[FF/PG-15] Oneshot – LOLLITA LOVE

Cast:
JINKI
Kim Kibum as GWEBOON (female)
Support Cast:
Lee Taemin as Taeyeon (female)
Kim Jonghyun
Choi Minho
Choi Sulli
Dongwoon
Genre:
Romance
Rating:
PG 15

Annyeong~
Terinspirasi dari gambar di Grup OKS. Dokter Lee Jinki lagi ngegodain (?) little Gweboon. Ahahahah. Jd pengen kubuat FFnya..

RCL!!!
Read (baca FFnya), Coment (kasih komentar, kalo gak full bacanya boleh gak kasih komen, kalo ternyata baca full dan gak komen aku sedih), like (hal yang palin dilupakan reader adalah menekan jempol setelah komen. Jadi jgn lupa komen kalo anda puas dengan FF ini oke!!!)


“Aigoo~ jangan menangis. Aku bantu carikan ibumu bagaimana?”
Sosok tangan besarnya memungut boneka kelinci, menepuk-nepuk menghilangkan debu yang menempel pada kepala si kelinci.

“Hiks. Hiks. Ummaa~ sakiitt~”
“Bagian mana yang sakit? Aku ini dokter, aku bisa menyembuhkan orang sakit. Kau percaya?”
Tubuh tingginya turun mensejajarkan tatapannya setinggi gadis kecil yang berusaha untuk menahan isakannya agar air matanya tidak keluar lagi. Jas putihnya menyentuh jalanan rumah sakit.

“Apa kau punya permen?”
“Permen?”
“Dokter biasanya punya banyak permen.”
”Tentu saja aku punya banyak. Jangan menangis lagi, nanti kuberikan permen yang banyak.”
Tersenyum hingga membuat matanya tenggelam. Cukup berhasil untuk membuat gadis kecil didepannya terdiam dan menerima bonekanya kembali.

“Janji?”
Jari kelingking mungilnya dikaitkan pada jari yang jauh lebih besar dari jarinya.
“Janji.”

*******

Gweboon POV

“Gweboonie!!”
Suara yang sangat familiar membuaktu menghentikan langkahku dan bebalik untuk melihatnya.
Aku berdiri menunggunya mendekat, sementara kakinya mengurangi tempo langkahnya dan perlahan mengatur nafasnya, tidak lagi berlari.

“Gweboonie! Bagaimana nasib Dongwoon?”
“Dongwoon Nugu?”
Kusematkan jari-jariku dirambut ikalnya sambil memulai kembali langkah kami seirama, membantunya merapihkan helaian rambut yang sempat keluar dari jalurnya saat dia berlari.

“Aigoo Gweboon! Dia sudah lima kali menyatakan cinta padamu, kau masih tidak ingat?”
“Oh, namja itu?”
“Aisshh~ bagaimana bisa kau tidak ingat namja-namja yang berusaha mendekatimu.”

Aku memang tidak pernah berniat untuk mengingat satu-persatu namja yang mendekatiku. Aku malas. Otakku sudah kuperintah untuk mengingat satu namja saja. Lagipula aku tidak pernah meminta mereka untuk mendekatiku, atau tergila-gila padaku.

Kulirik yeoja yang berjalan seiringan denganku. Akhir-akhir ini dia sering mengeluarkan senyumnya. Untung saja namjachingunya bukan salah satu dari banyaknya penggemarku.

“Setidaknya aku tahu Minho mendekatimu. Kalian sudah resmi berpacaran? Chukkae.”
“Ya! Kenapa jadi membahas hubunganku?”
“Sudah ya Taeyeon. Aku harus segera mengobati lukaku.”
Arah mata bulatnya turun kebawah lututku. Terdapat sebuah memar yang membiru disana. Aku mendapatkannya saat mengantri dikantin dan lututku terkantuk ujung meja.

“Ke rumah sakit lagi?”
“Kemana lagi.”

***

Dr. Lee Jinki

Mataku terus menatap papan nama yang tertera diatas pintu ruangan seorang dokter umum yang sedang bertugas didalamnya.

“Annyeong Gweboon, kau sakit lagi?”
“Ne.”

Suster Choi, suster favoritku yang sangat manis selalu menyapaku setiap melihatku. Sebenarnya banyak suster favoritku dirumah sakit ini. Mereka semua sudah mengenalku dengan baik, begitu juga aku sudah sangat mengenal mereka semua.

“Apa keluhanmu hari ini?”
“Memar.”
“Kau mendaftar pada dokter Lee?”
“Ne.”
“Dokter Lee beruntung. Tidak pernah ada pasien secantik dirimu yang menjadi langganannya.”

Ini juga salah satu alasaku menyukainya. Suster Choi sering memujiku. Dia bahkan tahu jika aku memotong rambutku.

Diitt~

Bell pemanggil pasien berbunyi. Seorang pasien yang ditemani ibunya keluar dari ruangan dokter Lee. Itu berarti sudah tiba giliranku.
Aku berdiri dan memeriksa penampilanku. Kusisir rambutku dengan jari, memastikan tidak ada debu atau benang yang menempel pada seragamku, dan mengendus pergelangan tanganku untuk memastikan apakah parfumku masih tercium.

“Gweboon, giliranmu.”
“Ne, suster Choi, gomawo~”

Jantungku berdebar kencang. Semakin mendekati pintu semakin kencang debaranku. Nafasku sesak saat tanganku menyentuh dinginnya kenop pintu.

“Usiaku sudah 34 tahun. Umma terus mendesakku untuk cepat menikah.”
“Kalo begitu cepatlah menikah.”

Sayup-sayup terdengar suara lembut yang kurindukan saat aku memasuki ruangannya. Dari percakapan yang kudengar sepertinya dia sedang bersama seseorang. Dan seseorang itu pasti si dokter cabul yang akhir-akhir ini sering kulihat sedang mengganggu pasiennya.

Cklek~

“Hai Gweboonie! Kau terlihat cantik hari ini.”

Benar dugaanku. Dokter Kim cabul sedang bercakap-cakap dengan seorang namja penyebab jantungku tidak berdetak dengan baik hari ini. Dia duduk dikursi pasien sehingga memaksaku untuk tetap berdiri didekat pintu.

“Aku tahu.”
Aku berusaha bersikap tenang seolah-olah ini bukanlah hal yang besar bagiku. Tentu saja aku akan berusaha untuk selalu tampil cantik.

“Hari ini apa keluhanmu? Apa jarimu tertusuk jarum?”
“Jangan meledekku.”
Oke. Sebenarnya dokter cabul ini tidak sedang meledekku. Aku memang akan melukai diriku agar bisa menemui seseorang berjas putih favoritku. Jika terjatuh atau teriris pisau, aku akan sangat senang sekali. Karena itu bisa kujadikan alasan untuk menemui dokterku.

“Hari ini dokter Lee harus pulang cepat. Jadi aku yang akan memeriksamu.”
“Kalau begitu aku pulang saja.”
“Ahahah. Baiklah. Aku hanya bercanda, kau memang hanya mau diperiksa oleh dokter Lee.”
Aisshh! Kenapa dokter Kim cabul berkata seperti itu didepan dokter Lee. Membuatku semakin gugup.

“Sudahlah Jonghyun. Kembalilah keruanganmu. Pasienmu menunggu.”
“Ye~ arraso. Kita berbincang lagi saat istirahat. Ok?”
“Ne, cepat pergi. Kau tega membiarkan Gweboon berdiri?”
“Ah ye. Silahkan duduk Gweboon.”

Akhirnya dokter Kim berdiri dan mempersilahkanku untuk duduk. Kupastikan dia meninggalkan ruangan ini, setelah itu barulah aku duduk dikursi yang sudah dipersilahkan dokter Lee.

“Kau sakit apa?”
“Lututku sakit.”

Degh!

Mata sipitnya terlihat lebih besar saat menatapku. Aku bisa merasakan tanganku bergetar. Saat dia berdiri dan mendekatiku.

“Coba kulihat. kau terjatuh lagi?”
“Hanya kurang hati-hati dan terbentur meja.”

Ya Tuhann. Senyum kelincinya membuatku tak bisa mengendalikan nafasku. Aku membekukan seluruh tubuhku, bahkan menahan nafasku saat kurasakan tangannya menempel dikulit kakiku.

“Hanya memar biasa. Krim memar yang kuberikan masih ada? Kau bisa menggunakannya Gweboon.”
“Sudah habis.”
“Eoh? Habis? Secepat itu?”
“Ne.”

Tak ada suara lain selain guratan bolpoinnya diatas kerta resep obat. Aku tidak peduli apa yang sedang ditulisnya. Aku lebih tertarik pada wajah dan rambutnya yang terkesan steril. Apa belum pernah tersentuh olah yeoja lain? Boleh aku menyentuhnya?

“Lain kali hati-hati ne?”
“Ah ne.”
Dengan berat hati aku menerima secarik kertas yang disodorkannya. Sebenarnya aku ingin dia menulis resep obatnya lebih lama, agar aku lebih puas memandanginya. Seharusnya keluhan penyakitku lebih banyak. Dengan begitu obat yang dia berikan juga lebih banyak.

***

Akkhh!
Agak sakit ketika gel dingin ini menutupi memarku. Kututup rapat salep memar yang kudapatkan tadi siang. Kumasukan kedalam plastik dan kuberi tanggal, tidak lupa gambar hati disisinya. ^^

Box harta karunku sudah seperti apotik. Ketika kau membukanya maka kau akan mencium bau obat-obatan. Sebenarnya terdapat beberapa permen didasar box ini, tapi jumlahnya tidak sepadan dengan jumlah obat yang lebih banyak. Koleksi pertamaku adalah permen. Tapi seiring dengan usiaku yang bertambah dokter Lee tidak pernah lagi memberikanku permen.
Kutarus salep obat diatas tumpukan obat lainnya. Entah sudah berapa jenis obat didalamnya. Semuanya adalah kenanganku bersama dokter Lee-ku.

Hahhh~
Kujatuhkan tubuhku diatas tempat tidur sambil memeluk boneka kelinci yang sudah usang. Boneka yang selalu menemaniku saat pertama kali bertemu dokter Lee. Dan untuk pertama kalinya aku menyukai rumah sakit. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan pada saat pertama kali bertemu dengannya. Mata bulan sabitnya, senyum kelincinya, dan pipi bakpaunya, semuanya masih sama.

Kutatap wajah boneka kelinciku, dan berharap aku dapat memimpikan senyum kelinci dokter Lee.
Annyeong jumuseyo dokter Lee, mimpikan diriku ya~
Semoga mimpi indah.

***

Hari ini Taeyeon bersikap sedikit diluar kebiasaannya. Dia terus mendesakku untuk menerima cinta seorang namja bernama Dongwoon. Seharusnya Taeyeon tidak melakukan ini padaku. Dia tahu aku tidak begitu mengenal namja bernama Dongwoon itu, dan yang paling utama adalah Taeyeon tahu aku sudah menautkan hatiku pada satu orang namja saja.

Aku terlalu kesal pada Taeyeon sehingga kuputuskan untuk pergi ke lab lebih dulu. Aku tidak mau kami membahas kembali masalah namja -siapa namanya? Aku lupa-, karena jika kami terus membahas maka kami akan bertengkar.

Segerombolan sunbae berdiri menghalangi lorong menuju lab. Terlihat juga kepulan asap rokok disekitar mereka. Aku tahu mereka sunbae karena hanya kelas tiga yang berani berpenampilan sebebas mereka. Menggunakan blus dengan banyak frill sebagai pengganti kemeja seragam. Beberapa dari mereka mengenakan syal dan hiasan rambut mencolok. Mata mereka hanya tertuju pada satu titik. Itu aku.
Haahhh~ kali ini siapa nama namjanya? Siapa peduli dengan namjanya. Aku tidak pernah bisa mengingatnya.

Seseorang dari mereka yang semula bersandar pada dinding lorong segera berdiri tegap menghadap kearahku dengan tangan yang dilipat di dada.
Aku merasa tidak punya salah pada mereka, jadi kupasang saja ekspresi datar dan melewati mereka dengan permisi, atau ditambah senyum?

“YA!”

Seorang sunbae dengan rambut pendek menarik pergelangan tanganku.
Bughh!
Auucchhh~ pungungku sakit. Aku tidak menyangka mereka akan menghempaskanku ke dinding dengan begitu kuat. Oke, satu lawan enam. Ini curang.

“Kau Kim Gweboon, tidak punya telinga huh??”
“Aku punya.”
“Ha! Kalau begitu seharusnya kau bisa mendengar peringatan kami sebelumnya untuk tidak bersikap seolah-olah kau ratu sejagad di sekolah ini!!”
“Langsung saja pada intinya. Jadi, kali ini siapa namjanya?”
“Kau sombong sekali Kim Gweboon.”
“Kita buat ini cepat saja. Kalian tidak bosan melabrakku seperti ini? jujur, aku bosan sekali.”

Pllaakkkk!!

“Berikan padaku rokoknya!”

Apa yang akan mereka lakukan padaku?
“Hei!! Lepaskan!”
Belum hilang sakit dipipiku, kedua tanganku dipenjara oleh dua orang yeoja. Jantungku berdetak kencang saat yeoja berambut pendek didepanku sudah memegang sebatang rokok yang masih menyala. Aku takut. Pergelangan tanganku mulai sakit karena aku mencoba untuk melepaskan tanganku dari cengkraman mereka.

“Apa yang akan kalian lakukan!”
”Jika wajahmu cacat maka tidak ada namja lagi yang mau denganmu.”
“MWO?? KALIAN GILA!!”

Andwe. Jangan wajahku. Jangan buat aku terlihat buruk. Andwe~

“KYAAAA!!!”

Panas.

“Hah! Rasakan! Ayo kita pergi.”
“Semoga dia tidak lagi menggoda namjachingu kita.”

Perih.

“Jika ini tidak membuatnya jera. Kita buat bekas luka yang lebih parah daripada ini.”

Sakit umma~ huks. Aku benci mereka.

Taeyeon POV

Aku mendengar teriakan dari arah lorong menuju lab. Terdengar seperti teriakan Gweboon. Aku berlari menelusuri lorong, meninggalkan Minho dibelakangku. Firasatku tidak baik.

Ketakutanku akan kejadian buruk yang menimpa Gweboon terbukti. Tubuhnya terkulai lemas duduk dilantai dengan kepala yang menunduk sendirian, membuat wajahnya tertutupi rambut. Tubuhnya bergetar dan terdengar isakan yang sangat pelan.

Apa yang sudah dilakukan sunbae kepadanya?

Dengan langkah yang perlahan kuhampiri Gweboon yang masih terisak.

“Gweboon?”

Masih terisak tanpa menghiraukanku yang berdiri didepannya. Kuturunkan tubuhku, menekuk lututku hingga sejajar dengannya. Kusibakkan rambutnya, kusampirkan ditelinganya untuk melihat wajahnya.

Aku terkejut saat melihat dua luka sulutan rokok dipipi kirinya. Arah pandang Gweboon masih tertuju pada lututnya. Roknya sudah basah terkena tetesan air mata.

“Gweboon kita ke rumah sakit?”
“AKU TIDAK MAU KERUMAH SAKIT!”
“Baiklah kita ke UKS saja.”
“AKU MAU PULANG! Hiks. Aku mau bertemu umma.”
“Ok. Aku akan meminta ijin pada guru piket.”

***

Tante Kim membujuk Gweboon untuk memeriksa lukanya kerumah sakit. Tapi Gweboon terus bersikeras tidak mau pergi ke rumah sakit. Dia tidak mau dokter Lee melihatnya seperti ini. Walau sudah dibujuk untuk menemui dokter lain, tapi Gweboon tetap tidak mau. Baginya sama saja, dokter Lee pasti akan melihatnya.

Gweboon masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Pandangannya menerawang kosong. Aku menemaninya sementara tante Kim menghubungi dokter Lee untuk membujuk Gweboon.

Seandainya aku tidak membiarkannya pergi sendirian. Padahal aku tahu rencana jahat sunbae kami pada Gweboon.

“Gweboon, sudah kukatakan padamu untuk menerima Dongwoon. Mereka tidak akan melakukan ini padamu jika kau sudah punya namjachingu.”
“Aku tidak mau membahasnya.”
“Oke, baiklah jangan Dongwoon. Apa kau punya kandidat lain?”
“Kau tahu bagiku hanya ada dokter Lee.”

Aigoo~ belum mengerti juga yeoja ini.

“Dua dari anggota geng mereka diputuskan namjachingunya. Dan mereka menganggap kau penyebabnya.”
“Pabo! Aku tidak melakukan apapun.”
“Kau tahu banyak namja disekolah kita yang masih menaruh harapan padamu karena melihatmu masih single? Terlebih lagi kau termasuk yeoja yang sangat memperhatikan penampilanmu. Maksudku, kau selalu berusaha untuk tampil cantik.”
“Memangnya salah jika aku ingin tampil cantik? Apa salah jika aku ingin tampil menarik didepan dokter Lee?”
“Mereka tidak tahu kau melakukannya untuk dokter Lee. Mereka pikir kau mau memonopoli semua namja disekolah kita.”
“Pemikiran yang bodoh.”
“Oleh sebab itu kusarankan kau untuk cepat mengganti statusmu. Setidaknya ada namja yang akan melindungimu kemanapun.”
“Berisik.”

Gweboon POV

“Oleh sebab itu kusarankan kau untuk cepat mengganti statusmu. Setidaknya ada namja yang akan melindungimu kemanapun.”
“Berisik.”

Jika aku bisa aku pasti sudah memamerkan dokter Lee ke sekolah. Tapi apakah dokter Lee masih mau melihatku dengan keadaan seperti ini? aku akan membalas mereka jika sampai itu terjadi.

“Gweboonie, dokter Lee ingin bicara denganmu.”

Apa!
Aku bangun dari posisi tidurku. Aku tersontak saat umma menyodorkanku telefon. Jangan bilang dokter Lee sudah tersambung ditelefon itu.

“Ayo. Dokter Lee menunggu.”

Apa benar dokter Lee menelefonku? Bagaimana umma melakukannya?

“Gweboon, kau tahu dokter Lee sangat sibuk. Jawablah telefonnya dulu.”

Tanganku lemas sekali saat menerima gagang tetefon yang diberikan umma. Kulirik Taeyeon dan umma sebelum kutempelkan telefon ditelingaku.
Terdengar suara dokter Lee sedang berbincang dengan seseorang diseberang sana. Tiba-tiba nafasku menjadi berat. Aku tidak siap untuk memulai pembicaraan.

‘Dokter Lee chukkae! Aku sudah menerima undanganmu. Aku pasti akan datang ke pesta pertunangannya.’

Degh!
Pesta pertunangan? Siapa? Dokter Lee?

‘Jangan lupa dresscodemu! Sunny tidak suka pestanya terganggu sedikit masalah.’
‘Ne, akan kupastikan memakai kemeja hitam.’
‘Gomawo.’

Sunny?
Gyut~ hatiku ngilu sekali. Kenapa harus sunny? Kenapa aku tidak tahu kalau dokter Lee akan bertunangan?

-“Usiaku sudah 34 tahun. Umma terus mendesakku untuk cepat menikah.”-

Aishhh!! Kenapa aku tidak mewaspadai percakapan itu!

Bip!

“Gweboon? Kenapa telefonnya dimatikan?”

Aku harus menemui dokter Lee sekarang. Harus sekarang!

“Antarkan aku ke rumah sakit umma.”

***

Kakiku bergoyang naik turun dengan tempo yang cepat. Tidak sabar untuk segera masuk keruangannya.
Aku mengusir Taeyeon dan umma untuk pulang. Aku ingin menghadapi dokter Lee sendirian. Karena pembicaraan kami bersifat pribadi.

“Nona Kim Gweboon?”
“Ne?”
“Giliran anda.”

Aku masuk keruangan dokter Lee dan hanya mendapatinya seorang diri. Tidak ada dokter Kim yang biasanya berkunjung keruangan ini. itu bagus.

“Ah, Gweboon. Kukira kau tidak akan datang. Telefonmu tiba-tiba terputus.”

Tuhan jangan ambil senyum itu dariku. Aku tidak akan sanggup jika dia menjadi milik orang lain.

“Gweboon. Kau kenapa? Kau terlihat tidak sesegar biasanya. Kau sakit? Berbaringlah dulu.”

Punggungnya lebar. Tangan besarnya membuka tirai pembatas kamar periksa yang tidak pernah aku singgahi. Kenapa semuanya tampak begitu jelas disaat aku akan kehilangannya?

Kulepas sepatuku dan duduk ditempat tidur yang cukup tinggi, mengharuskanku menaiki dua anak tangga untuk sampai ditempat tidur putih ini.

“Bagian mana yang sakit?”

Aku memiringkan kepalaku kekanan agar pipi kiriku terlihat olehnya. Aku tidak berani melihat ekspresinya saat melihat luka dipipiku.

Secerca sinar menerpa pipi kiriku. Dokter Lee mulai memeriksa lukaku. Wangi maskulin tercium sangat kuat dihidungku. Dada dokter Lee hanya beberapa centi dari wajahku.

“Kau tersulut rokok? Siapa yang tega melakukannya padamu?”
Jari dinginnya menyentuh pipiku. Tidak mengenai lukaku, tapi cukup perih saat jarinya menekan pinggiran lukaku.

Dokter Lee mematikan senternya dan memasukannya kedalam saku jas putihnya. Matanya masih memeriksa pipiku. Aku merasa sangat buruk dengan luka dipipiku.

“Akan kuberi obat luka bakar.”

Tidak ada senyum tersungging diwajahnya. Tidak seperti biasanya. Apa dia merasa jijik padaku? karena luka inikah? Mataku tertuju pada jarinya. Belum terpasang cincin apapun, tapi akan segera terpasang.

“Gweboon hmmpphh~”

Aku mungkin sudah gila dan aku tidak peduli. Tanganku menahan tengkuknya agar bibirku tetap menempel dibibirnya. Nafasnya menerpa wajahku, baru kusadari kalau kulit wajahnya begitu lembut.

“Gweboon! Apa yang kau lakukan!”
Tangannya mendorong kuat bahuku sehingga berhasil melepaskan ciumanku. Hatiku sakit sekali melihat sorot matanya yang marah.
“Apa aku jelek?”
“Apa maksudmu Gweboon? Jangan lakukan itu lagi padaku! oke?”

Tak dapat lagi menahan sakit yang mengganjal didadaku. Mataku mengeluarkan air mata, dadaku semakin sakit saat kucoba untuk menahan tangisku.

“Gweboon ada apa?”
“Kau tidak menyukaiku karena aku jelek.”
“ssshht~ kau cantik Gweboon. Arra? Hanya luka kecil seperti ini tidak menjadikanmu jelek.”
“Lalu kenapa kau menolakku? Karena aku jelek?”

Dokter Lee menggeser tirai pembatas hingga tertutup penuh. Dia kembali menghampiriku dan merengkuh wajahku. Kedua tangannya yang menyentuh sisi kepalaku membuatku nyaman. Matanya masuk kedalam mataku sangat dalam. Mengunci mataku agar tetap menatapnya.

“Dengar Gweboon, kau hanya shock ringan karena menerima perlakuan kasar dari sunbaemu. Ibumu bercerita padaku kalau kau dibully. Kau adalah gadis yang kuat. Jangan biarkan emosi menguasaimu oke?”
“Aku tidak shock.”
“Gweboon..”
“Aku tidak peduli pada sunbaeku.”
“Gweboon dengar, kau..”
“Kau tidak suka padaku?”
“Hei, kau pasien favoritku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu.”
“Kalau begitu jangan menikah.”
“Mwo? Menikah?”

Keningnya dikernyitkan dan tangannya perlahan turun kebahuku.

“Menikah saja denganku. Aku sudah tujuh belas tahun.”
“Gweboon apa. Menikah siapa?”
“Aku sungguh mencintaimu, kumohon jangan menikah dengan orang lain.”
“Siapa yang akan menikah? Kau berkata apa? Kau mencintaiku?”
“Kau membuatku jatuh cinta padamu sejak umur enam tahun. Apa kau tega membuatku membuang rasa itu begitu saja?”
“Kau mencintaiku? Tunggu! Siapa yang akan menikah?”
“Bukankah kau akan bertunangan dengan seseorang bernama Sunny?”
“Sunny?”
“Aku mendengar percakapanmu ditelefon.”
“Sunny, dia dongsaengku.”
“Apa?”
“Dia memang akan bertunangan minggu depan.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Tetap saja kau harus menikah denganku.”
“Aku tidak mau. Kau belum genap berumur tujuh belas tahun.”
“Kau tahu?”
“Tentu saja aku tahu semua tentangmu. Tanggal lahirmu, makanan kesukaanmu, alergimu, penyakitmu, warna warna ikat rambutmu. Kau terlalu sering hadir dihidupku. Apa kau yakin mau menikah dengan namja tua sepertiku?”
“Aku sangat yakin!”
“Kalau begitu bertahanlah satu tahun lagi. Aku tidak mau kau berubah pikiran saat aku melamarmu saat usiamu genap delapan belas tahun.”
“Aku akan menunggu. Percaya padaku.”
“Tuhaan, kau membuatku bahagia hari ini Gweboon.”
“Kalau begitu cium aku.”
“Apa?”
“Cium aku untuk obat menunggu selama setahun.”
“Kau yakin tidak akan menyesal?”
“Aku yakin.”

Cepat sekali bibir dokter Lee menyapu bibirku. Kali ini bibirku terasa basah karena lidah dokter Lee membasahi bibirku. Bibir dokter Lee menekan bibir atasku naik keatas membuat mulutku terbuka. Detik itu juga aku merasakan lidahnya masuk kemulutku, beradu dengan lidahku. Rasanya hangat dan basah. Jantungku seperti dilempar dari lantai 12.

Tidak mau kehilangan rasa ini maka kukalungkan kedua tanganku dilehernya. Aku mendorong wajahku agar bibir kami terus bertemu saat dokter Lee hendak melepas ciuman kami. Tapi tidak ada lagi permainan lidah, hanya kecupan-kecupan singkat bertubi-tubi dibibirku. Dan perlahan tangan dokter Lee melepaskan tanganku yang mengalung dilehernya, hingga akhirnya kami menyudahi ciuman kami.

“Jangan terlalu lama Gweboon. Aku tidak mau kau kecanduan.”
“Terlambat. Aku sudah kecanduan.”

*******

Hari ini usiaku genap delapan belas tahun dua bulan.

Butuh usaha yang cukup keras untuk meluluhkan hati kedua orangtuaku agar mereka merestui pernikahan kami. Itu karena selama ini kami merahasiakan hubungan kami demi kelancaran karir Jinki oppa. Hubungan kami bisa dimanfaatkan rival Jinki oppa untuk menjatuhkannya.

Ternyata banyak suster yang patah hati karena Jinki oppa akan menikah. Termasuk suster Choi Sulli. Tapi sudah kubilang kalau mereka baik hati bukan? Mereka memberiku selamat walau mereka iri.

“Gweboon. Kau sudah siap? Dokter Lee sudah menunggu lama di altar.”
“Ne. aku siap.”

-tamat-

©2010 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 3 Juni 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. after story, harus. wajib!!

  2. aaaah onew >.< iyaiya ditunggu after story-nya thor😉

  3. Waahh…kereeennn….
    Kagum sama rasa cinta yg bgtu kuat dan bisa bertahan bertahun2 meski tanpa kejelasan.
    Gud job author.

  4. Dee is Mrs.LeeJinKi

    Prok…Prok…Prook…
    Daebak🙂

  5. after story doooongs!!

    hahahaha, seru bgt deh bacanya. gwiboon mendem cinta ke jinki selama 11 taon & nolak dongwoon

  6. Yeeeeeeey OnKeeeeeeeeey! \m/ LOVEITLOVEITLOVEIT<3

    Buat lagi dong thor ff kaya gini huwaaa~ ‎​(•̯͡.•̯͡)‎​

  7. Wahh author annyeong aku member baru di sini.

    Gilaa author ff.a DAEBAK dokter lee saranghaeyo.
    Di perbanyak dunk author karya2nya aku kasih 10 jempol deh buat ni ff.
    #apasih.erbanyak dunk author karya2nya aku kasih 10 jempol deh buat ni ff.
    #apasih.

  8. ada lanjutnya ga?
    penasaraann😀

  9. nyesel bngt bru bca ff ni skrg..

    suka! suka! suka..!!!! *heboh*

    ff by Co cuit bnngtt..

    o>_<o~

    author jjang!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: