(NC-17) With All My Heart – Chapter 4 (The Wedding)

Preview 01 02 03 04 05

“Pengantin wanita, silahkan bersiap-siap. Kita akan memulai acaranya 10 menit lagi.”

“Baiklah.”

Kami sedang berada di ruang tunggu ketika staf dari wedding organizer menyuruh kami untuk bersiap. Aku masih tak percaya kalau hari ini mom akhirnya menikah. Beliau tampak cantik sekali dalam balutan gaun pengantin, kecantikannya masih terpancar untuk wanita seusianya dan ia terlihat sangat bahagia. Aku ikut bahagia untuknya, akhirnya beliau menemukan orang yang peduli padanya dan mencintainya.

“Omma terlihat cantik hari ini.”

“Kau juga sayang, kau terlihat cantik dalam gaun itu. Aku tidak menyangka selera Jae Joong sebagus ini.”

Aku hanya tersenyum, jika aku tidak melakukan kesepakatan konyol itu dengannya aku tidak akan berakhir dengan mengenakan gaun yang terbuka seperti ini walaupun harus kuakui, aku terlihat bagus mengenakan gaun ini. Seseorang mengetuk pintu dan terlihat staf dari wedding organizer berjalan menghampiri kami. Kurasa sudah saatnya kami keluar.

“Mari.” Sambil berjalan keluar, ia memberikan pengarahan padaku. “Joo Yeon ssi, nanti kau akan berjalan masuk bersama Jae Joong sebelum pengantin pria masuk oke? Sebaiknya kau mencarinya sekarang.”

“Baiklah.”

Kemudian ia beralih ke mom. “Kita akan menunggu sampai pengantin pria berdiri di altar dan menghadap ke pintu depan kemudian saat lagu dimainkan, pengantin wanita boleh mulai berjalan masuk.”

Aku meninggalkan mom dan mulai mencari Jae Joong. Kulihat ia sedang berdiri dekat pohon, berbincang dengan Yoo Chun dan Hye Rin. Aku mengambil napas panjang sebelum berjalan kearah mereka, kuharap Hye Rin tidak marah lagi padaku karena aku tidak memberitahukan soal pernikahan ini padanya.

“Yoo Chun ssi, Hye Rin ssi. Terima kasih sudah datang hari ini.”

Hye Rin tidak mengeluarkan sepatah katapun, justru Yoo Chun yang mengulurkan tangannya kearahku dan tersenyum. Aku menyambutnya.

“Selamat atas pernikahan ibumu. Aku tidak menyangka kau akan menjadi adiknya Jae.”

“Terima kasih.” Aku tersenyum dan beralih ke Jae Joong. “Mereka menyuruh kita untuk bersiap sekarang.”

“Baiklah. Sampai jumpa di resepsi.”

Kami berjalan kearah taman dimana altarnya sudah dipersiapkan untuk pernikahan. Baik mom dan Kim ahjussi menginginkan pesta taman untuk pernikahan mereka jadi mereka memilih hotel bintang 5 dengan taman yang terluas. Mereka menginginkan pesta yang tidak terlalu formal. Wedding organizer yang dipilih mom menghias altar dan seluruh taman dengan bunga lili segar, bunga favorit mom. Ketika aku dan Jae Joong sampai didepan pintu altar, hampir seluruh tempat duduk sudah penuh dengan tamu yang sebagian besar tidak pernah kulihat sebelumnya. Mereka adalah relasi bisnis Kim ahjussi, hanya segelintir dari mereka yang kukenali sebagai teman mom.

Acara pemberkatannya dimulai pukul 10 tepat, aku berjalan beriringan dengan Jae Joong sampai kedepan altar kemudian berpencar. Aku berbelok ke kiri sedangkan Jae Joong belok ke kanan, kemudian Kim ahjussi berjalan masuk. Beliau tersenyum  kepada para tamu seraya berjalan ke altar kemudian berhenti tepat disamping Jae Joong dan berbalik menghadap kearah pintu. Kulihat mom sudah berdiri disana, menunggu tanda dari MC kemudian mulai berjalan masuk. Tanpa sadar aku menahan napas ketika beliau berjalan masuk, beliau terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin yang sederhana. Aku hampir saja menitikkan air mata jadi aku buru-buru mengerjapkan mata.

Beliau menyambut tangan Kim ahjussi ketika sampai dan bersama-sama mereka menghadap altar. Saatnya tiba untuk mengucapkan sumpah, aku mengambil buket bunga dari tangan mom dan Jae Joong bergerak maju, menyiapkan cincin ditangannya. Aku melihat mom menahan napas saat Kim ahjussi menyematkan cincin di jari manisnya. Pemberkatan selesai pada pukul 12, pengantin baru berjalan keluar diiringi lagu kemudian disusul oleh aku dan Jae Joong.

Kami berjalan menuju area resepsi yang masih berada di dalam taman. Meja-meja sudah siap dan para pelayan sudah menunggu sampai semua tamu duduk dan mulai melayani. Mom dan Kim ahjussi, oh aku lupa harus memanggil beliau dad mulai sekarang, duduk dengan orang tua Hye Rin dan yang lainnya. Aku menyebutnya meja para orang tua sedangkan disini, tempat aku duduk, adalah meja anak muda karena hanya yang muda-muda yang duduk disini. Aku duduk diantara Yoo Chun dan Jun Su sedangkan Jae Joong duduk diantara Yoo Chun dan Hye Rin. Yun Ho duduk disebelah Jun Su dan sisanya adalah teman Jae Joong.

“Baiklah, sekarang saatnya untuk dansa pertama bagi pasangan pengantin baru. Tepuk tangan yang meriah untuk tuan dan nyonya Kim.”

Dad mengambil tangan mom dan membimbingnya ke lantai dansa. Band memainkan lagu kesukaan mom, I Finally Found Someone dari Barbra Streisand. Mereka tampak sangat bahagia dan aku bisa melihat cinta melalui tatapan mereka, hampir seperti pemujaan. Semua tamu tampak terpesona dengan dansa mereka dan ketika lagu berakhir, para tamu berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah.

“Wow, penampilan yang sangat menarik dari pasangan pengantin baru kita. Sekarang, kita akan melihat mereka berdansa dengan anak-anak mereka juga untuk pertama kalinya. Jae Joong ssi dan Joo Yeon ssi, silahkan maju dan mengambil posisi.”

Aku berjalan bersama Jae Joong menuju lantai dansa, aku berdiri dihadapan dad dan ia berdiri dihadapan mom. Kali ini band memainkan salah satu lagu kesukaanku, When You Love Someone dari Bryan Adams. Aku melihat ke arah dad, beliau tersenyum padaku dan kami berbincang-bincang selama dansa tapi aku harus meminta maaf berkali-kali karena aku selalu menginjak kaki beliau. Aku benar-benar bersyukur mempunyai ayah sepertinya.

Sayang sekali lagunya cepat berakhir karena aku benar-benar menikmati dansa dengan beliau. Kami berjalan kembali ke meja masing-masing dan menunggu pasangan pengantin memotong kue dan MC menyuruh mereka untuk saling suap kemudian mengajak para tamu untuk mengangkat gelas sampanye untuk bersulang. Aku tidak pernah menyukai minuman beralkohol tapi untuk menghormati orang tuaku, mungkin aku akan mencobanya sedikit. Aku melihat Jun Su juga melakukan hal yang sama. Pandangan kami bertemu dan kami tersenyum sambil mengangkat gelas.

Setelah prosesi selesai, akhirnya saat untuk bersantai. Pasangan pengantin baru berjalan menghampiri para tamu dan menyapa mereka. Aku duduk dikursiku tanpa keinginan untuk melakukan apapun. Aku sangat lelah dengan pesta hari ini, aku bingung bagaimana mom masih bisa menyapa para tamu tanpa merasa kelelahan sedikit pun. Aku memperhatikan sekeliling mejaku, Hye Rin sibuk dengan Jae Joong. Ia terus menempel pada Jae Joong sejak resepsi dimulai. Aku tidak peduli apa yang mereka lakukan, itu bukan urusanku. Tiba-tiba mom datang menghampiriku.

“Joo Yeon ah, kau tidak mau berdansa? Ini saatnya untuk bersenang-senang, jangan hanya duduk disini.”

“Omma, aku letih dan sedang tidak ingin berdansa.”

“Tapi setidaknya biar omma lihat kau berdansa satu kali saja dengan pria-pria tampan disini.”

Aku tidak bisa menolak permintaannya karena aku tahu aku akan membuatnya sedih. Lagipula, beliau mengatakannya dengan sangat lantang dan sekarang para pria yang ada di mejaku melihat kearahku.

“Baiklah, hanya satu kali.”

Aku menghela napas dan memperhatikan wajah-wajah dihadapanku. Aku sudah memutuskan.

“Jun Su oppa, boleh aku berdansa denganmu?”

Aku melihat Jun Su sedikit terkejut dengan tawaranku tapi ia lalu tersenyum kemudian berdiri dari kursi dan mengulurkan tangan padaku. Aku menyambutnya dan kami melangkah ke lantai dansa. Aku meletakkan tangan kiriku di bahunya dan ia meletakkan tangan kanannya di pinggangku. Kami baru berdansa beberapa menit tapi aku sudah menginjak kakinya beberapa kali, seperti yang terjadi pada dad.

“Mianhae, oppa. Aku benar-benar penari yang buruk. Aku juga  menginjak kaki appa beberapa kali.”

Ia tersenyum. “Tidak apa-apa. Setidaknya kau tidak menginjak kakiku dengan tumit sepatumu. Jika kau lakukan itu, kakiku akan berlubang-lubang sampai akhir.”

Aku tertawa mendengar candaannya. “Oppa, tentu saja tidak sampai separah itu. Oh ya, kulihat kau tidak pernah minum minuman beralkohol. Ada alasan khusus?”

“Aku tidak mengira kau memperhatikanku sedemikian rupa.” Ia menggodaku.

“Hanya kebetulan saja. Aku ingat kau memesan minuman ringan sewaktu di klub dan hari ini, lagi-lagi kau melakukan hal yang sama dengan sampanye.”

“Sebetulnya tidak ada alasan khusus untuk itu. Aku hanya tidak suka minuman beralkohol.”

“Ah, ternyata begitu. Kalau begitu kita sama, kelompok pembenci alkohol.”

Kami berdua tertawa lepas. Aku sangat menikmati berbincang dengannya, ia sangat baik dan kebetulan kami sama-sama tidak menyukai minuman beralkohol. Betapa aku berharap ia yang menjadi kakak tiriku dan bukan Jae Joong. Aku dan Jae Joong bisa dibilang seperti medan magnet yang sama sedangkan dengan Jun Su, aku merasa kalau kami seperti medan magnet yang berbeda.

“Boleh kuambil alih dari sini? Aku seharusnya mendapatkan kehormatan untuk berdansa dengannya karena aku kakaknya sekarang.”

Kami berdua langsung berhenti berdansa dan melihat kearah si pemilik suara. Jae Joong, kenapa ia harus mengganggu dansaku dengan Jun Su? Dan kemana Hye Rin? Bukankah ia harusnya berdansa dengan Hye Rin?

*****

Aku merasa bosan duduk disini tanpa melakukan apapun. Aku tidak tahu kemana Hye Rin pergi untuk menerima telepon, sudah 30 menit berlalu dan ia masih belum kembali sampai sekarang. Lalu kulihat Joo Yeon dan Jun Su tertawa di lantai dansa, mereka terlihat sangat nyaman satu sama lain. Alisku bertaut, harusnya ia berdansa denganku dulu karena aku kakaknya. Aku bangkit berdiri dan berjalan menghampiri mereka.

“Boleh kuambil alih dari sini? Aku seharusnya mendapatkan kehormatan untuk berdansa dengannya karena aku kakaknya sekarang.”

Mereka langsung berhenti berdansa dan melihat kearahku.

“Baiklah, kuserahkan kembali adikmu yang cantik padamu.”

Jun Su melepaskan tangannya dari Joo Yeon dan memberikan padaku. Aku tahu Joo Yeon merasa terganggu dengan kedatanganku. Aku meletakkan tanganku di pinggangnya dan mulai berdansa.

“Kulihat kalian tertawa tadi, ada lelucon bagus dari Jun Su?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku, sebaliknya ia balik bertanya.

“Dimana Hye Rin? Bukankah kau harusnya berdansa dengannya?”

“Ia menerima telepon dan belum kembali sampai sekarang. Aku merasa bosan duduk jadi lebih baik aku berdansa. Lagipula, bukankah harusnya kau berdansa dulu denganku sebelum berdansa dengan Jun Su? Aku kakakmu.”

“Hanya karena kau kakakku, kakak tiri tepatnya, bukan berarti aku harus dansa denganmu terlebih dahulu.”

Ia menginjak kakiku lagi dan aku menunjukkan ekspresi kesakitan padanya. Seperti yang pernah ia katakan padaku, ia tidak bisa berdansa tapi kulihat ia tidak berniat untuk minta maaf jadi kugoda ia.

“Kau benar. Kurasa kau harus mengambil les dansa sebelum kau membuat lubang di kaki orang.”

Ia menatapku dengan sengit dan aku merasa ia bisa saja membuat lubang di kakiku jika ia terus menginjaknya. Ia terlihat lega saat lagu yang dimainkan band berakhir, akupun merasa lega karena bisa menyelamatkan kakiku sebelum dibuat berlubang olehnya. Ia berjalan mendahuluiku ke arah meja dan mengambil segelas air. MC mulai berbicara lagi.

“Akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba khususnya bagi para single. Pengantin wanita akan melempar buket kearah kalian para singles dan siapapun yang mendapatkannya, semoga kalian segera menuju pelaminan. Jadi segera ambil posisi kalian dan ulurkan tangan kalian setinggi mungkin untuk menangkapnya. Ingat, jangan saling dorong.”

Aku melihat mom berbisik ke MC.

“Ada permintaan khusus dari pengantin wanita. Seo Joo Yeon, harap maju kedepan dan berdiri diantara para singles ini.”

Aku lihat raut mukanya yang merasa terganggu dengan permintaan mom, aku berani bertaruh ia tidak menyukai acara seperti ini. Aku juga merasa konsep lempar buket ini terasa menggelikan. Tidak masuk akal menurutku karena jika seseorang akhirnya memutuskan untuk menikah maka itu murni keputusan mereka, bukan karena mereka mendapatkan buket dari yang menikah. Tapi ia berjalan juga ke arah kerumunan dan berdiri paling belakang. Dari posisinya, aku yakin ia tidak akan mendapatkan buket itu.

“Joo Yeon ah, pastikan kau mendapatkan buket ini.”

Mom berteriak dari depan dan ia hanya tersenyum. Kemudian pengantin wanita membalikkan badan, punggungnya sekarang menghadap ke para peserta dan mulai mengayunkan buket. Aku merasa kalau ia tidak akan mendapatkan buket itu jadi aku segera berdiri disampingnya dan ketika buket akhirnya dilempar, aku mengulurkan tanganku keatas dan buket itu mendarat dengan aman di tanganku. Ia terlihat terkejut ketika menyadari aku berdiri disampingnya. Aku tidak berniat untuk ikut acara ini, aku hanya ingin membantunya mendapatkan buket itu. Setidaknya mom akan senang melihat ia mendapatkan buket ini. Kuserahkan buket itu padanya, ia melihat kearahku dengan tatapan bingung.

“Omma akan senang jika ia melihat kau mendapatkan buket ini.”

“Tapi aku—”

“Oppa!”

Tiba-tiba Hye Rin muncul entah darimana dan terlihat kesal. Kami berdua melihat kearahnya. Ia melihat ke arah Joo Yeon dan ke buket ditangannya kemudian beralih padaku.

“Kenapa kau berikan buket itu padanya? Oppa harusnya memberikan buket itu padaku!”

“Hye Rin ah.” Aku mencoba memperingatkannya untuk menurunkan volume suaranya. Orang-orang mulai memperhatikan kami.

“Hye Rin ssi, maaf. Tidak seharusnya aku mengambil. Ini.”

Joo Yeon menyerahkan buket itu padanya tapi ia menepisnya, buket itu jatuh ketanah. Orang-orang semakin memperhatikan kami. Joo Yeon terlihat kaget, ia berjongkok dan mengambil buket itu dari tanah. Aku melihat Yoo Chun berjalan menghampiri kami dengan rasa penasaran. Ia tiba pada saat Hye Rin mulai meluapkan emosinya pada Joo Yeon.

“Aku tidak butuh! Dan jangan berpura-pura baik padaku.”

“Apa yang terjadi disini?” Yoo Chun bertanya padaku.

“Kau kira kau siapa? Apa kau mencoba merebut oppa dariku?”

“Hye Rin ssi, aku tidak bermaksud untuk—”

“Berhenti menunjukkan wajah lugu padaku.”

“Hye Rin ah, cukup! Kau sudah keterlaluan.”

Yoo Chun meraih lengannya dan menariknya mundur. Hye Rin terlihat sangat marah, ia melepaskan lengannya dari genggaman Yoo Chun dan menatap Joo Yeon.

“Tidak, ia perlu tahu dimana posisinya disini.”

Joo Yeon terkejut mendengar perkataan Hye Rin dan hanya bisa berdiri mematung. Aku lihat keadaan akan semakin buruk jika aku tidak bertindak jadi aku meraih lengan Hye Rin dan menariknya keluar dari taman. Adegan pertengkaran ini sudah menarik perhatian para tamu dan aku tidak mau merusak pesta pernikahan orang tuaku hanya karena masalah sepele seperti ini. Aku mengajaknya ke kolam renang, tidak jauh dari taman. Ia masih terlihat emosi.

“Hye Rin ah, jangan bersikap seperti itu lagi oke?”

“Oppa, apa kau memarahiku juga? Tidak masalah jika Chun oppa memarahiku tapi kau tidak boleh.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Hye Rin ah, aku tidak memarahimu tapi hanya mengingatkanmu untuk tidak bertindak sembrono seperti tadi. Kau hampir merusak pesta pernikahan orang tuaku, tahu tidak? Semua tamu melihat kearah kita tadi.”

“Joo Yeon mencoba merebutmu dariku. Ia mendapat buket darimu.”

“Kau salah paham. Aku yang memberikan buket itu padanya karena ibunya ingin ia mendapatkannya tapi karena kulihat posisinya tidak menguntungkan, makanya kubantu.”

“Tapi—”

“Hye Rin ah, dengarkan aku. Aku hanya ingin membuat ibu baruku bahagia di hari pernikahannya, apakah itu salah?”

Ia menghela napas. “Tidak.”

“Bagus. Tahu apa kesalahanmu sekarang?”

“Aku menuduh Joo Yeon sebelum tahu jelas situasinya. Apa sekarang aku dimaafkan?”

“Tentu saja, anak nakal. Lain kali, pikir dulu sebelum bertindak atau berbicara oke?”

Ia mengangguk dan segera memelukku. Aku terkejut sebelum akhirnya menepuk punggungnya dan tersenyum. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa marah padanya, maksudku benar-benar marah. Aku selalu menganggapnya adik kecil yang harus selalu diberitahu jika melakukan kesalahan dan tidak pernah memarahinya. Satu hal lagi, aku tidak tahu kenapa aku membantu Joo Yeon mendapatkan buket itu. Itu tidak seperti aku yang biasa, yang tidak suka berpartisipasi dalam hal-hal semacam itu tapi hari ini, kurasa aku kehilangan akal sehatku.

*****

Aku tidak percaya Hye Rin bisa mengatakan hal seperti itu. Ia berpikir kalau aku akan merebut Jae Joong darinya hanya karena ia melihat Jae Joong memberiku buket ini. Aku memandangi buket ditanganku. Aku tidak meminta bantuan Jae Joong untuk ini jadi kenapa ia melakukannya? Yoo Chun berjalan mendekatiku, ia terlihat menyesal.

“Joo Yeon ssi, kau baik-baik saja?”

“Ya, aku tidak apa-apa.”

“Aku minta maaf atas nama Hye Rin. Ia telah berbuat kasar padamu.”

“Aku bisa mengerti kenapa ia berbuat begitu.”

“Hye Rin selalu bereaksi seperti itu setiap kali ia melihat ada wanita yang terlalu dekat dengan Jae. Ia selalu berpikir kalau Jae akan diambil darinya.”

“Ah, ternyata begitu.”

Aku mengangguk tapi penasaran dengan apa yang Hye Rin pikirkan tentangku. Aku harap ia tidak menganggapku seperti saingan karena itu tidak akan pernah terjadi. Hye Rin berjalan kembali ke taman dengan Jae Joong, ia terlihat lebih tenang dan sudah bisa tersenyum padanya tapi ketika mata kami bertemu, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Aku sudah membuat kacau hari ini dan membuat Hye Rin melihatku seperti musuh.

Pesta akhirnya berakhir pukul 4 sore, aku benar-benar kelelahan setelah mengantar semua tamu sampai ke pintu depan. Mom ikut pulang dengan suami barunya ke rumah mereka sementara aku akan kembali ke apartemen hanya untuk hari ini karena aku belum selesai membereskan barang-barangku. Kami setuju untuk tidak menjual apartemen ini, siapa tahu apartemen ini akan berguna suatu hari nanti. Mom meminta Jae Joong untuk mengantarku pulang dan aku tidak bisa menolak. Sampai di mobil, aku bertanya padanya mengenai Hye Rin.

“Uhm, Jae Joong ssi. Mengenai—”

“Apa?”

“Hye Rin…apakah ia baik-baik saja?”

“Yup, ia baik-baik saja. Ada masalah?”

“Hye Rin sangat marah tadi, sepertinya ia telah salah sangka padaku.”

Ia tertawa.

Alisku bertaut. “Kenapa kau tertawa? Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu?”

“Maaf. Kau tidak perlu khawatir padanya. Hye Rin selalu bersikap seperti itu tapi ia tidak salah sangka denganmu.”

“Benarkah? Aku merasa tidak enak karena kami bekerja di kantor yang sama dan Yoo Chun adalah bosku.”

“Sebetulnya ini semua salahku. Jika aku tidak memberikan buket itu padamu mungkin Hye Rin tidak akan marah.”

“Betul, kenapa kau berikan buket itu padaku? Seharusnya kau berikan pada Hye Rin.”

“Aku ingin saja berikan padamu.” Ia tersenyum mencurigakan. Ketika ia melihat wajah bingungku, ia melanjutkan. “Sudah jangan dipikirkan lagi, oke?”

Tapi aku tidak bisa melupakan begitu saja tanpa berpikir apa maksud dibelakang peryataannya tadi lalu kemudian kupikir mungkin ia hanya bermaksud menjadi kakak yang baik. Aku menarik napas, kuharap perselisihan antara aku dan Hye Rin berhenti sampai disini. Aku tidak butuh musuh untuk saat ini. Ia menurunkanku didepan apartemen dan memberi tahu kalau besok pagi akan ada supir yang menjemputku. Aku mengucapkan terima kasih dan berlalu masuk ke apartemen.

Posted on 15 Juni 2011, in AUTHOR and tagged , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. aduh.. jangan” jaejoong udah suka sama joo yeon..

    hye rin cemburuan banget si.. jaejoong baru ngasi 1 buket bunga dan itu pun boleh dapet.. coba ntar dikasi rumah gedong.. cekit” kali tuh hye rin..

    yoochun kayanya suka sama joo yeon deh… *asal nebak..

    joo yeon kayanya ntar suka sama junsu deh..

    haha tambah ngarang aku..

    pasti nanti ada cinta segibanyak disini.. haha

    NICE FF CHINGU

  2. Hyerinnya lebay wahahaha ditunggu lanjutannya😀

  3. kren author…
    Next part d tunggu yah..
    Dan,,emh,,q mu bca part sbelum’a dlu..
    Hehe..
    Annyong..

  4. Keren,,
    suka sama ff ini..

    Ayo dlanjut,
    ga sabar pngen baca next part😀

  5. Catharina & Kim Joo Yeon

    @ all : Thx buat commennya🙂 bikin author makin semangat …

    Kalau aku jadi Joo Yeon bingung pastinya memilih siapa hehehe :p Jae Joong yang cool, Yoo Chun yang baik hati atau Jun Su yang lucu , bagaimana dengan kalian ?

    untuk yang lain yang juga uda baca tinggalin comment ya, kritik dan saran sangat diperlukan ^__^ Gomawo

  6. ah ff ini aku suka bgt, knp d post y lama bgt. . .
    Kapan jooyeon n jaejoong mulai ada rasa, hye rin mereka blm da rasa suka ja dah ng’lambrak! Gmn nanti kalo jae dah suka. . . .
    Makin seru, Lanjut jgn lama2 ya author. . . .

  7. Akhir’a ada lnjtn’a jg…
    makin seru aj nih ><

    itu ci hyerin jd org nyebelin amat sih..
    selalu aj sentimen…

    btw lnjtn'a jgn lama2 ya thor, penasaran nih

  8. Kok adenya yoochun nakal sih -____-”
    *jewer nih

    Aku suka loh sm ceritanya ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
    Menarik gitu… Bahasanya juga enak gampang di cerna dan dimengerti.
    Ceritanya padat, gak berlibet-libet.
    Jadi makin seru kalo dibaca sering-sering ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~

  9. bakal complicated ni pasti.. makin seruuuuuuuuuu

  10. missnandaa 최민호

    Akhirnya ada juga ini lanjutannya. Ah hyerin somplak nih bikin ancur pesta org =_=!!
    Jaejoong juga it Hyerin dimanjaiin bgt, dksh pljaran kek skali kali.
    Jooyeon sm junsu aja dah, lbh baik tuh

  11. Haaa kyknya aku telat deh komennya padahal udh baca lama tp komennya gamasuk masuk -___-”

    Aku suka deh ff ini jooyeon nya harus milih 3 cowok ganteng….maujgkykgt
    Tp ini ff nya kalo di post suka lama yaaa aku jd penasaran.. Heheheheee ditunggu next partnya

  1. Ping-balik: (NC-17) With All My Heart – Chapter 5 (New Home) « ミ SHINee Super Shinki FF Indo ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: