,” panggil Raemi pelan. Ia duduk di samping Jonghyun, menikmati melodi indah yang dibuat lelaki itu.

Kim Jonghyun menghentikan lagunya dan menoleh pada gadis yang memanggilnya. “Ne, wae yo?”

“Ani,” jawab si gadis. “Hanya senang mendengarmu bernyanyi. Indah.”

“Hey, kenapa tanganmu?” tanya Jonghyun menunjuk beberapa bekas kebiruan di lengan Raemi. Wajahnya tampak khawatir. “Kau tadi jatuh?”

Raemi menggeleng. “Mungkin tadi aku terpentuk saat tidur. Sudahlah, bukan hal besar kok. Dan, Jonghyun-ah, terima kasih karena sudah berusaha untuk mengerti.”

Lelaki yang sedang memeluk gitar itu tesenyum. “Kau ingat, Mi-ya, saat kau bilang padaku bahwa aku tidak mengerti apa-apa tentang perasaan anak-anak itu?” Raemi mengangguk. “Aku mengerti. Sangat mengerti bahkan. Aku tahu bagaimana rasanya kesepian tinggal di rumah sakit. Aku tahu betapa menyakitkannya saat pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikiranku. Aku sangat mengerti. Kau tahu mengapa? Karena aku mengalaminya.”

“Jjong-ah…” Raemi kaget mendengar pernyataan Jonghyun.

“Kau tahu mengapa aku tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga? Jantungku lemah, Mi-ya. Sangat mudah bagi jantungku untuk berhenti berdetak. Aku tak pernah bisa beraktivitas dengan normal. Aku…”

Choi Raemi menggenggam jemari lelaki di sebelahnya. “Sssst, tak usah dilanjutkan.”

“Mi-ya,” Jonghyun menunggu Raemi hingga gadis itu menatap matanya.

Gadis itu menoleh. “Ne?”

“Joahae.”

***

Jonghyun berlari menuju rumah sakit. Hari ini ia telat dan ia mengutuki gitarnya sepanjang perjalanan. Tadi, senar gitarnya putus dan ia harus menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mencari dan mengganti senar tersebut.

Sesampainya di rumah sakit, ia langsung memencet tombol naik pada lift. Butuh sekitar dua menit menunggu agar pintu lift terbuka. Dengan tergesa-gesa, Jonghyun masuk ke dalam lift dan memencet angka lima.

Karena ia hanya sendiri di lift itu, segeralah ia sampai di lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, ia dapat melihat anak-anak dari ruang bermain duduk di ruang tunggu depan lift. Tidak biasanya mereka keluar dari ruang bermain kecuali untuk tidur. Bingung dengan apa yang terjadi, Jonghyun menghampiri mereka. “Hey, ada apa?”

Bocah dengan benjolan buah mangga bangun dari duduknya. “Hyung! Kenapa lama sekali?” Suaranya panik, membuat Jonghyun ikut panik. “Raemi-noona. Noona… dia… tadi pingsan.”

Jonghyun tersentak. “Mwo? Dimana Raemi sekarang?”

Bocah itu menunjuk lorong kamar rawat. Kim Jonghyun berlari. Entah sudah berapa kali ia berlari hari ini, demi Raemi, tak peduli lagi ia dengan jantungnya. Persetan dengan jantungnya. Bocah buah mangga itu berlari di depannya, mengantar Jonghyun hingga sampai di ruangan yang tadi ia maksud.

Belum hilang kaget yang melanda lelaki itu, kali ini ia mendapat satu kejutan lagi. Ia kini berdiri di depan kamar rawat dengan nama Choi Raemi di pintunya. Samar-samar, ia dapat mendengar percakapan di dalam kamar.

“Seharusnya aku tak mengizinkannya sekolah. Harusnya ia beristirahat saja. Aku memang bodoh!” Terdengar suara seorang lelaki. Agak berat.

“Jangan menyalahkan diri sendiri, Tuan Choi. Dan juga, maafkan saya. Seharusnya saya dapat mengawasi Raemi, bukan membiarkannya kelelahan hingga seperti ini.” Suara lelaki yang lain.

Jonghyun memberanikan diri membuka pintu kamar itu, masuk. Ada dua orang lelaki di dalam—selain Raemi tentu saja. Setelah membungkuk dalam-dalam, dengan suara bergetar, ia bersuara. “Annyeonghaseo. Saya teman sekolah Raemi, Kim Jonghyun. Kalau boleh saya tahu, ada apa dengan Raemi?”

Lelaki yang bukan berpakaian dokter beranjak dari sofa yang tadi ia duduki. “Raemi… leukimia. Stadium tiga. Ah, salah. Tadi sudah menjadi stadium empat.” Lirih, lelaki bersuara agak berat yang Jonghyun pikir ayah Raemi—dan ternyata benar, menjawab.

“Mwo ya? R—Raemi leukimia?” Lengkap sudah kejutan untuk seorang Kim Jonghyun hari ini. “Ta—Tapi dia selama ini sehat-sehat saja. Aaaaah, Jonghyun pabo ya! Jadi, mimisan itu, biru-biru di tangannya itu…” Lelaki muda itu meremas ujung rambutnya, menyesali ketidakpekaannya. Selama ini Raemi menutupi penyakitnya. Dan saat itu, saat dimana mereka bertemu tak sengaja di rumah sakit, Raemi bukan membicarakan bagaimana menderitanya anak-anak di ruang bermain, melainkan dirinya sendiri.

“Ah, jadi kau Kim Jonghyun yang suka diceritakan Raemi. Kau yang sering main kemari dan menyanyikan lagu, kan?” tanya lelaki yang lain, yang mengenakan pakaian putih-putih. Dokter.

Jonghyun mengangguk. “Ne. Ehm, mianhae. Boleh saya bertanya?”

Kedua lelaki dewasa di depannya mengangguk.

“Setahu saya, leukimia bisa disembuhkan dengan pencangkokan sumsum tulang belakang. Apakah itu benar?” Pertanyaan Jonghyun membuat sang dokter mengangguk. “Kalau begitu, mengapa tidak dilakukan pencangkokan? Bukankah sumsum tulang belakang keluarga bisa dicangkokkan?”

Ayah Raemi menepuk pundak Jonghyun. “Tidak semudah itu. Sumsum tulang belakang yang akan dicangkokkan harus sesuai dengan punyanya. Entah Tuhan berniat apa, punyaku tidak cocok. Jadi, kami menunggu, sampai ada donor atau relawan.”

“Ka—kalau begitu, coba sumsum tulang belakangku! Kalau seandainya cocok, aku mau menjadi relawan!” Refleks, Jonghyun mengusulkan. Kedua lawan bicaranya sempat terkaget, lalu dengan cepat mengontrolkan diri.
“Jika anda bersedia, kita bisa melakukan uji kecocokan sekarang.” kata sang dokter.

Jonghyun mengangguk mantap.

Sesaat sebelum Jonghyun meninggalkan kamar mengikuti sang dokter, ia mendengar ayah Raemi mengucapkan terima kasih padanya.

***

“Ya! Jjinja pabo ya!” teriak Raemi pada lelaki yang duduk di samping ranjangnya. “Siapa yang menyuruhmu untuk mencangkokkan sumsum tulang belakangmu untukku? Aish.”

Lelaki di samping ranjangnya itu diam saja, namun tak terlihat tanda penyesalan di wajahnya.

“Ya! Jjong-ah. Pokoknya aku tak mau tahu, batalkan surat persetujuanmu untuk operasi itu. Dan, Appa! Kok bisa-bisanya sih Appa menandatangani surat operasi tanpa beri tahu aku dulu? Duh, apa tidak ada ya namja yang tidak seperti kalian di dunia ini?” Raemi melanjutkan omelannya. Tampak jelas terlihat di matanya bahwa ia sangat tidak setuju dengan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang untuknya, dua hari lagi.

Ayah Raemi—yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu—kini duduk di sebelah putrinya, di pinggir ranjang gadis itu. “Dengar Mi-ya. Kau harusnya bersyukur. Tuhan telah memberikanmu peluang untuk menang melawan penyakitmu lewat Jonghyun. Ia pun sudah berbaik hati untuk mendonorkannya padamu. Bersyukurlah, Mi-ya.”

“Ta—tapi, tidak adil kalau Tuhan hanya memberi kesempatanku untuk tetap hidup, Appa. Jonghyun bagaimana? Kalau jantungnya tidak kuat saat operasi bagaimana? Kalau Tuhan memanggil Jonghyun saat operasi bagaimana? Pokoknya aku baru mau setuju operasi kalau itu bukan Jonghyun!”

Kim Jonghyun sontak berdiri dari duduknya. “Ya! Persetan dengan aku mati saat operasi! Setidaknya karena aku memang tidak punya kesempatan untuk hidup. Buktinya, hingga kini tidak ada transplantasi jantung untukku. Untuk sekarang, kau yang punya kesempatan, Choi Raemi! Memangnya, kau tidak mau sembuh? Kau tidak mau hidup normal layaknya gadis-gadis pada umumnya? Kau masih mau tiba-tiba mimisan dengan darah yang sangat banyak dan tak tahu kapan berhentinya? Kau masih mau tinggal sendirian di rumah sakit? Kau masih mau dihantui pertanyaan kapan akan sembuh? Katamu tadi, tidak adil kalau hanya kamu yang terbebas dari penyakitmu dan aku tidak. Lalu memangnya, kau tidak mau menemani aku menghadapi penyakitku? Kalau misalnya Tuhan memintamu untuk kembali padaNya sebelum aku sembuh, saat Ia telah bermurah hati memberikan kesempatan padamu untuk tetap hidup, bagaimana?”

Choi Raemi terdiam mendengar lelaki muda di depannya. Ia menunduk, membenarkan kata-kata lelaki itu.

Jonghyun mendekap kepala Raemi dalam dadanya yang bidang. “Tuhan tidak pernah tidak adil, Mi-ya. Semua yang Ia beri pada kita, adalah yang terbaik. Meski terkadang kita mencaciNya karena penyakit yang Ia tanamkan pada tubuh kita.”

“Jadi bagaimana?” tanya Ayah Raemi pelan. Dalam hatinya, jauh di lubuk hatinya, ia mengucap berjuta terima kasih kepada Tuhan karena telah menghadirkan seorang Kim Jonghyun di dunia ini.

Dan satu-satunya gadis di ruangan itu mengangguk.

***

“Sudah siap?” tanya dokter yang bertanggung jawab atas Raemi sesaat sebelum operasi berlangsung.

Raemi tersenyum. Kim Jonghyun sangatlah rugi tidak melihat senyum dari bibir gadis itu saat ini. Senyum yang memendam begitu banyak makna. Senyum yang tulus, senyum yang lembut. “Dokter, sebelum operasi ini berjalan, bolehkah aku meminta satu saja?”

Sang dokter yang tengah menepuk ujung jarum suntik berisi obat bius yang siap dimasukkan ke dalam pembuluh darah si gadis mengiyakan. “Tentu saja. Apa permintaanmu, Raemi-ssi?”

Gadis itu menatap lelaki tak sadarkan diri yang sudah terbaring di sampingnya—di ranjang yang terpisah. Sekali lagi bibirnya tersenyum, sama seperti senyum beberapa detik lalu. “Kalau ternyata aku tidak bisa lagi hidup di dunia ini, kumohon, berilah ia kehidupan. Dokter tahu, jantungnya lemah. Ia tak pernah diizinkan untuk mengikuti pelajaran olahraga karena jantungnya. Ia tak bisa terlalu lelah atau jantungnya bisa berhenti berdetak kapan saja. Namun ia mau memberiku kehidupan. Mulia sekali bukan? Oleh karena itu, jika nanti setelah Dokter menyuntikkan obat bius itu padaku dan aku tidak bangun lagi, berikanlah jantungku ini padanya.”

***

Seorang Kim Jonghyun, entah mengapa, sedang duduk di sebuah bangku taman saat ini. Taman yang entah dimana. Tidak ada sesuatu yang terasa familiar di tempatnya berada sekarang—kecuali sosok seorang gadis di ujung sana. Perlahan, sosok itu mendekat, menghampiri Jonghyun yang menatapnya.

“Raemi-ya, gwaenchana?” tanyanya. Ia begitu senang melihat gadis itu berdiri di depannya.

Sosok gadis itu tersenyum. “Jonghyun-ah, kau benar. Tuhan selalu adil. Tuhan tak pernah tak adil. Dan dirimu untuk tetap hidup adalah suatu keadilan. Tuhan memberikanmu kesempatan untuk hidup. Perjuangkan hidupmu baik-baik, Jjong-ah. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih telah membantu menyeka hidungku saat aku mimisan. Terima kasih telah menyanyikan lagu-lagu untukku. Terima kasih telah menanyakan kabarku dikala aku tidak merasa baik. Terima kasih telah mau menemani aku. Dan maaf. Maaf karena tidak memberi tahu tentang penyakitku. Maaf karena selalu merepotkanmu. Maaf karena tidak bisa menemanimu, mulai saat ini.”

“Ra—Raemi-ah, maksudmu a—”

Sosok gadis itu mengecup bibir Jonghyun. “Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Saranghae.”

Lalu sosok itu menghilang.

Jonghyun terbangun. Setelah melihat sekelilingnya dan memastikan bahwa ia berada di kamar rawat yang sama seperti yang ia tempati sehari sebelum operasi Raemi, ia menghela napas lega.

Lelaki itu mencoba untuk bangun, ingin sekali berjalan ke kamar rawat Raemi dan melihat gadis itu tertidur. Usaha lelaki itu gagal.

Rasa yang aneh, gabungan dari rasa sakit dan nyeri yang berasal dari dadanya, menjalari tubuhnya. Jonghyun bingung, bukankah seharusnya yang terasa sakit seperti ini adalah punggungnya?

Penasaran, ia membuka kancing kemeja tidurnya satu persatu. Betapa terkejutnya ia saat melihat balutan perban sepanjang dadanya. Perasaan tak enak tentang seorang gadis bernama Choi Raemi melintas.

Sontak, ia meraba-raba meja di sebelah ranjang, berusaha mencari ponsel yang dapat ia gunakan untuk menghubungi gadis itu. Sekali lagi, usahanya gagal. Yang ia dapat hanyalah sebuah lipatan kertas kecil.

Dibukanya lipatan kertas itu, terdapat rangkaian huruf yang ditulis sangat rapi dalam satu kalimat.

“Aku akan berdetak bersamamu.”

***

Choi Raemi membuka pintu kamar rawat di depannya hati-hati, berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang membuat penghuninya terbangun.

Ia menatap wajah lelaki yang tertidur itu sambil tersenyum. Perlahan, ia menghampiri ranjang tempat sang lelaki beristirahat dan duduk di tepinya.

Setelah cukup lama memandang wajah lelaki bernama Kim Jonghyun itu, si gadis mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam kantung kemeja tidurnya, melipatnya, dan menaruh kertas itu di atas meja samping ranjang. Berharap yang terlelap mudah menemukannya dan membacanya.

Raemi kini menatap langit hitam penuh bintang dari jendela kamar rawat Jonghyun. “Eomma,” lirihnya. “Jeongmal bogoshipo.”

END

Posted on 2 Juni 2011, in MIVP, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. ‘Tadi aku mimisan saat berlari, jadi Seonsaengnim menyuruh aku kembali ke kelas.’ Aigooo, guru macam aja nyuruh muridnya balik kelas sendirian bersimbah darah..
    Panjang dan menyentuh.. T.T
    Aku menangis karena terharu dan bahagia..
    Makasih atas ff yang indah, Mii.. T.T
    (lagu Life mengalun lembut)

  2. Raisa Widiastari

    Sempet ketebak sih pas si Choi Raemi (yang aku translatekan sebagai Choi Raisa Mitla) *plakk* itu bakalan rela ngasih jantung doi ke dino
    cuman endningnya bagus loh!
    Intinya Choi Raemi itu meninggalkan? =.=

  3. “Aku akan berdetak bersamamu.” kyaaa…aku suka banget kata2 ini….so sweet banget.. :3
    Aku suka…hehe ^^

  4. bagus eonn…
    aq g kuat denger salah satu harus meninggal…😥
    sangat nyentuh eonn…

  5. Huee kenapa raemin yang meninggal? Jjong aja mestinya~ biar lebih nyesek bacanya hahaha .__.v
    Bagus kak ceritanya u,u itu lagu all I want is you, lagu siapa? Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: