(NC-17) With All My Heart – Chapter 5 (New Home)

Preview 01 02 03 04 05

Seseorang menekan bel pintu apartemenku. Aku membuka pintu dan melihat seorang pria berjas hitam. Aku baru saja hendak bertanya tapi pria itu sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri.

“Nona Joo Yeon? Saya Hwang Tae, supir Presiden Kim. Saya datang untuk membantu anda berbenah.”

Aku merasa seperti sesuatu menggelitik perutku saat seseorang memanggilku nona, terdengar aneh. Aku tersenyum.

“Mari masuk, Hwang ahjussi. Sebenarnya aku sudah selesai berbenah.”

“Baiklah, mana yang harus saya bawa ke mobil?”

Aku mengantarnya ke ruang tengah tempat aku menyusun barangku. Aku sudah membagi barangku menjadi dua kardus. Aku membantunya menumpuk kardus tersebut ditangannya kemudian memeriksa sekeliling ruangan untuk yang terakhir kalinya sebelum aku mengunci pintu. Aku berjalan bersama Hwang ahjussi menuju mobil yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak tahu berapa banyak mobil yang mereka miliki, sejauh ini hanya tiga mobil yang pernah kulihat dan aku yakin mereka semua sangat mahal. Aku membantu Hwang ahjussi memasukkan kardus tersebut ke bagasi mobil kemudian beliau membukakan pintu belakang mobil untukku. Aku benar-benar tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini jadi aku merasa canggung.

Butuh waktu 35 menit untuk sampai ke rumah baru dari apartemenku. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk melihat seberapa besar rumah baruku ketika mobil yang kunaiki berhenti didepan pintu gerbang. Tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan aku terperangah ketika melihat rumah itu, Hwang ahjussi memelankan laju mobil melewati halaman rumah. Ukuran rumah ini sangat jauh dari bayanganku. Rumah ini sangat besar dan mempunyai taman yang sangat luas, aku melihat beberapa pekerja taman sedang bekerja. Akhirnya mobil berhenti di pintu depan. Aku masih terpesona dengan rumah ini ketika Hwang ahjussi membukakan pintu untukku.

“Nona, kita sudah sampai.”

“Oh? Ya.”

Aku melangkah keluar dari mobil dan memandang sekeliling, masih tidak percaya kalau aku akan tinggal dirumah ini. Aku berjalan menuju bagasi mobil dan hendak mengambil barangku tapi Hwang ahjussi mengatakan kalau orang tuaku sedang menunggu didalam dan beliau akan mengantar barang-barangku nanti. Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih dan beranjak masuk. Aku sedang memperhatikan interior sekeliling rumah ketika mom berjalan kearahku diikuti oleh dad.

“Joo Yeon ah, kau sudah sampai.”

“Omma, appa.”

Mom melingkarkan lengannya di bahuku. “Ayo, omma tunjukkan rumah ini padamu.” Kemudian beliau berbalik dan berbicara pada suaminya. “Yeobo, aku akan kembali dalam beberapa jam.”

“Pelan-pelan saja, aku tidak mau Joo Yeon lupa dimana kamarnya dan tersesat dirumah ini.” Beliau tertawa.

Mom mengajakku ke kamar utama, yang merupakan kamar beliau dan dad, yang terletak di lantai satu. Aku memperhatikan interior sekeliling ruangan, ruangan ini dihias dengan nuansa klasik dan menggunakan warna emas serta merah tua pada lapisan dindingnya. Kemudian kami naik ke lantai dua. Mom berkata walaupun rumah ini besar tapi hanya tersedia 5 kamar, 3 kamar untuk pemilik rumah dan 2 kamar lagi untuk tamu. Kamarku terletak di lantai dua. Kami berjalan sepanjang lorong dan berhenti didepan sebuah pintu.

“Omma harap kau menyukai kamar barumu, omma sendiri yang merancangnya. Sekarang tutup matamu dan jangan buka sampai omma menyuruhmu.”

Beliau menggenggam tanganku dan menarikku dengan pelan masuk ke kamar kemudian berhenti, kurasa kami berhenti ditengah-tengah ruangan. Beliau melepaskan tanganku dan menyuruhku membuka mata pada hitungan ketiga. Aku membuka mataku dan terperanjat. Aku pernah bermimpi kalau suatu hari nanti aku akan mempunyai kamar seperti ini dan sekarang terkabul.

Kamar ini lebih besar dari apartemen kami yang lama dan semuanya berwarna putih, warna kesukaanku. Aku memperhatikan sekeliling ruangan, aku menyukai semua yang ada disini. Tempat tidur, lemari pakaian, meja rias, dan yang paling mengagumkan, kamar ini memiliki balkon. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya, balkon ini menghadap ke arah kolam renang. Kami punya kolam renang disini.

“Joo Yeon ah, kau bahkan punya kamar mandi sendiri disini. Bagaimana menurutmu?” Mom tersenyum.

“Omma, kamar ini sangat mengagumkan. Aku punya kamar mandi sendiri, TV layar lebar, dan komputer. Omma bahkan mendesainnya dengan warna putih. Aku menyukainya, aku sangat menyukainya. Terima kasih, omma.”

Aku memeluknya dan mencium pipinya. Beliau menepuk-nepuk punggungku dan tertawa.

“Sekarang kau bisa bebas keluar masuk kamar mandi tanpa harus berbagi dengan omma.”

Aku berjalan menuju kamar mandi dan mengintip. Ini adalah kamar mandi hotel bintang lima, kataku dalam hati. Ada ruang khusus bilas yang terpisah dengan bathtub, bahkan klosetnya mempunyai ruang tersendiri. Ruangan ini juga dilengkapi dengan telepon. Yang kumaksud adalah telepon benaran, bukan sekedar interkom.

“Yuk, kita lanjutkan tur kita.” Mom mengulurkan tangannya padaku dan aku menyambutnya.

Ketika kami bejalan keluar kamar, aku melihat ada kamar lain yang berhadapan dengan kamarku. Aku menarik tangan omma.

“Apakah itu kamar tamu?”

“Bukan, itu kamar Jae Joong.”

Mataku melebar tak percaya. “Eh? Kamar Jae Joong?”

“Ya, kenapa? Ada yang salah?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

Aku menghela napas. Mengapa kamarku harus berhadapan dengan kamar Jae Joong? Aku hendak bertanya pada mom tapi aku tidak bisa. Beliau pasti akan curiga dan tidak akan berhenti bertanya sampai mendapatkan jawabannya. Aku lebih baik menutup mulut. Kami melanjutkan berkeliling, mulai dari ruang baca kemudian ke ruang makan dan dapur. Kami berjalan menuju ke teras belakang dan sampai ke kolam renang yang dikelilingi oleh pepohonan. Aku bisa melihat balkon kamarku dari sini.

“Tujuan terakhir kita adalah taman depan. Yuk.”

Kami berjalan ke taman depan yang sebelumnya sudah kulewati waktu tiba beberapa jam yang lalu. Ketika kami melewati garasi mobil, aku terperangah dan berdiri mematung ditempatku. Hanya ada 2 pria yang tinggal disini dan mereka mempunyai 4 mobil, tidakkah itu terlalu berlebihan? Aku mengenali dua diantaranya, satu yang dipakai Hwang ahjussi sewaktu menjemputku tadi pagi dan satu lagi digunakan Jae Joong ketika mengantarku pulang dari klub.

Tapi, aku tidak melihat mobil yang dipakainya sewaktu kami pergi ke bridal. Itu berarti mereka memiliki 5 mobil dan dari modelnya, aku yakin kalau semuanya adalah mobil yang sangat mahal. Aku menggeleng tak percaya, aku berusaha mengingat merek mobil tersebut dan akan mencarinya di internet nanti. Aku penasaran dengan harganya.

Kurasa mom menyadari kalau aku tertinggal dibelakang jadi beliau berjalan menghampiriku.

“Kurasa mereka punya terlalu banyak mobil.” Aku berkata pada beliau sambil menunjuk kearah garasi.

“Jae Joong punya 3 dan ayahmu 2. Salah satunya adalah hadiah untuk omma sewaktu kami menikah.” Beliau menunjuk mobilnya. “Sudahlah, tidak usah diperdulikan. Ayo, kita lanjut.”

Setelah menghabiskan beberapa jam mengelilingi rumah, kami akhirnya kembali ke pintu depan. Pelayan memberitahu mom kalau dad sedang menunggu di ruang baca, beliau mengajakku untuk ikut. Ketika kami membuka pintu ruang baca, aku melihat beliau sedang membaca koran. Beliau segera melipatnya ketika melihat kami mendekat.

“Bagaimana? Kau menyukai kamarmu?” Beliau tersenyum.

“Lebih dari suka, aku sangat menyukainya terutama interiornya.”

“Kalau begitu kau harus berterima kasih pada omma mu. Beliau bekerja keras untuk itu.”

“Aku sudah melakukannya tadi. Beliau adalah omma terbaik di dunia.”

“Appa setuju itu. Dan apakah kau menyukai komputer dan TV di kamarmu? Appa minta bantuan Jae Joong untuk memilihnya.”

Jae Joong lagi. Aku tersenyum. “Ye, aku menyukainya. Kamsahamnida, appa.”

“Sama-sama.” Kemudian beliau mengambil tanganku dan menepuknya. “Appa senang akhirnya punya seorang putri. Appa agak bosan melihat muka Jae Joong setiap hari.”

Aku dan mom tertawa mendengar candaan beliau, aku tahu beliau tidak bermaksud demikian. Kuakui, aku juga senang ketika mom menikah lagi, itu berarti beliau juga tidak hanya melihat mukaku setiap hari. Tak lama kemudian, aku permisi untuk membenahi barang-barang yang kubawa tadi pagi. Mereka berpesan untuk turun makan malam sekitar pukul 7. Aku mengangguk dan berjalan keluar dari ruang baca.

Waktu menunjukkan pukul 6.45 saat aku selesai membereskan semuanya. Saatnya hampir tiba untuk makan malam jadi aku turun ke ruang makan.Ketika aku melangkah masuk ke ruang makan, dad terlihat sudah menunggu dimeja makan sedangkan mom masih terlihat sibuk meletakkan sayur dimeja. Aku mendekatinya dan membantu mengatur meja. Mom kembali mengingatkanku untuk memanggil Jae Joong dengan sebutan oppa, aku mengangguk. Setelah semuanya siap, kami semua duduk tapi belum bisa mulai makan karena menunggu Jae Joong pulang. Ia muncul 10 menit kemudian.

“Maaf, aku terjebak macet sehabis mengantar Hye Rin pulang.”

Dad menjawab, “Tidak apa-apa. Ayo, mulai makan.”

Jadi, mari kujelaskan tentang posisi duduk dimeja makan saat ini. Dad duduk diujung meja, mom disebelah kanannya dan Jae Joong disebelah kiri. Aku disamping mom. Sebetulnya posisi dudukku tidak terlalu jauh dengan sayur yang tersedia tapi agak sulit untuk menjangkau sayur yang didekat dad. Jadi aku minta tolong ke Jae Joong untuk mengambilkannya.

“Jae Joong ssi, bisa tolong ambilkan ayam?”

“Joo Yeon ah!” Tanganku sedang bergerak mengambil piring sayur saat mom memarahiku.

“Ne?” Aku mengangkat kedua alisku. Apa aku salah bicara?

“Bukankah sudah omma bilang untuk memanggil Jae Joong dengan oppa. Apa kau sudah lupa?”

“Ah…arasso.” Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengucapkan kata tersebut. “O..ppa, bisa tolong ambilkan ayam?”

Aku lihat ia menyeringai ketika ia mendengar panggilan tersebut tapi aku tak perduli. Ia boleh bermimpi aku akan memanggilnya oppa karena aku hanya akan melakukannya didepan orang tua kami. Aku mengambil piring ayam dari tangannya dan meletakkannya didepanku. Setelah ayam, sekarang giliran botol air yang berada disamping Jae Joong. Aku hanya punya dua pilihan; pertama, memanggil Jae Joong oppa lagi dan aku akan mendapatkan airnya atau kedua, menutup mulutku rapat-rapat dan membuat diriku tersedak. Karena aku masih sayang dengan nyawaku, aku memilih pilihan pertama. Kali ini ia tidak menunjukkan reaksi apapun saat kupanggil.

“Joo Yeon ah, bagaimana jika kau pindah ke perusahaan kita?”

Dad mengajakku bergabung ke perusahaan.

Dahiku berkerut. “Ye?”

“Rasanya tidak pantas jika kau masih bekerja sebagai sekertaris di Haesin Grup. Appa ingin kau bergabung ke perusahaan sebagai manajer.”

“Gomawo, appa. Tapi aku masih menyukai pekerjaanku yang lama dan aku merasa nyaman.”

Mom menambahkan. “Joo Yeon benar, yeobo. Biarkan ia tetap disana. Lagipula, aku agak keberatan jika ia bergabung sebagai manajer. Wanita muda satu ini gila kerja. Jika kau memberinya posisi itu, ia hanya akan semakin tenggelam dalam pekerjaannya dan tidak akan punya waktu bersosialisasi.”

“Omma, aku tidak seperti itu.”

Aku mencoba untuk protes tapi beliau pura-pura tidak mendengar. “Lihat saja, tidak punya pacar sampai sekarang.”

Dad tertawa, mom berhasil mempermalukan diriku dihadapan semua orang. Sebelum aku sempat membela diri, mom sudah berkata lagi.

“Jae Joong ah, bagaimana dengan Jun Su?”

Ia terlihat bingung sewaktu mom tiba-tiba bertanya tentang Jun Su tapi ia menjawab juga. “Jun Su pria yang baik, berasal dari keluarga yang baik dan sayang dengan orang tua. Kurasa semua orang tua menginginkan ia sebagai menantu.”

“Sempurna. Kenapa tidak kau coba jodohkan dengan Joo Yeon?”

“Omma!”

“Kenapa? Omma kira kau menyukai Jun Su karena kau mengajaknya berdansa sewaktu pesta.”

“Aku memilihnya hanya karena–”

Belum selesai aku berbicara, omma sudah memotongku dan berkata pada Jae Joong. “Jae Joong ah, coba jodohkan mereka berdua ya?”

Ia melirik padaku sewaktu menjawab. “Baiklah, akan kucoba tanyakan pada Jun Su.”

Aku menatapnya dan bersumpah tidak akan memaafkannya jika ia berani meledekku. Perkataan mom adalah perintah jadi tidak ada gunanya jika aku ingin merubah pendiriannya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berharap kalau Jae Joong akan melupakan apa yang diminta mom. Setelah makan malam, orang tuaku kembali ke kamar mereka untuk beristirahat sedangkan aku menuju ke kolam renang. Aku duduk disebuah bangku kayu panjang sambil menikmati pemandangan langit di malam hari dan menghirup udara segar.

*****

Aku merasa lelah hari ini setelah seharian menemani Hye Rin berbelanja jadi aku hendak beristirahat lebih awal tapi ketika aku melihat Joo Yeon berjalan kearah kolam renang, kupikir ini adalah waktu yang tepat untuk berbincang sedikit dengannya. Sekarang setelah kami tinggal serumah, aku ingin agar kami menjalin hubungan yang baik. Aku berjalan kearah kolam renang dan duduk disebelahnya. Ia melihatku sekilas tapi tidak mengatakan apapun jadi aku yang akan memulai percakapan.

“Jadi, apakah kau suka dengan kamar barumu?”

“Ya, aku suka. Omma mendekorasinya dengan warna kesukaanku.”

Aku mengangguk-angguk. Jadi warna kesukaannya adalah putih.

“Oh ya, terima kasih untuk barang-barang elektronik dikamarku. Appa bilang kalau kau yang memilihnya.”

“Aku senang kau menyukainya.”

Kurasa suasana hatinya bagus malam ini jadi kami bisa mengobrol cukup lama. “Apakah kau benar tidak mau pindah ke perusahaan kita?”

Ia tersenyum. “Hm.”

“Tidak apa-apa, tapi tolong dipertimbangkan. Posisi ini sangat bagus.”

“Kurasa aku sudah menentukan pilihan. Aku suka pekerjaanku yang sekarang.”

“Kenapa? Apa kau setuju dengan perkataan omma kalau posisi manajer akan membuatmu lupa waktu?”

Ia tersenyum lagi. “Tentu saja tidak. Beliau terlalu khawatir.”

“Tentu saja khawatir. Kau seharusnya sudah menikah di umurmu sekarang.”

Ekspresi wajahnya langsung berubah, matanya menyipit menatapku. “Yaaa…apa kau sendiri lupa berapa umurmu?”

Aku tertawa, ternyata ia sangat sensitif mengenai umurnya dan berusaha membandingkannya dengan umurku.

“Kenapa kau tertawa?”

Ia mulai merasa terganggu denganku jadi kucoba memberikan penjelasan yang masuk akal padanya. “Jangan kau bandingkan umurku dengan umurmu. Aku ini pria. Kebanyakan pria menikah saat umur mereka memasuki tiga puluhan.”

Ia menghela napas panjang. Bukannya aku berusaha mencari alasan tapi ini adalah kenyataan. Aku mengganti topik pembicaaan. “Katakan padaku apa yang membuatmu senang bekerja sebagai sekertaris dibandingkan manajer?”

Ia mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Kurasa aku bukan tipe pemimpin. Aku lebih senang mengurus orang lain.”

“Ah, ternyata begitu. Yoo Chun sangat beruntung memilikimu.”

Ia mengernyit. “Apa maksudnya? Memangnya ada yang salah dengan sekertarismu?”

“Kau harus bertemu dengannya suatu hari nanti.”

“Jangan bilang kalau ia sudah menikah jadi kau tidak bisa mengejarnya lagi dan itu membuatmu patah hati.”

Aku tertawa lepas, pasti ia mengira kalau sekertarisku adalah wanita muda. “Kau benar, ia sudah menikah tapi tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku untuk mengejarnya. Ia sudah berumur empat puluh dan ia adalah sekertaris abuji sebelumnya. Aku butuh yang lebih muda.”

“Hmph, setiap bos pasti menginginkan hal yang sama. Sekertaris yang muda, cantik, dan seksi.”

“Hey, kau tidak bisa menyalahkan kami. Itu sudah alamiah.”

Ia terlihat jengkel tapi tidak ada yang salah dengan perkataanku mengenai sifat alami pria, hanya orang buta atau pria dengan kelainan seks yang tidak suka melihat wanita cantik dan seksi.

“Omong-omong, mulai besok kita berangkat kerja bersama-sama. Jam 7.”

“Aku—”

Kupotong ucapannya. “Stop. Aku tidak mau mendengar protes apapun, besok kuantar. Aku tidak mau orang berkata kalau kau tidak diperlakukan dengan semestinya disini, aku naik mobil sedangkan kau naik bis.” Ia tidak berkata apapun jadi kulanjutkan. “Kuantar kau dengan Bentley ku.”

“Apa bedanya? Kau tetap saja mengantarku.”

Aku tersenyum. “Tentu saja beda. Itu mobil kesayanganku dan aku baru sekali mengemudikannya sejak aku beli. Aku sedang berpikir siapa yang akan kuajak karena aku tidak suka mengemudi sendirian.”

“Kalau begitu kau harusnya mengajak Hye Rin, bukan aku.”

“Hye Rin lebih suka naik Ferrari. Atau kau ada permintaan khusus?” Aku menggodanya.

“Aku lebih suka naik bis.”

Ia meninggalkanku tanpa pamit dan langsung masuk ke rumah. Aku tersenyum menanggapi perilakunya, masih tidak percaya kalau jaman sekarang masih ada saja orang yang lebih suka naik bis dibandingkan mobil dan kurasa ia terlalu tertutup dan terlalu mandiri. Mungkin itu sebabnya mengapa sampai sekarang ia masih belum punya pacar. Lebih baik aku masuk sekarang dan tidur atau aku tidak akan bisa bangun tepat waktu besok pagi.

Keesokan paginya, kami meninggalkan rumah tepat jam 7. Kantornya terletak sebelum kantorku tapi biasa aku mengambil jalan pintas tanpa harus melewati kantornya. Karena aku berjanji mengantarnya setiap pagi, kami harus berangkat lebih pagi supaya aku tidak terlambat sampai dikantor. Aku memelankan laju mobil ketika hampir sampai didepan gedung kantornya dan ia menyuruhku untuk menepi.

“Turunkan aku disini.”

Tapi aku tidak menghentikan mobil seperti yang dimintanya dan melanjutkan ke tempat parkir. Ia terlihat bingung dan mencoba menerka apa yang kulakukan disini. “Ah, kau ingin bertemu dengan Hye Rin.”

Aku tidak menjawab. Aku sibuk mencari tempat kosong dan memarkir mobilku kemudian mematikan mesinnya dan berjalan keluar. Ia berjalan terlebih dahulu ke lift, aku mengikutinya dari belakang. Kulihat ia menekan tombol 10 dan 15, kusenderkan badanku di dinding lift. Aku bisa merasakan beberapa pasang mata mencuri pandang kearahku, khususnya dari para wanita dan ketika aku membalas tatapan mereka, mereka langsung pura-pura sibuk. Ketika pintu lift terbuka di lantai 10, hanya kami berdua yang tersisa.  Ia menahan pintu supaya tetap terbuka dan mengernyit melihat aku yang tidak bergerak sedikitpun dari lift.

“Kantor Hye Rin dilantai ini.”

“Aku mau bertemu dengan Yoo Chun.”

Ia terlihat kesal. “Kenapa tidak bilang dari tadi?”

“Kau tidak bertanya.”

Aku tahu aku sudah membuatnya kesal di pagi hari tapi ini bukan seluruhnya salahku. Ia sendiri yang mengambil kesimpulan kalau aku mau bertemu Hye Rin dan ia membuat itu seperti sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Saat pintu lift terbuka dilantai 15, ia melangkah keluar diikuti olehku. Aku langsung berjalan kearah ruangan Yoo Chun tapi ia menghentikanku ditengah jalan.

“Yoo Chun mungkin belum datang.”

“Tidak masalah, aku akan menunggunya didalam.”

Beberapa menit kemudian, Yoo Chun muncul. Aku berbincang dengannya mengenai kemungkinan kerjasama dalam satu proyek karena perusahaanku tidak punya unit bisnis yang kubutuhkan. Kami berbincang sekitar satu jam, Yoo Chun minta 50 persen bagian pemasaran proyek ini. Aku memintanya untuk memberiku proposal pemasaran yang sederhana terlebih dahulu dan ia segera memanggil Hye Rin ke ruangannya.

5 menit kemudian, Hye Rin datang dan ia kaget melihat keberadaanku. Kami bertiga terlibat dalam percakapan yang cukup lama hingga waktunya makan siang tiba. Mereka memintaku untuk makan siang bersama tapi aku mengatakan kalau aku masih banyak pekerjaan dikantor. Yoo Chun mengantarku sampai ke pintu.

“Baiklah, akan kusiapkan meeting denganmu nanti.”

“Trims.”

Hye Rin tiba-tiba melingkarkan tangannya di lenganku. “Oppa, bagaimana kalau sore ini makan ramyun denganku?”

“Aku tidak bisa. Aku ada meeting sore ini.”

Ia mencibir dan terlihat kesal jadi kutepuk-tepuk tangannya. “Lain kali oke? Aku pasti akan menemanimu jika aku tidak sibuk.”

Ia akhirnya tersenyum dan mencium pipiku.  Saat aku kembali ke kantor, mejaku sudah penuh dengan tumpukan dokumen yang siap ditanda tangan. Aku mulai membuka dokumen pertama dan akhirnya berhasil menyelesaikan semuanya beberapa jam kemudian. Merasa bosan dan penat, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di coffee shop lantai dasar. Saat aku sedang mencari meja kosong, seseorang menepuk bahuku. Jun Su.

“Hey, apa yang membuatmu kemari?”

“Istirahat, kepalaku hampir pecah setelah membaca setumpuk dokumen dari pagi. Kau?”

“Sama.”

Kami berdua tertawa dan berjalan kearah sofa kosong. Aku memesan hot cafe latte dan Jun Su memesan hot espresso. Kami berbincang sejenak sambil menunggu pesanan datang.

“Jadi bagaimana rasanya memiliki keluarga yang lengkap lagi dengan ibu dan adik yang cantik?”

“Hmm, ibu sangat baik dan perhatian padaku tapi Joo Yeon—agak susah bagiku untuk memahami dirinya.”

Ia tertawa. “Mungkin seharusnya ia menjadi adikku.”

Aku mengangkat alisku. “Alasannya?”

“Kami berdua punya kesamaan, tidak menyukai alkohol.”

Aku menghela napas dan menghirup kopiku. “Mungkin kau benar. Ia lebih cocok jadi adikmu.”

“Apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua?” Jun Su terlihat bingung dengan perkataanku.

Aku mengangkat bahu. “Aku tak tahu, aku merasa ia agak tidak suka denganku.”

“Tidak suka? Kok bisa?” Kemudian ia menyeringai. “Ah, mungkin karena kau sering menjailinya. Yakan?”

“Tentu saja tidak, ia sudah bersikap begitu sejak pertama kali kami bertemu. Tapi aku tidak mengerti, ia terlihat berbeda jika berbincang denganmu.”

“Itulah yang dinamakan karisma.”

Mataku menyipit. “Karisma? Lalu kenapa sampai sekarang belum punya pacar?”

“Yaaa…kita bukan sedang membicarakan tentang diriku.” Jun Su menepuk-nepuk bahuku. “Jae, kurasa Joo Yeon hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri denganmu karena kalian adalah saudara sekarang sedangkan dengan diriku berbeda.”

Aku kembali menghela napas. “Kurasa juga begitu. Aku hanya ingin hubungan ini berjalan lancar.”

Ia tertawa. “Yang sabar ya. Omong-omong, bagaimana kabar Hye Rin?”

“Baik. Kenapa? Apa kau ingin kuatur pertemuanmu dengannya?”

“Tidak, tidak perlu. Ia pasti akan menolak.”

“Belum juga dicoba. Kenapa tidak kau coba gunakan karismamu padanya?”

Kami kembali tertawa.

Posted on 18 Juli 2011, in AUTHOR and tagged , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. ini ff yang aku tunggu2, akhir y keluar juga. . .
    Joo yeon udah serumah ma jae kyk y bakal makin seru n makin sering ketemu nih jooyeon n jae krn mau kerja sama. . . . .
    Lanjut chingu jgn lama2 kyk ini ya. . . .
    Ayo semangat, oh aku lupa, tu pas pergantian POV dr joo yeon k jae kok ngak d kasi tanda, aku jd sedikit bingung. . . .
    Tu ja sih. . . . . .ma jae kyk y bakal makin seru n makin sering ketemu nih jooyeon n jae krn mau kerja sama. . . . .
    Lanjut chingu jgn lama2 kyk ini ya. . . .
    Ayo semangat, oh aku lupa, tu pas pergantian POV dr joo yeon k jae kok ngak d kasi tanda, aku jd sedikit bingung. . . .
    Tu ja sih. . . . . .

  2. akhir’a part neh kluar jga..
    Emh,,eomma’a jooyeon mnta jae bwt ngejdohin jooyeon sma junsu??
    Huaahh..
    Jgn dong..
    Wkwkwk..
    Lanjut yah chinguu..
    Next part q tunggu..jdohin jooyeon sma junsu??
    Huaahh..
    Jgn dong..
    Wkwkwk..
    Lanjut yah chinguu..
    Next part q tunggu..

  3. akhirnya setelah lama menunggu di post juga part 5 nya

  4. langsung to the point aja deh…

    Jadi si junsu suka sama hyerin?
    Itu si eomma Joo yeon kenapa nyuruh jaejoong buat ngedeketin si joo yeon sama junsu?jangan..mending sama jae aja

    Lanjut thour *tampang datar* ToTgan..mending sama jae aja

    Lanjut thour *tampang datar* ToT

  5. woo jj oppa ya , oohhoh
    next chap d tggu

  6. wuahhhh, hyerin sama junsu aja deh , yayaya

  7. akhirnya keluar..
    Bgus,,
    penasaran pengen baca next part.

  8. Meskipun ga ngikutin dr awal,tp ak suka Ff ni,daebak!

  9. akhirnya di post juga!!
    wah… si junsu sebenarnya ska ma joo yeon ato hye rin sih?? O.O
    lanjut dah thor~

  10. Ini ga di lanjut lagi thor?? Pliss lanjutt😦

  11. Thorr kok ga lanjut” sih?

  12. bagi yg masih ingin membaca cerita ini, sekarang ada di asianfanfics.com tapi dengan bahasa inggris🙂

  1. Ping-balik: (NC-17) With All My Heart – Chapter 4 (The Wedding) « ミ SHINee Super Shinki FF Indo ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: