[FF/G] BARBY SITTER Part 2

Main Cast:

  • Kim Kibum as Gwebon
  • Lee Jinki
  • Kim Jonghyun
  • Lee Taemin as Taeyon
  • Choi Minho

 

Support Cast:

  • Tiffany SNSD
  • Heechul Suju as Nyonya Heesica
  • Lizzy After school
  • Jiyeon T-ara
  • Jung Joori as Madam Joori
  • Luna f(x) (cameo)
  • Mir Mblaq (cameo)

 

Genre: Romance Komedi

 

Rating: G

 

HUWANNYEEOOOONNGGGG!!!!

Akhirnya GeGey, istri ‘tua’ Mr. Kim Bling Dino merilis part duanya.. Semoga part dua ini masih dapat menghibur kalian.

Happy reading!! ^^

 

 

Gwebon POV

 

Kalian tahu siapa aku??

 

Kim Gwebon.

Ketua geng ‘Hot Barb’.

 

Kalian tahu kenapa aku yang menjadi ketua?

 

Tuhan yang memilihku.

Namaku langsung keluar dari gelas kocokan.

 

Baiklah, harus kuakui itu hanya keberuntungan. Tapi aku menjalani tugasku sebagai ketua dengan baik.

Aku berdandan mati-matian agar menjadi yang tercantik digeng, dan juga di sekolah, atau mungkin di Korea.

Aku selalu menjaga wibawaku di depan semua guru agar gengku mendapatkan kepercayaan untuk mengatur OSIS. Jika disekolah kalian OSIS yang mengatur kalian, disekolah kami ‘Hot Barb’lah yang mengatur OSIS.

Aku selalu mengepel lantai setiap pagi, mencuci baju sepulang sekolah, mencuci piring setiap malam dan membereskan tempat tidurku sendiri. Hal itu kulakukan sebagai pengganti olah raga agar ototku tetap aktif dan bertambah kuat, aku tidak suka olah raga.

 

‘Hot Barb’ sudah terbentuk sejak kami kelas satu. Kami menjadi dekat karena memiliki kesamaan, kami hanya mau berteman dengan yeoja cantik. Kedekatan kami semakin kuat saat mengetahui kalau misi kami sama, yaitu menjadi ibu rumah tangga yang baik dan melahirkan anak kembar.

 

Semua mata melirik kearah kami.

Beginilah resiko yeoja cantik. Selalu menjadi pusat perhatian dimanapun.

 

“Kau suka yang ini??”

Tiffany menawarkan hot pant pada Taeyon, tapi Taeyon menggelengkan kepalanya. Tiffany menaruh kembali hot pant yang dia pilih dan mulai mencarikan baju lain untuk Taeyon.

 

Tiffany, dia paling bijaksana dan perhatian. Berbeda dengan Jiyeon. Jiyeon paling kekanak-kanakan, oleh sebab itu dia paling egois. Tapi dia bisa diandalkan untuk urusan merayu orang.

 

Sedari tadi Jiyeon hanya sibuk mencari baju untuk dirinya sendiri. Sesekali dia meminta pendapat padaku. Tapi tidak kujawab. Seharusnya dia membantu Taeyon mencarikan baju.

 

Lizzy..

Dia..

 

“KYYAAAA!!!!!!!”

 

“Mian!”

 

“KYYAAAAAA!!! Jika tirainya tertutup berarti ada orang didalam!!”

 

“Mian.. aku tidak sengaja”

 

Lizzy, dia membuka tirai semua kamar pass.  Penyakit jahilnya tidak pernah melihat situasi dan kondisi. Harus kuakui dia paling kreatif dan inovatif. Dia selalu memberikan ide-ide segar untuk menghukum setiap anak yang berani mengusik ketentraman kami.

 

“Tiffany”

Jiyeon meminta pendapat Tiffany tentang baju yang ditemukannya.

“Bagus.. Taeyon, coba kau pakai”

Tiffany mengambil paksa baju dari tangan Jiyeon dan memberikannya pada Taeyon.

“Tapi.. itu baju untukku..” protes Jiyeon. Bibirnya dimanyunkan untuk mendapat simpatik dari Tiffany. Tiffany tidak menghiraukan Jiyeon, dia mendorong Taeyon menuju kamar pass.

“Jaga kamar passnya.. hati-hati pada Lizzy.. sekalian suruh Taeyon coba baju yang ini.”

Aku memberikan beberapa pakaian yang sudah kupilihkan kepada Tiffany. Aku jamin pasti baju pilihanku yang akan cocok untuk Taeyon.

 

 

“Aku lebih suka yang ini”

Tiffany memberikan suaranya pada baju yang kupilih. Aku tidak menyangka kalau bajunya terlihat pass dibadan Taeyon. Kalau aku perhatikan, Taeyon terlihat cantik.

“Na do.. semua yang eonni pilihkan cocok pada Taeyon..”

Lizzy juga memberikan suaranya untuk dress biru muda yang kupilihkan.

“Itu karena memang pada awalnya aku memilih baju yang cocok untukku..”

Jiyeon membela dirinya.

“Ternyata Taeyon cantik”

Pandangan Tiffany tidak lepas dari Taeyon. Matanya terus menjelajahi Taeyon dari ujung kepala hingga kaki. Taeyon hanya menunduk tersipu malu.

“Aku tidak akan sembarangan memasukan member baru kedalam geng kita”

Akhirnya aku menemukan alasan untuk memasukan Taeyon kedalam geng ‘Hot Barb’. Aku tidak bisa memberitahu mereka kalau alasanku yang sebenarnya adalah karena sekarang aku baby sitternya Taeyon yang harus menjaganya bahkan disekolah.

 

“Aku tidak sabar membawanya ke salon.. apa dia akan terlihat lebih cantik dariku??”

Lizzy pun terpana pada penampilan Taeyon yang baru.

“Kupikir Taeyon memang sudah lebih cantik darimu Lizzy..”

Kini Jiyeon pun ikut memuji Taeyon.

“Pantas saja dia mendapatkan salam dari Choi Minho”

Tiffany mengingatkanku pada kemyataan pahit itu. Aku masih belum menerima kalau Choi Minho lebih menyukai yeoja culun Taeyon daripada diriku. Yaa..sekarang Taeyon menjadi semakin cantik. Choi Minho pasti akan lebih tergila-gila padanya.

 

“Kenapa eonni?? Kau sedang tidak mood??”

Jiyeon mengipas-ngipaskan tangannya didepan wajahku.

“Ayo kita kesalon.. Khaja!”

Aku berdiri dan menyampirkan tasku dibahu.

“Kau tidak akan belanja eonni??” tanya Jiyeon.

“Aku sedang tidak mood.”

Kulihat Jiyeon memutar bola matanya. “Kau tidak mungkin kehilangan mood belanja.”

“Aku juga ingin cepat-cepat kesalon.. warna rambutku sudah memudar..”

Lizzy memainkan ujung rambutnya.

“Aku akan temani Taeyon membayar baju-bajunya”

Tiffany mendorong kembali Taeyon kedalam kamar pass, menyuruhnya untuk melepaskan pakaian yang dipakainya. Seperti yang sudah kukatakan, Tiffany memang perhatian. Aku sendiri bahkan lupa kalau Taeyon harus membayar baju-bajunya.

 

 

“Bagaimana kalau caramel??” Lizzy membantu Taeyon memilih warna rambut.

Ini pertama kalinya Taeyon mewarnai rambutnya. Kami jadi kesulitan memilihkannya warna rambut yang cocok.

 

“Kau tidak akan mewarnai rambutmu eonni??” tanya Tiffany sambil melihat-lihat majalah.

“Tidak..” jawabku. Aku mengambil majalah dan mulai memeriksa tanggal terbitnya. Majalah basi. Aku menaruhnya kembali.

“Blonde??” Tiffany menyodorkan majalah kearahku, telunjuknya mengetuk-ngetuk gambar seorang yeoja pirang.

“Mwo??” tanyaku.

“Sepertinya akan cocok untukmu.”

Pirang?? Aku belum pernah mencobanya. Aku tahu pasti akan cocok untukku. Tapi.. apa tidak terlalu mencolok?

“Lain kali saja.” Jawabku.

Tiffany kembali membuka lembaran majalahnya. Terlihat dari moodnya kalau dia juga sedang tidak ingin merubah warna rambutnya.

“Sepertinya coke float boleh juga..” gumam Tiffany.

 

 

“Kudengar  weekend nanti Minho akan bertanding..”

Lizzy memandangi dirinya dicermin, sementara banci salon itu mengoleskan cream pewarna rambut dirambutnya.

“Choi Minho?” tanyaku.

Aku hanya duduk disamping Taeyon, menemaninya.

“Ne.. apa kita akan datang? Di Universitas Cheongdam..”

Lizzy melirik kearahku. Kulihat Taeyon langsung bereaksi saat mendengar kata Choi Minho.

“Cheongdam??” tanya Taeyon.

“Kau juga harus ikut Taeyon.. kami akan mengenalkanmu pada seluruh dunia sebagai member baru kami..” jawab Lizzy.

“Kalau aku tidak ikut bagaimana?”

“Kenapa kau tidak ikut?” tanyaku.

Taeyon hanya diam tidak menjawab pertanyaanku. Jika Taeyon tidak bisa ikut maka aku pun tidak bisa. Siapa yang akan menjaganya?. Aku tidak bisa membiarkan Jinki mengubur Taeyon hidup-hidup.

“Aku juga tidak ikut.. lagi pula sudah ada cheers bukan?”

“Sepertinya tidak akan ada cheers yang akan pergi kesana..” Lizzy menoleh kearahku, banci salon itu mengarahkan kepala Lizzy kembali menghadap cermin.

“Wae? Apa yang sudah kau lakukan Lizzy?”

Firasatku mengatakan telah terjadi sesuatu pada anggota cheers sekolah kami. Dan itu pasti ulah Lizzy.

“Kau lupa eonni? Beberapa anggotanya menggunakan parfum yang sama denganmu? Dan kau menyuruhku untuk membakar markas cheers..”

Mwo? Aku baru ingat!.

“Kau benar-benar membakarnya?” tanyaku.

“Ahni! hanya.. membakar seragam dan pom-pom mereka..”

“Semuanya??”

“Itu karena aku tidak tahu seragam mana dan milik siapa..jadi aku bakar saja semua”

“Good job!” pujiku.

“Kenapa kalian harus melakukan itu..? bukankah itu hanya masalah kecil?”

Aigoo.. Taeyon masih harus aku ajari bagaimana bertahan hidup ala Hot Barb.

“Beginilah cara kami.. kau harus mulai membiasakan dirimu Taeyon.” Jawabku.

 

“Ngomong-ngomong soal Choi Minho.. sepertinya dia sedang menuju kemari..” bisik Jiyeon kepada kami.

Aku mengawasi kedatangan Minho melalui cermin. Dia memang menuju kemari.

“Apa yang dia lakukan disini?” tanyaku berbisik kepada Jiyeon.

Minho duduk di ruang tunggu bersama Tiffany. Mereka mulai mengobrol.

 

“Aku bertemu dengannya didepan salon..dia kelihatan senang sekali saat kuberitahu kalau kita semua ada disini.”

Jiyeon duduk di sampingku dan mulai memperhatikan Taeyon yang sedang di ozon.

 

Aku menghampiri Minho yang sedang mengobrol dengan Tiffany. Aku duduk disampingnya. Kini Minho diapit oleh dua yeoja cantik.

“Ada apa?” tanyaku. Aku mengambil majalah basi dan pura-pura membacanya.

“Kami butuh kalian untuk menyemangati kami sabtu nanti.. ada pertandingan di universitas Cheongdam.”

Minho membalikan badannya mengarah karahku.

“Kami bukan cheers.” Jawabku.

“Anggota cheers tidak bisa datang.. kuharap kalian bisa.”

Aku senang sekali mendengar Minho memohon kepadaku. Aku ingin datang tapi tidak mungkin membiarkan Taeyon sendirian. Lagipula, gaji satu hari lumayan untuk biaya kesalon.

“Aku tidak bisa.. mungkin Tiffany dan yang lainnya bisa..”

Aku menaruh majalah basi kembali diatas meja. Mataku sudah tidak tahan melihat style kadaluarsa.

“Tiffany?” Minho menoleh kearah Tiffany.

“Aku tidak bisa jika eonni juga tidak bisa.” Jawabnya.

“Wae?? Kalau kau dan Gwebon tidak bisa maka otomatis Jiyeon dan Lizzy pun tidak akan datang..” Minho terlihat sangat kecewa.

“Terima saja Minho..”

Aku melipat kedua tanganku didada. Entah kenapa aku merasa puas sekali melihat Minho kecewa karena ketidakhadiranku.

Sebenarnya aku sedikit jual mahal. Jika Minho yang memintanya.. aku pasti datang. Akan kupaksa Taeyon ikut.

 

//

 

“Jadi..Jinki oppa.. dia kuliah di Cheongdam??”

Taeyon mengangguk.

 

“Dan dia adalah panitia pertandingan basket yang diadakan Universitas Cheongdam.. kenapa bisa kebetulan sekali..”

Aku tidak habis pikir. Kenapa sekarang hidupku mulai dipersulit oleh seseorang yang bernama Jinki.

Aku tidak bisa datang menyemangati Minho kalau begini.

 

Haahhhh~ aku melemaskan tubuh hingga terkulai dikursi.

 

“Kau mau jus?? Akan kubuatkan..”

Taeyon beranjak dari tempat tidurnya.

“Teh.” Pintaku.

 

 

Sudah setengah jam tapi Taeyon belum juga kembali. Mengapa lama sekali?

Atau jangan-jangan?

 

Aku berjalan keluar kamar. Kulihat sekeliling ruang keluarga dan juga dibawah sofa.

Tidak ada tanda-tanda Taeyon disini.

 

“Taeyon!!”

 

Tidak ada jawaban.

 

“TAEYON!!”

 

Masih belum ada jawaban.

 

“Kau siapa?”

 

Seorang yeoja menepuk bahuku.

 

“Ne?”

“Kau siapa?” tanyanya seklali lagi.

“Kim Gwebon.” Jawabku.

“Aku tidak menanyakan namamu, maksudku.. siapa kau?”

Gelagatnya sok sekali. Kuakui memang pakaian yang dikenakannya pasti mahal. Tapi tetap saja tidak membuatnya lebih cantik.

“Aku. Baby sitter.”

 

Yeoja ini melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku menatapnya sinis. Sebagai tanda kalau aku tidak suka atas perlakuannya.

 

“Kau masih seorang pelajar? Kukira kau yeojachingu anakku.”

Yeojachingu siapa? Siapa anaknya?

 

“Heesica memperkerjakanmu? Jika aku jadi dia, akan kupecat kau.”

“Apa maksudmu?.”

“Lihat. Kau terlalu cantik untuk menjadi baby sitter. Kedua, kau tidak sopan. Kau tidak tahu siapa aku?.”

 

Mana aku tahu.

 

“UMMA!!”

Suara seorang namja mengalihkan perhatianku. Aku menoleh kebelakang dan melihat Jinki oppa berlari menuruni anak tangga.

 

“Jinki.. kau semakin tampan saja..”

Yeoja ini langsung memeluk Jinki oppa saat Jinki oppa menghampirinya.

 

OMG! Jangan bilang kalau yeoja ini.. ibunya Jinki oppa.

 

“Umma, apa yang kau lakukan dengannya?.”

Jinki oppa melepaskan pelukannya dan menunjuk kearahku.

“Umma tidak menyukainya..”

 

Hahhh.. semakin pusing sajah.

Tidak kupedulikan lagi ibu dan anak ini. Aku kembali mencari Taeyon.

 

“Ya! Kau mau kemana?.”

Jinki oppa berteriak-teriak. Sudah cukup umma dirumah yang berteriak padaku.

“Apa urusanmu!.” Aku balas membentak.

 

“Kau mencari Taeyon??.”

Aishhh! Kenapa aku selalu kecolongan!. Jinki oppa pasti sudah mendapatkan Taeyon.

 

“Apa yang kau lakukan pada Taeyon kali ini?.”

Yeoja itu menanyakan apa yang ingin kutanyakan.

“Dia aku suruh untuk menemani Bubu.”

“Jinjja? Umma mau lihat.”

 

Bubu? Siapa Bubu? Aku tidak yakin kalau Bubu adalah orang baik-baik. Atau jangan-jangan Jinki oppa menjual Taeyon pada seseorang bernama Bubu?.

 

“Hey! Baby sitter! Kau juga mau lihat?.”

Tidak ada pilihan lain. Aku mengikuti mereka untuk memastikan siapa Bubu.

 

 

Aku tidak bisa bernafas.

Apa aku bisa menyelamatkan Taeyon?.

 

“Eonni!!” teriak Taeyon dari dalam kandang. Dia berdiri dipojok, menjauh dari jangkauan Bubu.

 

“Bubu agresif sekali. Kau belum memberinya makan Jinki?.” Jonghyun oppa mengawasi Bubu. Dia tampak menikmati pertunjukannya.

“Sudah. Tapi sepertinya Bubu masih lapar.”

 

Mereka terkekeh-kekeh melihat Taeyon yang ketakutan.

Bukannya tidak mau menolong, tapi.. aku belum pernah berhadapan dengan gorilla sesubur ini.

 

Kaki Bubu diikat rantai, sehingga jangkauannya terbatas. Itulah sebabnya Taeyon tetap berdiri di pojok kandang Bubu.

 

“Bubu.. kau rindu padaku?.” Yeoja itu mendekati kandang Bubu.

Aku tersenyum saat melihat Bubu meraung ganas padanya. Yeoja itu langsung mundur menjauh.

 

Bubu terus meraung. Jujur itu membuatku takut.

 

“Kau takut?.”

Jinki oppa menantangku. Kulihat senyum kemenangan tersungging diwajahnya.

 

“Eonni~” Taeyon tidak lagi berteriak. Dia seperti memohon.

 

Aku tidak mau harga diriku dinjak-injak Jinki.

Tuhaann.. beri aku keajaiban.

 

Perlahan aku mendekati kandang Bubu. Sejauh ini Bubu masih meraung kearahku.

Berkali-kali aku tersentak karena kaget dengan raungannya.

Kakiku terus melangkah mendekati kandang Bubu. Kini aku sudah didepan pintu kandang Bubu.

Aku membuka pintu kandang Bubu. Entah darimana munculnya kenekatanku ini.

Bubu menatapku saat aku menginjakan kakiku dikadangnya.

 

“Sepertinya Bubu akan makan dua porsi.” Perkataan Jonghyun oppa membuatku sedikit gugup.

 

Aku melangkahkan kakiku lebih dekat pada Taeyon.

Lalu tiba-tiba Bubu meraung dan berlari kearahku.

 

“KYAAA!!!!!”

 

Apakah aku mati?. Ya Tuhan apa aku sudah mati?.

Aku tidak merasakan apa-apa. Kepalaku sedikit geli.

Kuberanikan diri membuka mataku. Bubu membelai kepalaku. Hatiku mulai tenang saat melihat wajah mesum Bubu. Ha! Ada gunanya juga paras cantiku ini.

 

“Apa yang Bubu lakukan?.” Protes Jinki oppa.

 

//

 

“Biar kutebak. Jadi Madam Joori itu ibu dari Jinki oppa. Dan kau anak dari Nyonya Heesica. Apa ayahmu mempunyai dua istri?.”

Aku membantu Taeyon menggosok punggungnya.

 

“Ahni.. Appa bercerai dengan Joori umma dan menikah dengan Heesica umma.. setelah itu aku lahir. Appa bercerai dengan Joori umma karena..”

Taeyon memainkan busa di tangannya. Dia meniup busanya hingga busanya berterbangan.

 

“Jangan beritahu aku alasan ayahmu menceraikan Madam Joori. Aku sudah bisa melihatnya.”

Sudah jelas. Madam Joori dan Heesica umma?. Sudah bisa kutebak siapa yang akan dipilih. Bahkan Bubu pun bisa memilih.

 

Ahahahahha.. aku tidak menyangka ternyata Bubu menyukai yeoja cantik. Ternyata Bubu meraung pada Taeyon karena ingin membelai Taeyon. Dengan mudah kami bisa keluar dari kandang Bubu.

Kau harus lihat bagaimana ekspresi Jinki dan Jonghyun, dan juga Madam Joori yang kecewa karena Bubu lebih menyukai kami.

Kini aku tahu darimana Jinki oppa mendapatkan sisi jahatnya. Darimana lagi jika bukan warisan ibunya.

 

 

“Jinki oppa sudah membenciku sejak aku lahir..”

Aku menyisirkan rambut Taeyon.

“Apa salahmu sehingga dia harus membencimu.?”

“Molla, mungkin karena aku anak dari yeoja yang membuat Joori umma diceraikan..”

 

Aku sudah selesai menyisirkan rambut Taeyon. Aku seperti mempunyai boneka hidup. Aku memandikannya, memilihkan baju untuknya, dan mendandaninya.

 

“Kau kubuat keriting rambutmu?.” Tanyaku.

“Bagaimana caranya?.” Taeyon terlihat bingung. Aigoo..cute sekali.

 

Aku mencari pengeriting rambut yang baru kubeli didalam tasku.

Kemana pengeriting rambutnya?. Kenapa tidak ada didalam tasku?. Ah! Mungkin didalam kantung belanjaku.

Aku mulai mencarinya didalam kantung belanjaku.

 

Ketemu!.

 

MWO?. Kenapa Taeyon sudah menghilang lagi?. Aku baru beberapa detik mengalihkan perhatianku dari Taeyon dan dia sudah hilang, lagi!.

 

Aisshhhh!!!! Kutaruh kembali pengeriting rambut kedalam kantung belanjaku.

Aku harus mencari Taeyon lagi.

 

 

“TAEYON!!”

 

Percuma. Hanya suaraku yang menggema dirumah besar ini.

 

“JINKI!!!”

 

Aku tahu Taeyon pasti sudah didapatkan oleh Jinki oppa kembali.

 

“JINKI!!”

“Mencariku?.”

Akhirnya namja ini muncul juga.

 

“Taeyon. Mana?.”

“Sedang membantu Jonghyun memberi makan Pororo.”

Senyumnya licik sekali. Sudah pasti ada yang tidak beres.

Pororo, kuyakin dia tidak akan semanis namanya.

 

Jiyeon diikat dan ditaruh ditengah-tengah kandang beruang. Ada dua ekor beruang.

“Kau bilang Pororo?. Kenapa ada dua?. Siapa nama beruang yang satu lagi!”

“Dua-duanya kuberi nama Pororo..”

Cih! Tidak kreatif.

 

Duo Pororo terus mengitari Taeyon, sesekali mereka mengendus-endus Taeyon.

“Pororo, mereka betina..”

Jinki berbisik ditelingaku kemudian tersenyum lebar. Senyumnya mengatakan kalau kali ini dia yang akan menang.

 

“eonni!” Taeyon tersenyum saat melihatku. Dia tampak yakin aku akan menyelamatkannya lagi.

Sejauh ini Taeyon masih belum disentuh. Itu berarti pertanda baik.

Tanpa ragu aku memasuki kandang duo Pororo. Aku sempat kaget saat Pororo A mendorong punggungku menggunakan kepalanya. Terus mendorongku seperti mengarahkanku.

Kini aku ikut mengitari Taeyon. Situasi ini seperti, kami sedang bermain bersama, kami jadi semakin akrab.

 

Ternyata duo Pororo memiliki kesamaan denganku. Mereka hanya mau berteman dengan yeoja yang cantik. Haruskah aku memasukan duo Pororo kedalam geng Hot Barb?.

 

“Apa-apan ini! kau yakin Pororo betina??” gerutu Jonghyun oppa pada Jinki oppa.

“Molla..” Jinki oppa menggaruk kepalanya, ekspresinya tampak bingung.

“Kenapa semua peliharaanmu mesum?.” Jonghyun oppa pergi meninggalkan Jinki oppa.

Jinki oppa mencibirku kemudian pergi meninggalkan kami.

 

//

 

Kulalui hariku di sekolah dengan sangat membosankan.

Hanya menaruh katak dibekal makan siang Luna, dan menggunting-gunting ransel Mir.

Hhhhh…akhir-akhir ini tidak ada hal yang menarik disekolah.

 

Kami berjalan perlahan. Untung saja matahari tidak terlalu terik. Sebentar lagi kami sampai dirumah Taeyon.

 

“Wae??” tanyaku kepada Taeyon.

Taeyon terlihat gelisah, berkali-kali dia menoleh kebelakang.

 

“Seperti ada yang mengikuti..” gumam Taeyon.

 

Aku membalikan badanku kebelakang. Jalanan perumahan ini sangat sepi. Tidak ada orang satu pun.

Aku kembali kejalanku yang benar. Maksudku.. kembali menuju rumah Taeyon.

 

Setelah beberapa langkah, lagi-lagi Taeyon berhenti dan menoleh kebalakang.

“Aku melihat bayang-bayang..” Taeyon menyipitkan matanya.

“Benarkah?”

Aku mengambil sellphoneku dan mulai menghubungi seseorang.

 

Kudengar bunyi ringtone yang sudah tidak asing lagi. Kecurigaanku terbukti. Tiffany mengikutiku.

 

“TIFFANY!! KELUAR KAU!!” teriakanku membuat Taeyon sedikit tidak nyaman dan menjauhiku beberapa langkah.

 

Tiffany akhirnya menunjukan batang hidungnya. Dia menarik seseorang yang masih bersembunyi dibalik pohon. Jangan-jangan Lizzy dan Jiyeon pun dibawanya.

 

“Heu..heu..Annyeong eonni~..” sapa Jiyeon saat Tiffany berhasil menariknya keluar.

 

//

 

“Rumahmu besar sekali.. pantas saja kau punya gold credit card..”

Mata Jiyeon menelusuri sekeliling kamar Taeyon.

 

Aku menekan-nekan pelipisku. Pusing sekali.

Akhirnya mereka mengetahui kalau anak yang harus kujaga adalah Taeyon.

 

“Eonni.. kukira kita sahabat.. kenapa kau menyembunyikan hal ini dari kita..”

Lizzy mulai menginterogasiku.

 

“Kau pikir kami baru mengenalmu selama tiga hari? Kami sudah mengenalmu selama tiga tahun.. kami mulai curiga ada yang aneh saat kau memutuskan untuk memasukan Taeyon ke geng kita..”

Lizzy meneruskan interogasinya.

 

“Terlebih lagi saat kau menolak ajakan Minho.. sangat tidak wajar.”

Tiffany mulai meneguk the yang disuguhkan oleh Taeyon.

 

“Kau dalam masalah besar.. maksudku.. Jinki.. sepertinya dia berbahaya..”

Darimana Lizzy tahu tentang Jinki oppa?

Aku menatap Taeyon. Taeyon menggelengkan kepalanya. Berarti bukan dia yang memberitahu.

 

“Dari mana kalian bisa tahu?” tanyaku.

 

“Menguping.” Jawab Tiffany.

 

Hahh..bagus!

 

“Aku pikir.. tidak kucing yang menolak ikan asin bukan??.”

Jiyeon tersenyum licik. Apa yang dia rencanakan?

 

//

 

Aku merasa kasihan pada yeoja-yeoja itu..

 

Seheboh apa pun mereka menari, sekencang apa pun mereka berteriak, dan selebar apa pun mereka tersenyum, tetap tidak dapat mengalihkan semua mata yang tertuju pada kami.

 

Kami tidak melakukan apa pun. Hanya duduk dibangku cadangan.

Sesekali aku mendekat kepinggir lapangan untuk mengganggu konsentrasi tim lawan. Tapi sayangnya, justru beberapa pemain kami ikut tergoda dengan pesonaku.

 

Satu hal yang membuat moodku berkurang hari ini.

Minho lebih sering memandangi Taeyon.

 

“Tim kita tertinggal tiga poin..”

Lizzy menopang dagunya dengan kedua tangannya.

“Nomor delapan, dia cukup hebat.”

Tiffany masih bersikap tenang.

 

Aku mengambil inisiatif sendiri. Aku mendekat kembali kepinggir lapangan. Mataku terus menggoda pemain lawan nomor delapan.

Kurasa dia mulai termakan rayuanku. Dia tersenyum padaku. Aku terus memberikan senyumanku padanya, mencoba membuatnya kehilangan konsentrasi.

 

Mwo?.

Di justru mengedipkan matanya padaku sambil memasukan bola.

 

“Butuh bantuan?.” Lizzy sudah berdiri disampingku.

“Aku ingin kau mencongkel mata nomor delapan.”

Kedipan matanya menjijikan sekali.

“Baiklah..serahkan padaku.”

Lizzy pergi entah kemana. Yang pasti dia sedang melaksanakan tugas yang kuberikan.

 

Kekesalanku sedikit terobati.

Minho berhasil menyamakan kedudukan. Dia tersenyum kearahku?.

 

“Eonni..Jinki oppa.. arah jarum jam sebelas..”

Ternyata Taeyon dan Tiffany diam-diam sudah berada disampingku. Berarti tadi.. Minho tersenyum pada Taeyon.

 

Kulihat Jinki oppa bersama Jonghyun oppa. Mereka mengenakan seragam panitia. Mereka mengetahui keberadaanku dan Taeyon.

 

“TIME OUT!”

 

Tim lawan meminta Time out.

 

Lizzy dan Jiyeon?. Apa yang dilakukan Lizzy dan Jiyeon diwilayah tim lawan?.

Jiyeon memberikan pada si nomor delapan?. Handuk?.

 

 

Baiklah.. mencongkel mata si nomor delapan memang tidak mungkin.

Membuatnya digerayangi semut terbukti lebih ampuh membuatnya tidak bisa memperkuat timnya.

 

Akhirnya Tim kami menang.

 

 

“Aku tidak menyangka kalau ini memang kau..baby sitter.”

Jinki oppa menghampiri kami.

 

“Wae? Tidak ada yang berubah padaku.. hanya merubah warna rambutku saja.. kenapa kau tidak bisa mengenali kami?. Ah! Kau sudah lihat Taeyon?.”

Aku menarik Taeyon kehadapan Jinki.

Jonghyun oppa sedikit terperangah.

 

“Aku tidak percaya ketua kami begitu mengagumimu..”

Jinki oppa mengeluarkan sellphonenya.

“Mwo??” tanyaku.

“Jangan salah sangka! Ketua kami ingin meminta nomor ponselmu dan.. fotomu.”

“Siro!”

“Wae~?.” Jinki oppa memelototiku.

“Jika dia setampan kau maka aku mau..”

Aku menggoda Jinki oppa. Dan tampaknya berhasil.

Mulutnya terus menganga.

 

Sebenarnya, alasan kami datang ke kampus ini ada dua.

Salah satunya sudah terlaksana dengan baik.

Kini, misi kedua kami adalah.. memberikan ikan asin pada kucing.

Tunggu! Aku bukan ikan asin. Akan kuubah judulnya.. memberikan tuna pada kucing.

Tuna kedengarannya lebih berkelas. Akankah si kucing memakan tunanya?.

 

-Bersambung-

©2011 S3FFIndo Publishing

Dont Forget! :

 

– Give YOUR COMMENT after read this FF. Be a good reader. oKEY?

– UNTUK SEMUA READERS, TOLONG BACA READ FIRST terlebih dahulu. Kami telah menginformasikan tentang semua page sehingga JELAS PAGE/SUB PAGE mana saja yang harus kalian tuju terkait dengan kepentingan kalia, dan info-info lainnya yang mungkin membantu kalian semua ^^

– Thanks for Read and Comment this FF. Feel comfort to stay here and TOGETHER, BEYOND OUR IMAGINATION ~ ^0^

About sicantikbersinar

being bad or good is depend of our

Posted on 22 Juni 2011, in GeGey, SHINee Fanfiction and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 19 Komentar.

  1. Hwahahaha konyo bgt thor ffnya bguz,lnjt part brkt.a oh y thor lho q g smpt cment q like aj yg coz sush cment dr hp hehe

  2. ckckck….si bubu genit dech,,
    haduuhhh….ga key ga gwebon slalu narsis,,kekekey
    lanjutt….next partckckck….si bubu genit dech,,
    haduuhhh….ga key ga gwebon slalu narsis,,kekekey
    lanjutt….next part

  3. ckck..
    Gx nyangka pas buka sssffindo udh smpe episode 5..
    Daebak chingu…

  4. lg2 akumketawa ngakak bca ni epep..akankah nyuppa tergoda?
    mari kita lht d part 3.hehe

  5. Daebak !!! semakin Keren aja ni FF …… Terbahak2 saya bacanya ….

  6. pengen liat ekspresi onew deh😀

  7. akankah kucing akan memakan tunanya ???
    Hahahaha

    kaya’a itu siasat yang baik :p
    xixixi’

  8. si jinki usil pisan ih..
    tp gwebon lbh usil..😀

  9. astagaaa
    ngakak bacanya hhaha xp

    aa~ jd iri am gwebon, bahkan bubu am duo pororo mengakui kcantikanny ==@ hhaha

  10. missnandaa 최민호

    Gwebon sama jinki ayo cepat jadian😄

  11. hahahahah..keren…

    nice story…

  12. mpek dikira gag beres ma temen gara2 liatin laptop sambil ketawa2 sndiri…
    daebak! lucu+keren.. 😀

  13. ff na bgs . . daebak . . mian cma bs coment gni doank . .

  14. Muahahaha keren,diluar dugaan

  15. itu aneh – aneh aja pliharaannya jinki oppa… hahaha
    jadi makin menarik ff’y,,,
    whaiting!!!

  16. Minteukyuhyukheeluv

    Aigo, ,two rumah pa keb0n binatang?
    Hewan piaran’a??
    EOmmany jinki kejem amad, ,makin seru ni ffjem amad, ,makin seru ni ff

  17. Semoga jinki makan ikan tunanya. Biar gak jahat lagi. Ahahaha.
    Nice ff author

  18. ChristianVictor

    Itu peliharaan Jinki. Hahaaha… Ya Tuhan… Lucu, noona!

  19. ya allah,,tu rumah pa kebon binatang???
    Pliharaannya smpe da beruang sgala..
    Ckckck..
    Lanjut ke part 3 akh..hehe🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: